Tidak ada satu apapun yang lebih indah dan jahat selain sorot tajam matamu …

NARUTO, always belong to Masashi Kishimoto

-Author alay mulai berimajinasi liar lagi. Kukuku-

WARN

Bad Sasuke, Lemon, Absolutely Rate M, AU, Typo, No Flame, Don't Like Don't Read

.

.

.

Sasuke dan Sakura berpisah di suatu Mall di pusat Osaka. Mobil mereka sedang disucikan di salon mobil sehabis peperangan di tengah badai malam tadi, pun diri mereka sendiri. Sasuke pergi ke barber laki-laki, Sakura ke spa dan lanjut ke toko baju.

Setelah memilih ribbon high neck blouse tanpa lengan warna hitam dan jeans warna cream serta heels coklat tua, Sakura mondar-mandir di jewelery shop sambil menelfon Sasuke yang tidak kunjung muncul.

Sakura memandang cincin-cincin indah pada etalase display namun tidak ada satupun cincin yang menarik perhatiannya. Sakura menghembuskan nafas lelah menunggu pangerannya datang dan memutuskan untuk keluar dari toko.

Sakura berjalan-jalan tidak jelas sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah retail baju bermerek. Jari-jari lentik sakura menyentuh permukaan kaca yang melindungi display manekin cantik dengan segala perhiasannya.

Minngu depan aku wisuda. Setelahnya aku akan berhenti menjadi model Sasuke-kun dan mencoba keberuntunganku meraih cita-cita sebagai fashion designer…

Emerald Sakura memandang cerah manekin di depannya dengan senyum yang mengembang hingga tiba-tiba pandangan matanya menghitam.

Gelap

Dingin

"Coba tebak"

Sasuke berdiri dan menutup mata Sakura dari belakang.

"Hihi. Sasuke-kun"

Sakura melepas telapak tangan Sasuke yang menutupi kelopak matanya lalu berbalik menghadap Sasuke.

"Hah?"

Sakura terkejut dengan sosok yang ada di depannya.

Sasuke memangkas habis kuncir rambutnya, lalu mengubah gaya rambutnya dengan belahan samping yang tajam dan rambut raven pendek yang ditata tajam masih dengan style emo.

"Sasuke-kun kelihatan…"

"Ganteng. Ya. Aku tahu" Sasuke tersenyum congkak sambil meraih rahang Sakura untuk menciumnya. Sakura membalas kecupan Sasuke sambil tersenyum betapa bersyukur dia sekarang memiliki Sasuke.

.

Sasuke dan Sakura berjalan beriringan sambil menggenggam tangan masing-masing dalam diam. Sakura menyandarkan kepala pinknya pada bahu kekar Sasuke. Dia merasa sangat nyaman dengan keadaan ini. Sasuke memeluk pinggang Sakura sambil mengecup sekilas kepala pink itu untuk menyesapi aroma strawberry rambut Sakura.

"Sakura…"

"Hm…"

Sasuke berhenti lalu menghadap lurus pada Sakura. Basement parkir sepi walau mobil-mobil mewah memenuhi bangunan beton itu.

Sasuke membelai pelipis Sakura dan memandangnya sungguh-sungguh.

"Maaf, aku harus merusak penampilanmu lagi" ujar Sasuke.

Sakura tidak mengerti maksud perkataan Sasuke. "Merusak? Maksudnya ap- mmmhh!"

Sasuke meraup bibir Sakura dalam sepersekian detik. Lidah lihai Sasuke sudah sukses masuk sepenuhnya dalam mulut Sakura yang terbuka. Dalam keadaan yang terdesak, Sakura dihimpit dan digiring Sasuke mundur ke sebuah celah dan mengakibatkan punggung Sakura menempel pada dinding gelap di belakangnya.

Jari Sasuke merayap masuk ke dalam celana Sakura untuk memancing gairah wanita itu. Diputarnya jari lihai itu pada permukaan V Sakura dan sukses membuat cairan Sakura keluar.

"Ohhkhhh… Sasuke-kunnnh!"

Sasuke tersenyum dan mencium telinga Sakura sehingga membuat tubuh Sakura bergetar hebat. Tangan Sakura mendorong lengan kuat Sasuke agar pria itu berhenti.

"Apa?" tatap Sasuke lurus.

"Haruskah disini?" sahut Sakura terengah dengan dada naik-turun karena Sasuke masih memainkan jarinya pada kewanitaannya yang terbungkus pada celananya yang rapi.

"Ya" jawab Sasuke langsung mencium bibir Sakura.

"-mmmph!" Sakura membalas bibir Sasuke dengan menggigitnya lalu, "Kamu tahu benda bernama CCTV kan, Sasuke-kun?"

"Pikirmu aku bodoh? Sepanjang jalan tadi aku sudah memperhatikan blind spot benda itu. Tenang kita aman"

Sasuke memasukkan tangannya yang bebas ke dalam balutan sleeveless blouse Sakura. Merasa nyaman, Sakura berhenti menolak kali ini dan berusaha membuka celana Sasuke.

Karena Sasuke tidak menolak tindakan Sakura, gadis pink itu semangat melepas belt Sasuke dan membuka resleting Sasuke. Saat Sakura bersiap menarik keluar kejantanan Sasuke, Sasuke menarik tegas tangan Sakura.

"Nakal. Jangan harap bisa menyentuhku sebelum aku menyentuhmu" Sasuke menyeringai lalu melepas ribbon blus Sakura sehingga blus berbahan chiffon itu turun ke pinggang Sakura dan nampaklah bra merah Sakura.

Sasuke membungkukkan kepalanya untuk mencium ujung dada Sakura yang mengintip dari balik bra.

"Mmm!" Sakura menggigit bibir bawahnya saat dia mendengar ada beberapa suara wanita yang melewati mereka. Sudut mata Sakura bisa melihat bahwa wanita-wanita itu tidak menyadari keberadaan mereka.

Di saat Sakura merintih dan menahan suaranya agar tidak terdengar, Sasuke semakin bergairah dengan public sex mereka. Tangan kiri Sasuke masih asyik bermain dengan cairan Sakura yang mengalir deras sedangkan tangan kanannya sibuk memelintir ujung dada Sakura. Sementara mulutnya menghisap ujung dada Sakura yang sebelah lagi, bra Sakura akhirnya jatuh ke lantai basement.

Sakura yang setengah telanjang membuat Sasuke gemas dan melepas celana Sakura dengan cepat sehingga Sakura hanya mengenakan panty dan heelsnya.

Eksotis sekali. Sasuke puas dengan penampilan sexy Sakura. Dia membelai setiap inci lekuk tubuh Sakura yang menggeliat liar. Wajah Sakura memerah menahan semuanya. Sasuke akhirnya menurunkan kain terakhir Sakura yaitu panty biru tua sebatas lutut. Sasuke sengaja tidak menurunkan total benda itu untuk menambah sensasi seksnya.

Sakura yang terengah-engah hanya karena permainan jari dan mulut Sasuke kini terduduk lemas masih dengan panty dan heels saja yang menempel pada tubuhnya.

Melihat Sasuke tersenyum menang, membuat Sakura ingin melancarkan serangan balik.

Dengan gerakan cepat, dia menekuk lututnya pada lantai lalu menurunkan celana dan celana dalam Sasuke. Dan, junior Sasuke pun terpampang jelas.

Sasuke malah tersenyum. "Do it" suruhnya.

Merasa bangga, Sakura pun mencium ujung junior Sasuke. Tidak bisa munafik, Sasuke pun memejamkan matanya.

Belum puas dengan ekspresi kekasihnya, Sakura memainkan lidahnya liar pada batang junior Sasuke.

"Ugh!" Sasuke mengepalkan tangannya pada dinding dan menyibakkan rambutnya ke belakang karena merasa sangat panas.

Sakura senang dan akhirnya memasukkan junior Sasuke sepenuhnya pada rongga mulutnya. Dia melakukan in-out yang bertahap dari yang pelan sampai ekstra cepat.

Keringat mereka berdua turun deras membasahi kening dan leher.

Sakura yang terus mengulum Sasuke, menjadi sangat bergairah dan membuat kedua buah dadanya tegang naik-turun.

TAP TAP

Terdengar langkah kaki mendekat diiringi pembicaraan dari suara pria-pria paruh baya.

Sasuke melihat mereka mendekat lalu melirik Sakura di bawahnya.

Sakura menyeringai.

Rupanya kekasihnya ingin membalas dendam dengan membuatnya merah padam menahan suara.

Bibir Sasuke membentuk kata A-was-ka-mu.

Lalu matanya kembali melirik orang-orang yang berjalan mendekat itu.

Dari kejauhan, dada hingga ke tubuh bawah Sasuke tertutup oleh mobil di sebelahnya sehingga yang Nampak hanya punggung gagah dengan jas.

Pria-pria itu memandang Sasuke heran, tapi lalu mereka pergi begitu saja setelah mendapat glare tajam dari pangeran kegelapan itu.

Basement sepi kembali.

Sasuke memandangi wanitanya di bawah lagi.

Sakura menahan tawa dan mengulum juniornya lagi.

Sasuke geram dan mendorong juniornya agar masuk lebih dalam lagi lalu dihentakkannya in-out dengan cepat. Sakura menikmatinya lalu Sasuke pun memuncratkan cairannya pada bibir Sakura.

CLASH

Sakura memejamkan mata sambil menggerakkan lidahnya dengan sexy pada sudut-sudut bibirnya yang basah oleh air Sasuke.

Sasuke lanjut mengeluarkan cairannya dan mengarahkan pada tubuh telanjang Sakura.

CLASSH

CLASSS

CLASHHH

Kini ujung dada, pusar, perut, dan paha Sakura penuh dengan air Sasuke.

Masih belum puas, Sasuke menarik tangan Sakura lalu menggendong gadis itu dan menyuruhnya melingkarkan pahanya pada pinggang Sasuke.

"Aku cinta kamu" ucap Sasuke.

"Aku juga cinta kamu…"

JLEBBB!

"Aaakh!"

"Ugh…"

"Ah… ah… ahhhhh"

CLASSSShh

.

.

.

"Untung saja aku tadi bawa tisu basah dari spa" ucap Sakura saat mereka sudah berada di perjalanan pulang.

"Hmp" Sasuke tidak bisa berhenti tersenyum.

"Dasar Sasuke-kun. Kamu sih enak tidak berkotor-kotor" Sasuke menggembungkan pipinya.

Sasuke melirik sekilas lalu mencubit pipi itu. "Jangan manja. Siapa tadi yang main lidah saat aku kasih air di bibir?"

"Waaa! Jangan diomongkan! Aku maluuu!"

"Kenapa malu? Kan kita memang melakukannya" sahut Sasuke.

"…"

"Kenapa diam, Sakura?"

"Tetap saja malu…" Sakura mengalihkan mukanya pada pemandangan di luar jendela. "Lho? Ini bukan jalan pulang. Kita mau kemana?"

"Bandara. Sampaikan salamku pada Oka-san. Kamu pulang ke rumah mereka dulu, dan aku balik ke Tokyo dulu"

"HAAAAH?!"

.

.

.

"Tadaimaaa" seru Sakura.

Apartemen mereka sepi sekali.

BRUK

Sakura merebahkan diri pada sofa melepas lelah setelah berjam-jam duduk di bandara karena pesawat yang ditumpanginya delay. Sakura lelah. Sangat lelah.

Sakura baru sadar, semenjak malam penghargaan Sasuke hingga detik ini dia belum menyempatkan diri untuk tidur. Yah, maksudnya, tidur, yang benar-benar tidur. Karena setelah seks di dalam mobil, dia memang sempat tertidur sejenak di atas pelukan Sasuke dalam keadaan telanjang. Hanya sebentar dan sama sekali tidak nyenyak karena jari Sasuke yang sangat nakal tidak berhenti menggoda V Sakura yang sudah perih.

Setelahnya, mereka ke Mall dan lanjut dengan seks panas di basement, dan dengan sangat egois Sasuke pulang lebih dulu membuat Sakura duduk di depan orang tua Sasuke untuk menjelaskan bahwa kekasihnya telah pulang lebih dulu. Untung saja Mikoto adalah wanita anggun yang sangat sabar.

Sepasang emerald memandang ponsel flip jadulnya. Tepat saat akan memencet tombol dial untuk Sasuke, gadis itu mengurungkannya dan mulai memejamkan mata.

Dan Sakura pun tertidur…

.

.

.

"Mmmmmmhhh…" erang Sakura saat matahari mulai menampakkan cahayanya.

"Morning" suara bass khas pangeran kegelapan.

"Sasuke-kun?"

Sakura melompat dari sofanya dan berlari memeluk Sasuke yang sedang memegang spatula.

Tunggu. Spatula?

Sakura melirik konter dapur dari balik bahu Sasuke.

"Ohoo. Aromanya lezat sekali…"

"Tentu saja. Aku kan jenius" ujar Sasuke sambil menyibakkan rambut emonya.

Sakura menjulurkan lidah lalu memeluk Sasuke lagi. "Aku kangen"

Sasuke tersenyum dan balas memeluk Sakura. Diresapinya aroma rambut Sakura.

"Aku juga kangen padamu"

.

.

.

"Terima kasih, katsunya lezat sekali…" Sakura memuji karya kekasihnya sambil mengelap bibirnya dari minyak.

Sasuke tersenyum miring dan membelai pipi Sakura.

"Kenapa aku sudah kangen lagi ya?" ucap Sasuke.

"Eh?"

Sasuke melepas belaiannya dan menggenggam erat tangan Sakura.

"Maaf aku tidak bisa menemanimu saat wisuda nanti. Kemarin aku dikontrak perusahaan Mr. Toneri yang berasal dari Aussie, untuk menjadi leader pada kantornya yang berada di L.A"

"Los Angeles?" Sakura terkejut dan senang akan kabar gembira itu. Dia berdiri dan menghampiri Sasuke lalu mengecup bibirnya.

Sasuke balas melumat bibir Sakura selama beberapa menit sambil meletakkan Sakura pada pangkuannya.

"Selamat, Sasuke-kun" bisik Sakura pada telinga Sasuke.

Sasuke menarik bahu Sakura menjauh untuk melihat ekspresinya.

"Kamu ikut kan?" tanya Sasuke berharap.

Sakura melepaskan pegangannya pada bahu Sasuke dan menggeleng, "Maaf, tapi aku harus meneruskan mimpiku. Aku mendapat tawaran dari kampus untuk bekerja di SENJU Fashion seusai wisuda nanti. Waktu itu aku bilang pada mereka untuk mempertimbangkannya, tapi sekarang aku yakin aku akan berusaha meraih cita-citaku disana… boleh ya?"

Sasuke memandang mata gadisnya cukup lama, lalu membelai rambut Sakura yang tergerai di pipi kirinya. "Tentu saja…"

Sasuke dan Sakura pun berpelukan dalam damai.

"Tapi" Sasuke melepaskan pelukannya lagi.

"Kamu harus tetap tinggal disini. Aku akan pulang setiap beberapa minggu. Dan jangan pergi. Ingat, kontrak kita masih berlaku walau kamu bukan modelku lagi"

Sakura tersenyum dan mengangguk. "Anoo, Sasuke-kun… apa, Naruto dan Shion juga ikut?"

DEG

Ini pertanyaan yang sangat Sasuke hindari.

"Janji jangan marah ya?" tanya Sasuke balik dengan was-was.

Sakura mengangguk tulus.

"Mr. Toneri hanya merekrut 2 orang. Aku dan Karin. Yah, efek award"

Sakura mengangguk lagi, "Iya, tidak apa-apa. Aku percaya Sasuke-kun"

Sakura pun mencium bibir Sasuke lagi dan mereka berpagutan untuk menikmati moment berharga yang mungkin akan mereka rindukan dalam waktu yang lama.

.

.

.

1 Bulan kemudian…

Sakura duduk di sebuah café kecil yang sangat nyaman. Dia sedang menunggu seseorang selepas jam kerja yang melelahkan. Dia sekarang seorang Fashion Designer yang sangat sibuk. Sakura adalah seseorang yang pintar dan ulet, serta mandiri. Karirnya menukik dengan cepat karena Senju Tsunade, Bosnya sangat mempercayai bakat Sakura.

"Hei! Senyum-senyum sendiri!" gertak seseorang yang ditungguinya dari tadi.

"Oh, Shion! Haha, tidak, aku hanya mengingat pertemuan pertamaku dengan Sasuke-kun di tempat ini"

Shion duduk di sofa depan Sakura dan meletakkan tasnya yang super besar di lantai. "Duh, kalau kangen pergi ke L.A sanaaa"

Sakura tersenyum, "Seperti tidak mengenal Tsunade-sama saja"

"Hahaha, iya. Aku sering sih kerja sama dengan beliau. Aduhhh, cerewet banget dan galak! Kamu betah ya?"

"Aku suka bekerja bersamanya. Rasanya keren, Tapi tidak keren lagi saat banyak pria paruh baya memelototi dada Tsunade-sama. Hahaha"

"Hahaha. Iya, Dasar-tante-sexy-yang-anti-menikah. Hahaha"

"Hahaha. Sudahlah… gara-gara beliau aku sudah lama tidak main ke studio. Bagaimana kabar Naruto?" tanya Sakura.

"Hhhh… sejak Sasuke pergi, dia menggantikan posisi Sasuke. Untuk saja Naruto orangnya kuat dan cekatan. Kalau tidak, hancur sudah SS art Studio"

"Aku percaya kok pada kalian berdua…"

KRIIING

Ponsel Shion bordering kenang memecah percakapan hangat antara dua wanita karir.

"Moshi-moshi"

"Naruto! Aku capek tahu! Aku sedang di café sama Sakura nih!"

"…"

"Hm? Apa?! Presdir Nara Corp datang ke kantor SEKARANG?!"

"Oke, oke. Aku kesana sekarang!"

TUUUT

"Sakura, gomeeen. Si Nara brengsek itu datang seusai jam kerja. Aku pergi dulu yaaa. Bye!" Shion pergi dengan cepat tanpa sempat Sakura mengucapkan sepatah kata.

Gadis pink itu lalu menyalakan iPhone terbarunya.

KLIK

Sakura menyalakan fitur Video Call. Dia sangat merindukan Sasuke setiap hari. Yah, walau tidak tiap hari berkomunikasi, Sakura harus menyempatkan diri untuk melihat wajah live Sasuke.

"Hei cantik. Where are you?" sosok tampan Sasuke dengan suit resmi di seberang sana terlihat melirik background tempat Sakura berada saat ini.

"Coba tebak aku dimana?"

"Tempat pertama kalinya aku melihat cewek pegulat menghajar pria mesum" Sasuke tersenyum senang.

"Benar sekali. Tapi hei, kok disebut pegulat sih?!"

"Terus apa donk? Ogre? Giant?" Sasuke terus menggoda Sakura dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.

"Oke. Tapi pria mesum yang sebenarnya adalah Sasuke-kun!"

"Hei, kok tahu? Wah kamu sering dimesumin Sasuke ya?"

Wajah Sakura memerah. "Ah, sudah-sudah! Sasuke-kun, tanggal 22 malam nanti pulang ya…"

"Hm? Ngapain?"

"Geez. Pura-pura lupa atau…?"

"Haha. Iya deh. Kamu mau kasih aku hadiah apa?"

"See it yourself"

"Okay, wait for me. Ah, honey, I gotta go, I have an important meeting with-"

"Hey, there! Bye!"

TUT

Hah? Apa yang barusan terjadi?

Tepat sebelum Sasuke berpaitan, sesosok wanita berambut merah memenuhi layar ponsel Sakura dan seenaknya mematikan sambungan Video Call.

Yap. Karin.

Ah, sudahlah. Bagaimanapun aku percaya pada Sasuke-kun…

.

.

.

22 Juli, 21.00 Waktu Tokyo

Wanita cantik dengan surai pink itu masuk ke dalam apartemen sambil membawa kardus mewah berukuran cukup besar untuk ukuran lengannya yang mungil. Kardus mewah itu terlihat istimewa dan mewah berkilau silver di atas hitam doff.

Sakura meletakkannya hati-hati di atas meja makan, lalu membukanya. Ya, itu birthday cake mahal yang berbentuk kotak dan dilapisi coklat super mahal yang diimpor langsung dari Belgia. Toppingnya sendiri terdiri dari blueberry serta blok coklat yang ditaburi emas asli.

Tidak buruk untuk selera si pangeran kegelapan.

Sakura mengganti trench coat abu-abunya dengan dress satin silver tanpa lengan, solid panjang hingga terurai di atas lantai. Setelah mensetting lighting interior ruangan sedemikian rupa sehingga nuansa ruangan itu terasa sangat romantis dengan cahaya hangat, Sakura duduk di depan cake Sasuke menunggu cintanya datang.

Sakura melirik sekilas jam dinding transparan di seberangnya.

Yah, walau selisih 17 jam, dia sudah berjanji untuk pulang…

.

.

.

22 Juli, 04.00 Waktu Los Angeles

ZRAZZZZZHHHH

GLARRRRR

RASHHHH

"SHIT!" umpat Sasuke di dalam mobilnya yang terjebak badai hujan dan tornado. Ya, ini bukan Jepang lagi. Cuaca ekstrim seperti ini bukan hal yang aneh lagi.

Harusnya Sasuke lebih berhati-hati saat melihat ramalan cuaca di TV nya tadi. Gara-gara mengejar waktu Jepang yang lebih awal, demi bisa sampai di rumah tepat sebelum pukul 00.00 23 Juli, demi janjinya pada Sakura, Sasuke yang belum tidur selama 2 hari akibat padatnya schedule harus rela pulang dan menerjang badai.

Dan sekarang, mobil Range Rovernya yang tangguh itupun harus tunduk, mati, berhenti di tengah badai.

Sasuke mengambil ponselnya, dan…

Good. Mati juga. Tentu saja. Mana ada sinyal di cuaca seperti ini.

Sasuke diam sejenak memandang lautan banjir di depannya serta beberapa mobil yang mengalami nasib serupa dengannya, bahkan ada sedan kecil ikut tersapu air bah.

Sasuke harus segera pergi dari situ jika dia sayang pada nyawanya. Cowok emo itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mata elangnya berusaha menembus pekatnya hujan di luar sana.

Alis Sasuke naik sejenak.

Dia menghembuskan nafas lega.

Dia segera keluar dari mobil dan berlari sekencang-kencangnya menuju sesuatu yang tertangkap matanya.

.

DOK DOK

PINGGG

Sasuke mengetuk keras-keras pintu kayu oak dari rumah kecil klasik khas Amerika, dan memencet berkali-kali bel pintu itu.

KRAK

Pintu itu terbuka keras, "WHO'S THAT! OH SASUKE!?"

.

.

.

"Ini coklat hangat. Ada lagi yang kamu butuhkan?" tanya si pemilik rumah.

"Telefon, internet?"

"Ckck. Kamu ini gimana sih? Lihat, badai di luar sana! Semua sambungan listrik dan telefon mati" bentak Karin.

Ya, Sasuke ingat bahwa lokasi dia terjebak badai ada di sekitar rumah kontrakan Karin. Dia terpaksa menyelamatkan diri dengan pergi ke rumah mantan pacarnya itu.

"Hn. Ya sudah. Aku akan menunggu badai ini reda. Bangunkan aku kalau aku sudah bisa pergi secepatnya. Berjanjilah"

Sasuke melempar jasnya yang basah ke atas lantai kayu lalu membuka kancing atas kemejanya dan tidur di atas sofa setelah meneguk setengah isi coklatnya. Dia terlalu lelah untuk menungggu badai ini dengan mata terjaga. Kantung matanya menghitam karena kurang istirahat.

Karin tersenyum memandang Sasuke yang cepat tertidur.

.

.

.

22 Juli, 23.00 Waktu Tokyo

Sakura memandang jam dinding untuk yang entah ke berapa puluh kalinya. Dia menghembuskan nafas dan mengetuk-ketuk jarinya tidak sabar.

Sasuke-kun… apa kamu baik-baik saja… apa kamu lupa dengan janji kita? Apa kamu tidak pulang…

Sakura melihat iPhone nya.

Setidaknya hubungilah aku…

.

.

.

22 Juli, 10.00 Waktu Los Angeles

Sasuke sangat merindukan Sakura. Dia bermimpi. Mimpi yang membuatnya selalu bahagia dan berada di surga.

Sakura mencium dadanya, lehernya, pipinya, dan bibirnya…

Rasanya sangat nyata… bibir itu basah dan…

Lidahnya memasuki ronga mulut Sasuke dengan ganas.

"Sakura…" gumam Sasuke.

Ciuman itu semakin panas dan membuat Sasuke terbangun seketika.

Mata onyx itu membelalak lebar saat mendapati Karin tengah menciumnya ganas.

Salah, lebih dari itu.

Tubuh kekar Sasuke tengah telanjang dan terasa berat karena menopang tubuh telanjang Karin.

Tangan Karin sedang sibuk mengelus perut sixpack Sasuke.

Sasuke mendorong keras tubuh Karin dan segera meraih pakaiannya yang tergeletak di samping bed.

"Kau gila?!" bentak Sasuke.

"Sasuke! Teganya kau setelah apa yang kita lakukan!"

"Apa yang sudah kita lakukan! JELASKAN!"

Karin duduk menggulung rambut panjangnya, memperlihatkan dada besarnya yang terekspos karena selimutnya turun ke pahanya.

"Jangan norak. Seperti belum pernah seks denganku saja" Karin mengambil rokok dan menyulutnya.

Sasuke benar-benar marah sekarang. Dia meraih rokok itu dan membantingnya ke lantai lalu menginjaknya sampai hancur.

Dia meraih pipi Karin dan mencengkeramnya keras.

"Kau! Sayang sekali aku tidak mau memukul perempuan. Tapi dengarkan aku baik-baik karena aku hanya akan mengatakannya satu kali. Kalau sampai Sakura tahu tentang ini, aku akan membuatmu menyesal walau kau adalah saudara Naruto. Dengar, satu-satunya kelemahanku adalah tidak memiliki kelemahan" ancam Sasuke serius karena selama ini Sasuke selalu menjaga nama baik Karin demi sahabatnya Naruto.

Sasuke pergi meninggalkan rumah itu tanpa peduli badai, Karin, atau apapun lagi. Persetan dengan itu semua.

.

.

.

Jari lentik Karin yang gemetar meraih kembali bungkus rokoknya dan mengambil satu batang sigaret dan menyulutnya.

Mata indah model pro itu terpejam sejenak lalu terbuka dan meneteskan sebutir air mata.

"Fffuhhhh" Karin menghembuskan asap rokoknya dengan keputus-asaan terdalamnya.

KREEEET

Karin memandang seseorang yang memasuki kamarnya.

Matanya berkilat, dan masih menahan air matanya.

"…"

"You're smart, Bitch"

.

.

.

Konbanwaaa. Hayoooo… jangan bosan-bosan yaa. Ff ini masih belum akan tamat dalam beberapa chapter ke depan dan konflik yang sebenarnya masih akan dimulai. Heheh.

Keep follow the story, aku sangat sayang dengan kalian semuaaaa, aishiteru…

Review, Please?

Mother CHANYOU