Attention!
Mulai chapter ini (sepertinya) bakalan balik ke berbauran mereka :v Maap kalo sedikit alay tiap scenenya. Silahkan salahkan diriku yang kelewat lebay jadi makhluuuk(?) Dan maaf juga kalo berantakan.
Btw, kugabisa nahan ngepost masa :v Ini part simpenan terakhir. Kemungkinan besar abis ini hiatusku bakal lama banget. Kemungkinan! :v
.
.
Disclaimer :
Tokoh milik Tuhan, orang tua dan Agensi mereka. Tapi cerita, pairing, TaehyungdanSoonyoung real milik Liyeol! =3=
Hanya fiksi absurd yang tetiba mengambang di otak saya =w= Original my imagination!
Jangan di bawa baper. Di bawa asik aja =v=
.
.
.
Happy Reading!
Sudah hampir dua jam semenjak Taehyung mengaku bahwa Jungkook adalah tunangannya, tetapi sunyi tak kunjung menghilang di tengah-tengah mereka. Semua fokus mengarah pada satu sosok yang kini duduk di tengah-tengah kasur tak mempedulikan lagi manga di pangkuannya.
Sampai pada saat Jimin berdeham kemudian bertanya hati-hati pada Taehyung, "Kenapa tidak pernah cerita?"
Hening lagi.
"Memang harus kuceritakan?" Taehyung menjawab setelah hampir dua menit.
Jawabannya mengundang Hoseok angkat suara, "Sudah tidak menganggap kita sahabat lagi, Tae?"
Seketika Taehyung memutar bola mata malas, "Bisa tidak mengungkit itu?" jeda, "Tidak cerita suatu hal bukan berarti berhianat 'kan?" nadanya datar penuh ketenangan.
"Memang bukan. Tapi tidak seharusnya kau menyembunyikan ini dari kami," itu suara Soonyoung yang kini duduk di bibir kasur Hoseok. Ada dua kasur tunggal di kamar ini omong-omong.
Taehyung menoleh. Menatap Soonyoung lekat tepat di sepasang obsidiannya, "Kutanya padamu, Kwon. Apa yang akan kaulakukan jika sudah terlibat perjanjian dengan orang yang kausukai? Menepatinya, atau mengingkarinya?" pertanyaan itu mengundang hening kembali meliputi mereka. Sesaat kemudian Taehyung melanjuti dengan penuh tekanan setelah menatap satu persatu sahabatnya, "Kuyakin tidak satupun dari kalian akan pilih opsi kedua."
"Sejak kapan kaumenyembunyikan hal ini dari kami, Hyung?" Seungkwan angkat suara setelah sedari tadi manatap lekat-lekat Taehyung penuh tanda tanya.
Fokus yang dipanggil beralih dari Soonyoung, menatap si pemberi pertanyaan cukup intens, "Sejak pertama kali Jungkook terdaftar sebagai siswa baru di YaGook. Di hari yang sama saat kau dan Mingyu dengan kurang ajar menumpahkan kecap asin di atas kepalaku," penuturan itu Taehyung suarakan setengah geram.
Kedua orang yang namanya terangkut mendelik. Kemudian suara kekehan canggung Seungkwan yang menggema, "I-itu ketidak sengajaan, Hyung."
Lalu hening lagi.
"Tae ...," suara Hoseok yang memecah keheningan. Diam beberapa sekon membuat keheningan kembali menyapa sebelum bangkit dari duduknya di lantai kemudian berjalan ke arah Taehyung.
Tepat di sisi kasur ia mendudukan diri di sebrang Soonyoung, menghadapkan tubuh ke arah sang roommate kemudian dengan sekali embusan napas ia bertanya penuh sangsi, diiringi kelima pasang netra para sahabatnya yang tak mengalihkan fokus darinya, "Jika memang itu suatu perjanjian yang dibuat saat Jungkook masuk YaGook. Kenapa kau tidak pernah cerita sebelumnya pada kami bertiga? (dalam angan ia menunjuk diri sendri, Jimin, beserta Soonyoung) Atau apakah tidak kelewat mengherankan kau menyembunyikan itu bahkan dari Jimin?" jeda kembali, kini cukup lama. Nada Hoseok melembut beriring tepukan pelannya pada ujung dengkul Taehyung yang menyila, "Setidaknya kaucerita kalau kau punya tunangan. Jika memang kau kuatir akan identitas Jungkook, bisa bukan kaubercerita tanpa menyebutkan namanya—menjadi si anonim? Sekedar agar kita tidak salah paham suatu saat nanti, Tae. Bagaimana jika tanpa kau ketahui salah satu dari kami menyimpan perasaan pada bocah itu? Atau tanpa sepengetahuanmu ... karena kelewat benci, salah satu dari kami menghajar Jungkook? Kau akan diam saja? Atau menunggu kami membuat pilihan untukmu? Para sahabatmu ... atau Jeongguk?"
Empat lainnya menatap kedua orang di sana lekat-lekat, beriringan itu tatapan Taehyung tersirat akan kekosongan menatap sahabat Jung di hadapan sebelah kanannya, "Dulu kau yang mati-matian usaha agar Soonyoung percaya pada kita 'kan? Bukankah omong kosong kalau orang yang melakukan itu nyatanya tidak percaya pada sahabatnya sendiri?" obsidian Taehyung berpendar, menatap wajah teduh Hoseok dengan ekspresi susah ditebak.
Sesungguhnya ia marah, kenapa Hoseok berkata demikian? Tidakkah ia merendahkan Taehyung? Meragukan keputusannya? Boleh Taehyung yang sekarang bertanya; kita sahabat 'kan?
Namun kala si Jung melanjutkan penuturannya, rasa bersalah menerpa silih berganti di selubung hati Taehyung. Mengirisnya pelan-pelan membuat sang pemilik merintih akan kebodohannya. Kala Hoseok bicara sedemikian lembut dan lantang di hadapan seluruh sahabatnya: "Kau hanya perlu percaya pada kami, Tae. Dan kami tak akan meragukanmu. Karena kau Kim Taehyung—seonggok bangsat yang tak pernah kami skeptis tiap tutur katanya. Bajingan yang selalu kami percayai tiap-tiap keputusannya. Idiot yang mempersatukan enam Keparat dalam simpul kepercayaan. Kau Kim Taehyung—sahabat kami."
Seketika napas Taehyung tercekat tepat di kerongkongan. Tersedak akan air mata yang pantang di lelehkannya tiap saat. Merasa bersalah akan kebodohan yang membawanya terjerumus akan penyesalan.
Taehyung sadari, tidak kah ia munafik?
"Tidak perlu mempercayai kami jika masih sulit untukmu ..." -begitu dirinya berkata pada Soonyoung. Namun pada kenyataan tanpa ia sadari dirinya lah yang sulit untuk menuang seluruh kepercayaan pada kelima sahabatnya. Tidak kah ini lebih menjijikan dari seorang penghianat?
Hening kembali.
Kali ini hampir lima belas menit, terpecah akibat uluran perlahan tangan kanan Hoseok yang disambut tiba-tiba pelukan Kim Tae pada dirinya. Teriakan "Aaaah ...," Soonyoung menggema beriringan si sipit itu meloncat dari ranjang Hoseok untuk ikut memeluk kedua sahabatnya di sana. Dilanjuti Seungkwan yang bangkit dari duduk lalu berhambur memeluk ketiga hyungnya. Jimin ikut menumpuk di belakang Hoseok, memeluk erat-erat keempat sahabatnya. Ditutup Mingyu yang memposisikan diri di belakang Soonyoung setelah mempause video yang baru ia tonton setengah.
Kelewat melodrama memang untuk enam remaja tanggung seperti mereka—terlebih pada kenyataan enam anak itu para berandal sekolah. Tapi di tengah persahabatan hal itu halal-halal saja bukan?
Beberapa detik kemudian mereka semua melepaskan tautan masing-masing ketika Taehyung memekik karena napasnya habis dijepit sana-sini. Dan ketika dirinya bebas ia sibuk mencerca kelima sahabatnya dengan sumpah serapah khas Kim Taehyung mode normal.
Namun setelah itu keenamnya tergelak bersama kala Taehyung terbatuk-batuk di tengah omelannya.
"Oke!" seruan Soonyoung menggema beriring tepukkan tangan sekali siswa Kwon itu. Menghentikan seluruh tawa para sahabatnya, mereka memandang si sipit sembari mengulum senyum, "Berarti mulai sekarang tidak ada sembunyi-sembunyian di antara kita! Apapun itu!" gelagatnya ia memandang satu persatu sahabatnya sembari menunjuk dan memicing, "Jika ada masalah—cerita!"
Dijawab anggukan pasti dari keempat di sana.
Iya empat. Karena Mingyu satu-satunya yang terdiam tanpa jawaban.
Sontak mengundang kerutan bingung di kening Soonyoung, "Gyu?" penggilnya mengundang yang lain turut menoleh ke arah yang dipanggil.
Merasa jadi pusat perhatian, Mingyu mengedip. Agaknya ia seperti orang yang kehilangan nyawa.
"Gyu, kau kenapa?" suara Soonyoung kembali terdengar.
"Iya benar. Kalau dipikir-pikir, dari tadi gerak-gerikmu aneh," Seungkwan menyahut.
Membuat tanda tanya besar di masing-masing kepala sahabatnya yang mau tidak mau wajib dijawab. Mingyu berdeham sekali, bibirnya terbuka-mengatup persis Koi, tegukan berat liurnya membuat para sahabatnya yakin ada yang tidak beres.
"Ya! Kau punya masalah?" Jimin bertanya.
Mingyu mendelik, diam beberapa saat sebelum mengulum senyum penuh kebimbangan. Hampir satu menit ia terus begitu hingga akhirnya ia memantapkan hati untuk turut percaya pada kelima orang di sana, "Nggg ...," gumaman itu terdenger beriring kepalanya yang perlahan menunduk. "Hyung," panggilan ia arahkan tanpa arah; entah ke Taehyung, Soonyoung, Hoseok, Jimin, atau bahkan Seungkwan. Kelima orang di sana dibuat heran kala Mingyu semakin memperdalam tundukannya. Benar-benar tidak seperti Kim Mingyu—si idol super cabul. Namun kala bocah paling mesum itu berkata; mereka hanya melongo dengan mulut menganga, "Aku pacaran ... dengan Jeon Wonwoo," pengakuan di kalimat akhir ia ucapkan setengah berbisik.
Hening setengah jam.
"HAH?!" pekikan super menggema kala kelima anak di sana berjengit heboh di tempat masing-masing setelah selesai mengkoneksikan diri akan perkataan sang sahabat.
"Kau pacaran dengan Wonwoo?!" itu pekikan Soonyoung.
"Wonwoo? Wonwoo? Kenapa harus Wonwoo?!" Jimin berteriak Heboh.
"Oh my! Wonwoooo? Lebih baik kaucabuli saja siswi seasrama!" Hoseok berseru penuh amarah, tak memikirkan ujarannya di luar topik.
"Ada apa dengan Wonwoooo~?" itu nyanyian Seungkwan yang kertera jelas penuh kemirisan.
"Wonwoo? Siapa?" dan pertanyaan polos Taehyung menghentikan histeria dalam kamar ini.
Hening kala seluruh pasang mata menatap Kim Tae penuh curiga. Dibalas kedipan tak terpukau bocah itu, menggedik lalu memundurkan diri sampai mentok di kepala ranjang—menyandar, setelahnya ia mengambil manga yang sedari tadi tergeletak di atas kasur dengan ujung kaki, menariknya tanpa acuh lalu membaca manga itu tak peduli kelima sahabatnya yang kini mengerjap di tempat.
Makanya, tolong jangan membuat sosok Kim Taehyung blank jika mau bocah ajaib itu tetap dalam satu mode.
Mengundang gumaman kosong lima siswa di sana yang menatap Taehyung seakan sosoknya transparan, "Idiotnya kumat."
.
.
.
.
Jo Liyeol's present
©2016
.
.
WCT Our Hostel
— Chapter 8 : Very Nice —
.
| VKook | MinYoon | Meanie | SoonHoon | VerKwan | Lonely Jung Hoseok |
Slight! : NamJin | JeongCheol |
.
.
Warning!
OCC || AU || T+ || Typo || BL
[Drama—Romance—Humor—Friendship]
.
.
"Welcome To Our Hostel. YaGook High School adalah sekolah menengah atas (megah nan elit) bersistem asrama yang memelihara enam anak pembuat masalah."
.
PROHIBITED COPAS, DON'T BE PLAGIAT, DON'T BE SILENT!
BTS - SEVENTEENFF! DLDR! RnR!
.
.
.
.
Sabtu pagi.
Almamater merah marun berpadu celana bahan hitam tersebar seantero YaGook High School. Mendominasi warna seragam yang dikenakan siswa-siswanya ketimbang seragam olahraga putih biru yang melekat di tubuh para siswa di lapangan.
Pemandangan biasa, pula pagi biasa di YaGook.
Maaf, tolong kecualikan kata biasa tadi di Ruang Ketua komite kedisiplinan tempat berdiamnya Min Yoongi seorang.
"Apa-apaan ini, hah?!" teriakan itu terdengar setelah gebrakan kencang menggema seantero ruangan.
"Please calm down, Min. Ini hanya usulan yang sayangku buat untuk memusnahkan tegang menghadapi tengah semester," itu suara Kim Namjoon yang dengan santai merangkul pundak Seokjin di sebelahnya.
Yoongi mengeratkan rahang, "Usulan?" decihan sarkas terdengar sebelum ia melanjutkan, "Ini coercion! Pemaksaan kehendak!"
Putaran bola mata malas terjadi di retina Choi Seungcheol yang berdiri di sebelah kanan Seokjin. Cukup tau tensi tinggi orang yang duduk pada meja kuasa di hadapannya ini, hingga ia mengembuskan napas berat berusaha tak turut terpancing emosi, "Pemaksaan apanya? Salah kalau Seokjin mengusulkan camp minggu ini pada Dewan? Don't exaggerate, dua minggu lagi ujian semester. Murid-murid sekolah ini butuh liburan, terlebih kelas tiga."
"Tanpa persetujuan dariku? That harassment!" Yoongi berseru marah, obsidiannya berpendar teramat kesal menatap tiga orang yang berdiri santai di depan meja kuasanya, "Itu tidak mengikuti tata aturan pengurus Asrama dan Sekolah. Kalian mengusulkan hal tiba-tiba tanpa berkompromi padaku ke Dewan, itu sama saja struktur dari pengurus Asrama merendahkan struktur kami! Dan seminggu bukan jangka waktu yang panjang untuk membuat susunan kemping! Pada akhirnya yang terbebani adalah kami, Choi! Yang bertanggung jawab enam puluh persen dari tiap kegiatan adalah kami! Aku!"
Kemudian hening.
Seungcheol memilih tak menjawab dari pada terpancing emosi menghadapi Yoongi, Namjoon pula memilih diam berusaha tak peduli karena hal ini memang bukan urusannya. Sedangkan Seokjin menarik napas dalam-dalam amat santai seperti biasa, bukan sekali dua kali ia menghadapi Yoongi yang seperti ini, tapi bukan berarti bahwa siswa Min itu memang benar adanya amat tempramen. Seokjin tau persis sosok Yoongi adalah orang yang ia kenal paling baik mengontrol emosinya. Memendam amarah, penuh toleran, pula melampiaskan murka dengan hal positif pada diri sendiri. Tapi ada saatnya Min Yoongi berubah teramat tempramen dan luar biasa meledak-ledak seperti ini, dan Seokjin yakin, di saat kawan sejawatnya itu berubah pasti ada suatu masalah sulit yang ia hadapi.
Jadi Seokjin sengaja diam hingga tepat baginya untuk buka suara.
Dan saat ia rasa Yoongi menarik napas dalam lalu menjatuhkan kepala pada tautan kedua tangan yang bertumpu siku ke meja. Seokjin tersenyum kecil sebelum berbisik pada Namjoon dan Seungcheol agar menunggu di luar. Dibalas anggukan mereka kemudian berbalik dan hilang setelah debuman halus pintu terdengar.
Usai menghilangnya kedua orang itu Seokjin melangkah sambil menggeret kursi yang ia ambil dari sudut ruangan, membawa kursi itu hingga terhenti tepat di hadapan meja Yoongi kembali. Ia mendudukinya masih dalam hening, sampai pada saat ia rasa waktu yang tepat untuk buka suara; ia memecah keheningan, "Aku sudah mengirim surat permohonan padamu satu bulan lalu kalau boleh kuingatkan."
Di detik itu Yoongi mendongak dengan kening berkerut, "Apa?"
"Surat permohonanku. Camp yang kuusulkan untuk bulan ini ...," raut santai itu tergambar seiring sang pemilik suara memangku dagu di sebelah tangan, "Coba periksa lacimu."
Yoongi menuruti perintahnya, membuka laci meja di mana tempat khusus bagi surat-surat usulan yang datang dari asrama. Dan ketua kesiswaan itu meneguk liurnya kasar kala di tumpukan paling atas benar ada surat permohonan bertanda tangan Seokjin tergeletak. Tak ada minat mengambil, Yoongi kembali menutup laci meja lalu menatap Seokjin lamat-lamat, "Maaf."
Seokjin sendiri membalas dengan senyum maklum menanggapinya. Hening beberapa detik sebelum ketua asrama itu angkat suara, "Kurasa kau benar-benar sibuk mengurus adikku beserta kawan-kawannya."
"Please, jangan membahas gerombolan biadab itu sekarang. Aku muak," ia berujar sembari menelungkupkan kepala di lipatan kedua tangan.
Si Kim mengangguk paham, "Ya ... kuakui ulah mereka memang memuakkan," lalu menurunkan tangan sebelum menyandarkan punggungnya ke sofa, "Omong-omong, kau kenapa? Ada masalah?"
Tanpa bergerak dari posisinya Yoongi menjawab: "Ponselku hilang."
Dan Seokjin mengangguk, memilih diam dari pada memberi petuah tidak bermutu. Ia paham bagaimana kefrustasian sahabatnya.
.
.
Ingatkan Kim Mingyu untuk merobek mulut bangsat beserta tangan sialan Jung Hoseok.
Karena berkat kelaknatannya, headline besar seantero asrama dari; 'Berakhirnya kisah tragis Lee Jihoon dan sisa-sisa kencing Kwon Soonyoungdengan pelukan mesra di taman belakang' menjadi 'Kisah romansa-dramatis; cinta Kim Mingyu yang berlabuh pada Jeon Wonwoo berkat keajaiban air suci' yang sungguh menggegerkan seluruh penghuni sekolah.
Pagi-pagi sekali begitu banyak fans (laki-laki) yang datang memborbardir pintu asramanya. Sial untuk Seungkwan yang membukakan pintu karena sang rommate tanpa terganggu sama sekali masih bergelung di bawah selimut dan mimpi indah. Hingga si Boo lah yang menjadi bulan-bulanan para fans Mingyu, bertanya akan kebenaran artikel terbaru di blog sekolah pagi ini. Bukan masalah jika hanya bertanya untuk meluruskan semuanya, tapi siswa-siswa itu dengan ganas memekik, berteriak, bahkan menjambak-jambak gemas rambut Seungkwan memerintah si Boo untuk berkata 'Tidak! Itu tidak benar.'
Tapi hingga sekitar setengah jam; Soonyoung beserta Jimin datang menghampiri kamar mereka Seungkwan tak kunjung memberi jawaban karena ia memang benar-benar tidak tau. Dan bukan menjadi pahlawan atau sekedar penengah, Soonyoung juga Jimin yang hadir di sana malah ikut terseret menjadi pelampiasan murka para fans Mingyu. Jambakkan pongah pula teriak memekakkan telinga tak dapat ketiganya hindari hingga keganasan siswa-siswa itu terhenti tatkala sebuah langkah kaki terdengar dari belokan koridor, mendekat ke arah mereka beriring sosok Kim Taehyung muncul berjalan menunduk dengan manga di tangan kanannya yang tak lepas ia baca.
Seakan hapal derap langkah Taehyung, mereka semua menoleh terkecuali tiga korban di sana. Menatap lamat-lamat si Kim yang mulai mendekat perlahan tanpa mengalihkan fokus pada komik bacaannya.
Seketika gelinyar pula gelagat aneh siswa-siswa di sana pancarkan beriring langkah mundur yang menyeret perlahan, bersama berpasang-pasang netra yang tak henti mengiringi langkah Taehyung ke arah mereka.
Hingga detik Kim Taehyung mendongak tanpa menurunkan manga yang ia baca, keseluruhan siswa di sana kocar-kacir membubarkan diri seakan waria yang bertemu petugas razia. Menghiraukan siswa Kim yang dalam mode idiotnya mengerjap bingung sambil terus berjalan mendekati ketiga sahabatnya.
Saat Taehyung berhenti di hadapan mereka bertiga sambil memasukkan komik ke dalam tas, adalah detik yang tepat ketika Kim Mingyu dengan polosnya berdiri di ambang pintu (belakang sahabatnya) dengan wajah bantal dan rambut urakan mengucek mata sambil bertanya, "Ada apa?"
Pun menjadi waktu di mana Kim Mingyu merasakan bagaimana kejamnya kamehameha dari tiga Son Goku sekaligus.
Tak henti sampai di situ. Saat kelimanya datang lebih pagi ke sekolah. Baru beberapa langkah empat di antara mereka melewati gerbang, tapi gerombolan siswi mengerubungi Mingyu begitu saja menyingkirkan Seungkwan, Jimin, pula Soonyoung yang berjalan beriringan dengannya. Bersyukurlah mereka karena Kim Taehyung dalam mode idiot lebih memilih masuk lewat pohon ketimbang gerbang sekolah. Mengundang Seungkwan hendak memekik dengan sumpah serapah di pangkal lidah yang telah matang untuk menggelegarkan sabtu tak indah ini, namun tidak jadi ketika obsidian kembar si Boo menangkap Choi Hansol yang berjalan melewati koridor tak jauh di sana. Meninggalkan Park Jimin serta Kwon Soonyoung menggeram di tempat sambil membenarkan tatanan rambut serta tali tas mereka—tidak berniat menata seragam, karena ditata pun tidak ada gunanya.
Puncaknya. Saat Mingyu memasuki kelas tanpa Seungkwan di sampingnya (karena entah, Mingyu juga tidak tau bocah itu ke mana) ia dikagetkan dengan kumpulan surat serta bertumpuk-tumpuk bekal di atas mejanya yang bahkan tiga kali lipat lebih banyak dari hari biasa. Bocah Kim itu mendekati meja sambil menggaruk kepala frustasi, melempar tas setengah kesal ke atas kursinya, tanpa mendudukkan diri mengambil satu dari puluhan surat di sana yang ia dapat hirup aroma menyengat wewangian tante girang. Dalam hati ia meringis dengan perasaan was-was membuka isi surat itu dan mengamit selembar kertas dari dalamnya yang bukan main wanginya malah seperti kemenyan.
Dan detik ketika Mingyu membuka kertas yang dilipat dua lalu membaca isinya, detik itu pula matanya membelalak tak percaya.
'Kim Mingyu, Sayangku. Aku mencintaimu sepenuh hati, Gyu. Tiap-tiap saat aku memperhatikanmu, memandangmu yang sungguh indah dan tak terelakkan begitu memukau perasaanku. Aku mencintaimu, Gyu. Sepenuh hatiku. Tapi kenapa kau melakukan hal ini padaku? Apa yang kau lihat darinya? Apakah ia cantik? Tampan? Kenapa kau memilihnya? Kau jatuh di tangan yang salah, Gyu. Dia curang! Pelacur jahanam yang menggelikan! Percayalah, air suci itu hanya santet yang membuatmu lupa daratan dan terpukau. Jika kau mau aku bisa—'
"Bisa apa, Brengsek! Kau pikir kau lebih bagus dari dia? Jika dia pelacur maka aku adalah gigolo laknat yang menyerah pada takdir Tuhan!" dengan emosi Mingyu merobek kertas yang belum selesai ia baca. Berjalan dengan sedikit tergesa ke luar kelas, dan kembali dengan kantong plastik besar yang entah ia ambil dari mana. Meraup seluruh surat pula berkotak-kotak sarapan di atas mejanya tanpa belas kasih, tak mempedulikan berpasang mata kawan kelasnya menatap begitu heran bercampur tak percaya ke arahnya, karena untuk kali pertama; Kim Mingyu terlihat begitu tempramen dan dengan kurang ajar membuang pemberian fansnya ke tong sampah depan kelas.
Sesaat ketika Mingyu mendudukkan diri di kursinya dengan napas berantakan menahan gejolak emosi agar tidak semakin parah, netranya menangkap sebuah goresan rapih di permukaan whiteboard mejanya yang tertulis dengan pensil. Menit berikutnya ia berdiri memacu keributan berkat decitan kursi yang ia dorong ke belakang tiba-tiba, dan tanpa hitungan detik ia berlari ke luar kelas menghiraukan Seungkwan yang baru datang terbengong setelah menyapanya di ambang pintu, namun hanya tubrukan sebelah bahu lah yang si Boo dapati.
Setelah si Kim benar-benar hilang Seungkwan kembali menoleh ke dalam kelas, mengedarkan pandang mengisyaratkan pertanyaan pada kawan-kawan sekelasnya yang sama-sama memasang tatapan bertanya 'Mingyu kenapa?'. Membuat Seungkwan dengan raut bingung dan bibir sedikit mengerucut menggedik bahu pertanda ia tidak tau. Namun saat si Boo berjalan ke mejanya yang tepat di sebelah kiri meja Mingyu, siswa itu mengernyit penasaran akan goresan pensil di atas meja sahabatnya. Dan ketika ia mendekati meja si Kim tanpa melepas tas lalu membaca apa yang tertulis di sana, bulu halus di sekujur tubuh Seungkwan meremang hebat. Panik bukan main namun dengan kasualnya ia membuka tas lalu menumpuknya di atas meja Mingyu berusaha menutupi tulisan di sana, lalu berusaha sesantai mungkin ke luar kelas tanpa membuat siswa lain heran dan kembali bertanya-tanya.
'Pelajaran untuk Jeon Wonwoo karena merebut Kim Mingyu kami.
Karena kami mencintaimu, Gyu.'
.
Mingyu terengah mengedarkan pandang ke lapangan indoor yang ia tau benar adalah tempat bersarang fans gilanya kala mencerca atau bahkan membully siswa-siswi yang terlihat sedikit dekat dengannya.
Berusaha sekuat mungkin menemukan titik terang dari segenap kekuatiran akan Jeon Wonwoo. Namun hingga napasnya kembali normal tak sedikitpun ia dapati sekedar pangkal hidung sunbae tercintanya itu. Perasaannya semakin kacau tatkala membayangkan betapa ganas fansnya pada seseorang yang bahkan hanya terlihat mengobrol berdua dengannya. Bagaimana pula jadinya jika para fansnya itu memerangkap dan melampiaskan amarah pada orang yang kini berstatus kekasihnya? Mati sudah Jeon Wonwoo!
Mingyu kira dirinya tak paham tabiat orang-orang yang mengaguminya; sebagaimana selama ini Mingyu ketahui di mana saat mereka memandanginya, meletakkan jiwa mereka pada bekal-bekal pagi di atas mejanya, menggoreskan cinta pada lembar harapan yang menumpuk ganas di dalam lokernya, serta kejam amarah di mana mereka selalu lampiaskan saat ia bersama orang lain selain kelima sahabatnya. Nyatanya salah, Mingyu paham—dirinya paham betul dan persepsinya tidak salah. Ia tau di sini lah para pengagumnya melampiaskan murka. Tidak di belakang sekolah, tidak pula di lain tempat. Tapi di sini; di lapangan indoor Ya Gook High School.
Jadi Mingyu berlari mengarah pada sumber bunyi 'Brak!' yang menggema dari arah ruang ganti di ujung sana.
Membukanya kasar hingga mendapati pemandangan yang membuatnya tertegun sesaat di ambang pintu. Memandang bagaimana tangguhnya Jeon Woonwoo mengunuskan pedang anggar di tangan kanan pada segerombolan siswa-siswi di hadapannya. Sorot mata esnya tak gentar menatap balik tatapan menikam belasan siswa di sana. Hingga keseluruhan dari mereka mengalihkan fokus pada sumber terbukanya pintu, cukup tersentak mendatapi Kim Mingyu ada di sana dengan peluh menetes membanjiri sekujur tubuh terlihat dari pelipis serta lehernya yang bermandikan keringat. Napas si Kim kembali bergemuruh tak beraturan berkat larian tadi, namun tanpa peduli ia melangkah mendekati Wonwoo.
Menarik tangan kanan si Jeon yang mengambang hingga turun dan berada di sisinya, sedikit menyentak Wonwoo hingga yang lebih tua berganti posisi berdiri di belakangnya—melindungi sang kaka kelas tanpa peduli tatapan fansnya yang semakin terlihat buas akan kecemburuan dan rasa sakit hati.
Namun ketika dengan bengis Mingyu menatap mereka satu persatu bersama rahangnya yang mengeras; segerombolan siswa YaGook di sana terperenjat. Untuk kali pertama mereka melihat air muka Mingyu yang begini menyeramkan tanpa senyum dan raut canda seperti biasa.
Dan ketika si Kim bersuara lantang sambil mengeratkan pengangannya di tangan Wonwoo; seluruh siswa di sana menahan napas seketika—tercekat seakan tak percaya bahwa mereka berhadapan dengan Kim Mingyu mereka.
"Dia milikku, jika kalian berani menyentuhnya—maka kalian berurusan denganku. Tak peduli siapapun kalian."
.
Jadi ingatkan Kim Mingyu untuk mengecup kening menawan serta merangkul tubuh indah Jung Hoseok.
Karena berkat kebajikannya, Jeon Wonwoo tertunduk amat dalam saat gerombolan yang tadi hendak menghajarnya keluar satu per satu hingga menyisakan ia dan Kim Mingyu berdua, saat mereka benar-benar berdua Wonwoo menghempaskan begitu saja pedang anggar yang ia genggam membuat Mingyu tersadar dan seketika berbalik sambil melepas tautan tangannya pada pergelangan Wonwoo.
Tanpa diduga, detik ketika Mingyu seutuhnya berbalik membuat tubuh mereka berhadapan adalah detik ketika Wonwoo melangkah maju lalu memeluk pinggang adik kelasnya erat, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Mingyu sambil terus bergumam kata terimakasih.
Menjadi detik Kim Mingyu berada di puncak angkara mimpi indahnya yang berbuah nyata.
.
Bel masuk telah berbunyi lima belas menit lalu, namun Mingyu pula Wonwoo masih membetahkan diri duduk bersisian di satu baris tempat duduk stadion; lapangan indoor YaGook tanpa niat masuk kelas.
Terlihat canggung bagi Mingyu yang kini menunduk memainkan jemari tangan, sedangkan Wonwoo terlihat santai dengan memainkan ponsel menghiraukan aura gelisah dari sisi kanannya.
Ketika Mingyu berdengung lalu menoleh ke arah Wonwoo, siswa Jeon itu masih sibuk dengan ponselnya. Sampai Mingyu memberanikan diri bicara lebih dulu, "Hyung, maaf."
Mengundang perhatian Wonwoo yang beralih dari ponsel untuk membalas pandangnya, "Untuk apa?"
Dan Mingyu kembali menunduk, "Karena fansku ...," pernyataannya mengambang tak tentu, membiarkannya mengantung hingga kehilangan titik akhir.
Mengerti arah pembicaraan si Kim, Wonwoo hanya mengangguk samar kemudian membalas sambil mengusak puncak kepala Mingyu membuat helaian siswa itu berantakan, "Jangan meminta maaf, bukan salahmu seutuhnya."
"Tapi, Hyung ...," Mingyu masih menunduk, setengah merengek memohon pada Wonwoo. Pernyataannya lagi-lagi mengambang karena tak kuasa ia melafalkan rangkaian kata penyesalan untuk sosok di sebelahnya.
Hingga Wonwoo meletakkan ponselnya di sebelah kanan, lalu sedikit mengarahkan tubuh pada Mingyu sebelum dengan lembut menangkup wajah si Kim kemudian menepuk-nepuknya pelan dua kali; ia bersuara, "Jangan membuatku menyesal telah menerimamu, Gyu—cukup dengan cara gilamu menjadikan kita kekasih, cara gila Jung Hoseok membunuhku perlahan, pula cara gila fansmu murka padaku. Kurasa itu cukup untuk membuatku menyesal, jadi jangan meminta maaf sebelum aku semakin menyesal pernah mengenalmu. Kecuali kau memberi kuasa untukku memilih supaya kita putus?"
Tidak main-main Wonwoo menyuarakan untaiannya, menelisik sekembar obsidian Mingyu pada pancaran sedingin biasanya. Memasung yang lebih muda tenggelam pada ilusi murni kekejaman lidah Jeon Wonwoo yang tak terelakan sakitnya luar biasa.
Jadi anggaplah Kim Mingyu masokis karena menyukai bagaimana hatinya terasa nyeri menerima tiap penggalan tanpa iba si Jeon yang menusuk tepat di relung jiwanya.
Maka Kim Mingyu tersenyum. Bagitu tampan hingga Wonwoo sejenak lupa bagaimana cara bernapas. Lupa bagaimana cara menjauh kala Mingyu memajukan wajah dengan sebelah tangan merengkuh pinggangnya tanpa penolakan. Lupa bagaimana cara melarang si Kim mengusap lembut tangan kanannya yang masih memerangkap wajah itu; dengan tangan satunya. Lupa bagaimana cara menghajar Kim Mingyu saat menyatukan bibir mereka dengan lembutnya. Ciuman manis yang menjalarkan strum menyengat hanya dengan menempelkan tautan bibir masing-masing tanpa lumatan dan pergerakan.
Dan ketika Mingyu memisahkan bibir mereka lalu mendaratkan kepala di kening yang lebih tua, Jeon Wonwoo lupa bagaimana cara menghentikan permainan Tuhan yang begitu mudah menjatuhkannya pada sosok yang sebelumnya paling ingin ia jauhi seantero negri, memparmainkannya hingga memutar balik fakta menjadikan sosok itu bagai separuh belahan jiwa yang tak bisa ia lepas begitu saja.
"Kau tidak dengar apa yang kubilang tadi? Kau milikku, Hyung. Jeon Wonwoo milikku. Maka tidak akan kubiarkan kau beranjak sedikitpun dari sisiku. Jika hari ini kau berani melangkah, maka kujamin keesokannya kubuat kau tidak bisa jalan seminggu penuh. Aku egois jika menyukai sesuatu, omong-omong."
Untuk kali pertama Kim Mingyu terang-terangan bicara begini kotor pada Wonwoo yang jelas sudah sejak dulu mengusahakan apa saja agar otak sang adik kelas tak menjurus selalu ke arah sana. Namun tak terpungkiri debar menyesakkan silih berganti menimpa dada Mingyu, kala jantung di dalam sana berdegup tak karuan beratus kali lipat lebih kencang dari biasanya, saat menyaksikan keindahan wajah Jeon Wonwoo yang malah tertawa mendengar penuturannya. Dan semu tranparan tak dapat Mingyu tahan tatkala dengan lembut Wonwoo berbisik dengan senyum manisnya, "Enyah saja kau, Mesum Sialan."
.
.
Sudah hampir satu jam Boo Seungkwan mengitari satu sekolah, tak mempedulikan bel masuk yang ia dengar puluhan menit lalu. Di pikirannya saat ini hanya penuh akan keberadaan Kim Mingyu dan keselamatan Jeon Wonwoo. Jujur saja, otaknya kalang kabut membayangkan bagaimana kejam fans sahabatnya kala cemburu hanya dengan sesuatu yang sepele.
Pasalnya, ia sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya saat baru masuk dulu.
Kim Mingyu sudah populer sejak awal masuk omong-omong. Seungkwan siswa supel, genit dan memang cukup manis. Jadi fakta bahwa orang seperti itu menjadi patner sebangku bahkan sekamar Kim Mingyu adalah mimpi buruk bagi fans-fans yang jatuh cinta di kali pertama mereka melihat siswa tan itu.
Mereka mencerca bahkan melakukan aksi bullying pada si Boo yang dengan tabah ia hadapi dalam diam. Namun aksi semacam itu terhenti di kala kesabaran Seungkwan habis dan tanpa gentar menjambak sekaligus helai panjang para siswi yang menumpahkan saus ikan di kepalanya, dan menendang tanpa takut perut para siswa yang melemparinya dengan bola takrau di lapangan. Mulai saat itu tak ada lagi yang berani mengganggu Boo Seungkwan meski kian hari dirinya dan Kim Mingyu semakin lengket. Menjadi tabiat tersendiri bagi Mingyu yang memanfaatkan Seungkwan sebagai tamengnya, si Boo tau dan ia tidak keberatan karena pada dasarnya ia mendekati Mingyu karena siswa itu tampan. Sebagaimana moto hidupnya: Ketampanan adalah keindahan, dan kata ibuku keindahan harus dijaga sepenuh hati.
Terlebih fakta saat dua bulan setelah itu satu yayasan gempar kala ia dan Mingyu duduk satu meja dengan Jung Hoseok, Kwon Soonyoung, Park Jimin, dan Kim Taehyung di kantin saat jam istirahat pertama.
Jadi kisah Seungkwan bukanlah hal yang patut disamakan dengan keadaan Jeon Wonwoo saat ini. Si Boo tak peduli apakah dahulu kala sunbae satu tingkatnya itu pernah terlibat perkelahian fatal atau semacamnya, yang jelas hal itu berbeda dengan perang melawan ratusan sesaeng fans. Dan sekuat apapun Wonwoo, dirinya tetap anggota kesiswaan yang terbelenggu dengan peraturan; akan kekerasan atau pelanggaran lainnya. Poin penting yang Seungkwan tau betul bisa membuat Jeon Wonwoo tak berkutik meski di hajar habis-habisan fans Mingyu.
"Mingyu Bangsat! Bodoh! Idiot! Sinting! Kau kemana, hah?!" ia berteriak frustasi di pijakan kakinya yang terhenti pada ujung koridor sepi. Berjongkok sambil mengusak kepala gemas mengacak-acak rambutnya sendiri, kemudian meracau sambil memegangi pipi dengan kedua tangan, "Ya Tuhan, selamatkan sahabatku ya Tuhan. Kalau Wonwoo sunbae mati pasti yang digentayangi pertama kali Mingyu. Selamatkan Mingyu, jangan sampai dia gila. Nanti kalau dia gila aku sekamar dengan siapa?"
Agaknya orang tertekan ia menjatuhkan diri pada kramik koridor dengan tangan masih menangkup pipi, tak peduli kotor atau sebagainya. Bersama tatapan kosong dan air muka kusut ia menyandarkan kepala pada kramik persis seperti gembel banyak pikiran.
Terus seperti itu, tanpa ia sadari dari ujung koridor sana seorang siswa melangkah dan terhenti di atas kepalanya. Siswa itu menunduk memperhatikan wajah Seungkwan lamat-lamat sebelum membungkuk lalu bersuara gamang, "Kau kenapa?"
Seketika menyadarkan si Boo hingga arwahnya kembali berkumpul membuat ia mendongak mencari sumber suara. Kala didapati wajah seorang siswa yang tergantung kaca transparan di pangkal hidungnya, "Hansol!" Seungkwan menjerit histeris sambil membangkitkan tubuh tiba-tiba mengundang bunyi 'Buk!' menggema dari pertemuan kening mereka yang beradu kencang.
"Ah!" masih menunduk, Hansol melangkah mundur sekali sambil memegangi keningnya dengan kedua tangan.
Seungkwan mendongak, buru-buru berdiri menghampiri Hansol sampai lupa pada denyut di keningnya sendiri yang memang benar memusingkan, "Ya! Ya! Ya! Hansol-Hansol! Mianhae!" dengan paniknya si Boo berusaha menangkup kepala Hansol namun entah kenapa hal itu malah semakin membuatnya panik karena bingung bagaimana melakukannya.
Dan ketika Hansol mengangkat kepala, saat itu juga Seungkwan mengangkup kepala atasnya lalu meniup ganas keningnya tanpa ampun, seakan-akan barusaha menerbangkan kepala si Choi dari tiupan itu. Namun dengan bangsatnya tiupan itu makin lama malah mengarah ke matanya dengan udara yang semakin ekstrem. Membuat Hansol gelagapan berusaha menghentikan tingkah Seungkwan, namun gagal karena si Boo tak mau tinggal diam. Sampai pada saat Hansol menyentak kepalanya ke belakang sambil berteriak, "Ya!"
Baru berhasil menghentikan Seungkwan beserta puting beliungnya.
Lalu si Boo menunduk, menautkan jemari sambil mengigit bibir dalam bawahnya pelan. Dan kala Hansol menghela napas halus kemudian kembali bertanya, "Kau kenapa?" tiba-tiba Seungkwan berbalik mengarahkan wajah pada jendela kelas yang memantulkan wajah hingga separu bahunya transparan. Mengedip-ngedip cepat sebelum dengan lihai membenarkan tatanan rambut berantakannya lalu menyelipkan poni ke belakang telinga sambil membasahi bibir dan berbalik kembali menghadap Hansol beserta kuluman senyum; sambil memasang raut berduka yang terlihat berlebihan—seperti anakonda memelas di mata Hansol malah. Kasihan tidak, menakutkan iya.
Hingga detik ketika Seungkwan melangkahkan kaki mendekatinya, adalah detik ketika naluri Hansol mengumandangkan siaga satu gawat darurat. Sirine kencang bergaung di kepala Hansol ketika dengan horor Seungkwan memeluk erat sebelah lengannya lalu bersandar begitu saja pada bahu kanannya, sambil mendongak mempertemukan wajah mereka. Maka katakan lah mulai dua hari lalu Hansol gila karena menganggap wajah gembil Seungkwan labih manis ketimbang Jihoon dan Jungkook—untuk ukuran lelaki yang pernah ia temui.
"Aku baik-baik saja, sungguh. Mengkhawatirkan aku, ya?" siswa Boo itu berkedip-kedip ria seakan ada bakteri cacing dalam lubang anusnya. Dan ingatkan Hansol untuk segera memohon pada Wonwoo agar turut menyiramnya pakai air suci sambil mensucikannya dengan kebajikan suci dari petuah agama tersuci agar ia kembali menjadi suci saat dengan amit-amit Seungkwan tersenyum mesum lalu menggusak kepalanya ke leher Hansol persis anak autis kambuh, "Aa—aaah ... so sweet, aaah!"
Hansol sendiri tidak berkutik meski batinnya meraung untuk manghajar si Boo lalu kabur dari tempat ini, tapi kinerja otaknya tak sinkron dengan menghentikan laju motorik gerak refleknya. Menjadikan ia hanya meringis sambil berusaha kecil melepaskan sebelah tangannya dari pelukan Seungkwan atau mendorong pelan kepala siswa Boo itu dari pundaknya.
"S-Seungkwan," masih dengan usaha melepaskan diri, Hansol bersuara sedikit terbata.
Seungkwan yang masih dalam posisi absolutnya membalas begitu sok polos, "Ya?"
"Aku kemari karena dari tadi mencarimu, omong-omong—"
Kata-katanya tercela bagitu saja ketika Seungkwan dengan binar memuakkan menanggapi antusias, "Aku juga tadi mencarimu! Di gerbang aku melihatmu, tapi saat kuikuti tiba-tiba aku kehilangan jejakmu. Ya sudah aku balik saja ke kelas!" lalu ia mengulum senyum malu-malu, "Memang ada apa?"
Pertanyaan Seungkwan membuat Hansol terdiam sebentar. Menelisik wajah salah satu anggota gang abrud sesekolah itu cukup lama, "Soal artikel pagi ini ...," ujarannya mengambang, namun kala ia mau melanjuti Seungkwan kembali menyela.
"Artikel pagi ini!" teriaknya panik, seketika melepas seluruh belenggunya pada Hansol, "Kau benar! Artikel pagi ini! Astaga—kok biasa aku tiba-tiba lupa? Wonwoo sunbae?!" lalu histeris seperti sedia kala dan mendadak berbalik hendak mengambil langkah pergi namun Hansol buru-buru menahan tangannya, membuat mereka kembali berhadapan.
"Mau ke mana?" kening Hansol berkerut, pancaran obsidiannya menelisik wajah frustasi Seungkwan.
Dan dengan lantang Seungkwan menjawab, "Mencari Wonwoo sunbae!"
Mengundang kedipan mata Hansol yang tidak mengerti sama sekali, "Untuk apa?"
Seungkwan sendiri tak membalas pandangnya, ia menunduk pada kemilap obsidian yang terlihat hampa bercampur ketakutan kentara, "Kau tidak mengerti, Hansol! Situasi ini—ini, i-ini ... kujelaskan pun kau pasti tidak akan mengerti! Aku harus mencari Wonwoo sunbae sekarang—tidak, aku harus mencari Mingyu! B-bukan-bukan, Wonwoo sunbae yang harus diprioritaskan! Dia yang dalam bahaya—ta-tapi kalau ketemu pun aku bisa apa? Mingyu! Mingyu, Mingyu, Mingyu—Mingyu! Keparat itu yang bisa menghentikannya! Hanya si Bangsat itu! Iya, benar—dia! Hanya dia. Mereka hanya bisa menurut dengan dia 'kan? T-tapi kalau aku menemukan dia dan situasinya terlambat maka ... sama saja! Wonwoo sunbae! Aku harus menemukan dia dulu lalu mengulur waktu! Kalau Mingyu tetap tidak menemukan kami juga bagaimana? Aku akan hancur bersama Wonwoo sunbae? Begitu? Tidak-tidak aku bukan Tae hyung yang tidak sayang nyawa—tunggu! Taetae hyung! B-benar! Ajak dia! Maka semuanya beres tanpa harus ada Bajingan Mesum itu! (tiba-tiba Seungkwan menggenggam pundak Hansol kuat-kuat sambil mensibobrokkan iris keduanya amat intens) Benar, Hansol! Yang harus kulakukan sekarang adalah ke kelas Tae hyung, mengajaknya, lalu mencari Wonwoo sunbae sama-sama! Maka semuanya beres! (namun seketika ia terdiam, menunduk sambil memasang ekspresi sulit ditebak dengan mata berpendar gelisah dan kepala menggeleng pelan, bisikan lirih terdengar saat jemarinya merenggang di pundak Hansol) Tae ... Taetae hyung dalam mode idiot 'kan sekarang? Y-ya Tuhan ..., a-aku harus bagaiman—" bisikan lirihnya tersela ketika buru-buru Hansol memegang kedua pergelangannya penuh kuatir.
"Apa yang kau bicarakan? Coba tenangkan dirimu, Boo. Ada apa dengan Wonwoo sunbae dan Kim Mingyu? Artikel? Dan Kim Taehyung sunbae? Fans-fans Mingyu? Mencari? Bahaya? Apa maksudnya?" perbedaan emosi keduanya jelas kentara, tak seperti Seungkwan yang begitu meluap menyatakan kegamblangan emosi kuatirnya, Hansol berbalik begitu terlihat tenang meski bingung menyelimuti kinerja otaknya saat ini.
Seungkwan tak menjawab, hening yang menyambut pertanyaan Hansol hingga siswa Choi itu sedikit memiringkan kepala menelaah wajah tertunduk si Boo, "Apa yang kaukuatirkan? Apa yang kaubayangkan? Apa yang ada di otakmu saat ini?—Boleh aku tau?" begitu lembut Hansol bersuara, hingga Seungkwan merasa ada gemetar aneh menjalar ke sekujur tubuhnya mengundang strum mendebarkan merayap entar dari mana. Namun ia masih berada satu pendirian pada bibir mengatup tak mensuarakan opsi apapun, begitu sinkron dengan otaknya yang tak bekerja mendapat jawaban dari pertanyaan si Choi.
Hingga satu menit berlalu Hansol menghela napas membiarkan gemuruh was-wasnya mengekang pada gemelatuk tenang batinnya, "Boo, tidak kah satupun aku boleh mendapat jawaban dari pertanyaanku?" dan Seungkwan masih tetap diam karena otaknya kembali bergelung akan cara terbaik menemukan Wonwoo, "Boo Seungkwan. Aku bicara padamu, oke?" ungkapan dengan obsidian menelisik itu tak kunjung membuat Seungkwan buka suara. Sampai pada puncak kelelahan Hansol yang terpetak pada air muka pula helaan napas berat; sebelum berkata dengan menurunkan kedua tangan Seungkwan dari pundaknya lalu menggenggam lengannya erat-erat, "Terserah apa yang kau pikirkan. Aku tidak tau soal fans-fans atau apalah itu, tapi yang pasti aku tadi lihat Kim Mingyu dan Wonwoo sunbae berjalan ke arah kantin sama-sama, dan Kim Taehyung sunbae ditarik Jungkook ke UKS akibat jatuh dari pohon."
Ujarannya disambut dongakan tiba-tiba wajah Seungkwan dengan ekspresi tak percaya, "Serius?"
Hansol hanya mengangguk mengiyakan, yakin betul pada sepasang mata yang tak pernah membohonginya selama ini.
Mengundang raut minta dihajar terperi ditanggapan si Boo; dengan menarik tangan dari genggaman Hansol, berkacak pinggang satu tangan, membuang muka kesal diiringi mengedar pandang cepat ke segala arah sambil mengedip-ngedip tak terpukau berulang kali, belum lagi mulutnya yang membuka tutup menyuarakan racauan tak jelas dari sana, "Bangsat! Lalu untuk apa dari tadi aku panik!" —segelintir yang bisa dideteksi indra pendengaran Hansol.
Dan siswa Choi itu mengernyit, untuk kali pertama—secara live—melihat emosi seseorang yang begini cepat bisa berganti tiba-tiba.
Saat ketika Seungkwan berhenti melakukan aksinya, Hansol melakukan gerak antisipatif (kembali). Tapi si Boo hanya mendongak lalu bertanya serius, "Kau yakin?"
Dan lagi-lagi Hansol menjawab lewat anggukan yakin.
"Lalu Tae hyung? Habis dari UKS, masuk sidang?"
Hansol mengejap mata sekali sebelum menjawab dengan senyum yang sumpah membangkitkan sisi ganas si Boo balik lagi, "Dia jatuh dari pohon sebelum bel masuk dibunyikan, jadi tidak ada alasan untuk anggota OSIS menetapkannya pelanggaran karena itu—aku yang mengatasi kasusnya omong-omong, mungkin itu sebabnya kau lihat aku pagi tadi di luar. Dan ya ... seperti yang aku bilang, Kim Taehyung sunbae sudah di bawa Jungkook ke UKS. Mungkin sekitaran lima belas menit lagi mereka keluar—atau mungkin tidak, dia dalam mode lain 'kan?"
Dan Seungkwan hanya mendelik sambil mengangguk-angguk ayam mengusahakan diri agar tidak menerjang Hansol saat ini juga.
"Semua sudah beres 'kan?" Hansol kembali bersuara, dan Seungkwan mengangguk lagi. Kala si Choi melanjutkan, intensitas suaranya menajam begitu serius, "Jadi ... aku mau langsung ke inti saja. Soal artikel pagi ini—" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Seungkwan menyela histeris.
"Sumpah, kalau itu aku tidak tau! Yang kujanjikan tentang Jihoon sunbaemu dan Soonyoung hyung sudah kubereskan, demi ampun! Jangan salahkan aku untuk yang satu ini karena Hoseok hyung dengan radar cetar beserta mulut embernya itu tidak bisa dikendalikan sama sekali!"
Tadi melodrama, terus teater mimik wajah, sekarang opera memekakan telinga?
Isi gang absurd sesekolah seperti ini semua ya? —Kalau tidak idiot, mesum, ya susah ditebak.
—Oh! Atau mungkin masih ada lagi?
Hansol menghela napas berat. Niatnya mengomeli Seungkwan pupus sudah mendapati penjelasan begini heboh dari sang tersangkanya terlebih dulu, "Kalau begitu, yasudah. Toh, kalau diingat-ingat Kim Mingyu dan Wonwoo sunbae tadi juga tidak begitu mempermasalahkannya. Aku hanya kaget, kukira kau yang beritau."
Mendengar penuturan Hansol, Seungkwan hanya menggeleng yakin dengan mimik menyebalkan. Dan siswa bule itu menghela napas sekali sebelum hendak pamit namun si Boo buru-buru angkat suara, "Habis ini kau mau ke mana?"
Hansol mendelik, "Ruang kesiswaan—rapat."
"Rapat apa?"
Yang ditanyai menggedikan bahu sambil menggeleng, "Entah, perintah Yoongi sunbae; 'Kumpul, rapat dadakan'. Katanya tadi dari pesan siaran."
Seungkwan sendiri hanya mengangguk-angguk sambil bersuara "Aaaah ...," dengan bibir mengerucutnya.
Mengundang Hansol menaikan alis sebelah, "Kenapa? Mau ikut?"
"Tidak terimakasih! Lebih baik tidur di kelas dari pada duduk di tengah-tengah anggota kesiswaan yang lagi rapat—bisa busuk aku."
Dan ungkapan itu cukup untuk membuat Hansol tergelak pelan, "Astaga, kau ini sungguh kawan Kim Taehyung, ya? Mulutmu itu loh, benar-benar deh."
Menanggapinya Seungkwan memasung ekspresi meringis dibuat-buat, "Ya, ya, ya. Terserah kau saja, Sayaaang. Sudah pergi sana! Aku balik ke kelas, ya? Bye!" kemudian berbalik amat santai pun berlalu menginggalkan Hansol begitu saja.
Tanpa mengetahui si Choi tetap di tempat memperhatikan pundaknya menjauh tanpa niat sedikitpun melangkah ke ruang kesiswaan sebelum si Boo di sana benar-benar menghilang dari pandangannya.
.
.
"Aa—ah, ah. Pelan-pelan aaah," racauan Taehyung tak terhenti sejak dua puluh menit lalu dimulai ketika Jungkook serta Hansol hadir di tengah-tengah kerumunan yang menonton ia jatuh dari atas pohon. Dan dengan sok malaikatnya Jeon Jungkook berujar pada Choi Hansol supaya dia saja yang membawa Kim Taehyung ke UKS, membiarkan siswa Choi itu terbebas dari tugas dengan amanah memberi laporan pada petugas OSIS lain atas kasus jatuhnya Kim Taehyung yang bukan masalah jadi tak perlu diperpanjang.
Desisan sebal Jungkook terundang karena lagi-lagi fokusnya memberi alkohol pada luka gores di lengan kanan sang kaka kelas terbagi dua, "Hyung—astaga, sudah kubilang jangan bersuara seakan kau jalang perawan di klub murah pinggir jalan."
Yang akan dibalas dengan racauan tak jelas khas Kim Tae mode idiot: "Bangsat—sakit. Perawan pantatmu, ini sakit, klub murahan pinggir jalan tidak punya perawan—bajingan, tanganku mati rasa. Kook, tanganku hilang, Kook. Tanganku hilang! Tanganku, tanganku, aku tidak bisa rasakan tanganku."
Tidak mau memusingkan kelakuan orang yang duduk pada tepi ranjang di hadapannya, Jungkook memilih sibuk menuang antiseptik pada kapas dijepitan pinset, lalu dengan penuh perasaan membubuhkannya lembut di luka tangan Taehyung.
"Jungkook, sakit—demi Tuhan—sakit!" sumpah, racauan Taehyung bahkan membuat Jungkook ingin sekali merobek mulut sialan abang kelasnya; Jung Hoseok. Tidak tau apa salahnya, hanya ingin—ngidam mungkin?
Tapi jujur saja, kepuasan batin tersendiri bagi si Jeon menyaksikan Kim Tae menjerit-jerit di hadapannya; kalau bukan karena mode idiot, Jungkook yakin bocah ini akan diam saja dan berlagak sok cool seakan kenyeriannya tak pernah ada. Dan ingatan itu mengundang ide jahat membungbung di pusat imajinasi Jungkook bersama bola lampu bercahaya timbul di atas kepalanya. Menghadirkan Kim Taehyung menggelinjang anarkis, "Bangsat!—Jungkook!"
Kala dengan tak berperasaan dan begitu kejam si Jeon menekan ganas kapas di jepitan pinsetnya pada luka-luka Taehyung.
Menghasilkan si Kim yang berteriak semakin heboh, "Kelinci Bejat—jangan main-main, kutelan kau!"
Bersukur lah Taehyung karena Jungkook telah mengantisipasi racauan-racauan seperti ini dengan mengusir petugas UKS yang berjaga; bermodal gertakan menakut-nakuti lewat perkataannya: "Sunbae-nim, kuingatkan; selamatkan diri kalian. Aku akan mengobati Kim Taehyung."
Menghasilkan ruang UKS yang hanya diisi mereka berdua (berhubung suster pun sedang absen hari ini); dengan Taehyung yang duduk di tepi ranjang ke tiga dari dinding kaca yang mengarah langsung pada gerbang, pula Jungkook di hadapannya yang menduduki kursi dengan kotak first aid di pangkuan.
Melihat pemandangan absurd Taehyung, dengan tanpa dosa Jungkook tertawa sambil menyentak pergelangan tangan si Kim yang sedari tadi ia pegangi (ia cengkram sebenarnya), terus menahannya tatkala dengan gemas ia membubuhkan obat merah dari botolnya langsung ke luka sang kaka kelas tanpa ampun, tak peduli gerakan abstrak Kim Tae yang seberusaha mungkin melepaskan tangannya dari Jungkook.
Salahkan sendiri Kim Taehyung yang tidak bisa melakukan kekerasan terhadap Jeon Jungkook dalam mode apapun. Meski si Jeon begini kurang ajar memperlakukannya.
Histeria Taehyung terhenti saat Jungkook merasa puas dan sedikit rasa iba merasukinya menatap si Kim yang sudah banjir air mata.
Tiga detik setelahnya menjadi waktu Jeon Jungkook tergelak begitu parah untuk satu bulan terakhir.
"Astaga, Hyung! Kau menangis? Cengeng sekali—sumpah harusnya kubawa ponselku. Moment seperti ini mesti diabadikan, jarang-jarang Bajingan YaGook kulihat begini menyedihkan!"
Amat lepas dari bagaimana cara ia memegangi perut kemudian menepuk-nepukan tangan heboh setelah melepas cengkramannya dari lengan Taehyung dan meletakkan asal obat merah itu ke dalam kotak.
Taehyung mendengus menyaksikan kebahagaan Jungkook di atas penderitaannya, "Keparat OSIS," ia mencibir.
"Dan kau mencintai keparat ini, Hyung," tak turut menghentikan gelaknya Jungkook menjawab seakan tanpa dosa.
"Aku tidak pernah mengatakannya."
"Tidak secara gamblang," dengan mengulum senyum Jungkook menimpal cepat, mimiknya mengejek melihat cara Taehyung menyatakan kekesalannya. Tak terpungkiri gemetar bahunya masih kentara meski seberusaha mungkin ia menghentikan tawa.
Mata Taehyung menyipit tak terima, "Aku tidak mencintai Jahanam sok polos sepertimu," bibirnya mengerucut sebal pada air muka teramat datar.
"Aku juga tidak mencintai Peri sok bangsat sepertimu," Jungkook menjawab, kedua alisnya naik turun meledek dengan kuluman senyum menyebalkan.
Katakan lah Jungkook tengah mencari kesempatan membalas dendam pada Taehyung selagi remaja itu masih dalam mode idiotnya. Karena Jungkook paham betul Kim Tae dalam mode ini tak akan tersulut emosi sedikitpun. Terbukti dengan jawaban polosnya yang kelewat malas untuk sekedar meladeni Jungkook, "Peri gigi."
Jungkook tertawa, menggema begitu keras memenuhi ruang kesehatan. Sebelum menelisik Taehyung penuh cemooh, "Kau tidak mengelak disebut peri? Aku tau Kim Tae anak baik-baik, tapi mendengarmu tidak menampiknya itu terdengar menggelikan—aku jijik, ewh."
Air muka datar di wajah Taehyung mengkeruh, bibirnya mengerucut begitu menggemaskan bersama alis tebalnya yang menukik tak terima, "Aku bukan anak baik-baik, aku Bajingan YaGook," obsidian kosongnya menusuk tajam retina Jungkook.
Tak gentar sedikitpun si Jeon kembali tergelak riang, "Nah, mengaku 'kan?" ia mengambil perban dari kotak first aid-nya tanpa menghentikan tawa.
Membuat Taehyung lagi dan lagi mendengus sebal, "Kau Bajingannya di sini, Kook."
Volume tawa Jungkook mengeras mendengar pernyataan sedemikian datar dari Taehyung, entah kenapa sungguh lucu di indra pendengarannya. Santai ia menarik kembali pergelangan Taehyung lalu melilitkan perban yang diambilnya pada luka remaja itu, menghiraukan bagaimana Taehyung kembali meracau tak jelas. Sebelah tangan Jungkook merambat mengambil gunting dari dalam kotak, menggunting pertengahan perban yang dirasanya telah pas. Dan ketika ia lihat si Kim menghela napas tak lagi terbawa kesal akan ucapannya, lalu mengambil aquades dari kotak first aid yang ia pangku (sibuk membolak baliknya kemudian membaca komposisi di stiker pada permukaan botol kecilnya), "Hyung ...," Jungkook memanggil pada nada suara yang terdengar lemah seiring menggulung sisa perban di tangannya.
"Eung?" tanggapan Taehyung sungguh mengartikan adik tunggal ketua asrama itu sama sekali tak menyadari perubahan intonasi Jungkook.
Sembari meletakkan serta menata alat yang ia gunakan ke dalam kotak Jungkook bersuara gamang, "Terimakasih."
Tidak ada titik terang akan kepekaan Taehyung terhadap adik kelasnya. Sepasang netra yang menelisik botol aquades sedetik pun tak mengalih pandang pada sekitarnya, namun ia tetap menjawab: "Untuk?"
Begitu banyak penjabaran yang ada di kepala Jungkook pada setiap apresiasi terimakasihnya pada Kim Taehyung. Begitu banyak. Hingga Jungkook sendiripun bingung harus memulai dari mana. Jungkook keras kepala—satu fakta yang hanya diketahui Taehyung, bocah kepala batu yang Jungkook sadar diri kelewat manja pun kurang ajar jika itu untuk memperlakukan Kim Tae; yang dianggapnya sumber masalah dan orang termengesalkan di dunia. Walau Jungkook sendiri pun tau—Kim Taehyung sangat mencintainya. Bagaimana pun cara sosok itu menghukumnya, bagaimana pun cara sosok itu bertindak keras padanya, bagaimana pun cara sosok itu berlaku kasar dan melukai perasaannya—dengan tindak yang ia lakukan sebagai berandal sekolah. Jungkook sadar. Di akhir puncak amarah Kim Taehyung; sosok itu akan meminta maaf, menghentikan perdebatan mereka dengan mengalah, menyalurkan betapa sayangnya ia terhadap Jungkook. Meski Jungkook sadar. Di tiap perdebatan mereka hingga membuahkan keduanya bersitegang, adalah ulah yang ia timbulkan lebih dulu dengan membantah Kim Taehyung. Yang demi Tuhan Jungkook benar-benar sadar sosok itu tidak bisa dan tidak pernah mau dibantah orang lain terkecuali orang tua dan abang tunggalnya.
Tapi bagaimana pun Jungkook ingin mengungkapkan sebesar apa penyesalannya pada Taehyung, dirinya cukup sadar; Kim Taehyung tidak akan menganggapnya serius, berbalik yang ada mengolok-oloknya, menganggapnya bergurau, atau bahkan menghinanya. Jadi dengan helaan napas berat ia menarik senyum tipis sebelum menjawab, "Cappucino latte-nya."
Dan Taehyung menjawab tanpa mengalihkan pandang, "Sama-sama."
Sunyi beberapa detik ketika Jungkook memilih diam memperhatikan kakak kelasnya yang masih sibuk dengan permukaan botol dalam genggamannya. Dan ketika ia rasa waktu terlalu lama berlalu, Jungkook buka suara pada presentasi oktav lirihnya, "Hyung," memanggil Taehyung yang hanya menjawab dengan dengungan.
"Eung?"
Tak kunjung mengalihkan pandang bahkan ketika Jungkook bertanya gamang, "Kau menyayangiku?"
"Selalu," pada Jawabannya ia menjawab yakin meski tutur geriknya seakan tak peduli.
"Kau menyukaiku?" kembali Jungkook bertanya memperhatikan lekat-lekat sosok di hadapannya.
"Selalu," lagi, ia seakan tak menghiraukan Jungkook walau nyatanya ia mendengarkan; meski tak memperhatikan.
Namun ketika Jungkook bersuara begitu tenang dan benar-benar dalam; mengutarakan segenap perasaan pada dua kata kalimat pertanyaan: "Kau mencintaiku?"
Taehyung diam, mendongak saat ia rasa stiker pada permukaan botol aquased di tangannya tak lagi menarik ketimbang memperhatikan Jungkook dengan curiga, "Apa ini penjelasan dari 'Tidak secara gamblang' itu? Kau menjebakku?"
Dan Jungkook terkekeh. Menertawakan bagaimana lucu sosok Kim Taehyung jika dipenuhi beban kalau-kalau bukan dalam mode biasa, "Tidak, Hyung. Astaga ... pikiranmu jelek sekali—sumpah," mengambil aquades dari tangan yang lebih tua, dengan senyum tipis Jungkook menaruhnya ke dalam kotak sebelum wadah dari perlengkapan P3K itu ia kunci.
Kembali. Taehyung diam tak langsung memberi atensi seperti bagaimana tiap kali dirinya berada di mode ini. Sesaat ia menelisik wajah menunduk Jungkook yang tertutup poni, tangannya terulur menangkup sebelah pipi yang lebih muda tatkala si Jeon tak kunjung mengangkat wajahnya. Menemukan raut sulit dibaca Jungkook yang dengan dalam menatap sekembar obsidiannya, dan Jungkook sama sekali tak menghindari tatapan mendalam Taehyung yang menuntut kejujuran dari retinanya, "Kau tau jawabannya, Kook," memajukan sedikit bokongnya, Taehyung mengangkat sebelah tangan satunya menangkup wajah Jungkook dengan kedua tangan kini sebelum mempertemukan bibirnya di puncak hidung yang lebih muda.
Jungkook memejamkan mata perlahan merasakan betapa lembut gestur Taehyung menciumnya. Sama seperti hari-hari biasa di mana Taehyung memperlakukannya begitu hati-hati dan tanpa cela, namun berbeda dengan tiga hari lalu di mana Taehyung terlepas kontrol memperlakukannya begitu ceroboh dan kasar.
Begini yang Jungkook suka dari Taehyung—Bajingan Laknat yang memperlakukannya bak permata samudra, namun tak terpungkiri ada sensasi menegangkan yang Jungkook pun sukai saat Taehyung membuatnya tak dapat melawan di bawah kuasanya.
Jungkook menyadari, ia mencintai Taehyung bagaimanapun siswa itu memperlakukannya.
Karena ia mencintai Taehyung dari dasar hatinya, bersama relung jiwa yang terus berkorbar menyerukan nama Kim Taehyung dari inti jantungnya, mengaung begitu ganas seakan tak ada lagi nama lain yang boleh ia ingat pada putaran memori kisah romansa di otaknya. Maka Jungkook menyukai apapun yang ada dalam diri Taehyung, dengan jalan apa sosok itu menuntun kisah mereka. Caranya yang selalu tak biasa membangun rumah kokoh dari perkisahan mereka tanpa repot-repot akan hancur karena itu bukan terbuat dari kertas.
Apa dan bagaimana pun sosok Kim Taehyung saat bersamanya.
"Jungkook, jangan marah," ucapan Taehyung setelah melepas ciumannya dari hidung Jungkook membuat si Jeon membuka mata.
Sesaat Jungkook mengerjap, "Marah? Untuk apa?"
Yang lebih muda dibuat bingung ketika dengan tanpa dosa Taehyung menggedikan bahu, "Tidak tau. Kali saja kau marah?" wajahnya terpampang begitu polos di pengelihatan Jungkook. Dan si Jeon menyukai ketika Taehyung mengelus pipinya menggunakan ibu jari teramat lembut, pun diiringi senyum manis yang membuat pipi Kim Tae mengembung seperti anak beruang.
Bersama senyumnya pula Jungkook meraih jemari kiri Taehyung dengan sebelah tangannya, "Hyung," lagi, untuk kali ketiga ia memanggil Taehyung dengan sebutan itu.
"Eung?" pun balasan yang sama untuk ketiga kalinya.
"Jangan seperti kemarin lagi. Kau tambah menyeramkan—aku takut," Jungkook berujar, suaranya pelan menggelitik indra pendengaran Taehyung.
Senyum si Kim mengecil menjadi senyuman hangat yang dipenuhi kedewasaan, "Maka jangan lagi buat aku menghukummu dengan caraku, Kook," tangannya yang tidak dipegangi Jungkook merambat naik mengelus kepala belakang siswa itu.
Jungkook tersenyum; mengembalikan betapa tangguh sosoknya yang tak paduli kala jantung hatinya melirih tanpa sebab, "Ya."
Embusan kasar terdengar dari Taehyung mendapati jabawan si Jeon yang mulai bosan didengarnya, "Kau selalu melanggar 'Ya'-mu."
Dan dengan tanpa dosa diiringi cengir menggemaskannya ia membalas, "Aku juga menyayangimu, Hyung."
Mengundang lipatan tipis di kening Taehyung, "Hey, aku tidak berkata aku menyayangimu?" elusan di kepala Jungkook terhenti kerenanya.
Terlebih ketika Jungkook kembali membalas tanpa kaitan sama sekali dari segenap ujarannya, "Gee, iya aku tau kau menyukaiku."
Taehyung mendengus, "Bangsat, aku membencimu, Kook," tau benar adik kelasnya ini mulai bermain-main dengan dirinya.
"Yaeh, aku juga mencintaimu, Hyung," jawaban cepat Jungkook membuat Taehyung mengalah. Senyum miring ia gambarkan begitu tipis di sudut bibirnya sebagai pernyataan bahwa ia paham betul tabiat permainan adik kelasnya yang hanya mesti didengarkan, bukan dijawab. Namun ketika Jungkook melanjuti ujaran sambil mengangkat sebelah tangannya yang tidak memegangi tangan Taehyung, lalu dengan kurang ajar mengikuti bagaimana si Kim mengusak helai kelamnya tadi, "Berani berusaha memperkosaku lagi awas saja kau," pada akhirnya Taehyung kembali membalas dengan seringai tipis main-main.
"Tidak janji."
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
Jo Liyeol Curhat Timing!
Wkwkwkw makin panjang aja ya? :v Maapkeun daku yang makin eror, tadinya mau digabung partnya double couple mini-mini(?) =w= Tapi kaga jadi :v
Besok-besok kubakal kurangin wordsnya jadi 5K+ aja biar ga bosen bacanya :v
Panjang banget entar gumoh :v
Dan maafkan daku kalo pengurangan bahasa frontalnya masih kurang ditekankan(halah) :v Yang pasti kusudah berusaha. Juga makasih buat kalian yang ngerivew dengan inti 'just be yourself' (yang ini reviewnya ka emma sebenernya) tapi yang laen intinya sama ko :v pokonya kucinta kalian semuaaa.
PS. Maaf kalo berantakan, males ngebeta lagi =_=
.
.
[ Btw, kubakal bales review kaliaaaan, yey! o(≧∇≦o)(?) ]
(soalnya kudianggep sombong pemirsah Σ( ° △ °|||))
.
An99
"Mbak Hoshikie beneran gak ada pasangannya nih? Gak ada anak baru yang tampan dan manly, sejenis Bang Seungri yang kocak kayak karakterya si Hosikie? Atau penjinak sejenis Jackson GOT7, asem dingin kayak Taeyong, ahh kasian hosikie ku Mbak ngejomblo..."
...
Jimin : Kaga, tuman mas Jeyop kalo dikasih pasangan. Ga dikasih aja mulutnya ember bleweran(?) gimana entar dikasih? Sumpah! Masih sayang nyawa gue, satu Jeyop aja udah cukup! Gimana kalo dua? Pribadi pasangannya mirip kaya dia? -_- Mending nontonin semut yadongan gue.
Liyeol : Bangke! Boleh-boleh-boleh. Alesan lu bisa diterima, Chim :v
Gini beb, belom tentu bang Jeyop kaga dikasih pasangan =w= Cuma belom kepikiran aja sih, nanti dah dipikir-pikir lagi. Tapi kalo misalkan ada juga paling-paling dari member Cebong, soalnya kalo diluar dari BTS-SVT paling cuma minjem nama doang. Kugamau nambah ini fanfik jadi bejibun grup idolnya :v Pake yang ada dulu, toh member Cebong masih sisa banyak(?) :v Tapi nanti! Kupikirin dulu.
oOo
chryperz0130
"Aduhhhh sumpahhh aku sukaaa banget bacanyaaaa, bahasanya keren. Demi dewaa, aku sampe gak kedip kedip bacanya. VKOOK OMG MEREKA CUTE BANGET. SIALLL LANJUTT KAKK AKU SUKAAA DUHHHHH."
...
Hoseok : Woy! Yang lu perhatiin VKook doang ape? Sumpah! Helooow, gue juga ada disini kelues. Plis deh, liat gue sekaliiii aja! Apa musti gue jadi orang ketiga diantara mereka-mereka ini baru lu dan kalian semua sadar kalo gue juga salah satu peran utama di mari?!
Liyeol : Yang sabar, Mas.
Hoseok : Diem lu! Salah lu juga kenapa gue harus ngejones sendirian -_-
Liyeol : Jones ya sendirian, kalo berdua itu ... mustahil! Ampe Uji tinggi juga elu kaga bakal gue kasih pasangan soalnya! :v
Hoseok : Anjir -_-
Liyeol : Canda elah =w=
oOo
blueewild951230
"i can't say anything,omg xd."
...
Namjoon : And I don't understand what your talking about.
Liyeol : Anjir! Itu elu ngerti dia ngomong apa, Tong -_-
oOo
wonnderella
"Siaduh dd gakuat bacanya, anunya kurang banyak .ga
taoi segitu ugha dd udah bahagia.
OH, JADI ITU HUBUNGAN MEREKA. ANJIS APAAN DEH:( Yang penting mereka nyatu ya, dikirian apa eh. Terus itu yang katanya tunangan, beneran?
Ngakak deh pas soonyoung bilang dia sodara tirinya jungkook. Apaan banget dah wkakakaaa
Iya ya, pasti u dibawa 17 taun macem gue yang udah baca gituan .apaanini
Tapi dikit dikit gapalah rada frontal dikit biar dd bahagia senang sentosa, gue ngajak ribut ya:')
SOK AE NEXT NEXT AQOEH MENUNGGUMOEH."
...
Mingyu : Nah! VKook tunangan emang bener tjuy :v Gue saksi matanya Tae hyung bilang sendiri! Ya kali si Tae udah idiot kang bo'ong pula :v Pan kasian, lengkap bener itu orang. Btw, anu? Anu apaan anu? Anu yang mana nih? Anu, anu yang anu bukan? Apa anu yang di anu? Yang pasti anu-anu 'kan?
Liyeol : Anjirrr -_- Kapan lu tobat, Tong?
Beb, makasoy nama lu yang nongol mulu menghiasi fanfik-fanfik gue :v Dan elu dibawah 17 yang otaknya udah terkontaminasi yadong akut pasti. Itu tandanya kita sama! Ayo berteman :v Siapa tau bisa manteb? (Hesteg, gue ga sendiri)
SUDAH AQOEH NEXT NEXT PAN? SOK AE BACA.
Mingyu: Lah? Udah ampe sini pan berarti udah dibaca? '-' Yang ogep siapa? -_-
oOo
sugarydelight
"part pikuk yg ditunggu-tunggu... akhirnya /sujud syukur sambil nangis marjan/ .g"
...
Soonyoung : Anjay keren, elu nangis bisa keluar sirop begitu beb? :v
Liyeol : Salpok dah, salpok -_- Kang, elu mah suka gitu.
oOo
Chinami Kim
"FINALLYYY GUE REVIEW DI CHAP INI. CHAP TERBGSDH. CHAP TER-TER-TER-apalahapalah.
yaallah kamu jahat buat jungkookQ disakitin sm tae gtu. aku mewek lho, akutu lg baper grgr tae yg diragukan keberadaanya di bday jk smlm. fict ini yha, malah makin bikin baper. nice. nice.
sakit akutu liat jk digituin, tapi ku jg senyum2 sndri ngeliat tae yg dominanya kerasa bgt HAHAHAHA.
tauga pas bagian jk blg tae cm mainin dia ke boneka, nyampe ke ati ini lho. sakiiittttt. tapi ternyata... YANG SALAH SIAPA?!
terua bagian pas seokjin blang jk adiknya, yaampun dikira iya adik kandung,sedarah, trus mereka incest diemdiem.
eh si anj ternyata... tunangan adiknya..
OHYA ITUTU ABANG HOBI. JEBAL JANGAN BUAT DIA JAHAT YHA? Masa uda jomblo, di kasih jahat jga KASIAN WOI. pasangin ajakek, sama gue gtu, atau jd org ketiga soonhoon atau lainya. atau gaet deh member dr grup lain, jangan buat dia sendiriiiiii. uwaaaaaaa. /APAANCOBA
udani, uda panjang yekan.
maap yha, reviewnya gaje gini, alay bgt, lebay,ih kusaja sedih knp w alay bet. YA ALLAH.
FICT NYA LUARBIASA KEREN DAN KECE PARAH. PLS KEEP WEITING! SEMANGAT LANJUTINYA! KUSAYANG KAMU. NTAR KUSALAMIN SAMA JUNGKOOK YHA. bye."
...
Liyeol : Anjay ngakak gue baca komenan lu beb, yang dari teaser segala dikomenin juga! Ikut gereget pan gue jadinya :v Kaga bisa bales apa-apa gue, entah kenapa gue terharu :v :v
LU JUGA LUAR BIASA GEREGET PARAH. KEEP REVIEWING! STAY TUNED! JANGAN KEMANA-MANA TETEP JADI READER GUE! (mauan :v) GA KOMEN PANJANG JUGA GAPAPA, KUSAYANG KAMU JUGA. SALAMIN! KALO PERLU JUKINYA KIRIM KE RUMAH GUE :v
oOo
chryperz0130
"kkakkk serius hiatus? kamu mau gantung aku kak? demi dewa kak, kasiani aku yang penasaran setengah mati. Kakk bagusss bangetty sumpahhjj."
...
Wonwoo : Lah elu nongol lagi? Oy, dia pan mau PKL. Kalo kaga hiatus PKL-nya gimana? Mau nanggung PKL-nya lu? Lagian lu pikir lu doang yang ditinggalin? Lu ga mikirin perasaan gue? Gimana gue? Apa jadinya gue ke depan? Ga mikir? Anak gue dua tjuy (Gyu yang bilang waktu di Yoseodo)! Dan lu bukan gembel yang mesti gue kasih beras! Kenapa harus dikasiani?!
Liyeol : Nu, PMS? -_- Ko nyolot balesnya?
oOo
prtws
"sumpah ga rela banget cahpater ini end. ngescrol aja takut takut. argh greget parah. ini yang dari awal ku tunggu-tunggu. part vkook. tapi kurang puas bangetdahhhhh."
...
Taehyung : Nah, makanya jangan discrol ke bawah biar kaga end-end. Lu baca dah tuh announcment-nya di Liyeol soal post and up buat ultah Juki ampe gumoh :v Apa engga lu mampir ke kamar gue, tonton langsung yang live, biar puas bangetdahhhhh :v
Liyeol : Anjir lu Bang -_-
oOo
Liony Liem
"Aku suka kok ama kefrontalan kamu,justru itu daya tariknya. Kan banyak noh fanfic yg menye,klo punya kamu nggak. Senyamannya kamu aja,klo emang tuntutan dari ficnya gitu yaudah gitu aja. Setiap orang kan punya jalannya sendiri,ya kamu gini aja.
Yang semangat yaa,aku slalu nungguin ff ini kok."
...
Seokjin : Aduh beb lu bikin anak orang jadi menye kaya kebanyakan fanfik noh :v
Liyeol : Berisik lu Tong! Balik sono ke asrama!
Seokjin : Eleh =w= *balik ke asrama*
Liyeol : Pokonya, ya Allah kaka, kubener-bener terharu baca komenanmu. Kemaren sempet drop beneran soalnya dapet kritikan fanfikku terlalu frontal :v Kubengong hampir sejam meratapi nasip; oh kenapaaaaa aku beginiiii? =w= Kupikir-pikir emang ada benernya—bener banget iya—kalo ga seharusnya kubuat yang begini padahal belom 17 ㅠ.ㅠ
Terus akhirnya setelah baca komenan kaka, KUJADI BINGUNG :v labilku stadium akhir banget sumpah! Aku jadi mikir yang engga-engga(?) :v Tapi pas dipikir ulang aku jadi intropeksi diri biar gimana caranya ini fanfik kaga menye tapi juga ga terlalu frontal. Dan akhirnya jadilah chapter absurd begindang :v KUGAKUAT MIKIR LAGI SUMVEH—
Seokjin : Curhat mvok?
Liyeol : Bacodh! -_-
oOo
Jeveizan
"Sudah ku duga wkwkwk asik asik beneran tunangannya ternyata hhahaha lanjut ya."
...
Jungkook : Lah gue yang tunangan elu yang girang beb? Kenpe lu?
Liyeol : Suka-suka di si Juk -_- Btw, ciee ciee beb. Ko bisa tau cieee, elu cenayang ye? :v
oOo
emma
"uwaaahhh...part vkook yg aku tunggu...wohuuu.. tuh kan vkook punya hubungan yg lebih dr sekedar sunbae dan hoobae.. ga main 2 TUNANGAN...
scene di kamar tae itu bikin aku geregetan.. ko ga samp nganu sih..'eouwh otak ini'... oh ya aa husuk biar ga jones jodohin ma siapa ke kan kasian sendirian mulu...hehe
oh ya msalah kamu terlalu frontal.. kalo menurut aku sih..sebagai penulis kamu bebas menulis apa yg ada diotak kamu namanya jga imajinasi.. kreatifitas.. tpi ada jga mungkin yg kurang nyaman mengingat kamu msh dibawah17.. tpi bwt aku sih nyaman2 aja sebab kefrontalannya itu yg bikin tulisan kamu menarik dan menghibur... just be yourself...
selalu semangat ...FIGHTING..
(hiatusnya jan lama 2 ya jebal)"
...
Liyeol : Ka emma! Wkwkwk, kau nongol lagi =w= Kumengintai kaka sebenernya. Kaka salah satu readers yang namanya nongol mulu :v :v Sayangnya guest =3=
Jihoon : Etdah lu malah curhat? -_-
Liyeol : Siapa yang curhat? -_- Btw, suka-suka gue! Suka-suka dia! Kan ini fanfik punya gue!
Jihoon : Tau amat lah, udah lu sono pergi!
Liyeol : *Pergi ke pelukan akang Sunyong*
Jihoon : Geli lama-lama gue jadi bahan imajinasi lu -_- Oh iye! Oy beb, dua tunangan dari mana? Yang tunangan kan VKook doang? Baca yang bener dong! Jangan sampe lu bikin noh author labil ngebuat beneran ada dua tunangan yang nongol! Ampe jadi, pokonya idup lu kaga bakal tenang gue uber-uber(?)
Dan lu bilang scene di kamar Tae gereget? Lu ke kamar Sunyong sekarang! Gue tunjukin apa itu gereget yang sebenernya!
oOo
kimriiin
"Emejing
Fantastic baby (dance)/?
Awesom
WOW!
Sungguh tidak bisa terucap oleh kata"
Intinya ini ff DAEBAKK,percaya ato gak gua baca dari awal mpe akhir greget sendiri bacanya.
Apalagi pas bagian" yang menjerumus naena,serius itu greget tingkat dewa/?
Kalo mingyu sama tae dapet julukan dewa seks ,mungkin elu dapet julukan 'Dewa Greget minta diculik' seriusan,ff lu bikin gua gigit" bantal mulu tau #ewh
Intinya mah ini ff PECAH #emang hati bisa pecah? /edisi lagi baper mah gini :'v/"
...
Mingyu : Li, gue yang jawab ye?
Liyeol : Jawab ae Tong, lagi ngefly nih gue :v
Mingyu : Okeh, jadi gini. Elu mesum beb! Dan gue bahagia karena gue ga sendirian :v Masuk YaGook, jadi kawan gue dah lu! Kita jadikan sekolah itu aman, damai, dan sentosa :v Ngerti maksud gue kaga? *smirk*
'Dewa Greget minta diculik' ? :v Bhaks, yakin lu mau nyilik? Culik ae, ikhlas lahir batin gue. Enek lama-lama juga jadi bahan imajinasi Author otak kotor kaya dia!
Lagian dari pada gigit bantal mending gigit gue :v Manteb dah *kedip-kedip cacingan* Btw, yang dapet julukan dewa seks cuma gue! Gue dan hanya gue! Tae hyung mah entah sosok apa dan berasal dari mana, dia hadir karena ketidak sengajaan Jungkook yang salah ucap bait mantra saat bermain-main dengan gerbang dimensi bersama para kawannya—
Liyeol : FAK! Summary fanfik gue yang sebelah itu mah Tong!
oOo
SherryMC
"greget nih baca vkooknya astagaa"
...
Jihoon : Ya jangan di baca, ribet ama idup lu?
Liyeol : Anjir! Biji Sayton, kenapa lu nongol lagi? Kejem amat lu bales begono =_= Pergi jauh-jauh lu sono! Hush hush!
Jihoon : *ngibrit ke pelukan akang Sungyong*
Liyeol : Punya gue pan itu tadi -_- Syudah lah, jangan peduliin dia beb. Kalo lu gereget karungin ae, bawa pulang noh si Juki :v Iklas hayati, asal jangan bang Mphi! Dia milik gue seorang :v
.
.
Oke, jangan dibawa hati kalo balesannya kurang berkenan hatau ga sopan :v
(Dan maaf yang komennya ga dibales; mungkin saat itu(?) belom masuk =w=)
.
.
Plis jangan anggep daku sombong lagiㅠ.ㅠ kusedih guling-gilingan(?)
Intinyamah, ku bingung; mau bales review tapi banyak readers gues yang rewiewnya ga bisa di bales. Jadi kumikir masa yang dibales cuma yang punya akun? '-' Dan kalo kubalesnya dari sini (di cerita) kutakut didemo gara-gara nambah banyakin word yang kepake :v Wkwkwk!
Tapi setelah dipikir-pikir; urusan apa mereka? Kan ini cerita punya gue? Lapak-lapak gue? Ya kalo gua mau bales di sini ya terserah gue! :v
Dah itu aja. Intinyamah mulai sekarang kubakal bales review kalian di akhiran begini /Ngomong apasi Li? -_-/ Tapi maaf banget, mungkin ga di semua chapter =w= Soalnya ini bener-bener makan tempat :v :v
WCT-OH cast : Padahal kite yang bales woy! Bukan elu! Bilang aja lu males!
Liyeol : Bodo =w= Eh sekate-kate lu ngomong! Kalo gue males, gue kaga niat bikin benginian ye!
.
Juga buat yang PM daku tapi ga dibales. Jangan marah yaaa ㅠ.ㅠ kotak PMku eror tauuu
Makasih buat kesetiaan kalian ngasih feedback yang selalu bikin kusemangat ngelanjut fanfik ini~
.
.
[Real; chapter paling panjang]
Special thanks for: Follows, Favorite, and Reviews in Chapter 7.
Review Juseyooo!
.
.
Kunjungi personal blog Liyeol juga yaa ... ketik aja; joliyeol27 (wp .com)
Ppyong! Saranghae Bbuing! ^^v
