I want to see you(r face)

"Mnnggh.. Mfh-ah!"Kagami mendesah antara kesakitan dan keenakan. Ia mencengkram bantal dengan erat, menutupi wajahnya yang memerah.

Aomine menatap datar lelaki dibawahnya. Mereka sudah sering melakukan ini. Saaangat sering, tapi entah kenapa Aomine belum merasa puas.

Tidak, bukan karena Kagami laki-laki dan ia menyukai dada besar. Ia suka melakukan ini dengan Kagami hanya saja..

"Kagami.."

"Ha-haa?!"Jawab Kagami diantara desahan.

"Jangan tutupi wajahmu, aku ingin lihat"Aomine berusaha menjauhkan bantal itu dari wajah Kagami.

"Nnnnh!"Kagami menggeleng, mencengkram bantal-chan lebih erat.

Aomine menghela nafas. Mereka sering melakukannya tapi mereka tidak pernah melihat wajah satu sama lain saat melakukan itu.

"Kenapa kau tidak mau aku melihat wajahmu?"

"K-karna, ah! Itu memalukan Aho! Nngh..!"

Aomine berhenti menggerakkan pinggangnya.

"A-aomine!"

"Lepaskan dulu bantal bodoh itu"

Kagami bergeming, tidak melepaskan bantal kesayangannya. Sebenarnya itu bantal yang selalu Aomine pakai saat tidur.

"Taiga.. aku ingin melihat wajahmu"

Kagami masih bergeming.

"Bukankah akan terasa lebih romantis jika kita melihat satu sama lain?"

"A-aku.. tidak tahu"

"Taiga.."Kali ini cengkramannya melemas, Aomine dengan mudah menyingkirkan bantal itu dan melemparnya ke pojok ruangan. Bantal itu pun pundung karena tidak lagi dipeluk macan unyu.

Aomine tersenyum- bukan menyeringai. "Tenanglah sayang, rasa sakitnya malah akan hilang jika begini"

Dan Aomine menggerakkan pinggangnya lagi, kali ini lebih cepat.

Kagami mendesah lebih keras, karena gerakan Aomine yag lebih cepat dan juga karena mulutnya tidak disumpal bantal seperti tadi.

"Kau terlihat lebih lezat Taiga, aku jadi ingin memakanmu.."Aomine menggigit leher Kagami membuatnya mengerang kesakitan. Lalu Aomine menjilat bekas gigitan itu, mengecupnya beberapa kali agar rasa sakit itu hilang.

"Aomine, a-aku..-ngaaahhh!"Belum selesai ia bicara, Kagami mengeluarkan cairannya.

Aomine menelan ludah melihat wajahnya. Kagami terlihat seratus kali lebih indah dengan ekspresi itu.

Aomine tidak bisa menahannya lagi. Melihat wajah Kagami yang seperti itu membuatnya mengeluarkan cairannya di dalam Kagami.

Nafas keduanya terengah-engah. Kagami mengambil bantal lainnya dan menutupi wajahnya lagi.

Aomine menghela nafas "Taiga~ Ayolah.."

Kagami menggeleng, tadi itu benar-benar memalukan.

"Tadi itu tidak terlalu buruk kan..?"

Kagami diam sebelum mengangguk, Aomine tersenyum. "Hee..? benarkah?"

"D-diam!"

Aomine berhasil menyingkirkan bantal itu, memperlihatkan wajah Kagami yang memerah dengan mata yang sedikit berair.

"Sekali lagi?"