Jari-jemari Lucy menekan nomor ambulan tergesa-gesa, menghubungi pasukan medis tersebut dengan suaranya berangkai nada cemas. Zeref tengah menggendong Natsu, deru nafas pria itu kacau dihiasi kepala berlumuran darah. Bisa dibilang, keadaan mereka sama-sama mengkhawatirkan. Dua puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda sirine merah berbunyi nyaring, sedangkan si salam kian melemah dari waktu ke waktu.

"Maaf Lucy, kakak harus membawa Natsu ke rumah sakit. Tolong urusi yang di sini, bawa geng Sting karena mereka juga terluka parah" perintah Zeref segera meninggalkan gudang. Menyadari kesadarannya perlahan menghilang ditelan bayangan gelap

"Tapi kak, karena anak berandalan itu Natsu terluka parah. Jujur, aku tidak sedikitpun ikhlas untuk menolong mereka!" spontan langkahnya terhenti. Zeref menengok ke belakang sesaat, menampakkan seutas senyum membuat keadaan semakin pilu

"Kita sesama manusia, wajib saling tolong-menolong. Lagi pula kakak juga salah, main menghajar mereka tanpa pikir panjang. Sudah dulu, ya, aku percayakan padamu!"

"Kalian dengar apa katanya?! Kak Zer begitu memperhatikan anggota gengmu, tetapi Sting …. kamu malah menghajar Natsu akibat cemburu buta! Aku sadar kau bukan lelaki yang baik. Berhentilah menganggu, ulahmu menyebabkan kehidupan mereka terporak-porandakan!"

Seketika itu Lucy meluapkan seluruh emosinya, terutama kepada Sting yang bersikap acuh tak acuh. Keberadaan ambulan terlupakan sejenak, semua bersitegang gara-gara ulah Zeref merusak kesenangan mereka. Masing-masing entitas pun menaruh dendam, sayang, si pelaku sedang dalam perjalanan menjadi pahlawan kesiangan. Ketua geng berjalan mendekat, menyudutkan tubuh mantan pacarnya menabrak tembok kayu yang sedikit rapuh.

"KAU BERANI MELAWAN?! Lucy, awalnya aku berniat membiarkanmu, tetapi jika sudah begini …. Ikutlah membayar bersama Natsu dan Zeref" bisik Sting tepat mengintimidasi gendang telinga mangsanya, membuat Lucy bertekuk lutut di hadapan raja singa

"Jangan katakan hal aneh! Seharusnya kamu yang menebus kesalahan, bukan …. umpuhhpuhhhuhh!" ucapan Lucy terhenti di ujung keronkongan. Sting menutup mulut itu menggunakan tangan kanan, kemudian dilepas dan dengan paksa mencium bibir kemerahannya menekan ke dalam

"Hah … hah … Sting … kau … apa … apa ... maksudmu?"

"Payah sekali. Padahal belum sampai tiga menit. Ya, biarlah, tubuhmu akan menggantikannya untukku"

Satu per satu jari Sting melepas kancing seragamnya, menindih perut datar Lucy yang kesulitan memasok oksigen. Jelas ia ketakutan, seorang cowok hendak melakukan pemerkosaaan, di daerah sekolah ketika guru-guru sibuk membimbing ekskul! Namun bukan berarti pasrah, diam-diam merogoh hand phone dalam kantong rok guna menghubungi polisi, tetapi dihentikan salah seorang anggota yang bergerak sedetik lebih cepat.

"Tidak Sting … jangan …. KUMOHON JANGAN!" erang Lucy memberontak keras, sampai menitihkan air mata yang tercekat di ujung pelupuk. Sting tertawa keras, hasratnya untuk 'bermain' pun tak lagi terbendung, usai melihat tubuh semampi itu hanya berbalut pakaian dalam

"Ambulan tidak akan datang. Tubuhmu milikku seutuhnya, Lucy Heartfilia"

Sementara Zeref ….

Sesampai di rumah sakit terdekat, Zeref meminta suster membawa ranjang beroda, untuk membaringkan tubuh ringkih Natsu yang butuh pertolongan, lalu mengikuti staf kesehatan dan terhenti di hadapan pintu UGD, tempat di mana kematian dan kehidupan saling beradu satu sama lain. Ia duduk di ruang tunggu, memainkan jari gelisah harap-harap cemas menanti kabar. Terkadang sulit mempercayai dokter, mengingat harapan hidupnya tinggal dua tahun bahkan satu bulan.

"Aneh, kenapa Lucy tak kunjung datang bersama ambulan?" batinnya menghubungi nomor telepon wannta pirang itu, namun sekian lama menunggu, justru suara operator yang menyambut hangat. Menyuruh Zeref meninggalkan pesan suara karena gagal terhubung

"Lucy, apa kamu baik-baik saja? Natsu sudah mendapat penanganan, bagaimana keadaanmu sekarang?"

Firasatnya sangat buruk. Satu setengah jam berlalu dan kabar Lucy masih samar-samar. Tengah didera lamunan, ia kaget bukan kepalang mendengar bunyi nyaring dalam saku celana, membuat puluhan pasang mata menatap tajam karena menganggu ketenangan rumah sakit. Zeref erat menggengam ponsel, apa lagi diinterupsi suara bartion Sting yang tiba-tiba terdengar mengancam.

"Selamat sore kakaknya pecundang. Sekarang keperawanan Lucy telah kurenggut, dia tidak pantas lagi menjadi istri adikmu yang pincang itu, hahahaha!"

BRAKKK!

"Sialan! Setelah Natsu kau ikut melibatkan Lucy?!" langkah kaki Zeref membawanya keluar rumah sakit, menuju gudang sekolah yang dihuni geng Sting dengan aksi keji mereka

"Apakah keluarga Dragneel di sini? Halo, anda bisa mendengarku?!"

Rencana Sting yang sesungguhnya sudah dimulai, semenjak pemerkosaan terhadap Lucy dilakukan dan diberitaukan terang-terangan. Otomatis Natsu terlupakan, ia dipaksa terbaring melawan maut sendirian, sementara dokter Makarov sibuk mengurus pasien di kamar lain. Berluap amarah Zeref menendang pintu gudang kasar, mendapati pria brengsek itu menyeringai puas, melihat sang mantan pacar diserang trauma berat.

"Keterlaluan! Apa maksudmu memperkosanya?! Lucy tidak bersalah, justru kalian yang harus minta maaf! Tidak akan kubiarkan kau berbuat lebih jauh!" mendadak ekspresi wajah Zeref berubah, menyadari hand phone yang ia kantongi lenyap tak bersisa

"Mencari benda ini, kakak pecundang?" tanya Sting melempar ponsel tersebut di udara. Sengaja menjatuhkannya lalu diinjak hingga hancur berkeping-keping. Zeref mendecih kesal, pintu keluar tertutup rapat, dan ia dihadang dari berbagai arah oleh mereka berenam

"Kak Zer tidak bersalah! Sting, aku mohon jangan menghajarnya, kalian boleh melakukan apa pun. Jadi, jauhilah dia sekarang juga!" dramatisasi yang indah, begitulah si pirang pucat menganggap pembelaan Lucy, walau di matanya semua itu tak berarti selain sampah busuk

BUAKKKK!

Zeref tak tanggung-tanggung melayangkan pukulan, membuat Sting yang terkapar kembali bangkit berdiri. Terjadi pertarungan sengit di antara mereka, meski sang pemenang telah diketahui, bahkan sebelum baku hantam dimulai secara resmi. Sesuai perhitungan, ia jatuh duluan akibat diserang pening, membuat sikap semena-mena ketua geng naik ke permukaan seutuhnya. Sebelah alas kaki itu menginjak dada korban yang nyaris kehabisan nafas, tersengal-sengal berupaya menahan rasa sakit.

"Kelinci menantang singa, lelucon yang lucu sekali Zeref Dragneel. Aku, sih, maklum, kalian kakak-adik memang ditakdirkan sebagai badut, hahaha …."

"Perjuangan Natsu tidak untuk ditertawakan! Iblis sepertimu mana mungkin mengerti, hanya bisa tertawa di atas penderitaan adikku tanpa memikirkan perasaannya!"

"Cerahamu benar-benar membosankan. Lebih baik kau tutup mulut" sebilah pisau mengarah tepat ke bola mata Zeref. Membuka kelopaknya lebar-lebar lalu dicongkel perlahan, menyebabkan ia meringis kesakitan sambil mengigit bibir nyeri

"Baiklah, akan ku simpan kemudian diperlihatkan pada Natsu. Hoi Jackal, cepat ambil toples dan sembunyikan di tempat aman, mengerti?!"

"Siap laksanakan boss!"

Anak buahnya yang bernama Jackal pergi, bertepatan dengan kedatangan Gildarts-sensei bak pahlawan kesiangan. Hampir tiga jam berlalu, di mana kata terlambat pantas, menggambar kondisi mereka bertiga yakni korban itu sendiri. Natsu keburu dilarikan ke rumah sakit. Lucy kehilangan kebanggaannya sebagai wanita, sedangkan Zeref dipaksa merelakan sebelah bola mata. Sisa pelaku digiring ke kantor polisi, termasuk Sting yang masih bisa tersenyum jahat.

"Ikutlah bersama kami untuk diintrogasi" pinta seorang polisi berambut gondrong menepuk bahu Zeref. Menunjuk mobil bersirine merah yang terpakir rapi di luar gerbang

"Maaf, saya harus mengunjungi adik di rumah sakit. Apa tidak bisa besok saja?"

"Ah tentu! Biar nona pirang, yang mewakilimu memberi keterangan di kantor polisi"

"Tidak bisa. Aku … aku adiknya, kondisi kakakku sangat memprihatikan. Ja-jadi, tolong berikan kami sedikit kelonggaran" keadaan mendesak Lucy agar berbohong. Dia takut membeberkan kebenaran, sedangkan Sting sudah mengantisipasi menggunakan ancaman maut

"Bukan masalah besar. Sepulang dari rumah sakit, temui saya di kantor polisi jalan Magnolia, oke?"

"Uhm! Terima kasih banyak atas pengertiannya"

Syukurlah polisi tidak terlalu mendesak. Mereka berjalan beriringan melintasi persimpangan, larut dalam pikiran masing-masing mengenai banyak hal. Zeref dilanda bingung, bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada Natsu. Sementara Lucy frustasi, apa yang harus ia perbuat dengan kehidupan baru dalam janinnya. Tuhan justru menambah masalah, bukan mengurangi lebih-lebih menghilangkan. Nanti apa? Rentetan berita buruk? Terror dari Sting?

"Natsu menunggumu sedari tadi. Pergilah ke kamarnya di lantai tiga nomor …. tu-tunggu sebentar, matamu kenapa?!"

"Tolong jangan ceritakan pada siapapun. Dokter punya penutup mata? Aku pinjam sebentar" prioritas utamanya adalah sang adik. Mengingat kondisi mental Natsu yang rapuh, tentu Zeref memikirkan dampak beberapa waktu ke depan. Kehamilan Lucy pun patut dirahasiakan, jika tidak ia pasti menyalahkan diri secara berlebihan

"Kau berhutang penjelasan, Zeref. Jenguklah Natsu, setelah itu ikut denganku untuk diperiksa. Nomor kamarnya tiga ratus lima!"

Kebetulan lift sepi, mereka naik ke lantai tiga mengunjungi kamar rawat di tembok paling ujung. Zeref mendapati adiknya tengah memandang jendela, langit gelap bertabur bintang kesukaan lelaki salam itu. Ia duduk di tepi ranjang, mengelus sayang kumpulan surai yang hari ke hari semakin tipis. Sepasang onyx itu menyiratkan sendu lewat tatapannya, meraba-raba wajah sang kakak sembari menyungging seulas senyum.

"Kakak kemana saja? Aku menunggumu sangat lama …."

"Ada banyak urusan di luar. Lihat, Lucy juga datang menjengukmu. Kau belum mengucapkan halo" jujur, Zeref agak curiga mendapati bola mata Natsu sedikit memudar. Dia ingat betul harus mengunjungi dokter Makarov di ruangannya, pasti ingin menyampaikan sebuah kabar

"A-apa Sting-san melakukan sesuatu terhadapmu? Air muka Lucy-san terlihat pucat"

"Temani dia, oke? Aku ingin menemui dokter Makarov untuk menanyakan keadaanmu"

Pintu persegi panjang Zeref ketuk sebanyak tiga kali. Dokter Makarov terlihat membaca seberkas dokumen, dengan amplop cokelat panjang bertuliskan 'Natsu Dragneel'. Beliau memperlihatkan hasil ronsen tempurung kepala dan tulang kaki, yang diadakan dua jam lalu sebelum ia siuman.

"Kankernya kambuh lagi, dua hari ke depan Natsu harus tinggal menjalankan kemoterapi. Yang terakhir, ada kemungkinan dia buta permanen. Saya menemukan kepalanya cedera akibat terbentur tembok. Apa selama di rumah atau sekolah terjadi sesuatu?"

"Buta kata dokter? Natsu sempat disekap dan dihajar habis-habisan oleh Sting, mungkin itu penyebabnya …. te-terus bagaimana? Apa tidak bisa melakukan donor mata?" masa depannya dipertaruhkan sekarang. Dia baru mulai, tetapi kenapa Tuhan begitu kejam?

"Saya rasa mustahil. Zer, harapan hidup Natsu tak sampai satu tahun, ia membutuhkan keajaiban jika ingin lulus SMA. Kemarilah, matamu harus diperiksa" sekejap raut wajah dokter Makarov berubah, terlebih tanpa sengaja melihat luka yang mengenai belakang kepalanya

"Apa kau ingat ulang tahun Natsu?"

"Kenapa dokter bertanya? Bukankah tanggal sepuluh Juli?" mulutnya mendadak kaku. Entah kenapa ia merasa melupakan sesuatu. Semakin diingat pening justru menyengat ganas. Zeref ketakutan, sebenarnya dokter Makarov menyembunyikan apa?

"Minggu besok ada acara apa?"

"Kami sekeluarga merayakan ulang tahun Natsu? Jalan-jalan ke kota Crocus? Makan ikan goreng kesukaannya?"

"Ternyata benar dugaan saya, kamu amnesia Zeref. Untuk sekarang belum parah, selanjutnya waspadalah. Kau bisa lupa kapanpun"

Hah …. betapa lucu hidup mempermainkan manusia. Ia pamit meninggalkan ruang kerja Makarov, balik mengunjungi Natsu yang asyik membaca catatan ekonomi. Lucy tidak lagi berada di sana, suster memberitau jika wanita pirang itu izin ke kamar mandi, dan Zeref tau penyebabnya. Waktu mereka tinggal sepuluh menit, polisi menelpon untuk segera datang melakukan introgasi. Akhir-akhir ini banyak kasus kejahatan, yang berbahaya belum diketahui bagaimana rupa dan motif sang pelaku.

"Gray-san merangkumnya khusus untukku. Besok ulangan ekonomi, aku harus mendapat nilai bagus supaya dia tidak kecewa"

"Teman barumu? Wajahnya seperti apa? Kau membuat banyak kemajuan ternyata"

"Kak, Lucy-san pernah bercerita kalian bertemu di rumah sakit ketika aku pingsan. Ada apa denganmu? Jika banyak pikiran katakan saja" sial, aku langsung melakukan kesalahan! Batin Zeref menggertakkan gigi kesal, berniat membelok arah pembicaraan guna menutupi kenyataan

"Mulai besok kamu harus menjalani kemoterapi. Tidak ada ulangan ekonomi atau pelajaran Yajima-sensei, tinggallah di rumah sakit sampai kankernya lenyap"

"Kemo …. terapi?"

Mimpi buruk sesungguhnya telah dimulai bagi Natsu. Terkurung di kamar, disiksa obat-obatan kimia, menghirup udara bercampur antiseptik, sendirian ketika malam tiba dan yang terburuk ….

"Keluarlah dari SMA Fairy Tail. Kakak tidak mau kamu terlukai lebih dari ini"

Bersambung ….

A/N : Maaf kagak ada kata2 cetak miring, author bingung mau nulis apaan wkwkw.

Balasan review :

Fic of Delusion : Jangan ucapkan sampai jumpa dulu, masih panjang umur dia. Oke thx ya udah review.

Kaoru Dragneel : Kalo Gray kagak baik2 kesian Natsu, musuhnya banyak banget. Dan sekarang kekesalanmu terhadap Sting pasti bertambah, aku yakin. Thx ya udah review.