.
.
Ada beberapa hal yang telah kulupa tapi kau membantuku mengingatnya. Saat aku mengingatnya kau malah menjauhiku. Tanpa sebab yang jelas kau melenyapkan diri dariku.
NARUTO BELONG TO MASASHI KISHIMOTO
warning : TYPO, Don't like don't read
.
COUNTDOWN
(menghitung mundur)
Awan-awan berkumpul membentuk gulungan kapas yang begitu lembut. Mereka bersatu-padu mengikuti arah angin. Awan-awan itu menutupi keindahan langit malam. Bintang-bintang disembunyikan dan gerimis mulai membasahi kediaman itu. Setitik lalu diikuti titik-titik lainnya. Hanya memberikan kesan basah tanpa membanjiri kediaman itu. Entah apa maksud dari fenomena alam itu.
Angin sepoi-sepoi berhembus ke seluruh bagian kediaman itu. Memasuki setiap tempat yang tak berujung tanpa meredakan hembusannya. Masuk dan keluar. Melewati cela dan memenuhinya tanpa terlewatkan sedikitpun. Mendinginkan manusia-manusia yang berjaga di tengah malam. Membuat udara menjadi semakin tak karuan. Manusia-manusia itu semakin gelisah ditimpa hembusan angin sepoi-sepoi dan gerimis yang berupa titik-titik kecil.
Anak-anak bayi di seluruh kota menangis serentak di subuh hari. Membangunkan orangtua mereka yang lelah beraktivitas saat petang hari. Memaksa mereka untuk menidurkan mereka kembali. Memaksa mereka untuk memperhatikan bayi-bayi yang menangis serentak itu.
Tidak ada yang berbeda dengan kediaman agung Hyuuga. Putri bungsu mereka tadinya tertidur amat nyenyak digendongan bibinya akan tetapi angin sepoi-sepoi yang mengenai permukaan kulitnya membuat dirinya terbangun. Bayi cantik itu menangis dan meraung tiba-tiba. Bibinya dibuat kaget dengan teriakannya yang begitu menyiksa telinganya. Bibinya berusaha menenangkan bayi yang berada dalam gendongannya. Mencoba tidak panik dengan segala kekacauan yang begitu tiba-tiba.
Wanita itu berada di barisan ke delapan. Dilindungi oleh seluruh abdi-abdi terbaik klan Hyuuga. Abdi-abdi yang rela mengorbankan nyawanya untuk keluarga inti Hyuuga. Yang rela kehilangan segalanya. Dan yang rela kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Barisan ke delapan. Wanita itu duduk dan menenangkan bayi cantik itu. Hatinya tidak tenang. Sesuatu yang buruk terus-menerus menyelimuti hatinya. Instingnya buruk dan jiwanya seakan terbang menuju langit. Badannya gemetaran dan air matanya tumpah tiba-tiba. Dalam keadaan yang tak dimengertinya dia menenangkan Bayi cantik itu. bayi yang masih meraung-raung tanpa sebab yang jelas.
"Apa suamiku baik-baik saja?" Tanya wanita itu pada seorang dayang. Dayang itu tidak diam. Dia tidak berucap apapun. Dia melihat nyonyanya dengan tatapan sendu. Siapapun tahu kalau fenomena alam ini menandakan sesuatu hal buruk telah terjadi.
Wanita itu tidak bertanya lagi. Dia hanya menangis dengan bayi yang tidak henti-hentinya meraung dalam dekapannya. Dia tidak perlu memastikan apapun. Alam telah memberitahunya dengan caranya yang tidak biasa. Memberitahunya untuk bersiap menerima kesedihan.
Pipinya basah. Air mata mengalir deras. Dan sesenggukan mengisi malam itu. membuat dayang dan prajurit yang berada dalam jangkauannya menangis dalam hati kala mendengar sesenggukan yang dipaksakan untuk tidak bersuara.
...
"Heh? Hanya ini?" Putri sulung otsutsuki mengambil nafas panjang. Di tersenyum meremehkan tantangan adik iparnya, "Aku bahkan membuat adikku menjadi abu. Bisa saja kau kubuat menjadi debu." Ejeknya pada tantangan adik iparnya.
"Tch. Sombong sekali. Kalau kau memang sangat hebat harusnya kau membunuh monster terlebih dahulu sebelum diriku yang lemah ini." Permaisuri merendahkan diri. dia ternsenyum lemah pada kakak iparnya. Wajahnya gusar.
Atau sengaja dibuat seperti itu. mungkin. ah, entahlah.
"Hahaha... kau menjebakku? Tapi boleh juga. Aku akan mengurus monster-monster ini." Putri sulung Otsutsuki melepaskan tangan suaminya yang bersandar di belakang lehernya. Mendudukkan suaminya yang setengah sadar. Mereka saling duduk dan berhadapan. Wanita itu membersihkan dan merapikan pakaian suaminya. Mencium keningnya dan tersenyum tulus ke arah suaminya yang berada di depannya lalu Ia berdiri dan menghadap ke arah monster mengerikan.
Putri sulung Otsutsuki mengucapkan mantra dan membuat suatu segel. Segel yang tidak pernah dilihat oleh monster-monter mengerikan itu.
"Lari Toneri! Bawa Hinata bersamamu!" Toneri tersentak. Gerakannya tak karuan menuju Hinata yang berada dalam dekapan Ibundanya. Ibunya juga berlari tak karuan ke arahnya. Memberikan Hinata yang memberontak dalam dekapannya.
"Lepaskan aku! Kaa-san! Kaa-san!" Air mata kembali turun dari mata lavender Hinata. Ia menjerit tak karuan. Badannya yang belum sepunuhnya beristirahat kini dipaksakan untuk bergerak. Dia berontak dalam dekapan Permaisuri lalu berpindah ke gendongan Toneri. Toneri yang masih berumur belia meringis menahan berat badan Hinata sekaligus gerakan tubuhnya yang berontak tak karuan.
Istri Hiashi atau Putri sulung Klan Hyuuga menatap penuh amarah pada permaisuri itu. Dia melihat dengan jelas putrinya digendong bagaikan barang tidak berguna. Dia juga melihat putrinya meraung kesakitan. Hatinya semakin panas. Dia tidak terima perlakuan kasar terhadap putrinya itu!
Semua aktivitas tiba-tiba berhenti.
Baik itu Toneri yang akan berlari menjauhi pertarungan dan Ibunya yang menutup lorong perginya Toneri. Mereka terdiam dan melihat ke asal suara. Tubuh mereka gemetaran. Apalagi Toneri yang kelihatan pucat tiba-tiba.
Apa yang dilihat semua orang adalah sesuatu yang mengerikan. Istri pemimpin klan Hyuuga diselimuti aura gelap. Suara-suara aneh menyelimuti wanita itu. mereka seakan bernyanyi sembari mengitari tubuh Wanita itu.
"Heh? Kaget? Kalian harus kaget. Ini segel terlarang. Oh iya, ini segel terkutuk. Segel yang meminjam kekuatan Iblis. Benarkan adik iparku?" mata wanita itu tak lavender lagi. Matanya berwarna amethyst dan dua tanduk menyerupai tanduk benteng muncul perlahan di kiri dan kanan dahinya. Buku-buku jarinya meruncing dan berwarna Amethyst gelap. Lalu muncul ekor berduri panjang mengelilingi badannya. Ujung ekor itu menyerupai anak panah tapi yang ini berduri.
Bahkan Hiashi langsung melebarkan matanya melihat Istrinya yang berubah menjadi monster. Pikirnnya tak menentu. Dia terlalu terkejut. Dia tidak percaya ini. istrinya memakai segel iblis? Segel terkutuk pun terlarang? Kenapa? Oh tidak.. kenapa? Hiashi hanya bisa menangis dalam diam.
Lalu suara-suara langkah kaki menggema memasuki lorong rahasia itu. rupanya sisa monster datang membantu menyelamatkan Permaisuri dan Putra mahkota. Hiashi yang melihat kedatangan monster-monster itu semakin menangis tanpa suara. Kepalanya dia tundukkan dalam-dalam. Air mata mengalir deras dan deru nafasnya tak karuan. Adiknya.. adiknya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Adiknya pasti mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Bagaimana caranya dia mengatakan pada Neji bahwa ayahnya meninggal karena dirinya? Oh tidak. Ini sangat menyedihkan.
Monster itu tersisa dua mahluk saja. mereka berhenti kala melihat wanita yang berada di depan mereka tengah memancarkan aura yang begitu gelap dan ruh-ruh tengkorak yang bersambung ekor hitam amethyst yang menyerupai belut mengelilingi wanita itu. membisikkan mantra-mantra iblis pada wanita itu.
Wanita itu melihat mereka dari ekor matanya. Tiba tiba gumpalan bulat hitam keluar dari setiap ruh-ruh itu. gumpalan-gumpalan itu mengelilingi badannya. Dan salah satu dari gumpalan itu menyerang monster yang berada di belakangnya.
Suara ledakan menggema dalam lorong itu. mungkin dengan beberapa ledakan lorong itu akan runtuh dan menjalar menghancurkan lorong lainnya. Sebelum hal itu terjadi ibu Hinata berusaha mengeluarkan Hinata dari lorong itu.
Setelah asap mereda dia melihat monster itu sekarat. Mungkin akan lama memusnahkan enam monster dalam lorong pengap dan kecil itu.
Wanita yang diselimuti kegelapan mengeluarkan api hitam dari tangannya. Api itu dia arahkan ke atas tubuhnya. api itu menjalar ke seluruh lorong. Api itu berubah menjadi segel penahan runtuhnya lorong-lorong tersebut. Wanita itu nampak kelelahan. Sebutir keringat lolos melewati pelipisnya. Segel penahan robohnya lorong menguras seperempat energinya.
Tanpa aba-aba monster-monster mengerikan itu menyerang secara bersamaan ke arah wanita itu. wanita itu menyeringai. Ujung bibirnya tertarik ke atas. Senyum mengejek dia nampakkan pada seluruh monster-monster itu. "Kau pikir bisa mengalahkanku dengan mudah? Tch, Akan kubuat ini menjadi sulit." Wanita itu melihat satu-persatu monster diikuti gumpalan amethyst yang menyerang setiap monster itu.
'aku harus membuat ini selesai lebih cepat' batin putri sulung Otsutsuki dan menembakkan lebih banyak gumpalan hitam amethysy miliknya ke setiap monster-monster itu.
Empat monster tumbang. Dia harus memusnahkan dua monster lagi. Monster itu sangat gampang dikalahkan. Mereka sekarat dan tidak butuh waktu setengah menit mereka akan tumbang.
Tapi itu tidak berjalan sesuai rencana. Monster berdatangan dari ujung lorong tempat Toneri melarikan diri. Toneri telah menghilang. Dia lengah. Hinatanya telah dibawa lari oleh bocah ingusan. Bocah itu meninggalkan permaisuri seorang diri. Permaisuri duduk tenang. Dia lega karena bantuan monster kini datang.
"Maafkan kami Yang Mulia Permaisuri. Kami berada di pulau seberang. Untung saja insting kami mengatakan hal buruk akan terjadi jadi kami membuka portal dan langsung ke sini. Dan benar saja, wanita iblis tengah menyerang Paduka Raja dan menewaskannya." Jelas seorang Monster yang terlihat seperti pemimpin para monster. Permaisuri hanya mengangguk. Dia tidak butuh penjelasan. Dia tidak ingin mendengar kematian suaminya. Dia ingin terfokus menyelamatkan putra semata wayangnya. Dia juga terfokus menyembunyikan Hinata. Hinata tidak boleh berada di tangan Ibunya. Selain karena menginginkan seorang bayi perempuan permaisuri sebenarnya membutuhkan kekuatan gadis itu untuk kepentingan kerajaan.
"Sebagai balas budi kami terhadap Raja karena telah melindungi bangsa kami selama berpuluh tahun dan menyembunyikan Istri dan anak kami dari perburuan cenayang maka dengan senang hati kami akan merelakan nyawa kami untuk menyelamatkan Permaisuri dan Putra Mahkota." Seru monster yang terlihat seperti pemimpin monster itu. "Serang!" serunya lagi memberi aba-aba pada kawanannya.
Wanita itu tersenyum meremehkan. Dengan sangat gampangnya dia menghancurkan setiap monster yang berlari mendekatinya. Bukan hanya gumpalan api yang melesat ke arah monster itu melainkan gumpalan api dikelilingi petir dan memiliki inti merah yang sangat mematikan tengah menyerang monster-monster itu.
Hanya satu kali tembakan monster-monster itu tumbang dan menyisakan abu.
Monster-monster yang tadinya berjumlah delapan puluh mahluk ditambah dua mahluk sekarat kini tinggal sepuluh saja. mereka adalah monster-monster terkuat karena bisa bertahan dan menghindari serangan putri sulung klan Otsutsuki.
Putri Otsutsuki tersenyum meremehkan. Dia meninggalkan sebuah penghalang gaib menyerupai jeruji besi antara dirinya dan monster-monster itu. Monster-monster itu menyerang dan merusak penghalang gaib itu tapi semakin monster itu merusaknya semakin lelah dirinya.
Putri sulung klan Otsutsuki berjalan menemui suaminya. Dia duduk berhadapan suaminya. Dia tersenyum sambil memegang rahang suaminya. Mengangkat pelan rahang itu dengan kedua tangan yang berada di kiri dan kanan muka suaminya. Dia tersenyum amat tulus.
"Energi alamku sudah terisi kembali." Hiashi merasakan energi masuk dari kedua tangan istrinya. kedua tangan yang mengelus rahangnya memberikan energi yang sangat besar. Dia tersenyum menatap Istrinya yan amat kuat itu. Istrinya juga tersenyum ke arahnya. Menatap pupil matanya dan mengusap bekas air matanya.
"Kenapa kau memakai kekuatan ini?" Hiashi menatap tajam Istrinya. senyumannya menghilang dan raut mukanya dipenuhi ketidaksukaan, "Maafkan aku." jawab Istrinya. Istrinya menatapnya sendu. Mengelus pelan muka Hiashi yang dipenuhi lebam dan goresan, "Hei.. kalau aku pergi kumohion untuk menjaga anak kita sebaik diriku menjaga mereka."Istrinya meminta sesuatu yang amat menyanyat hatinya. Kalimat itu bagai salam perpisahan.
Bagaimanapun dia tidak dapat menyelamatkan Istrinya. Dia memakai kekuatan iblis dan tidak ada satupun manusia yang bisa menolong Istrinya termasuk dirinya.
TBC
