The Moon and The Sun
Naruto Fanfiction
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : Naruto & Sakura
Genre(s) : Romance, Hurt/comfort, Family,Drama
Rate : T
Warning : OOC,AU,Siscon,Typo(s),gaje, nonsense, bosenin, bikin naik darah(maybe?)
Summary :
"Seumur hidup, hanya Kakashi-nii saja yang akan kupanggil Oniichan, Bakaniki! SELAMANYA! " Itu pernyataan sakura terhadap kakak keduanya― Sasori.,yang batas sisconnya sudah hampir melampaui batas normal. Hal itulah yang membuat Sakura agak berjaga jarak dengan kakaknya itu, gara-gara sikap sasori pula Sakura tak bisa mendapatkan kisah cinta yang berkesan sampai ia bertemu seseorang..
*Jengjengjengjeeengg* Saatnya balas ripiuuu~ *versi doraemon*
Princess NaruSaku : Waaah beneraan? Makasih banyak Princess NaruSaku-chan^^ Makasih atas review dan sudah baca fic Miu:D
.indohackz : Hehehe kasian gaara-nya dong:D naruto Cuma milik Miu *rebutdarisakura* *dihajarsakura*
Rimadhani Hime : Kyaaa~ Satu kata yang indaaaah~ Terimakasih^^
Ucy-chan : Haaai ucy-chan~ Hahaha, jawabannya ada di chap ini^^ Iyanih u.u Kayaknya Naruto masih bingung mau pilih Saku atau Miu:3 *PLAK!* Iyaa u.u Miu sibuk siapin segala macem hal buat ikutin lomba di UPI Bandung selama seminggu^^ *cie Miu anak bandung cie* Hahaha siip
Aurora Borealix : Waah hahaha tak apa kok^^ Makasih ya udah sempetin review^^ Hemm.. Nanti pasti ada jawaban Sakura,tapi bukan di chap ini maupun chap depan^^ Siip lanjut ya~
Hehehee~ Yuk ah mulai ceritanya^^
Chapter 10 : Confession
"A..Apa?" Mulut Sakura tak percaya dengan perkataan senpainya yang satu ini.. Ia tak habis pikir akan ucapan yang dikatakan senpainya barusan
"A..Aku.. Aku tidak begitu mengharapkan jawabanmu sekarang sih.." Gaara mengangkat kedua telapak tangannya
"Ah.. Eh.. Oh,begitu.." Sakura merasa sangat gugup. Bagaimana tidak? Ia baru saja mengenal senpainya itu beberapa hari, belum sampai seminggu berlalu―Yah, beberapa hari lagi memang genap seminggu sih.. Tapi tetap saja, bagaimana bisa senpainya ini yang baru dikenalnya sudah menyukainya?
Terlebih, saat senpainya itu baru saja bercerita bahwa ia mengalami cinta pada pandangan pertama..
Seingatnya, pertemuan pertamanya dengan Gaara itu cukup.. Err―memalukan, karena hari itu Sakura terus-terusan terjatuh. Maupun di hadapan Gaara, ataupun dihadapan orang lain
Sunyi..
Hening..
Tenang..
Sepi
Ya, aku tahu, tangga didaerah sini memang jarang dilewati orang. Tanpa suasanya awkward yang diciptakan mereka pun, kawasan itu memang sudah sepi..
Suasana itu meliputi mereka berdya selama beberapa menit. Akhirnya, Gaara mengawali percakapan agar mencairkan suasana
"Yah.. Kuharap, pengungkapan perasaanku ini tidak membuatmu menjauhiku,Sakura.." Gaara menggaruk kepalanya sammbil menoleh kesamping dengan rona wajah yang memerah
Sakura merasa geli ketika melihat rona yang muncul di wajah senpainya itu.. Ia ingin tertawa, tapi rasanya 'enggak banget kan', menertawakan orang yang baru saja menyatakan perasaannya padamu? Hei,hei.. Menyatakan perasaan pada orang yang disukai itu butuh energi berlebih lho~
Apalagi Gaara terkenal sebagai orang yang paling banyak 'ditembak' cewek. Yah, salah satu faktornya adalah karena dia tampan.. Faktor lainnya adalah karena kekayaan dan jabatannya sebagai ketua OSIS.
Sementara Gaara? Belum pernah ada seorang pun yang mendengar ia menyatakan perasaannya pada seorang gadis.
Tapi rata-rata banyak gadis mendekatinya hanya karena hal materi. Bukan hati, maka dari itu Gaara muak dengan sikap gadis-gadis yang pernah menembaknya. Pokerface..
Sakura tersenyum,membuat pipi cowok yang memiliki tato 'ai' di dahi kirinya itu semakin memerah
"Tentu saja aku tak akan menjauhimu senpai.. Tapi.. Terima kasih atas perasaan senpai.."
Sakura menunda ucapannya yang berikutnya.." Tapi aku.."
Tap tap tap
Sakura mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan menuju tangga yang menjadi lokasinya dan Gaara saat ini, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan ucapannya. Takut terdengar orang lain. Bisa-bisa nama baik Gaara tercemar karenanya..
Sakura melirik sosok dua orang lelaki yang berjalan menuruni tangga dengan langkah yang begitu santai dan ringannya
Mata Sakura terbelalak. Begitu terkejutnya ia bahwa salah satu dari dua lelaki yang berjalan menuruni tangga itu merupakan Sasori
Sasori memang sempat melirik Sakura sesaat. Dan saat itu, sedikitnya Sakura ingin mendapatkan tanggapan yang sedikit berarti dari Sasori.
Tapi...
Tidak.. Sama sekali tidak. Sasori tetap melewatinya dengan tenang begitu saja. Sasori terus saja bicara pada temannya sambil sedikit tertawa kecil. Agaknya, Sakura merasa agak lega, Sasori bersikap normal pada teman-temannya. Setidaknya ia tahu, bahwa sikapnya pada Sasori kemarin tidak berdampak pada pergaulannya bersama temannya. Tapi..
Sedih juga.. Berat rasanya mengetahui saudara kandung yang bersekolah yang sama dengan kita dengan terang-terangan menjauhi kita seperti itu. Bahkan tak hanya di sekolah. Dirumah pun.. Sama..
Sakura menunduk. Meratapi nasibnya yang seperti itu
-Sasori's POV-
"Ooi, Sasori.. Ayo kita ke kantin,un!" Kulihat Deidara―Sahabat baruku itu sudah berdiri disebelah bangku yang kududuki. Aku hanya meliriknya sekilas. Aku kemudian merenggangkan tanganku. Pegal rasanya..
"Ah.. Aku malas. Kau sajalah.. Sepertinya sistem saraf tubuhku tidak kunjung mengirimkan sinyal untuk bergerak pada otakku. Buktinya tubuhku tidak bereaksi.."
Deidara menarik pelan lengan kananku yang tadinya sedang direnggangkan.
"Ayolah, Sasori.. Aku traktir kok.. Aku janji,un!" Tawaran Deidara terdengar kurang menarik bagiku.. Haaah, kalau saja ia bersedia mentraktirku Kare dengan katsu special diatasnya...
"Bagaimana jika kutambahkan kare dengan tambahan katsu spesial di atasnya?" Deidara menambah menu untuk menyogokku. Yah, sedikitnya aku agak terdorong..
'Tapi.. Lebih bagus juga kalau dia membelikanku Ice cream Vanillaberry dengan potongan coklat di atasnya? Ice cream vanila ditambah dengan syrup strawberry dan juga ice cream strawberry-blueberry. Ditaburi dengan coklat yang rasanya.. Hemmm...' Pikirku
"Bagaimana jika kutambahkan lagi dengan Ice cream VanillaBerry dengan potongan coklat diatasnya?" Tawar Deidara kembali
L..Lho.. Tunggu dulu. Bagaimana ia bisa tahu apa yang kuinginkan?
Biar aku tes.. Akan lebih baik jika ia mentraktirku cheese risotto with chicken sepulang sekolah..
"Ah.. Kutambahkan lagi dengan cheese risotto with chicken nanti!"
Wah.. Ia menebaknya dengan tepat. Apakah dia dapat membaca pikiran orang lain,eh? Atau memang.. Aku yang mudah ditebak?
"Kau mau sekotak nasi unagi bakar dengan nori dan salmon panggang pun tak apa..!"
Ah,baiklah.. Ini bukan pesananku, tapi... Kelihatannya menu ini menggugah selera..
Deidara terdiam. Sepertinya ia penasaran dengan jawaban yang akan kukeluarkan.
"Deal" Aku segera beranjak dari kursi dan beralan santai menuju pintu kelas
Sementara Deidara hanya terbengong dengan sikapku yang tiba-tiba
"Ada apa Dei? Aku sudah bilang Deal.. Jangan bilang bahwa kau akan membatalkan pesananku" Ujarku sambil menengok ke belakang. Ya, aku sudah berada di luar kelas,sementara Deidara masih terdiam di samping mejaku di ujung pojok kanan dari arah depan papan tulis.
"Sial kau.." Deidara segera berlari menghampiriku. Ia segera memitingku sambil sesekali menjitak kepalaku. Aku hanya meringis karena tingkahnya
Sepertinya ia agak cukup menyesal karena telah menawarkan bermacam makanan yang masih belum bisa dibilang murah ini.. Tapi, sepertinya ia tidak benar-benar menyesal. Malah terlihat seperti tidak keberatan. Yah, baiklah.. Setidaknya uang jajanku bisa ditabung dan sedikitnya bisa membantu Kaa-san dan Tou-san..
Ah,iya.. Sakura. Aku belum melihatnya lagi dari kemarin semenjak insiden(?) itu..
Sayup-sayup terdengar suara wanita dari ujung tangga yang akan kulewati.. Sepertinya suaranya terdengar.. Some kind of..Familiar?
"Tentu saja aku tak akan menjauhimu senpai.. Tapi.. Terima kasih atas perasaan senpai.."
Aku bertaruh, pasti gadis itu sedang ditembak!
"Tapi aku.."
Sudah kuduga!
Sedikitnya aku cukup penasaran. Cowok seperti apa sih yang menembak gadis itu? Dan kuharap itu bukanlah Sakura yang ditembak.. Aku juga cukup penasaraan, cewek seperti apa yang ditembak cowok itu? Cantikkah?
Aku membelkkan diri ke arah tangga untuk turun. Aku memutuskan untuk tidak menatap kedua orang yang kini terdiam itu. Tadinya si gadis masih berbicara dengan suara yang terdengar familiar di telingaku, tapi begitu aku dan Deidara berbelok untuk turun melewati tangga, si gadis mengurungkan niatnya untuk.. Yah, kupikir sih gadis itu―menolak lelaki itu..
Tapi, aku cukup penasaran.. Tak apalah jika aku melirik sedikit dari ujung mata. Sepertinya tak akan terlihat sih..
Akhirnya aku melirik kedua insan muda itu lewat ujung mataku. Betapa kagetnya aku. Ada siluet rambut pink. Tubuh sang gadis menutupi cahaya matahari dari jendela,sehingga aku hanya melihat siluet saja.
Samar-samar. Eh,bukan. Sekilas aku melihat rambut pink pendek terjuntai lembut di pundak sang gadis.
Jantungku agak berdetak. Aku curiga kalau gadis itu adalah Sakura. Ternyata orang itu tak tahu ia sia― Gyaa!
Waaah, Sasori.. Kau dan Sakura kan hubungannya(?) sedang merenggang. Kau tak berhak menanyakan hal dengan cara bicara yangjuga berbohong.. Tentunya
Lalu, aku melirik laki-laki didepannya.
'Hmm, rambut merah. Sama denganku' Pikir Sasori
Karena aku merasa tak ada urusan apapun, aku pun akhirnya melewati mereka―khususnya Sakura, dengan langkah yang cukup santai
Wangi cherry yang keluar dari tubuh Sakura saat melewatinya cukup membuatku sedikit.. Merindukannya
Deidara terus saja menanggapi ocehanku yang menurutnya menyebalkan itu sambil sesekali tertawa dengan keras.
'Saat aku tidak mengusilinya, apakah Sakura akan terlihat kesepian?' Aku tersenyum kecut, memikirkan dua kemungkinan yang keduanya bersifat fifty fifty. Ah, oke aku bohong. Maksudku 1:9 kemungkinan,dengan 9 sebagai Sakura yang tidak peduli akan kehadiranku
Setelah cukup jauh dari posisi Sakura, Deidara mulai membuka mulutnya untuk hal lain
"Ngg.. Sasori, itu adikmu kan? Kenapa tidak saling menyapa?" Tanya Seidara serius. Aku tidak menjawab. Entah sengaja tidak menjawab karena enggan menjawabnya atau.. Tidak bisa karena tidak sanggup..
"Ah!" Sesaat Deidara teringat sesuatu "Ja.. Jangan-jangan.. Jangan bilang kau masih..Dengan adikmu?"
Aku hanya mengangguk pelan. Deidara ternyata masih ingat akan ceritaku kemarin. Dia hanya menghela nafas
"Sampai kapan kau mau terus begini,Sasori?"
'Sampai.. Kapan,eh?' aku hanya tersenyum terhadap pertanyaan Deidara
-End of Sasori's POV-
•
•
•
Akhirnya, Sakura sama sekali tak mengatakan apapun pada Gaara setelah pengakuannya barusan. Setelah Sasori melewati dia, Sakura segera pergi dari tempat itu dengan langkah yang gontai. Sakura tak memerhatikan sekeliling,hingga ia..
BRUKK!
Sakura menabrak seseorang di depannya hingga ia dan orang itu etrjatuh. Sakura terlanjur malu hingga ia tak berani menatap wajah orang yang ditabraknya
"K..Kyaa!" Pekik Sakura kaget. "Ma.. Maakan aku, aku akan lebih berhati-hati!" Sakura beranjak dari tempat jatuhnya. Ia segera menunduk dalam-dalam dan segera beranjak pergi, Hingga saat ia hendak pergi, sebuah tangan menariknya, melarangnya untuk pergi
"Sa.. Sakura-chan? Ada apa?" Ternyata benar saja. Tak lain dan tak bukan, orang itu ialah Naruto
"Na.. Naruto?" Sakura menoleh ke arah Naruto. Tak ia sangka,yang ditabraknya kali ini ialah Naruto " Ma.. Maafkan aku!"
"Ah, tak apa.. Apa yang terjadi? Kau terlihat lesu.. Apakah ada masalah?"
'Oh,kami-sama.. Terima kasih kau sudah membuat orang ini cukup peka hari ini' pikir Sakura. Ia mendesah pelan, tangannya bergerak menuju belakang kepalanya. Ia menggaruknya pelan
"Tak ada masalah kok. Tenang saja. Kalaupun ada, aku pasti akan segera menyelesaikannya dengan baik" Sakura mencoba menjawab pertanyaan Naruto dengan wajah yang cukup santai dan tidak sedih.
Namun, Naruto yang kebetulan sedang peka itu dapat menyadari bahwa ekspresi itu hanya pura-pura.
"Sakura-chan.. Jangan berbohong padaku." Ucap Naruto pelan, Sakura terhenyak.
' Bagaimana ia bisa tahu?!' Ampun deh,Saku.. Bukannya kau tadi bersyukur pada Kami-sama mu itu karena membuat Naruto cukup peka hari ini?
"A.. A-apa yang.. Aku.. Tidak.." Sakura menjawabnya terbata-bata. Jujur,ia bingung alasan apa yang harus dipakainya pada Naruto yang sedang peka.
"Katakan saja dengan jujur. Mungkin aku bisa membantumu. Percayalah.." Naruto tersenyum pada Sakura
Deg deg deg deg
Jantung Sakura berdebar tak karuan. Melihat wajah Naruto yang tersenyum seperti ini benar-benar membuat jantung Sakura senang sekaligus bingung. Bingung kenapa? Karena ia tak tahu mengapa ia seperti ini sekarang..
•
•
•
"Hoo, akhirnya dia mengatakannya juga padamu ya?" Inikah tanggapan Naruto? Ya.. Dingin ya? Kenapa coba? Ya, karena Naruto sudah tahu akan perasaan Gaara terhadap Sakura. Sebenarnya ia sedikit kaget, sepertinya Gaara bukan orang yang bisa menahan perasaannya.
Yah, siapa juga yang bisa menahan perasaannya yang selalu bergejolak ketika ia bertemu atau berbicara dengan gadis yang ia sukai? Jangankan berbicara! Melihat pun mungkin lama-lama tubuhnya akan meleleh karena suhu panas tubuhnya yang meningkat drastis jika proses pemanasan tubuh itu dilakukan terlalu lama. Yah, ini ngawur memang. Tapi.. Intinya memang benar kan? Yakuza sekalipun akan luluh di depan orang yang ia sukai..
"Hiiihhh, Naruto! Katanya mau membantuku, kok tanggapannya hanya itu saja?" Sakura mulai kesal*sedikit* karena tanggapan Naruto yang seadanya. Seakan hal itu tidak penting baginya.
Oke, mungkin bagi Naruto itu memang tidak penting,apalagi mengingat Sakura bukanlah siapa-siapanya selain sahabat. Tapi, keadaan ini memang penting bagi Sakura.
"Aku bingung mau menanggapi apa.. Perasaan Gaara padamu saja aku sudah tahu.. Tidak menarik.." Naruto menoleh ke arah jendela, ia memandangi orang-orang yang berlalu lalang disana dan mungkin pemandangannya juga..
"Ayolah, bantu aku.. Katamu kau akan membantuku. Makanya aku percaya padamu. Jika aku tahu tanggapanmu hanya begitu,lebih baik tidak usah cerita saja dari awal!" Sakura menggembungkan pipinya dan melipat kedua tangannya di dada.
Naruto melihat itu pun langsung tertawa
"Hahahaa,Sakura.. Kau ini berlebihan ah.." Naruto menyentuh salah satu pipi Sakura dengan jari telunjuk kanannya,sambil menunjukkan cengiran khasnya
BLUSH!
Wajah Sakura memerah seketika.
'Waa..?! Pipiku! Jarinya! Wajahnya! SENYUMNYAAAA! KAMI-SAMAA!' Sakura berteriak dalam hatinya
"Waah, pipimu enggak kempes.. Jangan-jangan kau itu sebenarnya gendut.." Naruto menyeringai lebar
PRAAKK!
Hati Sakura mencelos. Ia kira Naruto melakukan itu untuk menghiburnya.. Ternyata..
"NAAAAARUUUTOOO!" Sakura memberikan deathglare specialnya pada Naruto.
"Wah, ada apa? Kau tersinggung? Maaf,maaf.. Aku cuma bercanda.. Kukira jika aku melakukan itu,kau akan berhenti mengambek seperti anak kecil begitu.." Naruto melipat tangannya di meja dan memposisikan wajahnya tepat diatas tangannya itu dengan tubuh dan wajah yang menghadap Sakura
'Ah.. Ternyata.. Benar,ya?' Pipi Sakura kembali bersemu merah
Sakura menggaruk pipinya,entah untuk apa. Yang jelas,Miu sendiri engga ngerti ada apa dengan Sakura *Alaah,Miu bohong*
"Sakura.. Wajahmu..." Naruto mendekati wajah Sakura secara perlahan
"E-Eh?! Na-Naruto..?" Sakura terkejut,Naruto tiba-tiba mendekati wajahnya seperti itu
"Wajahmu merah. Kau sakit?" Tanya Naruto sambil meletakkan punggung tangannya ke arah dahi porselen―ah,maaf.. Dahi Sakura yang ikut memerah karena pipinya melakukan reaksi pada seluruh wajah(?)
"Ti. Tidak.. Aku merasa baik-baik saja" Ujar Sakura dengan mata yang melirik kebawah. Ia tak bisa melihat Naruto dengan jarak sedekat ini..
"Atau...Jangan-jangan.." Naruto mencoba menerka-nerka
DEG!
'Ja.. Jangan-jangan Naruto menyadari bahwa wajahku merah karena sikapnya?!' Sakura bertanya dalam hatinya,ia sedikit menunggu jawaban Naruto.. Tetapi..
Tik
Tok
Tik
Tok
"Jangan-jangan wajahmu memerah karena bereaksi dengan jerawat merah di wajahmu?" Naruto mengucapkan hal itu dengan BEGITU POLOSNYA,hingga ia tak menyadari betapa bodohnya ia bicara begitu pada Sakura
"Hajar dia,Sakura!" Inner Sakura pun merasa kesal. Mengatakan bahwa Sakura memiliki jerawat,itu berarti sama saja dengan menyinggung dirinya juga bukan? Yah.. Setidaknya mereka sama-sama Sakura. Mengerti kan?
"NAAAARUUUTOOOO..." Sakura menggeram begitu marah ia tengah menyiapkan kepalan tangannya.
Naruto hanya meneguk ludah
GLEK!
"GYAAAAAAAAA!" Terjadilah acara kejar-kejaran antara Naruto dengan Sakura
Naruto kini tersudut ke arah luar jendela. Jendela itu terbuka,Sakura bisa saja melemparnya dari situ sekarang juga
"Sa..Sakura-chan, aku menyeraah~ maafkan aku! Kumohon, aku hanya.. ngg.. Ya! Bercanda! Bercanda!" Naruto mencari alasan agar ia selamat dari Sakura
Namun yang terjadi, Sakura malah mengetahui bahwa hal itu hanya alasan saja
"Jangan beralasan,NARUTO!" Ujarnya marah
"Waaa! Sudah,sudah, henti―" Ucapan Naruto seketika berhenti.
Kenapa? Karena ia telah dihajar Sakura sampai pingsan? Bukan!
Atau karena ia dilempar oleh Sakura keluar jendela? Sudah jelas Sakura takkan melakukan itu
Jadi apa?
"―kan..." Ucapan Naruto yang terhenti tadi hanya dilanjutkan dengan imbuhan saja..
Sakura heran,apa yang membuat Naruto yang sedari tadi berisik itu tiba-tiba terdiam. Padahal ia belum melakukan apapun padanya.
Penasaran,Sakura menunduk dan menoleh ke wajah Naruto
"Na..Naruto?"
Dilihatnya mata Naruto terbelalak, sinar matanya menunjukkan kesedihan dan kekecewaan. Mulutnya sedikit etrbuka. Jelas sekali kalau Naruto sednag.. Bersedih,sepertinya?
Sakura pun menoleh ke arah yang Naruto lihat tadi. Tapi, sekarang disana tidak ada siapapun. Adapun tanaman saja. Tak mungkin 'seorang Naruto' terkesima melihat tanaman yang biasa saja(?) itu hingga mulutnya terbuka
"Ke.. Kenapa..?!" Naruto mengepalkan tangannya erat-erat, giginya bergemelutuk, raut wajahnya yang ceria itu hilang dalam sekejap..
"Naruto..?"
-Tsuzuku-
Waaaiii,readers, maaf Miu lamaa banget updatenya.. Miu sibuk akhir-akhir ini..Tapi akan Miu usahakan untuk selalu update ya^^ Jadi,makanya para readers tungguin fic Miu update ya~ Miu akan berusaha membuat fic pertama Miu ini disukai readers.. Walaupun pasti ada yang engga sreg sama pairingnya atau jalan ceritanya,maybe? Saran atau komentar,atau kritik boleh. Boleh flame asal membangun.. Jangan asal flame ya^^ Review yuk ah~
