Heart Beat
Chapter 10
Main cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Other cast : Lihat didalam cerita
Happy Reading & Enjoy
.
.
.
Brak—
" Ya ampun. Bisakan kau berbicara baik padaku tanpa harus kasar seperti ini. mulutmu masih berfungsikan."
Sungmin mengusap bahunya yang sudah terbentur sangat keras kedinding kamar Seohyun ketika wanita itu menariknya tanpa belas kasih. Seohyun berkacak pinggang menatap Sungmin marah sekaligus menuntut.
" Apa akalmu sudah hilang. Kenapa kau menyetujui pernikahan ini. Ini sama saja kau mengikat dirimu sendiri pada Kyuhyun."
Atmosfer didalam ruangan itu seketika berubah menjadi panas.
" Apa aku terlihat bahagia ingin menikah dengannya. Jika tidak memikirkan ide gilamu itu yang memintaku agar sedikit lunak pada Kyuhyun, mungkin saat ini sudah aku patahkan leher pria brengsek itu karena sudah berani memaksaku untuk menikah dengannya."
Sungmin menepuk-nepuk dinding kamar merasa kesal. Ia sudah dirumitkan dengan pernikahannya yang sebentar lagi akan terjadi, Seohyun bukannya sudah berjanji ingin membantunya lepas dan bebas dari Kyuhyun tetapi wanita ini hanya diam menontonnya layaknya patung pajangan. Sungmin malah harus berjuang sendiri memutar otak agar pernikahan ini tidak pernah terjadi.
" Terpaksa kau bilang. Nyatanya kau malah setuju." Kesal Seohyun begitu ingat Sungmin menerima pernikahan itu tanpa berfikir lebih jauh kedepan.
Tidak ada orang yang paling menyebalkan didunia ini selain Lee Sungmin. dimanapun Seohyun berada, hanya dirumah ini ia menemui seseorang yang berani menghina suaminya Cho Kyuhyun tepat didepan mata kepalanya sendiri.
" Perlu ku ingatkan kau. Pria brengsek yang kau maki itu adalah suamiku. Lagipula aku pun sedang berusaha Lee Sungmin."
Sungmin ingin tertawa terbahak. Seohyun ternyata punya bakat untuk melucu juga, disamping dari wataknya yang serakah, mengerikan dan menyebalkan itu. Apa wanita ini sadar dengan apa yang sudah ia ucapakan barusan.
" Dengan duduk diam dikamarmu sambil membaca buku kau bilang itu sedang berusaha. Kau sebenarnya ingin membantuku atau malah ingin menjebakku disini."
Sungmin menatap Seohyun tajam. Menilik kebenaran jika memang Seohyun berniat hanya ingin menjebaknya semata. Kalau itu benar, bisa ia pastikan hari ini juga wanita itu hanya akan tinggal namanya saja.
Seohyun meremas rambutnya frustasi. Isi kepala Sungmin yang penuh diliputi oleh hal buruk tentangnya sungguh membuat ia selalu naik pitam.
" Lebih baik kau gantung diri dan masalah selesai." Seru Seohyun marah menunjuk Sungmin.
Namja manis itu pun ikut terpancing amarah. Sungmin maju selangkah semakin mendekat kearah Seohyun. Namja manis itu mendongak menantang Seohyun yang sebenarnya jauh lebih tinggi darinya itu.
" Sebelum aku mati. Aku harus memastikan terlebih dahulu kematianmu dan letak kuburmu Seohyun-ssi."
Pertengkarang tak berujung ini mungkin tidak akan berlangsung singkat. Kedua manusia yang sama-sama keras kepala sudah tergabung dalam satu tempat tidak menutup kemungkinan perang akan terjadi diantara keduanya. Mereka memiliki watak dan sifat yang tidak pernah mau mengalah.
Seohyun menghela nafas. Mencoba sedikit bersabar yang barang tentu saja hal itu tidak akan pernah berhasil meredam emosinya kalau ia sudah berhadapan dengan kepala batu Lee Sungmin.
" Oke. Hari ini kita harus meluruskan masalah ini dan mencari jalan keluar agar kau bisa bebas sebelum pernikahan itu terjadi." Ucap Seohyun mencoba berdamai.
" Hem, oke." Sahut Sungmin tak berselera. Pasalnya ia kini sudah sangat kesal akan mulut Seohyun yang tidak pernah diajar sopan santun dalam berbicara. Menghina seseorang dengan seenak jidatnya tanpa memikirkan perasaan orang tersebut.
Baru saja Seohyum membuka mulutnya untuk berbicara pada Sungmin akan rencana mereka, tanpa angin tanpa petir datang Victoria wanita pengganggu yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya oleh mereka terutama oleh Sungmin yang tengah berdiri dengan tampang malas-malasan.
Wanita cantik itu memicing mata curiga sekaligus kesal melihat Seohyun beserta Sungmin didalam kamar yang sama tengah berbincang dengan saling berhadap-hadapan. Apa yang sedang mereka bicarakan, sampai melihat kedatangannya saja wajah mereka begitu terlihat sangat terkejut.
" Dalam kondisi seperti ini, apa yang tengah kalian lakukan. Kalian berdua sudah akur." Ejek Victoria menatap Sungmin tidak suka.
Sungmin menelan saliva kecut. Sekalipun dunia terbelah menjadi dua tidak akan pernah bisa ia berdamai dengan Seohyun wanita ular paling berbahaya didunia ini. Dan sayang fakta menjelaskan kalau wanita ular ini lah yang akan membantunya bebas dari mansion bak neraka ini.
Baik Seohyun maupun Sungmin saling melempar makian didalam hati tanpa berucap apapun. Keduanya hanya baku hantam tatapan mematikan satu sama lainnya.
" Hyun—aku ingin berbicara denganmu, hanya kita berdua." Ucap Victoria menekankan kalimatnya diakhir sambil melirik sinis kearah Sungmin.
Sungmin mendesis berbahaya. Wanita ini benar-benar menyebalkan.
" Aku akan pergi. Berpuas-puaslah kalian berbicara berdua."
Sungmin melangkah pergi dan menyenggol singkat bahu Victoria.
" Kau tidak punya mata sampai tidak melihatku berdiri disini."
" Ups, mian. Aku kira tidak ada siapapun disana." Ejek Sungmin dan berlalu pergi.
" Kurang ajar. Kau fikir aku hantu." Maki Victoria namun sayang Sungmin sudah menghilang dari balik pintu kamar Seohyun.
" Sudahlah. Apa yang ingin kau bicarakan."
" Kau membelanya." Tanya Victoria tidak percaya.
Seohyun menggeleng kalem," Kau berkata ingin berbicara padaku."
Victoria menghela nafas kesal," Ini tentang pernikahan itu."
.
.
" Wanita ular itu datang disaat waktu yang tidak tepat. Apa itu memang kebiasaannya, datang dan pergi tanpa diundang." Sungmin menepuk dahinya merasa konyol dengan ucapannya sendiri.
Namja manis itu tengah berdiri diujung tangga. Berfikir sebentar untuk mencari jalan keluar agar ia bisa bebas dari pernikahan konyol ini. Oh Tuhan, bahkan didalam mimpi pun Sungmin tidak mengharapkan bisa menjadi pendamping pria arogan macam Cho Kyuhyun itu.
Sungmin ingat, padahal ia sudah membuat kesepakatan pra nikah dengan Kyuhyun. Tetapi sulit sekali untuk menerima dan menyetujui pernikahan ini. selalu ada fikiran untuk pergi setiap ia memikirkan pernikahan yang sebentar lagi akan terjadi pada mereka.
" Apa yang harus aku lakukan."
Sungmin mengigit-gigit ujung jari kukunya. Kebiasaan lama yang tidak pernah hilang ketika Sungmin tengah merasa gelisah atau tertekan seperti saat ini.
" Masalah ini lebih rumut dari benang kusut yang harus aku urai kembali." Keluh Sungmin semakin nelangsa akan nasibnya.
" Lama-lama aku bisa mati karena stress berkepanjangan. Mungkin saat ini aku perlu kedokter." Racau Sungmin semakin aneh.
" Kau sakit?"
" OMO."
Suara berat Jongwoon berhasil mengejutkan Sungmin yang tengah bereksperimen dengan fikirannya yang bercabang. Namja manis itu menyentuh balutan kain dibagian dadanya, memeriksa apakah jantungnya masih berdiam ditempatnya semula atau sudah retak karena ulah Jongwoon. Lelaki satu ini benar-benar gemar membuat ia selalu jantungan.
" Kau tidak bersuara, itu sedikit membuatku takut." Keluh Sungmin kembali memperbaiki posisinya berdiri.
Jongwoon menatap Sungmin datar sekaligus menilai.
" Apa?" Ucap Sungmin risih.
" Apa kau ingin kedokter. Kau tadi berkata sakit."
Sungmin membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. Namja manis itu mengerutkan wajah kesal bukan main.
" Kau tahu Jongwoon-ssi. Sakit ku akan semakin parah kalau ada kau didekatku."
Tanpa permisi namja manis itu menapaki tangga menuju kamarnya. Di sepanjang jalan Sungmin terus mengeluh tanpa henti. Selepas ini ia benar-benar harus pergi kedokter, memeriksa kondisi kejiwaannya. Karena Sungmin rasa setelah ia tinggal dimansion bak neraka ini, ia selalu marah lalu senang, menangis dan setelah itu bahagia. Tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, mungkinkah ia sudah gila tanpa disadarinya.
Jongwoon yang ditinggalkan setelah Sungmin berkata pedas padanya tadi hanya mengerut kening bingung.
" Kurasa namja itu benar-benar sakit."
.
.
" Katakan padaku. Seharian ini apa saja yang sudah Sungmin lakukan dirumah."
Pelayan Park meneguk ludah takut. Setelah ia dipanggil mendadak oleh Kyuhyun keruangannya, sekarang ia harus menghadapi introgasi pria tampan itu dengan pengawasan mata setajam elangnya itu.
Saat ini Kyuhyun tengah duduk dikursi kerjanya sedang pelayan Park hanya berdiri dengan tubuh gemetar sedikit jauh dari meja kerja Kyuhyun sambil menunduk.
Kyuhyun memang hanya bertanya, tetapi tatapan lelaki itu sudah berhasil membuat pelayan Park hampir mati kehabisan oksigen karena takut. Salah-salah ia menjawab, kepalanya yang akan menjadi korban keganasan seorang Cho Kyuhyun.
" Tuan Lee tidak melakukan apapun, tuan Cho. Pengecualian saat didapur tadi, maafkan saya karena sudah teledor."
Kyuhyun mengangguk menerima penjelasan wanita paruh baya itu," Lalu?"
" Tuan Lee hanya menghabiskan waktunya dikamar dan dikebun bunga. Selebihnya tuan Lee tidak melakukan pekerjaan yang berat dan berbahaya." Suara pelayan Park semakin mengecil bahkan hampir tidak terdengar diakhir kalimat.
Ya ampun, kata siapa Sungmin tadi tidak melakukan hal yang berbahaya. Memegangg pisau tanpa seizin tuan Cho adalah tindakan kriminal yang untung saja tidak ada dalam pasal dan undang-undang. Kalau tidak, mungkin hari ini pelayan Park sudah menulis surat wasiat dan membagi sedikit hartanya untuk keluarga dan anak-anaknya karena bisa saja tuan Cho memenggal kepala mereka karena sudah teledor dalam bekerja.
" Baiklah, kau boleh keluar."
Seperti mendapat angin segar, pelayan Park tersenyum dan menghembuskan nafas lega. Wanita paruh baya itu membungkuk hormat dan berlalu meninggalkan ruang kerja Kyuhyun.
Kyuhyun kembali merenung. Tanpa sadar lelaki itu memegang lengan bekas dimana tadi Sungmin sudah memegang lengannya. Senyum tipis terulas dibibir Kyuhyun. Memang tidak ada hal yang patut untuk ditertawakan namun bila hal itu berkaitan dengan Sungmin selalu bisa membuat Kyuhyun berdebar dengan rasa bahagia yang menyelubungi hatinya. Kyuhyun pastikan setelah ini Sungmin tidak akan pernah bisa lepas darinya.
" Tuan Cho."
Kyuhyun dikejutkan dengan kedatangan Jongwoon yang sudah berdiri tegak didepan pintu ruang kerjanya. Menggunakan jari tangannya pria tampan itu mengisyaratkan Jongwoon untuk masuk kedalam ruangannya.
" Beberapa hari lagi aku akan ke eropa bersama Sungmin. Aku ingin kau menjaga Seohyun dan Victoria selama aku pergi. Aku tidak ingin mereka melakukan hal apapun sampai aku kembali."
" Baik tuan Cho. Lalu—apa anda akan lama di Eropa. Saya hanya khawatir kalau-kalau nyonya Song dan nyonya Seo akan menyusul anda, mengingat bagaimana tabiat kedua istri anda itu tuan."
" Jaga ucapanmu itu Jongwoon-ssi." Desis Kyuhyun berbahaya.
Jongwoon menunduk menyesal. Ia salah berbicara, tidak seharusnya ia berkata seperti itu tentang istri Kyuhyun tepat dihadapannya.
" Maafkan saya tuan. Saya hanya sedikit cemas."
" Kau pasti tahu bagaimana cara untuk mengatasi mereka. Aku serahkan semuanya padamu."
Jongwoon mengangguk mengerti.
" Tuan Cho." Sela Jongwoon pelan mendapati sikap Kyuhyun yang tiba-tiba mendadak menjadi diam membisu.
Kyuhyun menumpu punggungnya kesandaran kursi. Lelaki itu menghela nafas berat.
" Tidak—aku hanya ingin beristirahat, kau bisa pergi Jongwoon."
Kyuhyun terlihat seperti tengah ingin sendirian. Dengan tahu diri lelaki tinggi itu membungkuk hormat pada sang tuan. Namun baru beberapa langkah lelaki itu kembali menoleh melihat Kyuhyun yang tengah terpejam di kursinya. Jongwoon sedikit bimbang untuk kembali berbicara pada Kyuhyun yang terlihat sudah sangat lelah, tetapi fikiran ini begitu mengganggu nya sejak beberapa hari yang lalu.
" Tuan Cho."
Merasa namanya dipanggil. Kyuhyun kembali membuka matanya. Pria tampan itu mengerut alis tidak suka mendapati Jongwoon yang belum juga keluar dari ruangannya.
" Wae?"
Jongwoon menarik nafas bersiap untuk berbicara. Sejenak lelaki itu membasahi bibirnya yang terasa kering.
" Bagaimana nantinya nasib nyonya Song dan nyonya Seo setelah anda menikah dengan tuan Lee?"
Aura Kyuhyun menggelap. Rupanya pertanyaan Jongwoon telah berhasil menyentuh titik kemarahan Kyuhyun. Terbukti dengan bagaimana rahang pria tampan itu tiba-tiba mengeras penuh emosi.
" Itu urusanku. Dan kurasa kau tidak perlu tahu Kim Jongwoon."
" Maafkan saya tuan Cho. Saya permisi keluar."
Tidak ingin mencari-cari kemarahan Kyuhyun, pria tinggi itu dengan cepat meninggalkan ruangan yang semula memang sudah beku kini bertambah menyeramkan karena pertanyaan yang seharusnya tidak ia tanyakan pada Kyuhyun diwaktu yang tidak tepat seperti ini hingga mengundang amarah sang tuan besar.
.
.
" Itu hal tergila yang pernah ku dengar Vict. Itu sama saja kau cari mati, kau paham itu kan. Tidak—jangan berani lakukan hal gila itu, kita bisa cari jalan lain selain cara itu."
Seohyun mengusap wajah frustasi. Apa yang tengah difikirkan Victoria. Sebegitu frustasinya kah wanita cantik itu sampai-sampai ia memiliki rencana untuk menyingkirkan Sungmin dengan kejam seperti ini. jangan kan berhasil membunuh Sungmin, mungkin malah mereka lah yang tengah menggali kuburan sendiri karena Kyuhyun pasti tidak akan tinggal diam atas menghilangnya Sungmin. Seohyun tidak menyangka Victoria memiliki jalan fikiran yang begitu bodoh, tidak memikirkan dampak dari apa yang tengah direncanakannya itu.
" Lalu kau punya cara lain eoh. Melihat sikap mu saat ini yang hanya diam menunggu keberuntungan datang padamu, ku tebak— kau pasti lebih putus asa daripada aku. Hyun— fikirkan baik-baik, apa kau sudi melihat namja tidak tahu diri itu menikah dengan Kyuhyun dan menguasai semuanya."
Seohyun menggeleng tidak sanggup. Ya Tuhan, Victoria ternyata tidak hanya bodoh tapi juga bebal.
" Selama ini apa yang sudah kau lihat. Apa kau buta bagaimana Kyuhyun melenyapkan musuh-musuhnya dengan satu kali jentikan jari. Mereka semua musnah bagai abu, kau masih tidak mengerti juga."
Victoria berkacak pinggang. Berani sekali Seohyun mengguruinya. Ia tahu Kyuhyun lebih dari siapapun didunia ini. ia merencanakan rencana gila ini pastinya dengan persiapan yang sangat matang. Tidak gegabah dan asal berjalan saja.
" Jadi intinya kau mau atau tidak membantuku."
" Tidak." Sahut Seohyun cepat dan pasti.
" Kau—" Victoria menggertakkan giginya marah.
" Kalau kau mau lakukan saja sendiri. Jangan ikut campurkan aku." Seohyun beranjak keluar dari kamarnya meninggalkan Victoria yang sedang berteriak marah padanya.
Seohyun menggeleng tidak habis fikir. Walaupun ia membenci Sungmin dan berniat ingin menyingkirkan namja itu dari mansion ini bahkan dari kehidupan Kyuhyun sekalipun, tapi tidak pernah terlintas sedikitpun untuk menculik namja itu bahkan untuk membunuhnya. Lebih dari itu, ia tidak ingin mati konyol ditangan suaminya sendiri.
Seohyun sampai didapur mansion," Pelayan Park berikan aku air."
Wanita cantik itu mendudukan tubuhnya kekursi. Tubuh dan hatinya terasa begitu panas, terlebih kepalanya hampir pecah menghadapi Victoria dan Sungmin dalam waktu bersamaan. Victoria dengan kegilaannya dan Sungmin dengan kepala batunya itu.
" Ini nyonya."
Seohyun menyambar cepat segelas air putih ditangan pelayan Park. Dengan sekali tegukan, air didalam gelas itu tandas tak bersisa.
Guk—guk—guk
Brak—
" Aahh." Setelah minum satu gelas penuh Seohyun merasa sedikit lebih nyaman dan segar.
" Aish jinjja. Mereka berdua sungguh membuatku gila." Keluh wanita cantik itu.
" Anda tidak apa-apa nyonya?" Tanya pelayan Park khawatir.
Seohyun menggeleng dan tersenyum kecil, " Anniya gwanchana. Kau bisa kembali bekerja."
" Baik nyonya."
.
.
Sungmin tengah bersila diatas ranjangnya seperti orang yang tengah bermeditasi.
" Ryeowook, berikan aku saran yang jitu."
" Saran?" Ucap Ryeowook bingung.
Sungmin nampak tengah berfikir serius sampai-sampai kening namja manis itu mengerut dan menyatu. Ryeowook sempat merasa lucu melihat gaya berfikir Sungmin yang terlihat seperti tengah merajuk itu.
" Bagaimana menurutmu dengan dua orang laki-laki yang akan berencana menikah."
" Kenapa tuan Lee tiba-tiba bertanya seperti itu?" Ryeowook menggaruk kepalanya serba salah.
" Itu—menurut saya kalau sudah cinta kenapa tidak untuk hidup bersama."
" Hidup bersama tanpa ikatan pernikahan bagaimana menurutmu?"
" Ye?" Tanya Ryeowook tambah bingung dengan pertanyaan Sungmin.
" Ah, sudahlah. Kau lamban sekali." Seru Sungmin kesal dan kembali membaringkan tubuhnya dikasur.
Namja manis itu berbaring rusuh diranjangnya. Sesekali ia berguling-guling tidak jelas diatas kasur. Ryeowook yang menyaksikan nya pun tampak pusing sekaligus bingung dengan sifat Sungmin yang sejak beberapa jam lalu begitu terlihat resah.
" Tuan Lee baik-baik saja kan?"
" Diam lah Ryeowook, aku sedang berfikir—jangan mengganggu."
" Ah Ne." Ryeowook sigap mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
" Bagaimana ini—bagaimana."
" Apa yang bagaimana."
" Omo."
Sakin kagetnya Ryeowook sampai terpekik kaget dengan kedatangan Kyuhyun tiba-tiba kekamar Sungmin. Sedang Sungmin sendiri memilih bangkit dari rebahannya dan menatap Kyuhyun heran.
" Ada apa kau kemari?" Tanya Sungmin berusaha menutupi rasa tidak sukanya.
" Aku akan mengajakmu makan malam diluar."
" Tumben sekali. Kau sedang tidak merencanakan sesuatukan." Ucap Sungmin dengan rasa curiga yang tidak ditutup-tutupi.
" Kau harus membersihkan fikiran burukmu itu tentangku." Sahut Kyuhyun datar.
Ryeowook nampak sudah gelisah. Tidak ingin terkena dampak dari adu mulut kedua majikannya ini, Ryeowook berinisiatif untuk keluar lebih dulu tanpa disuruh. Mengamankan jiwanya dari dua manusia yang tidak pernah akur ini adalah pilihan terbaik.
" Sangat sulit untuk menilai baik orang macam dirimu." Sungmin menunjuk Kyuhyun dengan dagunya.
Pria tampan itu hanya bisa mendengus kesal, " Sungmin jangan memulai. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu."
" Cih—" Sungmin beranjak dari ranjang hendak menuju kamar mandi.
" Hey, kau mau kemana?"
Sungmin berpaling dengan wajah kesal, " Bukankah kau mengajakku makan malam diluar. Tentu saja aku ingin ganti baju, kau tidak lihat pakaian ku sekarang."
Kyuhyun mengamati penampilan Sungmin. Benar, namja manis itu memang sedang memakai piyama.
" Aku akan menunggumu diluar."
Sungmin membanting pintu kamar mandi tanpa menyahuti Kyuhyun. Pria tampan itu mengusap dada karena begitu kerasnya bantingan Sungmin pada pintu tak berdosa itu.
.
.
" Kau disini?" Sapa Jongwoon lebih dulu ketika melihat Ryeowook tengah duduk-duduk diam ditaman belakang mansion Cho.
Ryeowook beralih berdiri dari duduknya," Anda mencari saya?"
Jongwoon menggeleng singkat," Tidak, aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu disini."
" Oh begitu."
Kedua namja berbeda paras itu saling diam. Sesekali Ryeowook mencuri pandang kearah Jongwoon. Lelaki ini benar-benar dingin pada siapapun termasuk dirinya. Lihatlah lelaki itu—hanya diam tanpa suara.
Ryeowook begitu terkejut karena Jongwoon memergoki nya tengah mencuri-curi pandang pada lelaki tinggi itu. Dengan salah tingkah Ryeowook menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
" Ku tidak bersama tuan Lee?"
" Ah itu—tuan Lee sedang pergi dengan tuan Cho." Usai berkata Ryeowook menebar senyum manis kearah lelaki tinggi itu. Sesekali pria mungil itu pun menunduk malu.
" Hem, begitu."
Jongwoong berpaling hendak kembali masuk kedalam rumah," Kau sudah ingin pergi?" Cegah Ryeowook yang membuat Jongwoon kembali menoleh kearah pria mungil itu.
" Ada beberapa hal yang harus aku urus. Nikmatilah waktumu disini." Lepas berkata Jongwoon melanjutkan lagi langkahnya masuk kedalam mansion.
Wajah Ryeowook nampak kecewa. Padahal kan ia masih ingin berbincang lebih lama dengan lelaki itu. Tapi Jongwoon sepertinya masih banyak kerjaan. Lagipula, sepertinya lelaki itu bukan tipe pria yang betah berlama-lama hanya untuk berdiam diri.
.
.
Kyuhyun sudah selesai memarkirkan mobilnya. Setelahnya ia dan Sungmin keluar dari dalam mobil tersebut. Begitu keluar Sungmin begitu terpana melihat bangunan mewah bergaya eropa berdiri tegak didepannya.
" Wah—tempat ini terlihat bukan seperti sebuah Restoran saja." Sungmin menggeleng takjub diiringi dengan decak kagum.
" Apa kau hanya ingin diam diluar saja, tidak ingin masuk." Ajak Kyuhyun menarik tangan Sungmin memasuki Restoran bintang lima tempat mereka akan makan malam.
Sungmin kembali hampir meleleh ketika ia dan Kyuhyun sudah masuk kedalam Restoran tersebut. Lagi-lagi namja manis itu memuji sana sini kalau Restoran itu sangat mewah, berkelas dan pasti harga makanan disana mampu menguras habis isi dompet mereka.
" Kapan-kapan kau harus mengajakku lagi kemari." Sungmin berbisik pada Kyuhyun sambil tertawa cekiki kan.
Kyuhyun menggeleng maklum melihat reaksi yang Sungmin tampilkan malam ini berbanding terbalik dengan sifat aslinya— si pemarah dan si mulut kasar yang selama ini melekat kuat didalam diri namja manis itu.
" Kita mau kemana, jadi makan atau tidak sih." Tanya Sungmin mulai tidak sabaran. Bayangkan saja, kalau ia harus berjalan cepat layaknya orang tengah berlari dengan kedua kaki kecilnya itu agar bisa dapat menyamai langkah Kyuhyun serta dua orang pelayan yang sejak tadi mereka ikuti.
" Sebentar lagi."
Sungmin mulai mendengung malas. Hanya untuk makan saja, kenapa jadi serumit ini.
" Ya-ya-ya. Hal apapun itu akan jadi rumit kalau sudah lelaki aneh ini yang turun tangan." Sungmin hanya bisa pasrah mengikuti langkah panjang Kyuhyun yang tidak bisa dikatakan pelan oleh namja manis itu.
Kyuhyun dan Sungmin sekarang sudah berhenti didepan pintu besar berwarna coklat kayu. Dua pelayan yang membawa mereka tadi pun lambat laun menguak pintu besar itu sampai terbuka lebar.
" Silahkan masuk tuan Cho."
Kedua pelayan itu membungkuk hormat begitu Kyuhyun dan Sungmin melewati keduanya dan masuk kedalam ruangan besar tersebut.
Bola mata bulat Sungmin bergerak gelisah menatap satu-persatu laki-laki paruh baya yang sedang berdiri menyambut kedatangan mereka disana atau lebih tepatnya kedatangan Kyuhyun mungkin.
" Kenapa tidak bilang kalau makan malam ini tidak hanya kita berdua." Bisik Sungmin kesal ditelinga Kyuhyun
" Kau ingin makan malam hanya berdua denganku. Aku bisa mengaturnya lain waktu, tapi untuk malam ini kita terpaksa harus bergabung dengan mereka."
Sungmin baru saja ingin mengumpat kesal pada pria tampan itu tetapi Kyuhyun lebih dulu bersalaman dengan pria berjas abu-abu disana. Mau tidak mau Sungmin hanya menghembuskan nafas berusaha untuk tidak terlihat seperti orang yang sedang marah.
" Tuan Cho. Selamat datang, silahkan duduk." Ucap pria berjas abu-abu yang bersalaman dengan Kyuhyun tadi.
Kyuhyun menarik kursi untuk Sungmin, lalu setelahnya menarik kursi untuk dirinya sendiri. Keduanya duduk dengan saling berdampingan. Para pria paruh baya yang dapat dikatakan rekan kerja Kyuhyun itu pun ikut duduk dikursi mereka masing-masing.
Dengan tiba-tiba Kyuhyun menyentuh telapak tangan Sungmin," Jangan khawatir, kita tidak akan lama." Lelaki itu mengangguk menyakinkan Sungmin.
" Tahu begini lebih baik aku tinggal dirumah saja." Sungut Sungmin semakin kesal. Kyuhyun menepuk-nepuk punggung tangan Sungmin untuk menenangkan namja manis itu.
" Apa perayaan ini juga sekaligus memperkenalkan secara resmi tunangan anda presdir Cho."
Sesaat Kyuhyun menoleh kearah Sungmin. Lalu lelaki tampan itu kembali beralih menatap rekan kerja yang bertanya padanya tadi.
" Tentu, kenalkan dirimu sayang." Tanpa canggung Kyuhyun meraih bahu Sungmin hingga semakin menempel padanya.
Sungmin menahan diri untuk tidak meninju Kyuhyun dihadapan banyak mata orang-orang hebat dinegeri ini. Tentunya Sungmin masih tahu sopan santun kan, tapi Kyuhyun memang tidak sepantasnya untuk menerima rasa hormatnya itu.
" Lee Sungmin imnida." Sungmin membungkuk memperkenalkan diri. Dengan sepelan mungkin namja manis itu melepas lengan Kyuhyun dibahunya.
" Lepas bodoh, banyak mata yang melihat." Bisik Sungmin sarkatis.
" Apa salahnya, kau kan tunanganku." Balas Kyuhyun acuh ditelinga Sungmin.
" Serasi sekali dengan anda presdir Cho." Puji yang lainnya.
Kyuhyun mengangguk dengan tawa kecil yang terkembang dibibirnya. Sekali lagi ia melirik kearah Sungmin yang sedang bertampang masam. Lucu juga melihat Sungmin cemberut seperti itu.
.
.
Victoria mondar mandir gelisah didalam kamarnya. Sesekali wanita cantik itu membuka gorden kamarnya, melihat kehalaman mansion takut Kyuhyun sudah pulang dari bepergian membawa namja miskin itu. Tidak lepas pula mulut wanita cantik itu komat kamit menebar makian serta umpatan karena kesal sejak tadi sudah menunggu mereka begitu lama.
Sudah pukul 10 malam, dan Kyuhyun masih belum juga pulang. Apa yang sedang mereka lakukan diluar sana. Kalau saja Victoria tahu lebih awal kalau Kyuhyun mengajak Sungmin makan malam diluar maka tidak akan ia biarkan suaminya pergi bersama namja miskin itu.
Sungmin itu licik. Didepannya boleh saja Sungmin berkata tidak menyukai Kyuhyun, tapi bisa saja dibelakangnya namja itu sedang membuat siasat untuk menguasi Kyuhyun dan hartanya kan.
Bram—bram
Suara mesin mobil Kyuhyun terdengar, Victoria berseru girang. Akhirnya mereka pulang juga. Iblis didalam diri Victoria berteriak senang. Waktu yang sejak tadi ia tunggu akhirnya datang juga. Mereka pulang tepat disaat ia tengah mengeluarkan larva panas didalam dadanya.
Tanpa berfikir panjang lebar wanita cantik itu membanting pintu kamarnya mendatangi Kyuhyun. Diruang tamu Victoria melihat Kyuhyun menaiki tangga menuju lantai atas dengan lelaki itu tengah menggendong Sungmin.
" Kyuhyun sebentar, aku ingin berbicara denganmu." Victoria berdiri ditengah-tengah ruang tamu sedangkan Kyuhyun menghentikan langkahnya ditengah-tengah tangga.
Lelaki itu berpaling," Aku akan mengantar Sungmin dulu."
" Ini sangat penting Kyu." Pinta Victoria kembali menghentikan tapakan Kyuhyun dianak tangga.
" Aku akan menemuimu nanti." Victoria kehabisan kata-kata untuk menahan Kyuhyun. Pria tampan itu sudah lebih dulu naik meninggalkannya sendirian diruang tamu.
.
" Hal penting apa yang ingin kau bicarakan Vict."
Kyuhyun menyamakankan dirinya duduk disofa tunggal berhadapan langsung dengan Sungmin. Pria tampan itu memberi isyarat istri pertamanya itu untuk mulai berbicara.
" Aku ingin Lee Sungmin keluar dari rumah ini." Ucap Victoria lantang dan lugas.
" Kau menginginkan namja yang sebentar lagi akan menjadi istriku pergi dari kediamanku sendiri, begitu."
Perkataan Kyuhyun yang dingin itu berhasil membungkam telak wanita cantik itu untuk lebih jauh berkata sesuka hatinya.
" Bisakah pernikahan ini tidak terjadi." Victoria beralih mendekati Kyuhyun. Bola matanya memancarkan banyak permohon dan pengharapan agar Kyuhyun mau sekali ini mendengarkan perkataannya.
" Pernikahan ini akan tetap terjadi. Kuharap kau bisa menerima Sungmin dengan baik disini."
Usai berkata Kyuhyun beranjak menuju kamarnya meninggalkan Victoria serta permohonan nya yang hancur lebur seperti serpihan abu yang beterbangan karena kencangnya tiupan angin.
.
.
Sungmin menatap malas deretan cincin bertahta kan berlian mengkilat dihadapannya saat ini. Namja dengan kadar kemanisan yang melewati batas itu nampak sangat enggan hanya untuk sekedar melirik sekilas berlian-berlian mahal yang ada ditoko perhiasan tersebut.
Alih-alih dengan seksama mendengarkan filosofi yang dijabarkan oleh penjaga toko itu tentang arti dari masing-masing cincin berlian tersebut, Sungmin malah lebih tertarik untuk bermain dengan kuku-kuku jari tangannya.
" Tuan Lee, anda menginginkan cincin yang lain?" Tegur penjaga toko memperlihatkan deretan cincin berlian yang lain.
" Kita tidak akan pergi kemana pun dari toko ini sebelum menemukan cincin yang pas." Ucap Kyuhyun melihat gelagat Sungmin yang ingin pergi dari toko perhiasan tersebut.
" Kenapa tidak kau saja yang memilih." Sungmin menunjuk kan cincin-cincin itu pada Kyuhyun.
" Pilih mana yang kau suka." Gertak Kyuhyun tidak main-main.
" Sepertinya aku menyukai semuanya." Ujar Sungmin karena kesal.
Kyuhyun sejenak menatap Sungmin," Jika seperti itu, kita beli semuanya."
Sungmin membulatkan matanya shock," Apa-apaan kau ini, aku hanya bercanda." Sungmin baru tahu kalau selera humor Kyuhyun begitu sangat buruk. Lelaki ini sama sekali tidak bisa diajak bercanda.
" Aku pilih cincin yang ini saja." Dengan sembarangan Sungmin menunjuk sebuah cincin dengan berlian kecil berwarna biru shappire sebagai pilihannya.
" Aku menyukai cincin ini." Tambah Sungmin lagi.
Penjaga toko itu yang kebetulan adalah seorang wanita muda tersenyum menunjukkan cincin yang sudah dipilih oleh Sungmin.
" Pilihan anda tepat sekali tuan Lee. Ini adalah cincin model terbaru dari toko kami. Dan cincin ini pun beberapa saja dibuat di negara ini. Cincin ini memiliki arti cinta sejati. Sejauh apapun kalian berpisah, takdir kembali membawa kalian bersama lagi."
Sungmin mengangguk tak acuh. Biarkan saja penjaga toko itu berkicau sesuka hatinya, toh ia pun sama sekali tidak mempercayai sebuah ramalan, perbintangan atau apapun itu yang berhubungan dengan nasib—karena bagi Sungmin itu semua hanyalah mitos dongeng orang dahulu sebagai pengantar tidur anak-anak mereka.
" Kami pilih yang ini." Setelah mengamati cincin dengan permata biru shappire itu Kyuhyun kembali menyerahkan pada wanita penjaga toko tersebut.
Wanita penjaga toko tersebut menerima cincin dari Kyuhyun. Sesaat ia tampak berkutak dengan tumpukan kotak cincin mewah dan setelahnya menyerahkan kembali paperbag kecil pada Kyuhyun yang berisi cincin pilihan mereka.
" Terima kasih sudah datang ketoko perhiasan kami." Ucap wanita penjaga toko tersebut setelah Kyuhyun dan Sungmin beranjak dari toko perhiasan itu.
.
.
" Aku baru menyadarinya hari ini." Sungmin menatap Kyuhyun disampingnya yang tengah serius menyetir.
" Tentang?"
" Pernikahan ini. Ya ampun, Diriku sendiri yang akan menikah tapi tidak mengetahui dimana dan kapan pernikahan ini akan dilangsungkan."
Selama ini Sungmin merasa dirinya begitu bodoh. Terlalu sibuk memikirkan cara untuk menggagalkan pernikahan ini sampai ia melupakan Kyuhyun. Lelaki itu pasti sudah membuat penjagaan ketat agar pernikahan ini tetap terjadi. Melihat bagaimana Kyuhyun hidup selama ini, dirinya pasti akan dengan mudah dilumpuhkan oleh pria licik macam Cho Kyuhyun ini jika ia sampai berani merusak rencana yang sudah lelaki itu susun sejak awal.
" Prancis. Kita akan menikah disana."
Prancis, itu jauh sekali gumam Sungmin dalam hati.
" Kenapa harus ke Prancis, di Seoul juga bisakan."
" Aku tahu bagaimana tabiat burukmu itu Lee Sungmin."
" Kau berkata seolah kau orang paling baik. Lagipula diawal aku sudah berkata akan menerima pernikahan ini dengan sebuah jaminan yang menguntungkan kita berdua kan." Gagap Sungmin dalam berucap.
" Hati dan ucapan itu kadang sering berbeda jalan tuan Lee."
Sungmin mendengus. Percuma berdebat dengan Kyuhyun, Lelaki dengan sejuta perhitungan didalam kepalanya itu. Ujung-ujungnya ia hanya akan kehabisan kata-kata untuk kembali membalas perkataannya.
" Ku fikir kau tidak ingin tahu dengan pernikahan ini."
Sungmin melayangkan tatapan membunuh pada Kyuhyun merasa tersindir dengan perkataan pria itu.
" Siapa kau bisa memutuskan pemikiran seperti itu sesuka hatimu."
" Bukankah kau tidak tertarik dengan pernikahan ini." Suasana berubah menjadi kaku dan hening setelah Kyuhyun menyelesaikan ucapannya.
Sungmin terlihat salah tingkah dengan membuang muka keluar jendela mobil mewah itu. Dalam hati namja manis itu mengumpat pada dirinya sendiri. Kenapa ia justru terlihat seperti pria yang tengah merajuk pada kekasihnya. Lagipula Kyuhyun itu bukan kekasihnya, tapi hanya lelaki asing yang baru dikenalnya dalam waktu beberapa minggu ini dan benar ucapan Kyuhyun, apa perdulinya tentang pernikahan ini.
" Aku hanya tidak ingin kau terlalu memikirkan pernikahan ini."
Ucapan Kyuhyun membuat Sungmin kembali berpaling kearah pria tampan itu.
" Aku tidak ingin pernikahan ini menjadi beban bagimu." Sambung Kyuhyun yang balas menatap kearah Sungmin.
Keduanya terdiam dengan saling berpandangan. Kyuhyun yang lebih dulu memutus kontak mata mereka dan kembali fokus menatap jalan didepannya.
" Apa kau lapar." Ucapan Kyuhyun membuyarkan lamunan Sungmin.
Namja manis itu sedikit berdehem salah tingkah," Hem, sedikit."
" Kalau begitu kita cari makan direstoran dekat sini. Kau ingin makan apa?"
" Terserah saja." Sahut Sungmin seadanya.
Kyuhyun mengangguk mengerti," Baik, aku yang pilih." Putus Kyuhyun akhirnya.
Kebencian dan cinta hanya memiliki sekat dinding yang begitu tipis, sangat sulit untuk dikenali.
.
.
.
TBC
Annyeong. Aku kembali lagi, sekarang gimana sudah agak cepat updatenya kan. Semoga puas dengan chapter ini ya, kalau enggak puas ya dipuas-puasin aja deh*maksa. Mian kalau masih ada typo. Tinggalin jejaknya dengan REVIEW, agar author abal-abal ini sedikit termotivasi untuk bisa update lebih cepat dari ini ya.
Bye..bye salam hangat Hazuki Airin.
