Aku tak mengerti, baru kemarin aku masih bisa merasakan kuatnya kepalan tangannya yang mencengkram kerah bajuku, mata kucingnya yang berapi api menatapku seakan bisa menguliti semua kulitku. Kini yang terlihat hanya wajah tersenyumnya di sebuah foto berbingkai hitam di depan sana. Di dekat sebuah peti putih yang terbuka.

Ah, kini giliranku naik ke altar untuk memberikan mawar putih untuknya, sahabatku Joshua. Meski kedua matanya terpejam, wajahnya sangat teduh. Aku, aku benar benar tak bisa menatap wajahnya sekarang. Maaf, sekali lagi maafkan aku...

Kedua tangan Joshua menarik kerah Seungcheol ke arah wajahnya. " what if I weren't there, mungkin saja sekarang Junghan yang ada di ranjang ini asal kau tahu itu ! You moron !"

" Mianhae "

" Mian? Sorry you said? Hah! I don't need that melancholic word. Just go, " Joshua memberi sedikit jeda disini dan menegaskan kata yang akan diucapkannya " Leave him alone, Seungcheol"

Kedua tangan Joshua melonggarkan cengkeramnya. Pancaran matanya ikut melunak, bahkan mulai berkaca kaca. " Aku mohon, Choi Seungcheol." Kepalanya menunduk dalam dan berkata lirih " I beg you "

.

.

.

.

" Seungcheol-ah " Seorang wanita paruh baya yang berdiri di dekat tangga altar memanggil nama Seungcheol. Itu Joshua eomma. Disampingnya berdiri Lee Ahjussi.

" Nde, Joshua eomma. "

" Terimakasih sudah datang, nak " Kesedihan tampak jelas sekali di wajahnya meskipun wanita itu mencoba untuk tersenyum saat berbicara dengan Seungcheol.

" Ah, ne..sudah seharusnya saya datang, Joshua adalah sahabat saya. "

Joshua eomma hanya mengangguk pelan sambil menyeka airmatanya. Lee Ahjussi memeluknya pelan dan mengusap usap punggung Joshua eomma untuk menenangkannya. Sepertinya tidak enak kalau berlama lama disini.

"saya pamit pulang dulu, permisi"

Tepat saat Seungcheol berjalan ke luar pintu rumah duka, seseorang berjaket kulit hitam dan bertopi baseball berlari kearah Seungcheol dan -

BRUUGH

" Agh!"

Oeang itu menabrak pundak Seungcheol dengan elitnya. Kotak gitarnya bahkan ikut terjatuh.

" Uh! Sorry ! Are you okay ?" Tangan kirinya terulur untuk membantu Seungcheol berdiri.

" Nan gwaenchan-" kata kata Seungcheol terhenti saat melihat sebagian wajahnya yang sedikit tertutup topi baseball.

"Hah.. what a relief! Sorry i was in hurry" Senyum itu... dimana aku pernah melihatnya ? Kenapa senyum itu tampak familiar ?

Saat dia berbalik dan berlari ke arah Joshua eomma, baru Seungcheol tersadar dari lamunannya dan mendengar sedikit apa yang dibicarakan namja tadi.

" I'm sorry i was late. I just landed on LA when you called me yesterday. And i quickly took another flight to get back here! Sorry"

Benar... itu tidak mungkin. Tidak ada kulit keras di telapak tangannya. Hanya jemarinya saja yang kasar. Dia benar benar seorang gitaris...

...bukan pemain basket.

.

.

.

Aissh! Lagi lagi Junghan tidak bisa dihubungi. Sejak Joshua meninggal dua hari yang lalu, dia tidak mau bertemu denganku atau masuk sekolah. Bahkan bolos sekolah dan tidak keluar rumah. Untunglah lubang kucing di pintu rumah Junghan berguna sekarang, jadi aku bisa memberi Junghan makanan karena aku yakin dia pasti tidak akan memasak dengan kondisinya sekarang. Walaupun aku tak tahu apa makanan yang kuberikan akan dia makan.

Hey hey hey ! Kenapa barang barang Junghan ada di luar rumahnya? " Ahjumma ! Apa yang kau lakukan !"

" Apa lagi memangnya ? Ya mengeluarkan semua barang ini keluar !"

" Tapi kau tidak bisa melakukan ini ahjumma! Apa Junghan setuju untuk pindah ? Kau harus bertanya dulu pada Junghan !"

Ahjumma itu malah melempar selimut futon Junghan ke arahku " bertanya pant*tku ! Dia sudah telat bayar uang sewa untuk bulan ini dan bulan kemarin ! " Whoa... Ahjumma ini galak juga.

" Memangnya berapa uang sewanya? Aku yang akan membayarnya" Akhirnya ahjumma itu berhenti mengeluarkan barang Junghan dan memperhatikanku.

" 600 ribu won " okay, aku punya cukup banyak uang di tabunganku. " perbulan!"

Nde ?! Ba-banyak juga...

" Ba-ik ! Aku bayar! Akan ku transfer uangnya. " Ku ambil smartphone ku dan kucatat nomor rekening Ahjumma itu.

" Igeo ! Uangnya sudah aku kirim ke rekening ahjumma. " Kutunjukkan layar smartphoneku kepada ahjumma. Ia hanya menangguk angguk mengerti. Apa dia benar benar mengerti tentang e-banking ?

" Ah ahjumma! dimana Junghan?" Ia belum terlihat sejak aku datang ke rumahnya.

" Molla! Dia tidak ada saat aku mengeluarkan barangnya. Terimakasih untuk bayarannya ya" jawab ahjumma sambil berlalu. Kemana Junghan pergi ? Kuharap dia hanya mencari angin di sekitar sini.

Okay, sekarang aku harus memasukkan barang barang Junghan kembali ke dalam. Ahjumma itu cukup kuat juga untuk mengeluarkan lebih dari setengah barang Junghan keluar.

Tunggu, ini... ini semua makanan yang aku berikan. Jangan jangan... dia belum makan sama sekali selama dua hari!

" you don't understand about the situation, Seungcheol ! Dia masih di serang oleh sasaeng mu ! "

. . .

" what if I weren't there, Seungcheol! Mungkin saja sekarang Junghan yang ada di ranjang ini asal kau tahu itu ! You moron !"

Astaga Junghan ! Dimana kau sekarang ?!

.

.

.

Di atas bangku panjang yang ada di pinggir lapangan basket, duduk seorang namja dengan rambut panjang terkuncir kebelakang dan topi yang menutupi setengah wajahnya. Pandangannya kosong menatap ke arah anak anak yang bermain basket di lapangan yang terletak di taman pinggir sungai Han. Matanya tampak berair, seperti akan menumpahkan banyak airmata.

Lebih baik aku disini, setidaknya aku tidak bertemu Seuncheol disini.

DDUK!

Sebuah bola basket mengenai ujung sepatu namja itu. Salah satu anak yang berlari menghampirinya. " Tolong pass bola itu !"

Tess...

Satu tetes airmata namja itu jatuh ke atas bola basket yang ia ambil. Sekilas kenangan yang pernah ia alami teringat kembali.

"Can you pass that ball, please ?"

" Huh ? " Apa yang barusan dia tanyakan ? Pass the ball ?

" Ah, sorry ! Bisa kau pass bola itu ?"

Itu? Oh, bola yang tadi menggelinding ke sini. " Oh, ini "

Swooshh...

" Wow, lemparanmu bagus juga. Mau main basket bareng ?"

" Boleh juga " Hmm...Rasa rasanya aku pernah melihat dia di suatu tempat, dimana ya ? AH!

" Good! Oh, iya. Namamu ?"

" Junghan, Yoon Junghan!"

" Namaku Hong Ji-"

" Kau itu Joshua! Joshua Hong! Benarkan ? Duo Ace dengan Choi Seungcheol dari SHS basketball team !"

" wow... that's right..."

Tentu saja~ aku fans berat Choi Seungcheol~

" Jisoo "

" Nde?"

" My real name is Hong Jisoo. Actually Joshua is my-"

" Yak! Josh! Apa kau ambil bolanya di LA ? Kenapa lama sekali !"

" Okay okay! Nah, Junghan. Let's play !

" Sorry! Sorry! My bad! "

Seorang namja dengan rambut cepak samping dan kotak gitar yang ditempeli puluhan stiker berbau LA dan band indie tak sengaja menabrak punggung Junghan hingga bola basket yang ada di tangannya terlepas.

" K-kau?"

" Sorry, i'm about to miss my flight! Bye!" Namja itu langsung berlari begitu menyelesaikan kalimatnya.

Tidak...tidak ... jangan pergi... jangan pergi lagi kumohon jangan !

...

Hah.. hah...Junghan-ah... dimana kau sekarang ? Aku bahkan tidak bisa menemukannya tempat kerja partimenya. Tempat terakhir yang bisa kupikirkan hanya lapangan basket di dekat sungai Han. Semoga dia benar benar disini. Ini sudah sore dan berbahaya sekali pergi dengan perut kosong seperti itu.

Oh! Itu dia ! Sepertinya itu punggung Junghan. Tapi kenapa dia berlari ?

" JUNGHAN ! JUNGHAN !"

Benar itu Junghan ! Akhirnya aku bisa memegang tangannya. Syukurlah dia benar benar Junghan.

" Lepas.. kumohon lepas..."

" Junghan-ah!" Bisa kurasakan tangan kanannya yang kupegang gemetar. Pandangan matanya tak pernah menatapku seperti sedang takut.

" Ku mohon... hiks.. lepas.."

Entah apa yang tadi ia kejar. Sepertinya Junghan benar benar takut kehilangan itu. Ia terus melihat ke arah 'apapun itu' pergi.

" Junghan-ah, Junghan ! Dengar aku, Junghan! Lihat ke arahku! "

" Lepas! Aku tak mau kehilangan dia lagi ! Seharusnya aku dengar kata Joshua! "

Mwo? Kata Joshua?

" Jadi kumohon lepaskan... Aku tak ingin kehilangan joshua lagi " kata Junghan sambil menatap ke dalam mataku.

Tak ingin kehilangan Joshua ia bilang. Maksudnya- AH !

" JUNGHAN ! TUNGGU DULU !"

Sial, Junghan langsung lari begitu aku mengendurkan sedikit peganganku. Sebenarnya apa yang ia kejar... ah! Dia berlari ke arah dekat zebra cross! Berarti di seberang jalan sana... ada seseorang dengan kotak gitar di ujung penyebrangan-

["Hah.. what a relief! Sorry i was in hurry"]

ORANG YANG ADA DI RUMAH DUKA KEMARIN !

Sekarang orang itu sudah masuk taksi. H-hey... apa Junghan ingin langsung mengejarnya tanpa lewat zebra cross?

" JUNGHAN-AH! BERHENTI DISITU! YOON JUNGHAN !"

Sial! Dia tidak mendengarkanku! OH-NO !

" JUNGHAN AWAS! "

CIIIIITTTTT ! ! ! BRRAAKK...BUGH!

" JUNGHAN!"

...

Aku... aku berharap semuanya tak pernah terjadi...

Aku harap aku tak pernah mengenal Joshua... Seungcheol... semuanya...

Aku ingin menghilang saja...

...

Seungcheol menatap Junghan yang terbaring di atas ranjang rumah sakit lengkap dengan selang infus dan beberapa perban di kepala dan lengannya. Untunglah kecelakaan kemarin itu hanya menyebabkan beberapa luka ringan dan beberapa jahitan di kepala dan lengan kanan. Hanya saja Junghan masih belum tersadar juga. Mungkin karena badannya tidak mendapat nutrisi yang cukup karena dua hari tidak makan sedikitpun.

Sudah dari kemarin Seungcheol terus menunggu Junghan. Persetan dengan sekolah. Ia bahkan tak bisa tidur tadi malam. Baju seragam yang ia pakai kemarin masih belum lepas dari badannya.

Hampir saja Seungcheol tertawa lepas. Ia ingin menertawakan dirinya yang begitu bodoh. Lihat saja bagaimana keadaan Junghan sekarang. Lingkaran hitam di matanya sudah cukup menjelaskan betapa menderitanya ia sekarang. Tangannya yang sekarang digenggam oleh Seungcheol pun terasa lebih kurus dibanding terakhir kali Seungcheol memegang tangan itu. Dan kecelakaan kemarin semakin memperjelas kalau Seungcheol tak bisa menjaganya dengan baik.

Drrrtt... drrt...

" oh, hyung... terimakasih atas kiriman uangnya kemarin "

" tidak, Appa dan eomma masih ada di Jepang. Mungkin sampai bulan depan "

" Jangan beritahu mereka ! Jebal, hyung !"

" Iya aku mengerti. Sampaikan salamku untuk Raina noona ya. Maaf aku sudah mengganggu liburan kalian "

" ne.. "

Pip !

Seungcheol menghela nafas panjang. Untung saja ada Dean hyung, kalau tidak darimana dia bisa membayar tagihan rumah sakit.

Sesaat kemudian, Seungcheol melihat pergerakan dari mata Junghan.

" J-unghan ! Kau sudah sadar ! Syukurlah... Sebentar, akan kupanggilkan dokter "

Hampir saja Seungcheol memencet tombol panggilan saat Junghan tiba tiba mengeratkan genggaman tanggannya di tangan Seungcheol.

" Aku... dimana ?"

" ceritanya panjang, tapi kau berada di rumah sakit sekarang " ucap Seungcheol sambil mengelus punggung tangan Junghan. Kemudian ia pencet tombol untuk memanggil dokter.

" Tapi... kenapa kau ada di Busan ?"

" Huh ? Ini di Seoul, Junghan."

"... Seoul ?" Junghan mengerjapkan kedua kelopak matanya. Lalu memandang ke arah Seungcheol seakan dia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

" bagaimana kau bisa... mengenalku ?"

" Junghan-ah...kau tak ingat... apapun ?!"

.

.

.

Saat ini Junghan sedang menikmati makan malamnya di rumah Seungcheol. Ia langsung diperbolehkan pulang sore tadi dan Seungcheol mengajaknya ikut pulang kerumahnya dan menginap. Setidaknya untuk beberapa hari kedepan.

" Kau tak suka kimchi jjigae nya ?" Seungcheol menyadari kalau sejak tadi Junghan hanya menatap wajahnya dan tak memakan makanannya.

" Ah, aku suka kok... ini enak. " ucap Junghan sambil menyendokkan sesendok kuah ke mulutnya.

" Kalau begitu makanlah yang banyak. Setelah itu minum obat "

" eum..."

Dan selanjutnya mereka makan tanpa interupsi suara sedikitpun. Junghan masih merasa canggung dengan Seungcheol. Meskipun tadi Seungcheol sudah menceritakan semua tentang Junghan saat di Seoul, yang Junghan ingat hanya tentang dirinya saat masih di Busan. Bagi Junghan Seungcheol adalah idolanya dan sekarang ia makan satu meja dengan orang yang selama ini hanya ia lihat lewat internet dan majalah basket langganannya. Diam diam Junghan tersenyum saat melirik Seungcheol sambil menyeruput habis kuah kimchi jjigae di depannya.

Setelah menghabiskan makan malam, Seungcheol menyuruh Junghan untuk beristirahat di kamarnya yang ada di lantai dua. Sementara itu Seungcheol membereskan mangkuk dan mencucinya di dapur.

Junghan dengan senang hati menaiki tangga ke lantai atas dan perlahan membuka pintu kamar Seungcheol.

" Uwaah... ini benar benar kamar si Ace..."

Junghan melihat beberapa foto yang dipajang di dinding kamar. Semua foto itu adalah foto Seungcheol bersama teamnya di setiap kompetisi yang mereka menangkan.

" Ini... bukankah ini foto Seungcheol dengan teamnya di junior high school? Wah wah ! Ini tournament pertamanya Seungcheol di sekolah dasar ! Daebakk... dia sangat imut disini "

Arah mata Junghan beralih ke meja belajar milik Seungcheol. Di atas nya ada sebuah bola basket yang sudah tipis permukaannya.

" The most treasured item milik Seungcheol... Bola basket dengan tanda tangan dari- AGGHH "

Tepat sebelum Junghan menyentuh bola itu, kedua mata Junghan menangkap sebuah foto dua orang pemain basket yang tersenyum lebar di belakang bola basket itu. Seketika muncul rasa sakit yang menyerang kepalanya. Seakan akan ada palu besar yang memukul kepalanya hingga membuat Junghan jatuh terduduk terduduk ke lantai.

" Junghan?! Ada apa ?" Seungcheol yang baru saja masuk ke kamar kaget melihat Junghan yang duduk di lantai sambil memeluk lututnya dan memegang kepalanya. Junghan hanya mengerang kecil saat Seungcheol bertanya kepadanya. Ia juga mengelak tangan Seungcheol yang mencoba memeluknya.

Seungcheol segera ingat dengan obat yang di resepkan dokter kalau Junghan mengalami serangan panik seperti ini. Untung saja ia membawa obat itu di kantung celananya sekarang. Tapi airnya, ah terlalu lama kalau harus mengambil di lantai bawah.

" Junghan-ah, lihat aku sekarang. " Seungcheol berusaha membuat Junghan untuk tidak menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Ditariknya pelan kedua tangan Junghan " Tidak apa Junghan, tidak apa.. ayo lihat aku. "

Begitu Junghan mendongakkan kepalanya, Seungcheol menangkup wajah Junghan dengan kedua tangannya dan mencium bibirnya. Lidah Seungcheol langsung memasukkan dua pil dari mulutnya saat Junghan masih terkejut dengan tindakan Seungcheol. Aambil memejamkan matanya, Seungcheol memiringkan wajahnya agar lidahnya lebih leluasa mendorong obatnya sampai ke pangkal lidah Junghan.

Tangan Junghan berusaha untuk menjauhkan Seungcheol tapi dia kalah kuat dengan Seungcheol yang entah kenapa semakin mendorongnya sampai keduanya hampir terjatuh namun Seungcheol dapat menahannya. Airmata Junghan keluar dan mengenai tangan Seungcheol saat kedua pil itu berhasil Junghan telan.

Perlahan Seungcheol menarik bibir nya dan menatap Junghan masih diam. Dihapusnya bekas airmata dan dikecupnya pelan kedua ujung bibir Junghan. Tiba tiba Junghan mulai menangis dan menyandarkan wajahnya ke dada Seungcheol.

" Mian... " Seungcheol mengelus belakang kepala dan punggung Junghan lembut. Hingga akhirnya Junghan menjadi lebih tenang. Kemudian Seuncheol menggendong Junghan dan menidurkannya di atas kasurnya.

Saat Seungcheol selesai merapikan selimut diatas tubuh Junghan dan akan keluar dari kamar, tangan Junghan menahan ujung kaus yang di pakai Seungcheol. " Ada apa ? Kau butuh sesuatu lagi ? ". Seungcheol mendudukkan badannya di tepi kasur menatap Junghan yang menyandarkan badannya di kepala kasur.

" Benar ... semua ceritamu benar, kan ? Bukannya aku tidak percaya... tapi -" Ucapan Junghan terhenti saat Seungcheol merapihkan rambut di dahi Junghan.

" aku pernah berjanji dengan sahabatku. Aku akan menjagamu, bagaimanapun caranya. Jadi, percayalah padaku ".

Tangan Junghan meraih tangan Seungcheol di samping tubuhnya dan menggenggamnya erat. " kalau begitu jangan pergi. Mungkin terdengar gila tapi tadi aku merasa seperti akan kehilangan seseorang. Tapi saat mencoba mengingat ingatanku... saat melihat bola basket itu... rasanya sangat menakutkan... gelap dan menakutkan... " bibir Junghan sedikit bergetar saat ia berbicara barusan. Mata Junghan juga kembali berkaca kaca.

Sekali lagi Seungcheol memeluk Junghan untuk menenangkannya. " Gwaenchana, Junghan.. Kau tak perlu memaksakan dirimu. Kau tak perlu mengingat semuanya kalau itu membuatmu sakit"

" boleh ?"

" Ne. Jangan paksakan dirimu. Dan percayalah dengan pacarmu "

" huh ?"

" Baru tadi siang aku memberitahumu kan? Kita jadian setelah aku mentraktirmu kimchi jjigae yang sama dengan yang kau makan malam ini, di depan rooftop yang menjadi tempat tinggalmu selama di Seoul. Lalu-"

" Stop " Junghan melepaskan pelukannya dan sedikit menunduk untuk menutupi wajahnya yang sedikit terasa panas. " aku tau cerita selanjutnya... " Junghan kembali teringat saat Seungcheol bercerita saat mereka membeli makan malam hari ini dan saat Seungcheol 'memberinya' obat beberapa saat yang lalu.

" Tidak apa kalau kau tak mengingatnya " Junghan mengangkat kepalanya untuk menatap Seungcheol " Kita akan mengganti memori yang hilang dengan memori yang baru. Bukankah itu lebih menyenangkan ?"

Seulas senyum manis muncul di bibir Junghan. " Ne !"

" Nah, ayo kita tidur " Seungcheol merebahkan badannya di samping Junghan dan menarik Junghan untuk ikut tidur. Tangan kirinya ditaruh diatas pinggang Junghan dan memeluknya erat.

" Seungch-"

" Tidurlah, kau pasti lelah hari ini. Aku juga... selamat tidur "

Maaf, kali ini aku harus berbohong padamu. Maaf karena aku menjadi egois. Ini satu satunya cara agar aku bisa terus di dekatmu. Untuk menebus semua kesalahanku.

Aku tidak tahu kapan ingatanmu akan kembali. Tapi sampai saat itu datang, aku ingin kau hanya melihatku.

[[ Flasback end]]

.

.

.

Selesai. Semuanya sudah selesai. Aku.. dan Junghan, sudah selesai. Junghan sudah mengingat semuanya. Semua, lengkap sampai ke detail terkecil. Haah... rasanya seperti bangun dari mimpi.

Aku memang salah. Seharusnya aku tidak membohonginya. Joshua, maaf aku menyakitinya lagi. Dari awal, aku memang sudah kalah darimu.

.

.

.

" Jisoo ! Jisoo-ya !" Teriak Junghan saat rumahnya mulai terlihat di hadapannya. Masih dengan nafas yang tersenggal, Junghan membuka pintu rumahnya. Matanya nanar mencari Jisoo di sudut rumah, juga di kamar mandi. Ia bahkan melihat ke dalam lemari dan kolong meja belajarnya, tapi Jisoo tidak ada disana. Beberapa pakaian dan buku jadi berserakan di lantai. Kaki Junghan mendadak lemas hingga membuatnya terduduk di tengah ruangan yang menjadi berantakan karena ulahnya.

" kumohon jangan menghilang dulu... tolong jangan menghilang... "

" benar! Kalau aku lupa ingatan lagi, Jisoo tidak akan menghilang !" Tangan Junghan mulai memukuli kepalanya sendiri. " ayo lupa lupa! Hiks.. ayo.. jebal.. "

" Junghan ! apa yang kau lakukan? Stop it !"

"I-itu.. suara Jisoo! Aku .. harus memukul lebih keras lagi "

" JUNGHAN ! STOP IT NOW!" Jisoo yang sebenarnya baru datang dari luar langsung menghentikan Junghan dan memegang kedua tangannya. Refleks, Junghan menaikkan kepalanya dan menatap Jisoo.

" What are you doing ? Why did yo- "

Tiba tiba Junghan memeluk erat tubuh Jisoo dan menangis keras.

" Shh..sshh.. calm down... tenanglah, jangan menangis "

Tagisan Junghan malah semakin kencang setelah Jisoo mencoba untuk menenangkannya.

" Shh... berhentilah mena... ngis..." Ucapan Jisoo sedikit terpotong saat ia mencoba untuk mengelus kepala Junghan. Ujung jarinya tak bisa menyentuh rambut Junghan. Seakan Jisoo hanya menggapai angin.

Ta-tanganku ? Please.. don't..

Jisoo menghembuskan nafas kecil saat tangannya bisa lagi memegang Junghan setelah tiga kali mencoba untuk menyentuh rambut Junghan. Sekarang Jisoo mengerti kenapa Junghan tiba tiba menjadi seperti ini.

Ini.. sudah waktunya ya ?

Tanpa mereka sadari, bandul sayap yang ada di kalung Jisoo mulai berpendar kecil.

.

.

.

Jisoo mengajak Junghan untuk mencari angin sebentar ke taman dekat sungai Han. Mereka duduk di ayunan yang ada disana. Mungkin hanya ada mereka disana karena sekarang sudah malam.

" Hey, berhentilah menangis okay ? Kau lihat kan aku masih disini ". Ucap Jisoo sambil mengusap tangan Junghan yang terus memegang tangan kanannya erat. Junghan hanya terus diam dan menundukkan wajahnya.

" Maaf, maafkan aku Jisoo-ya ". Ucap Junghan sambil tetap menunduk " Coba waktu itu aku mendengarkanmu. Mungkin ceritanya akan lain lagi... "

" Junghan... look at me now " Jisoo berdiri dari ayunannya dan berjongkok di depan Junghan. " That wasn't your fault, so stop blame on your self . Itu bukan salahmu. Siapa yang salah atau siapa yang benar, itu tidak penting. "

" Ta-pi..mmh "

Junghan sedikit terkejut saat Jisoo menarik tengkuknya dan menempelkan kedua bibir mereka dengan tiba tiba. Itu bukan ciuman yang panas dan memaksa. Hanya ciuman yang lembut dan dalam.

Perlahan Jisoo membuka kedua matanya dan melepas bibirnya dari bibir Junghan. Tepat saat itu juga pendant Jisoo yang berbentuk sayap kembali berpendar seperti irama detak jantung. Kali ini tidak ada rasa sakit yang dirasakan oleh Jisoo

" Kenapa ? Kenapa kalungmu sekarang bercahaya ? " Tanya Junghan sambil menyentuh kalung Jisoo.

Jisoo tetap terdiam dan menatap wajah Junghan lekat lekat. Di selipkannya rambut Junghan ke belakang telinganya.

" Mungkin permintaanku bukan membuatmu mengingatku lagi, Junghan ". Ucap Jisoo dengan suara yang sedikit tercekat. " Right, mana mungkin aku bisa pergi tanpa mengucapkan itu padamu "

" Jisoo-ya..." Junghan merasa tangannya tidak lagi bisa memegang tangan Jisoo yang dari tadi ia genggam. " Keumanhae. "

" Thankyou Junghan, for always besides me "

Kalung Jisoo bersinar terang sebentar lalu kembali berpendar kecil seperti sebelumnya.

" Sorry that i can't be with you for a long long time "

Junghan diam menatap Jisoo dan airmatanya mulai deras berjatuhan. Jisoo merubah posisinya dari berjongkok di depan Junghan menjadi berdiri. Kemudian dikecupnya dahi Junghan dengan lembut. Sementara Junghan menggigit bibirnya, menahan agarbia tidak menangis keras. Karena ia tak merasakan apapun menyentuh dahinya.

" I Love you Junghan. So much. Since i met you for the first time. "

Saat Jisoo menyelesaikan kalimatnya, saat itu juga kalung Jisoo bersinar terang, sangat terang sampai Junghan harus menutup kedua kelopak matanya.

" I love you "

.

.

.

.

Kedua mata Junghan terasa berat saat ia mencoba membuka kelopak matanya. Anehnya, sekarang ia berada di rumahnya, bukan di taman dekat sungai Han. Jam di rumahnya sudah menunjuk jam 7 pagi.

" Huh ? Tunggu...Jisoo !"

Criing...!

Sesuatu jatuh saat Junghan bangun dari futon miliknya. Ternyata itu adalah gelang tali biru-hitam yang ia berikan ke Jisoo, gelang yang sama dengan yang Joshua alias Jisoo berikan untuk Junghan.

" Joshua ya... aku bahkan belum sempat menjawab tapi kau malah pergi ?"

.

.

.

[ 4 tahun kemudian ]

Seseorang dengan rambut hitam pendek diatas bahu berjalan dengan sedikit tergesa gesa di jalan pertokoan yang ada di pinggir kota Los Angeles. Ditangannya ada smartphone berlogo apel yang di arahkan ke wajahnya. Sepertinya ia sedang ber video call dengan seseorang.

" iya, disini cuacanya sangat panas. Padahal sudah jam 5 sore "

" kenapa kau terlihat sedang berlari lari, Junghan ? Katanya disana sangat panas "

" ah, Seungcheol maaf, aku benar benar telat untuk kerja part time. Kau menelpon disaat yang tidak tepat " ucap Junghan sambil membuka pintu sebuah kedai kopi dengan plakat 'Carat café '

" Hey Junghan ! Kau jauh jauh di rekrut Lakers ke LA untuk bermain basket, bukan kerja paruh waktu. Kau benar benar gila "

" I am "

" wooah.. kau mau pamer aksen amerikamu itu ? "

" Hahaha... sudah yah. Sampaikan salamku untuk Doyoon sunbae. "

" Doyoon sunbae ?"

" Sudahlah, aku tau dari Hoshi. Chukkae~ "

" Hoshi ? Aisshi..anak itu benar benar!"

" Bye !"

Piip !

Junghan segera memasukkan smartphonenya kedalam saku seragam kerjanya.

" Junghan, c'mon! We got a lot things to do here !"

" ayay capt ! "

.

.

.

Haaahhh... akhirnya ! Sepuluh menit lagi café ini akan tutup dan aku segera bebaass ! Aku rindu kasur asramaku.

" one iced americano please. "

Tunggu... tas gitar itu sepertinya familiar... Benar dia... dia itu..

" Junghan ? "

" Joshua ? "

Senyum itu, sudah berapa lama aku tidak melihatnya?

" i'm sorry, it takes a long time to find you again. "

" aku juga "

" Huh ?"

" Ani, kau mau pesan apa tadi ?"

Itu jawabanku Jisoo-ya. Aku juga, menyukaimu.

~ FIN~

End... Huaaaaaaaaa maaf kalo endingnya gak memuaskan kalian... nulis part ini bener bener buat aku grogi... terutama kissing scene ! Ugghh... aku mah apah atuh gak jago bikin adegan yang bikin deg-degan. Aku bagi adil ya, Seunghan satu JiHan juga satu hehe . Kissing scene SeungHan yang pake obat itu terinspirasi dari ff yang baru aku baca, Love Shake by Iceu Doger chap 5. Ff nya keren loh! Ayo baca baca ! Hehe... aku gak plagiat kok~ boleh di cek sist. Tapi bener deh ff Iceu Doger keren keren :)

Btw, pada 'ngeh' sama cowo berjaket kulit hitam dan topi baseball hitam yang setia bawa bawa kotak gitarnya kemana mana? Yoi ! Itu kembarannya Jisoo. Aku cuma terinspirasi dari si bang Josh yang punya nama Amerika dan nama korea. Hong Joshua sebagai hyung dan Hong Jisoo sebagai adiknya. Yang selama ini sama Junghan itu Hong Jisoo. Aku bayanginnya Jisoo itu calm and gentle like Josh in Adore U era dengan rambut yang sedikit bergelombang, sementara Joshua itu pake style Josh di photo teaser Pretty U macem Church Boy yang mendadak ngerubah style jadi Bad Boy ~ awawawaw *plak*

kalo dipikir pikir ini ff lintas era dari jaman Mansae sampe Aju Nice kkkk... Udah gitu awal awal suasananya ceria ceria tapi endingnya kok jadi mewek mewek ya... Maaf ya kalo endingnya kurang greget...aku ngerasa akhir akhir ini style tulisanku makin aneh... maklumin dan mohon kasih sarannya ya reader-deul!

Untuk temanku seperjuang dan se-fandom tapi kadang kadang fanwar kalo soal bigbang dan bts apalagi soal SeokSoon vs Soonhoon , akhirnya ff taruhan ini selesai wkwkkwkwkw... walopun gak jelas apa kita yang di taruhin selama ini pfft...

Dan buat 120900kenyo, Bunga, Ristyboo, anaknya cheonsa, changijo, InfntMyungsooRP, Park Rinhyun-Uchiha, ketiiiliem, jihanship, Momori, byunbaebybaechu, Parkcheonsafujoshi, jeonghannienoona, celle, Evie17gyu, hlyeyenpls, nabilaaa, wiwi winarti, Reiya Zuanfu, 270, Mavis Chittapon Sakamaki, sweetiesugar1004, jeonghanatsu, vampireDPS, susu murni nasional tenenet , Scoupshan, Shizuluhan, MyNameX, Eirlys Rin, 21parkjiiin, DaeMinJae, Eysha CherryBlossom, Jung Yong Jae, KimElin, KwonAra, Ryulogy, Shinkiky, Tifgietweety, VHand17Seventeen-EXOtics , bananona, blxckors, boobeepboo, fallforceye, fvksoo, hyoae hye, ikka1296hoon, iseokyeom, justnyao, lullu . ip, park. mio28, rarinpark, safabelle, springboynyet, taoelantao, vernbooyah, widhya. syafitri, youngchanl, yuujiro1906, DyoKyung-Stoick, JHyejinnn, Jooheoni noona, Keys13th, KimJi17CARAT, Piim, ThunderPark97, pinkeut

yang udah ngereview , nge-favorite makasiiihh banyaakkk ! Buat yang sider maaf gak kecantum ya mueehehhehe...

Last question, siapa orang dibalik kejadian yang dialami Junghan ? Hayoooo... silahkan di jawab di review yah ! jawabannya bakal ada di extra chap!

See you in my next fanfict ! :*