Day 10

(note: jangan marahin saya plis sama endingnya)

.

.

.

Mark menyadari Jaemin yang terus-terusan melirik jam tangannya. Sesekali helaan napas lolos dari celah bibirnya lantaran menyadari kalau suara ketukan pintu bisa terdengar kapan saja.

"Barangmu sudah siap semua?" tanya Mark, berusaha mengalihkan perhatian orang yang sedang duduk di depannya. "Jangan sampai ada yang tertinggal. Repot nanti."

Jaemin mengulas senyum seadanya lalu mengangguk. "Sudah kok. Aku sudah mengeceknya berkali-kali." Dia melempar pandangannya ke asal tempat. Apapun, apapun yang bukan Mark.

Jaemin terlihat cemas, menurut Mark.

Dengan alasan itu, akhirnya Mark memutuskan untuk bertanya. Barangkali, dia berbuat salah dan itu mengganggu Jaemin. Tapi Jaemin menggelengkan kepala sambil berkata apa yang sedang dipikirkannya itu bukan gara-gara Mark.

Tok tok.

"Mark!"

Terdengar suara dari luar. Kemungkinan besar itu orangtua Jaemin yang datang menjemput, tapi… entahlah. Suaranya tidak seperti Taeyong atau Ten –Jaemin yakin soal itu. Malahan, yang merasa kenal pada suara itu justru… Mark sendiri.

Mark buru-buru membuka pintu, dan benar. "Pa –ayah?!" dia kaget mendapati ayahnya di sana, cengar-cengir sambil melambaikan tangan pada Mark, lalu pada Jaemin yang berdiri di belakang Mark. "Kenapa ayah di sini? Lho, ibu juga?"

"Haha, boleh dong mampir-mampir. Mau nengokin Jaemin juga, sekalian," kata ayahnya santai.

"Siang, Om Johnny," sapa Jaemin ketika dia sadar ayahnya Mark yang tinggi itu melihat ke arahnya. "Om Taeil juga."

Johnny senyum-senyum, lalu sempat melongokkan kepalanya ke dalam ruangan. "Terus? Orangtuamu belum sampai ya? Kami sebenarnya tadi berangkat bareng tapi kepisah di jalan gara-gara ban kempes. Taunya mereka yang lama ya."

Mark merasa aneh mendengar kata-kata ayahnya. Berangkat bareng? Buat apa?

"Iya, belum. SMS juga belum dibalas," jawab Jaemin sambil kembali mengecek hapenya. "Padahal sudah mau jam 3."

Mereka semua masuk ke dalam dan mengobrol sambil menunggu orangtua Jaemin. Johnny di sana terlihat sudah sangat PW, mengobrol terus-terusan dengan Jaemin, sementara Mark berusaha menggali informasi dari ibunya, Taeil.

"Ma, kenapa ke sini nggak bilang-bilang?" dia berbisik-bisik di dekat telinga Taeil. "Pasti ada apa-apanya deh!"

Taeil tersenyum geli mendengar Mark jadi memanggilnya dengan 'mama' lagi seperti dulu –Mark sering kelepasan jadi manggil begitu tiap emosi. "Curigaan banget ya. Nggak, nggak ada apa-apa. Kemarin emang papa mama Jaemin main ke rumah buat kumpul-kumpul lagi, terus papa kamu pas denger mereka mau jemput Jaemin hari ini di sini, langsung bilang 'kita ikut juga yuk'. Gitu."

Mark itu skeptis, oke. Dia rada percaya nggak percaya sama cerita mamanya. Tapi dia juga tau sih, papanya itu orangnya gimana. Selalu on a whim –dan sifatnya yang ini benar-benar diturunkan ke anak bungsunya, Haechan.

"Atau… kamu berharap ada apa-apa?"

Mark mengerutkan alis mendengar apa yang dikatakan mamanya barusan. Menyebalkan. Tapi dia putuskan untuk tidak membalas. Durhaka.

Tok tok tok tok.

"Oh, itu sepertinya mereka." Johnny baru saja akan beranjak, tapi dia batalkan dan beralih pada Jaemin. "Biarin anaknya aja deh yang nyambut."

Jaemin tidak terlalu ambil pusing. Dia berdiri dan berjalan ke pintu. Sebuah pelukan langsung menghamburinya.

"Jaemin! Kamu nggak apa-apa kan?" Taeyong sibuk mengecek keadaan anaknya, tapi lalu dia dapat sebuah tepukan yang agak keras pada pundaknya.

"Ih, anakmu yang ini tuh udah gede! Laki-laki, lagi. Udah dong!"

Taeyong tidak peduli. Ten boleh saja menendangnya saat itu juga, tapi yang pasti, dia akan tetap memastikan anak pertamanya itu baik-baik saja.

Ten melihat ke dalam untuk mencari Mark, tapi yang dia lihat pertama malah mantan tetangganya yang paling raksasa sedang cengar-cengir aneh sambil menyeruput teh. "Lho? Katanya bannya kempes. Kok udah di sini?"

"Kalian aja yang lama. Pasti mampir-mampir deh."

Ten ketawa. Emang mampir sih. "Eh, udah, udah. Ayo, masuk. Reuni episode 2!" Ten menggiring masuk Taeyong yang masih asik memeluk Jaemin, sedangkan Mark sudah berjalan ke dapur menyiapkan teh lagi.

Benar-benar episode 2 yang panjang. Mereka mengobrol soal apapun dari yang penting sampai yang tidak penting juga, sampai-sampai tidak sadar jam sudah menunjukkan angka 5.

"Udah yuk, pamit. Nggak enak sama ibu kostnya kalau datangnya kemaleman," kata Ten sambil menghabiskan sisa-sisa teh di cangkirnya. "Kalian juga gimana rencananya?" Ten bertanya pada Johnny dan Taeil.

"Kita pulang nanti, rada maleman aja. Masih pengen gangguin si bocah." Johnny cengengesan puas pas liat Mark menghela napas.

Jaemin memasukkan barang-barangnya ke mobil, dibantu Taeyong dan Taeil. Mark? Kenapa Mark tidak membantunya? Karena ada yang menahannya untuk mengobrol sebentar.

"Ng… kenapa ya?" Mark bingung ketika Johnny dan Ten mulai terlihat seperti akan menginterogasinya.

"Gimana?" Ten bertanya dengan ekspresi luar biasa tidak sabaran. Itu membingungkan Mark. "Gimana rasanya tinggal bareng Jaemin?"

"…hah?"

"Jawab aja, Mark." Johnny geleng-geleng. Keliatan banget dia juga nikmatin ini. "Seneng? Nyaman? Mau lebih lama lagi? Atau apa?"

"? A-Aku nggak paham, beneran!" Mark menatap bergantian wajah Johnny dan Ten yang lalu malah memutar matanya, tidak percaya kalau Mark yang terkenal pintar ini mengaku tidak mengerti, tidak mengerti.

"Kamu nggak ngerasa pengen nahan Jaemin biar dia tetep di sini aja?" Ten menyunggingkan senyum aneh. "Aku sih bisa aja ngatur biar Jaemin tetep di sini, tapi itu kalau kamu mau. Toh, ke kampus lebih deket kalau dari sini ketimbang dari kost yang Taeyong tentuin, jadi itu juga ngebantu Jaemin banget –tapi ya itu, itu kalau kamu mau."

"Iya. Aku denger sih itu kostnya emang aman dan yah, instagrammable. Feeds Instagram Jaemin rapi kan? Dia pasti seneng di sana," tambah Johnny. Alisnya berkerut-kerut menyebalkan. "Tapi kalau menurut feeling papa nih, kalau disuruh antara kost instagrammable sama di sini, Jaemin bakal lebih milih di sini."

Mark hampir mau bilang, 'anaknya aja bukan kok udah main feeling-feelingan', tapi Mark tau itu nggak sopan, jadi dia diem aja sambil berusaha mencerna kira-kira mereka ini maunya apa. Mark pikir lagi ya, kata-kata Taeil tadi juga rasanya rada aneh. 'Atau kamu berharap ada apa-apa?'. Maksudnya?

"…aku sih…." Mark menghindar bertemu mata dengan dua orang yang sekarang dengan (tidak) sabar menunggu jawabannya. "…terserah Jaemin?"

Jawaban yang membosankan tentu saja buat dua makhluk itu, tapi Mark tidak mengada-ada. Kalau sudah begini, dia hanya ingin mengikuti mau Jaemin. Kalau Jaemin mau pindah, Mark bantu packing. Kalau Jaemin mau tetap di sana, Mark bantu bongkar lagi tasnya. Semuanya benar-benar terserah Jaemin.

Ten menghela napas. Johnny mengusak rambutnya. Mereka lalu hanya menepuk pundak Mark sebelum keluar menyusul yang lain. Terlihat jelas mereka sebenarnya dibuat kecewa.

Mark lihat Taeil sempat menanyakan sesuatu pada Johnny, yang mana dijawab dengan gelengan. Taeil hanya diam sambil menganggukkan kepala.

"Sudah kan?" Taeyong melipat tangannya di depan dada, merasa puas melihat tas Jaemin sudah tertata rapi di bagasi mobil. "Ya sudah. Pamit sana, Jaem."

"Makasih ya, Om Johnny, Om Taeil. Aku ngerepotin Mark hyung di sini," kata Jaemin. Dia membungkukkan tubuhnya.

Taeil menepuk pundak Jaemin. "Nggak, kok. Makasih juga ya, Jaemin. Sebulan ini Mark makannya jadi masakan rumah, katanya?" katanya. "Kapan-kapan pengen cobain masakannya Jaemin boleh ya?"

Jaemin mengangguk sambil menarik senyum lebar.

"Kalau lagi senggang main ke sini aja lagi. Bikin repot Mark juga nggak masalah. Mark mah seneng direpotin." Johnny cengengesan, lalu merangkul Taeil yang juga senyum-senyum.

Mark yang berdiri paling jauh dari yang lain sepertinya tidak berpikir ingin mendekati mereka yang masih haha-hihi basa-basi. Tapi dia jadinya malah dihampiri Jaemin dengan berlari kecil. Mark sempat merasa panik, entah kenapa.

"Makasih ya, hyung. Aku pasti udah banyak bikin repot," kata Jaemin. "Aku udah bikin berantakan kamar Haechan."

"Berantak… —ohh. Nggak kok. Haechan juga kan nggak jadi make kamar itu. Santai aja." Mark mengusap tengkuknya sebelum menambahkan lagi kata-katanya. "Yaa, tapi kamu nggak berantakin sih. Tadi aku liat rapi banget. Kayak belom pernah ada yang nempatin."

Jaemin menekan bibirnya lalu berbalik badan. "Dah, hyung."

"Hm. Dah." Mark melambaikan tangannya rendah.

Dia terpikirkan untuk mengekori Jaemin sampai dia masuk mobil, tapi terhenti karena Jaemin lagi-lagi berbalik badan dan menghampirinya lagi dengan wajah panik. "A-Apa? Ada yang kelupaan?"

"I-Iya! Aduh, parah!" dia hampir menggigit kukunya. Orangtua mereka yang berada lumayan jauh dari posisi mereka berdua berdiri hanya melihat dari jauh. "S-Sini deh, hyung! Aku bisikin!"

Mark buru-buru mendekatkan telinganya pada Jaemin, sambil mengira-ngira apa yang membuat Jaemin sebegitu paniknya. Dalam hati, Mark pikir itu pasti bukan hal besar.

Tapi beberapa detik mereka diam dengan posisi Mark mencondongkan tubuhnya agar Jaemin bisa berbisik tepat di telinga, Mark masih belum mendengar apa-apa dari mulut Jaemin.

"…kamu mau ngomong a—…."

"Selamat ulang tahun, Mark hyung."

Entah tebakan Mark benar atau tidak soal itu bukan hal besar, tapi kalau soal besar, mata Jaemin sekarang terlihat besar sekali di mata Mark, saking dekatnya. Dia tersenyum seperti biasa, tapi ada yang terasa beda –dia terlihat lebih senang dari biasanya. Paniknya yang tadi itu pasti pura-pura.

"…ulang tahun?"

"Sekarang tanggal 2." Jaemin terkekeh. "2 Agustus. Hyung ulang tahun kan?"

Agustus? Sekarang sudah Agustus? Mark menepuk kening begitu menyadari itu. Dia hanya memikirkan 'sekarang sudah bukan Juli'. 'Waktunya Jaemin pindah'. Dia entah kenapa lupa kalau Juli sudah berganti bulan, berarti sudah bulan Agustus. Kalau sudah Agustus, di hari keduanya itu berarti juga adalah ulang tahunnya!

"…aku lupa."

"Hm. Aku sudah menduganya sih. Kalendernya nggak dibalik-balik dari kemarin. Halamannya masih di bulan Juli lho. Nanti dibalik ya, jangan lupa." Jaemin meraih satu tangan Mark, lalu ditepuknya. "Nah. Aku pergi beneran sekarang."

Jaemin diam sebentar untuk melihat reaksi Mark, tapi Mark juga diam menatapnya. Merasa Mark tidak akan mengatakan apa-apa lagi padanya, Jaemin melepaskan tangannya dan dilambaikan seraya berbalik badan dan berjalan membelakangi Mark. Dia lihat orangtua mereka yang juga masih memperhatikan.

"Kita duluan ya!" Taeyong berkata keras dari kursi kemudi, lalu Ten di kursi penumpang depan. Jaemin yang duduk di belakang juga sempat bertukar kata dengan Taeil juga Mark.

"Dadah, hyung, om!" Jaemin baru saja mau menutup jendelanya, tapi Mark mengetuk duluan. "Hm?"

"Hari Minggu ada waktu?" tanya Mark dengan suara pelan, berharap cuma Jaemin yang bisa dengar –walaupun mustahil karena mereka semua berdekatan.

"Minggu…minggu ini?"

Mark menggeleng. "Dua minggu lagi," jawabnya.

Jaemin berusaha mengingat-ingat, apa saja jadwalnya hari itu. Dua minggu lagi ya? Masih lama, jadi seharusnya dia belum membuat janji dengan siapapun di hari itu. "Tunggu ya, cek hape dulu." Dia mau melihat di kalender hapenya saja biar pasti, karena memang Jaemin selalu menulisnya di kalender tiap membuat janji. "Oh, iya kok. Bisa. Tanggal 13 kan? …hm?" dia mengecek lagi hapenya. Benar tanggal 13. Itu kan….

"Iya. Tanggal 13." Mark tersenyum dan nyaris tertawa melihat Jaemin yang membulatkan matanya. "Nanti aku minta alamatmu ya. Kujemput."

Jaemin diam lalu mengalihkan mukanya. Dia lihat Taeyong yang menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya, sedangkan Ten daritadi memperhatikan lewat spion –dia menggigit bibir, seperti menahan untuk tidak berteriak.

"Johnny!" akhirnya teriak sih. Yang dipanggil namanya juga kurang lebih berekspresi serupa. "Masih ada harapan!"

"Siip! Cuma butuh dorongan sedikit lagi!" Johnny mengacungkan ibu jarinya, yang mana membuat Taeil bergeleng-geleng sambil tersenyum pasrah –lebih seperti… dia menahan tawa sebenarnya.

"Heh! Jangan nentuin seenaknya dong!" Taeyong menekan bagian tengah setirnya, sengaja mengklakson. "Tiba-tiba ngomongin 'kayaknya seru kalau kita jadi besan' kayak –HMPH!" dibekep Ten.

"Duh! Pak supir jangan main tin-tin di sini dong! Berisik tau!" Ten nggak peduliin kalau justru itu malah membuat orang-orang di sekeliling jadi memperhatikan. "Udah yuk! Ntar nyampe sana kemaleman! Dadah, kalian!"

Lalu mereka pergi, meninggalkan Johnny yang melambaikan tangan tinggi-tinggi, Taeil yang masih dirangkul Johnny, dan Mark yang mengedutkan alis. Tadi papanya Jaemin ngomong apa…? Mark nggak salah denger?

.

.

.

END!?

a/n. wih panjang. Gapapa yang terakhir.

AAAkuu juga pengen bikin versi ultah jaemin juga yang kayak ginian –daily update gitu, tapi mampus ospek; bikin PKM buat dikumpulin tanggal 12;; sehari sebelum ultah jaemin huhu. Modar. Ga deng.

Dan haha ini udah tanggal 3 ya. Baru pulang jam setengah 1 malem buset. Kece sekali.

Kok chapter terakhir kayak rame gitu ya? Soalnya kan biar happy happy aja gitu, kan ulang tahun ya. Masa gloomy gloomy pas ulang taun sih.

Soal mereka ada rasa apa nggak hmhmhm semoga chapter ini menjawab. Ada dong rasa mah. Rasa nyaman yang baru disadarin pas salah satunya pergi yaila mampus.

Btw. August wish. Semoga ada markmin moment lagi. jaemin udah fix cb gak sih? Belom ya?

Cuapcuapnya udahan deh. Dadah. Mata w jadi ada lingkeran itemnya gara-gara markmin bikin nggak bisa tidur :') kangen parah.