TUAN MUDA
.
.
Nia Present
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
A/N: Bold (Flashback), OOC, typo(s), dan kesalahan yang tidak pernah disengaja lainnya.
.
.
Tangan tan itu dengan gesit mengikat tali sepatu sport-nya yang berwarna biru cerah, setelah itu pemuda yang merupakan adik dari Namikaze Kurama itu memakai ban kapten di lengan kirinya, dengan seragam olahraga basket berwarna merah dengan no seragam 10, pemuda itu kini berdiri. Mengintruksikan strategi pada teman-teman satu team-nya.
Mata Hinata tidak lepas dari pemuda berambut pirang yang berada di lapangan itu, ganteng dan keren. Ini pertama kalinya Hinata melihat Naruto memakai seragam team. Pemuda itu terlihat lebih memikat, dengan bisep yang terlihat. Ternyata otot pemuda itu cukup bagus. Ah, lagi-lagi cewek indigo ini memerah.
"Siapa ya dia?"
"Iya ya, ternyata murid-murid dari SMA Konoha keren-keren."
"Ah tapi lihat cowok no 10 pirang itu, warna kulitnya yang sexy, wajahnya yang ganteng, ugh..."
Terdengar kalimat-kalimat memuji dari murid-murid cewek SMA Akatsuki, dimana pertandingan persahabatan itu diadakan. Hal itu membuat Hinata bangga dan juga sedih. Bangga karena Naruto adalah tunangannya, sedih karena Naruto begitu populer dan juga, Hinata belum tahu perasaan Naruto padanya walaupun hari ini sepulang pertandingan mereka akan pergi kencan.
"Hei, kau jangan melamun," senggol Ino pada gadis yang duduk disampingnya. "Aku tahu Naruto itu populer, tapi kau jangan takut begitu Hinata."
Hinata hanya tersenyum, mata lavender itu kembali teralih ke lapangan karena pluit pertandingan sudah berbunyi.
.
.
"Aaaah pegalnya," ucap Lee sambil meregangkan badannya.
"Kau ini, baru saja disuruh ngetik 2 Bab sudah seperti itu," ejek Gaara sambil menutup laptopnya. Gaara pun melirik jam tangannya, sudah jam 1 siang.
"Hei, kalau tidak salah hari ini ada pertandingan basket antara SMA aniki dan SMA dimana adikmu sekolah," ucap Sasuke yang duduk dibangku dibelakang Gaara. Sasuke bisa melihat respon temannya itu, Gaara memutar badan menghadapnya. "Jangan bilang kau tidak tahu," lanjut Sasuke.
"Ayo ke sana," ajak Gaara tiba-tiba. Bukan tanpa alasan, Gaara hanya khawatir pada keadaan sang adik.
.
.
"Yeaaaay...!" Seru pendukung SMA Akatsuki ketika ada pemain yang berhasil melakukan shoot, dan skor pun berubah 27 – 23. SMA Konoha tertinggal lima point.
Shikamaru berhasil men-driblle bola lalu dibawanya menuju ring lawan namun ada pemain yang menghalanginya, dioperlah bola tersebut pada sisi kiri dimana Kiba sedang berdiri, Kiba membawa bola tersebut dan melompatlah pemuda penyuka anjing itu untuk melakukan dunk, namun gagal karena bola berhasil ditepis lawan. Bola pun terlempar jauh, dan Naruto yang adu lari dengan pemain lawan mengejar bola tersebut dan ditangkapnya. Yes, Naruto yang mendapatkan bola itu.
"Ayo cepat Namikaze!" Seru Kiba.
Naruto berlari menuju ring lawan, ada 2 pemain menghadang dan tanpa ragu pemuda bermata biru itu melakukan longshoot dan, "priiiiiit."
"Yes!" seru Naru refleks, "ayo teman-teman kita hanya tertinggal 1 angka," ucap Naruto sambil kembali berlari untuk men-driblle bola.
.
.
Gaara, Sasuke dan Lee memasuki gedung yang sedang ramai oleh sorak sorai para pendukung team. Gaara bisa melihatnya, adiknya sedang berlari membawa bola dan berhasil melewati dua pemain, lalu dioperlah bola itu pada Sai. Sai dengan tenang melakukan tembakan 3 angka. Suara wasit meniup pluit pun terdengar. Gaara tersenyum, adiknya memang jago dalam olahraga ini.
"Dia hebat juga ya," puji Lee yang selanjutnya berteriak menyemangati team Konoha.
.
.
'Sial,' ucap Naruto dalam hati ketika pandangannya mulai buram. Pemuda itu berdiri tanpa berlari mengejar bola, pemuda tampan itu menggelengkan kepala lalu kembali berlari untuk mendampingi Shikamaru yang sedang membawa bola.
Hinata mengerutkan dahi melihat tingkah Naruto yang mulai aneh.
"Hei Gaara tunggu!"
Hinata sontak menoleh pada sumber suara, dia melihat Sasuke dan Lee mengejar kakaknya Naruto yang berlari ke pintu dimana akan membawa mereka ke lapangan yang berada di bawah tribun penonton.
.
.
"Kapten, kau baik-baik saja?" Tanya Sai yang berlari disisi Naruto yang sedang membawa bola. Sai melihat wajah Naruto semakin pucat.
"Aku baik-baik saja, Sai!" Seru Naruto langsung melompat dan melakukan slamdunk. Skorpun menjadi 41-39. SMA Konoha menang.
"Yeeeeeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaayyyy!"
Naruto tersenyum, walaupun hanya pertandingan persahabatan tapi mereka puas. SMA Akatsuki begitu sulit ditaklukan. Naruto menopang badannya dengan memegang kedua lututnya, pemuda itu mengatur nafasnya. Namun, dia melihat sepasang sepatu menghampirinya, pemuda bermata biru itupun mengangkat kepalanya. "Aku bermain bagus'kan?"
Gaara menyodorkan botol air mineral pada adiknya itu, "ya, selalu bagus."
Naruto nyengir, lalu menegakkan badannya. Diraihnya botol air mineral yang disodorkan oleh Gaara. "Gaara-nii sengaja datang kesini?"
"Ya, aku ingin menonton pertandinganmu. Sasuke yang bilang kalau kau ada pertandingan di sini," ucap Gaara sambil melirik Sasuke yang baru tiba menghampirinya. 'Sebenarnya aku khawatir, Naruto,' bathin Gaara.
"Sepertinya kita memang harus bertanding ya kapan-kapan," kata Sasuke pada pemuda didepannya.
.
.
Naruto meregangkan kedua tangannya, rasanya segar sekali saat keluar gedung lapangan basket dia disambut hembusan angin. Naruto melirik Hinata yang tampak malu-malu, "kau mau kita pergi ke mana?"
"Eh?"
"Aku akan menepati janjiku, kita kencan. Nah, kau mau kita kemana?" tanya Naruto pelan-pelan. Dia menghiraukan Sai dan Ino yang berdehem menggodanya. Sementara Gaara hanya menggelengkan kepala.
"Ki-kita pergi ke-ke... kemanapun yang Naruto-kun mau."
"Osh! Okay," jawab Naruto singkat. Pemuda tampan itu melirik ke arah teman-temannya dan juga sang kakak. "Karena aku akan pergi dengan Hinata, dan kebetulan Gaara-nii disini. Nah, kalian akan diantar pulang oleh Gaara-nii," ucap Naruto tanpa ada persetujuan dari sang kakak. Naruto nyengir, pemuda tampan itu mengulurkan tangannya pada Gaara. "Pinjam motornya, Gaara-nii pakai mobilku saja ya dan tolong antarkan mereka."
Gaara menghela nafas, "baiklah," balas Gaara lalu memberikan kunci motor gedenya.
.
.
Sore mulai tiba, matahari akan terbenam beberapa menit lagi. Ini saat yang pas untuk melihat sunset. Sebuah motor gede parkir didekat sebuah kedai. Setelah menitipkan motornya, Naruto dan Hinata berjalan mendaki anak tangga. Anak tangga yang akan membawa mereka ke puncak tebing yang memang tak jauh dari kota.
"Ayo, hati-hati," ucap Naruto tanpa ragu menggenggam tangan kanan Hinata. Menjaga sang gadis agar tidak terpeleset, atau jika pun terpeleset ada tangannya yang menahan.
Hinata memperhatikan tangannya yang digenggam erat sang Tuan Muda, Hinata bersemu lalu membalas genggaman Naruto. Naruto tersenyum ketika merasakan tangan Hinata yang lembut membalas genggamannya.
.
.
Shion baru saja selesai pemotretan saat sang pacar datang ke studio. Shion tersenyum pada pemuda keren dengan mata biru cerahnya itu.
"Kita pergi makan malam diluar," ucap Kyuubi yang memperhatikan sang pacar sedang menghapus riasan wajahnya.
"Baiklah, hanya kita?"
"Memangnya kau mau aku mengajak dua adikku hm?"
"Kenapa tidak?"
"Baiklah, tunggu sebentar," kata Kyuubi lalu mengeluarkan HP-nya.
.
.
Naruto melepaskan genggaman tangannya, "kita sampai..."
Hinata terdiam, takjub. Dia bisa melihat kota Konoha dari tebing ini. Tidak lupa dia dan juga Naruto bisa melihat indahnya matahari terbenam dari sini. Tanpa sadar, Hinata melangkahkan kakinya ke pagar tebing. Ingin melihat jelas, betapa kecilnya bangunan-bangunan yang berada dibawah sana. Lampu kota terlihat begitu indah, dan mataharinya mulai terbenam. Bersembunyi dari pandangannya. Langitpun mulai gelap.
"Kau suka?"
Hinata mengangguk, matanya masih tertuju pada kerlap kerlip lampu kota dibawah sana. "Cantik..." ucap Hinata yang begitu bahagia bisa melihat keindahan saat ini. Hinata menoleh kearah sampingnya, "arigato, naruto-kun," ucapnya dengan tersenyum lepas.
Naruto terdiam beberapa detik, ada desiran aneh di dadanya ketika mendengar sang gadis bicara tanpa terbata dan juga sang gadis yang tersenyum begitu tulus. Hinata begitu... cantik. Naruto berdehem pelan, lalu mengalihkan pandangannya dari Hinata. "Ya, sama-sama."
.
.
Naruto keluar dari kamar mandi, hari cepat sekali berganti. Pemuda itu lalu memakai seragam sekolahnya, saat dia akan mengambil parfum, matanya tertuju pada obat yang memang ada di meja samping tempat tidurnya. Tangannya terulur, meraih obat dan memperhatikan obat itu dengan lama. Naruto menghela nafas, lalu membuka plastik obatnya dan mengambil satu tablet obat.
.
.
Naruto berjongkok didepan Hinata, "ayo naik kepunggungku."
"Ti-tidak usah, kakiku baik-baik saja," tolak Hinata yang beberapa menit yang lalu keseleo saat menuruni tangga.
"Ayo naik saja, atau akan aku tinggal Hinata-chan di sini."
Tanpa diperintah lagi, gadis cantik itu langsung memeluk leher Naruto dan digendonglah Hinata dipunggung Naruto. "Citrus..." ucap Hinata tanpa sadar.
"Eh? Bicara apa?"
Hinata memerah, terdengar. "Ah, ti-tidak.." jawab Hinata lalu menyenderkan kepalanya ke bahu Naruto. Naruto bau citrus, bau jeruk, ternyata bukan hanya parfum yang bau citrus, shampo Naruto pun bau , rambut pirang Naruto memiliki aroma citrus. Naruto benar-benar penyuka jeruk, pikir Hinata.
"Neechan kakiknya sudah tidak apa-apa?"
Hinata tersentak kaget, Hanabi membuyarkan lamunannya soal kencan kemarin. "Tidak Hanabi-chan, kaki Nee sudah sembuh."
"Baguslah, kalau masih sakit Nee jangan ke sekolah dulu."
"Tidak, Nee baik-baik saja kok," jawab Hinata sambil tersenyum.
.
.
Naruto memarkirkan motor hitamnya ke sebuah apotek. Pemuda itu membuka helm, dan mulai memasuki apotek terbesar yang berada di kota itu.
"Selamat datang, apa ada yang bisa kami bantu?"
"Ini,"Naruto tanpa basi basi langsung memberikan tablet obat yang sudah dibungkus oleh tisu. "Aku ingin tahu ini obat untuk penderita apa," ucap Naruto enteng.
"Maaf, apa ini obat anda?"
"Bukan, aku menemukan obat ini di ruangan tamu. Sepertinya salah satu temanku tanpa sengaja menjatuhkannya, aku hanya ingin tahu kalau temanku itu kenapa. Itu saja," ucap Naruto panjang lebar, berbohongnya lancar sekali.
"Oh, baiklah. Mungkin nanti sore anda bisa kesini lagi," ucap pegawai apotek tersebut.
"Ok, terima kasih ya," ucap Naruto lalu pergi keluar apotek tersebut.
.
.
Nenek Chiyo menghembuskan nafas berat, matanya menemukan beberapa obat yang dibuang sang Tuan Muda ke tempat sampah yang berada di kamarnya. Nenek Chiyo baru saja beres mengambil plastik sampah di kamar Naruto, dan ini hasilnya.
"Nenek melihat apa?" Tanya Gaara yang akan mengambil jus saat itu, tangannya sudah siap untuk membuka pintu kulkas.
"Tuan Muda tidak meminum obatnya, Gaara," ucap Nenek Chiyo seraya menoleh pada Gaara yang sudah diasuhnya dari kecil itu.
"Ck, dasar anak itu."
.
.
To Be Continued
.
.
Ok, saya mulai rajin update kan? Dikarenakan sang suami begitu baik. Dia tidak banyak komentar soal dunia per-fanfict-an. Ya, sejauh ini masih Straight lah pairingnya juga hehehe...
RnR.
Arigato..
