NOW I LOVE YOU

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : ItaFemNaru/ SasuFemNaru/ ItaKyuu/ SasuHina/ KyuuIno

Rate : M

Genre : Hurt/comfort/ Romance

Warning : Lime/Lemon kurang asem, Typo(s) EYD, genderbender. Fem Naruto. A little yaoi. Straight. Alur kecepatan. Gaje. OOC. DLL..

.

.

Don't like Don't Read

.

.

.

... NOW I LOVE U...

.

.

Naruto mengerjapkan matanya ketika dirasakannya cahaya matahari yang menyelinap masuk kedalam kamarnya. Naruto bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Naruto menolehkan kepalanya kearah meja yang berada disamping tempat tidurnya. Sapphire-nya tertuju pada angka yang tertera disebuah jam digital berbentuk persegi. Sudah jam 09 pagi rupanya. Sebenarnya ia masih ingin bermalas-malasan ditempat tidurnya. Setelah semalam ia pulang hampir tengah malam. Tubuhnya juga terasa pegal akibat kegiatannya semalam bersama Itachi. Tapi matanya tidak ingin tertutup lagi setelah terbangun.

Naruto pun beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Naruto pun memulai ritual mandinya dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Semalam ia memang tidak sempat mandi dan membersihkan tubuhnya akibat pergumulannya dengan Itachi. Dan pagi ini ia ingin berendam dan membersihkan tubuhnya.

Setelah selesai dengan ritual mandinya. Naruto beranjak hendak mengambil handuknya. Namun langkahnya terhenti didepan cermin. Naruto melihat pantulan dirinya yang polos tanpa sehelai benang didepan cermin. Sapphire Naruto bisa melihat jelas kulit tannya yang berhiaskan bercak merah yang dibuat oleh Itachi. Tangannya terangkat menyentuh tanda merah yang sudah membiru disekitar lehernya. Matanya terpejam dan mengingat kembali saat Itachi menandainya.

Yah. Itachi menandainya semalam. Pria itu meninggalkan tanda kepemilikannya ditubuh Naruto. Dan sekarang Naruto sudah menjadi miliknya seutuhnya. Tubuh dan hatinya sudah menjadi milik pria itu walaupun mereka masih belum bisa bersama seutuhnya. Sekarang ia hanya perlu menyelesaikan masalahnya dengan Sasuke.

Ya. Sekarang ia harus menyelesaikan masalah pertunangannya dengan Sasuke. Ia harus bicara pada Sasuke dan mengatakan hal yang sebenarnya. Ia yakin Sasuke pasti akan mengerti dan memutuskan pertunangan mereka.

Naruto menghela napas panjang dan kemudian melilitkan handuk ditubuh polosnya. Kakinya melangkah keluar dari kamar mandi. Tangannya memutar knop pintu kamar mandi dan kemudian keluar dari kamar mandi. Tubuh Naruto tersentak saat berbalik setelah menutup kembali pintu kamar mandinya.

Disana. Ditempat tidurnya. Sasuke duduk ditepi ranjang dengan kaki kanan yang bertumpu pada kaki kirinya. Dan kedua tangan yang dilipat didada. Onyx-nya menatap langsung kearah Naruto. Naruto yang sadar dengan keadaan dirinya yang hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Refleks menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Terutama bagian kulit tan miliknya yang terekspos.

" A-apa yang kau lakukan disini? Bagaimana bisa kau masuk kekamarku?" Naruto berujar panik.

" Hanya ingin menemui tunanganku. Dan pintunya tidak terkunci." Jawab Sasuke tenang tanpa mengalihkan perhatiannya pada Naruto.

" L-lalu. Mau apa kau kemari?" Naruto semakin mengeratkan pelukannya pada dirinya. Merasa tidak nyaman dengan keadaannya sendiri yang hanya mengenakan sehelai handuk.

Sasuke hanya diam. Kemudian ia beranjak dari tepi tempat tidur. Dan melangkahkan kakinya mendekati Naruto yang masih berdiri didepan pintu kamarnya. Onyx Sasuke menangkap tanda kemerahan dikulit tan Naruto yang terekspos dibagian leher dan bahunya. Sasuke terus berjalan dengan tatapan mata yang terarah pada tanda kemerahan itu. Sementara Naruto semakin beringsut dan menempel pada dinding. Tangannya berusaha menutupi kulit tan-nya yang terekspos dari pandangan Sasuke.

" Siapa?" Tanya Sasuke dingin. Onyx yang sejak tadi menatap tanda kemerahan ditubuh Naruto beralih pada sapphire Naruto.

" A-Apa maksudmu?" Naruto memalingkan wajahnya tak ingin menatap Sasuke yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Jantungnya sudah berdegup tak karuan.

" Ini. Siapa yang melakukannya?" Tangan putih Sasuke terangkat menyentuh kulit tan Naruto dengan bercak kemerahan yang sudah membiru. Naruto hanya menunduk tak ingin menatap langsung onyx Sasuke.

Mungkin inilah saatnya untuk dirinya mengatakan semuanya pada Sasuke. Iya. Semua sudah terlihat jelas. Tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Sasuke berhak tahu dan mungkin dengan begitu. Sasuke akan mengerti dan mau memutuskan pertunangannya. Naruto mendongak dan menatap langsung onyx Sasuke. Ia sudah yakin dan ia sudah memantapkan hatinya. Ia akan mengungkapkan semuanya sekarang. Saat ini juga pada Sasuke.

" Itachi-nii. Dialah yang sudah melakukannya. Semalam aku pergi bersamanya." Naruto berujar tenang. Sapphire miliknya masih menatap lekat onyx yang menatap datar kearahnya.

" Apa kau tidur dengannya?" Sasuke kembali bertanya dengan nada yang sama tenangnya. Tatapannya pun masih datar.

" Ya. Aku memang tidur dengannya dan itu bukan yang pertama kalinya." Naruto menurunkan tangannya yang tadi berusaha menutupi tubuhnya. Ia sudah tidak peduli lagi jika Sasuke melihat kissmark ditubuhnya. Biar saja Sasuke melihatnya karena tidak ada lagi hal yang harus ditutupinya di depan pria ini.

Mereka hanya saling menatap dalam diam. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka. Sasuke mengatupkan bibirnya segaris lurus. Ekspresi wajahnya pun masih datar. Naruto sendiri tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Sasuke saat ini. Marah atau tidaknya. Naruto tidak tahu.

" Jadi. Aku rasa kau bisa memutuskan pertunangan ini." Naruto membuka suara setelah hening beberapa saat yang lalu. Sementara Sasuke masih diam tal menanggapi perkataan Naruto.

" Aku sudah tidur dengan kakakmu dan aku juga mencintainya. Kau juga tidak mencintaiku. Jadi, tidak alasan untuk kita melanjutkan pertunangan ini." Naruto kembali berujar saat pria dihadapannya masih saja diam dan tidak menanggapinya. Sasuke kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto. Sebuah seringai terpatri diwajahnya namun tidak dapat terlihat oleh Naruto.

" Kau pikir aku peduli dengan apa yang sudah kau dan kakakku lakukan dibelakangku?" Sasuke menjeda perkataannya. Naruto bisa merasakan napas panas Sasuke yang menggelitik telinganya.

" Aku. Sama. Sekali. Tidak. Peduli." Bisiknya penuh penekanan pada setiap katanya. Kemudian Sasuke menarik wajahnya menjauh dari telinga Naruto. Ia juga melangkah mundur selangkah memberi jarak antara dirinya dan Naruto. Memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Dan menatap datar Naruto.

" Apapun yang sudah kau dan kakakku lakukan dibelakangku. Pernikahan kita akan tetap berlangsung." Mata Naruto membulat setelah mendengar penuturan Sasuke. Sementara Sasuke hanya menampilkan sebuah seringai diwajahnya setelah melihat ekspresi wanita yang merupakan tunangannya itu.

" Kau tidak bisa melakukan itu Sasuke." Sapphire Naruto menatap nyalang onyx dihadapannya.

Tidak. Bukan itu yang ingin Naruto dengar dari Sasuke. Kenapa pria dihadapannya ini bisa setenang itu dan mengatakan jika pernikahan mereka akan tetap dilaksanakan? Bukankah seharusnya dia marah karena Naruto sudah tidur dengan kakaknya? Mungkin jika Sasuke marah itu akan jauh lebih baik. Bukan bersikap tenang seperti tidak ada hal yang terjadi seperti saat ini. Dan dengan tenangnya mengatakan jika pernikahan mereka akan tetap dilangsungkan. Tidak. Seharusnya Sasuke marah dan membatalkan pertunangan mereka. Seharusnya seperti itu. Tapi kenapa? Naruto tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Sasuke saat ini.

Tangan Naruto terkepal erat disisi tubuhnya. Wajahnya sekarang menunduk dalam. Perasaan kesal, marah dan kecewa menjadi satu.

" Tentu saja aku bisa melakukan hal itu. Kau adalah tunanganku Naruto. Dan pertunangan ini bertujuan untuk sebuah pernikahan. Dan aku akan memastikan pernikahan itu tetap berlangsung." Ujar Sasuke dengan nada datarnya.

" Tapi kita tidak saling mencintai Sasuke. Dan kau juga tahu jika aku mencintai kakakmu. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan jika pernikahan kita akan tetap berlangsung?" Naruto menatap Sasuke dengan sapphire yang sudah berkaca-kaca namun ia tetap mencoba untuk menahan airmatanya agar tidak meluncur.

Sasuke hanya menatap datar Naruto. Mereka saling menatap dalam diam. Hening sesaat hingga akhirnya Sasuke kembali bersuara.

" Ah. Aku juga harus memberitahumu sesuatu." Sasuke menjeda perkataannya dan menatap Naruto yang sedang mengernyit bingung.

" Perlu kau ketahui jika pernikahan kita akan berlangsung dua minggu lagi." Lanjutnya. Sasuke bisa melihat ekspresi terkejut dari sahabatnya yang sekarang telah menjadi tunangannya. Atau bahkan sebentar lagi akan menjadi istrinya.

" Seharusnya semalam kau tidak meninggalkan pesta sebelum usai. Kau jadi tidak tahu kan berita yang disampaikan kedua orangtua kita. Dan kau juga jadi tidak harus terkejut seperti itu." Sasuke tersenyum meremehkan kearah Naruto yang masih dalam kondisi terkejutnya.

" Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa?" Lirih Naruto menundukkan kepalanya dalam. Airmata yang sejak tadi ditahannya berhasil meluncur begitu saja.

Sasuke masih menatap datar kearahnya. Namun ia kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun langkahnya terhenti ketika beberapa langkah lagi menuju pintu.

" Sebenarnya aku datang kesini untuk menjemputmu pergi ke butik untuk mencoba gaun pengantin yang telah ibu kita pilihkan." Sasuke melirik Naruto yang masih menundukkan kepalanya dalam melalui ekor matanya.

" Tapi sepertinya, kau tidak bisa mencoba gaun pengantin dengan keadaan seperti itu." Ekor mata Sasuke menangkap jejak kissmark ditubuh Naruto yang terekspos disekitar leher dan bahunya. Kemudian Sasuke pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar dari kamar Naruto.

Naruto yang mendengar pintu kamarnya tetutup mulai merosot dari posisinya yang berdiri dan bersandar pada dinding. Entah kenapa tubuhnya terasa lemas. Kakinya tidak dapat menopang beban tubuhnya lagi. Mendengar kabar tentang pernikahannya yang hanya tinggal dua minggu lagi. Naruto merasa rohnya seperti ditarik keluar dari tubuhnya.

Kenapa semua menjadi seperti ini? Apakah ia sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bisa bersama dengan Itachi? Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Naruto mengusap kasar airmatanya dengan punggung tangannya. Tatapan matanya menyiratkan harapan dan keyakinan yang masih tersisa dalam dirinya.

Tidak. Naruto menggelengkan kepalanya. Masih ada Itachi. Dan ia yakin jika Itachi bisa meyakinkan Sasuke untuk membatalkan pertunangannya. Ia percaya pada Itachi. Dan hanya itu yang tersisa sekarang. Cintanya pada Itachi dan cinta Itachi padanya. Ia yakin pasti bisa bersatu.

.

~~Now I Love U

.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju kediamannya. Para pelayang menyambut kedatangannya dan membungkuk kearahnya. Ia hanya mengangguk kecil untuk membalas sapaan para pelayannya. Sementara kakinya terus melangkah menuju kamarnya.

Ia sangat lelah dan ingin istirahat. Awalnya ia pergi kerumah Naruto untuk menjemputnya dan mempersiapkan pernikahan mereka yang hanya tinggal dua minggu lagi. Namun yang ia dapati adalah tunangannya dengan tubuh yang dipenuhi kissmark dan penolakan atas dirinya. Uchiha tidak pernah menerima penolakan. Itulah prinsipnya. Akhirnya ia pun hanya pergi ke percetakan dan memilih undangan untuk pernikahannya nanti seorang diri. Sebenarnya ia sangat malas dan akhirnya ia hanya asal memilih contoh undangan saja. Ia sudah tidak peduli seperti apa hasilnya nanti. Ia benar-benar lelah dan hanya ingin segera pulang dan istirahat.

Tapi sepertinya niat untuk istirahat pun harus ia urungkan. Karena saat pintu kamarnya terbuka. Onyx miliknya menangkap sosok sang kakak yang sedang duduk dikursi meja belajarnya yang ada dikamarnya. Onyx yang sama dengannya pun sedang menatap onyx miliknya.

" Apa yang kau lakukan dikamarku?" Tanya Sasuke pada Itachi dengan nada datar setelah ia duduk ditepi tempat tidurnya saling berhadapan dengan Itachi yang memutar kursinya untuk berhadapan dengan adiknya. Kedua onyx yang serupa itupun saling menatap datar satu sama lain.

" Ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Ujar Itachi.

" Apa ini tentang Naruto?" Tebak Sasuke.

" Ya." Sahut Itachi singkat.

" Naruto sudah mengatakan semuanya. Mulai dari kalian yang sudah tidur bersama semalam sampai kalian yang saling jatuh cinta." Ujar Sasuke tenang. Ia sama sekali tidak menatap sang kakak. Matanya tertuju pada sebuah buku yang dipegangnya yang ia dapatkan tergeletak diatas meja disamping tempat tidurnya. Sasuke juga menyamankan posisinya dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur. Sebenarnya ia sangat lelah dan ingin istirahat. Tapi kakaknya malah mengajaknya bicara yang baginya sudah tidak perlu lagi. Karena itu ia hanya menanggapinya dengan santai sambil membaca buku yang ada ditangannya. Ia juga sedang malas menatap Itachi.

" Jadi. Apa keputusanmu?" Tanya Itachi dengan nada datarnya. Sorot matanya pun sama datarnya. Ia tahu jika saat ini Sasuke tidak ingin melihatnya.

" Sama seperti yang aku katakan pada Naruto." Sasuke sekilas melirik Itachi melalui ekor matanya kemudian kembali membaca buku yang dipegangnya.

" Apa?" Tanya Itachi menaikkan sebelah alisnya saat mendapatkan jawaban ambigu dari adiknya.

" Aku akan tetap melanjutkannya." Jawab Sasuke masih enggan menatap sang kakak yang ekspresinya mengeras.

" Apa maksudmu?" Tanya Itachi dengan nada yang begitu dingin. Sebenarnya ia ingin beranjak dari tempat duduknya dan menerjang adiknya yang masih bersikap santai seperti itu. Tidak tahukah Sasuke. Jika ini mengenai masa depan mereka bertiga.

" Aku rasa kau bukan orang bodoh Aniki. Dan kau pasti tahu apa maksud ku?" Sasuke meletakkan buku yang sedang dibacanya diatas pahanya. Dan kemudian menoleh menatap kearah Itachi.

" Kau..." Itachi beranjak dari kursinya dan kemudian menarik kerah kemeja yang saat itu sedang dikenakan Sasuke. Onyx Itachi menatap nyalang onyx yang serupa dengannya yang hanya menatap datar kearahnya.

" Kau tidak bisa melakukan itu Sasuke." Sasuke hanya menyeringai ketika mendengar kelanjutan perkataan Itachi. Seperti dejavu karena ia memang belum lama mendengar perkataan yang sama dari tunangannya. Ia kemudian memegang tangan Itachi yang sedang mencengkeram kerah kemejanya dan menjauhkan tangan itu dari lehernya. Sasuke mendongak dan menatap Itachi dengan tatapan menantang.

" Tentu saja aku bisa Aniki. Bukankah pertunangan kami memang bertujuan untuk menikah." Nadanya terdengar datar namun terselip tantangan didalamnya.

" Kau akan tetap menikahinya meskipun aku sudah menidurinya, eh?" Sebuah pertanyaan yang lebih menyerupai pertanyaan meluncur dari bibir Itachi.

" Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan dibelakangku. Karena aku akan tetap menikahi Naruto." Seringai diwajah tampannya semakin melebar saat melihat ekspresi kakaknya yang semakin mengeras.

" Kau.." Geram Itachi dengan kedua tangan yang sudah mengepal disisi tubuhnya.

" Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Lanjutnya menatap tajam kearah Sasuke.

" Kenapa? Apa kau akan membawa pergi Naruto?" Sasuke masih tetap menatap datar kearah kakaknya meskipun sang kakak menatapnya tajam.

" Jika memang pilihan terakhirku maka aku akan melakukannya." Itachi berusaha mengontrol emosinya yang semakin meledak-ledak. Ia tidak ingin terpancing oleh Sasuke yang jelas-jelas sedang menyulut amarahnya.

" Kalau begitu lakukanlah jika kau bisa. Aku bahkan tidak yakin kau masih bisa bertemu dengan Naruto. Dan.. Ah.. Aku lupa mengatakan sesuatu." Sasuke menjeda perkataannya dan menatap Itachi dengan tatapan dibuat-buat menyesal.

" Pernikahan kami akan dilangsungkan dua minggu lagi. Dan aku harap kau bisa hadir dipernikahan kami." Lanjutnya dengan senyum yang entah mengapa begitu memuakkan di mata Itachi.

" Tentu saja aku akan hadir otouto. Dan akan ku pastikan kau akan menyesal karena telah mengundangku. Karena aku akan membawa pergi pengantinmu dihari pernikahanmu." Ujar Itachi dengan senyum palsunya. Ia juga akan mengikuti permainan adiknya saat ini.

" Kau jahat Aniki. Kau tidak boleh seperti itu pada otouto-mu sendiri. Kau melukai hatiku." Sahut Sasuke dengan nada yang dibuat sedih. Namun bibirnya menampilkan sebuah seringai.

Itachi tidak menjawab. Ia hanya menatap datar sang adik yang juga sedang menatap datar kearahnya. Namun aroma persaingan diantara mereka menguar membuat ruangan itu semakin mencekam.

" Jadi? Bisakah kau keluar dari kamarku? Aku lelah dan ingin istirahat." Sasuke membuka suara memecahkan keheningan diantara kakak beradik itu. Itachi tidak menjawab namun membalikkan tubuhnya dan mulai beranjak keluar dari kamar adiknya itu. Tangan yang sudah memegang knop pintu itu terhenti. Tubuh Itachi bergeming didepan pintu kamar Sasuke.

" Aku bahkan tidak yakin jika aku dan Naruto bisa hadir dipesta pernikahanmu otouto." Setelah mengucapkan kalimat itu. Itachi berlalu dan keluar dari kamar Sasuke. Tanpa menoleh ke belakang dimana sang adik tengah menyeringai.

" Kita lihat saja Aniki. Apakah Naruto bisa hadir atau tidak dipesta pernikahan kami." Gumam Sasuke dengan seringainya yang semakin lebar. Ia pun kemudian meletakkan buku yang dipegangnya ke meja bufet yang berada disamping tempat tidurnya. Membaringkan tubuhnya dan menutup matanya dengan lengan kanannya. Pikirannya kembali melayang pada pertemuannya dengan sang tunangan.

*Flashback on*

Sasuke keluar dari kamar Naruto setelah ia berbicara dengan tunangannya itu. Matanya menatap bayangan sosok pria bersurai merah kejinggaan di ujung lorong yang ia ketahui sebagai perpustakaan dikediaman Namikaze. Kaki jenjang Sasuke pun melangkah menuju ruangan tersebut. Bukan untuk membaca buku karena ruangan itu adalah perpustakaan. Melainkan untuk menemui sosok yang ia lihat memasuki ruangan tersebut.

Sasuke membuka pintu dan hal pertama yang ia lihat adalah rak-rak buku yang besar yang berisi berbagai macam buku. Onyx-nya kemudian menangkap sosok yang memang sedang dicarinya tengah duduk disebuah kursi dengan meja didepannya. Sebenarnya kursi dan meja tersebut terlihat seperti sebuah meja kerja.

Sasuke juga melihat ruby yang sedang menatap kearahnya. Dan sepertinya si pemilik ruby itu memang sudah mengetahui kedatangannya saat pintu terbuka olehnya. Ia pun kemudian melangkahkan kakinya kearah pria dengan iris ruby dan surai merah kejinggaan yang masih setia duduk dikursinya dan menatap datar kearahnya.

" Ada perlu apa kau datang menemuiku?" Tanya Kyuubi ketika Sasuke sudah berdiri dihadapannya dan hanya terhalang oleh sebuah meja. Sasuke hanya tersenyum miring ketika mendengar pertanyaan calon kakak iparnya itu yang langsung pada point nya. Benar-benar tipikal seorang Kyuubi yang tidak suka basa basi.

" Ada sesuatu yang ingin kukatakan." Jawab Sasuke menatap serius sepasang ruby dihadapannya.

" Apa?" Tanya Kyuubi dengan tatapan dan nada yang sama datarnya.

" Aku ingin meminta bantuanmu."

.

.

.

Tbc..

.

.

.

Yup.. Akhirnya Chapter ini selesai juga. Seharusnya cerita ini ada di chapter kemarin. Tapi berhubung udah terlalu panjang jadi Viz potong dan di jadiin chap ini. Chapter ini juga terinspirasi dari fict sebelah hanya posisinya ja yang tertukar. Hehe

Gimana menurut readers? Makin gaje kah?

Apa menurut kalian di chap ini Sasuke itu nyebelin banget?

Ok next chapter mungkin bakal the end.. Dan disitu semuanya bakal terjawab kenapa Sasuke nyebelin banget..

Tapi sebelumnya Viz mau bales review dulu ne..

Astia aoi(guest): Mereka pasti bersatu kok. :)

viraoctvn: Ini udah dilanjut. :)

wildapolaris: Disini para orangtua ga terlalu banyak ambil peran dan semuanya tergantung sama anak"nya. :)

.85: Next chap ItaNaru bersama lagi kok. :)

AprilianyArdeta: Ehehe. Ini udah dilanjut :)

Esya. : Ini udah lanjut :)

Ryuuna(guest): Makasih :) ini udah lanjut :)

Linn Nami: Makasih. Ini udah dilanjut :)

narunaruha: Gomenne. Tapi kalo SasuNaru ga bakal lemonan deh difict ini. Tapi kalo mau lemon SasuNaru ada di fict sebelah tuh ;):)

sivanya anggarada: Makasih. Ini udah dilanjut :)

Dewi15: Ini udah dilanjut :)

miskiyatuleviana: Iya. ItaNaru bakal nikah kok :)

kimjaejoong309: Hehe.. Untuk mendapatkan sesuatu kan perlu perjuangan.. ;)

athena1001: Makasih. Ini udah dilanjut :)

mao-tachi: Hehe. Iya

Zealin(guest): Hehe makasih. Viz ga janji bisa update kilat :)

.faris: Yup. Di chapter ini salah satunya. Sasu balikan sama Hinata? Hmm. Jawabannya ada dinext chap. Ini udah dilanjut :)

Uzumaki Prince Dobe-Nii: Jawabannya ada di last chapter. Ini udah dilanjut. :)

Luca Marvell: Naru itu anak yg nurut sama orangtuanya jadi ga bisa nolak. Dia juga masih bingung sama perasaannya waktu itu. Pasti. Chapter depan juga udah tamat kok.

Harpaairiry: Ini sudah dilanjut. Makasih :)

: Makasih. Ini udah dilanjut :)

winteraries: Ini udah dilanjut. Makasih :)

Jasmine DaisynoYuki: Naru anak yang nurut sama orangtuanya jd ga bisa nolak.

Shiroi 144: Membingungkan ya? Viz juga jadi bingung. Tapi makasih udah mau review :)

Aiko Michishige: Ini udah dilanjut :)

ImnaGination: Dichapter ini udah terjawab kan? Hehe.. Ini udah dilanjut :)

Jannah(guest): Ini udah dilanjut. Makasih :)

Guest: Makasih :)

Terima kasih banyak buat yang udah mau nge-fav, follow dan review fict gaje buatan Viz ni... *bungkuk90derajat

Semoga kalian suka.. :)

Jangan lupa review ya.. :)