Testosterone Attack!

Chapter 10

Naruto © Masashi Kishimoto

magnifiken

.

.

.

Hanya suatu malam yang tenang dan damai di Konohagakure. Angin berhembus sepoi-sepoi menyebabkan ranting pepohonan bergerak malas. Suasana jalanan yang lumayan ramai oleh beberapa kendaraan yang meliuk-liuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi berjejalan di jalan raya. Hanya itu saja, tidak ada yang spesial.

Di antara penghuni jalanan malam itu terdapat sebuah mobil abu-abu metalik Bawn Speeder XI sedang melaju dengan kecepatan konstan. Bemper depan mobil itu ringsek, bagian samping bemper terdapat potongan sisa-sisa sampah plastik, spion kirinya hilang entah kemana, di bagian belakang juga terdapat 'luka' penyok, dan terdapat aksesori absurd berupa potongan besi sebuah kotak pos –yang entah milik siapa—bertengger mesra kecantol di kipas kaca belakang mobil.

Uzumaki Naruto, sang pengemudi mobil unyu tersebut sedang terfokus pada jalanan di depannya. Sudah 60 menit dia meninggalkan mobil sedan mewah yang tadi mengekorinya, sudah 60 menit pulalah dia hanya menekuk wajahnya. Senyum menjadi barang mahal bagi Naruto saat ini.

Sedangkan dua orang yang duduk jok sampingnya hanya saling berpandangan canggung dengan keadaan Naruto yang mengajukan protes diamnya ini.

Sasuke membuka suara. "Naru…"

"Sejam lalu aku hanyalah seorang warga Konoha yang baik!" curhat Naruto setengah berteriak. "Aku tidak pernah berurusan dengan anbu, aku tidak pernah melanggar hukum sekalipun. Tapi sekarang? Lihatlah aku! Aku seperti seorang teroris! Merusak rumah orang, menghajar pemilik rumah, merusak mobil teman, merusak pagar, melarikan anak orang, merusak properti umum!"

Sasuke dan Sakura terdiam.

"Itu semua gara-gara kau!" teriak Naruto.

"Maafkan kami, Naruto." kata Sakura pelan.

"Kami mencintaimu, Naruto." kata Sasuke.

"Bullshit!" pekik Naruto sambil memacu mobil Shikamaru yang menyedihkan menuju suatu tempat. Entah dimana, Sasuke dan Sakura takut untuk bertanya karena Naruto sedang dalam mode Kyuubi saat ini.

.

.

.

Terpisahkan beberapa kilometer –47,3 kilometer tepatnya, Uchiha Itachi memarkir mobil Jeep hitamnya di depan rumah tingkat dua berloteng dan bercat putih kusam. Putra sulung Uchiha Fugaku menoleh ke samping, tempat sang Ayah duduk. Mereka berpandangan heran melihat halaman rumah itu porak poranda.

Itachi membuka pintu mobil dan diikuti sang Ayah.

"Ini rumah sewa Sasuke, Ayah." kata Itachi.

"Ya…" jawab Fugaku. "Aku ingat saat kemari mengikuti Sasuke dulu. Sepertinya sedikit berubah, apa yang terjadi pada rumah ini?" tanya Fugaku heran disambut gelengan kepala Itachi.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu depan rumah. Rasa penasaran mereka semakin bertambah saat melihat pintu depan rumah itu rusak seperti habis dibuka paksa, kenopnya berlubang, dan lubang kuncinya koyak. Itachi membuka pelan pintu tersebut, namun daun pintu itu malah terlepas dari dua engselnya dan jatuh terjerembab ke lantai, menimbulkan suara dentuman kayu membuat Itachi melompat kaget.

Fugaku dan Itachi terpana melihat pemandangan rumah di dalamnya. Buku berserakan dan terdapat pecahan kaca keramik dan kaca bening meja ruang tamu. Saat masuk lebih dalam, mereka menemukan sofa ruang tengah terbalik dari tempatnya, terdapat beberapa kertas berhamburan di lantai, pintu-pintu kecil lemari kayu terbuka menunjukkan isinya yang kosong, di dapur terdapat ceceran peralatan plastik dan bahan logam berhamburan di lantai kayu yang basah akibat adanya jejak-jejak air yang mengarah pada kamar seseorang.

Itachi dan Fugaku berpandangan. Sayup-sayup terdapat suara seseorang sedang menangis –dan suara kipas angin. Itachi merinding seketika. Fugaku mengikuti suara tersebut berasal dari salah satu kamar yang terletak di sebelah lorong rumah itu. Mereka berdua melongok pada kamar yang pintunya terbuka lebar tersebut.

Tampak di retina mereka, seorang pria berambut perak, acak-acakan, sedang memunguti buku-buku yang lembek seperti telah tersiram air satu ember. Pria muda itu menangis sambil mengangin-anginkan lembaran demi lembaran dari bukunya yang basah di depan kipas angin sambil sesenggukan.

"Mereka kejam sekali padaku…" tangisnya.

Itachi dan Fugaku saling bertukar pandang heran.

"E… Kakashi-san?" Itachi menyembul di balik pintu membuat Kakashi menoleh, menunjukkan matanya yang bengkak.

"Hiks… siapa?" tanya Kakashi.

"E…permisi." Itachi membungkuk. "Sashiburi desu, saya Uchiha Itachi."

"Aaak! Itachi-san!" Kakashi bangkit. "Maaf sejenak tidak mengenali anda. Sudah lama tidak bertemu." Kakashi membungkuk.

"Saya kemari bersama Ayah saya. Uchiha Fugaku." Itachi memperkenalkan Fugaku. Fugaku dan Kakashi membungkuk singkat satu sama lain.

"Apa yang terjadi di rumah ini?" tanya Fugaku.

Kakashi terdiam dan kembali mewek meratapi koleksi novel deluxe Icha Icha Paradise-nya yang basah tersiram air.

Itachi dan Fugaku sedikit takut dan mundur dari Kakashi.

"Ini semua gara-gara mereka…" Kakashi menyapu air matanya. "Rumahku hancur gara-gara mereka. Bahkan aku terpaksa menggunakan linggis untuk membuka pintu depan yang dikunci mereka tadi. Untuk pintu loteng tidak dikunci juga. Mereka merusak pagarku dan mereka juga merusak novelku…" kata Kakashi curhat.

"Mereka siapa?" tanya Itachi penasaran.

Kakashi menghela nafas. "Sasuke, Sakura, Naruto…"

Bapak dan Anak itu melotot mendengar nama seseorang yang berasal dari keluarganya.

"Kami sedang mencari Sasuke! Dimana Sasuke? Dia tadi kemari? Dimana dia sekarang?" tanya Fugaku.

Kakashi menggeleng sambil berusaha menahan tangis karena novelnya yang tak kunjung kering.

"Sasuke sudah pergi. Dia sudah meninggalkan rumah ini."

"Kemana?!" teriak Fugaku.

"Aku tidak tahu. Dia kabur bersama temannya yang gila dan gadis itu…"

"Gadis itu?!" potong Fugaku.

Itachi membeku sesaat, teringat percakapannya dengan Sasuke tempo hari tentang kemungkinan Sasuke sedang berkencan dengan seorang gadis, yang telah membuat Sasuke betah tinggal di rumah Kakashi. Itachi menutup mulutnya, menyesal telah memberitahukan kalau Sasuke dijodohkan. Itachi tidak menyangka Sasuke akan bertindak senekat ini.

"Mereka kabur setelah merusak rumahku…" kata Kakashi.

Fugaku merasakan ada jangkar kapal mendarat di atas kepalanya. Begitu berat dan membuat kram otot kepalanya secara mendadak. Tangannya terkepal dan mencengkeram kedua pelipisnya sebelum akhirnya terjatuh ke lantai.

"AYAH…!" pekik Itachi.

.

.

.

Haruno Kizashi masih berkutat dengan ponselnya. Bapak satu anak itu berkali-kali membanting ponselnya lalu mengambil ponselnya lalu membanting lagi karena rasa kesal yang luar biasa. Dari tadi Kizashi berusaha menghubungi putri tunggalnya, namun nomor sang anak ternyata tidak diaktifkan. Kizashi mengacak-acak rambutnya kesal –lalu membanting ponselnya lagi.

Sedangkan sang asisten, Sishimaru, hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah laku bosnya. Mereka berdua sedang menepi di sebuah jalan raya karena kehilangan jejak mobil yang tadi mereka ikuti. Lagipula, mereka tidak bisa melanjutkan pengejaran lagi karena bemper mobil yang rusak parah dan ban mobil yang meletus hebat tadi.

Tiba-tiba terdapat mobil bertipe van berjalan dari arah berlawanan menepi mendekati mereka. Mobil itu berwarna hitam dengan kaca mobil yang juga berwarna gelap menghadang Kizashi. Kaca mobil asing itu digeser dari dalam dan keluarlah beberapa orang berperawakan tinggi besar, seperti Sishimaru, turun dari mobil tersebut.

"Tuan Kizashi." kata Sishimaru. "Mereka sudah datang."

Kizashi mengalihkan pandangan dari ponselnya, melihat gerombolan orang-orang itu mendekat ke arahnya.

"Kami langsung datang kesini begitu Tuan menelepon. Ada apa, Tuan?" kata perwakilan orang dari mobil van itu.

"Tolong lacak keberadaan putriku yang kabur bersama seseorang dengan nama Sakeuchi Aoyama." kata Kizashi parau.

"Gunakan salah satu pemancar televisi, tunda semua acara malam ini! Bilang pada mereka OneKOH TV sedang dalam perbaikan! Gunakan sinyal pemancar televisi untuk melacak posisi putriku dari GPS. Jika mereka sudah ditemukan, hubungkan dengan Interpol anbu." perintahnya tegas.

Gerombolan orang bertubuh besar itu masih tidak bergeming.

"Cepat lakukan, cuk!" teriak Kizashi gemas. Mereka semua terkesiap.

"Baik, Tuan! Laporan akan segera diterima!" ucap mereka lalu segera membubarkan diri dan menaiki mobil kembali.

Kizashi menghela nafas. Kepalanya nyut-nyutan.

"Mobil sedan ini kan tidak bisa berjalan lagi, Tuan." kata Sishimaru. "Kenapa kita tidak ikut dengan mereka untuk pulang ke kantor pusat?"

Kizashi terbelalak. Demi apa, Kizashi tidak menyadari mereka sedang terdampar di jalanan karena mobil mereka sedang cedera serius.

"Oiii, kembali. Oiiiii…!" Kizashi berbalik dan meneriaki mobil van hitam yang sudah melaju dan berjarak lumayan jauh dari dirinya. Tentu saja mobil itu tidak kembali.

Kizashi pingsan –sudah lelah dengan kenyataan.

"TUAN KIZASHI…!" pekik Sishimaru.

.

.

.

Naruto masih gondok setengah mati dengan Sasuke dan Sakura. Pemuda tan berambut cerah jabrik itu berbelok menyusuri jalanan asing yang tidak diketahui Sasuke dan Sakura. Mobil renyek Shikamaru menyusuri jalanan dan memasuki kawasan salah satu distrik Hoshon –salah satu distrik sipil istimewa di Konohagakure yang disanalah berdiri kantor pusat pemerintahan Hokage.

Sasuke dan Sakura saling berpandangan tidak mengerti mengapa Naruto membawa mereka ke distrik seperti ini. Pemandangan pun berganti dengan deretan rumah dinas dan rumah residential di kanan kiri jalan yang bergaya Konoha klasik. Naruto memasuki sebuah halaman luas dari salah satu bangunan di jalan tersebut. Tanpa banyak cakap Naruto memarkir mobil di salah satu bagian halaman yang luas tersebut dan mematikan mesin mobil.

"Turun." perintah Naruto singkat.

"Ini dimana?" tanya Sasuke.

"Rumahku." jawab Naruto.

"HAH?!" Sasuke dan Sasuke berteriak kaget.

Naruto membuka pintu mobil dan diikuti Sasuke dan Sakura. Kedua sejoli itu takjub dengan rumah Naruto. Rumah tradisional seperti istana kerajaan kuno tersebut memanjang membentang seluas halaman yang ditumbuhi rumput mutiara. Lantai dan dinding terbuat dari kayu yang dihiasi dengan dengan lampion dengan huruf-huruf kanji kuno. Terdapat banyak tanaman bonsai yang anggun terletak di beberapa sudut rumah dan halaman. Rumah yang dihiasi beberapa material sederhana namun berkelas, rumah yang menenangkan.

"Ayo masuk." ajak Naruto.

"Ini rumahmu?" tanya Sasuke sekali lagi.

"Iya..." kata Naruto.

"Aku tidak menyangka. Kukira kau tinggal di kolong jembatan atau semacamnya."

"Tidak sopan!" semprot Naruto.

Naruto memasuki pintu utama rumah tersebut dan membuka pintunya. Sasuke dan Sakura menganga melihat interior di dalam rumah itu. Terdapat lambang spiral di dalam bentuk bulatan yang menjadi lambang keluarga itu, Uzumaki, terbentang di kertas kanji khusus dan dipajang di ruangan depan. Terdapat juga kursi kayu kuno, meja kuno, lemari kayu kuno yang menyimpan benda prasejarah seperti : tombak. busur panah, anak panah, dan tulisan kanji kuno suatu mantra. Sasuke merasa rumah ini disebut sebagai museum yang indah, daripada rumah.

"Tuan muda?" sapa seseorang berbadan langsing dan tegap.

"Yo, Kurama!" Naruto nyengir pada pria bermata tajam itu. "Mereka berdua temanku. Siapkan air hangat untuk mereka mandi. Jangan lupa siapkan makan malam juga."

Pria bernama Kurama itu membungkuk hormat dan berbalik.

"Tunggu dulu! Kurangi garam kalau memasak, masakanmu tempo hari terlalu asin!" kata Naruto.

"Baik, tuan muda." kata Kurama patuh.

Saat pria itu sudah pergi, Naruto berjalan menuju suatu ruangan lain. Ruangan dengan beberapa sofa berwarna oranye yang dikelilingi lemari kayu yang memuat bingkai-bingkai berisi foto kuno keluarga Naruto. Naruto menghempaskan diri duduk si salah satu pojok sofa setelah melempar kunci mobil Shikamaru ke atas meja.

"Duduklah." Naruto mempersilahkan kedua temannya yang masih terbengong-bengong melihat rumah Naruto.

"Rumahmu keren sekali, Naruto." kata Sakura sambil duduk setelah melepaskan tas ranselnya.

"Sebenarnya ini rumah Ibuku." kata Naruto.

"Ibumu?" Sasuke duduk di samping Sakura.

"Yup. Ini rumah warisan dari keluarga ibuku, Uzumaki. Setelah Ibu meninggal, rumah ini diwariskan padaku. Karena itulah aku berganti marga."

"Kau memiliki rumah seluas ini tapi malah menyewa kamar di rumah Kakashi?" tanya Sasuke.

"Rumah ini terlalu sepi." keluh Naruto. "Ayahku juga sibuk bekerja sebagai pengacara di Sunagakure dan memiliki tempat tinggal disana. Walaupun terkadang Ayah pulang ke rumah ini, tapi aku masih merasa kesepian. Hanya ada beberapa pelayan. Dan pelayan yang paling dekat denganku ya si Kurama itu tadi."

"Cukup denganku." kata Naruto. "Sekarang ceritakan masalah kalian!" pintanya pada Sasuke dan Sakura. Kedua orang itu saling berpandangan, saling bertanya siapa yang akan bercerita terlebih dahulu.

"Hn, Baiklah." kata Sasuke menghela nafas. "Aku, jujur saja, aku ingin kabur dari rumah."

"Kenapa?" tanya Sakura.

"Di keluargaku ada semacam tradisi aneh." Sasuke curhat. "Ayah dan Ibuku menikah karena dijodohkan, Itachi juga akan menikah karena proses perjodohan, dan aku juga akan bernasib sama."

Sakura dan Naruto terbelalak.

"Aku paham –maksudku, kami, para lelaki dari keluarga Uchiha tidak terlahir untuk bisa mengerti perempuan dan semacamnya. Pikiran itulah yang mungkin menjadi landasan para orang tua di keluarga Uchiha untuk mencarikan pasangan bagi anak-anak mereka."

Sakura terhenyak. "Sasuke, jangan bilang kalau kau sudah…"

"Tidak. Aku belum bertemu dengan gadis itu." kata Sasuke. "Ayahku sudah merencanakannya sejak lama, tapi aku baru tahu dari Itachi. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, gadis tipe keluargaku itu berasal dari keluarga dokter kenalan Ayahku dan semacamnya."

Sakura melotot.

"Lalu kau menolak?" tanya Naruto.

Sasuke menggeleng. "Aku masih belum tahu. Aku bingung."

"Kalau Sakura-chan?" tanya Naruto beralih pada Sakura.

"Aku? Ayah dan Ibu ingin aku berkencan dengan seorang ikemen." katanya pelan.

Sasuke mendelik cemburu. "Bagaimana bisa?!"

"Aku tidak tahu. Ayah dan Ibu kompak mempertemukan aku dengannya. Tapi aku menolak dan sampai sekarang belum tahu siapa dia."

"Bagus untukmu, Sakura." kata Sasuke pelan.

"Hmmm… kadang orang tua memang seenaknya sendiri." kata Naruto. "Kenapa kisah kalian rumit sekali? Dulu, kalian selalu bertengkar. Sekarang, setelah rukun malah ada cobaan pihak ketiga dan keempat seperti ini." keluh Naruto. "Lantas apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Aku akan pergi ke Otogakure besok lusa." kata Sasuke.

"Besok lusa?!" tanya Sakura dan Naruto berteriak.

"Semua kamar mandi sudah siap, Tuan Muda." suara tajam Kurama menginterupsi.

"Oh, oke… Kalian mandilah dulu, setelah itu makan malam. Kita bicarakan ini nanti." kata Naruto berusaha menurunkan tensi suasana. Sasuke dan Sakura hanya bisa menurut pada tuan rumahnya.

.

.

.

Uchiha Sasuke sedang duduk termangu di lantai kayu beranda rumah Naruto. Badannya yang segar sehabis mandi terbungkus yukata tipis membuatnya terlihat tampan. Pandangannya menyapu halaman belakang yang berkerikil yang sengaja disusun secara asimetris, mengeliling bebatuan dan kolam ikan, dan juga pohon maple yang kerumunan daunnya berhasil menjaring sinar bulan purnama di malam hari. Sasuke menghela nafas galau. Dia sudah mendapatkan Sakura, dia sudah mendapatkan kesempatan beasiswa, dia sudah bisa mengejar mimpinya sedikit lagi. Tapi semunya harus dibayarnya dengan mengambil keputusan yang sulit.

Mendadak hidung Sasuke menangkap aroma cherry segar yang berpadu dengan bau bunga gladiol dan bau kue lapis legit. Ada tangan dingin yang menutup kedua matanya dari belakang. Sasuke tersenyum simpul.

"Aku tahu itu kau, Sakura." kata Sasuke.

"Ck! Kau tidak seru." Sakura melepaskan tangannya dari mata Sasuke dan duduk di sampingnya. Sakura juga mengenakan yukata seperti Sasuke. Rambut gadis itu masih sedikit basah.

Sasuke memperhatikan wajah Sakura. Mata gadis itu sedikit bengkak dan memerah. Pasti gadis itu habis menangis.

"Sakura?"

"Ya?" Sakura menoleh.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena kau sudah mau menemaniku. Maafkan aku atas apa yang kulakukan padamu dan ayahmu. Aku berpikir pendek sekali tadi."

Sakura termangu.

"Aku hanya ingin bersamamu." kata Sasuke.

"Aku juga ingin bersamamu, Sasuke." kata Sakura.

"Kupikir aku harus menemui orang tuamu dan menjelaskan hubungan kita." kata Sasuke.

"Ayahku ini seram lho, Sasuke." kata Sakura pelan.

"Aku sangat bingung menyelesaikan perkara ini. Jika aku meyakinkan keluargaku, mungkin saja bisa. Tapi aku masih belum yakin kalau harus menemui keluargamu, walaupun aku ingin. Aku belum memiliki modal apapun." kata Sasuke lalu beralih pada Sakura. "Jika dibandingkan dengan ikemen pilihan Ayahmu, aku pasti kalah jauh."

"Bagaimana kau bisa berpikir kalau keluargamu akan menerimaku begitu saja? Gadis pilihan Ayahmu pasti modis, anggun, cantik seperti putri, dan sangat-sangat Uchiha. Aku pasti tidak selevel dengannya." kata Sakura sendu.

"Oh ya? Apa yang mereka tahu tentang seleraku? Gadis itu tidak akan sesempurna itu. Dia mungkin adalah gadis kaku, kutu buku, dan pengoleksi anatomi kodok menjijikkan." seloroh Sasuke.

"Dan ikemen itu. Coba bayangkan dia, mungkin dia lebih tua lima tahun dariku. Seseorang yang kuno, dengan rambut klimis berminyak jelek, dan memiliki hobi aneh seperti Kakashi-san."

Sasuke tertawa. Sakura juga tertawa.

Sasuke menarik Sakura dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat, seolah tidak mau melepaskan gadis itu. Sakura memejamkan mata menyambut pelukan Sasuke yang hangat. Bau kayu manis dan citrus khas tubuh Sasuke membuatnya kangen karena sudah lama tidak menyapa indera penciumannya.

"Boleh aku ikut denganmu ke Otogakure?" tanya Sakura pelan.

Sasuke terdiam lalu melepas pelukannya perlahan dan memandang mata hijau zamrud Sakura.

"Aku kesana bukan untuk bersenang-senang, Sakura." kata Sasuke pelan.

"Sudah terlanjur melarikan diri bersama dirimu. Masa aku harus kembali ke rumah setelah kau pergi ke Otogakure besok lusa?" tanya Sakura.

Sasuke kembali terdiam. "Kau tahu, malam itu waktu aku ke kamarmu sebelum pergi dari rumah Kakashi, aku sudah membeli dua tiket untuk pergi ke Otogakure." kata Sasuke.

"Kau diam-diam merencanakan aku untuk pergi bersamamu ya?"

"Semacam itulah. Tapi aku masih bingung untuk mengajakmu. Sebenarnya aku tidak ingin mengajakmu karena…"

"Aku akan pergi bersamamu." potong Sakura.

Sasuke melihat mata hijau zamrud itu sekali lagi. Mata obsidiannya lagi-lagi takjub, karena tidak menemukan kebohongan disana. Sasuke mencium kedua mata Sakura lembut, berharap aura negatif dalam kepalanya akan segera hilang. Tanpa disangka, Sakura menarik kain yukata Sasuke untuk mendekat. Sasuke tidak sempat mencerna perlakuan Sakura, tapi dia yakin Sakura menciumnya posesif, melumat bibir Sasuke tanpa ampun, menunjukkan dominanasi.

Sakura memang terpesona dengan bibir Sasuke yang menawan.

Sasuke melepaskan bibirnya dari serangan Sakura. Sakura menariknya kembali.

"Saku –mmmph."

"Tidur bersamaku malam ini?" tanya Sakura manja setelah menyambar bibir Sasuke –berniat menggoda.

"Yang benar saja! Dalam mimpimu!" teriak Sasuke kemudian bangkit dan bergabung dengan Naruto yang sedang main PS Need For Speed di ruang tengah.

Lima menit berduaan dengan Sakura dalam keadaan habis mandi dan memakai yukata tipis bisa membuat Sasuke gila.

.

.

.

"Seperti biasa, masakan Kurama selalu asin." keluh Naruto setelah memakan sushi dan omusubi yang terhidang di meja makan sebagai sarapan. Naruto menyambar teh hijaunya.

"Tidak, kok." kata Sakura jujur sambil menjejalkan sushi dalam mulutnya, sedangkan Sasuke tidak berkometar apapun.

"Oh ya, Sasuke. Aku menghubungi teman-teman lain untuk datang kesini." kata Naruto. "Mereka khawatir dengan kalian."

"Teman-teman siapa?" tanya Sasuke.

"SAKURAAAA!" seorang gadis berambut pirang ber-ponytail menyeruak masuk ke dalam ruang makan dan langsung memeluk Sakura, membuat Sasuke kaget dan Naruto tersedak kaget.

"Ino?!" pekik Sakura. Tidak lama kemudian masuklah Hinata, Sai, dan Shikamaru.

"Bagaimana kalian bisa masuk?" tanya Naruto.

"Aku bertemu dengan Kurama-san di pintu depan, Naruto-kun. Dia mengizinkan kami masuk." kata Hinata. Hinata merupakan anak dari keluarga Hyuga yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan keluarga Uzumaki, terlebih Hinata dan Naruto adalah teman semenjak kecil, jadi wajar kalau Kurama mengenalnya.

"Tolong jangan katakan kalau rongsokan di depan rumah itu adalah mobilku." kata Shikamaru memegangi kepalanya.

"Hehe…" Naruto nyengir.

"Maaf, Shikamaru. Akan kuganti biaya perbaikannya." kata Sasuke.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kalian bertiga menghilang sejak semalam. Kakashi-san hanya menangis di kamar bersama bukunya." kata Sai. "Beberapa orang tak dikenal bahkan datang ke rumah dan menanyakan keberadaan Sasuke dan Sakura."

"Kami bingung mau menjelaskan dari mana…" Sakura menyentuh tengkuknya kikuk.

"Aku akan pergi ke Otogakure bersama Sakura besok pagi." kata Sasuke kesal dengan serangan pagi teman-temannya itu.

"EEEEEEEEEEHHHHHH?!" semua yang ada di ruangan itu menganga terkejut.

"Semalam kau tidak mengatakan apa-apa padaku, teme!" bentak Naruto.

"Apa yang terjadi?! Kau menghamilinya, Sasuke?" pekik Ino.

"Enak saja!" tukas Sakura tidak terima.

"Kenapa tiba-tiba?!"

"Apa yang terjadi?!"

"Aku akan dinikahkan dengan gadis lain pilihan keluargaku. Singkat cerita, aku menolaknya dan kabur." kata Sasuke.

"Aku juga akan dinikahkan dengan lelaki ikemen tua jelek oleh Papaku." kata Sakura.

"Penjelasan macam apa itu?!" protes Naruto.

"Kenapa harus Otogakure?" tanya Shikamaru.

"Aku sudah diterima kuliah dan magang disana. Aku juga mendapatkan gaji sewaktu magang. Jadi mungkin aku akan tinggal disana sementara waktu untuk menghindari keluargaku." kata Sasuke.

"Lalu bagaimana dengan kuliahmu, Sakura-san?" tanya Hinata.

"Mungkin aku akan mengurus surat transfer universitas jika bisa. Aku akan melanjutkan kuliahku di Otogakure. Jika tidak, aku akan mengambil cuti dan bekerja sementara waktu." jawab Sakura membuat Sasuke terdiam seribu bahasa.

"Kalian sudah merencakan ini?" tanya Ino.

Sasuke dan Sakura berpandangan. "Harusnya aku saja yang pergi, tapi Sakura ingin ikut dengaku."

"Aku juga tidak ingin kembali ke rumah sebelum Papaku membatalkan perjanjian perjodohan." kata Sakura.

Sasuke terdiam. Naruto merasakan ada sesuatu yang tidak beres bersarang di kepala Sasuke saat ini.

"Lalu orang tua kalian bagaimana?" tanya Sai.

"Aku akan kembali nanti setelah mereka berhenti merencanakan omong kosong perjodohan ini." kata Sasuke tajam dengan mata berkilat.

Mereka semua terdiam. Sasuke sangat menyeramkan jika sudah serius seperti ini.

.

.

.

Naruto menyuruh Shikamaru, Sai, Ino, dan Hinata untuk menginap. Pemuda jabrik greget itu menjadi sangat senang karena rumahnya mendadak menjadi ramai. Lagipula, Naruto tidak yakin kalau mereka semua pulang ke rumah Kakashi tanpa diinterogasi terlebih dahulu mengenai Sasuke dan Sakura. Naruto tidak mau mengambil resiko yang membahayakan Sasuke dan Sakura. Walaupun kadang membuat kesal dan emosi, Naruto ingin membiarkan Sasuke dan Sakura tenang sementara waktu sebelum pergi ke Otogakure. Yeah, Naruto hanya bisa berharap yang terbaik untuk mereka. Orang tua memang berhak memilihkan yang terbaik bagi anak-anaknya, tapi terkadang mereka membuat keputusan sepihak yang malah membuat sang anak tidak bahagia.

Malam ini, Naruto mencoba menetralisir keadaan. Tidak ada pembicaraan yang membahas perjodohan, kabur, masakan asin, dan hal-hal semacamya. Pemuda Uzumaki itu berusaha membuat suasana mancair dan hangat sejak makan siang karena dia menyadari bahwa Sasuke sedang tegang berat. Naruto hanya ingin membantu Sasuke sejenak rileks dan melupakan permasalahannya. Sejak makan malam dihidangkan Kurama, Naruto berusaha ngocol dan membuat suasana konyol, sedikit mirip di rumah Kakashi. Apa pun Naruto lakukan untuk membuat Sasuke tertawa. Setidaknya pemuda itu sempat tersenyum sekilas saat mendengar cerita lucu dari mulut comel Naruto.

Sakura juga begitu, tidak dipungkiri gadis musim semi itu sedang tegang berat. Dia memilih untuk menyendiri sementara di dapur dengan dalih akan mencuci perabotan setelah makan. Sakura membilas piring dengan setengah hati. Keadaan hiruk pikuk di ruang tengah akibat ulah Naruto yang sedang misuh-misuh karena kehilangan nyawa di war DotA bersama Sai dan Shikamaru tidak membantu menghibur hatinya.

Seseorang menepuk pundaknya pelan. Sakura menoleh dan mendapati teman SD-nya sedang memegang pundak kirinya.

"Ada apa?" tanya Sakura.

Ino menghela nafas. "Ibumu meneleponku." kata Ino pelan.

Sakura terbelalak. "Bagaimana bisa?"

"Aku tidak tahu Ibumu mendapat nomorku dari mana. Mungkin dari Kakashi-san. Ibumu juga sempat mengingatku karena kita dulu teman sekelas waktu SD."

"Apa yang dia katakan?" tanya Sakura.

"Ayahmu sakit, Sakura. Dia terkena tekanan darah tinggi atau semacamnya. Ibumu berpesan, jika aku bertemu denganmu, dia ingin kau pulang ke rumah."

"Bagaimana bisa aku pulang ke rumah jika untuk dinikahkan dengan seseorang tidak aku kenal?!" nada suara Sakura meninggi. "Papa selalu saja begitu. Dia selalu memaksakan kehendaknya padaku sejak dulu. Sampai aku harus pergi dari rumah demi berkuliah di jurusan yang aku sukai. Jika Papa mau sekali saja mendengarkan apa yang aku mau, aku tidak akan kabur seperti ini."

"Walaupun begitu dia kan tetap Papamu. Kau yakin akan pergi bersama Sasuke besok? Kalian kan belum menikah. Lagipula belum tentu disana kau bisa bekerja atau melanjutkan kuliah. Lalu bagaimana dengan Ayah dan Ibumu? Bagaimana…"

"Cukup, Ino." Sakura memotong pembicaraan Ino yang membuatnya terpojok. "Jangan diteruskan. Semua yang kau bicarakan, aku sudah memikirkannya di dalam kepalaku dan semakin aku memikirkannya aku semakin bingung dan tidak menemukan jalan keluar."

"Sakura…" Ino menatap Sakura yang menitikkan air mata dengan iba.

Tak jauh dari mereka, seseong sedang berdiri di balik kulkas. Tangannya yang memegang gelas terkepal erat. Sasuke keluar dari dapur dengan langkah pelan, melewati Naruto, Sai, dan Shikamaru yang berteriak heboh di depan layar game. Pemuda Uchiha itu duduk di beranda belakang. Merenung.

Air mata Sakura membuatnya mati rasa. Ini yang Sasuke paling benci dari perempuan. Melihat air mata mereka membuat Sasuke lemah dan tidak tega. Sasuke bertekad akan menuruti permintaan keluarganya. Namun kenyataan tidak berjalan mulus bagaikan ekspektasinya selama ini. Jika Ayah Sakura sampai sakit seperti itu, bagaimana dengan Ayah dan Ibunya sendiri? Apa Fugaku dan Mikoto baik-baik saja? Sasuke juga sudah membuat Sakura bingung dan menangis. Sumpah mati, Sasuke sangat mencintai keluarganya dan dia juga mencintai Sakura. Tidak ada keinginan dalam hati Sasuke untuk menyakiti mereka. Tapi, Sasuke ingin memiliki cara tersendiri untuk membuktikannya pada mereka semua. Untuk itulah Sasuke memutuskan pergi. Menanggung semuanya sendiri.

Sasuke harus pergi ke Otogakure. Bukan untuk melarikan diri seperti yang dikatakan pada teman-temannya, tapi untuk mengasah diri menjadi yang lebih baik dan mengejar mimpinya. Lebih baik bagi keluarganya dan bagi Sakura juga. Sampai dia kembali nanti.

Karena itulah Sasuke ingin menghabiskan waktu bersama Sakura sebelum dia pergi. Sasuke tidak peduli gadis itu akan membencinya suatu saat karena Sasuke melakukan ini demi kebaikan gadis itu. Diam-diam Sasuke merasa bersalah pada Sakura karena berbohong, dua tiket pesawat ke Otogakure yang dikatakannya kemarin malam hanyalah kebohongan belaka.

.

.

.

Uzumaki Naruto menguap lebar sambil menggaruk perutnya dan berjalan ke kamar mandi. Terlalu banyak minum air dan soda tadi malam membuat kandung kemihnya demo pagi-pagi untuk segera melaksanakan tindakan cuci gudang darurat. Padahal, mata Naruto sangat berat untuk dibuka, karena matahari baru terbit beberapa derajat dari sumbunya. Bisa dikatakan : ini masih sangat pagi.

Setelah membuang cairan beramonia itu, Naruto berjalan terseok-seok ke kamarnya kembali. Namun mata biru safir miliknya membulat dan membuka lebar-lebar saat menyaksikan sesosok manusia dengan ransel besarnya sedang mengendap-endap melewati ruang tengah.

"Aku tahu kau pasti berbohong tentang tiket itu." kata Naruto dengan suaranya yang serak khas bangun tidur, sedikit membuat sosok itu berjingkat kaget.

Sosok itu berhenti mendadak dan menoleh, menampilkan wajahnya yang terkejut.

"Kau pasti tidak serius membawa Sakura-chan ikut denganmu, ya kan Sasuke?"

Sasuke berdiri mematung ke tempatnya.

"Aku tidak mungkin membawanya."

"Kau sudah membohonginya!"

"Aku tidak punya pilihan."

"Sakura-chan sangat percaya padamu kalau kau benar-benar membeli dua tiket dan dia percaya padamu kau akan mengajaknya. Apa kau mengerti perasaannya?" tanya Naruto.

"Justru ini demi kebaikannya. Aku memang memintanya untuk menemaniku untuk sementara, sebelum aku pergi. Aku tidak ada niat untuk mengajaknya."

"Demi Tuhan, Sasuke. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?!"

"Aku pergi ke Otogakure bukan untuk bersenang-senang!" tukas Sasuke. "Aku disana kuliah dan magang. Lalu aku akan mencari pekerjaan kecil-kecilan untuk hidup. Kau pikir aku akan mengizinkan Sakura untuk hidup susah bersamaku?"

Naruto terdiam.

"Aku tidak peduli jika Sakura akan membenciku atau apa. Aku tidak mungkin mengajaknya bersamaku, Naruto. Keluarganya pasti akan tambah membenciku. Aku sudah berterima kasih padanya karena sudah menemaniku sebelum aku berangkat. Itu sudah lebih dari cukup."

"Lalu bagaimana dengan Sakura-chan setelah ini?" tanya Naruto.

"Sampaikan permintaan maafku padanya. Dia harus tetap tinggal." kata Sasuke sendu. "Kembalikan pada keluarganya sebelum dia berbuat nekat. Kudengar Ayahnya sedang sakit."

Naruto syok. "Bagaimana dengan keluargamu?"

"Aku pasti akan kembali. Aku pergi bukan berarti aku tidak peduli. Tolong jaga Sakura." kata Sasuke kemudian berbalik melewati ruang tengah dan hilang di balik pintu. Naruto sudah tidak bisa mendengar langkah kakinya.

Tapi demi apapun, Naruto hanya termangu dan tidak memiliki daya apapun untuk mencegah Sasuke pergi.

.

.

.

Sakura melangkah perlahan ke ruang tengah rumah Naruto. Perutnya yang berkeriuk lapar membuatnya terbangun. Sakura memang tidak bisa tidur kemarin malam dan hanya tidur beberapa jam saking tegangnya akan berangkat ke Otogakure, selain itu dia kepikiran kondisi kesehatan Kizashi.

Mata hijau zamrud Sakura melihat Naruto dan kelima temannya duduk melingkari meja ruang tengah rumah Naruto.

"Kalian semua sudah bangun? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Sakura ikut duduk.

"Sakura-chan… kami harus memberitahumu sesuatu…" kata Naruto.

"Dimana Sasuke?" tanya Sakura mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Jam berapa penerbangan ke Otogakure?"

Mereka semua terdiam.

"Sasuke sudah pergi. Dia tidak menginginkan dirimu untuk ikut bersamanya." kata Shikamaru datar yang langsung disambit asbak oleh Naruto. Ino menggeram.

"Apa maksudmu, Shikamaru?" tanya Sakura curiga. "Naruto, dimana Sasuke?"

"Sasuke…um… dia…" Naruto gelagapan.

"Sakura, Sasuke tidak ingin kau ikut dengannya demi kebaikanmu." kata Ino. "Dia hanya ingin kau menemaninya sementara sebelum dia berangkat ke Otogakure."

"Bohong." jawab Sakura syok.

"Dia berbohong untuk kebaikanmu. Dia berpikir tidak seharusnya kau ikut bersamanya. Dia ingin kau tinggal disini bersama keluargamu." kata Sai.

Sakura menatap satu persatu orang disekelilingnya tidak percaya. Bukankah Sasuke berkata bahwa dia ingin bersama Sakura?

"Ini tidak lucu." kata Sakura pelan. "Aku benar-benar percaya padanya!"

"Tidak mudah baginya membuat keputusan seperti ini!" kata Ino.

"Apa yang kau tahu, Ino?! Kau bahkan tidak memahami permasalahan ini!" tukas Sakura.

"Hello excuse me, bukan aku yang kabur dan membiarkan Ayahku sakit, kemudian memutuskan akan kawin lari ke Otogakure! Sasuke sudah melakukan hal yang benar demi dirimu!" balas Ino sengit.

Sakura terdiam setelah perkataan Ino menusuk ulu hatinya.

Naruto menghela nafas.

"Sasuke merasa bersalah telah membawamu kabur hingga membuat Ayahmu sakit, Sakura-chan. Sejak awal dia memang merencanakan akan berangkat sendirian ke Otogakure. Jadi dia menginginkan kau kembali ke rumah."

Sakura perlahan terisak. Menyesal sudah berpikir egois dan membentak Ino.

"Sasuke-kun pasti akan kembali, Sakura-san…" hibur Hinata.

"Sasuke no baka! SASUKE-YAROU!" Sakura terisak. "Apa dia akan kembali setelah aku menjadi istri orang?!"

Mereka semua terdiam.

"Kami akan membantumu meyakinkan orang tuamu, Sakura-chan. Sasuke sudah memintaku untuk menjagamu dan kami pasti akan membantumu untuk…"

"Aku tidak peduli dengan pembohong itu!" potong Sakura sambil menyeka air matanya. "Aku sudah tidak peduli dengan Sasuke! Mau kau antar aku untuk pulang, terserah, aku tidak peduli. Aku akan mengemasi barangku." Sakura bangkit lalu berjalan gontai menuju kamarnya.

"Apa Sakura-san baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir.

"Tidak apa-apa, Hinata. Dia pasti baik-baik saja." jawab Sai sambil tersenyum.

"Sebenarnya aku kasihan pada Sakura…dan Sasuke juga… Kenapa cinta mereka yang baru mekar harus diuji seperti ini?" Ino menutup wajahnya.

"Apapun yang dia bilang tidak akan mengubah kenyataan kalau Sasuke sangat mencintai dan memikirkannya. Aku lega dia bisa menerima ini. Sasuke bilang, dia gadis yang nekat." keluh Naruto.

"Ck, mendokusai." ujar Shikamaru sambil memegang pipinya yang sakit akibat sambitan asbak.

Mereka menunggu Sakura dengan sabar. Tidak ingin menginterupsi kegiatan kemas-kemas Sakura –yang mungkin diselingi dengan tangisan— itu terganggu. Lima menit. Yah, mungkin sekitar sepuluh menit untuk seorang gadis yang sedang patah hati. Tidak. Mungkin 20 menit. Itu lebih dari cukup. Mungkin lebih dari itu, 30 menit?

Berapapun itu, durasinya sudah terlalu lama.

"Katakan padaku lagi kalau Sakura itu nekat, Naruto?" tanya Sai.

"Dan kita sudah membiarkannya selama setengah jam?" tanya Shikamaru.

Naruto terdiam memproses pertanyaan Sai dan Shikamaru. Serta merta tubuhnya bangkit dan melesat ke kamar yang Sakura tempati. Sai dan lainnya lari tergopoh-gopoh mengikutinya dari belakang.

Naruto menggeser pintu ruangan tempat Sakura tidur hingga membentur dinding pembatas. Matanya melotot sempurna mendapati kamar itu sudah rapi jali. Tas ransel Sakura tidak ada begitupun dengan pemiliknya, dan jendela terbuka lebar menyebabkan tirai jendela menari-nari tertiup angin.

"Demi sempak Firaun!" seru Naruto kesal.

.

.

.

Sebuah van berwarna putih yang dihiasi lambang tanda palang berwarna merah bertepi garis hitam tebal sedang melaju kencang menembus jalanan distrik Ohkura, desa Konohagakure. Van itu meliuk-meliuk melewati beberapa kendaraan di depannya agar sampai di tempat tujuan dengan cepat. Mereka –orang-orang yang berada dalam van itu—sedang menuju pertemuan penting bulanan dan sedikit terlambat dikarenakan ada salah satu dari mereka yang mengalami permasalahan keluarga serius.

"Setelah rapat nanti kita bisa melacak Sasuke, Itachi." Hoshigake Kisame, yang duduk di kursi kemudi mencoba menenangkan Itachi yang semalaman tidak tidur itu.

"Rasanya kepalaku mau pecah…" keluh Itachi yang duduk di kursi depan.

"Itachi-san, kita sudah mencoba melacak Sasuke dan kita akan melanjutkannya nanti setelah rapat bulanan Akatsuki." kata Deidara mencoba menenangkan.

"Anak muda zaman sekarang…" keluh Sasori.

"Oi, kau berbicara seolah-olah kau adalah senior disini. Kau sendiri masih kuliah!" kata Uchiha Obito, sepupu Fugaku, yang duduk di kursi belakang van.

"Yahiko dan yang lainnya sudah ada di tempat pertemuan." kata Kisame.

"Sasuke…!" teriak Itachi frustasi memanggil adiknya.

"Senpai, kau tiduran saja sana. Kalau kau begini terus kau akan stress lalu mati!" saran Deidara.

Itachi melotot.

"Bagaimana dengan Fugaku?" tanya Obito.

"Ayah stress berat. Walapupun begitu dia tetap pergi ke rumah sakit tadi pagi karena ada jadwal operasi pasien retak tulang." jawab Itachi.

"Stress kok malah pergi ke rumah sakit?!" teriak Obito.

"Hiburan Ayah ada di balik meja operasi…" jelas Itachi memegang kepalanya yang nyut-nyutan.

"Orang yang aneh." cibir Obito disambut anggukan tanda setuju dari teman-temannya yang lain.

PING!

Itachi melihat ponselnya. Terdapat tanda e-mail masuk. Itachi melenguh malas. Mungkin itu adalah konfirmasi persetujuan kerja sama antar rumah sakit dan organisasinya untuk pengajuan bantuan donor darah atau pengurusan distribusi legal organ dalam atau hal-hal semacamya. Itachi mengetuk ponselnya malas dan e-mail itu terbuka.

From : 'Otagakure State Studio and College'

Subject : 'Konfirmasi Kursus Magang Semester Baru'

Tuan Uchiha yang Terhormat, dengan ini kami sampaikan kursus magang diadakan pada tanggal 29 Juni, terhitung dua minggu dari sekarang. Sekadar mengingatkan, harap menyiapkan berkas dokumen yang menjadi persyaratan kerja magang.

. . . . . .

Itachi mengernyit dan mendecih kesal.

Spam! pikirnya keki. Itachi mengunci layar ponselnya dan mencoba tenang sekali lagi. Kenapa dia bisa dikirimi e-mail institusi pendidikan seperti itu? Why in the world e-mail itu bisa nyasar ke ponselnya? Itachi mengingat-ingat kapan terakhir kali dia membuka e-mail dari ponselnya, karena selama ini dia bekerja menggunakan PC. Mungkin sudah dua bulan lalu Itachi tidak membuka e-mail melalui ponsel. Tidak sebelum Sasuke meminjam ponselnya untuk membuka e-mail satu bulan yang lalu bertujuan mengirim proposal magang ke dosennya yang rewel. Karena pada saat itu masa aktif paket internet Sasuke sedang habis sehingga terpaksa meminjam ponsel Itachi dan Sasuke lupa log out.

"Yang benar saja!" Itachi menyadari suatu kenyataan keji. Itachi membuka kunci layar ponselnya dengan penuh nafsu. Dia kembali membuka ponselnya dan membuka e-mail atas nama uchihasasuke .kh yang benar-benar belum log out. Belum log out, bro! Itachi tertawa nista dan menggeser layar ponselnya dengan gemetar saking bergairahnya dan menemukan beberapa pesan masuk yang bunyi notifikasinya sempat diabaikan Itachi beberapa waktu lalu karena dianggap spam.

INBOX

Read

June, 15. Otogakure SSC - Konfirmasi Kursus Magang Semester Baru

Unread

June, 15. Twitter - ecchihana mem-follow anda.

June, 14. Scholarship Positions – Temukan Beasiswa Seni!

June, 14. Scholarship Positions – Temukan Beasiswa Seni!

June, 13. Konoha Airlines – Konfirmasi Pemesanan Tiket

June, 12. – Anda telah Log In dan Memperbarui Akun

June, 11. – 'magnifiken' Telah Update Cerita Terbaru

. . . . . .

Itachi mengernyitkan kening. Matanya menuju suatu baris inbox dan menempatkan highlight semu disana. Tanggal 13 Juni. Kemarin lusa. Saat dia menyusul Sasuke yang dikabarkan hilang oleh Kakashi. What in the world yang adik bungsunya lakukan dengan Konoha Airlines?

Itachi mengetuk e-mail itu. Mencoba bernafas normal.

From : 'Konoha Airlines'

Subject : 'Konfirmasi Keberangkatan'

Selamat Siang, Tuan Uchiha.

Pembelian tiket ekonomi pesawat Konoha Airlines dengan tujuan Bandara Otogakure telah berhasil dilakukan dengan kode booking : KNA0613US87D.

Penerbangan anda dijadwalkan pada tanggal 15 Juni, jam 10.15 – 14.23 waktu Konoha. Harap melakukan konfirmasi identitas dengan menuju link berikut knhairlines/booking?june13?seat?ecoac?

Terima kasih sudah menggunakan jasa Konoha Airlines!

Semoga perjalanan anda menyenangkan.

Itachi mengerjap-kerjapkan matanya mencoba mencerna e-mail itu. Bukankah tanggal 15 Juni itu hari ini? Itachi mengecek jam digital di dashbor van. Jam 08.56 waktu Konoha. Itachi membaca e-mail itu sekali lagi. Lalu mengecek tanggal dan jam. Apa adik gilanya itu akan terbang ke Otogakure hari ini?!

"What the fucking shit!" jerit Itachi kesal, membuat seluruh penghuni van terhenyak.

"Ada apa?!" tanya Obito panik.

"Kita ke Bandara Konoha, sekarang!" teriak Itachi pada Kisame.

"Apa yang terjadi?!" tanya Kisame.

"Pokoknya kita putar arah ke bandara sekarang!"

"Itachi-senpai, tenangkan dirimu!" teriak Sasori dan Deidara berbarengan.

"SASUKE, THAT LIL' SHIT, ADA DI BANDARA! DIA MAU KABUR KE OTOGAKURE!"

"APA?!" semua penghuni mobil berteriak bersamaan.

Kisame menginjak rem mendadak, membuat seluruh penghuni van terjungkal ke depan. Laki-laki bermata hiu itu memutar kemudi sebanyak 180 derajat, tidak memedulikan teriak sumpah serapah dan suara klakson mobil yang ada di belakangnya. Kisame sukses bermanuver dengan mobil van Akatsuki dan bertolak menuju bandara.

.

.

.

Jangan pernah mencoba menyentuh Uchiha Fugaku dalam keadaan sekarang ini. Bapak dua anak yang semalaman tidak tidur itu sudah dalam keadaan steril. Dia memakai baju operasi berwarna hijau, sarung tangan bersih, dan masker steril. Jadwal operasi akan berlangsung beberapa menit lagi. Kali ini adalah pasien dengan kondisi patah tulang punggung.

Ruangan operasi sudah disiapkan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi membuat Fugaku menghela nafas. Dia tidak ingin melanggar kode etik kedokteran yang dengan tegas melarang pengoperasian ponsel pada saat jam kerja berlangsung. Tapi semua dokter bawahannya di ruangan itu tahu masalah Fugaku dengan anak bungsunya, memberikan isyarat agar Fugaku mengangkat ponselnya, siapa tahu itu kabar dari anaknya.

Fugaku menunduk lalu melepaskan sarung tangannya. Matanya berkilat melihat caller ID 'My Eldest Son' yang artinya sang putra sulung, Uchiha Itachi, sedang menelepon.

"Halo?"

"AYAH!" Itachi berteriak nyaring.

"Jangan berteriak, Itachi!" Fugaku sedikit menjauh dari ponselnya. "Aku sedang ada di rumah sakit!"

"AYAH, AKU MENEMUKAN SASUKE! DIA SEDANG BERENCANA TERBANG KE OTOGAKURE SEJAM LAGI! AYAH HARUS KE BANDARA SEKARANG JUGAAAA!"

Fugaku terdiam. "AAAAK! APA YANG DILAKUKAN SASUKE DISANA?! APA DIA BERSAMA PACARNYA ITU?!"

"LIKE I FUCKING KNOW, DUDE!" teriak Itachi kesal. "AYAH HARUS KESANA SEKARANG JUGA! AKU JUGA SEDANG DALAM PERJALANAN!"

"OKE, DUDE!" Teriak Fugaku sambil menutup telepon panik.

"Teman-teman, aku sudah menemukan anakku! Aku harus menyusulnya secepat mungkin! Dia akan kabur bersama pacarnya ke Otogakure!" seru Fugaku pada rekan-rekan medisnya.

"Kata siapa dia pergi bersama pacarnya?" tanya salah satu rekannya.

"Pemilik rumahnya memberitahuku kalau dia kabur bersama pacarnya! Aku tidak tahu! Aku harus menyusulnya sekarang juga!" Fugaku langsung melesat keluar ruangan.

Fuck the kode etik! Sasuke lebih penting! pikirnya kesal meninggalkan pasiennya.

"Larilah, dokter Uchiha! Anak muda memang greget…" seloroh sang pasien dengan suaranya yang lemas. Dokter-dokter disana geleng-geleng kepala.

"Might Guy-san, anda sedang cedera punggung serius karena jatuh dari tebing dan masih bisa tertawa greget seperti itu?" tanya seorang dokter sambil menyuntikkan cairan bius.

.

.

.

Sishimaru menghela nafas panjang sebelum memasuki bangunan klub yang dulu pernah dimasukinya saat melacak seorang pemuda. Kali ini Sishimaru bekerja sendirian, meninggalkan sang Bos yang sedang meringkuk sakit di kediaman Haruno dengan tempelan koyo kecil-kecil menyebar ke seluruh pelipis lebarnya. Sishimaru juga tidak membawa mobil karena sedan yang biasa ia tumpangi bersama sang Bos sedang menginap di tempat reparasi.

Sishimaru membuka klub yang belum buka itu. Melongok kesana-kemari berharap menemukan seseorang.

"Ada yang bisa kubantu?" suara serak seseorang mengagetkannya.

Sishimaru menoleh. Seseorang berperawakan kurus, tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang hitam menyambutnya. Mengingatkan Sishimaru pada sesosok manusia siluman ular putih.

"E… ada!" jawab Sishimaru tegas. "Perkenalkan. Namaku Sishimaru. Aku sedang dalam penyelidikan untuk mencari pemuda bernama Sakeuchi Aoyama!"

Orochimaru mengernyitkan kening. "Aku tidak tahu siapa pemuda yang kau sebutkan itu!"

"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu." Sishimaru mengeluarkan kopernya. "Seluruh informasi darimu akan kubeli!"

Orochimaru kembali memandang Sishimaru heran.

"Maaf, Tuan. Aku rasa kau salah tempat." tolak Orochimaru.

Sishimaru menggeram tertahan lalu merogoh saku jasnya menunjukkan sebuah foto.

"Apa kau mengenal pemuda ini? Pemuda inilah yang bernama Sakeuchi Aoyama!"

Orochimaru mengulurkan tangannya mengambil foto tersebut lalu tertawa keras.

"AHAHAHA… Dia bukan –tunggu dulu—kau siapa?"

"Pemuda ini telah membawa kabur putri Bosku!" Sishimaru berteriak.

"Ha, benarkah?" Orochimaru terkejut. "Kalau boleh jujur sih, tadi pagi-pagi sekali dia kemari untuk memberi keterangan undur diri dan mengambil sisa gaji."

Mata Sishimaru berkilat. "Lalu?!"

"Um… dia bilang akan pergi ke Otogakure hari ini menggunakan pesawat… "

"APA?!" Sishimaru berteriak. "BENARKAH?!"

"Iya…" kata Orochimaru tanpa dosa. "Dia bilang akan berangkat sekitar jam 10 pagi."

"APA?!" Sishimaru berapi-api lalu mengeluarkan sebuah foto lagi dari jasnya. "Apa dia pergi bersama gadis ini?"

Orochimaru mengambil foto seorang gadis yang diberikan Sishimaru. Orochimaru menamatkan foto gadis berambut merah muda yang tersenyum lebar sambil membawa buket bunga saat perpisahan SMA itu.

"Gadis ini dulu pernah mabuk dan mengacau di klubku." kata Orochimaru. "Mungkin gadis ini salah minum atau apa, aku tidak tahu. Tapi aku rasa dia memiliki hubungan istimewa dengan pemuda di foto pertama." jelas Orochimaru membuat Sishimaru terhenyak.

Segera diraihnya ponsel canggih, titipan dari Kizashi, di saku jasnya dan menelepon sang Bos.

"Halo?" suara Kizashi terdengar parau.

"Bos, aku sudah menemukan dimana Sakeuchi." kata Sishimaru bergetar.

"Yang benar?! Dimana?!" Kizashi bengkit dari tidurnya.

"Bos harus kuat menerima berita ini."

"Cepat katakan!"

"Bos harus benar-benar kuat!"

"Cepat katakan, *su!"

Sishimaru menghela nafas perlahan. "Sakeuchi dan putri anda, mereka… merencanakan kabur ke Otogakure menggunakan pesawat jam 10 pagi hari ini."

Hening.

"AAAAAAAAK! JANC*K! T*I *SU KUDA LUMPING! AKU AKAN PERGI KE BANDARA SEKARANG JUGA!" sembur Kizashi, membuat Sishimaru merem melek karena serangan frekuensi pada gendang telinganya. "Aku akan pergi kesana bersama pengawal yang lain! Kau juga cepat susul aku ke bandara!"

"BAIK!" Sishimaru memutus hubungan telepon. Membuat Orochimaru sampai melihatnya ilfil.

"Dari tadi anda selalu menyebut Sakeuchi-Sakeuchi. Memang Sakeuchi itu siapa?" tanya Orochimaru.

"Kok bertanya Sakeuchi siapa toh?" Sishimaru merebut foto pemuda urakan dari tangan Orochimaru. "INI NIH! Pemuda tengil yang berani-beraninya membawa kabur putri Bosku!"

"Anda ini bodoh atau apa? Namanya bukan Sakeuchi, tahu!" ralat Orochimaru.

Sishimaru berjingkat.

"Namanya… U-CHI-HA SA-SU-KE." kata Orochimaru.

Sishimaru terpana.

Orochimaru geleng-geleng kepala dan meninggalkan Sishimaru yang masih terbengong-bengong untuk melanjutkan kegiatan bersih-bersih klub sebelum buka nanti.

Sishimaru masih membeku.

"Uchiha Sasuke?" gumamnya pelan. "Jadi selama ini aku salah?" tanya Sishimaru pada dirinya sendiri.

"Ojii-san, aku tidak tahu apa masalahmu dengan Sasuke. Tapi nama pemuda itu memang Uchiha Sasuke." kata Orochimaru sambil menyibukkan diri dengan mesin penyedot debunya.

"Uchiha Sasuke?" gumam Sishimaru. Kenapa nama itu sangat-sangat-sangat familiar?

Sishimaru memejamkan mata dan mencoba untuk fokus seperti seorang biksu suci yang sedang mencari pencerahan. Dia memikirkan Kizashi dan putrinya, Sakura. Lalu apa hubungan mereka dengan Uchiha Sasuke? Tunggu. Kizashi pernah menerima tamu dengan marga yang sama, Uchiha Fugaku, di ruangan mereka. Mereka adalah teman lama saat kuliah. Lalu…lalu… terdapat ide iseng antar dua ayah itu untuk menjodohkan anaknya. Haruno Sakura dengan…dengan… putra dari Uchiha Fugaku yang bernama… yang bernama…

"DASAR KUTIL MEGALODOOOOON!" teriak Sishimaru sambil menjambak rambutnya. "UCHIHA SASUKE! NAMANYA UCHIHA SASUKEEEH!"

Orochimaru berjingkat kaget dengan ulah tamu anehnya itu.

"Ojii-san! Kau ini pagi-pagi sudah membuat orang kaget! Kan sudah kubilang namanya itu Uchiha Sasuke!" semprot Orochimaru.

Sishimaru kelabakan mencari ponselnya, mencoba menghubungi Kizashi kembali.

"Nomor yang anda tuju sedang sibuk…"

Sishimaru mencoba menghubungi lagi.

"Nomor yang anda tuju…"

Sekali lagi.

"Nomor yang…"

"SHIT!" Sishimaru membanting ponselnya kesal. "Oi, antarkan aku ke bandara sekarang juga! Aku sedang tidak membawa mobil!" perintahnya pada Orochimaru.

"Memangnya kau siapa?" tanya Orochimaru kesal.

Sishimaru mendengus dan mengambil segepok uang dari kopernya dan langsung menampar Orochimaru dengan lembaran ryo itu. Membuat Orochimaru jet lag mendadak sambil memegangi pipinya.

"Katakan jika itu kurang." kata Sishimaru tajam.

"Mobil akan segera siap, Tuan." Orochimaru membungkuk.

.

.

.

Naruto sedang tegang saat ini. Dia duduk di kursi kemudi sebuah mobil Bawn Speeder yang kali ini lebih tepat jika disebut rongsokan berjalan itu. Seorang pemuda berambut nanas duduk sampingnya, sedangkan ketiga temannya yang lain duduk di kursi belakang.

"Bagaimana, Shikamaru?" tanya Naruto. "Kau menemukan posisi Sakura-chan?"

Shikamaru menggeleng. "Sinyalnya jelek. Dia pasti mematikan ponselnya!"

"Sudah kubilang, kita menyusul saja ke bandara." kata Ino kesal.

"Kita kan tidak tahu Sakura lari kemana." kata Sai. "Lagipula kita tidak tahu jadwal keberangkatan Sasuke."

"Apa kita menghubungi orang tua Sakura-san saja ya?" tanya Hinata.

"Percuma kalau kita menghubungi orang tuanya kalau untuk memberi kabar bahwa dia kabur lagi. Pasti akan merepotkan. Kita akan menghubungi orang tuanya kalau sudah menemukan Sakura-chan!" kata Naruto.

"Bagaimana caranya kita bisa menemukannya?" tanya Ino putus asa.

"Apa kau sudah memutuskan untuk mengembalikan Sakura pada orang tuanya?" tanya Shikamaru.

"Aku sudah berjanji pada Sasuke." kata Naruto. "Mungkin memang ini yang terbaik bagi Sakura-chan. Aku akan membantu Sakura-chan untuk tidak dinikahkan dengan ikemen jelek itu sampai Sasuke kembali."

"Aku tidak menyangka Sakura bisa senekat ini." keluh Sai.

"Bagaimana ini? Harusnya kita menyusul saja ke bandara." saran Ino.

"Baiklah…" kata Naruto. "Aku dan Shikamaru ke bandara, Sai pergi memeriksa rumah orang tua Sakura-chan secara diam-diam, sedangkan Ino dan Hinata pergi mengecek ke rumah Kakashi? Bagaimana?" usul Naruto.

"Baiklah." seru mereka kompak –kecuali Shikamaru.

"Misi kita, membiarkan Sasuke pergi ke Otogakure dan membawa Sakura-chan pulang…"

Belum selesai Naruto menuntaskan kalimatnya, sebuah van bercat putih dengan lambang tanda palang merah ber-outline hitam di depannya menginjak rem mendadak. Semua orang yang ada di dalam mobil Shikamaru menjerit parau. Naruto terkesiap dan segera menginjak pedal rem setelah matanya menangkap pendaran warna merah pada lampu belakang van tersebut.

"Anjrit! Sempak!" umpat Naruto sambil menahan nafas.

Tidak disangka van tersebut bermanuver 180 derajat berbalik dan berputar arah menyenggol bemper depan mobil Shikamaru yang rusak parah, membuat bemper depan itu terlepas dari kaitannya yang menggelinding di atas aspal.

"Eh, bajinguk! Gajah bunting! Kecoa ngesot!" umpat Naruto saat van tersebut malah ngeloyor pergi tanpa bertanggung jawab.

"Mobilku…" keluh Shikamaru pelan.

Ino menamatkan tanda palang merah pada van yang baru saja melintasi mereka. Mata aquamarine jernihnya mengamati sesosok makhluk yang berada di dalam van tersebut. Sosok itu memiliki roman wajah khas seorang Uchiha. Ino berpikir sebentar dan mencoba menganalisis hubungan kemungkinan kecil sosok itu dan tanda palang merah bergaris hitam di van tersebut dengan Sasuke. Dia memang bukan anggota SasOkay Fandom, tapi dia tahu banyak tentang fakta seputar Sasuke dari teman-teman kampusnya yang barangkali bisa membantu. Ino mengecek ponselnya dan membuka browser kemudian mencari pada blog forum SasOkay Fandom. Dengan ragu dia mengetikkan suatu kata : Akatsuki.

Mata Ino terbelalak saat menyadari bahwa logo di blog forum itu sama persis dengan logo van putih yang baru saja menubruknya tadi. Palang merah bergaris hitam.

"AAAAK! Van itu tadi milik kakak Sasuke!" jerit Ino.

Naruto menginjak rem secara tiba-tiba.

"APA?!" seru mereka kompak.

"Van putih tadi… Itu mobil organisasi hitam penjual organ dalam milik kakak Sasuke!" kata Ino parno.

"Mana ada yang seperti itu! Itu hanya gosip!" sergah Shikamaru.

"Mereka menuju bandara! Kita harus mengikutinya!" seru Hinata.

"Mereka pasti mencari Sasuke, kemungkinan besar Sakura-chan ada di bandara!" kata Naruto.

"Kita harus mendahului mereka, Naruto!" seru Sai.

"Sasuke dan Sakura itu cuma bisa merepotkan saja…!" keluh Shikamaru.

"Demi silit jaran, Shikamaru!" bentak Naruto kesal. "Kau ini teman atau tai ayam?!"

Naruto melepaskan pedal remnya lalu memutar kemudi hingga mobil Shikamaru berbalik 180 derajat mengiktui van puti itu, membuat semua penghuni mobil berteriak nyaring karena putaran Naruto yang tiba-tiba. Naruto tidak memedulikan jeritan orang-orang dan suara klakson yang bersahut-sahutan menyambut atraksi Naruto barusan. Naruto berpacu mengejar van putih berpalang merah-hitam yang sudah tidak tampak di mata mereka.

.

.

.

Naruto dan kawan-kawan kalah cepat dengan van Akatsuki. Terbukti mereka telah sampai di bandara dan melihat van putih itu terparkir manis di lahan parkir yang berjarak 100 meter dari pintu utama. Naruto turun dari mobil diikuti teman-temannya dan langsung berjibaku berlomba lari menuju pintu utama bandara.

"Teman-teman, bisakah kita tenang sedikit?" tanya Shikamaru yang masih berjalan santai di belakang mereka.

"Kita tidak punya banyak waktu, Shikamaru!" seru Naruto.

"Bisakah kita tenang dan berpikir…"

"HAISH!" Naruto berbalik dari posisinya dan langsung menyambar kerah Shikamaru. "HENTIKAN OCEHANMU ITU, SHIKAMARU! KAU SAMA SEKALI TIDAK PEDULI DENGAN TEMAN-TEMANMU!"

Emosi Shikamaru tersulut, lalu menepis tangan Naruto. "Bukannya aku tidak peduli dengan mereka! Setidaknya biarkan aku bicara dahulu!"

"Sudah kubilang kita tidak punya banyak waktu!" semprot Naruto. "Penerbangan Sasuke dimulai dalam beberapa menit, kita belum tahu keadaan Sakura-chan, dan sekarang segerombolan orang sedang mengejar mereka!"

"Untuk itulah aku menyuruh kita tenang!" bentak Shikamaru. "Kita tidak akan sempat mengejar mereka lewat pintu utama. Kita baru sempat mengejar mereka melalui pintu barat bandara!"

"Apa maksudmu?!" tanya Naruto.

"Biarkan Shikamaru menjelaskan." Sai melerai mereka. Ino dan Hinata juga berhenti.

"Hahh…" Shikamaru mendengus. "Bandara ini memiliki pola trapesium. Dimana sisi timur lebih panjang 5 kali daripada sisi barat. Pintu utama terletak di sisi timur dan jalurnya tidak bisa dilewati secara diagonal, sedangkan pintu barat bisa dilewati secara diagonal. Letak gate menuju penerbangan ke Otogakure berjarak 150 meter dari pintu barat. Kalau kita berlari secara diagonal melalui pintu barat bandara, kita akan bisa menemukan Sasuke –bahkan Sakura lebih cepat. Kalian mengerti?"

"Tidak." jawab mereka kompak.

Ba dum tss…!

"Ah, sudahlah!" gertak Shikamaru. "Pokoknya kita masuk lewat pintu barat saja!"

Shikamaru berlari menuju pintu bandara sebelah barat, yang dikhususkan untuk memasukkan barang impor dan ekspor. Naruto dan lainnya langsung mengikuti Shikamaru sambil berharap rencana Shikamaru akan berhasil.

.

.

.

-bersambung-

magnifiken

Halo semuanya…!

Magnifiken disini.

Makashyih udah mau mampir di ff nista ini.

Sebenarnya author pengen mengakhiri kisah absurd SasuSaku di chapter ini. Tapi apa daya, chapternya akan jadi super panjang kalau dikumpulkan disini semua. Maka dari itu sengaja author pecah jadi beberapa bagian biar greget. Wahahahaha…

Mungkin update-nya akan cepet karena chapter 11-nya udah selesai diketik dan tinggal finishing doang sih… Ahahahaha. Bakal diapdet lagi kalo kuota internet author masih ada. Wahahaha… #disambitdurian.

Di chapter ini SasuSaku momentnya agak author kurangi #muuph ea, biar bikin reader gak bosen dan biar reader-nya gak baper *_*. Mungkin di chapter depan bakalan dikasih moment yang spesial. Khu-khu-khu. Nggak janji tapi. Wkwkwk. #disodokpalu

Maaf jika ada typo atau hal-hal semacamnya. Makasih yang ripiu, fav, follow, dan yang udah ngebaca. I loph you pul dah. Sekali lagi maaf author gak bisa balas ripiu satu-satu karena koneksi internet yang kadang naik turun kayak roda kehidupan… Huhuhu… #baperModeOn

Testosterone Attack! chapter 10, everyone!

Jangan lupa bahagia

Kiss Kiss :* :*