THE 3F-TEAM : Abandoned City
.
.
.
Naruto's Belong To Masashi Kishimoto
.
.
.
DON'T STAY
01.35
"Mereka semakin mendekat." Ucap Karin menakut-nakuti. Entah kenapa dia terdengar seperti menahan tawa.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kaki itu semakin jelas, semakin mendekati tempat mereka berada. Perlahan mulai terdengar nafas berat dan geraman dari bawah tangga.
'Oh tuhan. Tolong kami.' Doa Ino dalam hati, menutup mulutnya sendiri agar tidak suara. Menahan tangisnya.
-Ceklek- -Dor Dor!- -Dor!- -Dor Dor Dor Dor!-
Muncul suara tembakan dan dilanjutkan dengan benda jatuh. Seseorang menembaki makhluk-makhluk itu.
"Tenang saja, itu Sasuke." Karin memberitahu yang lain sebelum terjadi kepanikan.
-Dor!-
"Maaf, ada yang tertinggal." Suara Sasuke. Berhasil menembaki makhluk-makhluk yang bergerak di dalam kegelapan itu.
"Sasuke? Kalian membawa pistol?!" Sai terkejut mengetahui bahwa sumber suara tembakan itu dari Sasuke. 'Pistol? Anak-anak ini ternyata juga membawa senjata!'
Sasuke menyeringai kecil, namun tentu saja tidak ada yang bisa melihat karena terlalu gelap. "Ya, untuk keadaan tidak terduga seperti ini."
"Sasuke.." Panggil suara laki-laki dari walkie-talkie, sepertinya Konohamaru. "Dugaan Karin salah besar! Makhluk-makhluk itu masih menunggu kami di tangga! Naruto baru saja membunuh mereka dengan pistol yang dibawanya."
"Kami juga mengalami hal yang sama, jadi jangan protes!" Jawab Karin tak terima merasa disalahkan atas kejadian ini.
"Tapi tetap saja karena kau kami kehabisan peluru!" Oke, suara berisik ini milik Sakura.
"Setidaknya kalian masih hidup karena ide ku!" Karin semakin tidak terima. "Atau mungkin kalian mau keluar saja dan menjadi target musuh, heh?!"
"Arrggh! Tetap saja ide-ide mu selalu berujung seperti ini!"
Karin semakin kesal. "Dasar tidak tau terima kasih!"
"Sudah lah." Tengah Sasuke, sebelum suara pertengkaran mereka akan membawa hal-hal buruk lainnya. "Peluru ku juga sudah hampir habis. Aku dan Naruto hanya membawa satu amunisi."
Tiba-tiba saja terdengar suara mesin terbang dari luar.
"Pesawatnya?!" Tebak Neji.
Ketika suara pesawat itu semakin mendekat, tembakan mulai menggema di langit kota. Pesawat terus menembaki makhkuk-makhluk yang masih berdiri di jalanan.
Tak terdengar teriakan atau pun sejenisnya dari makhluk yang sedang ditembaki itu, seolah memang mereka sudah mati sebelum ditembak.
Selama beberapa menit suara tembakan masih terus terdengar. Sementara masing-masing tim bersabar menunggu di persembunyiannya.
Hingga tembakan berhenti bersamaan dengan pesawat yang terdengar menjauh.
"Apa sudah selesai?" Tanya Sai. Meyakinkan diri karena suasana sudah kembali hening.
"Hei, pesawat itu sudah pergi. Keluarlah."
Menanggapi perkataan Naruto, Sasuke beserta yang lain segera keluar kembali ke atap. Mereka berjalan mendekati tepian gedung untuk melihat ke bawah, lokasi dimana makhluk-makhluk itu berada.
"Mereka semua sudah mati?" Tanya Tenten, di bawah sana terdapat puluhan tubuh makhluk tadi. Tergeletak dengan banyak luka tembak.
"Kupikir begitu." Jawab Karin. "Tapi kita harus tetap waspada."
"Teman-teman." Panggil seseorang dari kelompok Naruto. "Kalau tidak salah dengar pusat kendali pasukan tadi akan mengirim unit lain kesini. Kupikir mereka akan mengirim pasukan lain untuk membersihkan jasad makhkuk-makhluk itu."
"Ada kemungkinan mereka akan memeriksa seluruh daerah sekitar sini." Kata Sasuke mengerti maksud Hinata.
"Ya, itu artinya kita harus segera pergi dari sini sebelum mereka datang." Perjelas Hanabi.
Semua sepakat untuk meninggalkan lokasi, menghindari bertemu dengan pasukan lainnya. Mereka pikir, bukan hal yang baik jika ada pasukan yang menemukan mereka disini. Meskipun kelompok Sai tetap berharap bahwa pasukan itu mau menyelamatkannya.
"Tapi ada kendala disini." Ucap Karin menatap Sai dan kelompoknya, "Kelompok kami membawa empat orang 'buta'."
Neji mengernyitkan dahi mendengar perkataan Karin, "Apa maksudmu? Kami tidak buta."
"Ya, lalu bagaimana kalian melihat dalam kegelapan?" Karin memperjelas maksud 'buta' disini.
"Kecuali jika kau mau menyalakan senter untuk mengumumkan keberadaanmu pada makhluk aneh dan pasukan sakit jiwa itu." Tambahnya sarkastik.
Mau bagaimana pun, apa yang dikatakan Karin benar. Sai, Neji, Tenten, dan Ino tidak memiliki Night Vision untuk melihat jika mereka harus lari dalam kondisi kota yang gelap gulita.
Mereka harus bergerak secara diam-diam, tak terlihat. Agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh pasukan itu, atau pun makhluk lain yang mungkin saja berbahaya seperti sebelumnya.
Semua tampak berpikir, tak mungkin juga untuk meninggalkan empat orang itu di sini. Semua anggota 3F-Team setuju bahwa tidak ada gunanya selamat dari tempat ini dengan mengorbankan orang lain.
"Aku punya ide, sekarang kalian turun saja. Kita bertemu di belakang gedung yang kami tempati." Kata Naruto menemukan solusi.
Sasuke dan Karin saling menatap sebentar, mengangguk. Tanda setuju dengan Naruto.
"Baiklah." Ucap Sasuke. "Kita turun sekarang."
Mereka berenam kembali berjalan menuju tangga dengan hati-hati, secara perlahan agar tidak menimbulkan kegaduhan. Menghindari kemungkinan jika masih ada salah satu makhkuk yang selamat dari tembakan Sasuke tadi.
"Perhatikan. Karena hanya Aku dan Karin yang dapat melihat, Aku akan berjalan di paling depan dan Karin di paling belakang. Kalian berempat bentuklah barisan, kita berpegangan tangan agar tidak terpisah." Perintah Sasuke kepada yang lain, mereka setuju.
Mereka segera menuruni tangga dengan urutan Sasuke, Sai, Neji, Tenten, Ino, lalu Karin. Dengan begini kondisi menjadi sedikit lebih tenang, karena mata kelompok ini ada di depan dan belakang.
Mereka semakin mempererat genggaman tangannya saat mulai menuruni tangga, memastikan agar tidak ada yang terjatuh. Melewati semua lantai gedung tersebut.
Selama menuruni tangga, Karin terus memperhatikan sekelilingnya. Hingga melewati beberapa lantai, dia menyadari sesuatu. 'Dimana mereka?!'
.
.
.
Setelah sampai di bawah dan keluar gedung, mereka berjalan menyebrangi jalan utama, melewati semua jasad makhluk yang masih terbaring di jalanan. Menuju ke bagian belakang gedung tempat kelompok Naruto.
"Hei." Panggil sebuah suara kepada Sasuke dan kelompoknya saat tiba di pojok belakang gedung. "Disini."
Ternyata Naruto dan yang lain sudah terlebih dulu tiba di tempat. Kedua kelompok sekarang sudah berkumpul.
"Baiklah." Kata Naruto memulai rencananya. Memperhatikan Sai, Neji, Tenten, dan Saitin. "Kalian berempat tidak dapat melihat bukan?"
'Pertanyaan bodoh' Pikir yang lain, sudah jelas begitu masih saja Naruto bertanya.
"Oke oke. Kalau begitu, masing-masing dari kalian harus berjalan bersama salah satu dari kami." Jelas Naruto, "Dengan begitu akan mempermudah perjalannya karena kalian punya penunjuk jalan masing-masing."
Semua mengerti dengan ide Naruto, akhirnya empat orang itu melepas genggamannya dan berpegangan dengan masing-masing dari 7 remaja itu. Sai bersama Sasuke, Neji dengan Konohamaru, Hinata memegang Ino dan Hanabi memegang Tenten.
"Sekarang kita kemana?" Tanya Sai bingung, mau kemana mereka dalam kondisi gelap begini?
"Yang jelas menjauh dari tempat ini." Kata Karin, sudah jelas begitu. Instingnya membuatnya merasa tidak baik jika terus berada di sini.
"Baiklah, begini rencananya." Kata Naruto melanjutkan penjelasannya.
"Pasukan tadi sempat berbicara tentang rute untuk kembali ke markasnya." Naruto mengingat semua perkataan pasukan tadi.
"Mereka bilang akan melalui Utara." Tambah Sasuke.
"Bukan itu maksudnya." Tanggap Naruto, "Mereka datang dari Timur. Maka ada kemungkinan pasukan selanjutnya juga akan datang dari arah yang sama."
"Pasukan sebelumnya pergi sudah cukup lama, itu artinya kita tidak akan bertemu dengan mereka meskipun berjalan ke arah Utara." Karin mengerti maksud Naruto.
"Aku tidak yakin dengan kata-kata mu." Ucap Konohamaru, masih mengingat perkataan Karin saat menyuruhnya untuk masuk ke tangga. 'Sudah turun semua? Apa-apaan!' Kenapa dia tampak kesal? Tentu saja. Saat di tangga Konohamaru berada di posisi paling bawah sementara Naruto yang memegang senjata justru ada di dekat pintu, itu artinya dia duluan yang akan ditangkap oleh makhluk-makhluk itu. Jelas.
"Kalau begitu lain kali aku tidak akan memberi tahu jika ada makhluk yang diam-diam mendekati mu." Jawab Karin.
'glek' Terdengar Konohamaru menelan ludah, 'Mati aku'
"Hei." Panggil Neji dari sebelah Konohamaru. "Kupikir yang lain sudah jalan meninggalkan kita."
Ucapan Neji menyadarkan Konohamaru dan Karin. Benar saja! Teman-temannya yang lain sudah berjalan 10 meter ke arah Utara meninggalkan tiga orang itu.
Karin dan Konohamaru beserta Neji di belakangnya langsung berlari mengejar yang lain.
"Kenapa kalian meninggalkan kami?!" Kesal Konohamaru saat berhasil menyusul.
"Karena perkelahian kalian sangatlah tidak penting." Ucap Hinata
"Dan tadi ada salah satu makhluk yang merangkak dari jalan utama ke arah kalian." Tambah Hanabi.
Mendengar ucapan Hanabi, Karin segera melihat ke belakang. Benar saja, terlihat satu makhluk merangkak diam-diam ke tempat mereka berdiri tadi.
'Tunggu, kenapa dia masih bisa bergerak?' Pikir Karin, merasa aneh karena yang dia tau semua sudah terkena tembakan, bahkan satu yang sedang merangkak itu. Memperkuat dugaannya akan apa yang dia lihat sebelumnya.
Mereka terus berjalan dalam kegelapan melewati gedung-gedung tua yang sudah ditinggalkan selama puluhan tahun itu.
"Sebenarnya kemana tujuan kita?" Tanya Sai. Jujur, dia dan kelompoknya tidak tau apa yang ada di pikiran 7 remaja dihadapannya.
"Seperti yang kubilang tadi, kita akan bergerak ke Utara." Jelas Naruto, "Jika perhitunganku tidak salah, jalan utama tadi akan berputar ke arah Utara melalui Barat. Kita melewati jalur ini untuk memotong jalan dan mengurangi kemungkinan akan bertemu pasukan tidak jelas dan makhluk aneh seperti tadi."
"Soal makhluk itu.. Sebenarnya bagaimana wujud mereka? Apa seperti monster?" Tanya Neji penasaran, sejak tadi yang lain terus menyebut makhluk namun Ia sendiri tidak dapat melihatnya dengan jelas.
"Mereka mirip manusia." Jawab Konohamaru yang menggandeng Neji, "Bahkan bisa dibilang mereka memang manusia."
"Manusia?" Neji memastikan pendengarannya.
"Ya, tapi penampilannya yang membuat mereka mirip monster." Tambah Karin. "Baju compang-camping seperti gembel, wajah buruk rupa, kulit yang terlihat seperti mengeras, dan cara jalannya yang pincang tidak jelas. Aneh sekali."
"Kupikir kau harus minta maaf Karin." Kata Hanabi.
"Karena mereka ada di sekitar sini." Sambung Hinata.
Sontak perkataan Hanabi & Hinata membuat yang lain waspada.
"Dimana?!" Tanya Konohamaru melihat sekitar.
-Srek- -Srek-
"Ada pergerakan dari depan." Kata Sakura.
-Srek- -Srek-
"Dari arah Barat juga." Tambah Karin.
Mereka semakin panik. Makhluk itu mulai bermunculan dari semak-semak. Jika kembali, maka mereka juga akan bertemu makhluk di jalan utama tadi.
"Lihat!" Naruto menunjuk ke sebuah pintu yang terletak 20 meter ke Timur dari tempat mereka berdiri. "Kita berlindung disana!"
Tanpa banyak berpikir mereka segera menghampiri pintu itu, sebuah pintu besi yang sudah mulai berkarat.
Sasuke segera membuka pintu tersebut, namun sangat sulit. "Sial, berat sekali!"
Naruto dan Konohamaru pun datang membantu.
-Ceklek- -Krieeeet-
Pintu terbuka.
"Ayo masuk!" Perintah Sasuke. Semua segera masuk ke dalam. Ternyata di balik pintu ada tangga yang menurun ke bawah. Setelah semua masuk, Sasuke segera menutup kembali pintunya.
.
.
.
THE 3F-TEAM
.
.
.
02.15
Di dalam ruangan. Mereka terus berjalan menuruni tangga, menyurusi lorong yang gelap, hingga tiba di sebuah ruangan.
"Kupikir aman jika menyalakan lampu disini." Kata Naruto, "Apa ada yang membawa alat penerangan?"
"Aku bawa." Jawab Tenten, dia segera mengeluarkan lampu portable miliknya dan menghidupkan alat tersebut.
Naruto dan yang lainnya segera melepas Night Vision mereka. Tak memerlukannya di ruangan seterang ini.
"Cukup melelahkan juga bagi mata menggunakan alat ini dalam jangka waktu yang lama." Kata Konohamaru.
Ino memperhatikan ruangan di sekitarnya, terlihat meja, lemari, dan beberapa barang lainnya, semua barang tersebut terbuat dari besi. Terlihat sudah cukup usang dimakan usia. "Tempat apa ini?" Tanyanya.
"Sarang monster." Jawab Karin asal-asalan.
"APA?! ASTAGA." Konohamaru panik mendengar ucapan Karin. Terlalu serius menanggapi. Ia pun langsung waspada melihat daerah sekitarnya.
Yang lain sweatdrop melihat tingkah laku Konohamaru.
"Kau terlalu polos, Konohamaru." Kata Hanabi, "Sepertinya ini hanya ruangan bunker."
"Bunker? Syukurlah." Mendengar penjelasan Hanabi, Konohamaru mulai tenang, "Kau memang pembohong." Tunjuk Konohamaru kepada Karin.
Yang ditunjuk hanya mengernyitkan dahi, "Kau saja yang mudah dibodohi, anak kecil."
"Apa maksudmu?!" Oke, kini Konohamaru mulai kesal.
"Hei hei, sudahlah." Naruto menengahi, "Kalian berdua seperti anak kecil."
"KAU JUGA!" Kata Karin dan Konohamaru serempak. Bersatu melawan pihak ketiga yang mengganggu perdebatan mereka.
.
.
.
Sasuke tampak mengelilingi ruangan tersebut, memeriksa apakah ada hal yang aneh atau berbahaya. "Kupikir sebaiknya kita istirahat dulu di sini."
"Ya, aku juga belum tidur sejak kemarin." Kata Neji, "Terlalu banyak hal yang terjadi."
Semua tampak berpikir, setuju dengan ide Sasuke. Mereka semua lelah, mungkin memang tidur yang dibutuhkan. Kecuali Hanabi & Hinata serta Sakura yang sempat tertidur saat di atap gedung.
Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di ruangan tersebut, beberapa diantaranya langsung terlelap.
Tak terkecuali Sakura, dia bahkan tidur lebih dukdulu dibandingkan yang lain.
"Tch, kenapa anak itu jadi tukang tidur?" Ledek Karin melihat tingkah laku Sakura yang tiba-tiba saja lebih cepat tidurnya.
"Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, biarkan saja mereka banyak istirahat." Jawab Naruto. "Lebih baik kau juga istirahat, Karin."
"Hm. Iya."
Tanpa mereka ketahui..
.
.
.
THE 3F-TEAM
.
.
.
To Be Continued
