Between Past and Present

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi sensei

Pairing this chap : er ... baca aja deh ya ._.

Warnings : abal, typo, garing, dan semoga gak OOC


Chapter 10 – The Confession

.

Butiran kristal bening turun melewati pipi putihnya yang mulus tanpa cacat, setelah beberapa jam yang lalu ia merengek dengan kencangnya perihal ia ingin menang bersama teman-temannya, tapi sayangnya gagal diwujudkan. Ya, Kaijou telah gagal mengalahkan Too di semifinal Inter High tadi siang.

"Ukh, benar-benar memalukan. Aku menangis di depan Aominecchi, pasti dia mentertawakanku." Kise berjalan pelan di kegelapan malam, sebenarnya kakinya sudah sangat nyeri gara-gara pertandingan tadi, tapi ia tidak sanggup bila maratapi nasib kekalahannya dengan diam di rumah saja. Setidaknya dia membutuhkan angin segar sebagai penenang.

Kaki yang terseok pelan itu terus melangkah tak tentu arah, yang penting ia pergi dari rumah dan melepaskan keluh kesahnya pada dinginnya angin malam.

"Kise." Mata keemasan itu membulat lebar, air mata yang tadi masih mengalir langsung berhenti begitu saja. Kise sangat mengenali suara ini, suara yang dulu-mungkin sampai sekarang-selalu saja membuat bulu romannya meremang.

"Hei! Kise!" Sebelum suara itu makin mendekat, kaki Kise dipaksakan untuk berlari secepat mungkin, tanpa menolehkan kepala barang sesenti pun. Namanya terus saja dipanggil dengan intonasi yang semakin tinggi, si pemanggil pun ikut berlari untuk mengejarnya. Ya Tuhan, Kise makin ketakutan, suara langkah kakinya benar-benar mirip setan.

"Berhenti Kise!" Tangan kekar berkulit tan itu dengan sigap menarik lengan Kise yang semakin dingin. Tak memberi celah sedikitpun untuk Kise lari darinya.

"Kau ini, kenapa harus lari sih? Kakimu masih terluka kan?" Alis Aomine mengernyit khawatir, sebenarnya kakinya juga sakit luar biasa, tapi demi Kise ia pertahankan rasa sakit yang tidak seberapa.

"Lepaskan aku Aominecchi. Mau apa kau datang kemari?" Suara Kise begitu dingin, namun bergetar menahan tangis.

"Aku ingin bicara Kise." Aomine memutar paksa tubuh Kise agar mengahdapnya, dapat dilihat mata kebiruan itu bahwa Kise baru saja menangis. Yah, bukan hal baru bagi Aomine, ia sudah tahu semenjak akhir pertandingan bahwa mantan-beri penekanan disini-pacarnya merengek keras karena gagal membawa kemenangan pada tim.

"Apa yang mau dibicarakan? Aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan disini." Kepala pirang itu ditundukkan, memutus kontak mata yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar keras.

"Tch, tentu saja ada. Yah, bagiku."

"Kalau begitu cepatlah, aku tidak punya banyak waktu untukmu Aominecchi." Kise menyentak kasar lengannya yang masih dipegang oleh Aomine, berpura-pura membuat wajah kesal dan jengah dengan keberadaan sang mantan cahaya Teikou.

Aomine menghela nafas pelan, sebenarnya ia orang yang tidak sabaran dan suka memaksakan kehendak pribadinya. Makanya, mendengar Kise bertingkah seperti ini sungguh sangat menjengkelkan, tapi ia tetap berusaha menekan sekuat tenaga emosinya yang ingin meledak.

"Dengar Kise, ini soal perkataanmu saat pertandingan tadi siang." Kise mendongak, menatap Aomine bingung meminta lanjutan. "Saat kau bilang, kau akan berhenti mengagumiku. Apakah kau ... sungguh-sungguh?"

Kini giliran Aomine yang menatap ke bawah, mengernyit sedikit antara sakit hati dan malu setengah mati. Sedangkan Kise sendiri kembali bingung dengan pertanyaan Aomine, memangnya apa salahnya kalau dia berhenti mengagumi Aomine?

"Memangnya kenapa Aominecchi? Kalau aku tidak berhenti mengagumimu aku tidak akan bisa melakukan perfect copy." Balas Kise santai dengan sedikit tanya.

"Ya-yah, aku ... tidak ingin kau behenti. Aku ingin kau terus di belakangku, menjadi bayang-bayangku." Kise menaikkan alisnya makin bingung. Tapi entah kenapa kalimat dari Aomine membuatnya justru semakin sebal. Maksudnya ia hanya boleh dibelakang Aomine? Tidak bisa sejajar dengannya, layaknya atlet pada umumnya?

"Kau benar-benar egois Aominecchi! Kau pikir aku ini apa?! Harus selalu melihatmu dari belakang? Aku juga ingin jadi atlet basket yang hebat! Yang bisa mengalahkanmu! Akashicchi, Midorimacchi, Murasakicchi, bahkan Kurokocchi dan Kagamicchi. Aku-"

Sebuah tarikan pada tubuh Kise mengagetkan sang copy cat (hei saya lupa julukan Kise ._.) Aomine memeluknya, erat.

"Bukan begitu Kise." Aomine berbisik pelan di telinganya, membuat sensasi aneh di tubuh Kise. "Aku hanya, tidak ingin ... kau pergi dariku. Aku ... masih sangat mencintaimu Kise. Selalu." Aomine menutup matanya erat, sedangkan Kise hanya bisa diam mematung tak mengerti harus bereaksi bagaimana.

.

\(PRESENT_PAST)/

.

Kise menatap kosong lapangan sepak bola di sekolahnya. Hari ini ia mendapat cuti latihan dari sang kapten karena cedera pada kakinya, sebenarnya kalau ia sedang tidak dalam masalah, maka ia akan memaksa untuk tetap ikut latihan. Tapi berhubung mood nya sedang tidak enak, berakhirlah Kise disini, duduk dibangku dimana anak klub sepak bola biasanya berlatih. Setidaknya disini ia merasa tenang tanpa ada yang mengganggu, berhubung sedikit anak perempuan yang tertarik pada sepak bola.

"Bagaimana ini, Aominecchi masih menyukaiku?" Kise bergumam kecil, mengingat kejadian kemarin malam membuatnya pening seketika, namun tidak urung hal itu membuatnya malu setengah mati. Wajahnya kembali memerah, jujur saja, selama ini Kise memang masih sangat mencintai Aomine, tapi itu dulu sebelum ia bertemu dengannya. Dengan si rambut merah dengan alis terbelah, sang cahaya baru Kuroko, Kagami Taiga.

"Argh! Padahal aku sudah memutuskan untuk melupakan Aominecchi. Kenapa malah jadi galau begini-ssu." Kise merutuk pelan, sekarang situasinya benar-benar mirip remaja perempuan di sekolahnya, galau dan ababil. Heh.

"Kise. Apa yang kau lakukan disini?" Yukio Kasamatsu, kapten tim Basket Kaijou tiba-tiba muncul di lapangan basket entah mengapa.

"Senpai? Kau tidak latihan?" Tanya Kise balik melupakan pertanyaan senpainya.

"Aku? Baru saja selesai, mau kembali ke kelas. Kau sendiri kenapa malah disini? Tidak masuk?" Kasamatsu menyamankan dirinya duduk disebelah Kise, setidaknya sebagai kapten yang bertanggung jawab ia sedikit khawatir dengan keadaan Kise.

"Senpai, bagaimana reaksimu kalau ada orang yang dulu pernah kau sukai 'menembakmu' tiba-tiba?

"Uhuk! HAH? APA? KAU BILANG APA?" Kasamatsu tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Kise, ia tidak salah dengar kan?

"Er ... Tidak jadi senpai. Lebih baik kita kembali ke kelas, sudah saatnya masuk." Kise tersenyum kaku sebelum beranjak dari duduknya. Bodohnya Kise curhat dengan senpainya masalah percintaan, sesama jenis pula.

Kasamatsu memandang punggung Kise ragu, "Dengar Kise, aku tidak tahu apa masalahmu. Tapi kalau kau memang mencintainya, ya diterima saja. Seseorang pasti senang kan ketika orang yang disukainya ternyata juga memiliki perasaan yang sama. Kau tidak perlu gelisah, tanyakan saja pada hatimu. Bagaimana perasaanmu ketika orang itu menyatakan rasa sukanya padamu. Karena aku yakin, pada saat itu hati mu sudah memutuskan, tapi kau saja yang takut untuk mengungkapkan yang sebenarnya." Kini posisi Kasamatsu sudah berada di samping Kise, walaupun mantan anggota Kiseki no Sedai itu bertubuh tinggi, setidaknya Kasamatsu masih bisa menepuk tangannya ke punggung Kise, memberi dukungan.

"Jangan ragu dalam memilih, aku tahu kau sudah memutuskannya sejak awal kan." Kasamatsu menyeringai kecil sebelum mendahului Kise menuju kelasnya. Kise tersenyum, ia bersyukur ia mengatakan masalahnya pada Kasamatsu, sepertinya senpainya itu sudah expert dalam urusan seperti ini. Yah, mungkin dibalik sikap takutnya terhadap wanita ia sebenarnya orang yang sangat romantis.

.

The Confesion. End.


A/N : a... a... uhm... hehe... *dilempar bola basket* Oke2 saya tahu di chap sebelumnya saya sesumbar ini itu yang ujung2nya gak saya jalani. Saya minta maaf, karena WB yang tiba2 datang ditambah tugas yang sehari aja bisa ada tiga (saya tahu alasan ini basi, tapi memang ini kenyataannya) jadi saya memutuskan untuk tidak melanjutkan. Tapi~ karena ini sedang liburan~ jadi saya bisa dengan segera menyelesaikan fic ini (semoga) dan saya juga sudah mempersiapkan endingnya. so, stay tune okay~ :)

oke~ saatnya bales review~

NaRin RinRin : tidak apa2, seharusnya saya yang minta maaf karena update ngaret dan tidak bisa menepati janji, :') terima kasih karena sudah menunggu, ini malah Kise makin dilemma~ tunggu terus kelanjutannya ya~

anonymous : yup, bahkan Kuroko sanggup meraep Kise kalo dia mau, :v ouh, saya juga tau itu~ KiMomo memang unyu, tapi sayang saya penggemar KuroMomo, :v haha, ditunggu aja kelanjutannya ya~ dan maaf update ngaret, :')

oke, review sudah dibalas dan silahkan tinggalkan review lagi jika para reader masih berkenan, sampai jumpa di chapter selanjutnya~ (semoga bisa cepet update, doakan saja)

peluk cium,

Higitsune