3 September 2012

Happy birthday to me, The Greatest Species of Human-being in the world!

Inilah update yang sudah kalian tunggu-tunggu. Penulis mengucapkan terima kasih atas review yang sudah kalian berikan selama 10 chapter ini, semoga kalian tidak kapok membaca dan terus menantikan updatenya, ya. ; )

Psst~ Hayoo siapa yang menyangka bahwa suara yang KID pakai adalah suara Shiho? Atau penembak misteriusnya adalah Snake? Satu kata dari penulis, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Untuk yang baru mereview/membaca cerita ini; Selamat bergabung! Jangan sungkan untuk bertanya jika ada kesulitan memahami cerita ^^

Enjoy the story~

Disclaimer: D.C/Case Closed bukan milik penulis dan merupakan sebuah mahakarya dari Gosho Aoyama, di sini penulis hanya memiliki hak penuh atas fanfic ini dan akun di mana fanfic ini berada.


.

.

Case 10: Tears of Disappointment

"A broken heart bleeds tears."
~Steve Maraboli, Life, the Truth, and Being Free

.

.

"Jika kita tarik garis dari pojok kiri atas menuju ke kanan, kesimpulan yang akan kita dapatkan adalah jari-jari lingkaran atom yang semakin..."

Heiji kembali menguap. Dengan satu tangan menopang dagunya, pemuda berkulit gelap itu menatap bosan segala macam hal yang ditorehkan oleh guru kimianya menggunakan kapur putih. Bukan meremehkan, tetapi mengulang pelajaran saat ia duduk di kelas 1 SMA membuatnya merasa seperti ingin mati karena bosan.

Pernah sekali detektif itu bertanya; 'Kita sudah mempelajarinya di kelas 1, diulang di kelas 2, dan mengapa harus diulang di kelas 3?' Dan kemudian sang guru hanya diam, mengabaikan pertanyaan pemuda itu dan kembali menerangkan.

Jika memang hanya untuk mengingatkan kembali, haruskah sedetail ini? Apakah para guru tidak merasa kasihan pada para murid yang tidak akan melanjutkan studi di bidang sains?

Menghelakan napasnya, pemuda berkulit gelap itu lalu menoleh ke arah jendela dan menatap lapangan sekolah yang sedang dipakai untuk pelajaran olahraga para juniornya. Ah, ya. Tidak terasa 3 tahun sudah dan tahun ini ia akan meninggalkan semua seragamnya, menggantinya dengan pakaian bebas dan menyambut datangnya pergaulan yang lebih dewasa!

Seandainya waktu bisa dipercepat...

"Shh! Heiji! Heiji!" Suara bisikan Kazuha kembali terdengar. Terakhir kali gadis itu berbisik — yakni 10 menit yang lalu — gadis itu hanya meminjam buku cetak karena halaman pada bukunya robek dan gadis itu tidak dapat menyalin soal yang ada.

Menoleh ke arah kanan, pemuda berkulit gelap itu mengangkat satu alisnya, "Apa lagi?"

Kazuha mengangkat bukunya, menutupi wajahnya dengan buku itu lalu menoleh ke arah Heiji. Masih dengan suara berbisik, gadis itu menunjuk ke arah laci meja Heiji, "Sejak tadi ponselmu bergetar, suara getarannya sangat berisik!"

Kedua alis berwarna hitam pemuda itu terangkat sempurna begitu mendengar penuturan gadis itu. Dengan cepat ia menunduk dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan menatap bahagia layar ponselnya yang kini menampilkan nama Kudo Shinichi di sana.

Sesegera mungkin detektif Osaka itu menyelipkan ponselnya ke dalam saku celananyanya dan berdiri dari kursinya. Dengan satu tangan terangkat ia berteriak dari tempatnya, "Perutku tiba-tiba sakit, aku ingin ke UKS, Harada-sensei!"

"Hattori-kun, terakhir kali kau bilang perutmu sakit, kau kutemui sedang makan di kantin sekolah! Duduk di tempatmu dan suruh seseorang untuk mengambilkan o — hei! Hattori-kun! HATTORI HEIJI!"

"Dia sudah pergi, Sensei," seorang siswa berkata, berniat menginformasikan bahwa detektif berkulit gelap itu sudah pergi dari kelas kimia yang dipimpin oleh pria bernama Harada.

"Terima kasih atas informasimu, Imamura-kun. Sekarang, kerjakan soal di papan ini!"

Dengan helaan napas panjang, seisi kelas kembali menundukan kepala mereka, berpura-pura serius mengerjakan sesuatu dan berharap Harada-sensei tidak melihat mereka atau mungkin tiba-tiba saja Harada-sensei melupakan keberadaan mereka di kelas itu. Jika saja mereka punya keberanian untuk melarikan diri dari kelas kimia seperti yang dilakukan Heiji...

"Yo, Kudo! Kau menyelamatkanku dari kebosanan!" sapa Heiji ketika ia sampai di tempat tersembunyi yang memungkinkannya untuk menerima telpon di tengah pelajaran; toilet pria.

"Kembali ke kelasmu! Aku tidak ingin dituduh sebagai penyebab utama kegagalanmu lulus dari sekolah!" seru sebuah suara dari seberang sana. Dari suaranya pemuda di seberang sana sepertinya berniat memutuskan telponnya.

"Hei! Hei! Hanya melewatkan satu kelas kimia tidak akan membuatku harus mengulang setahun! Kau sendiri, bukankah seharusnya sedang belajar di kelas?"

Suara di seberang sana menghelakan napasnya. "Karena demam aku bangun pukul 9 dan kini ada kasus yang harus kuselesaikan."

Heiji mengangkat satu alisnya. "Maksudmu terlambat bangun?"

Detektif Osaka itu kini bisa mendengar suara di seberang sana berdeham dan mungkin wajahnya sedang memerah karena Heiji berhasil menebak apa yang sebenarnya terjadi.

"Jadi," suara di seberang sana kembali terdengar setelah beberapa kali berdeham. "Aku butuh bantuanmu untuk mencari sebanyak mungkin pengrajin peluru dan besi, termasuk pabrik peluru yang ada di Osaka."

"Peluru? Besi? Apa ini kasus serius?"

"Entahlah, tidak bisa kubilang serius karena memang kepolisian pun menutup kasus ini. Namun jika mengingat ini ada hubungannya dengan kasus pencurian KID, maka jawabanku 'ya'. Aku ingin kau memastikan apakah mereka membuat peluru yang ditemukan di lokasi kejadian kasus semalam, akan kukirimkan fotonya nanti. Apa ada pertanyaan?"

Heiji menyandarkan tubuhnya, satu tangannya memegangi dagunya. "Sejauh ini tidak. Ah! Tunggu! Apa kau sedang mencari orang hilang?"

Heiji tidak mendengar adanya jawaban. Suara di seberang sana kini terdengar seperti dua suara sedang berargumen dan samar terdengar suara beberapa ekor kucing. Heiji mengangkat satu alisnya. "Kudo?"

"A, ah, ya? Maaf. Apa pertanyaanmu tadi?"

Menghelakan napasnya, detektif Osaka itu kembali mengulang pertanyaannya, "Apa kau sedang mencari orang hilang? Buronan?"

"Hm, semacam itu kurang lebih," jawab suara di seberang sana cepat. "Apa bisa kudapatkan hasilnya secepat mungkin?"

Detektif Osaka itu menganggukan kepalanya. Satu tangannya kini terjejal dalam saku celana hitamnya, "Serahkan saja padaku! Akan kuhubungi jika sudah kutemukan sesuatu!"

"Baiklah, kutunggu kabar lebih lanjut secepatnya," ucap suara di seberang sana mencoba menyudahi pembicaraan.

"Ah, Kudo!"

"Hm?"

"Apakah besok kau bisa menelponku lagi? Sebelum jam 10 dan jam 1 si — oi! Kudo! KUDO!?"

.

.

.

.

"Ada hasil?" tanya KID yang masih menyamar ketika dilihatnya detektif ternama dari timur itu berjalan mendekat ke arahnya. Ponselnya sudah tidak menempel di telinganya dan itu menandakan ia sudah selesai menelpon detektif Osaka itu.

Shinichi menganggukan kepalanya, kini tangannya dengan cepat bergerak mengetik sesuatu pada ponselnya dan berhenti, mungkin mengirim email?

"Aku sudah meminta Hattori untuk menangani wilayah barat, semoga saja ada hasilnya."

"Kau tidak menceritakan detail kasus pada Tantei-han?" tanya KID masih dengan suara wanita. Kedua tangannya kini sibuk melerai dua ekor kucing yang bertengkar memperebutkan sebuah bola mainan.

"Hattori punya masalah saat mengontrol emosinya, jika kuceritakan ia bisa membahayakan dirinya hanya untuk mencari pelaku. Kazuha bisa membunuhku jika kulibatkan kekasihnya dalam kasus berbahaya lagi," ucap detektif itu pelan. Satu tangannya mengangkat kucing berwarna putih dan menatap kucing itu dari dekat. Kucing ini mengingatkanku pada seseorang...

"Tidak jauh berbeda denganmu, 'kan?"

Detektif itu melirik ke arah gadis berambut pirang yang baru saja menghilangkan sebuah bola plastik mainan hanya dengan jentikan jari lalu kembali menatap seekor kucing yang mencoba mencakar wajahnya. "Dulu mungkin 'ya', namun sekarang 'tidak'. Ah!"

KID mengangkat satu alisnya ke atas, sedikit terkejut ketika detektif di sampingnya tiba-tiba berdiri dan berjalan cepat meninggalkannya dengan seekor kucing di pundaknya. Memeluk kucing hitam di tangannya, pencuri itu lalu berjalan mengikuti sang detektif yang terlihat terburu-buru.

.

.

.

.

"Sekolah?" KID yang baru saja berhasil menyusul Kudo Shinichi memasukan kembali kedua kucing yang dibawanya ke dalam tasnya (tentu saja tas itu sudah dibuat agar bisa memberi kemudahan untuk bernapas) bertanya dengan nada sedikit melengking dan tidak percaya. "Kau mau kembali ke kelas? Dengan baju seperti itu?"

"Ba'arou!" umpat Shinichi pelan lalu membuka loker sepatunya untuk menemukan beberapa lembar amplop berbagai warna di sana. Seperti biasa, surat penggemar. "Aku harus mengambil tugasku agar bisa kukerjakan di rumah. Kau boleh tunggu di sini atau pulang jika kau mau."

Pencuri itu mengibaskan tangannya cepat. "Sepertinya melihat-lihat sekolahmu cukup menyenangkan."

Shinichi menoleh ke arah pencuri yang kini mengganti ankle-bootsnya dengan sandal sekolah dan menatap pencuri itu datar. "Melihat-lihat'? Kau bahkan tahu di mana letak ruang ganti pria dan kelasku, tempat dudukku!"

Pencuri itu menyeringai lebar, tampak sama sekali tidak merasa bersalah saat menyadari bahwa 2 lokasi yang baru disebutkan detektif itu adalah lokasi di mana ia memasang microcamera dan alat penyadap.

Mengabaikan ekspresi menyebalkan KID, Shinichi mulai menelusuri lorong sekolah yang masih sepi dan berjalan ke arah tangga, menuju ruang guru yang berada di lantai 2 gedung sekolahnya. Begitu sampai, detektif itu melarang KID untuk ikut masuk dan menyuruh pencuri itu untuk menunggu di luar. Tentu saja detektif itu juga mengancam agar pencuri itu tidak berkeliaran seenaknya.

Namun, apa serunya menunggu dan berdiam diri ketika tahu ia sedang berada di sebuah sekolah di mana detektif tersohor dari timur bersekolah? Apalagi bel istirahat baru saja berdering. Kesempatan untuk bersenang-senang tidak boleh dilewatkan.

Hm, barat atau timur? Selatan!

KID — yang masih memakai penyamaran sebagai Natsumi Ema — berjalan lurus dari tempatnya terakhir berdiri menuju ke selatan gedung. Sambil bersenandung kecil dan sesekali bersiul ia melewati siswa-siswi yang mulai berlalu-lalang memenuhi koridor sekolah. Satu per satu siswa yang dilaluinya berhenti bergerak dan memandanginya dengan wajah memerah (dan KID terlihat sangat menikmatinya walaupun ia lebih senang wanita yang melihatnya dengan tatapan seperti itu). Sementara itu beberapa siswi yang ia lewati terlihat tidak begitu senang melihat seorang yang asing menjadi pusat perhatian para siswa (hal ini membuat KID tertawa puas dalam hatinya).

Bisikan demi bisikan ia dengar seiring dengan perjalanannya berkeliling. Dari ujung gedung hingga ke ujung yang berlainan. Dari ruang kelas 1-A hingga 3-D. Semuanya ia datangi dan bertingkah seolah ia adalah murid pindahan yang sedang melakukan survey.

Sekolah ini benar-benar menyenan — Suzuki Sonoko!? teriak KID dalam hatinya ketika ia melihat dua orang siswi keluar dari sebuah ruang kelas dan kini berdiri di pinggir koridor. Pencuri itu berhenti melangkah dan menyaksikan bagaimana dua siswi itu terlihat sedang asyik membahas sesuatu.

"Begitulah, Ran. Aku terpaksa membatalkan kencanku dengan Makoto-kun akhir pekan ini karena kuis hari senin! Aaargh! Akan kucekik guru matematika itu jika tiba-tiba ia membatalkan kuis ini lagi!"

"Benar juga, minggu ini pun kuis matematika dibatalkan karena beliau pergi ke Hokkaido, ya."

"Hm! Hm! Dia sudah seenaknya! Mungkin se — OH!?"

KID yang berdiri beberapa meter dari dua gadis itu mengerjapkan matanya ketika telunjuk gadis yang ia kenali bernama Suzuki Sonoko itu terarah padanya. Pencuri itu menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan siapa yang sedang ditunjuk gadis berambut coklat itu dan akhirnya ia sadar telunjuk itu tertuju padanya.

Ran, gadis berambut hitam yang bersandar pada dinding menoleh lalu tersenyum, "Halo."

"Ran! Jangan terlalu akrab! Dia orang asing!" ujar Sonoko yang kemudian berjalan mendekat. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arah gadis berambut pirang di hadapannya lalu menatapnya dengan tatapan menyelidik, "Siapa kau?"

"Aku?" tanya KID dengan suara wanita, "Natsumi Ema, 18 Tahun, yoroshiku."

"Ema? Natsumi? Mau apa kau di sekolah ini? Jika kau ingin menangkap perhatian pria tampan, lebih baik kau cari sekolah lain!"

"Sonoko! Ah, perkenalkan, namaku Ran dan gadis ini Sonoko. Kami dari kelas 3-B," ujar Ran ramah pada gadis bernama Ema itu dan dihadiahi senyuman oleh Ema. "Boleh kutahu apa yang kau lakukan di sini?"

Ema kembali tersenyum. "Aku datang untuk melihat-lihat. Mungkin saja aku akan pindah ke sekolah ini~"

Sonoko menarik sudut bibirnya dan menatap datar gadis berambut pirang itu. Tatapan gadis itu jelas terlihat tidak suka, mengingat gadis di hadapannya terlihat sangat ... Sangat ... Sangat cantik! Hal ini bisa menjadi kendala bagi Sonoko untuk meraih gelar wanita tercantik di angkatannya!

Suzuki Sonoko tidak suka dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi itu!

"Kau sendirian?" Ran kembali bertanya pada Ema dan dijawab cepat dengan sebuah gelengan kepala, "Aku datang bersama — "

"Di sini kau rupanya, KI — Natsumi!" Sebuah suara dari sudut lorong terdengar mendekat. Ran, Sonoko, dan Ema pun menoleh dan mendapati seorang pemuda dengan baju bebas berjalan ke arah mereka dengan sebuah tas sekolah di tangannya. Pemuda itu berhenti sesaat lalu mendekati Ema untuk mengajak gadis itu pulang. "Sudah kubilang untuk menunggu di depan ruang guru!"

"Kau tahu menunggu bukan hobiku, Kudo-kun!" seru Ema pada pemuda yang baru saja bergabung. Walaupun nada bicaranya adalah wanita, namun gadis itu tetap berbicara dengan gaya seperti ... Seperti KID si pencuri.

"Kuharap kau tidak membuat onar di sekolahku," ujar Shinichi datar ketika melihat ekspresi penuh kebahagiaan di wajah pencuri itu.

"Sekolah ini menarik dan menyenangkan~ Kau tahu? 3 orang anak kelas 2 memberiku permen dan 2 orang kelas 3 memberiku nomor ponsel mereka!" papar Ema penuh rasa kebanggaan dalam dirinya. Shinichi hanya memutar bola matanya melihat tingkah pencuri penuh karisma di hadapannya sebelum akhirnya ia angkat satu alisnya ke atas, "Mereka semua pria?"

Ekspresi riang Ema kini menghilang ketika didengarnya penekanan pada kata 'pria' yang baru saja dilantunkan oleh Shinichi. Gadis itu lalu menatap tajam kedua bola mata Shinichi yang kemudian berakhir dengan perang adu tatap tajam di antara keduanya.

"Tunggu Shinichi-kun! Kau kenal gadis ini!? Siapa dia!?" tanya Sonoko tajam dan mengabaikan perang adu tatap antara dua remaja di hadapannya.

Shinichi menoleh, menatap Sonoko bingung lalu menatap pencuri yang dimaksud. Pemuda itu membuka mulutnya untuk menjawab, namun ketika fokus matanya bertemu dengan fokus mata seorang gadis berambut hitam di hadapannya, semua kalimat yang ingin diucapkannya hilang dari pikirannya.

"Ran..." gumam detektif itu pelan.

Gadis itu tersenyum canggung lalu menundukan kepalanya, "T, terlambat bangun lagi, Shinichi?"

Dia masih tidak mau menatapku, eh? batin Shinichi ketika dilihatnya Ran memalingkan wajahnya. "B, begitulah..."

Ran mengangkat kepalanya. Namun begitu ia bertemu pandang dengan pemuda di hadapannya, dengan segera ia memalingkan wajahnya lagi. Seolah sengaja menghindarinya.

"Hei, Shinichi-kun! Aku bertanya padamu! Siapa wanita ini!?" ujar Sonoko tidak sabaran.

Shinichi kembali menatap Sonoko sesaat lalu melirik ke arah Ran yang kemudian kembali menghindari tatapannya. Pemuda itu menunduk lalu menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan gadis keturunan Suzuki tersebut. "Dia asistenku. Kami bekerjasama untuk menyelesaikan kasus semalam, kau ingat? Pembunuhan saat KID beraksi?"

Sonoko menganggukan kepalanya lalu melirik tajam ke arah Ema yang masih tersenyum lebar. "Kupikir kasus itu sudah selesai. Di mana kau menemui gadis ini? Aku tidak ingat melihatnya semalam."

"Aku datang terlambat dan menunggu KID di atap! Saat itulah kami — aku dan Kudo-kun — bekerjasama menangkap pencuri tampan itu!"

Shinichi menahan dirinya untuk tidak menepuk keningnya saat mendengar kata 'pencuri tampan'. Bisa-bisanya ia memuji dirinya sendiri...

Namun, 2 kata itu memiliki efek berbeda bagi Suzuki Sonoko. Kedua bola matanya seolah akan lepas dari kelopak matanya seiring dengan mengerasnya cengkraman kedua tangannya di lengan Ema. Gadis keturunan Suzuki itu kemudian memperkecil jaraknya dengan Ema dan dengan suara keras ia bertanya, "Apa kau salah satu penggemar setia Kaito KID-sama!?"

KID, atau mungkin tepatnya Ema, menyeringai lebar. "Tentu saja! Dia adalah pria paling tampan yang pernah kutemui!" seru pencuri itu dengan rona merah pada wajahnya yang dipercaya Shinichi sebagai bagian dari penyamarannya. Hal ini, membuat Shinichi semakin bertanya-tanya apakah pencuri itu memiliki kelainan mencintai diri sendiri atau tidak.

Dengan satu tangan detektif itu meraih kerah jaket yang dikenakan oleh pencuri itu dan menariknya, perlahan dibisikannya sesuatu di telinga pencuri lalu diangguki cepat oleh sang pencuri.

"Sepertinya kami harus pergi, kami masih ada janji dengan pihak kepolisian," ucap Ema dengan seulas senyum kepada dua gadis yang kini terlihat tidak rela melepas kepergiannya. Terutama Suzuki Sonoko, gadis itu terlihat sangat tidak rela membiarkan Natsumi Ema pergi. Bisa menemukan penggemar berat Kaito KID di lingkungan SMA Teitan adalah sebuah momen langka yang harus diabadikan!

Ema melangkah maju, mengulurkan tangannya di depan wajah kedua gadis di hadapannya dan berbisik 'Au revoir, Ojousan'.

Poof!

Asap merah muda menutupi lengan Ema dan saat asap itu menghilang, 2 buah jepit rambut dengan hiasan clover hadir di telapak tangannya.

Shinichi mengangkat satu alisnya, saat tiba-tiba teringat akan kata-kata seseorang yang tempo hari didengarnya saat mereka berada di arena ski. Saat itu ia menanyakan bagaimana bisa barang-barang muncul tiba-tiba dari kekosongan udara dan orang itu menjawab dengan penuh rasa bangga; "Karena aku adalah pesulap hebat!"

Detektif itu mendengus pelan.

Dia hanyalah seorang pencuri yang menguasai trik sulap...

.

.

.

.

"Apa kau sudah selesai memilih?"

"Belum."

"Pilih saja secara acak! Lihat! Yang merah itu bagus!"

KID menghelakan napasnya. Menatap sebal sosok detektif yang kini digelayuti oleh 2 ekor kucing di pundaknya. Dari ekor matanya pencuri itu bisa melihat bagaimana ketidaksabaran menguasai detektif itu; tangan yang mengetuk meja kasir dan ujung sepatu yang tidak berhenti digerakan naik turun membentur permukaan lantai.

Apakah semua laki-laki memang digariskan untuk tidak suka menunggu wanita berbelanja? Tunggu... Pencuri itu adalah laki-laki walaupun kini ia masih dalam penyamaran sebagai Natsumi Ema, seorang wanita berumur 18 tahun yang selama sehari ini menjadi asisten pribadi Kudo Shinichi.

Dan kini, keduanya tengah berada di sebuah petshop, sibuk memilih kalung untuk 2 ekor kucing yang ditemukan pencuri itu — walau sebenarnya yang menemukan adalah Kuroba Kaito, bukan Kaito KID — di pinggir jalan pada suatu malam bersalju.

Detektif itu terus mengeluh bagaimana lambatnya sang pencuri memilih kalung untuk peliharaan. Sudah hampir 30 menit mereka berada di petshop terbesar di kota Beika itu dan masih belum bisa menentukan mau membeli yang mana.

Di sisi lain, pencuri itu bersikeras untuk memilih kalung untuk peliharaan secara teliti. Baik dari bandulnya sampai jenis kulit yang dipakai. Salah sedikit saja, bisa menyebabkan alergi pada bulu kucing dan berakibat fatal. Faktor warna juga terus dikeluhkan pencuri itu. Ia ingin sesuatu yang berbeda dari warna bulu Holmes dan Lupin, namun ia bingung ketika harus dihadapkan dengan pilihan 'warna biru atau merah'.

Dan keduanya masih terus berargumen hingga membuat wanita penjaga toko itu lelah menonton kedua mahluk itu dan memutuskan untuk membaca koran pagi.

"Hmm," pencuri itu mengusap dagunya. "Ini bahkan lebih sulit daripada memecahkan teka-teki Kichiemon."

Shinichi memutar matanya. Tentu saja sulit! Kau melakukan terlalu banyak pertimbangan!

"Ng?" Shinichi menoleh, menyipitkan kedua matanya saat fokus matanya menangkap 2 buah benda yang menarik perhatiannya dari balik kaca display etalase. "Maaf, boleh kulihat kalung hewan yang ada di sana?"

KID menoleh ke arah detektif yang kini berdiri tepat di depan mesin kasir dan tengah menunjuk etalase kaca yang ada di belakang penjaga toko. Pencuri itu melihat sang penjaga toko membalik badannya dan membuka kaca display untuk meraih apa yang ditunjuk oleh detektif itu. Dua buah kalung hewan dengan warna serupa kini berpindah tangan dari sang penjaga toko pada sang detektif.

Menarik satu alisnya, KID dapat melihat seringai puas di wajah detektif itu. Penjaga toko itu pun kini terlihat tengah menekan tombol yang ada di mesin kasir di hadapannya lalu menyimpan 2 kalung hewan yang tadi diberikan pada Shinichi ke dalam sebuah paperbag kecil. Detektif itu tersenyum ke arah sang wanita penjaga toko lalu keluar dari toko itu tanpa aba-aba dan meninggalkan sang pencuri kebingungan sendirian.

"Apa yang kau beli?" tanya pencuri itu ketika berhasil menyusul sang detektif yang berjalan menuju taman Beika. Detektif itu berjongkok dengan kedua tangan sibuk memakaikan sesuatu pada leher kucing berwarna putih yang kemudian melompat ke arah sang pencuri begitu detektif itu selesai. "Bandul tophat?"

"Ciri khas Arsene Lupin, benar?"

KID mengangguk pelan, walau sedikit tidak yakin. Dilihatnya detektif itu kini berdiri dengan seekor kucing hitam yang menggelayuti lehernya. "Ah, benar juga! Jika Arsene Lupin memakai tophat, Holmes terkenal dengan pipenya!"

Detektif itu mengangguk. Kedua tangannya kini meraih kucing hitam di bahunya lalu mendudukan diri di kursi panjang terdekat dan menggunakan kedua tangannya untuk memanjakan Holmes kecil.

Pencuri itu terdiam menatap raut wajah sang detektif di hadapannya. Untuk sesaat pencuri itu mengalihkan pandangannya pada objek lain, satu tangannya menggaruk pipinya dan memberi tanda bahwa ada keraguan dalam dirinya. Haruskah ia utarakan apa yang mengganggu pikirannya? Atau tidak?

"Satu atau dua pertanyaan tidak akan menyakitimu, benar?"

Detektif itu menoleh, melihat gerakan saat KID mendudukan dirinya di sisi lain kursi panjang yang ia duduki. Pencuri itu menjentikan jarinya, memunculkan sekaleng kopi dingin dan memberikannya pada sang detektif sementara dirinya cukup merasa puas dengan sekotak susu dingin rasa coklat.

Shinichi dengan satu tangan meraih kaleng kopi yang diberikan padanya. "Katakan."

"Kalian bertengkar?"

Detektif dari timur itu terdiam. Sebuah pertanyaan singkat yang tidak pernah diduganya akan keluar dari mulut seorang pencuri itu kini membuatnya terdiam tidak berdaya. Entah mengapa, bahunya terasa kaku dan genggamannya pada kaleng kopi yang dipegangnya semakin mengencang.

"Bukan maksudku untuk ikut campur, kau tidak perlu menjawab jika kau tidak ingin menjawab. Aku hanya menanyakan apa yang kulihat."

Bahkan seorang pencuri pun bisa membaca keadaan hingga sejauh ini? Ataukah memang dirinya yang tidak pandai menutupinya?

Shinichi menggelengkan kepalanya, memainkan kaleng kopi yang dipegangnya dan terlihat seulas senyuman di bibirnya. "Terlihat sangat jelas?"

"Seperti negara Rusia dan Amerika saat perang dunia."

Detektif itu menganggukkan kepalanya. Memahami arti dari kiasan yang diucapkan oleh pencuri itu namun kembali terdiam. Sepertinya memang sangat jelas…

Pencuri itu melirik dari sudut matanya. Menatap seorang detektif yang terdiam menatap sebuah kaleng kopi dan tampaknya — dinilai dari cara detektif itu menatap kaleng tersebut — ia siap meluapkan segala bentuk emosi yang tertahan dalam dirinya, diri detektif itu.

"Aku bersedia mendengarkan jika kau mau," ujar pencuri itu pelan. Keseriusan dapat ditangkap dari cara pencuri itu berbicara.

Menarik sudut bibirnya, detektif dari timur itu hanya menghelakan napas. Membiarkan keheningan mengisi pembicaraan di antara pencuri dan detektif itu. Pandangannya masih tertuju pada kaleng kopi dalam genggamannya.

"Tidakkah kau merasa menjadi anak-anak selamanya jauh lebih menyenangkan?" tanya detektif itu setengah berbisik. "Kau bisa bebas melakukan apapun yang kau mau walaupun kau tahu itu tidak sepantasnya kau lakukan. Terkadang aku berharap bisa selamanya terjebak dalam masa kanak-kanakku, karena saat kau tumbuh dewasa, kau harus melakukan sesuatu dengan benar walaupun kau tahu itu hanya akan menyakiti orang lain, bahkan dirimu sendiri," detektif itu menarik napasnya perlahan. "Namun sepertinya kembali menjadi anak-anak bukanlah penyelesaian yang bagus."

Pencuri itu hanya diam. Disandarkannya tubuhnya pada punggung kursi yang didudukinya dan perlahan bibirnya menghisap cairan dalam kotak susunya.

"Seseorang yang kutemui saat memecahkan kasus pernah mengatakan bahwa mengatakan kebohongan hanyalah menciptakan kesenangan semu. Sekali kau berbohong kau akan terus berbohong, layaknya berlari, tidak ada yang dapat menghentikanmu," lanjut detektif itu dengan suara pelan. "Awalnya aku sama sekali tidak berniat untuk membohonginya. Yang ingin kulakukan hanyalah menjauhkannya dari bahaya yang mungkin akan mengancam nyawanya, namun siapa sangka? Aku semakin terhanyut dan sulit untuk lepas. Merasa tenang dan nyaman dalam belenggu kebohongan."

Detektif itu memejamkan matanya. Mencoba untuk menenangkan dirinya yang mulai terasa goyah setiap ia mencoba membuka mulutnya. Siapa sangka, tujuannya yang semula ingin melepaskan beban berat yang menggantungi jiwanya malah membuatnya semakin merasa tersiksa?

"Jika kau bertanya apakah aku membenci keadaan ini," ujar detektif itu pelan. "Ya. Aku membencinya. Membohongi orang yang kusayangi…" Sebuah tarikan napas. "Aku membenci hal itu walaupun harus melakukannya… Aku merasa seperti seorang idiot…" Tarikan napas lainnya. "Berlindung pada kebohongan tanpa memikirkan perasaannya…"

Serak.

Suara detektif itu semakin terdengar serak di telinga KID. Pelan namun terdengar tajam dan sarat akan kepedihan. Inikah pribadi sesungguhnya seorang Kudo Shinichi?

Aneh, semuanya terdengar… familiar… pikir KID dengan kedua mata terarah pada kotak susu yang dipegangnya. Kedua ibu jari pencuri itu bergerak meraba permukaan kotak susu saat seulas senyuman tipis menghiasi wajahnya. Ya, cerita ini sangat familiar…

Kedua bola mata biru itu kini menatap kejauhan, di mana bisa dilihatnya dua orang anak kecil — laki-laki dan wanita — tengah berlarian bersama mengejar seekor anjing. Anjing itu lalu berhenti berlari dan berbalik mengejar 2 anak itu, namun sama sekali tidak terlihat ketakutan pada raut wajah mereka. Sebaliknya, mereka terlihat senang dan sangat menikmatinya. Berteriak, tertawa, mengeluh, kemudian kembali tertawa. Semua itu membuatnya teringat akan sesuatu. Sesuatu yang pernah dialaminya dulu, sebelum semuanya berubah menjadi sebuah perang dingin.

Ia ingat suatu waktu, saat mereka berusia 7 tahun dan untuk pertama kalinya menginjakan kaki di sekolah dasar. Lagi-lagi mereka sekelas dan saat itu ia, Kudo Shinichi, akhirnya bisa membaur bersama siswa-siswa lain yang memiliki kesamaan minat.

Ia tidak bisa mengungkapkan betapa senangnya ia begitu bisa menemukan lawan tanding yang seimbang dan teman bermain sepakbola yang selalu mengajaknya bermain di saat senggang. Sejak kecil ia hanya memiliki satu orang teman, Mouri Ran, dan hal ini membuatnya sedikit menahan diri, mengingat Ran adalah seorang gadis. Seorang gadis, sehebat apapun, tidak akan bisa menyaingi kerasnya permainan seorang pria. Walaupun Ran selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja, namun Shinichi tahu gadis itu akan menangis saat pulang karena terluka saat bermain dengannya.

Dan bisa menemukan teman bermain yang memiliki hobi serupa — sepakbola — membuatnya merasa lega. Ia tidak harus melukai gadis itu lagi dan tidak perlu menahan diri lagi saat menendang bola sepaknya.

Tetapi sesuatu dalam hati kecilnya berkata lain.

Walaupun ia merasa senang, ia tidak ingin begitu saja berpisah dari teman masa kecilnya itu. Sekeras apapun ia mencoba menjauh — bahkan ia mencoba membiasakan diri memanggil gadis itu dengan nama keluarganya — semakin ingin ia mendekati gadis itu.

Ia — gadis itu — mungkin bukanlah lawan bermain sepakbola yang seimbang, namun gadis itu tahu betul segala macam kebiasaannya. Seolah segala hal tentangnya telah dihapal mati oleh gadis itu. Hanya gadis itu yang bisa membuatnya benar-benar tertawa di tengah lapangan. Bukan tawa formalitas, tawa canggung maupun tawa yang dipaksakan.

Tawa bahagia.

Bukankah menyenangkan memiliki seseorang yang mengenalmu sebaik ia mengenal dirinya sendiri?

Memiliki seseorang yang bisa kau percaya?

Memiliki seseorang yang selalu ada saat duka maupun suka? Saat sakit maupun sehat?

Tetapi apa yang kuperbuat?

Kepercayaan, kepedulian, rasa sayang, dan persahabatan yang telah lama mereka bina dengan mudahnya ia hancurkan. Patah, terlubangi, luluh lantak tak berbentuk.

Ia bahkan sudah tidak merasa bisa menginjakan tanah di mana ia berpijak. Dunia seolah telah membuangnya, mengasingkannya atas apa yang telah ia perbuat dan ia harus berlari. Berlari sejauh mungkin tanpa menoleh.

"Butuh bahu?" ujar pencuri yang kini sudah berada di samping Shinichi. Detektif itu hanya diam, menundukan kepalanya hingga seluruh rambutnya menutupi wajahnya.

Melihat hal ini pencuri itu menghelakan napasnya. Satu tangannya bergerak ke belakang punggung detektif itu dan mendorong kepala detektif itu agar bersandar pada bahunya. "Beruntung wujudku kali ini adalah wanita, karena mendengar berita disorientasi seksual seorang detektif sepertinya menyeramkan," ujar pencuri itu setengah meringis.

Shinichi tertawa pelan mendengarnya, namun sama sekali tidak menolak tawaran sang pencuri.

KID dari tempatnya masih bisa mendengar tawa lemah detektif di sampingnya. Tawa jujur yang terdengar seperti seseorang yang merasa kesepian. Ini pertama kalinya Kaito KID mendengar detektif tersohor dari timur, Kudo Shinichi, tertawa sejujur ini. Saat mendengarnya, KID merasa sepertinya ia tidak sedang berhadapan dengan seorang detektif yang selalu berusaha menangkapnya, mengejarnya tanpa lelah, mencegah segala langkahnya tanpa takut salah. Yang kini bersamanya adalah Kudo Shinichi, seorang pemuda kelas 3 SMA yang menemui sebuah batu sandungan dalam hidupnya. Yang tidak memiliki tempat untuk berlari, mengadu, dan membagi keluh kesahnya.

Pencuri itu terhenyak ketika tawa detektif itu tidak lagi terdengar, namun ia bisa merasakan bahunya mulai bergetar.

Gempa? Tidak.

Tangis.

Detektif itu sedang menangis tanpa suara di bahu pencuri itu. Dengan tenang dan sama sekali tidak terdengar adanya isakan. Namun pencuri itu tahu, detektif di sampingnya bukan tipe yang mudah menangis karena suatu hal sepele. Hanya satu atau dua faktor yang mungkin membuatnya menangis, dan saat hal itu terjadi, maka hati detektif itu, kemungkinan, sudah sangat hancur.

Mengangkat satu alisnya, pencuri itu melirik ke arah bahunya dari sudut matanya. Dengan satu tangannya, ia mengusap punggung detektif di sampingnya yang, seiring dengan usapannya, semakin terasa gemetar.

Inikah yang mereka namakan airmata kekecewaan?

Di mana kelenjar airmata mengeluarkan cairan jernih yang membasahi wajah, membuat tubuh gemetar namun suara seolah hilang.

Kurang lebih seperti itu.

Pencuri itu tahu benar bagaimana rasanya airmata mulai membasahi wajah namun yang bisa ia lakukan hanya diam. Sedih sama sekali tidak bisa dirasakan, yang dirasanya hanya kekosongan, kehampaan, rasa sepi yang tidak terobati. Bagaimana pun ia mencoba berhenti, airmatanya terus mengalir hingga akhirnya ia lelah dan tertidur.

Ya, Kuroba Kaito tahu persis hal itu. Ia pernah mengalaminya saat ia masih sangat kecil dulu, saat ayahnya tidak lagi bersamanya.

"Seorang pria juga manusia yang mempunyai hak untuk meluapkan perasaannya," gumam pencuri itu pelan dengan seulas senyuman. Itu yang pernah kau katakan dulu, 'kan, Oyaji?

Menghelakan napasnya, KID mendongakan kepalanya menatap langit biru yang mulai berubah menjadi jingga dengan gradasi putih serta merah. Cahaya di sekitarnya menjadi kemerahan, menandakan petang mulai menjelang.

.

.

.

.


Penulis sedikit terkejut saat mencoba melihat Traffic Stats, terutama saat menyadari bahwa pembaca terbanyak cerita ini adalah berasal dari U.S bukan Indonesia. Bisa dibilang pembaca dari Indonesia bahkan jauh lebih sedikit. I was shock! No, I AM SHOCK OAO;

Anyway, the next update will be ready in a few days. Namun penulis tidak bisa memastikan tanggal berapa karena penulis semakin sibuk dengan padatnya jadwal studi dan pekerjaan di luar sana.

Harapan penulis hanya satu; Jangan kapok membaca dan tetap nantikan update, ya ^^

Tentunya Review yang membangun sangat dinantikan penulis ; )

Sampai jumpa ^^

p.s: There will be one more chapter to go for this Arc~