Disclaimare
Naruto punya Masashi Sensei
Warning
MPERG, Alur berantakan, YAOI, Stright, Death Chara
***Mulai***
Salju itu misterius. Menyimpan banyak perasaan di dalamnya. Saat pertama kali salju turun maka kau akan tersenyum. Namun jika salju terus menerus jatuh ke bumi maka wajahmu akan muram.
..
...
...
Awal musim dingin adalah awal yang ditunggu-tunggu olehnya. Sebab saat itu ia mengenakan gaun putih tanpa lengan. Gaun yang berlapis-lapis hingga mengembang pada bagian bawah. Sedangkan bagian atas berkerut-kerut dengan hiasan permata-permata kecil, sekecil biji kacang hijau pada tiap kerutannya. Mutiara-mutiara putih sebesar biji jagung juga tampak menghiasi bagian bawahnya. Gaun tersebut selain mengembang juga menjuntai panjang hingga dua meter, sehingga harus dipegangi oleh orang lain.
Pada bagian tangan dibalut sarung tangan putih transparan sampai ke siku yang jemarinya dibiarkan terbuka. Dibagian lehernya memakai kalung mutiara pink muda, senada dengan rambut pinknya yang disanggul dan diberi penutup kepala dan juga mahkota perak. Sementara kakinya dibalut sepatu kaca bak cinderela.
Hal ini membuat decakan kagum dan rasa iri dari para pengunjung pernikahannya dengan suami tercinta, ketika ia berjalan di atas karpet merah dengan membawa sebuket bunga dan didampingi oleh ayahnya. Ia berjalan perlahan menuju suaminya yang terlihat tampan dengan tuksedo hitamnya dan sekali lagi membuat para tamu undangan iri dengan pasangan yang bak raja dan ratu.
Bahagia tentu saja, apalagi setelah ia dan suaminya mengucapkan "Saya bersedia" lalu pendeta mengucapkan bahwa ia serta suami resmi menjadi pasangan. Setelah itu dilanjutkan dengan kedua bibir saling bersatu. Menempel pelan namun juga lembut. Kemudian diakhiri dengan tepukan meriah dari para tamu.
Pada saat bulan madu pun kebahagiannya bertambah, dan rasanya ingin sekali waktu berhenti. Suaminya yang dingin ternyata menyimpan sejuta keromantisan. Bayangkan saja ia melakukan bulan madu di atas kapal pesiar. Kemudian suaminya mengajaknya berdansa sambil diiringi alunan dari pemain biola profesional, serta jutaan bintang bertaburan di atas langit malam.
Ketika acara utamanya dibuka, suaminya benar-benar melakukan hubungan intim dengannya, dengan sangat lembut, di atas kasur yang bertaburan bunga mawar. Ia jadi ingin melakukannya lebih banyak dengan suaminya, bukannya mesum, tapi apa yang dilakukan suaminya benar-benar membuatnya ingin lebih dan tak ingin keluar dari surga kenikmatan dunia.
Sayangnya setiap manusia tidak mungkin selamanya mendapatkan kebahagiaan. Kadang kala manusia harus dihadapkan pada kesedihan. Termasuk apa yang terjadi padanya. Semua bermula ketika ayah dan ibu suaminya bertanya "kapan kami punya cucu?"
Kata itu terdengar biasa, karena sering terdengar dari mulut para orang tua yang anak-anaknya sudah menikah. Namun baginya kata itu adalah malapetaka. Seminggu setelah bulan madu ia bersama suaminya memeriksaan diri ke dokter, dan yang didapatnya adalah kabar yang membuat dirinya tak berhenti menangis hingga detik ini.
Ia dan Sasuke, nama suaminya tak akan mungkin bisa punya anak selamanya. Sebenarnya bagi Sasuke tak masalah jika dirinya tidak punya anak, karena Sasuke tak pernah suka dengan anak kecil. Namun bagi Fugaku dan Mikoto, ayah dan ibu Sasuke, hal itu adalah masalah besar. Sejak Itachi kakak iparnya dinyatakan tidak bisa punya anak juga, Fugaku dan Mikoto langsung merong-rong pada suaminya, agar cepat punya anak. Bahkan ketika lamaran, Fugaku dan Mikoto menyuruhnya mendatangi sebuah perjanjian "jika ia tidak bisa punya anak, dia harus menceraikan Sasuke,".
Pada saat itu ia tak pernah berpikir menyetujui perjanjian tersebut akan menjadi bumerang untuknya dimasa depan. Meskipun begitu ia dan suaminya tidak menyerah. Ia dan Sasuke pergi ke sepuluh rumah sakit yang berbeda, karena ia dan suaminya pikir tesnya mungkin salah. Namun ternyata sepuluh rumah sakit itu mengatakan hal yang sama, ia tidak bisa punya anak, dan yang lebih parahnya penyebab ia tidak bisa punya anak, karena pekerjaannya di laboratorium, pekerjaan yang sangat ia cintai dan ia impikan. Rasanya seperti dihantam berpuluh-puluh batu.
Tapi sekali lagi ia dan Sasuke tidak menyerah. Selagi kelopak mata masih bisa terbuka ia dan suaminya tak akan menyerah. Ia mulai mencoba mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin E. Ia juga mencoba yoga supaya tidak stress, karena stress dapat mempengaruhi seseorang bisa hamil atau tidak. Ia juga mengurangi pekerjaannya. Jika biasanya ia suka lembur, sekarang pulang seperti karyawan biasa jam delapan sampai jam lima sore. Sasuke pun turut serta ikut mengkonsumsi vitamin e dan obat yang bisa membuatnya subur.
Tapi... ah lagi-lagi tapi, ia harus menghadapi tapi lagi. Tapi...empat huruf yang membuatnya bertambah down. Yah...tapi usahanya tidak berhasil. Hampir putus asa, namun perasaan tidak ingin pisah lebih kuat ketimbang rasa putus asa. Bayi tabung pilihan terakhir, tapi... ah... tapi lagi. Entah sudah yang keberapa kata tapi muncul. Sebenarnya bukan hanya tapi, namun juga kalimat tidak berhasil juga banyak yang muncul. Benar, tidak berhasil atau kegagalan menghampirinya kembali.
Jujur saja saat itu ia sudah mengarahkan pisaunya ke nadi yang ada dipergelangan tangannya. Tingkat down dia sudah pada level terbawah. Ia putus asa dan ia merasa lebih baik mati, jika harus berpisah dengan suaminya. Namun untungnya shinigami belum mau mencabut nyawanya. Pisau itu berpindah ke telapak tangan Sasuke yang mencoba menghentikan perbuatan bodohnya.
"Dengar Sakura kita masih punya jalan!"
"APA?! Semua cara sudah kita lakukan, namun memang sudah menjadi takdirku, takdir kita yang tak akan pernah punya anak!"
"Memang benar kau dan aku tidak mungkin bisa punya anak, tapi orang lain bisa!"
"Apa maksudmu adopsi? Kenapa Uchiha yang jenius menjadi bodoh? Kau tahu sendiri, orang tuamu tak ingin anak adopsi, mereka pasti tahu itu bukan anak kandung kita karena. Ciri fisik atau sifat tak mungkin sama dengan kita!"
"Sakura, aku masih Uchiha yang jenius. Tentu saja aku tahu adopsi itu mustahil dilakukan. Yang kumaksud kita mencari seorang perempuan untuk hamil anak kita. Aku akan meniduri perempuan lain, dan ketika perempuan itu hamil lalu melahirkan, anaknya untuk kita. Lagipula meskipun darahmu tidak ada dalam anak tersebut, darahku ada di dalamnya. Jadi Otou-san dan Kaa-san tidak akan curiga..."
"Aku tidak setuju! Kau pikir aku sanggup melihatmu tidur dengan perempuan lain?"
"Dan kau pikir aku sanggup tidur dengan perempuan lain? Sakura jujur saja, bahkan sampai mati pun aku tidak mau melakukan hal itu! Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Untuk itulah aku tidak peduli jika dibilang brengsek, karena harus tidur dengan perempuan yang bukan istriku. Bahkan aku tidak peduli jika harus bohong pada Otou-san dan Kaa-san. Dua pilihan Sakura... keduanya pilihan yang berat untukku, tidur dengan perempuan lain atau pisah denganmu. Aku memilihmu... karena aku mencintaimu. Jadi aku rela tidur dengan perempuan lain, demi dirimu..."
Berat sungguh berat beban hidupnya. Di saat para istri di luar sana merasakan menikah, hamil, punya anak, ia harus merasakan mandul dan suaminya harus tidur dengan perempuan lain. Ia jadi ingin bunuh diri sekali lagi. Namun memikirkan perasaan suaminya, ia akhirnya rela suaminya harus tidur dengan orang lain.
Musim semi memang selalu membuat orang-orang tersenyum, karena udara dimusim ini begitu segar, apalagi bunga Sakura yang bermekaran, membuat mata tak berhenti memandangnya
***IchigoStrawberry-nyan***
Julukan wanita sempurna dan yang paling beruntung untuknya adalah hal yang salah. Kenyataannya ia adalah seorang wanita yang sama dengan wanita lainnya. Diberkahi kelebihan dan kekurangan. Ia memang sudah menyetujui suaminya untuk tidur dengan orang lain, supaya bisa punya anak. Namun ia tak pernah menyangka kalau suaminya akan tidur dengan seorang pria.
Marah, kecewa, sedih bercampur menjadi satu. Namun ia sadar semua ini terjadi karena ia tidak bisa punya anak. Untuk itulah ia tidak akan menyalahkan pria tersebut. Apalagi setelah mendengar pria itu melakukan hubungan intim dengan suaminya, karena ia membutuhkan uang untuk biasa operasi istri pria itu. Pria itu dan Sasuke memiliki kesamaan. Sama-sama rela melakukan apapun demi istri tercinta. Makanya dia memilih mendatangi pria itu dengan membawa cek, lalu menyuruh pria itu pergi dengan cek darinya. Tapi ternyata suaminya malah memintanya kembali untuk berkorban.
"Sakura apakah kau tahu kenapa aku tak masalah jika kau tidak bisa punya anak? Itu karena aku mencintaimu dan jujur saja aku tidak suka anak-anak. Namun saat mendengar calon janinku telah tiada, aku merasa marah. Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah karena tidak bisa menjaga calon janinku. Aku marah karena aku baru sadar bahwa aku juga menginginkan seorang anak. Dan aku marah karena aku tidak bisa punya anak darimu."
Kata-kata dari Sasuke itu sungguh membuatnya marah, kecewa dan sedih. Ia marah karena dirinya tidak bisa punya anak. Ia kecewa karena dirinya tidak bisa hamil. Ia sedih karena ia bukan wanita sempurna.
"Sakura aku minta maaf. Aku ingin punya anak, jadi ijinkan aku melakukannya sekali lagi dengan Uzumaki. Karena dia sudah terbukti bisa memberikan kita anak. Aku minta maaf, karena sudah egois meminta hal yang mustahil padamu. Aku adalah suami yang brengsek, maaf."
Suaminya meminta maaf dan suaminya memohon padanya supaya tidur dengan seorang pria. Masuk akal jika suami yang normal ingin punya anak. Masuk akal jika suaminya minta tidur lagi dengan pria itu, karena pria itu sudah terbukti memberikannya anak, meskipun takdir belum merestui, calon janin itu sudah tiada sebelum menjadi janin.
"Sakura, aku adalah pria paling beruntung karena memiliki istri seperti dirimu. Julukan wanita sempurna pada dirimu benar adanya. Kau adalah wanita sempurna, aku sangat mencintamu. Dan aku adalah suami yang brengsek memohon padamu untuk melakukannya sekali lagi..."
"Cukup Anata... Aku mengerti, aku adalah... istri yang mandul... aku mengijinkanmu...maaf tidak bisa memberikan anak untukmu..."
"Kau tidak perlu minta maaf, yang salah bukan dirimu, yang salah adalah takdir bodoh yang membuat hidup kita seperti ini. Jangan pernah menyalahkan dirimu, jangan pernah bunuh diri lagi, karena aku ingin kau tetap disampingku, sampai kita mati, seperti romeo dan juliete mengerti!"
"Ya, tentu romeoku..." jawabnya dan tangisan pun tumpah. Namun ia mencoba berpikir positif, perasaan sakit ini akan dibayar dengan kehadiran seorang anak, yang akan membuatnya bisa hidup selamanya dengan suaminya.
Tapi seperti yang dibilang suaminya, takdir benar-benar membuat masalah dengan kehidupannya. Ia harus menerima kenyataan pahit. Kanker rahim. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Ia sudah pasrah dengan permainan takdir. Apapun yang dilakukannya, ternyata tetap berujung ia tidak bisa bersama selamanya dengan suaminya. Karena kali ini kematian menghantuinya.
Sejujurnya suaminya sudah menghiburnya dan selalu menyemangati hidupnya. Ia sendiri pun menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya, supaya penyakitnya sembuh. Dimulai dari berhenti menjadi kepala rumah sakit dan bekerja di laboratorium, supaya fokus terhadap kesembuhan dirinya. Ia juga mulai meminum obat-obat setiap harinya. Kemoterapi pun mulai dijalaninya.
Tubuhnya semakin kurus, rambutnya mulai menipis. Meskipun begitu ada kebahagian yang terselip pada kehidupannya yang kelam. Suaminya sekarang tidak pernah mengambil kerja di luar kota. Apapun yang dimintanya pasti dituruti. Entah itu pergi ke salon atau belanja hobbynya, namun sesuatu yang dibenci oleh suaminya.
Rambutnya yang tipis semakin banyak diusap oleh tangan besar Sasuke. Kulitnya yang tambah pucat semakin sering dihangatkan Sasuke. Kejutan-kejutan romantis sering sekali dilakukan. Seperti membuatkan taman pribadi untuknya. Dinner romantis di hotel yang mewah. Pakaian-pakaian yang indah.
Sasuke pun selalu menemaninya menjalani kemoterapi. Menggenggam tangannya dengan erat seraya menguatkan dirinya.
Jika boleh jujur ia ingin selamanya seperti ini. Namun ia sadar kematian masih membututinya. Ia juga sudah mulai lelah dibuntuti terus oleh kematian.
Meskipun suatu kabar bahagia datang untuknya, hatinya telah lelah, karena kabar itu datangnya terlambat.
Di suatu pagi, di musim semi pertama. Ia sedang duduk di taman yang dibuatkan Sasuke khusus untuknya. Taman itu ditengahnya ada kursi besi panjang dan di depannya ada air mancur. Lalu kursi dan air mancur itu dikelilingi berbagai macam bunga. Ia duduk sambil menikmati teh hangat di pagi hari.
Saat itu rambutnya yang panjang dipotong bob pendek, karena banyak yang rontok. Ia memakai gaun hitam berlengan panjang, dengan turtle neck, serta kalung permata rubby tersemat dilehernya, menjulang hingga bagian dada.
Ia tersenyum melihat kupu-kupu menari-nari di atas bunga-bunganya yang bermekaran. Musim semi memang awal dari mekarnya bunga-bunga tersebut. Setelah taman itu mati, karena musim dingin.
Kata orang bahagia itu sederhana, dan memang benar hanya melihat keindahan alam, bisa membuat hatinya tenang. Ia jadi teringat masa-masa dimana dirinya belum menikah dengan Sasuke. Suaminya itu sangat dingin, kata-katanya selalu tajam dan menusuk. Orang bilang Sasuke itu raja sadis. Sasuke pernah menendang junior-junior dimasa kuliah, dengan seenaknya. Membully orang adalah hobby Sasuke.
Namun ia adalah wanita kedua yang diperlakukan oleh Sasuke secara lembut selain ibunya. Semua karena onigiri. Sakura tidak terlahir sebagai orang kaya seperti Sasuke. Ia menjadi sukses karena kerja kerasnya. Masa-masa kuliah untuk menghemat uang, ia selalu membawa bekal. Onigiri buatan sendiri adalah hal yang Sakura bisa lakukan, karena Sakura tidak bisa memasak, namun ia paling jago buat onigiri. Soalnya buat onigiri itu mudah.
Ternyata Sasuke menyukai onigiri buatannya. Karena kantin penuh, ia yang biasanya makan dikantin bersama sahabatnya Ino, pun terpaksa makan diatap. Disanalah dimulai kisah cintanya dengan Sasuke. Sasuke yang memang raja sadis dan suka seenaknya, main ambil onigirinya, tanpa permisi. Gara-gara hal tersebut, Sasuke langsung menyuruhnya membuatkan onigiri.
Sebuah kenangan indah yang tidak akan ia lupakan seumur hidup. Membuat senyum-senyum sendiri. Hingga tiba-tiba kegiatannya mengingat masa lalu terusik oleh panggilan maid dengan rambut dicepol dua.
"Nyonya ada tamu untuk anda," ujar Maid yang bernama Ten ten.
"Siapa?" tanyanya datar.
"Namanya tuan Uzumaki Naruto."
Rupanya tamu yang menganggunya itu adalah orang yang tak ingin ditemuinya. Karena orang itulah yang membuat luka dihatinya. Meskipun ia tidak menyalahkan pria itu, namun rasa sakit karena mengetahui pria itu tidur dengan suaminya, tetap membekas. Meskipun begitu ia tetap menemui si pria yang bernama Uzumaki Naruto.
Lalu dengan jalan yang dituntun oleh Ten-ten, karena tubuhnya yang makin lemah karena penyakitnya, ia pun menuju ruang tamu. Di sana seorang pria berambut pirang sudah duduk di atas sofa hitamnya. Ia pun duduk di sofa yang ukurannya hanya muat satu orang dewasa.
Kedua sofa itu berbentuk huruf L terbalik. Sofa yang diduduki sang pria dipasang secara vertikal. Sementara sofa yang didudukinya secara horizontal. Tengahnya ditaruh meja bulat yang dilapisi taplak putih berlubang-lubang, yang lubangnya membentuk gambar bunga. Di atas taplak tersebut ada vas kecil, serta secangkir teh untuk si pria.
Di bawah mejanya dilapisi karpet berbulu halus berwarna merah maroon dan hitam. Terlihat Naruto mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang warna biru dongker dan hitam. Celananya kain hitamnya dari kain. Yang paling membuat keningnya berkerut adalah Naruto membawa bayi yang digendong di depan. Bayi berambut pirang senada dengan Naruto.
"Itu bayimu?" tanyanya.
"Iya maaf yah, tidak ada yang menjaga Boruto, jadi aku membawanya," jawab Naruto, yang ditanggapi datar oleh Sakura, meskipun terbesit rasa iri, karena pria ini bisa menghamili dan dihamili, sementara ia tidak bisa.
"Oke to the point saja, apa maumu?" tanyanya dingin.
"Sebenarnya... ehm... aku mau mengucapkan selamat pada anda dan tuan Uchiha...karena aku... aku... rasanya aneh jika mengatakannya, maaf lebih baik anda baca sendiri," jawab Naruto yang kemudian memberikannya sebuah amplop putih.
Keningnya berkerut lagi, namun akhirnya ia menerima amplop itu. Tangan kurusnya lalu membuka amplop itu perlahan. Lalu mengeluarkan kertas putih berisi tulisan... tuan Uzumaki Naruto Positive hamil...
Mendadak kertas itu terlepas dari tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya mulai mengalir. Ia pun menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. Membuat Naruto bingung dan berusaha menenangkannya.
Namun ia tetap menangis keras. Entah tangisan kebahagian atau kesedihan. Yang jelas semua tangisan itu mewakili semua emosi dalam dirinya.
Padahal ia telah menyerah akan penyakitnya. Karena ia sudah lelah dengan hidupnya yang buruk. Tidak bisa punya anak dan suaminya malah memintanya untuk tidur dengan pria, supaya bisa punya anak.
Jujur saja, apa yang dilakukannya semua ini hanya demi membuat suaminya bahagia. Kemoterapi dan obat-obatan itu untuk membuat suaminya tersenyum. Kenyataannya ia membuang obatnya sendiri, jika suaminya sedang tidak ada di rumah.
Namun kabar gembira itu datang mengetuk pintu hatinya. Kenapa disaat ia dibuntuti kematian, seorang anak yang dinantinya malah datang?
"Aku...aku ingin hidup...aku ingin hidup..." teriaknya sambil menangis.
***TBC***
Halo minna-san!
Sepertinya banyak pertanyaan apakah ichi ada rencana nyiksa Neji? Hum ichi lebih suka nyiksa Naru naru #jitak ichi
Terus kenapa adegan SasuNaru masih belum muncul? Keduanya bahkan belum saling suka... ho...ho...ho... sabar yah cinta pada pandangan pertama itu cuma ada film #jitak
Terus yang gak pengen NaruHina/SasuSaku gak pisah malah jadi keluarga bersama... hm... Ichi gak ada niatan bikin harem atau foursome, jadi NaruHina tetap pisah dengan cara cerai, dan SasuSaku T.T yah gitulah minna-san bisa nebak sendiri
Kenapa Neji benci banget ama Naru? Belum saatnya minna-san tahu ho ho ho
Tapi kalo kepo banget cluenya ada di chap 1~
Kenapa SasuSaku gak ngadopsi anak NaruHina ya soalnya gak mirip ama Sasuke nd Sakura, tar FugaMiko bisa tahu dong~
Oke segitu dulu see you~
