Disclaimer: J. K. Rowling
WARNING: Banyak OC. Don't like, don't read.
Makasi buat siapapun yang sudah komen. Makasih masih ada yang ceritanya pengen dilanjut dan makasih pada yang sudah mau baca. Sebenarnya sempat bingung juga mau dilanjutin atau nggak ceritanya. Coba dipikir-pikir untuk lanjut, tapi nggak tahu kalau mandek di tengah jalan, jadi dimohon jika ada yang suka, kasih semangatnya ya :D
Oh ya, berhubung ada yang request NextGen tapi bukan OC-sentris, aku ada fic lain yang sudah kuposting. Coba dibaca ya :-)
.
.
Alana tahu ia bisa berlari. Orang itu—seorang wanita—memang tampak memegang pundaknya dari belakang, namun Alana tahu orang-orang itu tidaklah nyata. Tidak ada orang sama sekali di belakangnya. Walau ia sebenarnya bisa berlari, tapi Alana tiba-tiba memilih untuk diam di tempat. Entah kenapa. Entah kenapa.
Seakan ada yang menahannya. Namun anehnya ia tak merasakan sesuatu yang menakutkan. Makin jelas wajah mereka, makin hilang rasa takutnya.
Dua orang yang paling dekat dengannya adalah seorang laki-laki dan perempuan. Mereka sudah dewasa, tapi jelas mereka bukan guru sini. Jumlah guru Hogwarts tidak sebegitu banyak dan Alana sudah hapal semua wajah mereka.
Keduanya tersenyum pada Alana. Ia refleks membalas samar. Ia tak tahu siapa mereka, namun rasanya tidak terlalu asing.
Ketika si pria ikut memegang pundaknya, Alana tersadar tiba-tiba. Orang itu… dia mengingatkannya pada Paman Gilbert, hanya tampak lebih muda dan dengan beberapa perbedaan. Kulitnya berwarna cokelat bersih, matanya yang juga cokelat menyorot ramah…
"Papa?" panggilnya otomatis. Rasanya aneh bisa mengucapkan itu secara langsung pada orang yang berhak. Hati Alana berdesir ketika lelaki itu tersenyum. Lagi, senyumnya sangat mirip dengan senyum Paman Gilbert. Lelaki itu memang orang yang dia lihat di foto pernikahan Paman Gilbert… Edouard Fount…
Alana menoleh ke sebelah kirinya. Alana baru sadar kalau wanita itulah yang sering dipandanginya, juga lewat foto pernikahan Paman Gilbert. Wanita Inggris yang cantik. Jika ayahnya berkulit cokelat, ibunya berkulit putih. Rambut dan matanya hitam… sangat Alana.
"Maman?" Senyumnya sangat anggun. Senyum yang selalu dibilang Paman Gilbert mirip senyum Alana.
Mata Alana sudah mulai basah, namun ia masih bisa melihat orang-orang di belakang orangtuanya. Semuanya tak pernah ia lihat. Dari sisi ayahnya, ia bisa melihat laki-laki lebih tua berkulit gelap. Ia memegang pundak perempuan di sebelahnya yang berkulit putih. Dua-duanya berwajah seperti orang asing. Dari sisi ibunya, berdiri pula dua orang yang lebih tua; laki-laki dan perempuan. Alana mengenali mereka sebagai orang Inggris asli, tampak anggun seperti ibunya. Anggun seperti bangsawan.
Baru kali ini ia melihat keluarganya. Air matanya sudah mulai mengalir. Ia tersenyum bahagia dan refleks menoleh ke belakangnya. Tetap, disana tak ada siapa-siapa. Mereka hanya bisa dilihat lewat cermin.
Apa cermin ini menunjukkan orang-orang yang sudah meninggal? Apa cermin ini hanya menunjukkan masa lalu? Cermin ajaib macam apa ini?
Ketika meneliti kembali satu per satu bayangan di belakangnya, Alana melewatkan beberapa orang lagi. Mereka, orang yang sangat Alana kenal, berdiri paling belakang. Lalu tak mungkin jika cermin ini hanya menunjukkan masa lalu, sebab keempat orang itu adalah keluarga Fount-nya selama ini…
Paman Gilbert, Bibi Claudie, Josh, dan Louise. Mereka semua tersenyum kepadanya. Air mata mengalir lebih deras membasahi pipinya. Ia rindu sekali dengan senyum Bibi Claudie. Senyum yang sama dengan senyumnya beberapa tahun lalu. Senyum yang tak pernah diberikannya pada Alana lagi sekarang…
Alana sontak memungut tasnya yang tergeletak dan berlari keluar ruangan. Lilin-lilin yang tadi bersinar otomatis padam. Menutup pintu, Alana bernapas terengah. Rasanya memang menyenangkan bisa melihat mereka semua, namun rasa aneh menggelayuti hatinya. Hatinya serasa dipermainkan. Cermin macam apakah itu?
Alana lari sekencang-kencangnya ke asrama sampai jantungnya serasa mau meledak…
.
XxX
.
Jessie dan Catherine terheran-heran melihat teman mereka yang seperti patung. Dari tadi tidur terus. Sesekali merubah posisi dan bergerak sedikit, namun tak lebih dari itu.
Ketika akhirnya mereka mendekati tempat tidurnya, mereka terkejut melihat wajah Alana. Wajah itu sembab. Matanya bengkak. Hidungnya merah. Pokoknya bukan Alana banget. Ia tak pernah menangis di depan teman-temannya.
"Oh, Ya Tuhan, Alana! Apa yang terjadi?" teriak Jessie panik.
Mereka berdua terus memaksa Alana bercerita. Alana akhirnya luluh. Toh ia tak kuat menanggung semuanya sendirian. Peristiwa semalam benar-benar menguras emosinya.
Alana bercerita dari awal. Bagaimana ia pulang sendirian dari perpustakaan dan dikejar Scorpius Malfoy. "Ooh, jadi dia yang nakal! Awas saja, ya!" Jessie langsung menyela sambil mengepalkan tinju.
"Sshh… bukan dia pokok permasalahannya!"
"Jangan dengarkan Jessie. Ayo lanjutkan!"
.
XxX
.
Siang itu, entah darimana Jessie kembali ke kamar sambil membawa sapu terbang. Tidak satu, tapi tiga buah sapu. Ia kelihatan tidak ada apa-apanya dibanding ketiga sapu itu, namun ia tampak kuat membawa mereka sekaligus.
"Ayo kita jalan-jalan!"
Catherine menatap sapu-sapu itu. "Terbang maksudnya?"
"Iya, apalagi? Aku sudah cari sapu yang bagus, nih!"
"Dapat dari mana?" tanya Alana.
"Ada deh. Aku pinjam orang."
"Bukan pinjam Senior Luke, kan?" tanya Alana lagi. Jessie tersipu sebentar, lalu menggeleng.
Beberapa menit kemudian mereka turun untuk makan siang sambil membawa sapu masing-masing satu. Di Aula mereka bertemu James dan para Gryffindor yang biasanya.
James mendekati meja Ravenclaw dan berkata, "Kalian mau terbang? Aku ikut, ya?"
"Boleh, Potter," jawab Jessie sok penting. "Tapi kami makan dulu, ya."
"Tak masalah," kata James sambil duduk. "Aku juga mau makan, kok."
Mereka bertiga memandangi James yang tampak santai duduk dan makan di meja Ravenclaw. Tapi karena tak ada larangan maka mereka tak ambil pusing. James makan dengan bersemangat. Ia selesai duluan dan langsung pamit ke asramanya dulu.
"Al, ayo ikut aku terbang! Aku pinjamkan Robin sapu, ya!" teriaknya ke meja Gryffindor, lalu melesat menuju asramanya.
"Boleh!" timpal Albus, lalu menoleh pada Alana. Tersenyum sebentar, Albus melanjutkan makan siangnya. Alana buru-buru menunduk. Kenapa dia sering tersipu karena Albus? Itu sungguh diluar keinginannya. Terkadang ia biasa saja di dekat Albus, namun jika anak laki-laki itu tersenyum atau menunjukkan perhatian, Alana langsung salah tingkah. Rasanya sungguh aneh…
.
XxX
.
Setelah makan siang mereka berjalan bersama ke lapangan. Seperti biasanya, James tak melewatkan kesempatan dekat-dekat Alana. James berkata basa-basi, "Sapumu bagus."
"Ini bukan sapuku. Ini sapu pinjaman. Anak kelas satu tidak boleh bawa sapu sendiri, kan?"
"Aku tahu. Tapi itu sapu siapa?"
"Tidak tahu. Jessie yang meminjamkan."
Kali ini Albus tidak membawa serta Rose. Ia sendiri membawa sapu pinjaman dari Robin yang katanya sedang sakit. Albus terlihat sibuk berbincang dengan Jessie dan Catherine. Ini pertama kalinya Alana lihat Albus bicara dengan kedua temannya. Rasanya agak aneh sebab biasanya Albus dekat dengan Rose atau Gryffindor lain.
"Hei, Al, kudengar kau habis berantem dengan Scorpius Malfoy, ya?" kata James lagi. Alana kaget. Bukan karena berita perkelahian itu, tapi karena Scorpius-nya. Gara-gara dia Alana melihat cermin aneh itu.
"Iya." Kemudian Alana bercerita waktu James memintanya.
"Aku jadi penasaran. Apa waktu itu kau lebih menyeramkan daripada Henrietta di lapangan Quidditch?"
"Tidak tahu. Tapi kata anak-anak lain sih aku menyeramkan. Tanya saja anak-anak cowok asramaku. Katanya mereka bahkan tidak pernah berantem seperti itu."
James kemudian mengarahkan mereka ke tempat terakhir kali ia terbang dengan Alana, tapi Jessie tidak setuju. Ia ingin terbang di lapangan Quidditch saja. Karena sedang tidak ada yang pakai lapangan, mereka semua setuju.
Ketika akan terbang, Alana melihat sekilas ke tribun penonton. Disana ada sedikit 'penonton', salah satunya Luke Brocklehurst. Ia ditemani seseorang yang sudah tampak lebih baik dari kemarin-kemarin—Eric Edgard. Alana merasa tak enak lagi. Ada apa mereka disini? Apa cuma untuk duduk-duduk saja? Dan sejak kapan dua anak itu sudah 'berdamai'?
Alana tak yakin ketika Luke melambai dan tersenyum padanya. "Aku?" tanya Alana otomatis, tapi Luke hanya tersenyum. Eric di sebelahnya ikut tersenyum padanya. Kalau yang ini Alana tidak heran. Tapi kalau boleh request, Alana ingin melihat Eric baik-baik saja, bukan yang tertekan seperti tempo hari.
"Hei, Jes—" panggil Alana, tapi Jessie sudah terbang duluan.
.
XxX
.
"Dia mendorongmu masuk ke ruangan seperti ini?" bisik Jessie.
"Jahat sekali. Dia awalnya mau menguncimu, ya?" sambung Catherine. "Ini kan menyeramkan. Daerah ini memang cukup sepi dibanding yang lain."
Mereka bertiga datang ke ruangan itu beberapa saat setelah makan malan. Gudang tempat penyimpanan alat-alat musik sekaligus penyimpanan cermin misterius itu.
"Kalian yakin mau masuk?" tanya Alana. Ia sendiri juga tidak yakin akan masuk. Walau ia penasaran ingin melihat orang tuanya lagi, tapi ia takut akan mengganggu perasaannya lagi.
"Boleh," kata Catherine. "Aku penasaran seperti apa orang tuamu."
Jessie membuka pintu ruangan itu. Seperti dugaan Alana, ruangan itu tidak terkunci lagi. Pintunya yang rusak menempel seadanya, hingga digeser sedikit pintunya langsung terbuka.
"Maksudmu," kata Jessie sambil mendorong Alana masuk, "Dia mendorongmu seperti ini?"
"Tak usah dipraktikkan kali, Jes," kata Alana tergagap. Ia jadi teringat aksi Scorpius kemarin malam yang tiba-tiba. "Jadi setelah semua ini, apa dia masih menarik di matamu?"
"Heh?" Jessie terlihat agak bingung.
"Kau dulu pernah bilang kalau dia cukup menarik."
"Oh, ya?"
"Kau lupa sekarang dia punya Brocklehurst," celetuk Catherine pada Alana.
"Aku cuma berpendapat kalau secara fisik dia memang cukup menarik," kata Jessie sedikit ngotot. "Tapi tidak dengan kelakuannya."
"Ya. Dan otaknya masih kalah dengan Alana," ujar Catherine.
"Memang, tapi pekan lalu kami mulai ekskul Ancient Studies dan dia cukup memikat Profesor Vector karena pengetahuannya."
"Kau satu ekskul dengannya?" tanya Alana tak percaya. "Kau tidak bilang!"
"Kalian musuhan, kan? Apa lagi belakangan ini nama Scorpius haram untuk kaudengar."
"Sudah, sudah. Kita kebanyakan bicara," Catherine melerai, lalu ikut masuk menyusul Alana. "Mana sih cermin itu?"
Jessie yang masuk paling akhir langsung menutup pintu itu. "Apa-apaan ini, Al? Gelap sekali."
"Masuk saja. Nanti lilinnya menyala sendiri."
Berjalan mengendap-endap seperti pencuri, mereka makin masuk ke dalam kegelapan. Jessie dan Catherine memekik ketika lilin-lilin di dalam ruangan mendadak menyala.
"Hus! Jangan ramai-ramai! Ini masih belum terlalu malam. Kalau si Filch atau siapapun itu muncul bagaimana?"
"MEONG!"
"Aaaahh!" Mereka bertiga berteriak ketika mendengar suara itu. Menoleh ke belakang, mereka mendapati kucing kurus dengan bulu sewarna debu telah menyelinap masuk. Kedua mata kuning yang menyala seperti lampu itu kelihatan awas dan memandangi mereka tajam.
"Kucing itu… bukan kucing jadi-jadian, kan?" kata Catherine agak takut. "Dia muncul seperti hantu."
"Bukan. Itu kucing si Filch," jawab Alana khawatir. "Kalau si Filch datang bagaimana, ya?"
"Biarin. Kita kan tidak melanggar peraturan. Ini masih belum malam dan tak ada peraturan tidak boleh masuk ruangan tak terpakai," kata Jessie. Walau begitu, ia sigap melompat ke kucing itu dan menggendongnya. "Siapa sih, namanya? Dia kok kelihatan kurang menyenangkan seperti yang punya."
"Siapa peduli? Panggil saja 'Pus' dia pasti nurut," kata Catherine sambil lalu. "Alana, mana cerminnya?"
Alana menunjuk cermin di pojokan yang agak tersembunyi. Seingatnya, kemarin ia meninggalkan cermin itu dalam keadaan terbuka. Cermin itu masih tidak ditutupi kain, berarti orang terakhir yang kemari selain mereka bertiga ya Alana sendiri.
Alana tetap di tempat sementara dua temannya menghampiri cermin itu. Mereka berdua berdiri diam sesaat di depannya, terlihat berkonsentrasi. Alana harap-harap cemas, namun teman-temannya tak kunjung merespon.
"Meong!" suara si kucing di tengah keheningan.
"Diam, kucing jelek!" Jessie menepuknya, menegurnya agar diam.
"Meong!"
"Silencio!" Jessie melempar mantra pada si kucing yang langsung terdiam.
"Mantra apa itu tadi?" tanya Catherine. "Mantra pendiam?"
"Ya. Harusnya untuk anak kelas lima, sih," kata Jessie sambil nyengir. "Tapi aku sudah bisa. Aku pingin bisa membungkam adikku pakai mantra itu. Dia berisik sekali, sih."
Catherine terlihat agak kagum. "Ya, tapi kau tidak bisa. Satu pelanggaran dan kau langsung diadili di Kementerian Sihir."
"Kalian tidak melihat apa-apa?" Alana bertanya, tidak memedulikan percakapan kedua temannya.
"Tidak, Al. Kami tidak lihat apa-apa," jawab Jessie.
"Ah, masa sih?" Alana merangsek maju. Kini dengan mereka bertiga di cermin, Alana tahu kalau yang dikatakan Jessie benar. Tidak ada yang lain. Ia hanya melihat mereka bertiga, plus kucing Filch jika ikut dihitung.
"Coba kau, Jes," kata Alana. Ia menarik dirinya dan Catherine dari depan cermin. "Kau lihat, kan?"
Jessie terdiam sesaat sebelum kemudian ekspresinya berubah. "Aku melihat… aku."
"Maksudmu?"
"Aku adalah Miss Universe Great Britain!" pekiknya setengah berbisik.
"Miss Universe Great Britain yang membawa kucing?" kata Catherine.
"Kucing ini tak kelihatan. Aku cuma melihat aku. Dan, oh!" Jessie memekik lagi. "Aku adalah Miss Universe!"
Catherine mengeluarkan suara seperti menahan tawa. Ia terkikik tertahan melihat Jessie yang mulai berjalan berlenggak-lenggok sambil menggendong kucing Filch, seperti sedang membawa buket bunga di tangan kirinya. Tangan kanannya melambai-lambai ke arah penonton yang tak kelihatan. Ia sesekali memegang sesuatu yang juga tak kelihatan di atas kepalanya.
"Mahkota Miss Universe-nya sudah ganti! Ini desain mahkotaku, tahu! Aku yang mendesainnya sendiri lewat kontes! Oh, bloody hell!" umpatnya senang.
"Miss Universe tidak bilang 'bloody hell'," kata Catherine.
Pegangan Jessie yang melonggar membuat kucing Filch melepaskan diri. Spontan Alana berteriak sambil mengacungkan tongkat sihirnya, "Petrificus Totalus!" Kucing itu langsung diam dan membeku sebelum sempat keluar ruangan. Bisa berabe kalau ia melapor pada Filch. Walau mungkin tidak masuk pelanggaran, siapa pula yang suka berhadapan dengan Filch? Apalagi Alana yang sudah kena detensi dua kali.
"Apa artinya ini, Alana?" Jessie berhenti berjalan. "Apa ini menunjukkan masa depan? Aku akan jadi Miss Universe Great Britain lalu jadi Miss Universe begitu?"
"Tidak mungkin," bisik Alana.
"Tapi aku melihat diriku seperti ini!"
"Aku melihat orangtuaku dan kakek nenekku! Mereka semua sudah meninggal. Tapi…" Alana terlihat berpikir. "Aku juga melihat pamanku dan keluarganya. Mereka masih hidup. Mereka ada di masa sekarang, jadi…"
"Jadi cermin ini menunjukkan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan?" tanya Jessie, masih mengamati dirinya di depan cermin. Ia kelihatan terpana dengan bayangannya sendiri. Tanpa sadar ia mengelus permukaan cermin.
"Lalu kenapa Jessie hanya melihat masa depannya?" kata Catherine.
"Tapi," kata Jessie, "benarkah ini masa depanku? Maksudku, tidak mungkin kan lulusan Hogwarts ikut audisi Miss Universe Great Britain?"
"Coba sekarang kau, Catherine." Alana menukar posisi Catherine dan Jessie. "Kalau kau bagaimana?"
Catherine terdiam beberapa saat. Alana dan Jessie menarik napas ketika mata Catherine melebar. "Apa yang kaulihat?" kejar Alana.
Catherine diam saja. "Apa?" tanya Alana tak sabar.
"Aku…" jawab Catherine menggantung. "Aku hanya…"
"Apa?" Jessie ikut mengejar.
"Aku hanya melihat diriku sendiri."
"Jadi Miss Universe juga? Atau Miss World?" tanya Jessie.
"Tidak. Aku hanya melihat diriku sendiri. Diriku yang seperti ini. Pakai baju ini dan ada di ruangan ini."
"Maksudmu… kau melihat dirimu sendiri sebagaimana adanya seperti sekarang?" selidik Alana. Catherine mengangguk, tampak sedikit tak yakin. "Yang benar, Catherine!"
"Iya, aku benar!" kali ini Catherine mengangguk yakin, kemudian segera menyingkir dari depan cermin. "Jelas ini cermin aneh, Alana! Kita harus segera pergi dari sini!"
"Tidak!" bantah Alana, maju ke depan cermin. Ia menunggu beberapa saat sampai bayangan orang-orang itu datang. "Lihat, mereka datang!" Alana menarik dua temannya, namun Jessie dan Catherine menggeleng.
"Aku hanya melihat kita bertiga, Al," ujar Jessie.
"Tampaknya cermin ini hanya menampilkan keinginan kita kalau kita sendirian saja di depan cermin."
"Tunggu—apa yang kau bilang tadi, Catherine?" Alana bertanya, mengawasi bayangan mereka bertiga. "Keinginan?"
Catherine terdiam sesaat, kemudian mengangguk. "Mungkin cermin itu menunjukkan keinginan kita. Keinginan terbesar atau terpendam."
"Benar juga," sahut Jessie cerah. "Aku ingin jadi ratu kecantikan dan Alana ingin melihat keluarganya. Tapi kalau begitu, kenapa kau tidak melihat apa-apa, Kate?"
"Aku tidak tahu." Catherine mengangkat bahu. "Mungkin karena aku sudah tidak menginginkan apa-apa lagi?"
"Oh, tentu saja." Jessie nyengir. "Kau sudah punya segalanya."
Catherine kelihatan salah tingkah. Ia kemudian menyingkir dari samping Alana. Jessie mengikuti jejaknya.
"Mungkin Catherine benar, Al. Cermin itu sebenarnya sedikit menakutkan. Jangan-jangan itu berbahaya. Lebih baik kita keluar saja."
"Tidak!" kata Alana. "Itu mereka! Mereka datang!"
"Sudahlah, Al," kata Catherine, menarik tangan Alana. "Aku tahu, aku tahu…"
"Kau tidak tahu! Kau tidak melihat mereka! Itu dia. Itu ibuku!" sergah Alana, menuding cermin dengan telunjuknya.
"Al, kau mulai kelihatan menyeramkan." Jessie agak bergidik. "Menakutkan seperti waktu berkelahi dengan Malfoy."
"Tidak, tidak," Alana merintih. Catherine buru-buru menyeret Alana dari depan cermin. Sementara Jessie cepat-cepat menutup cermin itu dengan kain putihnya. "Tidak, lepaskan aku! Aku ingin melihat mereka! Papa, Maman, tolong aku!"
Sekuat tenaga Catherine dan Jessie menyeret teman mereka keluar. "Jangan pisahkan aku dari mereka! Jessie, Kate, kalian jahat!"
"Kami tidak memisahkan kau dari mereka. Kau memang sudah terpisah dari mereka, Alana," kata Jessie sedih melihat Alana yang mulai menangis. "Sebentar, kucing itu masih tertinggal di dalam."
Jessie memungut kucing Filch kemudian menggendongnya keluar. "Kate, kau bawa Alana cepat-cepat. Aku akan bebaskan kucing ini."
Catherine menyeret Alana yang masih tersedu-sedu. Jessie membawa kucing Filch menjauh, kemudian membebaskannya dari mantra pembeku. Sebelum kucing itu sadar total, Jessie buru-buru berlari menyusul kedua temannya.
.
.
.
TBC
