My Dearest Baby

MinYoon

= A BTS Fanfiction =

Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort

Rate M

Warning! BL, typo(s), Major OOC, Language, etc

.

.

BTS © Big Hit Entertainment

.

.

Story © BabySugarSeoltang


Chapter 10 ; Because I'm serious.


-Yoongi-

Aku yakin ini adalah perbuatan Suga.

Aku sama sekali tidak mengingat kejadian beberapa hari ini –atau minggu? Sudah berapa lama dia mengambil alih kesadaranku? Aku yakin ada sesuatu yang terjadi, dia sama sekali tidak menjawab ketika aku memanggilnya.

Tapi, yang menjadi masalah, apa yang dia lakukan? Aku bahkan tidak tahu apa yang telah dia lakukan selama seminggu ini. Inilah yang tidak kusukai, Suga memiliki memoriku tapi aku tidak memiliki memorinya.

.

.

.

Aku berdiri di depan ruangan kantor Jimin, aku memang tidak pernah mengetuk pintu untuk masuk.

Jadi ketika aku mengintip, mendapati Jimin sedang tertawa bahagia dengan Ryebin aku hanya bisa terdiam. Ini salahku sendiri. Hatiku sakit. Mereka tertawa dengan lepas, seolah menertawakan aku.

Entah apa yang mereka bicarakan, tapi aku dapat melihat senyuman Jimin yang indah yang biasa hanya ditujukan kepadaku. Apa dia lebih menyukai Ryebin sekarang?

Aku berjalan masuk ke dalam ruangan, berdeham sekali untuk mendapatkan perhatian mereka. Jimin tampak terkejut, kemudian berdiri dan berlari kecil menghampiriku. Dia menarikku ke luar ruangan dan berbicara dengan berbisik-bisik.

"Ada apa ke sini, Hyung? Apa kau ada urusan?"

"Uh, ya, ada yang ingin kutanyakan."

Jimin tampak gelisah, matanya melihat ke kanan dan kiri.

Oh. Apa dia ingin aku pergi?

"Apa aku menganggu, Jim?"

"Ah, bu –bukan begitu, Hyung … Aku juga perlu berbicara padamu, tentang apa yang kau katakan beberapa hari yang lalu."

"Apa?"

Jimin tampak bingung. "Uh, ya, tentang … ya, kau tahu, Hyung."

"Apa yang kukatakan?"

"Kau … tidak ingat?"

Ah, sial. Bagaimana aku menjelaskannya? Aku tidak mungkin membongkar keberadaan Suga pada Jimin, dia akan menganggapku orang gila kemudian dia akan menjauhiku.

"Hn. Aku lupa, tentang apa, aku tidak tahu mana yang ingin kau bicarakan."

Jimin mengusap tengkuknya.

"Uh, bagaimana kalau besok siang kita bertemu? Kita akan berbicara privat."

"Kenapa tidak nanti malam saja? Aku ingin menyelesaikan masalah kita lebih cepat kalau memungkinkan."

Jimin tampak gugup, dia menggigit bibirnya beberapa kali.

"Kenapa? Ada apa denganmu, Jim?"

"A –aku tidak bisa, Hyung …"

Aku memandang wajahnya dalam diam. Mungkin ini ada hubungannya dengan Ryebin? Meski jauh dalam hati aku berharap, bahwa itu hanya sebuah urusan bisnis yang harus dia selesaikan secepat mungkin.

"Aku –aku sibuk, Hyung."

"Sibuk apa, Jim? Katakan padaku."

Dia menatapku dengan pandangan yang gugup, dia tampak merasa bersalah.

"Ah, maksudmu, kau sibuk karena akan makan malam dengan Ryebin?"

Jimin memandangku dengan mata membulat. Kurasa dia terkejut karena aku menebak dengan benar.

"Hmm, jadi benar. Baiklah."

Aku menghela napas panjang. "Tidak apa-apa, kita bertemu di jam makan siang saja besok. Aku akan mengunjungimu di kantor."

"Ja –Hyung! Kumohon, jangan pergi, dengarkan aku dulu."

Jimin menahan tanganku dan aku tidak ingin berbalik menghadap dia karena aku yakin aku akan langsung memaafkan dia dengan hanya melihat wajah memelasnya. Selalu seperti itu, aku tidak pernah bisa menolak wajahnya yang memohon dengan kedua mata berbinar.

"Tidak, Jim. Tolong lepaskan tanganku, aku harus pulang. Ada pekerjaan baru yang menunggu di studio."

"Aku tahu kau –kau marah, tapi aku harus menjelaskannya, kumohon …"

Aku menoleh sedikit, melirik Jimin kemudian menggeleng dan menghempaskan genggaman tangannya.

"Hm, besok kita bicara. Selamat bersenang-senang, semoga makan malammu menyenangkan. Permisi."

Aku langsung berlari begitu selesai berbicara, aku tidak melirik wajahnya lagi. Aku yakin bahwa pertahananku akan langsung rubuh begitu Jimin memberikan wajah memohonnya padaku. Aku juga butuh waktu, aku tahu cemburu ini dapat membuat Suga lepas kendali lagi, aku tidak bisa terus-terusan merasa cemburu, Suga bisa mengambil alih kesadaranku sepenuhnya suatu saat.


-Jimin-

Apa yang harus kulakukan untuk membujuk Yoongi-hyung?

Aku tahu, aku telah mengecewakannya berulang kali. Aku telah mengatakan bahwa dia adalah kekasihku, tapi aku selalu menawarkan keramahan untuk seorang gadis yang tidak akan menjadi bagian dalam hidupku.

Tapi aku tidak bisa menolak perintah appa.

Soal apa yang dikatakan Yoongi-hyung itu … aku masih terus mengingatnya. Sikap Yoongi-hyung beberapa hari itu sangat aneh, sangat berbeda. Dia tampak menjadi seseorang yang lebih ekspresif dan agresif, sedang Yoongi-hyung yang biasa akan tampak lebih tenang dalam segala keadaan. Dia berteriak dengan wajah yang memerah, dia tampak seperti telah memendam semua hal itu bertahun-tahun.

Apa benar Yoongi-hyung dan aku bukan saudara kandung? Yoongi-hyung meneriakkannya. Aku harus memastikannya. Bisa jadi Yoongi-hyung tidak sadar mengucapkannya kemudian dia berpura-pura lupa? Itu tidak dapat dibiarkan, aku harus membongkar semua rahasia yang Yoongi-hyung simpan.

Yoongi-hyung selalu menyimpan rahasianya sendirian. Aku tidak pernah tahu banyak soal kehidupan Yoongi-hyung saat kami duduk di bangku sekolah. Dia tidak pernah bercerita, dan hanya menjawab seperlunya saja.

Apa dia punya sesuatu yang disembunyikan dariku?

"Jimin-oppa? Ada apa?"

Aku menoleh begitu Ryebin memanggil namaku. Dia berdiri, mengintip dari balik pintu kayu ruangan kerjaku.

"Ah, tidak apa-apa, maaf membuatmu menunggu."

Dia menggeleng kecil. "Oppa, ayo temani aku belanja siang ini!"

"Uh, bagaimana kalau kita makan malam besok saja?"

Dia mengerucutkan bibirnya. Kenapa dia sangat manja? Aku sudah lelah menghadapi sikap manjanya. Aku tahu, mungkin karena dia masih muda, dia jauh dibawahku 4 tahun. Tapi ini sangat melelahkan, daripada aku menemaninya belanja, bukankah lebih baik kalau aku pergi bertemu Yoongi-hyung? Aku ingin menyelesaikan masalah kami.

"Kenapa, Oppa? Aku ingin hari ini!"

"Uhm, aku sibuk, Ryebin-ssi, ada urusan mendadak yang harus kutangani hari ini juga."

"Humh. Ya sudah, tapi besok Oppa harus menemaniku pergi belanja juga sebelum makan malam."

Aku menghela napas. Setidaknya aku bisa meluruskan masalahku dengan Yoongi-hyung dulu. Suasana hatiku sekarang sedang kacau.

"Ya, akan kuusahakan."

Ryebin mengecup pipiku singkat kemudian berlari ke luar ruangan kerjaku.

Astaga. Dia terlalu nekat. Apa yang akan dilakukan oleh Yoongi-hyung jika dia tahu Ryebin mengecup pipiku? Apa dia akan membunuh Ryebin? Atau malah aku yang dibunuh?

Aku tidak mau memikirkan reaksinya.


-Yoongi-

Aku baru saja selesai mencuci alat-alat makanku setelah makan malam dan bel apartemenku ditekan dengan terburu-buru. Aku mendecak kesal, mengeringkan tanganku pada sebuah serbet putih kemudian aku berlari kecil ke depan untuk membukakan pintu bagi siapapun yang berkunjung.

Jimin berdiri di depan pintu apartemenku, tubuhnya basah.

Oh, di luar hujan? Aku tidak menyadarinya sama sekali.

"Jim? Kenapa kau di sini? Masuklah, aku akan membuatkanmu teh hangat."

Jimin mengangguk, tubuhnya menggigil dan bibirnya sedikit biru. Hari-hari ini memang tidak terlalu dingin, tapi malam hari suhu di luar turun lumayan banyak. Aku segera berlari mengambil handuk yang kusimpan di lemari kamarku.

Aku memperhatikan wajahnya sambil mengeringkan rambutnya setelah menyuguhkan secangkir teh melati hangat. Dia duduk di lantai depan sofa, aku berlutut di hadapannya.

"Ada apa? Kenapa diam saja?"

Dia menggeleng pelan.

"Kau tidak jadi makan malam dengan Ryebin?"

Dia menggeleng lagi. "Aku ingin bicara denganmu, Hyung."

Tanganku berhenti bergerak mengusak rambutnya dengan handuk.

Aku menggumam. "Kau tidak perlu sampai mengorbankan acara makan malammu, kau tahu? Kita sudah berjanji untuk bertemu besok siang."

Aku mendongak untuk menatap Jimin yang tak membalas ucapanku. Dia memandangku dengan serius.

Oh, jadi, ini adalah sebuah pembicaraan yang serius. Baiklah.

Aku memindah posisiku, sekarang aku duduk bersila di hadapannya. "Jadi, apa yang mau kau bicarakan?"

"Soal tadi siang, Hyung … maafkan aku."

"Ya, sudah kumaafkan. Ada lagi?"

Jimin memandangku dengan alis menukik tajam. Seolah aku mengatakan sesuatu yang tidak dapat ia mengerti.

"Jangan berbohong, Hyung. Aku dapat melihat kebohongan di wajahmu. Kau sama sekali belum memaafkanku."

Aku menghela napas. "Ya, kau tahu itu. Kau tahu bahwa apa yang kau lakukan itu tidak dapat kumaafkan dengan cepat. Kenapa kau masih bertanya? Hentikan permintaan maafmu, aku muak."

Jimin menunduk karena ucapanku, dia mengusap tengkuknya.

"Aku –aku menyayangimu, Hyung. Aku menyayangimu sebagai seorang kekasih, aku benar-benar jujur, ini adalah ungkapan hatiku."

Jimin mendongak dan memandang mataku, tangannya menggenggam kedua tanganku.

"Tapi aku, di sini posisiku masih lemah. Aku tidak dapat menjanjikan apapun untukmu, aku tidak dapat memberikan sebuah kebahagiaan untukmu. Aku tidak bisa melawan appa, Hyung sendiri sudah tahu bagaimana absolutnya appa ketika memberikan sebuah perintah. Aku tidak pernah berani melanggarnya."

"Aku tahu itu. Tidak apa-apa, aku tidak akan membebanimu lagi."

Jimin tersenyum kecil, wajahnya tampak sedih. "Maafkan aku."

"Tidak apa-apa, aku mengerti. Sekarang aku ingin bertanya soal apa yang kukatakan kepadamu."

"O –oh … soal itu. Aku tidak tahu, Hyung. Apa minggu kemarin kau sedang tidak sehat? Kau meneriakkan hal-hal gila yang paling pernah kudengar."

"Apa yang kukatakan?"

Suga sialan.

"Kau … mengatakan bahwa kita, kita adalah saudara angkat. Bahwa kau jatuh cinta pada adik angkatmu sendiri, bahwa appa mendongkrak semua nilai merahku di rapor. Apa … itu benar? Apa semua itu benar?"

Sekali lagi kutekankan, Suga sialan.

"Aku … mengatakan semua itu?"

Aku tidak perduli jika Jimin menganggapku aneh. Sekarang hal yang paling penting adalah mencari sebuah alasan agar Jimin percaya itu bukanlah sebuah kenyataan, bahwa semua itu hanya mimpi gila miliknya saja.

"Apa kau yakin, Jim? Bahwa yang kau ingat itu bukan sebuah mimpi? Mimpi gila milikmu."

Jimin menggeleng mantap. "Tolong, Hyung. Jangan berdalih, aku tahu benar apa yang aku lakukan saat itu. Aku sangat mengingat ucapanmu sebelum kau berlari pergi."

Aku menatap Jimin dalam diam, lama. Jawaban seperti apa yang harus kuberikan untuk pertanyaan itu? Apa appa akan membunuhku jika aku menjawab sebuah kebenaran?

"Apa benar, bahwa kita bukanlah saudara kandung, Hyung?"

Aku menghela napas. "Apa kau menginginkan sebuah kebohongan, atau sebuah kebenaran?"

"Aku ingin kebenaran, Hyung. Jangan lagi menyimpan seluruh rahasiamu dariku. Aku tidak pernah tahu apa-apa tentang kehidupan orang yang kucintai. Semenjak kita duduk di bangku sekolah Hyung tidak pernah bercerita tentang keseharian Hyung di sekolah."

"Tapi kau tahu, di dunia ini tidak ada yang gratis, Jim."

Ya, ini adalah cara terbaik untuk melindungi rahasiaku –setidaknya untuk sementara waktu.

Jimin menghela napas panjang. "Ya, aku tahu itu. Apa yang kau inginkan dariku, Hyung?"

"Sebelum kau mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu itu, aku ingin kau membatalkan perjodohanmu dengan Jung Ryebin."

Dia menatapku tak percaya. "Hyung! Kau tahu sendiri, aku tidak bisa melakukan itu."

"Kalau kau tidak bisa, kau boleh pergi dari sini. Tinggalkan aku dan jangan harap kau mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu."

"Tapi –tapi, tidak bisa! Aku harus mengetahuinya."

Aku mendecak kesal. Ini bahaya, jika aku terbawa emosi Suga bisa mengambil alih kesadaranku.

"Tidak, Jimin! Lepaskan Ryebin atau aku. Pilih salah satu, membangkang kepada perintah appa atau tinggalkan aku. Kumohon, jangan membuat semuanya semakin sulit. Kau tidak tahu apa yang dilewati oleh orang lain. Perhatikan perasaan orang lain."

Dia tidak dapat menjawab. Bibirnya membuka beberapa kali namun tidak ada suara yang keluar.

"Kalau kau tidak bisa memilih, kau bisa pergi sekarang. Jangan temui aku sampai kau menentukan pilihanmu."

Aku berdiri, namun Jimin menahan tanganku.

"Tidak, Hyung, kumohon, kita perlu menyelesaikan masalah ini. Sekarang."

Aku terdiam menatap Jimin. "Tidak. Masalah ini bukan masalahku. Hanya kau yang memiliki masalah dengan ini. Sekarang, silakan pulang karena aku mau istirahat. Gunakan saja payung hitam yang ada di dekat pintu. Selamat malam."

Aku menghempaskan tangan Jimin kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kencang. Aku serius, Jimin harus tahu bahwa aku tidak main-main dengan ucapanku. Kalau tidak tidak ingin aku pergi, dia yang harus memperjuangkan aku.

Aku lelah.

.

.

.

Siang ini Jin-hyung dan Namjoon memintaku untuk bertemu. Jadi sekarang aku sedang menunggu mereka di sebuah kafe yang sepi karena sekarang belum masuk jam makan siang.

Semalam, aku tidak tahu kapan Jimin pulang. Pagi tadi, aku hanya menemukan secarik kertas persegi warna putih ditempel dengan magnet hiasan di pintu lemari pendingin mungilku. Dia hanya mengatakan bahwa dia akan kembali untuk menemuiku. Tapi dia tidak mengatakan kapan dia akan kembali.

Entahlah.

Apa aku masih harus percaya dengan semua ucapannya? Ia tidak pernah membantah semua perintah appa, dan obrolan kami seputar apa yang kukatakan itu belum selesai. Suga tidak mau muncul dan membalas panggilanku sama sekali, aku tahu dia tidak mau kuceramahi maka dari itu dia lari dari tanggung jawabnya. Ini sudah biasa, Suga memang sosok yang malas bertanggung jawab, aku mengenalnya dengan baik meski aku tak memiliki memorinya.

Tak berapa lama, aku menyadari dua pasang sepatu sneakers dengan bahan kain berdiri di hadapanku. Aku mendongak dan menatap orang-orang yang telah kutunggu sejak tadi.

"Kalian mengajakku bertemu tapi kalian telat sendiri."

Aku memandang mereka dari atas sampai bawah, mereka hanya mengusap tengkuk.

Oh.

Aku tahu sekarang, kenapa mereka sampai telat. Pakaian mereka kusut dan terlihat garis lipatan abstrak, rambut mereka juga masih sedikit berantakan, dan tentu saja kedua pipi mereka yang merah dan bibir yang membengkak.

"Apa yang baru saja kalian lakukan sebelum pertemuan ini, hm? 'Rutinitas' menjaga keharmonisan hubungan?"

Menggoda Namjoon dan Jin-hyung adalah salah satu kegiatan kesukaanku. Mereka merona parah dan berdeham dengan canggung sebelum menempati kedua sofa di hadapanku.

"Maafkan kami, Yoon."

Jin-hyung berucap malu-malu dengan kedua pipi yang semakin merah, sedang Namjoon mengusap tengkuknya sambil berdeham. Aku hanya tersenyum, mereka punya hubungan yang harmonis dan aku iri akan hal itu.

"Tidak apa-apa, santai saja. Pesanlah minuman dulu, setelah itu kita berbicara."

Mereka mengangguk dan aku menunggu mereka memesan minum di kasir sambil menyeruput frappucino dengan krim kocok milikku.

"Jadi, ada apa sebenarnya? Apa ini perihal pernikahan kalian?"

Aku langsung bertanya begitu mereka kembali dengan dua gelas kopi susu dingin di tangan.

"Bukan itu, aku ingin bertanya soal beberapa waktu yang lalu. Kau tahu, 'kan, maksudku?"

Jin-hyung tampak gugup, dia menggigit bibirnya beberapa kali.

"Uh, ya, aku tahu. Soal Suga, 'kan? Ya, sekarang dia lari dari tanggung jawabnya. Ah, apa dia membuat masalah dengan kalian?"

Namjoon menggeleng. "Kami hanya khawatir. Jin-hyung terus menerus berpikiran negatif soal munculnya Suga.

Aku mengangguk. "Aku mengerti. Tapi kurasa dia membuat masalah, dan itu ada hubungannya dengan Jimin."

Mereka berdua tampak serius, meletakkan gelas minuman mereka di atas meja.

"Apa dia menghilang?"

Aku menggeleng. "Aku tidak tahu. Dia tidak lagi keluar sejak aku kembali, mungkin sejak … dua hari yang lalu? Entahlah. Aku tiba-tiba saja tersadar di atas tempat tidurku, hampir dua minggu setelah Jimin keluar dari rumah sakit."

"Apa … yang dia lakukan?"

Aku memandang mata Jin-hyung dan Namjoon bergantian sebelum menghela napas. "Dia memberi tahu Jimin, semua rahasiaku sejak dulu, Hyung. Kau tahu, maksudku?"

Jin-hyung menggeleng ragu. "Kurasa aku tahu, tapi … apa benar?"

"Ini rahasia soal hubungan darah kami berdua. Suga memberi tahu Jimin, bahkan soal rahasia terbesarku. Dia meneriakkan semuanya di wajah Jimin. Aku … tidak tahu bagaimana jika sampai appa tahu."

"Apa kalian sudah berbicara berdua?"

Namjoon menimpali. Kurasa dia adalah pihak yang cocok untuk diajak berdiskusi tentang masalah seperti ini, dia dapat berpikir jernih dalam keadaan buruk. Bahkan Jin-hyung sendiri saja terlihat panik.

"Sudah. Tapi bukan artinya masalah itu selesai begitu saja."

"Kenapa? Kau harus menyelesaikannya, Hyung."

Aku mengangguk pada Namjoon, menyesap frappucino-ku sebelum berbicara lebih lanjut. "Aku tahu. Aku akan, secepatnya. Tapi aku ingin dia memilih."

"Apa maksudmu? Memilih apa, Yoong?"

Aku menghela napas dan menatap Jin-hyung serius. "Dia harus tahu bahwa aku serius. Jika dia ingin mendapatkanku, dia harus membatalkan pernikahannya. Kau tahu sendiri, Hyung, aku telah mencintainya sejak dia masih kecil."

"Ya, aku tahu. Jadi, apa yang dia katakan tentang syaratmu itu?"

"Dia mengatakan bahwa dia masih tidak bisa memberikan apa-apa kepadaku, dan itu karena dia tidak bisa melawan ayahnya. Aku marah. Aku tidak ingin merasa sakit terus, mungkin dia tidak memikirkan perasaanku. Aku tidak mau dia bersikap sesukanya dan menyakiti kami –aku dan Suga– . Aku menyuruhnya membatalkan pertunangannya dengan Ryebin dahulu sebelum aku memberi tahu apa benar aku dan dia memang bukan saudara kandung."

Namjoon dan Jin-hyung saling berpandangan. Kurasa mereka bingung dengan jawaban apa yang harus mereka berikan untukku.

"Tidak perlu dijawab. Aku tahu, ini masalah yang berat. Tidak apa-apa. Aku akan pulang sekarang, nikmatilah waktu kalian berdua." Aku mulai berdiri, menggenggam gelas frappucino-ku yang masih terisi setengah. "Aku janji akan hadir di pernikahan kalian. Tidak perlu berpikir apa-apa tentang aku dan masalah ini, aku tahu kalian khawatir tapi tenang saja. Sampai jumpa."

"Yoongi."

Aku menoleh lagi. "Ya, Hyung?"

"Aku –maaf … aku –aku tidak dapat membantumu."

Aku tertawa. "Tidak, tidak apa-apa. Ini masalahku, aku harus mencari jalan keluarnya sendiri. Kalian cukup fokus pada persiapan pernikahan kalian."

Setelah itu aku melambaikan tanganku dan pergi dari sana.

.

.

.

"Permisi."

Aku terkejut. Pundakku ditepuk ketika aku sedang memejamkan mataku. Aku duduk di bangku taman untuk menikmati hari yang berawan ini. Mungkin nanti sore akan turun hujan, aku lihat awan hitam mulai mengarah kemari.

Aku menoleh ke samping, seseorang duduk di sampingku tanpa ijin.

"Maaf, Anda siapa?"

Aku menegakkan tubuhku, berdeham sedikit dan mencoba mengingat, apa aku pernah mengenal sosok pria yang duduk di sampingku.

Dia tersenyum kecil. "Kau tidak tahu aku, Min Yoongi, tapi aku tahu kau."

Pria ini mengetahui namaku, tapi aku tidak mengenalnya sama sekali. Apa dia punya niat jahat? Aku bahkan tidak punya harta untuk diambil, mungkin hanya sebuah ponsel dan uang dalam tabunganku, tapi aku tidak mengenakan pakaian berlebih yang mengundang para penjahat. Aku yakin itu.

"Jangan berpikir macam-macam, aku tidak berniat buruk."

Aku berdeham. Dia seolah membaca pikiranku.

"Jadi kau siapa? Dan mau apa?"

Pria itu menghela napas, mengalihkan pandangannya pada danau kecil di hadapan kami. Matanya memandang dengan teduh air yang bergerak pelan.

"Aku mengenal ayahmu. Ayah kandungmu."

Aku membulatkan kedua mataku. Aku sudah lama tidak pernah memikirkan soal keluarga lamaku, itu memori yang menyimpan banyak luka di dalamnya. Kemudian pria ini datang dan mengatakan bahwa ia mengenal ayah kandungku. Bahkan otakku seakan telah lupa bahwa aku memiliki dua orang tua.

"Aku mencarimu sejak lama. Aku tak mengira kau akan ada di panti asuhan di kota besar ini. Kukira kau masih berada di Daegu."

Ah, Daegu. Kota kelahiranku. Aku merindukannya. Sudah lama aku tidak berkunjung, mungkin ada banyak hal-hal yang telah kulewatkan bertahun-tahun.

"Maaf. Aku membuatmu terkejut pasti."

Dia tersenyum padaku, aku hanya memandangnya datar.

"Namaku Zhou Mi, salam kenal, Yoongi."

Aku mengangguk, menyambut tangannya yang berniat menjabat tanganku.

"Jadi kau siapa? Kenapa kau kenal ayahku?"

Dia tersenyum kecil. "Aku penerus Perusahaan Zho. Perusahaan kami telah menjalin kerja sama dengan perusahaan ayahmu sejak lama."

Hari ini aku belajar hal-hal yang tidak kuketahui. Ayahku, adalah seorang yang kaya, seorang pemilik perusahaan besar –karena aku tahu Perusahaan Zho adalah perusahaan yang besar.

"Aku mengenal ayahmu sejak aku masih kecil. Aku sering ikut ayahku dalam makan malam bisnis."

Aku hanya memandang rerumputan di depanku dengan kosong dan mengangguk. "Seperti apa … ayahku?"

Ada rasa aneh pada lidahku. Aku tidak pernah mengucap kata 'ayahku'. Ini asing bagiku.

"Ayahmu? Dia orang yang hebat dan berwibawa. Orang hebat yang selalu berhasil memimpin perusahaannya. Dia orang yang baik."

Aku mengangguk lagi. "Apa dia ... punya keluarga?"

Aku tak mendengar Zhou Mi menjawab pertanyaanku, jadi aku menoleh dan mendapati Zhou Mi tersenyum tipis padaku.

"Kenapa? Katakan saja."

"Yakin?"

Aku tertawa. "Kenapa? Kau takut aku sakit hati? Tenang saja, aku sudah terbiasa."

"Baiklah, kalau kau memang ingin. Dia punya sebuah keluarga yang sangat dia sayangi. Seorang istri yang terpaut tidak jauh dengan dia usianya, dan seorang putra. Ayahmu dan adiknya bermusuhan karena harta warisan dari ayah mereka. Ayahmu tak ingin membuatnya menjadi sebuah masalah, namun adiknya terlanjut serakah dan ingin mengambil semua warisan dari ayah mereka. Tak lama, adik ayahmu mendapatkan semua warisan itu, ayahmu masih memiliki satu perusahaan cabang yang diwariskan ayahnya ketika belum pensiun."

"Humm. Kalau begitu, kenapa kau mendatangiku sekarang?"

Zhou Mi tertawa. "Sudah kukatakan, aku mencarimu sejak lama. Aku baru menemukanmu di Seoul setelah mencari bertahun-tahun."

"Kenapa kau mencariku?"

"Kalau kukatakan bahwa aku tertarik padamu?"

Aku terdiam, memandang dia dengan wajah datar. "Kau tidak perlu bercanda. Lagipula statusku bukan anak sah dari ayah kandungku, aku bukan siapa-siapa, dan seharusnya tidak ada yang mengetahui keberadaanku. Siapa kau?"

"Hmm, kau terlalu banyak berpikir, ya? Itu membuatmu semakin manis di mataku. Tidak apa-apa. Baiklah, kukatakan lebih jelas, aku mengenal ayahmu dan kakakmu."

"Kakak, ya?"

Zhou Mi mengangguk. "Kau dan kakakmu hanya terpaut satu tahun. Sekarang dia sedang belajar untuk menjadi penerus perusahaan keluarga kalian."

"'Kalian'? Tidak, tidak, kau tidak dapat memasukkanku ke dalam keluarga mereka. Mereka berhak hidup sendiri, begitupun aku."

"Tidakkah kau ingin tahu siapa keluargamu?"

Aku menghela napas. "Zhou Mi-ssi, kau sendiri belum menjawab pertanyaanku."

"Apa? Kenapa aku mencarimu?"

"Ya. Lagipula dari mana kau tahu aku?"

"Ayahku orang yang dekat dengan ayahmu. Maka aku pun tahu rahasia keluargamu. Rumor ayahmu berselingkuh telah terdengar sejak sebulan sebelum pernikahannya. Ah, maaf mengatakan ini, aku tidak ingin kau berpikir negatif tentang dirimu."

Aku menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa. Aku bisa menerimanya."

"Kau yakin tidak ingin tahu kakak dan ayahmu? Kurasa, dalam dua-puluh-lima tahun hidupmu, kau pernah paling tidak satu kali melihat ayahmu. Dia orang terkenal, kakakmu juga. Dia pernah kerja sebagai seorang model majalah."

Aku terdiam. Apa aku ingin tahu keluargaku? Apa aku ingin tahu siapa bajingan yang bisa kesebut dengan 'ayah'? Siapa lelaki yang tak tahu apa-apa yang kupanggil 'hyung'? Apa aku tidak ingin tahu?

"Tenang saja. Tidak perlu terburu-buru."

Aku memandang Zhou Mi, dia mengeluarkan selembar kertas kecil. "Ini kartu namaku, hubungi nomor yang ada di sini kalau kau berubah pikiran."

Aku mengambilnya, membacanya sekilas dan mengangguk.

"Aku pergi dulu, Yoongi-ssi. Selamat sore."

Mataku memandang sosoknya yang melangkah semakin jauh. Apa yang harus kulakukan sekarang?

.

.

.

To be Continued


Author's note: Haloo! Maafkan saya yang UP telat banget . Jadi ada kejadian bahwa laptop saya ga bisa dipake berminggu-minggu, jadi saya gabisa ngetik :'( Plus saya rombak ulang chapter ini yang udah sampe 1000 kata lebih tinggal mungkin 300-an dan saya ngulang lagi. Saya baru sempet pegang laptop, ngetik RUMOR dan abis tu ternyata ga bisa dipake lagi :(( jadi, tolong mohon maafkan saya. reviewya akan saya balas setelah ini XD maafkan saya.

Thanks to: MingyuAin, listiawaty1, famekillahz, XiayuweLiu, qwertyxing, Park RinHyun-Uchiha, Little Devil 94, RenRenay, guest, YoongiMint, Vi-kun, guest(2), qui23, peachpetals, chimpark22

Terima kasih juga untuk semua review, fav, follow, dan silent readers.

Akhir kata, sampai jumpa di chapter depan!

-XOXO,

BabySugarSeoltang.