REMAKE NOVEL
CHANBAEK VERSION
STRANGERS
By Barbara Elsborg
BYUNNERATE
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre: Romance
Rated: M
Genderswitch! Typos!
Enjoy and Review Juseyooooo
.
.
WARNING:
NC SCENES
DON'T READ IF YOU DON'T LIKE THIS
SILAHKAN DITUTUP BAGI YANG BERPUASA
DOSA DITANGGUNG YANG BACA MUEHEHE
.
.
Bab 20
.
.
Chanyeol berbaring di tempat tidur di samping Baekhyun, menonton tidurnya. Dia mempercayai Baekhyun dan Baekhyun percaya padanya dan itu adalah perasaan yang aneh, perasaan hangat seolah-olah ia membungkusnya dengan sesuatu yang aman dan nyaman. Chanyeol tidak bisa ingat kapan terakhir kali ia dipercaya seorang wanita. Baekhyun lebih dari kekasihnya. Baekhyun adalah temannya, mimpinya—hidupnya. Chanyeol telah Melakukan sesuatu yang buruk padanya, tapi Baekhyun memberinya kesempatan lagi. Baekhyun tahu lebih banyak tentang Chanyeol daripada siapa pun, dan tidak lari menjauh. Dia mencoba untuk membantu. Ada banyak tentang diri Baekhyun yang Chanyeol masih tidak ketahui, yang pertama siapa yang sudah menikamnya, dan masalah apa yang terjadi pada orang tuanya, tapi Chanyeol bisa menunggu.
Chanyeol meringkuk lebih dekat dan menelusuri garis bibir Baekhyun dengan jarinya. Chanyeol berhasil memberitahu bahwa ia mencintai Baekhyun, namun tidak bermaksud untuk menyembur keluar sementara mereka berbaring telanjang di lautan busa. Chanyeol bahkan tidak ingin mengatakan itu ketika mereka berada di tempat tidur, meskipun ketika Chanyeol menidurinya tanpa kondom, kata-kata itu Melayang Melalui bibirnya. Chanyeol ingin menjadikannya istimewa.
Dia berpikir tentang membawa Baekhyun ke Paris atau Roma, menemukan tempat paling romantis dengan bulan di atas kepala dan...Chanyeol mendesah. Berbaring dengan Baekhyun yang beristirahat di dada Chanyeol di selimuti gelembung-gelembung itu, ketika Chanyeol masih disiksa dengan rasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya, bukan saat yang tepat sama sekali. Tapi kata-kata itu Melonjak naik dari suatu tempat dan dia tidak bisa mendorongnya kembali.
Chanyeol berharap Baekhyun telah mengatakan bahwa ia mencintainya. Orang lain telah mengatakan hal itu, tetapi mereka tidak mengenal Chanyeol. Chanyeol ingin Baekhyun yang mengatakan itu, ingin dia bangun, menatap ke matanya dan mengatakan tiga kata yang ingin Chanyeol dengar.
Dia meniup lembut di bibirnya. Baekhyun mengejang.
"Berhentilah Melakukan itu."
Chanyeol menyeringai dan kemudian senyumnya Meluncur pergi karena ketika ia berpikir tentang hal itu, "Kupikir aku mencintaimu" itu tidak sama dengan mengatakan bahwa ia mencintai Baekhyun. Apa Chanyeol memikirkan itu atau mengetahui itu? Mengetahuinya. Chanyeol mencintainya. Jadi kenapa dia tidak mengatakan itu? Chanyeol mengerutkan kening. Untuk seseorang yang seharusnya bagus dalam menggunakan kata-kata, Chanyeol mengacaukan ini. Tapi Baekhyun bilang dia milik Chanyeol dan Baekhyun masih di sini, di tempat tidurnya, berbaring di samping Chanyeol. Baekhyun seksi dan lucu dan saat Chanyeol selesai bercinta dengannya, Chanyeol sangat ingin untuk Melakukannya lagi. Tapi Chanyeol suka bicara dengannya, berdebat dengannya—mengganggunya. Baekhyun berbeda. Baekhyun adalah orang yang ia inginkan.
Saat Chanyeol berbaring merenungkan cara yang cocok untuk membangunkannya, ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur. Chanyeol akan mengabaikannya, tapi itu Kwangsoo.
"Aku ada di luar. Biarkan aku masuk."
"Aku sibuk."
Chanyeol Meluncurkan tangannya yang bebas di antara payudara Baekhyun sampai ke tenggorokannya. Baekhyun membuka matanya.
"Kau harus Melihat koran," kata Kwangsoo. "Ini buruk."
Setelah Chanyeol pergi, Baekhyun Meluncur ke tempat hangat yang Chanyeol kosongkan. Baekhyun meringkuk ke dalam lekukan di bantal, menghirup aromanya dan tersenyum. Tadi malam, Chanyeol mengatakan ia mencintainya. Well, hampir. Chanyeol pikir dia mencintainya. Baekhyun menyukai itu sesuatu yang dia pikirkan. Baekhyun bertanya-tanya berapa kali Chanyeol berkata, "Aku mencintaimu" dan jika ia pernah bersungguh-sungguh dengan itu. Berpikir Chanyeol mencintainya tidak apa-apa. Itu bukan sesuatu yang harus terburu-buru.
Baekhyun berbalik telentang dan menatap langit-langit. Apa dirinya gila? Itu tidak baik sama sekali. Kehidupan macam apa yang bisa dia miliki dengan Chanyeol? Dunianya adalah satu juta mil dari dunia Baekhyun. Chanyeol pintar dan berbakat. Baekhyun meninggalkan sekolah pada usia enam belas, tapi dalam kenyataannya jauh sebelum itu mengingat jumlah waktu bolos yang Baekhyun buat. Plus, Chanyeol BenarBenar kacau. Mungkin lebih buruk dari Baekhyun. Baekhyun tidak butuh orang lain yang suatu waktu hampir memperkosanya dan berikutnya mengatakan mereka pikir mereka mencintainya. Tapi dia tidak seperti Joohyun.
Chanyeol telah Melakukan segala yang dia bisa untuk mendorong Baekhyun pergi dan Baekhyun tidak pergi. Karena walaupun Chanyeol berpikir ia mencintai Baekhyun atau tidak, Baekhyun tahu ia mencintainya Chanyeol.
Sepuluh menit kemudian Baekhyun turun mengenakan jubah mandi berbulu putih milik Chanyeol. Dia dan Kwangsoo berada dalam diskusi yang mendalam. Ketika Baekhyun Melihat wajah khawatir Chanyeol, jatungnya seakan kram. Sekarang apa?
Kwangsoo menyerahkan surat kabar. "Halaman dua. Ambil napas dalam-dalam." Napas dalam-dalam tidaklah membantu. Baekhyun mengerang dengan ngeri.
Judulnya DIMILIKI OLEH PARK, foto itu sedikit kabur, tapi cukup jelas dari diri Baekhyun dan Chanyeol berada kamarnya, pinggul dan bibir menyatu, telanjang bulat. Baekhyun mengamati tulisan di samping gambar. Itu mencetak namanya dan bahwa ia bekerja di sebuah kafe di Greenwich. Chanyeol meremas jari-jarinya.
"Apakah legal untuk Melakukan itu?" Tanya Chanyeol.
"Mengambil gambar Melalui Jendela?"
"Tidak, itu tidak legal. Kita bisa menuntut tapi kerusakan sudah terjadi," kata Kwangsoo.
"Setidaknya hanya ada satu foto," gumam Baekhyun.
Kwangsoo meringis dan membalik halaman."Maaf."
Baekhyun merasa seperti dia telah dipukul di perut. Ada jepretan dirinya dalam gaun pengantinnya, sebuah jepretan "sebelum" di mana Baekhyun masih tersenyum dan beberapa lagi dari dirinya dan Chanyeol di apartemen, kali ini dengan payudaranya yang terpampang. Artikel ini menggambarkan Baekhyun sebagai pengantin pelarian yang telah menicampakkan tunangannya untuk masuk ke tempat tidur dengan Chanyeol Park. Baekhyun membacanya dua kali untuk memastikan ia tidak Melebih-lebihkan. Baekhyun tidak. Mereka yang Melakukannya.
"Aku tidak mengerti. Bagaimana mereka bisa mendapatkan foto-foto itu? Siapa yang mengambil foto-fotoku dalam gaun pengantinku?" Walaupun begitu Baekhyun pikir ia tahu jawabannya. Minho atau seseorang yang dia kenal. Sehun.
Chanyeol Meluncurkan lengannya di bahunya. "Jika si Dickhead Melakukan itu untuk taruhan, ia mungkin menginginkan bukti bahwa kau akan muncul di kantor catatan sipil." hati Baekhyun terpuruk, matanya terpaku pada jepretan dirinya dalam gaunnya, senyum di wajahnya, sukacita di matanya. Sehunmenyaksikan Baekhyun pergi ke gedung, menunggu sampai Baekhyun keluar, kemudian memberitahu Luhan. Empedu naik di tenggorokan Baekhyun.
"Aku harus berjuang berjalan Melewati sekawanan anjing pemburu Afrika untuk masuk ke sini," kata Kwangsoo. "Ini hanyalah awalan saja. Mereka tak akan meninggalkanmu sendirian sekarang, Baekhyun.
Segala sesuatu yang kau lakukan, ke mana pun kau pergi, mereka akan mengawasi. Ingat apa yang Putri Diana lalui? Setiap kesalahan yang kau buat akan datang kembali untuk menghantuimu. Segala sesuatu yang kau kenakan akan dikritik. Segala sesuatu yang kau katakan akan diputarbalikkan. Mereka akan mencoba untuk menghancurkanmu."
Chanyeol menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. "Tutup mulutmu, Kwangsoo. Kau tidak membantu."
"Aku hanya memperingatkan apa yang harus dia hadapi jika dia terus bersamamu."
Chanyeol mencengkeram Baekhyun erat. "Tidak ada jika."
"Hei, realistislah. Baekhyun tidak dalam bisnis ini. Dia tidak tahu bagaimana rasanya. Jika dia memiliki rahasia, mesin ronsen berjalan yang ada di luar sana akan menemukannya. Apa kau memiliki rahasia, Baekhyun? Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui tentangmu?" Kalau Chanyeol tidak meMeluknya, Baekhyun tahu ia sudah roboh.
"Sudah kukira kau memilikinya," kata Kwangsoo.
Suaranya yang dingin terdengar jelas. Baekhyun bertanya-tanya apa yang Kwangsoo ketahui.
"Tidak, Baekhyun tidak Melakukannya," Bentak Chanyeol.
"Baekhyun tidak memutuskan hubungan cinta dengan seseorang. Si Dickhead memperalatnya untuk taruhan dan dia menjebak Baekhyun untuk ini. Aku ingin menuntut pelanggaran privasi."
"Dan membuat keadaan menjadi lebih buruk? Kau membangkitkan masalah itu sekarang dan mereka Benar-Benar akan mengejarmu. Biarkan itu mereda sendiri. Lagi pula kau harus meninggalkan negara ini, sehingga akan membantu."
"Apa? Ke mana aku harus pergi?"
"Kau dibutuhkan besok di Dublin. Pertemuan pra-produksi untuk The Green. Aku memesankan tiketmu pada penerbangan sore ini."
"Baekhyun ikut denganku. Pesankan dia kursi juga."
"Aku tidak punya paspor." Nyeri kejang lain mencengkeram hati Baekhyun. Baekhyun sudah mengisi aplikasi pasport-nya dan Minho bilang padanya bahwa dia yang akan mengurusnya.
Chanyeol menatapnya tak percaya. "Kau belum pernah ke luar negeri?"
"Tidak." Chanyeol menekan wajahnya ke rambutnya.
"Kau bisa membuatkannya satu, ya kan, Kwangsoo?"
"Tidak pada hari Minggu dan tidak secepat itu. Biarkan aku membawa Baekhyun pulang. Ini akan menyingkirkan mereka."
"Mengapa aku ingin mereka disingkirkan? Mereka tahu kita bersama-sama sekarang. Kami bersama-sama," kata Chanyeol.
"Jadi, saat kau pergi, kau ingin mereka duduk di depan pintu rumahnya, mengganggu dirinya, mengambil foto dari gulungan toilet yg dia beli dan meniup hidungnya? Ini adalah cara kita akan menanganinya. Kita akan berpura-pura itu perselingkuhan. Beberapa kencan. Dengan cara itu mereka mungkin akan meninggalkannya sendirian. Hanya saja lebih berhati-hatilah ketika kau sudah kembali."
"Tidak. Aku tak akan pergi," kata Chanyeol.
"Aku tidak akan meninggalkan Baekhyun."
"Kau Benar-Benar harus pergi," Bentak Kwangsoo.
"Kau tidak punya pilihan. Ini adalah karirmu. Tidak akan ada kesempatan lagi. Aku yang akan mengurus Baekhyun."
Chanyeol mengambil tangan Baekhyun. "Bagaimana menurutmu? Aku tidak ingin kau harus menangani ini sendirian."
"Aku tidak suka orang memberitahuku apa yang harus dilakukan."
Baekhyun menatap Kwangsoo, tahu Kwangsoo ingin menyingkirkan dirinya, bertanya-tanya bagaimana Chanyeol tidak bisa Melihatnya.
"Aku tidak akan pergi," ulang Chanyeol, mengangkat jari-jarinya ke pipi Baekhyun.
Baekhyun menaruh tangannya di tangan Chanyeol dan menatap matanya.
"Aku akan baik-baik saja, Chanyeol. Kau harus pergi."
Chanyeol menghela napas. "Isilah aplikasi paspor sementara aku pergi. Biarkan Kwangsoo menanganinya." Langkahi dulu mayatnya.
"Kapan kau akan kembali?" Tanya Baekhyun.
Chanyeol menatap Kwangsoo.
"Rabu."
"Itu malam pameran di galeri Kyungsoo," kata Baekhyun.
"Aku akan datang dan kita akan pergi keluar untuk makan setelah itu."
Baekhyun tersenyum. Kwangsoo dan Baekhyun keluar Melalui belakang rumah, sementara Chanyeol pergi untuk mengalihkan perhatian para jurnalis di depan. Baekhyun harus memakai pakaian Chanyeol—celana dan t-shirt putihnya, gaun Baekhyun, masih basah, tergeletak di lantai kamar mandi.
"Ada apa dengan pakaian?" Tanya Kwangsoo saat mereka duduk di dalam mobil.
"Chanyeol mencoba gaunku dan merobeknya."
"Benarkah?" Kwangsoo berpaling untuk Melirik ke arahnya.
"Tidak," kata Baekhyun dengan tertawa dipaksakan.
"Aku terkejut menemukanmu di sana pagi ini setelah apa yang terjadi di Armageddon." Baekhyun berbalik di kursinya untuk menatap Kwangsoo.
"Tidak ada yang terjadi di Armageddon." Kwangsoo tidak suka padanya dan Baekhyun tidak yakin apa yang harus dilakukan tentang hal itu.
Ketika Kwangsoo berbelok menuju Elm Gardens, sekelompok fotografer menunggu di luar pintu masuk ke blok Baekhyun.
"Aku sudah bilang. Apa ini kehidupan yang kau inginkan, Baekhyun? Diganggu oleh pers?"
"Aku menginginkan Chanyeol. Aku akan menghadapi apa pun yang akan datang bersamanya."
Suaranya tegas dan jelas. Kwangsoo menatapnya seJenak sebelum ia bicara.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka sementara kau masuk ke dalam. Jangan bicara dengan siapa pun. Bahkan jangan bilang no comment."
Baekhyun Melarikan diri ke dalam gedung. Dia berlari menaiki tangga, langsung Melewati seorang pria yang duduk di tangga paling atas, terlalu lambat untuk menangkapnya, dan menarik napas lega setelah dia aman di dalam apartemennya. Saat Baekhyun menutup pintu, telepon berdering. Kemudian pria itu menggedor pintu kamarnya. The Mirror yang menelepon. Baekhyun memutuskan hubungan, namun saat ia mulai menelepon Chanyeol, telepon berdering lagi. Kali ini dari seorang reporter dari The Star. Baekhyun mencabut sambungan kabel dan menghubungi Chanyeol lewat ponselnya.
"Aku baru saja masuk," kata Baekhyun.
"Kembalilah," pinta Chanyeol.
"Bukankah kau akan segera pergi ke bandara?" Chanyeol mengerang.
"Kenapa kau tidak punya paspor?"
"Aku tidak pernah membutuhkannya."
"Aku ingin membawamu ke seluruh dunia dan aku bahkan tidak bisa membawamu untuk makan tanpa seseorang mengganggu kita. Dan siapa yang menggedor-gedor itu?"
"Seorang wartawan di pintu."
"Jangan membukanya." Baekhyun Melihat Melalui lubang mata di pintu.
"Oh, tidak apa-apa. Itu Jongin. Baik-baiklah, Chanyeol. Aku akan menemuimu hari Rabu. Kau ingin bertemu denganku di galeri? Kau ingat di mana itu?"
"Yep. Bellingham. Taman Holland. Sampai jumpa nanti." Chanyeol berhenti.
"Baekhyun?"
"Ya?"
"Terima kasih untuk kemarin dengan Mom dan Dad, untuk...well, kau tahu."
"Terima kasih kembali. Bye, Chanyeol."
Baekhyun membuka pintu dan membiarkan Jongin masuk. Dia menawarkan Baekhyun segenggam kertas.
"Pesan. Mereka telah memasukkannya dalam kotak surat semua orang mencoba untuk berhubungan denganmu. Aku sudah menyingkirkan orang di luar pintumu. Mengancamnya dengan polisi. Kami kabur ke atap."
"Oh Tuhan, maaf."
"Kau lebih baik datang. Aku harus memperingatkanmu, Kyungsoo dan Luhan sedikit kesal. Well, sangat kesal. Mereka marah di samping pada diri mereka sendiri bahwa kau tidak memberitahu mereka kau keluar dengan Chanyeol Park dan marah denganku karena mereka pikir aku seharusnya tahu setelah insiden di Crispies."
"Ah." Bahu Baekhyun merosot.
"Meski begitu, pantat yang bagus."
Jongin menyeringai.
"Siapa?"
"Tentu saja pantatmu, tapi jangan beritahu Kyungsoo. Bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan miliknya," tambah Jongin.
"Benar." Baekhyun tertawa Melihat ekspresi malunya.
" Jongin, bisakah aku minta bantuanmu?"
"Kau bisa meminta."
Baekhyun mengeluarkan foto Seokjin Park dari tasnya.
"Ini adalah saudara Chanyeol."
"Dia sudah meninggal, kan? Itu ada di koran."
"Jika kau tidak terlalu sibuk, kau pikir kau bisa Melukis dia dan Chanyeol seakan sedang bergumul bersama? Aku tidak memiliki foto Chanyeol, tapi kuharap ada satu di koran yang bisa kau gunakan. Hanya saja buat dia berpakaian." Jongin tertawa.
"Aku harus membayarmu dengan cara mencicil."
"Kau tak perlu membayarku sama sekali, Baekhyun. Aku akan Melakukannya sebagai hadiah. Jika kau tidak mengatakan sesuatu pekan lalu, aku masih akan menatap putus asa pada Kyungsoo."
"Aku asumsikan segalanya sudah berubah?" Jongin menyeringai.
Baekhyun mengirim Jongin kembali ke atap. Mengganti baju dengan bikini, lega Melihat bikininya menutupi bekas gigitan pada dadanya, dan menyelinap ke dalam t-shirt panjang. Chanyeol lebih marah tentang apa yang terjadi daripada Baekhyun. Baekhyun tahu dia tidak akan Melakukannya lagi. Baekhyun mendesah. Itu terdengar sedikit terlalu akrab.
Ketika Baekhyun berjalan ke atap datar, tiba-tiba ia berhenti. Luhan, Dan dan Kyungsoo berdiri bersandar di dinding tembok pembatas menatap jalan. Di sebelah Luhan berdiri Yifan yang bertelanjang dada, dalam jeans yang dipakai rendah di pinggul, tangannya meremas pantat Luhan.
Baekhyun menatap ke kejauhan. Ke kanan ia hanya bisa Melihat penyangga emas dari Millennium Dome, ke kiri, blok bangunan gedung pencakar langit dari Canary Wharf yang menjulang ke langit berkabut. Baekhyun berjalan Melintasi dan menyelinap di samping Jongin.
"Hei, apa kau gila? Jangan biarkan mereka Melihatmu," kata Jongin dan menariknya mundur. "Sini, minum segelas anggur."
Dia mengambil botol dari meja dan menuangnya ke gelas. Luhan dan Kyungsoo Melangkah di depannya. Luhan mengenakan bikini terkecil yang pernah Baekhyun lihat. Tiga segitiga perak seukuran crackers keju.
"Chanyeol Park," kata Kyungsoo.
"Kau sudah berkencan dengan selebriti dan tidak memberi tahu kami? Kupikir kami adalah temanmu?"
"Kalian temanku." kata Baekhyun dan Melirik Yifan. Tiga dari mereka yang teman Baekhyun.
"Alasanku tidak memberitahumu adalah di jalan di bawah sana."
Yifan duduk di kursi dan menarik Luhan ke pangkuannya.
"Foto yang bagus. Ingin memberiku sebuah penjelasan eksklusif bagaimana rasanya kencan dengan badboy Park?"
"Tidak."
"Apa kau tahu apa yang kau lakukan, Baekhyun?" Tanya Luhan. "Maksudku—Chanyeol Park? Dia akan mengunyahmu dan memuntahkanmu. Dia pasti sedang memanfaatkanmu."
Sebuah plat besi seakan mengetat di jantung Baekhyun. Dia duduk di pinggiran beton gedung dengan anggurnya.
"Bagaimana kau bertemu dengannya?" Tanya Kyungsoo. "Apa itu Benar-Benar di pantai?" Baekhyun mengangguk.
"Dia akan mencampakkanmu," kata Luhan. "Dia memiliki reputasi buruk." Jari Baekhyun menegang di sekitar gagang gelas.
"Kau bisa menghasilkan uang dari ini," kata Yifan. "Kenapa kau tidak memberiku kisah dari sudut padangmu? Aku bisa membuatmu tampil di acara besok." Baekhyun menyesal telah datang ke atap. Dia menelan seteguk anggur putih yang hangat.
"Kami akan membayarnya dengan uang yang banyak, Baekhyun," kata Yifan. "Toh,, kau adalah seorang teman." Tangannya menangkup payudara Luhan.
Baekhyun membuka mulutnya dan kemudian menutupnya lagi.
"Apa dia sudah membawamu ke tempat yang bagus?" Tanya Kyungsoo. "Seperti apa dia? Kau pernah ke rumahnya? Pernahkah kau bertemu seseorang yang terkenal? Dan yang paling penting, apa ia akan datang ke pembukaan pada hari Rabu?"
"Hei." Jongin Meletakkan tangannya di lengan Kyungsoo.
"Baekhyun datang ke sini untuk Melarikan diri dari pertanyaan."
"Satu saja, kalau begitu," pinta Kyungsoo.
"Apa dia akan datang ke pembukaan?" Baekhyun membuang jawaban yang sudah ada di kepalanya sebelum ia bicara.
"Aku memintanya, tapi aku tak tahu apa dia akan datang." Baekhyun bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan pada Yifan.
Dia duduk mengawasi Baekhyun dan di balik senyum ularnya itu, Baekhyun tahu Yifan bertanya-tanya apa Baekhyun akan mengatakan sesuatu kepada Luhan.
"Bisakah dia membawa beberapa seleb lain untuk datang juga?" Tanya Kyungsoo.
"Siapa yang dia kenal?"
"Aku tak tahu." Baekhyun memalingkan wajahnya ke matahari, berharap pertanyaan akan berhenti. Mungkin ia harus memperingatkan Chanyeol supaya tidak datang.
"Yifan bilang padaku apa yang terjadi di Armageddon," kata Luhan. Baekhyun membuka matanya dan berbalik ke arahnya.
"Benarkah?" Yifan menyampirkan lengannya di atas bahu Luhan, jarijarinya menggoda segitiga yang menutupi putingnya.
"Maaf, Baekhyun," katanya meminta maaf.
"Aku tahu aku menjerumuskanmu di dalamnya dengan Chanyeol. Aku panik karena Gemma. Aku tidak ingin dia tahu aku sudah membeli beberapa paket kokain untukku dan Luhan, jadi aku membuat sebuah kebohongan tentang seorang wanita berpakaian merah muda datang kepadaku. Aku tidak pernah Melihat, apalagi mengenalimu mengenakan atasan merah muda. Hal berikutnya yang aku tahu, itu Gemma yang Melemparkan minumannya di wajahmu. Tentu saja, sekarang dia membaca koran tentang kau dan Chanyeol Park, dia tahu kau tak akan tertarik pada idiot menyedihkan sepertiku. Dia sangat ingin datang dan meminta maaf, terutama jika ada Chanyeol."
"Kau bukan idiot menyedihkan." Luhan berpaling untuk menciumnya di bibir.
Ya, kau idiot menyedihkan, pikir Baekhyun. Kau sudah menikah dan mempermainkan Luhan dan menyetubuhi wanita lain di toilet ketika kau punya kesempatan.
"Aku akan mengirim Gemma. Jongin yang akan Melukis potretnya, jadi aku akan membawanya ke sini untuk duduk." Yifan menggigiti tulang selangka Luhan.
"Dan semakin lama ia Melukisnya, semakin baik."
.
.
.
Chanyeol baru saja duduk di kursi kelas 1A dan mengulurkan kakinya yang panjang, ketika Krystal Jung muncul. Dia menundukkan kepala dan mencium pipi Chanyeol. Aroma musky yang dipakainya begitu menyengat, Chanyeol hanya bisa menekan keinginan untuk bersin. Dia bertanya-tanya tentang membelikan parfum untuk Baekhyun dan menyadari bahwa Baekhyun tak pernah mengenakan apapun. Tapi apakah itu karena Baekhyun tidak suka atau tidak mampu membelinya? Sesuatu yang lain yang dia tidak tahu tentang Baekhyun.
"Chanyeol! Kau tampak sehat."
"Hai, Krystal. Ingin duduk di sebelah Jendela?"
"Tidak, aku baik-baik saja di lorong. Aku sedikit gugup naik pesawat."
Itu tidak terlintas dalam pikirannya bahwa Krystal akan datang ke pertemuan itu. Masuk akal, meskipun ia bertanya-tanya mengapa Kwangsoo tidak memberitahunya.
"Aku Benar-Benar menantikan untuk bekerja sama denganmu." Krystal berseri-seri. "Kita akan bersenang-senang." Krystal mengangkat alis sedikit satu demi satu dan mengedipkan mata.
Kedipan mata ini cukup menjelaskan kepada Chanyeol Jenis kesenangan apa yang ada dalam pikirannya dan ia tidak tertarik.
Krystal sangat cantik. Matanya yang besar berwarna gelap dengan bulu mata hitam tebal. Senyum yang menyilaukan. Gigi yang sempurna. Rambut gelapnya halus dan panjang. Payudara besar (operasi plastik). Dan Chanyeol tidak menginginkannya.
Chanyeol tersenyum.
Chanyeol bahkan tak ingin kencan semalam dengannya. Senyumnya Melebar. Jika dia tidak menyadari itu karena Baekhyun, Chanyeol mungkin berpikir ia sedang sakit. Chanyeol bersandar di kursinya dan memikirkan lekuk kecil di salah satu gigi bawah Baekhyun, rambut spiky yang acak-acakan dengan tampilan habis-bangun-tidurnya, payudaranya yang pas di telapak tangan Chanyeol. Dan matanya. Oh Tuhan, ia sangat suka mata Baekhyun, cara mereka berubah sesuai suasana hatinya. Chanyeol bahkan lebih menyukainya lagi ketika Baekhyun sedang Jengkel dengannya.
Pesawat Meluncur dari landasan pacu dan Krystal menggeliat.
"Maukah kau memegang tanganku?" Bisiknya. Chanyeol mengambil lalu memegang jari-jarinya dan Krystal tersenyum terima kasih.
"Melihat kau di koran hari ini," katanya. "Pantat yang bagus."
"Ya, pantat dia memang bagus, ya kan?" Chanyeol senang Melihat senyum menghilang dari wajah Krystal. Namun tidak berhasil menjauhkan dirinya.
"Aku punya perasaan aku akan menjadi berita utama minggu depan. Seorang pecundang dari 24/7 membujuk mantanku untuk mengungkapkan rincian intim tentang kehidupan seks kami." Krystal cemberut. "Awalnya bukan aku yang ingin pergi ke klub terkutuk itu."
Chanyeol ingin duduk di samping Baekhyun saat pertama kalinya Baekhyun naik ke dalam pesawat, ingin Melihat ekspresi wajahnya ketika Baekhyun Melihat awan. Krystal mendekatkan mulutnya ke telinga Chanyeol.
"Klub Rascal. Pernahkah kau? Apa pun terjadi dan maksudku, apapun. Kwangsoo mencoba untuk menghentikan mereka menerbitkannya, tapi dia tidak terlalu berharap."
"Kurasa edisi terbaru dari Hello! penuh dengan foto-foto rumah dan kebunmu." Chanyeol Melepas genggaman tangannya karena sekarang mereka sudah mengudara.
"Apa kau membacanya? Mereka begitu baik. Mereka terus meminta pendapatku tentang tempat terbaik untuk mengambil foto. Mereka memberikan bunga dan pakaian dan mereka membiarkanku memiliki salinan dari setiap foto setelah aku setuju mana yang bisa mereka gunakan. Dan mereka membayar. Semacam itulah pers yang aku suka."
"Aku tak yakin kau dapat memiliki kedua-duanya. Kami memilih untuk menempatkan diri di mata publik dan harus mengambil apa yang datang dengan itu. Kami cukup senang dengan publisitas yang baik dan uang. Kami hanya marah ketika kami pikir mereka tidak adil. Kita tidak bisa mendikte perhatian yang kita inginkan."
Itu sangat filosofis baginya. Chanyeol bertanya-tanya apakah ia terdengar seolah-olah ia bersungguh-sungguh. Dia sungguhsungguh.
"Meskipun bukan hanya kita yang terluka, ya kan?" Kata Krystal.
"Tidak. Kadang-kadang mereka kelewatan. Hari ini adalah contoh kasus yang sangat jelas dan permintaan maaf yang mereka tidak akan ragu akhirnya akan dipermasalahkan tidak memperbaiki kerusakan yang telah mereka sebabkan, tapi pers tak akan pernah berubah."
.
.
.
Pada saat pesawat mendarat di Dublin, Chanyeol yakin akan dua hal— Krystal Jung sangat ingin masuk ke balik celananya dan Chanyeol sangat ingin menjaga dia tetap diluar. Ini bukan berarti bahwa Chanyeol tidak suka padanya. Setiap pria akan menyukainya. Well, setiap pria normal.
Tidak ada yang salah dengan berangan-angan, tapi Chanyeol tak akan Melakukan lebih jauh dari itu. Chanyeol bertekad untuk membuktikan bahwa ia bisa setia. Baekhyun percaya padanya dan ia tidak akan membiarkan Baekhyun kecewa.
Tapi saat Krystal menekan tubuhnya ke tubuh Chanyeol di taksi dalam perjalanan ke hotel mereka, Chanyeol mengakui itu akan menjadi beberapa hari yang sulit.
Benar saja, permintaan untuk bertemu di kamar Krystal jam tujuh sehingga mereka bisa turun bersama-sama untuk makan malam, telah menyebabkan Chanyeol menemukan Krystal masih basah sehabis mandi. Handuk minim yang berada di antara Chanyeol dan tubuh Krystal yang telanjang dengan sengaja jatuh ke karpet saat Krystal berjalan kembali ke kamar mandi. Tentu saja, Krystal membungkuk untuk mengambilnya, memberikan Chanyeol pemandangan spektakuler dari pantat Krystal. Krystal membiarkan pintu kamar mandi terbuka. Chanyeol mengatupkan rahangnya.
"Tuangkan aku minuman, Chanyeol," seru Krystal.
Chanyeol membuka mini bar, memperhatikan segelnya yang sudah dibuak. "Kau mau apa?"
"Vodka dan jeruk."
Chanyeol menemukan dua botol kecil di tempat sampah. Dia punya perasaan setelah beberapa gelas vodka, bra Krystal dengan misterius akan terlepas sendiri kaitannya. Tapi, mungkin juga Krystal tidak akan memakai bra.
"Tarikkan gaunku, Sayang."
Yep, Chanyeol Benar. Gaun itu terbuka di seluruh bagian punggung. Chanyeol menarik risletingnya dan Krystal berbalik dan Meluncurkan tubuhnya ke arah Chanyeol. Chanyeol mencegat dengan pipinya. Menggigit bibir sehingga ia tidak tertawa. Gaun sutra biru berpotongan rendah di bagian depan, dengan dua bayangan di balik sutra dimana putingnya menonjol ke arah Chanyeol seperti moncong senapan.
Chanyeol Melangkah mundur, meraih gelas dan mendorongnya ke tangan Krystal.
"Tidakkah kau ingin minum?" dengung Krystal dan menjilat bibirnya.
"Sedang detoksifikasi," kata Chanyeol.
Chanyeol membutuhkan semua akal sehatnya untuk menjaga agar kejujuran yang baru-baru ini diperolehnya tetap utuh.
Pada saat mereka sampai di putaran terakhir, Krystal mabuk dan Chanyeol sangat sadar.
Chanyeol mencoba untuk mengatur jumlah alkohol yang dikonsumsi Krystal, tapi dia makan terlalu sedikit, alkohol itu pasti berlari Melalui aliran darahnya lebih cepat daripada ular yang memagut. Hal lain yang Krystal lakukan adalah makan secara perlahan, mengunyah setiap suap lama sekali. Hanya untuk Melakukan sesuatu, Chanyeol mulai menghitung. Enam puluh lima detik untuk setiap potong kecil yang dia taruh di antara bibirnya. Hidangan itu pasti sudah BenarBenar dingin pada saat Krystal akan menghabiskannya. Chanyeol tak pernah merasa begitu bosan dalam hidupnya.
Krystal mencoba untuk memaksa Chanyeol makan makanan penutup, tapi Chanyeol tahu Benar ia akan menjadi satu-satunya yang memakan itu. Chanyeol menolak kopi. Chanyeol ingin pergi ke kamar dan menelpon Baekhyun. Ketika Krystal berdiri, dia terhuyung.
"Ups," dia terkikik dan menangkap lengan Chanyeol.
Chanyeol tidak suka pandangan sok tahu orang-orang saat mereka meninggalkan restoran dan menuju ke lift. Krystal menempel pada dirinya seperti gurita.
"Ini salahmu aku mabuk. Aku seharusnya meminum sebagian anggurmu dengan baik."
"Maaf."
Padahal Chanyeol tidak menyesal sama sekali. Bahkan, ia berharap Krystal pingsan saat Chanyeol mengembalikannya ke kamarnya.
"Di mana kuncimu?" Tanya Chanyeol.
Setelah berusaha keras, Krystal berhasil mengambil dari tasnya.
"Aku merasa tidak enak badan," gumamnya. Chanyeol tidak terkejut. Chanyeol menyeret Krystal Melewati pintu dan Krystal tiba-tiba Melesat ke arah kamar mandi. Jatuhnya terlihat tidak dibuat-buat dan Chanyeol pergi untuk membantu.
"Aku mau muntah," ujar Krystal terengah.
Krystal muntah. Di seluruh lantai kamar mandi dan di seluruh tubuh Chanyeol. Di satu sisi, Chanyeol bersyukur karena sekarang tidak ada godaan sama sekali.
Ponsel berdering ketika Chanyeol mencoba untuk membersihkan muntahan itu.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Baekhyun.
"Kau tidak ingin tahu." Chanyeol memandang handuk yang dia dilemparkan ke dalam bak mandi.
"Ya, aku ingin tahu," katanya."Membersihkan muntahan. Dan sebelum kau bertanya, itu bukan muntahku. Aku berharap kau ada di sini."
"Kenapa? Jadi aku bisa membantumu?"
"Ya." Chanyeol tertawa.
Krystal mengerang dari tempat tidur dan berlari kembali ke kamar mandi.
"Siapa yang muntah?" Tanya Baekhyun.
"Krystal."
"Jung?"
"Krystal Jung. Dia punya peran dalam The Green."
"Yang memakai gaun setrip merah di Armageddon?" Chanyeol mendengar perubahan nada dalam suara Baekhyun. Dan kebohongan.
"Aku tidak ingat."
"Chanyeol, kau berkata bohong. Apa kau di kamarnya?"
"Ya, tapi aku tidak Melakukan apa-apa." Chanyeol berpaling saat Krystal muntah lagi.
"Hanya membersihkan muntahan," koreksi Baekhyun.
"Ini tidak dalam deskripsi pekerjaanku."
"Biarkan orang lain yang Melakukannya kalau begitu."
"Aku tidak berpikir ini adalah deskripsi pekerjaan untuk siapa pun. Tembakan yang bagus, Krystal. Setidaknya sebagian besar kau mengenai pinnya sekarang."
"Ketika kau sudah sendiri, telepon aku," kata Baekhyun. "Dan kami akan memainkan sedikit permainan dokter dan pasien."
"Aku ingin mandi dulu."
"Apa ponselnya kedap air?" Tanya Baekhyun.
Chanyeol langsung bersemangat. Dia akan menemukan kantong plastik dan membuatnya kedap air.
.
.
Bab 21
.
.
Pada Senin pagi, Baekhyun berjalan ke Crispies Melewati pintu yang dibukakan Jongin untuknya. Baekhyun Melirik jam. Tepat waktu. Tapi senyum lebar Mel menyebabkan senyum Baekhyun lenyap seperti es krim di atas trotoar panas. Ada sesuatu yang tidak beres.
"Bagaimana perasaanmu, Baekhyun?" Tanya seseorang yang mirip Mel.
Jongin Meletakkan telapak tangannya di dahi kakaknya.
"Kau tidak demam." Ia menyelipkan tangannya ke hidung Mel dan meremasnya. "Ah, ini hangat. Bukan pertanda baik." Jongin mengedipkan mata pada Baekhyun. "Oh tidak, aku salah. Itu hidung anjing yang seharusnya dingin. Kukira kau sehat, Mel."
"Pergilah, Jongin." Bentak Mel.
Jongin tertawa. "Harusnya seperti itu. Kupikir kau Benar-Benar sakit." Baekhyun Melepas jaketnya dan menggantungkannya di ruang istirahat staf. Lois berjalan Melewati, mulut dan matanya terbuka lebar saat ia menatap Baekhyun dengan sesuatu yang mendekati kagum. Dua dari para pelayan lainnya meringkuk di pojokan, berbisik-bisik.
Ini akan menjadi hari yang panjang.
Baekhyun berjalan menuju dapur, berharap Tony akan menghiburnya, tapi bukannya menggoda seperti yang biasa Baekhyun nikmati, Tony terus memotong wortel dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Baekhyun merasa Jengkel, sadar diri dan khawatir, semua pada waktu yang sama. Dia kembali ke ruang makan untuk mencari Mel yang masih bicara dengan Jongin.
"Kita akan menjadi sangat sibuk hari ini," kata Mel. "Aku harus ikut Melayani kemarin karena seseorang tidak datang dan membantu." Mel Melototi kearah adiknya.
"Aku sudah bilang aku sedang sibuk. Aku punya pekerjaanku sendiri." Mel memutar matanya dan berpaling pada Baekhyun. "Mengalami akhir pekan yang menyenangkan?" Mulut Baekhyun langsung terbuka. Dia mengatupkan bibirnya. Mel tak pernah tertarik pada urusan apa pun yang staf lakukan di luar.
"Apa yang kau lakukan bersama Chanyeol?" Tanya Mel.
Mendengar nama Chanyeol disebut, suara gemericik memenuhi udara karena setiap orang di sekeliling tertuju pada percakapan itu. Lois beringsut dan membersihkan debu kursi di belakang mereka.
"Dia mengajakku untuk bertemu dengan orangtuanya." Tangan Baekhyun langsung membekap mulutnya. Sial, apa dia Benar-Benar idiot?
"Oh. Tuhan. Ku. Dia pasti serius. Apa dia akan datang hari ini? Please, bisakah dia datang hari ini?" Tangan Mel menari-nari dengan kegembiraan.
"Dia di Irlandia. Jangan bilang siapa-siapa kami pergi untuk Melihat orang tuanya," Baekhyun memohon.
Mel mengerutkan kening kemudian wajahnya cerah seolah-olah dia telah Melihat Santa Claus turun ke cerobong asapnya membawa hadiah untuknya dan bukan untuk Jongin.
"Oke, tapi fakta bahwa dia di Irlandia menjadi rahasia juga. Jika pelanggan bertanya, katakan kau menunggunya kapan saja."
"Tapi—" Baekhyun berhenti saat Melihat cara Mel menatapnya. Suatu perintah, bukan permintaan. "Hanya—" Baekhyun membuat satu usaha lagi.
"Orang-orang akan berbondong-bondong ke sini jika mereka berpikir ada kemungkinan Chanyeol Park akan muncul," Bentak Mel.
"Tapi surat kabar tidak mengatakan secara tepat di mana aku bekerja. Ada banyak kafe di Greenwich."
"Aku yakin itu tidak akan butuh waktu lama bagi orang-orang untuk mencari tahu." Mel menghindari mata Baekhyun.
"Toh, Chanyeol sudah berada di sini minggu lalu. Mereka akan berpikir dia langganan disini. Kita akan menarik kerumunan yang berbeda."
"Satu-satunya bintang yang akan berada di matamu," kata Jongin dan tertawa.
Baekhyun tahu dengan baik ekspresi wajah Mel. Marah dan dilecehkan.
"Apa kau menelepon dan memberitahu mereka?" tanya Jongin.
Tatapan Mel bergeser ke langit-langit kaca.
Sialan, pikir Baekhyun.
"Mel, bilang padaku kau tidak Melakukan itu," kata Jongin. "Tolong beritahu aku kau belum menggunakan nama Chanyeol dalam rangka untuk memenuhi tempat ini."
Tapi Baekhyun tahu bahwa Mel Melakukannya, karena menyebarkan berita bahwa Chanyeol mungkin masuk kesini kapan saja akan menjadi suatu yang bagus untuk bisnis.
"Tentu saja tidak."
Jongin mendesah.
"Maukah kau menjadi saudara yang baik bukannya menjadi saudara yang kejam dan mengatur pengiriman anggur?" Tanya Mel.
Baekhyun tahu mengapa dia menyingkirkan Jongin. Saat Jongin keluar dari pandangan, Mel mengikuti Baekhyun seperti anak anjing yang bersemangat untuk mendapat setiap remah makanan.
"Jadi apa yang disukai Chanyeol?" Tanya Mel.
Baekhyun membersihkan meja dengan kain dan menekan bibirnya.
"Bagaimana kau bertemu dengannya?" Baekhyun pindah ke meja berikutnya.
"Kau bisa bilang padaku. Kita berteman."
Baekhyun berbalik dan menyilangkan lengannya. "Siapa kau dan apa yang telah kau lakukan dengan bosku?"
"Oh, sangat lucu. Ayolah, Baekhyun. Beberkan rahasianya."
"Aku tidak bisa bicara tentang dia." jelas Baekhyun. "Pers akan memutar balikkan segalanya."
"Kita bukan pers." Mel berusaha memberikan tatapan tulus berseri dan gagal.
Baekhyun tersentak saat sapu menghantam kakinya. Lois menyapu lantai di belakangnya, membungkuk dengan antena yang bergerak-gerak.
"Bagaimana kau bertemu dengannya?" Tanya Mel. "Apa kemaluannya Benar-Benar—"
"Mel," Tony berteriak dari dapur. "Kemarilah." Baekhyun menarik napas lega. Mel selalu Melompat untuk Tony.
"Apa dia menyanyikan Just One Look untukmu? Aku suka yang satu itu." gumam Lois dengan suara Melamun di bahu Baekhyun.
"Aku punya semua albumnya. Apa kau pikir kau bisa membuatnya untuk menandatanganinya untukku?"
"Aku tidak tahu," kata Baekhyun, hampir berharap Mel memecatnya.
Baekhyun mendengar ketukan di Jendela depan. Matanya terangkat. Dia tidak bisa percaya. Sepuluh menit sebelum kafe dibuka dan satu baris orang berdiri menunggu di trotoar.
Jongin Melesat lewat. "Aku harus pergi ke grosir. Sampai jumpa nanti." Mel muncul dari dapur, Melirik bersalah pada Baekhyun dan mulai mengelap cermin. Pertama kalinya—Mel bekerja.
Kekacauan tentang Chanyeol mulai saat pintu terbuka. Tatapan penasaran dan pertanyaan yang kurang sopan membuat Baekhyun sakit kepala yang berdenyut-denyut. Keirian yang blak-blakan masih bisa Baekhyun atasi, tapi keBencian yang mendalam membuatnya segera ingin Melarikan diri.
Waktu istirahat tidak bisa datang cukup cepat.
Baekhyun bersembunyi di lemari toko, duduk di drum minyak goreng dan beralih pada ponsel nya. Chanyeol mengirimkan sms.
Memikirkanmu dan sekarang aku punya masalah yang sangat besar untuk dihadapi sebelum aku pergi untuk sarapan. Ingin kau ada di sini.
xx Hippo
Kau juga telah memberiku masalah besar. Jutaan orang ada Crispies karena mereka pikir mungkin kau ada disini.
xxx Mermaid
Baru saja "pesan terkirim" di layar muncul, telepon berdering. "Bagaimana aku bisa menghubungimu jika kau terus mematikan ponselmu?" Tuntut Chanyeol.
Baekhyun tersenyum. "Selamat pagi juga untukmu."
"Aku menginginkan kau," bisik Chanyeol. "Aku ingin Melanjutkan diskusi kita tadi malam." Baekhyun merasa denyutan akrab di antara kedua kakinya hanya dari bunyi suara Chanyeol.
"Kau tidak membereskan masalah kecilmu?" tanya Baekhyun.
"Itu bukan masalah kecil dan ya, aku sudah membereskannya. Aku sedang sarapan. Hei, jauhkan tanganmu dari roti panggangku." Baekhyun mendengar wanita tertawa dan tiba-tiba merasa resah.
"Krystal?" Baekhyun berharap dia tidak bertanya.
"Ya." Ada suara dari pergumulan dan kemudian seorang wanita bicara di telepon.
"Dia seperti penggoda, Baekhyun. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tahan dengan dia." Kemudian telepon itu kembali ke tangan Chanyeol.
"Aku akan meneleponmu malam ini," kata Chanyeol. "Aku akan sibuk sepanjang hari." Baekhyun mendengar Krystal terkikik.
"Dalam meeting," tambah Chanyeol.
"Oke, aku harus pergi sekarang," kata Baekhyun dengan suara tenang.
"Bye, Mermaid."
Baekhyun mendengar tawa lagi dan kemudian telepon terputus. Baekhyun menutupnya dan memasukkan ke dalam sakunya, kakinya menendang drum. Suara cekikikan Krystal menggema dalam kepalanya. Baekhyun ingin pulang dan mengubur kepalanya di bawah bantal namun dia memaksa diri Melewati pintu.
Baekhyun menyelinap Melewati Tony, yang sibuk memasak ekstra dari segala sesuatunya, dan mengintip Melalui lingkaran Jendela kaca dari pintu ayun. Tempat ini dipenuhi dengan orang-orang yang mengobrol. Hebat, pikir Baekhyun, Chanyeol sedang sarapan dengan seorang wanita cantik, yang masih cantik meskipun dia muntah di tubuh Chanyeol, sementara Baekhyun harus Melayani sarapan untuk beberapa pelanggan galak dan orang-orang yang selalu ingin tahu dan tampak bahagia tentang hal itu. Baekhyun tidak cemburu. Tidak. Baekhyun tidak pernah membiarkan dirinya menjadi cukup terikat dengan siapa pun untuk merasa seperti itu.
Meskipun hidupnya yang sulit, Baekhyun tidak merasa tidak aman. Baekhyun tidak memiliki dilema tentang penampilannya atau tubuhnya. Dia belajar untuk tidak pernah menunjukkan kelemahan semacam itu. Itu adalah undangan untuk di bully. Baekhyun menempatkan diri dengan menerima pada apa yang dia punya, meskipun itu tidak berarti dia terkadang tidak iri pada orang lain. Bukan karena uang atau mobil atau rumah mereka, tapi untuk kasih sayang keluarga mereka, teman-teman mereka, fakta bahwa mereka memiliki orang-orang yang peduli tentang mereka. Baekhyun tidak pernah merasa cemburu tentang seorang pria sebelumnya.
Baekhyun berharap dia punya paspor.
.
.
.
Satu hal tentang menjadi sibuk—itu membuat Baekhyun berhenti berpikir. Semua orang bergesa-gesa.
"Ya, kami mengharapkan dia nanti."
"Tidak, kau tidak Melewatkannya. Bisa datang kapan saja sekarang."
"Oh ya, dia pelanggan di sini." Mel menjawab pertanyaanpertanyaan yang Baekhyun abaikan. Pelanggan yang ingin berlama-lama dipaksa untuk tetap memesan dan jika mereka mencoba untuk tetap bertahan pada teh atau kopi, Mel menunjukkan ancaman pesanan minimum yang dia tancap di bagian bawah setiap menu pagi itu.
Baekhyun mengantarkan sepiring lasagna ke meja dua belas dan tersenyum pada pria muda yang duduk di sana, pria berwajah bulat, berambut pirang dengan senyum yang manis. Tipe pria yang biasanya memberikan Baekhyun tip besar.
"Apa selalu sesibuk ini?" Tanyanya.
"Crispies sangat populer."
"Bekerja di sini sudah lama?"
"Tidak. Apa ada hal lain yang bisa kubantu? "Baekhyun tersenyum padanya.
"Aku ingin segelas anggur merah. Aku juga akan mentraktirmu satu."
"Sedikit terlalu pagi untukku, terima kasih. Jadi, anda bekerja untuk koran apa?" Dia tertawa.
"The Star. Andy Swift. Ingin memberiku sebuah wawancara eksklusif, Baekhyun? Bagaimana kau bertemu? Seperti apa dia di ranjang? Hal-hal semacam itu. Lima ribu pound?"
"Tidak."
"Sepuluh." Baekhyun menelan ludah. "Tidak."
"Dua puluh," Andy menawarkan.
Baekhyun berjalan pergi, jantungnya berdebar kencang. Setiap kali Baekhyun lewat di dekat meja pria itu, ia menaikkan harganya beberapa ribu.
"Berikan aku beberapa ide jika aku menjadi semakin hangat," keluhnya.
"Max bilang padaku untuk tidak bicara dengan siapa pun." Wajah reporter itu redup. Baekhyun tahu dia akan berpikir maksud Baekhyun adalah ahli PR, Max Clifford. Baekhyun berpaling dari meja, menyeringai, dan menemukan dirinya menghadapi seorang wanita pirang tinggi kirakira seusia dengannya. Sebelum Baekhyun bisa Melangkah ke satu sisi, sebuah tangan Melayang dan menamparnya keras di pipi. Baekhyun tersentak dan tangannya sendiri naik dalam upaya terlambat untuk Melindungi wajahnya.
"Pelacur," pekiknya pada Baekhyun.
Baekhyun Melangkah mundur, mengusap pipinya yang kesemutan. Seluruh ruangan menjadi hening.
"Tinggalkan dia sendiri. Dia milikku."
"Benar." Baekhyun berbalik.
Ini menjadi pedih. Baekhyun bisa Melihat apa yang Chanyeol terima dengan sabar. Orang gila yang bodoh. Sebelum Baekhyun berjalan dua langkah, dia merasa pukulan di atas bahunya dan terhuyung-huyung ke depan.
"Astaga!" Bentak Baekhyun dan mengepalkan tinjunya.
Ada jeritan Melengking dari suatu tempat, bukan dari Baekhyun, dan kemudian tempat itu gempar. Baekhyun berbalik dan Melihat reporter dari The Star memegang pergelangan tangan wanita berambut pirang itu. Dia mengguncangkan pisau dari jari-jari si pirang. Baekhyun menyaksikan pisau itu jatuh ke lantai dan berputar jauh di bawah meja. Gila, pikir Baekhyun, hal yang baik dia berada di sini setelah semua itu.
Ketika kesadaran menghantam bahwa reporter itu sudah mendapatkan ceritanya, tidak hanya satu yang telah ia harapkan, Baekhyun menghela napas berat.
"Baekhyun." Tony muncul di depannya dan mengambil lengannya, menariknya keluar dari kekacauan ruang makan dan masuk ke dapur. Hanya setelah Tony Meletakkan jari-jarinya di punggung Baekhyun dan menunjukkan darah, Baekhyun menyadari dia telah ditusuk.
"Oh Tuhan," Baekhyun tersentak dan bergetar. Tony menyeret bangku dengan kakinya, mendudukkan Baekhyun dan Melepaskan kemejanya. Mel datang mengamuk ke dapur dari kantornya.
"SeBenarnya ada kegaduhan apa ini? Apa—Tony apa yang kau lakukan?"
Baekhyun Melirik, Melihat kesedihan di wajah Mel dan tahu itu bukan untuknya.
"Sudah berapa lama ini terjadi?" Mulut Mel memBentuk garis keras. "Demi Tuhan, Mel. Tak bisakah kau Melihat darah? Seorang gila menikam Baekhyun."
"Apa?"
"Dia menusukku?" Baekhyun masih belum bisa percaya.
"Aku akan menelepon polisi. Bagaimana dengan ambulans?" tanya Mel.
"Tidak," kata Baekhyun. "Tidak dua-duanya."
"Tapi dia menusukmu," teriak Mel.
"Please. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin kau menghubungi siapapun. Ini tidak terlalu parah, ya kan?"
"Jangan khawatir," Tony meyakinkan dirinya.
"Dia mengenai tulang belikatmu."
"Sial." Baekhyun mengerang saat Tony memegang selembar handuk di atas lukanya.
"Pergilah ke luar sana dan lihat apa yang terjadi," kata Tony pada Mel.
"Seorang pria menangkap wanita yang Melakukan itu dan membuatnya menjatuhkan pisau, tapi hati-hati. Jangan pergi ke mana pun di dekatnya." punggung Baekhyun sakit sekarang. Berdenyut-denyut. Air mata mengalir di mata Baekhyun dan dia berkedip. Apakah ini apa yang Baekhyun dapatkan untuk mengencani Chanyeol?
"Aku tahu bahwa mata pelajaran kesehatan dan keselamatan tentu akan berguna. Tidak pernah terpikir aku harus Melepas atasan seorang wanita sekalipun." Tony mengedipkan mata.
"Ini hanya membutuhkan beberapa strip kupu-kupu. Tanganmu tetap di sini." Tony menarik lengan Baekhyun ke dadanya dan ke atas bahunya, dan kemudian mengangkat kotak pertolongan pertama dari dinding. "Apa kau sudah memperbarui suntik tetanusmu?"
"Ya."
"Tidak tertarik pada rumah sakit, kan?" Baekhyun menggelengkan kepalanya.
Baekhyun telah menolak untuk pergi ketika Mel meminta relawan. Baekhyun Melengkungkan tulang belikatnya saat Tony memberikan sapuan antiseptik di seluruh punggungnya.
"Kelihatannya ini bukan pertama kalinya seseorang Melakukan itu padamu." Jari Tony menyentuh bekas luka Baekhyun.
"Kecelakaan masa kecil," kata Baekhyun.
"Ini tidak terlalu buruk. Aku hanya akan mengamankan tepi lukanya."
"Dan kenapa kau mengatakan itu?"
"Kita harus meyakinkan pasien. Kau salah satu pasien pertamaku. Aku tidak menghitung serpihan batu pada Lois."
"Aku yang mengeluarkannya."
"Oh ya. Untuk memastikan stripnya tetap di tempat, aku akan Melekatkan lagi dua garis sejajar pada luka untuk tetap kering. Tidak boleh Melakukan seks dengan penuh semangat, kecuali denganku." Baekhyun mengerang.
"Jujur saja, itu tidak terlalu buruk."
Selain mencoba untuk menenangkan Baekhyun, Tony seBenarnya mengkhawatirkan dirinya.
"Apa yang tidak terlalu buruk—seks denganmu?" Tanya Baekhyun, berusaha untuk meringankan ketegangan.
"Tidak, itu brilian," kata Tony, tertawa.
"Kau sebaiknya pulang. Aku yang akan membayar taksinya."
"Aku baik-baik saja, Tony. Aku hanya terkejut."
Pintu terbuka dan keduanya berpaling untuk Melihat wanita yang telah menikam Baekhyun berdiri di samping reporter. Tony Melangkah di depan Baekhyun yang bertelanjang dada.
"Keluar dari dapurku," katanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Andy.
"Keluar."
"Ini adalah Tiffany Samuels," kata Andy. "Dia ingin meminta maaf dan menjelaskan."
"Baiklah," kata Baekhyun. Permintaan maaf itu sia-sia tapi Baekhyun ingin penjelasan.
"Kau yakin, Baekhyun?" Tanya Tony. Baekhyun mengangguk.
"Ayo, Tiffany," desak Andy.
"Sampai sebulan yang lalu, aku bertunangan dengan Chanyeol. Itu rahasia. Kami tidak ingin pers untuk mencari tahu. Hanya saja...dia memutuskannya dan aku patah hati." Air mata mulai bergulir di pipinya. Baekhyun tidak terkesan.
"Maaf aku Melukaimu. Kumohon jangan menelepon polisi. Sesuatu dalam diriku tersentak ketika aku Melihat koran kemarin. Kupikir Chanyeol putus denganku karena aku adalah orang biasa. Maksudku, aku bukan seorang bintang film atau penyanyi, tapi tidak ada yang spesial tentangmu. Kau hanya seorang pelayan, jadi pasti bukan karena itu."
Aww thanks, pikir Baekhyun. "Aku—" Tiffany mulai mengatakan dia tidak mengenal Chanyeol terlalu lama dan kemudian Melihat mata reptil dari wartawan dan menutup mulutnya.
"Aku masih mencintainya," isak Tiffany. "Kurasa jika aku bisa membuatmu pergi, dia akan kembali padaku. Kuharap aku mempertahankan bayinya. Lalu aku masih punya sedikit bagian dari dirinya."
Oh Tuhan, wanita ini gila.
"Tapi dia tidak menginginkannya," bisiknya. "Dia bilang itu akan merusak karirnya. Dia memintaku untuk Melakukan aborsi."
"Berapa lama kau sudah berkencan dengannya?" Tanya Andy. Baekhyun bertanya-tanya apa ia sedang merekam semua ini.
"Tiga bulan."
"Apa reaksimu terhadap hal ini, Baekhyun?" Andy berbalik ke Baekhyun.
Baekhyun berjalan keluar dari ruangan. Apa yang harus ia katakan? Mata pria itu berkilau. Dia tak peduli apakah itu Benar atau tidak. Dia sudah punya ceritanya sendiri. Baekhyun pergi ke toilet staf dan mengunci diri di bilik. Dia mengirim sms ke Chanyeol.
Apa kau kenal Tiffany Samuels?
xx Mermaid.
Baekhyun bertekad untuk tidak bergerak sampai dia mendengar kabar dari Chanyeol. Baekhyun tidak percaya wanita itu. Dia menduga ada segala macam orang aneh di luar sana, menunggu kesempatan Melompat keluar dari suatu celah. Tapi Baekhyun berharap Chanyeol belum pernah mendengar tentang yang satu ini. Teleponnya berbunyi tanda sms.
Tidak. Sedang berburu perhiasan?
xxx Hippo
"Baekhyun, kau di sana?"
Itu Mel. Baekhyun menyiram toilet yang tidak terpakai dan keluar.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Mel. "Ya."
"Kau terlihat sedikit pucat."
"Aku baik-baik saja."
"Aku membawa ini untuk kau pakai. Ngomong-ngomong bra yang bagus. Darimana kau mendapatkannya? Apa Chanyeol membelikannya untukmu?"
"Tidak." Mel menawarkan Baekhyun salah satu dari atasannya, sesuatu yang mengerikan dengan bunga merah dan kuning. Baekhyun menggigit bibirnya untuk menghentikannya ekspresi ngerinya.
"Terima kasih."
"Kau bisa pulang jika kau ingin."
"Kurasa aku lebih suka bekerja." Baekhyun memakai atasan itu dan bersandar di bak pencuci untuk Melihat wajahnya yang pucat. Seorang pelarian dari masa lalunya balas menatap.
Mel membuka pintu.
"Lagipula itu tidak akan berlangsung lama. Mereka akan berakhir dengan orang sepergaulan mereka sendiri. Orang-orang seperti kita adalah sensasi murahan."
Ejekan itu lebih menyakitkan daripada tusukan di punggung. Apakah itu Baekhyun bagi Chanyeol? Sebuah sensasi murahan? Mungkin ini adalah sebuah ujian. Apa yang akan Chanyeol lakukan ketika ia mendengar apa yang terjadi?
Mengambil napas dalam-dalam, Baekhyun masuk ke ruang makan. Ada lebih banyak pelanggan daripada sebelumnya. Setiap kursi terisi dan orang-orang masih berbaris di luar. Baekhyun bertanya-tanya berapa lama lagi akan seperti ini sebelum Mel memutuskan penghasilan tambahan itu tidak layak diributkan. Crispies akan kehilangan pelanggannya dan orang-orang bermuka bodoh ini akan pergi setelah mereka menyadari bahwa mereka tidak akan dianggap di dalam flypast* yang spektakuler oleh kontingen akting Barat.
Baekhyun terus Melanjutkan pekerjaannya, tersenyum dan berkata sesedikit mungkin. Punggungnya terasa nyeri, tapi itu bukan masalah besar. "kau baik-baik saja?" yang terus-menerus jauh lebih mengganggunya.
Baekhyun tidak suka ketika orang membuat kehebohan. Sisi positifnya, Baekhyun mendapat tip yang besar.
Ketika dia Melihat dua polisi berjalan masuk, Baekhyun mengerang dalam hati. Tiffany sudah lama pergi, tidak diragukan lagi untuk mengungkapkan semuanya, termasuk payudaranya, dengan reporter dari The Star.
Baekhyun bertanya-tanya apa dia harus menelepon Chanyeol dan memperingatkan dia, atau mungkin ia harus menelepon Kwangsoo.
"Byun Baekhyun?" Salah satu polisi bertanya pada Lois.
Polisi itu tidak perlu bertanya. Semua mata tertuju pada Baekhyun. Setiap telinga berusaha mendengarkan.
"Apa ada tempat kita bisa bicara?" Kata polisi itu.
Mel membiarkan mereka menggunakan kantornya. Baekhyun tidak berniat mengajukan tuntutan, tapi ia tahu itu tidak terserah padanya. Pada saat Baekhyun selesai bicara, ia berharap telah meyakinkan mereka segala sesuatunya tidak layak untuk dihiraukan, tapi Baekhyun meragukannya. Mereka ingin Baekhyun pergi ke rumah sakit, namun Baekhyun menolak. Saat polisi pergi, serombongan lain dari para wartawan dan fotografer tiba.
Baekhyun tak tahu bagaimana Chanyeol bisa tahan. Kenapa orang-orang begitu terobsesi dengan selebriti? Mengapa mereka merasa berhak untuk tahu rincian setiap menit kehidupan mereka? Mereka menginginkan tur di rumah mereka, memeriksa toilet mereka, mengintip di lemari es mereka. Itu seolah-olah mereka merasa punya hak untuk tahu. Baekhyun tahu dia telah membuat dirinya tidak populer dengan menolak untuk bicara dengan siapa pun.
"Berapa lama anda telah berkencan dengan Chanyeol?"
"Apa ini jebakan? Publisitas untuk film berikutnya?"
"Apa anda hamil?"
Ya Tuhan!
"Bicaralah kepada kami, Baekhyun. Kami akan menulis tentang anda walaupun anda mau bicara dengan kami atau tidak. Tidakkah anda ingin memastikan bahwa kami telah Melakukannya dengan Benar?"
Baekhyun tahu surat kabar akan mencetak keBenaran mereka, bukan keBenaran miliknya dan memutuskan cukup adalah cukup.
"Tony, bisakah aku pulang?"
"Tentu saja bisa. Kau harusnya pulang lebih awal. Persetan kau harus pergi ke rumah sakit dan aku mengalami waktu yang sulit meyakinkan diriku sendiri bahwa aku Melakukan hal yang Benar dengan tidak membuatmu kesana. Ambil libur sebanyak yang kau butuhkan. SeBenarnya, ambil libur selama sisa minggu ini. Menyelinaplah lewat jalan belakang. Aku yang akan menyelesaikannya dengan Yang Mulia."
Setelah Baekhyun mencapai Taman Greenwich dengan selamat dan tahu tak ada yang mengikuti, dia rileks meskipun ia memiliki kecurigaan yang mengerikan akan ada pers yang lebih banyak di luar apartemen. Baekhyun berjalan di sepanjang jalan sampai ia menemukan bangku kosong, lalu duduk dan mengambil teleponnya. Nomor Chanyeol diluar jangkauan. Baekhyun Meletakkan telepon kembali ke dalam tasnya. Dia tidak punya orang lain untuk dihubungi.
Ini adalah apa yang seharusnya menjadi seperti Chanyeol, dikejar tanpa henti, tidak pernah diizinkan untuk menjadi dirinya sendiri kecuali di dalam rumahnya. Bahkan kemudian Chanyeol tidak aman. Kemungkinan lain Tiffany dalam bayang-bayang membuat Baekhyun khawatir. Chanyeol selalu akan difoto, pada hari libur, di bioskop, di restoran, bahkan di supermarket. Saat ia menjadi tua, jika ia sedang sakit, jika ia kehilangan celananya, akan ada seseorang yang siap untuk mengabadikan momen tersebut. Jika Baekhyun tinggal bersama Chanyeol, itu yang akan menjadi hidupnya, juga.
Baekhyun memejamkan mata dan memiringkan wajahnya ke matahari. Baekhyun bisa menghindar dari semua ini tapi Chanyeol tidak bisa. Mungkinkah keduanya berurusan dengan itu lebih baik daripada sendiri? Ponselnya berdering dan membuat Baekhyun terkejut. Itu bukan Chanyeol.
"Di mana kau?" Tuntut Kwangsoo. "Berjalan ke rumah lewat Taman Greenwich."
"Jangan bicara dengan siapa pun. Langsung kembali ke apartemenmu dan tunggu aku." Baekhyun hendak bertanya mengapa, tapi Kwangsoo menutup telepon. Kwangsoo Benar tentang pers. Ketika Baekhyun berbelok di tikungan terakhir, dia Melihat beberapa fotografer menunggu di luar pintu masuk. Mereka berdiri mengobrol sampai mereka Melihatnya dan kemudian mengerumuninya seperti burung nasar. Baekhyun menutup telinganya dan mendorong langsung Melewati. Itu tidak ada gunanya mengkhawatirkan foto sekarang. Wajahnya sudah ada di koran. Jika Baekhyun akan ditemukan, dia pasti ditemukan.
.
.
.
Kwangsoo tidaklah yakin apakah ini adalah kesempatan untuk membuang Baekhyun menjauh dari Chanyeol. Ini belum menjadi apa yang ia rencanakan, jadi mungkin dia akan menjaganya untuk cadangan dan Melihat bagaimana ini akan mengalir. Baekhyun cukup menyenangkan, tapi tidak ada nilai untuk Chanyeol dan oleh sebab itu tidak ada nilai untuk Kwangsoo. Kwangsoo sudah bertanya lagi tentang penyelamatan-hidup Chanyeol, tetapi ia menolak untuk membicarakannya. Bahkan, ia lebih atau kurang mengancam bahwa jika Kwangsoo menyebutnya lagi, Chanyeol akan mencari agen lain. Kwangsoo tidak mampu kehilangan dia, tidak sekarang saat ia mendapat peran dalam The Green dan apalagi setelah percakapan Kwangsoo baru-baru ini dengan Im Nana. Ketika sekretarisnya mendapat panggilan telepon, Kwangsoo tidak percaya itu Nana.
Pada saat mereka selesai berbicara, hidup yang baru terbuka di depan Kwangsoo. Dia sudah menjalani menjadi agen yang sukses, tetapi memiliki Im Nana dalam daftarnya akan memindahkannya menjadi big-time. Mega-time. Nana menginginkan Chanyeol dan jika Kwangsoo bisa memberikan dia padanya, Nana akan meninggalkan agennya dan tanda tangan dengan Kwangsoo. Mudah dan sederhana. Satu hadiah untuk hadiah yang lain.
Kecuali sejauh yang Chanyeol perhatikan, tidak ada yang pernah bisa mudah dan sederhana. Namun, Kwangsoo berpikir, semua yang Chanyeol perlu lakukan adalah tinggal bersama Nana cukup lama baginya untuk ditarik ke dalam kontrak kedap air dan kemudian mereka bisa putus. Kwangsoo agak terkejut Melihat semua pers di luar blok Baekhyun. Kwangsoo pikir dia telah sepenuhnya waspada pada cerita Victoria, tapi ia bisa Melihat kata-kata telah menyebar. Dia sedikit kesal dengan Malcolm Ward karena Kwangsoo mengira ia merahasiakan keBenaran setelah Chanyeol setuju untuk Melakukan konser amal pada bulan September. Mengingat Chanyeol telah meniduri istri Malcolm dan kedua putrinya, Kwangsoo mengira pria itu tidak memberi hukuman dengan enteng pada Chanyeol, namun Kwangsoo tidak menduga Victoria untuk membuat tsunami sendirian.
Apa nama pepatah tentang wanita yang mencemooh? Victoria adalah bom waktu berjalan. Kwangsoo menghubungi Baekhyun untuk membuka gerbang elektrik sehingga ia bisa menyetir masuk dan kemudian kembali ke pagar. Bangkai tinggal di luar. Pers tahu tempat mereka. Kwangsoo telah membuat beberapa panggilan telepon tentang pelanggaran privasi Chanyeol dan mencetak beberapa poin untuk tidak mengejar materi, tetapi membuatnya jelas Melakukan pelanggaran lagi di properti pribadi berarti masalah yang serius. Itu adalah tindakan penyeimbangan. Kwangsoo membutuhkan pers sebanyak pers membutuhkannya.
"Hei, Kwangsoo, bagaimana kalau wawancara eksklusif?" panggil seseorang.
"Untuk apa?" Tanya Kwangsoo, berharap seorang idiot akan memberinya petunjuk. Dia berharap itu tidak ada hubungannya dengan Victoria, jika tidak, ia bisa mencium selamat tinggal pada kontrak Im Nana.
"Apa dia Benar-Benar memiliki anak Chanyeol?" Salah satu wartawan berteriak. Sesuatu meringkuk di dalam dadanya, tapi wajah Kwangsoo tidak menunjukkan apa-apa.
"Chanyeol sendiri masih anak-anak," kata Kwangsoo sambil tertawa paksa pada upaya lemahnya pada lelucon itu saat ia bergegas ke dalam gedung.
"Sial," gumamnya Melalui gigi terkatup saat ia Melompat menaiki tangga.
"Sialan, sialan, sialan."
Baekhyun membuka pintu.
"Apakah itu Benar?" Desak Kwangsoo.
"Apa?" Kwangsoo Melangkah masuk dan membanting pintu di belakangnya.
"Tentang bayi itu?" Kwangsoo menatap mata Baekhyun.
Baekhyun memucat dan bergerak mundur.
"Chanyeol bilang dia tidak mengenalnya."
Sekarang Kwangsoo adalah satu-satunya yang bingung.
"Siapa?"
"Tiffany Samuels." Kwangsoo menempatkan kepingan puzzle bersama-sama dan mendapat jawaban yang Benar, meskipun ia tidak terlalu yakin tentang pertanyaannya. Kwangsoo tahu Tiffany.
Dia adalah salah satu penggemar Chanyeol yang paling setia. Terlalu setia. Dan penggemar, itu bukan kata yang tepat. Dia lebih seperti penguntit yang terobsesi. Tiffany sudah menjadi fuckwit paling gigih, menJengkelkan dan histeris yang pernah Kwangsoo temui dan ia akan menemukan lebih dari bagiannya secara adil. Tiffany mencoba segalanya untuk mencari tahu di mana kegiatan Chanyeol pada hari tertentu agar ia bisa muncul juga.
Begitu mereka menyadari Tiffany seperti apa, karyawan Kwangsoo tahu lebih baik daripada untuk mengatakan apapun padanya. Tiffany tidak pernah berada di dekat Chanyeol. Kwangsoo menduga ia Melihat koran pada hari Minggu, membaca Baekhyun bekerja di sebuah restoran di Greenwich dan menjadi proses penyisihan yang sederhana untuk Melacak Baekhyun.
"Apa yang dia inginkan?" Tanya Kwangsoo. Dia mendengarkan cerita Baekhyun.
"Apa kau bicara dengan siapa pun? Tidak mengatakan apapun kepada siapa pun sama sekali?"
"Aku sudah bilang apa yang terjadi. Aku tidak mengatakan apa-apa. Kalau begitu apa Chanyeol kenal dia?" tanya Baekhyun.
Kwangsoo tidak Melewatkan fakta bahwa tingkat kecemasan Baekhyun sudah naik satu atau dua derajat. "Ya, dia salah satu fans yang paling bersemangat, seorang gadis yang Benar-Benar baik."
"Apa Chanyeol keluar dengan dia?" Kwangsoo memastikan Baekhyun Melihat kemerosotan bahunya.
"Baekhyun, aku tahu kau tidak ingin mendengar ini, tetapi hubunganmu dengan Chanyeol akan berakhir dengan Bencana. Semua hubungan itu berakhir dengan Bencana dan kaulah yang akan terluka. Chanyeol tidur dengan wanita yang berbeda setiap minggu. Aku baru saja berbicara pada salah satu dari mereka di telepon memberitahuku bagaimana Chanyeol tidur dengan dia dan kedua putrinya."
"Chanyeol bilang padaku tentang itu."
Kwangsoo terkejut. "Apa yang dia belum tahu adalah bahwa Victoria mengancam untuk pergi ke surat kabar kecuali Chanyeol mau mengakui bahwa dia seorang pecandu."
"Dia sudah berhenti dari coke dan rokok. Dan dia tidak memiliki masalah dengan alkohol. Dia tidak minum," kata Baekhyun.
Kwangsoo tertawa. "Yang Victoria maksud adalah bahwa Chanyeol seorang pecandu seks."
"Oh."
"Chanyeol tidak bisa menahan dirinya sendiri, Baekhyun. Dia tidak akan berubah."
"Dia bisa. Dia sudah berubah." Kwangsoo memasang senyum pemahaman terbaik.
"Ini hanya affairnya yang lain yang singkat dan penuh gairah, Baekhyun, tidak lebih. Kau sudah menjadi pengaruh yang baik pada dirinya, tetapi itu tidak akan bertahan. "
Kwangsoo Melihat mulut Baekhyun menegang. "Hei, lihat sisi baiknya. Bersama dengan Chanyeol telah membuatmu sangat dikejar-kejar. Kau bisa memiliki kencan setiap malam minggu." Kwangsoo meringis..
Pandangan cemberut mengatakan kepada Kwangsoo bahwa itu bukan hal yang tepat untuk dikatakan. Cepat ubah topik pembicaraan.
"Apa kau sudah membuat seleksi pakaian dalam untuk kutunjukkan pada temanku?" Baekhyun membawanya keluar dari kamar tidur cadangan dan membungkusnya dalam beberapa plastik supermarket.
"Hebat, aku akan menghubungimu," kata Kwangsoo. Kwangsoo tertawa saat dia berjalan menuruni tangga. Hal ini seharusnya tidak bisa diselesaikan dengan lebih baik. Ada kebingungan yang menarik saat ia membuka pintu luar.
"Bukankah seharusnya Baekhyun berada di rumah sakit?"
"Apakah Chanyeol datang untuk Melihatnya?"
"Hei, Kwangsoo. Bagaimana perasaan Baekhyun?"
Itu hanya sesaat kemudian Kwangsoo menyadari bahwa ia bahkan tidak menanyakannya pada Baekhyun.
.
.
*penerbangan pada ketinggian rendah (biasanya dari pesawat militer) di atas para penonton yang ada di tanah
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Terimakasih untuk yang selalu setiaa revieww^^
Viewnya banyak tapi yang review dikit hihi:33 Emg lebih enak baca sihh apalagi kalo ngebut dari chapter 1 langsung sampe chapter 10 ini:pp
Buat ChanBMine memang sih, karena ini novel terjemahan jadi kata-katanya juga baku bangettt. terus pastinya banyak kata-kata yang baru yang kita temuin. itulah asiknya baca novel terjemahan:** Lanjutin terus bacanya yaaa jangan lupa review juga hehehe
Ini sudah chapter 10. Remake ini bakalan selesai di chapter 16^^ So, 6 chapter lagi~~~
So, review?
Byunnerate
