Chapter 10 – Affection
Bukan karena kewajiban, bukan karena rasa tanggung jawab, tapi karena memang ia sudah terlanjur menyayanginya
.
Siren From Red Cherry Blossom Shrine Arc
.
Ketika ia menghabiskan waktunya bersama Yona untuk menenangkan Yona selama seminggu penuh saat Hak sekarat, selama itu pula Lily berusaha menguatkan Yona dan mendengarkan apa yang diceritakan Yona. Yona menceritakan betapa ia membenci dirinya yang lemah saat ia tak bisa berbuat apapun dan hanya bisa menunggu saat Hak terluka parah dan tak sadarkan diri terutama jika itu akibat melindunginya, betapa ia merasa takut dan tak berdaya karena tak tahu apakah orang yang ia sayangi akan bertahan, membuka matanya lagi dan kembali padanya atau tidak.
Tak disangka itulah yang akan ia alami sekarang.
Lily yang sejak tadi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, mendongak saat Geun Tae menepuk-nepuk punggungnya. Mereka menunggu dokter menangani Tae Woo setelah luka di tubuh Ayura dan Tetora yang datang lebih dulu diobati, luka keduanya memang tidak separah Tae Woo.
Saat Mundok, Han Dae, Joo Doh dan Geun Tae tiba disana, hanya tersisa Tae Woo yang berdiri di antara para musuhnya yang berbaju hitam sementara pemanah dari atap langsung kabur setelah menyadari ada orang lain yang datang. Han Dae menahan tubuh Tae Woo yang pingsan setelah semua musuh yang ia hadapi kabur dan membawa Tae Woo ke klinik bersama Mundok. Geun Tae memeriksa apakah masih ada yang bertahan hidup di antara kawanan pria berpakaian hitam yang dilawan Tae Woo (agar mereka bisa menginterogasi mereka) sedangkan Joo Doh menyuruh para pasukannya mengejar kelompok penyerang itu. Soo Won memerintahkan untuk memperketat penjagaan di istana sebelum ia pergi bersama Geun Tae dan Joo Doh ke klinik, menyusul Joon Gi yang telah lebih dulu membawa Lily, Ayura dan Tetora ke klinik.
Han Dae tersenyum lebar dan menepuk bahu Lily "tak apa-apa, nona Lily... si darah panas itu takkan mati semudah itu".
Lily tak menangis, tapi kedua mata sebiru laut itu jelas terlihat cemas dan takut, meski begitu ia tetap tersenyum dan mengangguk pada Han Dae yang sudah berusaha menghiburnya. Tidak lama kemudian, dokter keluar bersama Joon Gi. Joon Gi tahu banyak tentang obat-obatan dan racun, terlebih Tae Woo terluka karena melindungi Lily, itu sebabnya ia membantu dokter itu mengobati Tae Woo. Setelah Joon Gi keluar dan Lily menghampirinya sambil menanyakan kondisi Tae Woo, dokter menyebutkan diagnosisnya. Dari luka tebasan dan luka tertusuk panah di beberapa tempat, dokter mengetahui kalau panah dan senjata itu dilumuri racun.
"karena jenderal Tae Woo memiliki tubuh yang kuat, ia bisa bertahan tapi jika nona Lily yang terkena racun ini, entah bagaimana jadinya... saat ini jenderal Tae Woo demam tinggi, untuk sementara kita hanya bisa memantau kondisinya".
Saat Mundok menanyakan separah apa kondisi Tae Woo, dokter terlihat ragu namun akhirnya ia mengatakan yang sejujurnya. Kondisi Tae Woo saat ini kritis akibat racun dari senjata yang mengenainya, tipe racun yang cukup kuat dan menjalar perlahan, kalau orang biasa seharusnya sudah mati. Jika mereka datang terlambat saja dan tak membawa kembali Tae Woo secepatnya, mungkin ia juga tak tertolong akibat racun yang menjalar di tubuhnya.
"hanya saja ada yang mengganggu pikiranku... racun itu tak berasal dari kerajaan Kouka karena bahannya bahan impor mengingat bahan itu sulit tumbuh di tanah kerajaan Kouka, akan saya cari dimana sumbernya dan jika sudah saya temukan, akan saya laporkan hasilnya pada anda, yang mulia".
Lily belajar satu hal dari Yona saat ia menemani Yona yang menunggu Hak membuka matanya, jika ada yang bisa kita lakukan, itu jauh lebih baik ketimbang diam berpangku tangan sehingga Lily meminta dokter mengizinkannya membantu suster merawat Tae Woo saat dokter itu pamit undur diri pasca memberitahu bahwa perawat akan memantau keadaan Tae Woo. Meski dokter itu sempat diam karena terkejut, ia mengizinkan Lily sebelum pergi. Orang-orang yang ada di sekelilingnya menatapnya terkejut, lalu Joon Gi memegang kedua bahu Lily dari belakang dan menepuk kepala Lily.
"sebelumnya, ganti dulu bajumu... kau tak bisa membantu suster merawatnya dengan baju yang berlumuran darah begitu, kan?".
"semuanya, tiarap!?".
Seharusnya ini terjadi begitu cepat namun di mata Lily, dunia di sekitarnya seolah berputar pelan sehingga Lily bisa melihat jelas apa yang terjadi. Hujan panah terlontar dari atap tembok yang memisahkan lorong. Ayura tergores beberapa anak panah ketika menangkis panah yang dilontarkan pada mereka sambil melindungi Tetora. Sayangnya Tae Woo tak bersenjata karena mereka hanya menghadiri perjamuan malam ini, sama seperti Lily. Lily sempat menutup mata saat hujan panah menghujani mereka, kedua mata sebiru laut itu terbuka lebar melihat Tae Woo bertekuk lutut di hadapannya.
Kedua tangan Tae Woo menempel di dinding, punggungnya yang lebih lebar dari dugaan Lily melindunginya dari anak panah yang kini menancap di punggung dan bahu Tae Woo. Seolah tak cukup sampai disitu, salah seorang pria berbaju hitam menusuk punggung Tae Woo dengan tombak yang menembus sampai ke perutnya dan mungkin akan menusuk Lily jika Tae Woo tak menahan tombak itu dengan sebelah tangannya. Darah yang Tae Woo muntahkan mengenai baju dan wajah Lily, membuat suara Lily yang sempat tertahan melesat keluar bersamaan detak jantungnya yang melonjak drastis.
"TAE WOO?!".
Tae Woo tersenyum mendengar Lily menyebut namanya, di tengah napas memburu ia menatap Lily seolah memintanya untuk tak khawatir "tak apa... maaf, nona Lily... kau jadi... berlumur darah...".
Saat tubuh Tae Woo jatuh ke arahnya, Lily yang menahannya merasa bingung sekaligus takut, apa ia harus mencabut tombak yang menembus tubuh jenderal muda ini? Saat Tetora dan Ayura mendekat dan berlutut di samping mereka berdua, Tae Woo meminta Ayura membawa Lily ke tempat aman setelah ia meminta kedua dayang merangkap bodyguard Lily mencabut tombak yang menembus tubuhnya.
"cepat pergi... selagi aku menahan mereka..." pinta Tae Woo setelah menggenggam tombak yang tadi menembus tubuhnya.
Lily kini mengerti perasaan Yona sebagai pihak yang selalu dilindungi dan hanya bisa melihat ketika orang yang ia sayangi, baik itu keluarga, teman atau sekedar rekannya, harus terluka dan mungkin tak bisa ia temui lagi. Ketakutan yang melandanya makin membesar seiring dengan kata-kata yang tak sempat tersampaikan, baik untuk menghentikan tindakan bodohnya yang berusaha melindunginya meski dengan kondisi terluka parah, maupun sekedar protes untuk tak melakukan hal nekad yang hanya akan membahayakannya dan mungkin membuatnya tak bisa menemuinya lagi. Ia tak ingin itu terjadi. Baru saja mereka berbicara di pesta perjamuan tadi.
"aku jenderal suku angin saat ini, aku ingin melindungi kerajaan ini dan mereka semua, warga suku angin yang sudah kuanggap keluargaku sendiri. Akan kupenuhi kepercayaannya dan akan kutunjukkan aku bisa menjadi jenderal yang lebih baik darinya, sesuai ucapan anda... terima kasih karena telah menyadarkanku atas apa yang sebaiknya kulakukan, nona Lily".
Melihat Tae Woo bicara begitu sambil tersenyum padanya, Lily merasa sangat senang karena ia tak melihat adanya perasaan negatif yang selalu mewarnai wajahnya yang biasa cemberut di saat mereka bertemu di kastil Hiryuu, yang ada hanyalah rasa terima kasih yang tulus dari sorot mata biru yang memandangnya lembut. Lily bicara begitu bukan hanya untuk menenangkan kegundahan Tae Woo, tapi juga karena ia mengerti perasaan Tae Woo, sebagai putri jenderal suku air yang juga ingin melindungi warga suku air.
Lily membuka matanya, memegangi kepalanya dengan tangan kirinya dan mengatur napasnya sementara tangan kanannya menopang tubuhnya, tampaknya ia tertidur di samping tempat tidur saat merawat Tae Woo. Lily menghela napas lega, tak menghiraukan keringat yang mengucur dari pelipisnya.
"mimpi... menyebalkan...".
Saat Lily mendapatkan kesadarannya sepenuhnya, matanya terbelalak saat menyadari Tae Woo tak ada di ranjangnya "Tae Woo hilang!?".
Rasa panik membuatnya beranjak dari tempatnya namun langkahnya terhenti saat ia menyadari selimut yang harusnya menyelimuti Tae Woo kini menyelimutinya. Saat dalam hati ia merasa penasaran siapa yang telah menyelimutinya, suster yang ia bantu masuk ke kamar, meminta maaf pada Lily karena tak membangunkannya dan memberitahu bahwa Tae Woo yang sudah sadar pergi ke ruang perawatan karena Soo Won dan para jenderal lain ingin menginterogasi beberapa kawanan pria berbaju hitam yang menyerang mereka malam itu. Mereka adalah kawanan pria berbaju hitam yang terluka saat melawan Tae Woo malam itu dan diikat di atas kasur karena mereka terluka parah setelah bertarung dengan Tae Woo dan belum bisa ditaruh di penjara. Mengetahui kalau Tae Woo yang menyelimutinya dan meminta suster itu untuk tak membangunkan Lily setelah meyakinkan suster itu kalau ia baik-baik saja, Lily segera beranjak keluar.
"si bodoh itu?!".
