Cinta Itu Kim Jongin..

.

.

.

Sebentar lagi musim salju akan turun. Mengingat hal itu, Jongin harus menyiapkan baju hangat untuk aktivitasnya di luar nanti.

Kalau ibunya masih ada, pasti ibu akan sangat cerewet sekali meminta Jongin untuk menyiapkan pakaian hangatnya jauh-jauh hari. Dan Jongin sangat merindukan hari itu. Hari yang tidak akan pernah bisa terulang sejak ibu pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Tetapi ibu tidak akan suka jIka melihatnya menangis seperti ini. Ia bahkan sudah berjanji pada ibu untuk tidak menangis saat ibu di rawat di rumah sakit.

Jongin harus jadi anak yang tegar, sekalipun ibu tidak lagi di sisinya.

"Jongin"

Suara Minho memanggil namanya. Cowok itu masuk ke kamarnya tanpa menunggu sang empunya mempersilahkan. Minho memang seperti itu. terhitung 5 hari dia di sini.

"Ku kira kau sedang belajar" Kata Minho. Dia sudah rapi dengan pakaian casualnya. Hendak main sepertinya.

"Tidak" Kata Jongin, cepat. "Aku harus bersiap-siap pergi ke rumah Sehun"

"Mau belajar kelompok lagi?"

Jongin mengangguk pelan. "Aku kan tutornya Sehun"

"Ah.. iya, aku lupa" Kata Minho. "Aku tadinya mau mengajakmu jalan-jalan. Tapi kau sibuk, huft"

"Ah.. jalan-jalan?"

"Iya.. Aku bosan di rumah terus"

"Hmm.. maaf"

Minho tertawa pelan mendengar ucapan maaf Jongin. Ah, padahal Minho sama sekali tidak bermaksud membuat Jongin merasa bersalah lho.

"Tidak apa-apa" Minho menyahut. "Mungkin lain kali"

"Bagaimana kalau kau ikut aku ke sekolah besok?"

"Untuk apa?"

"Latihan drama musikal.. ada banyak murid di sana.. sepulang dari drama musikal kita bisa jalan-jalan"

cowok tampan itu mengusak rambut Jongin dengan lembut. "Hmm.. baiklah"

"Kau akan pergi dengan siapa?"

"Kau kenal Jinri?" Minho bertanya. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya ia berkata, "Anak IPS yang sering sekali bergosip di kantin"

"Kalian berkencan?"

"Apa? Tentu saja tidak. dia memaksaku untuk pergi dengannya"

"Dan kau mau?"

"Itu karena ku pikir kau juga akan pergi bersamaku"

Jongin menepuk bahu Minho, pelan. "Yang sabar ya? Hitung-hitung cari teman juga kan"

"Yasudahlah" Gumam Minho.

Dia baru saja akan pergi jika Jongin tidak memanggilnya dan mengalungkan sebuah syal di leher jenjangnya. Lantas saja Minho merona mendapati sikap jongin yang tiba-tiba. Oh, Tuhan.. Jangan sampai aku jatuh Cinta pada sepupuku sendiri, batinnya terus berdoa.

.

.

.

Sehun meneguk coklat hangatnya pelan-pelan. Di luar sangat dingin, dan kedatangan Jongin ke rumahnya hanya untuk membimbing pemuda itu belajar sangat patut diacungi jempol. Jongin dan sifat baik hatinya itu adalah kelemahan menurut Sehun.

Bagaimana bisa Jongin membiarkan dirinya datang seorang diri dengan cuaca dingin seperti ini? Dan bodohnya, dia tidak naik taxi atau apapun yang bisa mengantarnya dengan selamat ke rumah Sehun. Benar-benar nekad!

"Perkembanganmu meningkat cepat, lho" kata Jongin, seraya menulis sesuatu di buku catatannya.

"Oh? Benarkah? wah, aku pintar juga ya" sahutnya, asal.

Jongin hanya tidak tahu. Jika sebenarnya Sehun itu anak yang pintar, hanya saja dia terlalu malas untuk belajar. Kalau memang dia bodoh, dia tidak akan bisa masuk ke kelas IPA di sekolah bergengsi itu. Dan sepertinya Jongin memang lupa akan fakta Sehun yang pintar,tapi pemalas.

"Aku akan meberikan laporanku pada Ma Saem di hari senin nanti"

"Laporan? Laporan apa?"

"Perkembangan belajarmu selama aku menjadi tutor untukmu"

Sehun berdecak kesal. Seharusnya Ma saem tidak perlu meminta Jongin melakukan itu. Pantas saja Jongin terus-menerus mengejarnya, jadi hanya untuk menyelesaikan sebuah laporan yang menurut Sehun sama sekali tidak penting.

"Jadi selama ini kau mengejarku hanya untuk menyelesaikan laporan itu?"

"Eh, mengapa kau bicara begitu?" Jongin balik bertanya.

"Ku kira kau tulus ingin belajar bersamaku. tapi ternyata kau punya niat lain"

"Ayolah, Sehun" Jongin berkata, perlahan. "Kau ini kenapa jadi mudah terbawa perasaan begitu sih?"

Ia meletakan cangkir di atas meja sedikit keras. "Apa setelah ini kau tidak akan menjadi pembimbingku lagi?"

Jongin nampak berpikir dalam diamnya. Seharusnya sih tidak. Tapi, jika ia boleh jujur, dia sangat menikmati perannya sebagai seorang tutor.

"Kenapa? Seharusnya kan kau senang.. kau bisa bebas. Tidak ada lagi yang mengganggu hari Jumat dan sabtumu itu.."

"Memangnya selama ini kau merasa tidak bebas ya?"

Jongin menarik napas pelan. Seharusnya dia tidak perlu berkata seperti itu kalau nantinya Sehun tersinggung.

"Tidak.. Kita masih bisa belajar bersama setelah pulang sekolah kapanpun kau mau"

"Kalau aku tidak mau?"

"Yak!"

Oh Sehun tertawa terbahak-bahak melihat wajah masam Jongin. Ayolah, dia kan cuma bercanda tadi. Melihat wajah serius Jongin memang tidak membosankan, tetapi melihat senyum Jongin.. ah, Sehun tidak akan pernah merasa bosan untuk hal itu.

"Hey, Jongin"

"Apa?"

Sekali lagi Sehun tertawa.

"Kalau besar nanti kau ingin jadi apa?"

Besar dia bilang? Hey, sekarang ini saja mereka sudah besar kan.. Dasar, Oh Sehun.

"Aku.. hmm.. tidak tahu" Jongin menjawab cepat.

"Kau tidak punya cita-cita?"

"Sehun" ada jeda dalam perkataannya. "Aku ini orang yang selalu menjalankan hidup seperti air.. just let it flow"

"Seperti air?" Oh Sehun bergumam pelan. "Apa kau seorang Putri duyung yang menjelma sebagai manusia? Oh Tuhan, kau.."

"Sehun, itu berlebihan" Jongin tanpa ekpresi.

Sehun terkekeh dan berkata jika dia hanya bercanda. kemudian dia mulai bercerita jika seandainya dia dewasa nanti, dia ingin menjadi seorang dokter anak.

sementara Jongin? Ah, dia bahkan tidak tahu hendak jadi apa untuk masa depannya itu.

"Kenapa?"

"Apanya yang kenapa?"

"Kenapa kau ingin jadi dokter anak?"

"Karena anak-anak itu lucu, dan aku suka"

Jongin terkekeh kecil mendengarnya. "Berarti kau pedofil.."

"jangan ngaco kalau bicara!"

Keduanya tertawa entah karena apa. Dan Sehun, dia bahkan berdoa agar tawa cantik itu tidak akan pernah hilang sekalipun mereka tidak bisa bersama.

.

.

.

Kris adalah cowok yang selalu berpikir positif sekalipun dirinya terluka. Termasuk ketika ia memberanikan diri menarik Jongin dan membawa namja manis itu ke halaman belakang sekolah hanya untuk menyatakan perasaannya.

Jongin dengan senyum manisnya yang dipaksakan, membuat Kris ingin segera merengkuh tubuh ramping itu dan menenangkannya. dia tahu, Jongin mencoba untuk tidak membuat dirinya terluka. Tetapi yang Kris lihat saat ini, hanyalah Jongin yang selalu memaksakan diri hanya demi kebaikan orang lain.

"Tidak apa-apa, Jongin" kata Kris.

"Ta.. tapi"

"Cinta itu tidak bisa dipaksakan"

benar-benar polos. Kris hanya takut jika orang lain yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan kepolosan itu demi kepentingan sendiri.

"Maafkan aku"

"It's ok, Jongin.. Aku baik-baik saja"

"A.. aku takut kau membenciku dan tidak mau lagi jadi temanku" katanya.

Kris mengulum senyum tipis. Dengan gentle ia menarik Jongin ke dalam pelukannya. "Kau tetap teman baikku.."

kalimat 'maaf, aku tidak bisa' mungkin terlalu menyakitkan untuk siapapun yang menyatakan Cinta pada targetnya. Tetapi Kris tidak. melihat targetnya yang lemah dan polos, mana mungkin Kris membenci namja manis ini? Dia tidak bisa! Karena sebenarnya Kris sangat lemah kalau dihadapkan dengan sesuatu yang manis dan imut.

Meskipun tidak mendapatkan hasil yang ia harapkan. setidaknya dia sudah mencoba ka?

.

.

Latihan hari ini berjalan sama sekali tidak baik. Karena Kris yang tiba-tiba saja izin pulang lebih cepat dengan alasan hendak menjemput ibunya yang pulang dari Kanada. Hal itu membuat semua orang sedikit bertanya-tanya akan alasan tsb.

Tetapi beberapa orang lebih memilih diam, dan tidak mau ikut berkomentar apapun. Mereka tahu apa yang terjadi. Mungkin Kris akan terlihat seolah dirinya pengecut. tetapi siapapun akan merasa sangat sedih kalau ditolak.

Jika Kris yang pulang dalam keadaan hati sedih. Sehun malah lebih parah. Sedari tadi Jongin sama sekali tidak melihatnya. Bahkan namja manis itu lebih memilih berangkat bersama cowok yang mengaku sebagai sepupunya atau malah calon suaminya. Jadi, mana yang benar? Serakah sekali, pikir Sehun.

"Kau kenapa?" Chanyeol bertanya, dia menyempatkan diri menemui Sehun yang sedang duduk seorang diri. Karena dilihat dari wajahnya, Sehun seperti bisa meledak kapan saja.

"Oh.. tidak..Hanya sedikit malas" jawabnya, santai.

Sialnya, hari ini baik Namjoon dan Moonkyu tidak ada di sini. Namjoon memilih pergi ke salon menemani ibunya, sementara Moonkyu, anak itu pasti sedang menghabiskan waktu libur weekend-nya dengan bermain Play station seharian.

"Latihan sepertinya akan dipercepat" Chanyeol berkata pelan.

Sehun menyipitkan kedua matanya. "Ada apa memangnya?"

"Kris pamit. ibunya baru pulang dari Kanada hari ini"

"Jadi begitu"

Chanyeol memilih untuk membaca naskah milik Oh Sehun. Dia yang ditunjuk sebagai pengarah musik tentu saja tidak dapat peran. Chanyeol memang sering ditawari jadi relawan dari kelasnya untuk bergabung di kelas musik saat akhir Tahun seperti ini. biasanya Chanyeol bisa menolak secara halus. tetapi tahun ini, dia sama sekali tidak punya hak untuk menolak.

"Naskahmu lebih sedikit daripada milik Kris" kata Chanyeol.

"Tentu saja.. peranku kan jadi seorang ayah yang akan ditidurkan saat putrinya tertidur selama seratus tahun" Sehun menyahut.

"Ya, lagipula susah sekali mencari peran yang pas untuk seorang Raja. Bahkan para siswa pun menolak, mereka bilang peran yang ada di naskah itu terlalu merepotkan. tapi lucunya mereka tidak menolak saat ditunjuk menjadi pohon"

"Aku yakin, pasti drama musikal ini akan terlihat seperti lawakan nanti"

Chanyeol tertawa mendengarnya. "Makanya aku meminta Baekhyun untuk menunjuk dirimu sebagai Raja. Kau bahkan punya karisma itu"

"Apa kau juga menunjuk Irene jadi ratunya?"

Cowok jangkung itu menggeleng pelan. "Sama sekali tidak. dia yang mengajukan diri saat tahu kau jadi Rajanya"

Selingan tawa Chanyeol membuat mood Sehun semakin bad mood. Pandangannya yang jatuh ke arah Jongin malah semakin membuat hatinya membuncah.

"Aku tidak tahu mengapa kalian begitu tega menunjuk Jongin jadi seorang Putri dan memakai baju perempuan di sini"

Chanyeol menghentikan tawanya. Dia sebenarnya juga tidak suka dengan peran yang didapatkan oleh jongin. macam tidak ada seorang gadis saja.

"Entahlah, banyak siswi yang mengatakan dia akan cocok dengan peran itu. mau bagaimana lagi? Jongin kan manis"

Sehun menoleh ke arah Chanyeol, tatapannya sangat tajam dan membuat Chanyeol tertawa salah tingkah.

"Hehe maaf, ne.. Kau tenang saja, aku sama sekali tidak ada rasa padanya" Katanya.

Choi Minho terus mengekori Jongin tanpa rasa lelah. Beberapa murid yang menjadi anggota relawan acara amal itu mulai mendekati Minho dan mencoba untuk berkenalan.

Itu wajar saja. Karena beberapa dari mereka berasal dari kelas IPA dan IPS. Bahkan ada junior tingkat dua dan satu yang bergabung sebagai anggota dari Klub musik.

"Apa kau sering ikut acara amal ini?" Tanya Minho.

Jongin menggelengkan kepalanya pelan. Lalu berkata jika ini yang pertama dan terakhir kalinya. mengingat mereka yang sebentar lagi lulus. Minho bertanya mengapa baru tahun ini Jongin bersedia jadi relawan, dan Jongin sekali lagi menjawab jika ada sesuatu yang membuat dirinya mau tidak mau menjadi salah satu relawan amal untuk Natal dan tahun baru nanti.

"Aku sih senang bisa berkumpul di sini. apalagi bertemu banyak orang. aku bisa belajar cara berkomunikasi dengan baik tidak hanya dengan satu atau dua orang murid saja, tapi lebih" Ujar Jongin dengan senyuman.

"Ya, Bibi Sooyoung bilang kau terlalu introvert. tapi melihat bagaimana kau sekarang ini. Aku jadi bisa menilai, kau bukan orang yang introvert tapi hanya berhati-hati"

Jongin mengulum senyuman. dan itu sangat manis menurut Minho. Dengan gemas ia mencubit kedua pipi gembil Jongin. Lantas hal itu membuat Jongin mengaduh kesakitan.

Dibalik senyum Jongin, dia hanya mencoba untuk menenangkan dirinya atau setidaknya sedikit melupakan kejadian tadi. Kejadian dimana dia menolak pernyataan Cinta Kris yang gentle dan manis telah membuat dirinya merasa dia sangat tidak tahu diri telah menyakiti perasaan cowok ganteng itu.

Di hari senin, perasaannya masih kacau. Meski ia merasa sedikit bersyukur karena tidak sekelas dengan Kris. Jongin bahkan tidak membayangkan kalau seandainya dia dan Kris berada di kelas yang sama.

"Kalau kau merasa seperti itu. mengapa tidak menerimanya saja?" Taemin yang sedang mampir ke kelas Jongin bertanya.

Jongdae mengangguk setuju. "Dia tampan, tinggi, pintar lagi"

Taemin terkekeh mendengar ucapan Jongdae. "Jadi tipemu itu yang seperti Kris ya?" godanya.

Blush..

Jongdae merona mendengarnya.

"Chanyeol pintar dan tinggi. kalau dilihat-lihat dia ganteng juga" ujar Taemin.

"Dia sudah ada cowok kok.. mana mungkin dia selingkuh"

"shut up, Jongin!" Seru Jongdae. Ia menggembungkan kedua pipinya.

Taemin bersyukur melihat mood Jongin kembali ceria. Lagipula, dia tidak seharusnya galau seperti itu. Adapun yang harus galau, Kris lah orangnya.

"Jongin, maaf.. apa aku bisa meminjam uangmu? dompetku tertinggal di mobil bibi Sooyoung"

Itu Minho, dia baru saja tiba dari kantin sambil tergesa-gesa. Jongin terkejut mendengarnya, dengan sigap ia mengambil dompetnya dan memberikan uang kertasnya pada Minho.

"Baiklah, terimakasih" ucap Minho, seraya mengusak sayang rambut Jongin.

"Yak, Minho!"

M-I-N-H-O

Sebuah nama yang membuat Taemin gagal move on mendengarnya. Tawanya langsung hilang saat mendengar Jongin menyebut nama itu.

"Dia-"

"Dia sepupuku, dia memang selalu seenaknya sendiri seperti itu"

"Oh.. dia punya nama yang bagus"

Jongin terkekeh mendengarnya.

.

.

"Jongin"

Sehun berlari pelan, mendekat ke arah Jongin yang sengaja menghentikan langkahnya ketika cowok ganteng itu memanggil namanya.

"Hey, Sehun"

"Apa kau ingin pulang bersamaku hari ini?"

Beberapa murid di sana sedikit mencuri dengar. Sehun akan mengantar Jongin pulang lagi. Sekarang apa lagi yang hendak dia rencanakan?

"Tapi Minho-"

"Tidak bisa ya?"

Jongin menggeleng pelan. Dia hanya tidak mau membiarkan Minho pulang seorang diri. Mengingat Minho yang lupa bawa dompet, pasti sepupunya itu tidak punya uang sama sekali untuk pulang.

"Bukan begitu.. Mungkin lain kali" Jongin menolak halus.

Mereka mungkin saja punya waktu 5 atau 10 menit untuk mengobrol kalau saja Minho tidak datang dan mengacaukan semuanya (menurut Sehun).

"Aku sudah selesai, ayo Jongin" katanya, seraya menggandeng tangan Jongin.

Lantas Sehun menggerutu dalam hati. Minho benar-benar pengacau yang bahkan jauh lebih menyebalkan dibandingkan Kris Wu.

"Maaf, Sehun.. Aku harus menemani Minho ke ruang kesiswaan" Jongin berkata, sangat pelan. Nadanya terdengar seperti sangat bersalah.

"Baiklah" kata Sehun. "Mungkin lain kali"

Jongin membungkukan badannya, kemudian berlalu dan membiarkan Minho terus menggandeng tangannya.

"Terkadang apa yang kita harapkan memang tidak pernah berjalan sempurna ya"

Kris tiba dengan wajah lesu. Sehun tahu apa yang membuat cowok blasteran itu nampak tidak menikmati harinya. Di kelasnya tadi, beberapa murid memang bergosip mengenai Kris yang ditolak Jongin di hari Minggu. Tepatnya saat mereka sedang latihan drama. Pantas saja Kris pulang lebih awal dengan alasan hendak menjemput ibunya di bandara.

"Ya, aku sudah dengar apa yang terjadi diantara kalian"

Kris mengangkat bahu, seolah dirinya memang tidak tahu. "Tapi kalau memang tidak jodoh mau dikatakan apa lagi? Aku sudah cukup senang dia mau berteman denganku"

"Apa kau tidak marah padanya? Bahkan saat dia hanya menganggap dirimu sebagai seorang teman?"

"Tentu saja aku kesal. Tapi tak apa, aku tidak bisa memaksakan diri untuk selalu bersamanya"

"Seharusnya kau terus berusaha"

"Setidaknya aku pernah mencoba kan?"

"Hah..kau ini"

Hela napas terdengar dari hidung Kris. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.

"Seharusnya kau tidak bicara padaku seperti itu. kita kan rival" kata Sehun.

Satu alis Kris naik ke atas. Seolah tidak setuju dengan kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Sehun.

"Daripada kau menganggap aku sebagai seorang rival. lebih baik pikirkan saja nasib hubunganmu dan Jongin itu.. Ah, mungkin juga plus Choi Minho yang terus mengekorinya" Kris menyahut dengan cengiran.

.

.

"Tampaknya si Sehun itu ada rasa padamu" Minho tiba-tiba saja berkata.

Jongin mengalihkan pandangannya dari jendela bus ke arah Minho. Sepupunya itu mengangkat bahu acuh. Tetapi kata-kata Minho barusan, terdengar kalau Minho itu sangat peduli.

"Darimana kau tahu?"

"Hanya mengira saja"

Dari tatapan Sehun saja seharusnya Jongin bisa tahu. Tapi Minho pikir, kalau sepupunya yang manis ini hanya terlalu polos untuk mengerti Cinta. Atau mungkin Jongin yang berpura-pura tidak ingin merasakan getaran hebat itu dengan banyak alasan yang tidak masuk akal. Takut patah hati contohnya? siapa yang tahu..

"waktu jalan dengan Jinri kemarin" Ada jeda dalam kalimat Minho.

"Kenapa?"

"Dia cerita tentang hubungan dirimu dan Sehun" kata Minho.

Oh tidak.. Seharusnya Jinri tidak mengatakan semuanya pada Minho. Tetapi Jongin sama sekali tidak bisa mencegahnya. Karena saat ini, Minho sudah terlanjur tahu dan merasa kesal dengan sikap tak gentle Sehun itu.

"Seharusnya kau marah"

"Marah? Mengapa aku harus marah?"

Minho menarik napas pelan. Ayolah, rasanya ingin sekali memukul Oh Sehun yang telah tega menyakiti hati polos ini.

"Minho, kami bahkan sepakat untuk tidak mengingat masalah itu lagi"

"Dan setelah itu kau masih mau berteman dengannya? Memberinya perhatian? dan bersikap baik padanya? Kau ini bodoh atau apa?"

"Minho" Nada suaranya terdengar datar tanpa emosi. "Hentikan pembicaraan tidak penting ini! karena aku tidak mau mengingatnya lagi"

"huft, baiklah"

.

.

.

TBC

.

.

.

.

A/n

Hello..I'm come back..So..sorry for being late. there are many things to be taken care here. Intinya, Joy bener-bener nyaris gak punya waktu buat lanjut 2 minggu ini. Tapi malam ini agak longgar..and then..tadaaaa, a fanfiction full of drama, insane, and boring, has been continue as it should be..anyway, terimakasih buat semua masukannya.

Warning :

1. to continue reading that you think interesting, please fill the review box below

2. to prevent under feeling of confused, get sick, and boring, please touch left below