Baekhee kecil masih menangis, dia duduk di bawah pohon yang berada di taman dekat panti, dia menunduk menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya.

"kenapa kau menangis??" Baekhee mengangkat kepalanya, dia menatap lurus kedepan saat seseorang berada di sekitarnya dan berdiri tepat di hadapanya, suara itu suara seorang anak laki-laki.

Baekhee kembali menundukan kepalanya, dia mengabaikan anak itu.

"Hei anak manis, kenapa kau menangis??" tanyanya sekali lagi

"...kenapa kau diam saja?" suaranya mendekat, Baekhee yakin anak laki-laki itu berjongkok untuk menyamakan tinggi denganya yang sedang duduk.

"Kau siapa??, pergi! aku tidak mengenalmu" Baekhee mengusir anak itu.

"Kemana orang tuamu?, kenapa kau sendirian di sini?, ini sudah sore, pulanglah...disini dingin, kau bisa sakit" Ucapnya lagi, dia tidak memperdulikan jika gadis kecil itu mengusirnya.

"Mereka mengusirku, mereka tidak mau bermain denganku" Baekhee kembali menangis.

"Kenapa mereka tidak mau bermain denganmu?" tanya anak laki-laki itu lagi.

"Mereka tidak mau bermain dengan anak yang buta sepertiku" kata-kata Baekhee membuat anak itu terbelalak, dia tidak menyangka jika gadis kecil itu benar-benar buta, dia melambai-lambaikan tangan di depan wajah gadis kecil itu.

'dia benar-benar buta?, kasihan sekali anak ini'

"Mereka jahat sekali padamu" anak itu seperti membela Baekhee kecil "...sudahlah jangan menangis lagi, kau bisa bermain denganku" anak itu mengusap kepala Baekhee.

"Jinja?" Baekhee menghentikan tangisnya.

"Ya, aku akan menemanimu sepulang sekolah, jadi berhentilah menangis" anak itu mencoba menghibur Baekhee kecil "...berapa umurmu?" tanyanya lagi.

"Aku 7 tahun"

"Baiklah, kau bisa memanggiku oppa, karena aku jauh lebih tua darimu" anak itu mengacak poni Baekhee.

"Baekie!!, kemana kau?" tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita yang memanggil Baekhee "Baekie, ini sudah sore, kau pergi kemana?" suaranya terdengar putus asa

"...Baeki!!"

Saat membuka matanya, Baekhee merasakan bau obat yang menusuk indera penciumanya.

'Rumah Sakit?'

"Kau sudah bangun Nyonya?" Baekhee mendengar suara seorang perempuan di sekitarnya.

Kepalanya terasa berat, dan perutnya terasa mual luar biasa.

"Aku dimana?" tanya Baekhee pada perempuan yang berada di sekitarnya.

"Kau ada di ruang perawatan Nyonya" Jawab perempuan itu, Baekhee yakin jika perempuan itu adalah seorang perawat.

"Beristirahatlah kembali, suamimu sedang keluar, dia mengatakan akan segera kembali" Perawat itu mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.

"Suami?"

"Ya, suamimu mengatakan kau terjatuh dari tangga, dan kau juga demam tinggi" Perawat itu kembali menjelaskan alasan dirinya berada di tempat ini.

"Jatuh dari tangga?" Baekhee masih mencerna kata-kata perawat itu.

"Iya, tubuhmu lebam, apa kau tidak ingat?"

'laki-laki itu berbohong'

"Ah... Ya aku baru ingat" Baekhee hanya mengiyakan hal yang tidak pernah terjadi.

"Untung bayi kalian tidak apa-apa, kandunganmu cukup kuat, aku yakin kalian akan baik-baik saja"

Perawat itu memberi tahukan hal yang paling dia takutkan setelah bertemu laki-laki yang memperkosanya dan menidurinya hampir setiap hari.

"Aku Hamil?" Baekhee hanya diam, dia sangat shock dengan kenyataan yang baru dia ketahui.

"Ya?, apa kau belum tahu?" Perawat itu menautkan alisnya.

"Aku tidak tahu" Jawab Baekhee datar.

"Apa kalian belum memeriksakan kehamilanmu?, ah... Pasti kau belum menyadarinya" Perawat itu masih berpikir positif "...baik nyonya, aku permisi dulu, beristirahatlah"

Perawat itu meninggalkan Baekhee dan berniat kembali ke ruanganya.

"Tunggu sebentar" Baekhee memanggilnya.

"Ya?, ada yang bisa ku bantu lagi?" Perawat itu kembali mendekat pada Baekhee.

"Kamar ini terlerak di lantai berapa?" Baekhee menanyakan letak kamar itu, entah apa maksud gadis itu.

"Ini lantai 3 nyonya" Jawab perawat perempuan itu.

"Apa suamiku masih lama?"

"Entahlah, dia pergi satu jam yang lalu" Perawat itu hanya menjawab apa yang di tanyakan gadis itu

"Ah... Baiklah, kau bisa pergi, terima kasih" Baekhee tersenyum pada perawat perempuan itu.

Baekhee hanya mematung di tempat tidurnya, dia tidak menyangka hidupnya akan menjadi hancur seperti ini.

"Tidak ada gunanya lagi aku hidup, bajingan itu sudah menghancurkan hidupku, aku tidak bisa terus seperti ini"

Baekhee turun dari tempat tidurnya, dia berjalan tertatih dengan memegang benda sekitarnya yang bisa dia gunakan untuk pegangan.

Tiang infus di samping tempat tidurnya terjatuh dan infus yang menancap di punggung tanganya pun terlepas dan mengeluarkan darah dari pembuluh darah di tanganya.

Baekhee tidak memperdulikan darahnya yang mengalir, dia terus saja berjalan mencari sesuatu.

"Jendela, aku harus menemukanya"

Baekhee terus saja meraba-raba hingga membuat benda-benda sekitarnya berjatuhan, tubuhnya menyenggol sebuah meja dan membuat vas bunga yang berada di atasnya terjatuh ke lantai dah hancur berkeping-keping.

Baekhee tak sengaja menginjak pecahan vas itu membuat kakinya mengeluarkan darah dan meninggalkan jejak darah di lantai.

Gadis itu tidak memperdulikan rasa sakit di telapak kakinya, rasa sakit di hatinya lebih terasa di banding luka di tubuhnya.

"Dimana jendelanya?" dia hampir putus asa mencari jendela kamar itu.

"Astaga!!" Chanyeol terkejut luar biasa saat memasuki kamar rawat inap itu "...Byun Baekhee!!"

Chanyeol melihat kamar itu berantakan, benda-benda berserakan dan bercak darah tercecer di mana-mana.

Yang membuatnya panik luar biasa adalah, saat melihat Baekhee terduduk di lantai dengan tangan dan kaki berdarah, juga gaun putih yang dia kenakan pun penuh bercak darah.

Chanyeol memanggil petugas, dan segera mengangkat tubuh Baekhee, dia bingung harus membawanya kemana, dia tidak mungkin membawanya ke tempat tidur, karena tempat itu pun basah karena infus yang Baekhee cabut begitu saja, juga terdapat ceceran darah dari tangan gadis itu.

"Lepaskan aku!!, aku lebih baik mati!!" Baekhee meronta, sedangkan Chanyeol menggendongnya dan memeluknya erat

"...aku tidak mau melahirkan anakmu, aku membencimu!!" Baekhee memukul-mukul dada laki-laki itu.

Chanyeol masih diam, dia mendudukan diri di sofa yang berada di ruangan itu dan memangku gadis itu dan masih memeluknya erat, laki-laki itu tidak memperdulikan Baekhee yang terus saja memukuli dada dan lenganya.

Petugas datang sedikit terlambat, beruntung perdarahan di kaki dan tangan Baekhee sudah berhenti, dan gadis itu sedikit lebih tenang.

Chanyeol hanya diam, sementara petugas mengobati dan membersihkan luka di tubuh Baekhee, laki-laki itu enggan melepaskan gadis itu dia terus saja memeluk tubuh kecil Baekhee yang duduk menyamping di pangkuanya.

Baekhee hanya diam dan menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol, dia lelah menangis, tenaganya habis karena emosinya yang meledak beberapa saat lalu.

Keadaan hening beberapa saat, petugas-petugas itu sudah selesai membereskan kekacauan di kamar itu dan meninggalkan keduanya masih dalam posisi yang sama.

"Aku mau pulang" Baekhee dengan suara lemah.

"Kau belum sembuh" Jawab Chanyeol datar.

"Aku tidak sakit, aku ingin pulang, bawa aku pulang" Gadis itu memaksa.

Chanyeol akhirnya menyerah, dan membawa gadis itu pulang.

Chanyeol menolak saat Sehun berbaik hati menjemput mereka dari Rumah sakit, dia memilih menggunakan taksi karena dia tidak membawa gadis itu kerumah, melainkan pulang ke flat Chanyeol.

Sepanjang jalan keduanya hanya diam, Chanyeol sedikitpun tidak melepaskan pelukanya, dia tetap memangku gadis itu walaupun di dalam taksi.

"Ini dimana?, ini bukan di rumah, apa kau ingin menjualku karena aku hamil?" Baekhee merasa ini bukan rumah yang dia tinggali "...atau kau mengembalikanku ke panti asuhan?"

"Jaga bicaramu!, aku tidak akan pernah melakukan keduanya" Chanyeol merebahkan tubuh Baekhee di atas tempat tidur yang lebih luas dari tempat tidur di rumahnya.

Flat milik laki-laki itu memang lebih mewah di banding rumah lamanya.

"Cih, Tuan Phoenix, apa kau menyukaiku eoh?, apa kau terlalu menyayangiku??" gadis itu terus saja memancing emosi Chanyeol.

"Baek, hentikan" Chanyeol dengan nada datar, dia berusaha agar tidak terpancing emosi karena kata-kata Baekhee.

"Apa malam ini kau akan meniduriku lagi?" gadis ini benar-benar menguji kesabaran Chanyeol.

"Baek, kumohon hentikan" Chanyeol mengepalkan kedua tanganya.

"Nak, lihatlah ayahmu begitu mencintai ibumu ini" Baekhee mengusap perutnya yang masih rata.

Chanyeol merasa tertohok denga apa yang Baekhee lakukan, gadis itu menyindirnya secara terang-terangan.

"Tidurlah, kau harus beristirahat"

Chanyeol meninggalkan kamar tidurnya, emosinya memuncak, dia tidak ingin menyakiti Baekhee lagi, dia mati-matian menahan ledakan amarahnya.

'Prang'

Chanyeol berlari ke kamarnya saat mendengar benda pecah karena terjatuh, dia takut gadis itu akan melakukan hal yang membahayakan lagi.

"Baek!" Chanyeol membuka pintu kamarnya dengan tergesa.

"Maaf, aku hanya ingin menyusulmu" Baekhee berdiri di dekat pintu, dan berpegangan pada sebuah meja kecil hingga membuat vas bunga yang berada di atasnya jatuh.

"Byun Baekhee, kau benar-benar menguji kesabaranku" Chanyeol menghela nafas lega saat hal yang dia bayangkan tidak terjadi.

"Aku hanya ingin menyusulmu dan memelukmu dari belakang, Minseok Ajumma mengatakan jika suaminya sedang marah, dia selalu memeluknya dari belakang" Chanyeol menautkan alisnya bingung.

'Memelukku?'

"...aku tahu kau sedang marah padaku, jadi aku ingin membuktikan ucapan Minseok Ajumma itu benar" Lanjut Baekhee.

Chanyeol tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak tahu itu sindiran halus atau gadis itu benar-benar ingin memeluknya untuk meredakan amarahnya.

"Kemarilah aku akan memelukmu"

Tbc.

Eww...apa apaan dah Chapter ini.

Berdarah-darah...