"Ada apa denganmu?"
Wonwoo segera memasukkan ponselnya kedalam kantung celana. Ia tersenyum kecil kearah Soonyoung.
"Aku baik-baik saja" Jawabnya berusaha senatural mungkin.
Soonyoung mendekat dan menyipitkan matanya. "Pipimu… memerah" Ujarnya, lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Wonwoo.
"Apa yang kau bicarakan? Pipiku memerah karena cuacanya sangat dingin hari ini" Elak Wonwoo dengan suara semantap mungkin. Agar Soonyoung tidak curiga.
"Baiklah, sepertinya cuaca hari ini memang dingin" Ujar Soonyoung kemudian, ia duduk dikursinya untuk melanjutkan bacaannya.
Wonwoo melirik sekilas kearah Soonyoung yang sudah fokus pada buku, akhirnya ia bisa bernafas lega.
"Apa benar pipiku memerah?"
Lalu tangannya kembali merogoh ponsel yang ada dikantung, kemudian memakai benda itu sebagai cermin untuk mengecek pipinya yang katanya memerah oleh Soonyoung.
"Warna pipimu sudah normal, tidak merah seperti tadi" Wonwoo perlahan meletakkan kembali ponselnya diatas bangku. Soonyoung berbicara tanpa menatap Wonwoo, lalu bagaimana anak itu tahu kalau Wonwoo sedang berkaca memakai ponselnya.
Belum sempat membalas ucapan Soonyoung, Jihoon datang dan berdiri diambang pintu dengan tangan menyilang didepan dada.
"Kenapa lama sekali? Kau bilang hanya sebentar" Ujarnya dengan nada protes. Wonwoo menepuk pelan dahinya, ia lupa kalau Jihoon sudah menunggunya diperpustakaan untuk mengerjakan tugas bersama.
"Ayo Wonwoo-ie!" Jihoon berjalan menuju bangku Wonwoo lalu menarik namja itu untuk ikut bersamanya. Soonyoung meletakkan bukunya diatas bangku, ia menatap sebal kearah Jihoon.
"Suaramu… astaga" Keluh Soonyoung dengan tatapan tidak suka. Jihoon langsung menghadiahinya death glare.
"Kau diam! Dasar pirang hyperactive!" Balasnya dengan sinis. Soonyoung menguap sebagai balasan, ia bangkit dari kursinya.
"Dasar kekanak-kanakan" Ucap Soonyoung dengan santai sebelum keluar kelas.
Jihoon menatapnya berang. Siapa yang senang dikatai kekanak-kanakan.
"Kau lebih kekanak-kanakan! Dasar menyebalkan!"
Wonwoo menepuk bahu Jihoon, berusaha menghentikan teriakan namja mungil itu.
"Sudahlah, lebih baik kita keperpustakaan" Jihoon hanya bisa merengut kecewa, padahal ia masih ingin meneriaki Soonyoung. Akhirnya ia menurut saja, giliran Wonwoo yang menariknya untuk pergi keperpustakaan.
.
.
.
.
Wonwoo meletakkan kacamata bacanya diatas nakas, ia baru saja selesai membaca sebuah buku. Tangannya bergerak untuk meraih ponsel yang ada dibawah bantal, sebuah pesan masuk.
Ia berdecak saat membaca pesan diponselnya. Sebuah pesan dari Mingyu dua jam yang lalu.
"Tidak penting" Gumamnya setelah meletakkan ponsel diatas nakas. Mingyu selalu saja mengirimi pesan setiap detiknya, ia curiga anak itu absen hanya untuk berlibur di Gyeonggi-do. Tidak bisa dibiarkan.
Drttttt
Tangan Wonwoo kembali meraih ponselnya, sekarang panggilan masuk dari Kim Mingyu. Ia berdecak malas lalu mengangkatnya.
"Ada apa lagi?"
"Jangan mengabaikanku" Wonwoo memutar mata malas.
"Jangan membuang-buang waktu, kau tahu ini sudah malam. Aku harus tidur" Keluh Wonwoo, ia menarik selimutnya yang ada dibawah kaki.
"Seharusnya kau membalas pesanku, aku khawatir, kau tahu?"
Wonwoo menguap sebentar. "Baiklah terimakasih karena sudah mengkhawatirkan ku Kim. Aku benar-benar tersanjung" Ucapnya dengan malas, diseberang Mingyu berdecak.
"Aku serius," Wonwoo hanya bisa tersenyum kecil mendengar suara Mingyu diseberang yang bernada protes sekaligus jengkel.
"Aku juga serius, asal kau tahu aku benar-benar mengantuk" Balas Wonwoo kemudian, ia menatap jam dinding dikamarnya, sudah pukul sepuluh malam tepat.
"Arraseo, aku tahu kau mengantuk. Tapi jangan mengabaikanku lagi! Kau harus membalas pesanku, kau harus mengangkat panggilanku dengan cepat," Wonwoo mengerutkan alis tidak suka. Memaksa sekali Mingyu ini.
"Ya! Kenapa harus begitu?" Protesnya tidak terima. Wonwoo paling anti jika dipaksa-paksa, apalagi oleh namja Kim satu itu.
"Karena menunggu itu sangat menjengkelkan. Apalagi setelah menunggu lama ternyata diabaikan. Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku disini, aku selalu memikirkanmu setiap detik"
"…." Wonwoo hanya bisa bergeming. Tidak sadar ia malah meremas ujung selimutnya.
"Aku benar-benar ingin pulang, aku ingin bertemu dengan mu, Wonwoo-ya."
Wonwoo tidak tahu harus berkata apa. Sudah dua kali dalam sehari ini ia mengangkat telpon Mingyu, dan sudah dua kali banyaknya Mingyu berkata merindukannya.
"Tidurlah, ini sudah malam" Wonwoo menekan icon merah dilayar ponselnya. Panggilan terputus secara sepihak olehnya. Segera ia menonaktifkan ponsel tersebut, lalu meletakkannya diatas nakas.
Wonwoo mengusap wajahnya gusar. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kemana sikap benci dan antinya pada Kim Mingyu selama ini, kenapa ia seolah-seolah mulai menerima kehadiran Mingyu dalam kehidupannya.
Seharusnya Wonwoo ingat, bahkan semenjak ia bertemu dengan Mingyu untuk pertama kalinya, permasalahan silih berganti datang. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam. Tangannya terkepal dengan erat kemudian, mengingat bagaimana muaknya Wonwoo pada hal yang pernah dialaminya tersebut.
Walaupun rasa menyesal dan beribu-ribu kata maaf akan Mingyu berikan nantinya, semua itu tidak akan bisa menghapus rasa sakit, kecewa, dan kehilangan yang Wonwoo alami dahulu.
.
.
.
.
Tiga hari kemudian Mingyu kembali bersekolah seperti biasanya. Pagi-pagi sekali ia sudah pergi kesalah satu minimarket dua puluh empat jam untuk membeli banana milk dan roti. Ia berencana akan memberikan makanan dan minuman tersebut pada Wonwoo.
Setelah memasuki area sekolah, Mingyu melihat sosok Wonwoo yang baru saja memasuki ruang kelas. Segera ia berlari kecil untuk menyusul.
Mendengar derap kaki yang bergema, Wonwoo memutar badannya.
"Kau sudah sarapan?" Mingyu langsung bertanya to the point pada Wonwoo.
Namja emo itu menatapnya datar lalu mengangguk. Wonwoo tidak akan bersikap sama seperti hari-hari kemarin. "Tapi wajahmu pucat, apa kau kurang tidur?" Kembali Mingyu menyerukan pertanyaannya.
"Bukan urusanmu" Jawab Wonwoo lalu berjalan menuju bangkunya. Mingyu menyernyit bingung dengan sikap Wonwoo.
"Hey, ada apa? Apa kau ada masalah?" Tanya Mingyu lagi mengekor dibelakang Wonwoo. Mingyu menanti dengan setia, Wonwoo baru tiba dibangkunya dan melepas ransel.
"Wonwoo–"
"Ada quiz" Potong Wonwoo saat baru saja duduk dikursinya. Mingyu tahu Wonwoo ingin mengalihkan pembicaraan. Bahkan namja emo itu sudah mengeluarkan buku sastra inggrisnya.
"Aku mau belajar" Lanjut Wonwoo lagi dengan pandangan fokus kebuku. Mingyu menghela nafas.
"Baiklah" Balasnya. Mungkin pagi ini Mingyu tidak bisa memberikan banana milk serta roti yang sempat dibelinya untuk Wonwoo. Ia bisa memberikannya pada siang hari.
"Kalau begitu semangat!" Ucapnya lagi sebelum beranjak kebangkunya. Melepaskan ransel, lalu meninggalkan Wonwoo seorang diri dikelas. Mingyu harus bertemu teman-teman sehidup sematinya.
Beberapa detik kemudian Wonwoo menutup bukunya. Ia mengusap wajahnya gusar, hatinya benar-benar bimbang saat ini.
"Hyung!" Wonwoo menoleh kearah pintu, disana sudah ada Seungkwan, Minghao, Chan, dan Dongjin.
"Ayo belajar bersama" Lanjut Seungkwan dengan cengiran khasnya. Wonwoo tersenyum kecil sebelum beringsut dari kursinya. Ia tidak bohong tentang quiz hari ini pada Mingyu. Ia berkata jujur, yah jujur tentang hal itu saja.
"Baiklah, bagaimana kalau diperpustakaan?"
.
.
Mingyu menatap punggung Wonwoo yang semakin menjauh. Ia menggeram kesal, seharian ini Wonwoo menghindarinya. Bahkan saat ia menawari Wonwoo untuk pulang bersama, namja itu menolak dengan singkat dan terkesan cuek.
Mood Mingyu langsung jatuh kedasar bumi. Ia benar-benar kesal.
"Kau tidak pulang?" Seungcheol berucap saat baru saja keluar dari kelas dan mendapati Mingyu masih berdiri didekat pintu kelas seorang diri. Dibelakangnya ada Jihoon, Jisoo, dan Jeonghan.
"Sekarang hyung" Jawab Mingyu.
Seungcheol mengangguk paham. "Baiklah, kami tinggal ne? Annyeong" Setelahnya keempat orang itu pergi meninggalkan Mingyu.
"Aku harus pergi kerumahnya" Gumam Mingyu kemudian setelah keempat orang itu hilang dibelokan koridor sekolah. Ia segera mengeratkan pegangan pada tali ranselnya, lalu berlari.
Mingyu bergegas untuk pergi kerumah Wonwoo. Mungkin disana ia bisa mengobrol leluasa dengan namja emo itu. Dan mungkin akan bertanya sedikit mengenai perubahan sikapnya yang kembali dingin dan cuek.
Butuh waktu lima belas menit menuju kediaman Wonwoo, untungnya bus yang akan ditumpanginya tidak ngaret. Saat sampai, Mingyu langsung memencet bel tanpa berpikir dua kali.
Cklek
"Oh? Mingyu-nie?" Mingyu membungkuk hormat dihadapan kekasih ayahnya.
"Imo, bolehkah aku makan malam disini?" Mingyu hanya punya satu alasan jika berkunjung kesini, yaitu makan malam. Padahal tujuan sesungguhnya bertemu Wonwoo.
"Kau tidak perlu memintanya, rumah ini rumahmu juga Mingyu-ya. Ayo masuk" Setelah dipersilahkan masuk oleh wanita baya yang masih cantik diumurnya yang sudah kepala empat itu, Mingyu segera mengekori dibelakang.
Suasananya masih sama. Tenang dan hangat.
"Duduklah. Ah! Atau kau ingin menemui Wonwoo? Wonwoo ada dikamarnya, kau langsung saja kesana. Imo rasa jika menunggu disini akan membosankan" Saran wanita itu, setelah itu ia menepuk pundak Mingyu.
"Imo tinggal memasak ne? Kau langsung saja kesana, tidak usah sungkan" Ucapnya lagi dengan senyum kecil dibibirnya. Mingyu mengangguk patuh.
"Baiklah" Jawabnya. Wanita itu pergi menuju dapur untuk memasak makan malam.
Mingyu menimang saran Ibu Wonwoo. Ia ingin pergi ke kamar Wonwoo, tapi rasanya masih canggung jika ia masuk kesana. Ia belum terlalu dekat dengan Wonwoo, bahkan Wonwoo kadang-kadang masih bersikap cuek dan masa bodoh padanya.
Tapi Mingyu harus mencobanya. Jadi ia mengesampingkan keraguannya, Mingyu melangkah menuju kamar Wonwoo.
"Wonwoo-ya?"
Tok! Tok!
"Wonwoo?"
Lagi-lagi pintu kamar Wonwoo tidak terkunci, bahkan saat Mingyu menyentuhnya sedikit, pintu itu langsung terbuka.
"Aku masuk!" Mingyu melangkah pelan menuju kamar Wonwoo. Keadaannya masih sama seperti terakhir kali ia masuk kesini.
Rapi, lalu benda-bendanya tidak ada yang berpindah posisi. Hanya selimutnya saja yang beda.
"Apa ini dia?" Mingyu menatap kearah figura yang tertempel agak tersembunyi dan tinggi dikamar Wonwoo. Sebuah photo keluarga, dimana ayah dan ibu Wonwoo masih bersama.
"Lucu juga." Tidak sadar Mingyu malah terkekeh melihat senyum Wonwoo yang tampak ceria. Ia tidak tahu umur berapa Wonwoo saat diphoto tersebut, tapi ia yakin Wonwoo masih duduk dibangku sekolah dasar.
Mingyu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Ia berjalan menuju lemari pakaian milik Wonwoo, ada sebuah photo tertempel disana. Mingyu jadi penasaran.
"…" Kali ini Mingyu bergeming dengan mata menatap intens kearah photo berukuran 4R tersebut. Tampak sudah usang dimakan waktu, tapi masih jelas untuk dilihat.
"Doyoon hyung?" Ucap Mingyu antara terkejut dan tidak percaya, tangannya mengusap permukaan photo tersebut.
Pandangannya terus tertuju pada photo tersebut. Entah kenapa Mingyu merasa iri ketika melihat kedekatan Wonwoo dan Doyoon diphoto itu.
"Keluar!"
Mingyu berjengit kaget, ia memutar badannya. Disana ada Wonwoo yang berdiri dengan tatapan tidak suka.
"Aku bilang keluar!" Wonwoo kembali mengusir Mingyu. Bahkan nada bicaranya tambah meninggi. Membuat Mingyu tambah bingung dengan sikap Wonwoo.
"Sudah berapa lama kau dekat dengan Doyoon hyung?" Bukannya menuruti perintah Wonwoo, Mingyu malah balik bertanya.
"Bukan urusanmu. Keluar" Jawab Wonwoo dengan ketus. Mingyu terdiam ditempat, mata mereka bertemu untuk beberapa saat.
"Ada apa denganmu? Kenapa sikapmu kembali seperti ini?" Mingyu akhirnya melangkah mendekati Wonwoo. Hanya berjalan beberapa langkah, setelahnya ia berhenti.
"Heh!" Wonwoo mendengus sinis. "Sikapku memang seperti ini, asal kau tahu! Keluar sekarang juga, aku sangat benci dengan orang yang suka mengusik privacy orang lain" Lanjutnya dengan nada kelewat tak bersahabat.
Tap, tap.
Mingyu kembali melangkah, jarak mereka sudah sangat dekat sekarang.
"Aku bertanya padamu, jawablah." Wonwoo menyilangkan tangan didepan dada.
"Bukan urusanmu. Berhenti mengusik hidupku, sekarang keluarlah!" Balas Wonwoo dengan sinis lagi. Mingyu menghela nafas lalu menarik tangan Wonwoo.
"Aku serius" Ujarnya dengan nada memohon. Wonwoo menghempaskan tangan Mingyu, tatapannya berubah jadi tajam dan menghujat.
"Kau pikir kau siapa eoh? Apa perdulimu tentang hidupku?! Kau harusnya sadar dengan posisimu!" Mingyu kembali menarik tangan Wonwoo, bahkan ia mencengkram pergelangan tangan namja itu dengan kuat. Wonwoo memberontak.
"Diam!" Ucap Mingyu meninggi dengan tatapan tajam. Wonwoo langsung menghentikan pergerakannya.
"Lepaskan tanganmu dari tanganku!" Wonwoo kembali melawan, walaupun tatapan tajam Mingyu benar-benar mengerikan, Wonwoo tidak akan pernah takut.
"Apakah rasa bencimu padaku ada hubungannya dengan Doyoon hyung? Apakah kau marah karena aku berteman dengannya?" –Apakah dia begitu special dimatamu Jeon Wonwoo?. Mulai Mingyu lagi dengan nada melembut, ia tidak akan bertindak kasar seperti tadi. Wonwoo sendiri terdiam.
"Wonwoo-ya" Mingyu melepaskan tangan Wonwoo, ia kembali berjalan maju untuk mempertipis jarak mereka. Tangannya memegang kedua lengan Wonwoo, matanya memandang namja itu lagi.
"Apa benar–"
"Menjauh dari hidupku–" Wonwoo berucap dengan nada pelan, namun tersirat kebencian yang mendalam.
"perebut" Setelahnya Wonwoo menyingkirkan kedua tangan Mingyu yang berdiam dilengannya. Ia meleggangg keluar kamar, meninggalkan Mingyu yang bergeming disana.
.
.
"Selamat malam, hati-hati dijalan" Mingyu melempar senyum.
"Terimakasih untuk malam malamnya imo." Wanita baya itu balas tersenyum.
"Tidak masalah, besok datanglah lagi. Imo akan masakan makanan kesukaanmu" Ujarnya. Mingyu mengangguk.
"Tentu saja, besok aku akan datang lagi. Baiklah, aku pulang imo. Sampai jumpa" Balas Mingyu, wanita itu melambaikan tangannya kearah Mingyu yang sudah menjauh.
"Sampai jumpa!" Mingyu balas melambai, tangan kirinya ia pakai untuk menggenggam tali ranselnya. "Annyeong!"
Wonwoo menatap datar punggung ibunya. Akhirnya Mingyu sudah pulang, jadi ia tidak perlu repot-repot membalas setiap ucapan Mingyu didepan ibunya.
"Kau melamun?" Wonwoo mengerjapkan matanya. Sang ibu tersenyum lalu mengusap pundak Wonwoo.
"Ayo tidur, kau pasti lelah" Sambungnya dengan nada begitu lembut. Wonwoo tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Ya, aku sedikit lelah. Baiklah, ayo tidur eomma" Balasnya. Ibunya ikut tersenyum lalu mengapit tangan Wonwoo.
"Eomma temani sampai tidur ne?" Wonwoo langsung menggeleng.
"Aku sudah besar eomma, tidak perlu ditemani" Ucapnya, sang ibu langsung mengerucutkan bibir.
"Sudah sangat lama kita tidak tidur bersama, biasanya kau selalu menyelinap dibawah selimut eomma setiap malamnya" Mereka terus berbincang sampai tidak sadar sudah sampai didepan kamar Wonwoo.
"Itu sudah sangat lama, lagipula waktu itu aku masih kanak-kanak" Balas Wonwoo sedikit terkekeh mengingat masa lalunya. Dia cukup penakut untuk tidur sendiri saat masih kanak-kanak.
"Kau berbicara seolah kau sudah dewasa saja," Ibunya mencibir, Wonwoo tersenyum melihat tingkah ibunya.
"Baiklah kemari kau bayi besarku, eomma ingin memelukmu." Wonwoo tidak menolak sama sekali saat sang ibu menarik tangannya lalu memeluknya erat. Ia balas memeluk ibunya, sangat jarang hal seperti ini mereka lakukan.
"Aigo¸ semakin hari kau semakin tinggi saja. Eomma sampai harus berjinjit jika ingin mengacak rambutmu. Menunduklah!"
"Baiklah-baiklah" Wonwoo benar-benar gemas pada ibunya sendiri. Tingkahnya selalu membuat Wonwoo tersenyum.
Tangan wanita itu segera mengacak rambut putranya, ia melakukan hal itu dengan cepat lalu menepuk pelan pipi putranya.
"Selamat tidur Jeon!" Ujarnya dengan nada tegas, Wonwoo langsung membuat gesture hormat.
"Baiklah, selamat tidur juga eomma!" Setelahnya mereka tergelak sendiri dengan kelakuan masing-masing. Akhirnya Ibu Wonwoo pergi menuju kamarnya, Wonwoo tetap setia memandangi ibunya sampai wanita itu hilang dibalik pintu kamar.
.
.
Jarum jam dikamar Wonwoo sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi pemiliknya sendiri masih asik dengan bacaannya. Kegiatan itu harus rela dihentikan sebentar ketika sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
Wonwoo mendengus melihat nama Mingyu tertera disana.
"Menyebalkan."
.
.
.
.
Saat tiba didepan loker, Wonwoo menyernyit melihat sebuah post it dengan warna ungu mencolok tertempel disana. Ia menariknya lalu membaca pesan di post it tersebut.
'Mianhae… Aku tahu aku salah
karena merebut Doyoon hyung darimu.
Jadi bisakah kita memulai
semuanya dari awal? Bisakah aku
menggantikan posisi Doyoon hyung
untukmu?.
p.s : jika diminta memilih, kau atau Doyoon
hyung? Tentunya aku akan memilihmu *heart emot*'
Mata Wonwoo mengerjap seperkian detik, kedua pipinya terasa panas tiba-tiba. Tapi buru-buru Wonwoo menggeleng lalu meremas post it tersebut. Tanpa mencari, Wonwoo sudah tahu siapa yang menulisnya.
"Kenapa sangat lama?–Apa itu?" Wonwoo menggeleng, lalu mebalik badannya. Jihoon menatapnya penuh minat.
"Pernyataan cinta? Aaw, manisnya" Ucapnya kemudian. Wonwoo memutar matanya malas.
"Bukan pernyataan cinta, bukan hal yang penting juga. Ayo pergi" Balasnya. Tangan Wonwoo langsung menarik Jihoon untuk pergi, membuat namja mungil itu menggerutu sebal karena diseret paksa.
.
.
"Ini"
Wonwoo mengerang frustrasi dalam hati. Lagi-lagi ia mendapat post it, tertempel dengan rapi pada botol banana milk yang baru saja diberikan oleh Jisoo.
"Untukmu," Lanjutnya setelah lama terdiam. Wonwoo meraih banana milk tersebut, lalu menunduk kecil.
"Terimakasih" Jisoo tersenyum kearahnya.
"Ne, urusanku sudah selesai. Aku pulang" Pamitnya sebelum meninggalkan Wonwoo seorang diri dikelas.
Wonwoo menaikkan banana milk ditangannya sampai sebatas wajah, lalu membaca beberapa kalimat yang tertera disana.
'Aku akan membawakan banyak ice cream
hari ini. Sampai bertemu dirumah.
p.s : Kau tidak boleh pergi kemana-
mana. Langsung pulang oke?'
Wonwoo mendengus, ini adalah post it kedua puluh dua yang ia terima. Dan Wonwoo sudah cukup muak jika harus mendapatkan post it yang kedua puluh tiga.
"Menyebalkan." Gumamnya sebelum melenggang dari kelas. Ia harus pulang sekarang, langit diluar terlihat mendung.
.
.
.
.
"Aku pulang!"
Saat mendengar suara Wonwoo, Mingyu langsung bangkit dan menemui pria itu. Ia tersenyum senang, Wonwoo sendiri hanya cuek dipandangi terus oleh Mingyu disela-sela aktivitas melepas sepatu dan kaos kakinya.
Padahal sebenarnya ia cukup terkejut melihat Mingyu yang menyambutnya, bukannya sang ibu. Yang setahunya libur kerja hari ini.
"Selamat datang" Ucap Mingyu setelah Wonwoo menegakkan badannya. Wonwoo menatap datar.
"Menyingkir," Balasnya lalu berjalan menuju kamarnya, Mingyu dengan setia mengikuti.
"Appa dan imo pergi bersama, jadi aku memutuskan untuk kemari menemanimu. Sekalian aku akan memasak makan malam. Kurasa mereka tidak akan pulang dalam waktu dekat, jadi kita makan lebih dahulu, bagaimana?"
Mingyu berhenti ketika Wonwoo membalik badannya. Mereka sudah sampai didepan pintu kamar namja emo itu.
"Berhenti bicara, kau sangat cerewet" Desis Wonwoo dengan wajah kesal, Mingyu mengulum senyum lalu menunduk kecil.
"Mianhae" Balasnya. Wonwoo hanya memandang sekilas kearahnya, lalu berbalik untuk membuka pintu kamar. Mingyu membulatkan matanya tidak terima ketika Wonwoo masuk kedalam kamar tanpa mempersilahkannya untuk ikut.
"Hey–"
"Kau bilang akan memasak hari ini," Kepala Wonwoo menyembul dibalik pintu. Mingyu menatapnya, menunggu kalimat lanjutan yang akan diucapkan namja itu.
"tolong jangan memasak seafood, aku tidak suka. Lebih tepatnya alergi" Pintu kembali tertutup. Mingyu tersenyum kecil melihat tingkah Wonwoo.
"Baiklah! Aku tidak akan memasak seafood!" Teriaknya masih dengan senyum dibibir. Mingyu akhirnya pergi menuju dapur. Dia harus memasak makanan yang enak, tanpa seafood sedikitpun seperti permintaan Wonwoo.
.
.
Sekarang Wonwoo sudah duduk dikursi dengan beberapa makanan dihadapannya. Ia menanti Mingyu yang masih sibuk didapur, tidak mungkin Wonwoo makan lebih dahulu.
"Kenapa tidak mulai makan?" Mingyu meletakkan makanan terakhir sebagai menu makan malam untuk mereka diatas meja. Lalu duduk dikursi yang ada diseberang kursi Wonwoo.
"Kau menunggu ku?" Wonwoo meraih sumpitnya, lalu mulai mencomot hasil masakan buatan Mingyu.
Mingyu sendiri hanya bisa tersenyum, walaupun Wonwoo tidak merespon perkataannya. Tapi dari gerak-gerik Wonwoo, Mingyu tahu anak itu salah tingkah.
"Aku sudah memasak semua ini, jadi kau harus menghabiskannya" Tanpa menjawab Wonwoo sudah mulai meyuapkan makannya. Mingyu langsung mengikuti Wonwoo untuk menyantap makan malam.
Mereka makan dalam diam, karena tidak ada bahan untuk diperbicangkan. Ditambah Wonwoo yang jarang menyahut ucapannya, membuat Mingyu memilih untuk bungkam.
Wonwoo melirik Mingyu sekilas, lalu menunduk sembari menyuapkan makanan kemulutnya.
Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kemarin ia bertekad untuk menjauhi Mingyu lagi, tapi sekarang ia malah makan bersama Mingyu. Wonwoo merasa dirinya benar-benar munafik, tidak punya pendirian.
Bahkan menolak saja rasanya sangat sulit. Hanya bisa menggertak, tapi tidak ada hasil sama sekali.
"Setelah ini ayo kita makan ice cream bersama. Tenang saja, aku sudah membeli berbagai rasa, jadi kau bisa memilihnya nanti."
Mingyu terlalu baik, bahkan berulang kali Wonwoo menolak, memaki, membentak, bahkan menyakitinya secara tidak langsung dari kata-katanya, Mingyu tetap datang dan tersenyum kearahnya.
Wonwoo ingin bersikap baik juga pada Mingyu, tapi entah kenapa hal itu tidak bisa bertahan lama. Melihat wajah Mingyu membuat Wonwoo ingat pada masa lalunya.
"Kau memang jahat, kau merebut Doyoon hyung dariku. Dia satu-satunya teman yang aku miliki saat itu. Kau menghancurkan segala hal yang aku sudah perjuangkan dari lama. Kau membuatku harus mendapatkan pukulan lagi untuk kesekian kalinya. Bahkan janji yang sudah aku buat, aku ingkari. Janji untuk membawa piala itu pulang dan membuat appa bangga. Ini semua karena kedatangmu. Kau merebut segalanya."
TBC
A/N : Yosh updateku untuk chapter 10 sudah datang. Akhir-akhir ini sulit banget nyari waktu buat ngetik. Sekalinya ada, eh udah cape duluan dan males buat ngetik dan mikir ulang. Ini aja rada-rada bingung mau lanjutinnya. Udah ngaco banget jalan ceritanya. Gemanain gak ngaco, lah sayanya udah lupa jalan cerita.
Chapter 10 aja buatnya hampir 2 minggu. Habisnya saya isi mikir dulu, ini kayak gemana ya? Atau gimana cara lanjutinnya ya? Dan gemana cara nyelesainnya ya?. Ujung-ujungnya jadi mager dan milih selancaran disosmed :v
Dan chap ini penyebab rasa bencinya Wonu ke Mingyu sudah terkuak(?) sedikit ya. Yang nebak Wonu punya dendam masa lalu ke Mingyu, jawaban kalian tepat sekali. Mungkin chap depan akan berisi flashback-flashback masa lalu, dan alasan rinci kenapa Wonu ngejadiin Mingyu rivalnya.
Chap ini cukup mengecewakan memang, tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin buat lanjutin. Sekarang tergantung kalian, mau baca ya silahkan, gak dibaca juga gakpapa : ) Sebelumnya makasih untuk yang sudah fav, dan follow, dan makasih untuk yang sudah review dichapter sebelumnya.
Aku sayang kalian *peluk satu-satu*
Akhir kata, review juseyo~
