CHAPTER X
INTO THE BATTLEFIELD
Dua tembakan bola api mengenai Jack. Jack terpental, tetapi dia langsung berputar dan berdiri tegap. Peter berlari dan melompat sambil meluncurkan bola api lainnya. Jack cepat-cepat membuat dinding es yang tebal. Dinding es tersebut melindunginya pada setiap langkah yang diambilnya untuk menuju Peter yang masih melayang di udara. Jack berguling ke depan, lalu memukul kaki Peter dengan tongkatnya hingga membuat Peter terhempas ke lantai.
Jack menghantam lantai dengan tongkatnya. Muncul duri-duri es berkecepatan tinggi yang mengarah kepada Peter. Peter mengayungkan trisulanya dengan cepat ke atas, lalu menyemburkan api lurus secara terus-menerus. Terkena suhu panas yang tinggi, duri-duri es itu langsung meleleh sehingga menyebabkan genangan air di lantai kapel. Tetapi Peter tidak sadar bahwa dia telah salah langkah. Selama ada air di sana, maka Jack akan dengan mudahnya membuat es.
Jack menenggelamkan ujung tongkatnya ke dalam genangan air dan dengan cepat mengibaskannya ke udara. Terbentuk sebuah balok es yang tinggi di dekat Jack. Jack memukulkan tongkat ke balok es itu dari kiri ke kanan dan sebaliknya, mengikisnya menjadi serpihan piringan-piringan es yang diarahkan kepada Peter. Peter menangkis serangan itu dengan trisula, menghancurkan piringan es yang tipis menjadi serpihan. Sebuah piringan es melesat melewati pundaknya. Peter memiringkan posisi badannya untuk menghindar. Piringan es itu begitu bersih mengilap hingga Peter dapat melihat pantulan wajahnya sendiri.
Mencuri kesempatan, Jack meluncur kencang ke depan Peter. Jarak di antara mereka menyempit, menyisakan beberapa sentimeter. Kini Peter berada dalam posisi yang terancam. Memberi respon terdapat serangan mendadak ini, Peter mengayunkan tinjunya.
Jack menangkis dengan lengannya. Tinju mereka saling beradu. Mereka menyerang dan bertahan secara bergantian. Tinju lainnya dikerahkan oleh Peter. Dengan refleks yang baik, Jack memusatkan beban tubuhnya pada kaki kanannya untuk merunduk. Melihat ada celah kosong, Jack menebas perut Peter menggunakan tongkatnya dengan sangat keras. Peter menahan sakit. Mulutnya terbuka lebar memuncratkan ludah. Dia terjatuh ke genangan air, menyebabkan pakaiannya basah kuyup. Jack membungkus trisula Peter ke dalam sebongkah es sehingga Peter tidak dapat meraihnya.
Jack menghunuskan tongkat ke arah wajah Peter. "Kau kalah, Peter."
Merasa terdesak, Peter merogoh saku celananya untuk mengambil pasokan terakhir batu-batu kerikil yang dimilikinya. Sebelum Peter sempat menjatuhkannya ke lantai, Jack membekukan batu-batu itu dan menghancurkan bongkahan es menjadi asap yang dingin. Jack berhasil menggagalkan niat Peter untuk membangkitkan pasukan Golem.
"Aku tidak akan jatuh dalam trik yang sama," ucap Jack.
"Kau tidak akan membunuhku bukan, Jack? Kau membutuhkanku untuk membebaskan jiwa adikmu. Lepaskan aku, dan aku akan menuruti permintaanmu" kata Peter dengan nada memohon. Dia merangkak mundur sambil ketakutan.
"Bagaimana bisa aku memercayai musuhku? Kau sendiri yang mengajarkannya kepadaku," balas Jack. "Aku akan mencari cara lain untuk membebaskan mereka tanpa bantuanmu."
Jack memanggil angin. Timbul pusaran angin yang mengitari Peter. Genangan air tertarik ke dalam angin yang berputar kencang itu. Jack membekukan air, membentuk sebuah bola es berukuran besar yang memenjarakan Peter.
"Lebih baik kau tinggal diam di sana. Aku akan memanggil teman-temanku untuk kembali menyegelmu. Kali ini kau tidak akan bisa lolos lagi, Peter," kata Jack sambil membalikkan badannya.
Jack terbang menuju altar yang dipenuhi bola-bola kristal. Dia mengambil satu per satu bola kristal secara sembarang. Di antara ratusan bola kristal itu, dia mencari jiwa adiknya. Tetapi seteleh mencari selama beberapa menit, Jack tidak berhasil menemukan bola kristal Jill. Tidak sesuai harapannya, yang dia temukan adalah tiga bola kristal milik Babcock, Eddie, dan Kirk.
Mereka bertiga menggedor-gedor kaca dari dalam bola kristal seraya meminta tolong kepada Jack. Mengingat perlakuan mereka terhadap Jamie dan kawan-kawan, Jack sempat merasa ragu untuk menolong mereka. Tetapi keraguannya segera terhapuskan begitu dia teringat tujuannya datang kemari: membebaskan semua jiwa anak-anak tanpa pilih kasih.
Jack memasukkan tiga bola kristal itu ke saku jaketnya ketika tiba-tiba angin bertiup kencang dari arah pintu kapel. Angin itu disertai oleh arus pasir hitam yang langsung menerjang Jack. Jack tahu betul sensasi negatif yang dirasakannya ketika kulitnya yang pucat bergesekan dengan pasir hitam itu. Sangat mencekam seolah-olah membangkitkan ketakutan yang dipendamnya dalam-dalam.
Arus pasir hitam menghancurkan segala benda yang ada di dalam kapel. Dinding kapel dan kursi tempat umat biasa duduk lapuk dengan cepat seperti digerogoti rayap. Jendela-jendela pecah, menyebarkan beling-beling di lantai. Begitu pula dengan permukaan balok es dan penjara es buatan Jack yang mulai meretak.
Pasir hitam berkumpul pada satu titik, membentuk sosok pria dewasa yang tinggi semampai. Jubah hitam menutupi kulit gelapnya, berkibar-kibar tertiup angin. Wajahnya tirus, menambah kesan licik pada senyum lebar yang diperlihatkannya. Dia adalah Raja Kegelapan. Pitch Black.
"Berhenti, Pitch!" teriak Jack sambil terus berjuang melawan arus kencang yang meniupnya ke arah yang berlawanan.
"Kau nampak terkejut melihatku," sapa Pitch tenang. "Tetapi aku tidak berminat untuk berbicara denganmu sekarang. Aku hanya ingin menolong rekanku yang sedang kesulitan saja."
Pitch menepuk retakan besar di penjara es. Seketika satu sisi penjara es itu hancur lebur, membebaskan Peter yang terkurung di dalamnya. Peter memukul balok es yang membekukan trisulanya, lalu dia mengambil senjatanya itu.
"Aku tidak menyangka kedudukan kita berbalik dengan begitu cepat," kata Peter dengan nada yang meremehkan.
"Kau licik, Peter-"
"Tidak ada kata licik dalam pertarungan. Yang ada hanyalah menang atau kalah. Kau yang terlalu bodoh masuk ke dalam markas musuh tanpa persiapan," sela Peter.
Ketika Jack ingin melangkah maju, Pitch mengendalikan arus pasir hitamnya untuk mengikat kedua kaki Jack. Jack menarik kakinya dengan kuat, tetapi pasir hitam itu merekat kakinya lebih kuat daripada tarikannya, seolah-olah Jack tertanam di permukaan tempatnya berpijak.
Jack melihat senyum penuh kemenangan menghiasi wajah Peter dan kilatan cahaya merah yang melesat tepat ke arahnya. Jack merasa sangat tegang. Dia tidak yakin dapat bertahan jika terkena oleh serangan brutal itu.
Sayup-sayup terdengar suara bisikan yang berdengung di telinga Jack. "Kita harus melindunginya!"
Sekonyong-konyong tiga bola kristal di dalam sakunya melompat keluar, melindungi Jack dari sinar tersebut.
Peter terkesiap melihat pemandangan itu. Ekspresinya jelas menunjukkan dia tidak mempunyai ekspektasi bahwa bola kristal itu dapat bergerak sesuai kehendaknya sendiri.
Kilatan sinar merah dari trisula Peter terisap oleh tiga bola kristal itu, memunculkan gelombang api yang berputar-putar di dalamnya. Segel sihir yang mengikat mereka telah menghilang. Babcock, Eddie, dan Kirk telah terbebas dari penjara. Mereka bertiga dalam sosoknya yang transparan meninggalkan bola kristal yang telah pecah karena terbanting ke lantai.
Satu-satunya cara untuk membebaskan jiwa anak-anak yang terperangkap dalam bola kristal adalah bersentuhan langsung dengan sihir Peter. Sejujurnya Babcock, Eddie, dan Kirk tidak mengetahui cara ini. Mereka bergerak hanya karena didorong oleh keinginan yang kuat untuk menolong Jack. Tanpa disangka-sangka, usaha mereka membuahkan hasil yang jauh lebih memuaskan.
Jack menengadah untuk melihat ketiga jiwa itu yang terbang cepat menembus atap kapel sebelum Peter sempat menangkapnya lagi. Ketika Jack mengembalikan pandangannya ke depan, Pitch menyemburkan kabut hitam yang bentuknya seperti cipratan tinta hitam. Jack terbanting ke dinding, kepalanya terbentur dengan keras. Dengan terhuyung-huyung Jack terbaring menelungkup di lantai.
Dalam sepersekian detik, segala kekacauan di kapel terhenti. Menciptakan kesunyian untuk menemani Jack yang telah tidak sadarkan diri.
"Jamie, Mum pergi dulu ya. Jaga dirimu dan Sophie. Jangan lupa matikan lampu dan kunci kamar ketika kalian tidur nanti," pesan Mrs. Bennet kepada Jamie seraya mengecup keningnya.
"Oke, Mum. Hati-hati di jalan, ya," balas Jamie.
Jamie dan Sophie melambai-lambaikan satu tangan ke udara seraya mengucapkan salam perpisahan kepada sang ibu di teras rumah.
Mrs. Bennet menatap khawatir kepada kedua anak tersayangnya ketika dia membuka pintu mobil. Dia terpaksa pergi ke luar kota karena ada urusan pekerjaan yang penting. Sebagai satu-satunya orang tua mereka, Mrs. Bennet harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Jamie dan Sophie karena sangat takut terjadi hal mengerikan yang sama yang telah menimpa beberapa anak di kota itu. Oleh karena itu, dia menyewa seorang pengasuh. Sayangnya, pengasuh itu baru bisa datang besok pagi.
Jamie dan Sophie menghentikan lambaiannya ketika mereka mobil ibu mereka telah menghilang dari pandangan.
Jamie menoleh kepada Sophie yang sibuk mengemut jari-jari tangan kanannya. Jamie mengerti bahwa Sophie memiliki kebiasaan tersebut setiap kali dia ketakutan.
Jamie menepuk-nepuk kepala Sophie, berusaha untuk menenangkannya. "Jangan khawatir, Sophie. Kakak ada di sini. Tidak akan ada yang berani mengganggumu."
Sophie menggeleng-geleng protes sambil mengangkat boneka kelinci di tangan kirinya kepada Jamie. "Nga mau, Sophie pengen Bunny!"
Sophie baru berusia dua tahun. Dia tidak dapat berbicara dengan lancar, tetapi Jamie yang sudah terbiasa dapat memahami perkataan Sophie.
Jamie menghela napas, lalu berjongkok untuk menyamaratakan tinggi badannya dengan adik perempuannya. "Sophie, Bunny sedang sibuk. Dia nggak bisa datang kemari. Bagaimana kalau kamu main saja dengan kakak?"
"Nga! Sophie cuma mau Bunny!" protes adiknya dengan nada yang semakin meninggi.
Jamie menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia kehabisan cara untuk menjelaskan kepada Sophie yang setiap hari terus merengek karena ingin bertemu dengan Bunnymund. Dari kelima pelindung, Sophie paling suka dengan Bunnymund karena bulu-bulu sang kelinci yang sangat empuk. Jika saja Jamie tidak bertemu dengan Jack dua hari yang lalu, maka mereka berdua sama-sama sudah melewatkan enam bulan dengan tidak bertemu pelindung kegemarannya.
Jamie menarik lengan Sophie untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah, tetapi Sophie melawan.
Srek srek…
Bunyi dedaunan terdengar jelas oleh Jamie dan Sophie. Jamie meneliti dengan cermat semak-semak di taman depan rumahnya. Tidak begitu kelihatan karena hari sudah malam, tetapi Jamie tahu bahwa ada sesosok makhluk berukuran besar yang bersembunyi di sana.
"Sophie, berlindung di belakang kakak!" perintah Jamie. Dia segera mengambil sapu yang tergeletak di lantai taman, berjaga-jaga apabila makhluk itu menyerang mereka tiba-tiba.
Dengan gemetaran, Jamie dan Sophie melangkah maju menuju semak-semak. Makhluk yang bersembunyi itu melompat dengan sangat lincah ke sisi semak-semak yang lain.
Jamie pun mengangkat sapu dan dengan cepat menghantam seraya berteriak, "Pergi kau, pencuri!"
"Uooohhh! Hentikan, hentikan!" seru makhluk itu. Jamie sontak membatalkan serangan mendadaknya itu.
Dua telinga kelinci panjang berwarna biru muncul dari balik semak-semak. Mengetahui siapa itu, Sophie berlari kegirangan menuju semak-semak sambil berseru, "Bunny! Bunny! Bunny!"
"Bunny?" ulang Jamie keheranan. Tidak membuang banyak waktu, dia melempar sapu di tangannya dan segera mengejar Sophie masuk ke dalam semak-semak.
Di sana Sophie telah memeluk erat Bunnymund. Sophie menggeliat di dada bidang sang kelinci yang sangat empuk. Bunnymund tampak sangat salah tingkah. Dia terbaring dengan pasrah di tumpukan salju, tidak bisa mengendalikan Sophie yang terus menarik bulu birunya.
Jamie mengucek matanya berkali-kali, tidak percaya dengan tamu yang datang ke rumahnya. "Apakah itu kamu, Bunny? Kupikir aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu."
"Oh hei, Jamie. Lama tidak bertemu. Apa kaba…aaa…HAHAHA!" Bunnymund spotan tertawa lantang karena Sophie menggelitiki perutnya sehingga dia menjadi sangat geli.
Jamie bergerak cepat untuk mengangkat Sophie, memberi ruang bagi Bunnymund untuk bergerak.
Lantas Bunnymund terbaring lesu karena terlalu banyak tertawa. Jika diberi pilihan, dia akan lebih memilih melawan pasukan kuda Pitch atau Golem milik Peter daripada harus berurusan dengan anak kecil seperti Sophie. Dia benar-benar tunduk tidak berdaya di hadapan anak kecil.
"Maaf, Bunny. Sophie sangat rindu denganmu sampai-sampai dia tidak bisa berhenti menjahilimu," ucap Jamie.
Bunnymund tergelak. Sophie rindu denganku? tanyanya dalam hati. Dia memandang Sophie yang menunjuk kepadanya sambil berseri-seri. Terpancar kebahagian pada wajah polos anak itu. Sekejap di dalam benaknya, Bunnymund menyesal telah membuat anak sekecil itu merasa kehilangan atas dirinya. Sekarang dia mengerti mengapa Jack bersikeras ingin bertemu Jamie, meskipun itu berarti melanggar perintah MiM.
"Kamu benar, bocah salju. Mungkin aku harus meminta maaf padamu," gumamnya pelan.
"Apa kamu mengatakan sesuatu, Bunny?" tanya Jamie. Dia tidak bisa mendengar pembicaraan Bunnymund dengan jelas.
"Nah, bukan apa-apa, kok," sanggahnya. Bunnymund melompat untuk berdiri. Dia merapikan bulu-bulunya yang berantakan seraya memungut telur-telur yang berserakan di permukaan salju.
"Uhm, ada keperluan apa kamu datang kemari, Bunny?"
"Oh ya, hampir saja aku lupa. Jamie, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apa kamu masih percaya dengan North… maksudku Santa Claus?"
Jamie tidak mengerti maksud dari pertanyaan sang kelinci. Tanpa berpikir panjang, Jamie menjawab, "tentu saja! Aku akan terus percaya dengan Santa Claus!"
Bunnymund merasa sangat lega sekaligus senang mengetahui bahwa Jamie tidak pernah kehilangan kepercayaan terhadap mereka sedetik pun. Bunnymund tersenyum lebar, lalu bertanya, "bagaimana dengan teman-temanmu? Apa mereka sama denganmu?"
Jamie terdiam seketika. Dia menundukkan wajahnya, mengingat kejadian tadi pagi. "Monty, Pippa, Cupcake, Claude dan Caleb… Setelah mengetahui mereka tidak mendapat kado Natal dari Santa, dan takut karena Krampus, mereka tidak lagi percaya dengan Santa."
"Sudah kuduga," komentar Bunnymund pendek.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bunny? Pasti ada sesuatu hal yang gawat telah menimpa kalian semua. Bagaimana dengan Jack? Apa dia baik-baik saja?" tanya Jamie dengan tidak sabar.
Bunnymund ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan beruntun itu. Apakah perlu membeberkan semuanya kepada seorang anak kecil? Tetapi akan sia-sia baginya datang menemui Jamie apabila dia tidak memberi tahu kebenaran kepada anak itu. Lagipula penting bagi Jamie untuk mengetahuinya agar dia dapat menolong North. Setelah sibuk membatin, Bunnymund pun memantapkan hati, lalu menjawab, "Jack, dia-"
"Jack pergi dari istanaku! Apa yang harus kulakukan?"
Tiba-tiba suara perempuan memotong perkataan Bunnymund. Bunnymund, Jamie, dan Sophie menoleh ke arah sumber suara itu. Tooth terbang cepat menghampiri mereka. Wajah sang peri gigi terlihat sangat cemas.
"Tooth? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bunnymund.
"Jack hilang begitu saja tanpa mengatakan apa-apa kepadaku. Pasti karena aku sudah mengatakan yang bukan-bukan kepadanya. Aku khawatir sekali dengannya. Aku tidak tahu harus mencarinya ke mana, jadi aku memutuskan untuk menemui Jamie. Barangkali dia berkunjung kemari," jawab sang peri gigi dengan sangat cepat. Sayapnya mengepak dengan kencang. Dia berputar-putar di sekeliling mereka dengan gerakan yang berantakan.
Bunnymund menarik pundak Tooth untuk menghentikannya. "Hei Tooth, tenanglah. Aku tidak bisa mencerna apa yang kamu katakan."
Tooth menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Begitu dia telah merasa tenang, Tooth mulai berbicara lagi. "Apa Jack ada di sini?"
Jamie menggeleng, begitu juga dengan Bunnymund.
"Negatif," jawab Bunnymund singkat. "Sejak penyerangan di Santoff Claussen, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Kupikir dia ada bersamamu."
"Jadi kemungkinan besar Jack pergi untuk bertarung sendirian dengan Peter," keluh Tooth.
"Santoff Claussen diserang? Peter? Jack pergi untuk bertarung? Aku tidak mengerti semua ini!" sahut Jamie kencang. Bunnymund dan Tooth spontan menoleh kepada Jamie. Sophie yang berdiri di samping Jamie hanya bisa diam melihat kakaknya yang memasang raut wajah serius.
Kecemasan dalam diri Jamie menjadi-jadi. Dia tahu apa itu Santoff Claussen karena dia pernah membacanya di sebuah buku dongeng yang bercerita mengenai Santa Claus. Dia tidak mengenal Peter, tetapi jika Jack sampai bertarung dengannya, sudah pasti Peter adalah seseorang yang jahat seperti Pitch Black.
Bunnymund dan Tooth saling bertatapan cukup lama. Seakan-akan mereka saling melemparkan pesan dalam kesunyian. Bunnymund pun mengangguk. Dia mendekati Jamie dan berjongkok di depannya.
"Dengarkan aku, Jamie. Sesuatu yang parah telah menimpa kami semua, para pelindung. Datang seorang penjahat baru yang menyerang kami. Dia menghancurkan Santoff Claussen dan segala isinya, termasuk kado-kado yang rencananya akan dibagikan kepada kalian semua. Oleh karena itu, perayaan Natal menjadi gagal."
"Siapa yang tega berbuat begitu kepada kalian?" tanya Jamie penasaran.
"Peter alias Krampus. Kamu pasti mengenalnya, bukan? Dia yang telah menculik jiwa anak-anak beberapa hari ini."
"Krampus? Jadi dia memang benar-benar nyata…," gumam Jamie. "Apa yang bisa kulakukan untuk membantu kalian?"
"Sekarang Santa Claus sedang dalam keadaan yang sangat tidak baik karena anak-anak tidak percaya lagi dengannya. Aku butuh bantuanmu untuk mengembalikan kepercayaan mereka, minimal teman-teman bermainmu. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Santa."
"Tetapi aku tidak yakin bisa melakukannya," ucap Jamie pelan.
"Oh, kamu tidak perlu berbuat begitu kepada kami, Jamie!"
Sebuah suara melengking menyahut dari balik gerbang rumah Jamie. Dia adalah Monty. Monty mengenakan pakaian lengkap. Di satu tangannya dia mengepal sebuah ketape dan lmembawa tas ransel yang dipanggul di kedua pundaknya.
"Monty?" tanya Jamie kebingungan dengan kedatangan temannya yang mendadak. Terlebih lagi penampilan anak itu sangat tidak biasa, seolah-olah akan pergi bertarung.
"Bukan cuma aku sendiri yang datang kemari, Jamie," lanjut Monty sambil membuka lebar pagar rumah Jamie. "Ayo masuk, teman-teman!"
Gerombolan anak-anak lainnya mulai menampakkan diri: Pippa, Cupcake, Caleb, dan Claude. Sama seperti Monty, mereka mengenakan pakaian lengkap dengan membawa senjata mainan.
Jamie menganga lebar mendapati teman-temannya telah berdiri lengkap beberapa meter di depannya. Sophie melompat-lompat kegirangan menyambut keramaian di taman rumahnya.
Monty melangkah maju menghampiri Jamie. Dari balik kaca matanya, Monty menatap langsung kepada Jamie, kemudian berkata, "maafkan aku atas perbuatanku tadi pagi, Jamie. Aku tahu seharusnya aku tidak berkata kejam kepadamu."
Mengikuti Monty, Pippa dan yang lain mendekati Jamie. Terbesit penyesalan di wajah mereka semua.
"P-Pagi ini aku terlalu ketakutan hingga tidak bisa berpikir dengan jernih. Tetapi setelah merenung untuk beberapa waktu, aku sadar bahwa aku telah menyakiti perasaanmu. Apa kamu masih mau memaafkanku, Jamie?" ucap Pippa dengan berhati-hati.
"Sama denganku. Aku minta maaf, Jamie," kata Cupcake. Senyum tipis mengukir wajah bulatnya.
"Tidak mungkin hanya masalah kecil begitu bisa meretakkan persahabatan kita, bukan begitu Mr-Know-It-All?" tanya Claude kepada adiknya.
"Namaku Caleb, bukan Mr-Know-It-All, oke?" protes Caleb.
Jamie tertawa melihat tingkah duo kembar itu. Dia merasa sangat senang mengetahui mereka berenam masih tetap bersahabat seperti sedia kala.
"Tentu saja, Claude, Caleb. Dan juga Pippa, Cupcake, dan…," Jamie menoleh kepada teman baiknya, "…Monty. Kita semua adalah sahabat. Tidak mungkin aku tidak memaafkan kesalahan sahabatku."
Teman-teman Jamie tersenyum lebar mengetahui Jamie telah memaafkan mereka. Mereka pun saling bercanda gurau dengan memukul pelan satu sama lain.
"Pemandangan yang sangat indah. Mengingatkanku pada masa kecilku," ucap Tooth, terpesona dengan persahabatan tulus keenam anak kecil itu.
"Tidak. Mereka mengingatkanku bahwa aku telah berbuat salah kepadamu, Tooth," kata Bunnymund dengan malu-malu. Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "maaf kalau aku telah menyinggung perasaanmu. Kamu tahu aku tidak benar-benar berniat untuk melukaimu."
Tooth tertawa ringan. "Oh, kamu tidak perlu meminta maaf, Bunny. Aku bahkan sudah lupa dengan apa yang kamu katakan kepadaku."
"Ah, kalau begitu kubatalkan saja permohonan maafku," keluh Bunnymund.
"Seorang pria sejati tidak pernah menarik ucapannya sendiri, Bunny," gurau Tooth dengan nada menggoda.
Bunnymund membalikkan badannya agar tidak terlihat oleh Tooth. Dengan terbata, dia berkata, "terima kasih, Tooth."
"Terima kasih kembali, Bunny," balas Tooth. Dia tersenyum kepada sang kelinci.
Memecah kecanggungan di antara Bunnymund dan Tooth, Jamie melontarkan pertanyaan kepada teman-temannya. "Bagaimana bisa kalian dengan cepat kembali percaya dengan Santa Claus? Pasti ada alasan yang kuat di balik ini."
Kelima teman Jamie saling beradu pandang untuk beberapa detik. Mewakili yang lain, Cupcake menjawab, "kamu tidak akan menyangka siapa yang menyarankan kami datang kemari, Jamie. Mereka menceritakan segalanya kepada kami dengan sangat jelas."
"Siapa yang kamu maksud dengan 'mereka'?" tanya Jamie penasaran.
"Mereka terlalu ragu untuk bertemu denganmu, Jamie. Mereka menunggu di depan rumahmu dari tadi. Sebaiknya kamu menemui mereka," jawab Pippa.
Jamie mengikuti saran Pippa. Dia berlari keluar rumah dan segera menghilang di balik gerbang rumahnya.
Jalanan di depan rumah Jamie sepi sekali. Tidak ada orang atau kendaraan lalu lalang. Tumpukan salju masih sangat murni, tidak ada tapak kaki yang tercetak di sana.
Jamie menoleh ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Dia menoleh ke arah sebaliknya dan menemukan Babcock, Eddie, dan Kirk sedang duduk bersandar di tembok gerbang rumahnya dengan diterangi lampu jalanan yang redup. Walaupun telah berpakaian rangkap, mereka tetap kedinginan. Mereka menggosok telapak tangan lalu meniupnya untuk mencari kehangatan.
Jamie tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukankah mereka seharusnya sedang terbaring sekarat? Bagaimana bisa mereka bangun kembali? Sangat aneh mengetahui kenyataan bahwa mereka yang telah mengajak teman-temannya untuk berkunjung ke rumahnya. Padahal mereka tidak percaya dengan para pelindung dan selalu mengganggu Jamie dan teman-temannya karena alasan tersebut.
Menyadari kedatangan Jamie, mereka bertiga bangkit berdiri dengan terburu-buru. Mereka saling berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan berbicara dengan Jamie. Karena tidak ada satu pun yang mencalonkan diri, Eddie dan Kirk mendorong Babcock ke dekat Jamie.
"Halo Jamie. Dingin sekali di sini," sapa Babcock dengan canggung.
"Apa maumu datang ke rumahku, Babcock? Mau menghinaku lagi? Aku sedang sibuk. Aku tidak ada waktu untuk meladenimu," balas Jamie dengan sinis. Jamie berpaling lalu berjalan menjauhi mereka.
"Tunggu, Jamie. Aku ingin berbicara sesuatu yang sangat penting denganmu," ucap Babcock cepat sambil menarik satu lengan Jamie.
"Apa yang ingin kaubicarakan?" tanya Jamie tanpa menoleh.
Babcock menelan ludah. Rasanya sulit sekali baginya untuk berbicara. Hanya beberapa patah kata sederhana yang ingin diucapkannya, tetapi seperti menyangkut di tenggorokannya.
"Para pelindung. Kami bertiga percaya dengan mereka!" seru Babcock.
Mata Jamie terbuka lebar. Apa aku tidak salah dengar? tanyanya dalam hati.
Jamie kembali memutar badannya ke arah Babcock. "Apa kau membohongiku?" tanyanya lagi. Dia belum bisa memercayai mereka sepenuhnya.
"Tidak, aku serius. Aku... maksudku kami telah melihat dengan mata kepala sendiri sosok-sosok yang kau anggap sebagai para pelindung itu."
"Bagaimana bisa? Bukankah beberapa hari ini kau terus tertidur?"
"Mungkin ini terdengar bodoh sekali. Dari tampak luar, kami memang seperti orang yang tidur dengan normal, tetapi sebenarnya jiwa kami diculik dan diperangkap dalam sebuah bola kristal oleh sesosok monster bernama Krampus," Babcock menjelaskan.
"Ugh, hanya dengan mengingatnya saja aku bisa merasakan siksaan monster itu. Sungguh menakutkan," kata Eddie seraya memeluk dirinya sendiri. Dia tampak sangat trauma.
"Kita semua disiksa selama berhari-hari. Kami tidak bisa membebaskan diri sampai dia sendiri yang melakukannya," tambah Kirk. Terbesit ketakutan dari balik mata yang terhalangi oleh topi merahnya.
Babcock kembali melanjutkan, "Krampus mengikat jiwa kami dengan tubuhnya supaya kami tidak bisa kabur. Selain itu, dia juga menyegel kami dengan sihir. Melalui bola matanya, kami dapat menyaksikan pertarungan sengit antara para pelindung dan Krampus di Kutub Utara. Tepatnya di sebuah tempat yang menyerupai pabrik mainan raksasa. Apa namanya itu... Sound... Cloud?"
"Santoff Claussen maksudmu?" Jamie mengoreksi.
"Yeah, yeah. Itu namanya. Para pelindung memang benar-benar nyata. Santa Claus, Tooth Fairy, Bunnymund, Sandman, dan Jack Frost. Aku tidak tahu apa alasan Krampus menghancurkan Santoff Claussen dan kado-kado Natal. Bagiku Krampus hanya sesosok monster yang gila," kata Babcock.
"Bos, ngomong-ngomong tentang Jack Frost, kita harus segera menolongnya!" seru Kirk.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Jamie cepat.
"Jack telah menolong kami, tetapi sekarang dia tertangkap oleh Krampus," jawab Eddie.
"Kami berutang budi padanya. Makanya kami mengumpulkan teman-temanmu untuk bertemu denganmu. Kau yang telah mengenal Jack dengan baik pasti punya solusi untuk menolongnya," ucap Babcock.
Jamie menatap Babcock sebentar. Jamie bisa melihat kesungguhan dari dalam diri Babcock. Mungkin Jamie perlu memberikan kesempatan untuk memercayai Babcock. Terlebih lagi Babcock, Eddie, dan Kirk sudah berjasa dalam mengembalikan kepercayaan teman-temannya kepada Santa Claus yang sempat sirna.
"Aku percaya kepadamu, Babcock. Terima kasih telah memberitahukan semua ini kepadaku," kata Jamie ramah, "tolong beri tahu aku di mana Jack sekarang berada."
"Dia berada di kapel tua di sebuah lereng yang terletak di luar kota ini," jawab Babcock.
Tetapi lereng itu cukup jauh dari sini. Kita butuh transportasi untuk ke sana," keluh Eddie.
"Masalah transportasi aku bisa mengatasinya."
Jamie mendapati Bunnymund, Tooth, dan semua temannya, termasuk Sophie telah berdiri di luar rumahnya.
"Kurang dari semenit, kita bisa segera sampai di sana dengan menggunakan lubang kelinci ajaibku," lanjut Bunnymund.
"Tetapi kamu 'kan perlu mengetahui letak pasti tempat tujuanmu sebelum bisa menggunakan lubang ajaib itu. Kalau tidak bisa-bisa kita malah tersesat," kata Tooth, menggagalkan ide brilian Bunnymund.
"Aww, benar juga. Bagaimana bisa aku lupa hal sepenting itu?" ucap Bunnymund seraya memukul keningnya sendiri.
"Hei, suara apa itu?" tiba-tiba Claude bertanya.
Merespon pertanyaan itu, mereka semua melihat lurus ke depan, tempat sumber suara yang mereka dengar. Bunyinya seperti ketopak kaki kuda yang menginjak-injak lantai. Dan dari bisingnya suara itu, bisa dipastikan hewan itu berjumlah lebih dari satu.
Bunnymund menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatan. "Hei, bukankah itu-"
Enam ekor rusa tiba di hadapan mereka semua. Salah satu rusa yang memimpin di depan memangku seseorang yang sangat tidak asing bagi Bunnymund dan Tooth. North naik di punggung rusa itu, diikuti oleh Sandy yang terbang pelan di belakangnya. Mereka tampak lebih baikan sejak terakhir kali Bunnymund meninggalkan mereka di oasis miliknya.
"North, tidak seharusnya kamu datang kemari. Dan bagaimana kamu bisa menemukan rusa-rusa ini?" tanya Bunnymund.
North dengan hati-hati turun dari rusanya. Dia membenarkan posisi jaketnya yang kusut karena tertiup angin. Dengan aksen Rusia-nya yang khas, dia menjawab seraya mengelus satu rusanya, "kamu meremehkan rusa-rusaku, Aster. Mereka memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari yang kamu bayangkan. Justru merekalah yang menemukanku di markasmu."
Tooth terbang menghampiri Sandy. Tooth memeriksa bagian tubuh Sandy yang terluka. Dia terpukau mendapati Sandy telah pulih total. Bahkan tidak ada bekas luka bakar sedikitpun pada tubuhnya.
"Bahan-bahan obat herbal di oasismu benar-benar manjur, Aster. Sesuai insting perutku, seseorang tidak dapat menggampangkan kehebatan Kelinci Paskah," puji North, membuat Bunnymund tersipu malu.
North menoleh kepada Jamie dan kawan-kawan. "Aku harus berterima kasih kepada kalian semua. Kepercayaan kalian terhadapku memberiku kekuatan, minimal bagiku untuk terus bertahan hidup."
"Tidak, Santa Claus. Jamie-lah yang pantas menerima terima kasih darimu," ucap Cupcake seraya menarik Jamie ke hadapan North.
"Dan tanpa disangka-sangka, Babcock juga sudah turut membantu!" seru Claude, mendorong paksa Babcock ke sebelah kiri Jamie.
"Well, sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian berdua," ucap North tulus.
Jamie dan Babcock menjadi salah tingkah. Sungguh sebuah kehormatan bagi mereka dapat membantu Santa Claus. Jamie melirik Babcock sambil tertawa. Babcock membalas dengan memasang senyum simpul, tetapi dengan raut mukanya yang bengal hanya membuat senyumannya sangat tidak natural.
"Jadi, apa lagi yang kita tunggu? Ayo kita tolong Jack sekarang juga. Aku sudah tidak tahan untuk memberi pelajaran kepada bocah api itu!" seru Bunnymund.
"Aku bisa menunjukkan arah menuju kapel tempat Jack disekap. Begini-begini aku mempunyai ingatan yang kuat dalam menghapal rute jalan," Kirk menawarkan.
"Bagus sekali. Kamu bisa memimpin kami semua di depan," kata Tooth bersemangat.
Tanpa membuang banyak waktu, mereka semua segera menunggangi rusa. Rusa-rusa itu bertubuh kuat sehingga mampu menunggangi lebih dari satu anak kecil di atasnya.
Sejenak rusa-rusa itu tidak melakukan apapun, kemudian dengan gerakan menyapu yang nyaris membuat anak-anak terjatuh dari punggung rusa, rusa-rusa itu mulai meluncur maju begitu cepat. Rusa-rusa itu mengambil beberapa langkah ke depan dan sekejap keempat kaki mereka tidak lagi menyentuh tanah. Mereka telah terbang di udara, membuat anak-anak berdecak kagum sekaligus gemetar karena takut terempas oleh angin kencang yang menerpa wajah mereka.
Sungguh sebuah pengalaman yang menakjubkan bagi Jamie dan teman-temannya. Mereka yakin tidak akan pernah melupakan pengalaman berharga ini seumur hidup.
Terbuai oleh keajaiban yang tidak pernah mereka bayangkan, mereka terus melesat menembus kekelaman malam seraya mempersiapkan diri untuk menghadapi medan perang yang telah menunggu di depan mata mereka.
Rasa nyeri di kepalanya membuat Jack siuman. Jack hendak mengangkat tangan kanannya untuk memegang bagian kepalanya yang tidak berhenti berdenyut ketika dia terkejut saat menyadari bahwa kedua lengannya telah terborgol.
Dia mencoba untuk maju, namun tiba-tiba Jack merasa sangat lemas seolah-olah seluruh energi telah meninggalkan tubuhnya. Lututnya bergetar dengan kencang, menyebabkan dia kehilangan keseimbangan. Dia jatuh berlutut di atas genangan air.
Timbul kecurigaan di dalam diri Jack ketika mengetahui air tersebut tidak membeku walaupun bersentuhan dengannya. Jack menunggu genangan air itu berhenti bergerak. Ketika riak air itu sudah berhenti, Jack memperhatikan pantulan di dalamnya. Seketika Jack membelalak seakan-akan dia baru saja melihat hantu. Genangan air memperlihatkan sosoknya yang tampak berbeda dari biasanya. Rambutnya yang putih telah berubah warna menjadi coklat, begitu pula dengan bola matanya yang seharusnya berwarna biru.
Jack telah kembali ke wujud asalnya saat dia masih hidup normal sebagai seorang manusia.
