Dulu Dan Sekarang

Naruto di besarkan tidak seperti anak – anak pada umumnya. Conan yang merupakan Ibu angkatnya tidak pernah mengenalkan apa itu uang apa itu sekolah apa itu dunia luar pada Naruto atas perintah Tsunade. Conan hanya mengenalkan apa itu Musik dan Lagu bahkan sejak Naruto masih berusia 3 bulan.

Naruto terus tumbuh hingga usianya genab berusia 4 tahun. Seperti dugaan gurunya Kaguya Naruto menjadi begitu ambisius apa lagi setelah Conan menceritakan tentang Ibunya Kushina.

Ketika usianya menginjak 5 tahun Naruto mulai berkelakukan aneh. Berbicara sendiri dan bersikap tidak seperti anak – anak pada umumnya. Pemikirannya terlalu rasional dan penuh logika. Naruto sangat cerdas bahkan jenius untuk anak sekecil itu. Ungkapan buah tidak jatuh dari pohonnya memang sangat berlaku untuk Naruto.

Di usianya menginjak 7 tahun Conan di kejutkan dengan permintaan Naruto. Naruto ingin merantau seorang diri. Orang dewasa mana yang akan membiarkan bocah sekecil itu untuk merantau? Namun Naruto yang ambisius tidak pernah mengindahkan larangan Conan dan tetap pergi meninggalkan vila di tengah hutan tempat ia lahir dan tempat ia di besarkan itu.

Mendengar cerita kepergian Naruto membuat Tsunade marah besar pada Conan. Dan memerintahkan Conan untuk mencari Naruto kemana pun ia berada. Tidak semudah itu mencari Naruto. Conan menemukan Naruto 8 tahun kemudian. Dalam kondisi yang tidak dapat di percaya. Naruto mampu membeli rumah kecil dengan hasil jerih payahnya. Walaupun rumah itu kosong tidak berisikan perabot apapun namun untuk gadis seperti Naruto? ini merupakan hal yang sulit di percaya.

Tsunade sempat sakit selama pencarian. Namun kondisinya berangsur membaik ketika mendengar kabar jika Naruto sudah di temukan. Ajaib Naruto masih mengingat Conan yang merupakan ibu angkatnya.

Setelah itu agar tidak kehilangan Naruto lagi dan demi rencananya untuk menjadikan Naruto seperti Kushina Tsunade memberi titah pada Conan untuk memasukan Naruto ke Dream High. Sekolah yang ia urus sekarang.

Flash Back End..

Naruto memijat kepalanya yang berdenyut sakit. cerita Tsunade kembali terputar di kepalanya. Naruto masih mengingat dengan jelas saat pertamakali ia melihat Ibunya 8 tahun lalu.

"Apa Kaa-chan tahu jika Nona Tsunade sudah banyak membantu mu?." Naruto memutar tubuhnya menatap sang ibu yang sedang menjahit kancing seragamnya.

"Tidak." Kushina menggelengkan kepanya. "Ibu tidak pernah tahu jika rumah itu adalah rumah mertua ku." Kushina menghela nafas.

"Apa Kaa-chan membencinya? Kaa-chan tidak pernah menceritakan apapun tentang nenek ku. Kakek ku atau yang lainnya bahkan apa yang sudah di lakukan pria itu pada mu kau tidak pernah menceritakannya." Naruto mendengus.

"Maafkan aku sayang." Kushina menghentikan kegiatanya dan menatap Naruto. "Aku berada di sini karena aku ingin kau bahagia. Bukan berbagi kesedihan dan kepedihan padamu." Ucapnya dengan tatapan Nanar. "Kaa-chan akan melakukan apapun agar kau bahagia. Kaa-chan akan mendukung di setiap pilihan dan langkah mu agar kau bahagia." Naruto tersenyum. "Jika menjadi penyanyi yang lebih sukses dari ku adalah kebahagianmu maka akan ku kabulkan. Jika membalas dendam padanya adalah kebahagiaanmu makan akan ku bantu." Kushina mendekati Naruto dan memeluknya.

"Terimakasih Kaa-chan. Aku menyayangi mu."

"Aku juga."

Di sisi lain di ruang Guardian. Sasuke dan kawan – kawan masih sibuk dengan berkas – berkas mereka. Di tambah berkas pemindahan Naruto ke Roma.

"Yah dia baru saja masuk dan dia sudah akan pergi." Kiba meracau di meja kerjanya.

"Kau benar." Saut Deidara. "Kita akan merindukannya. Yah walau kita tidak begitu dekat denganya."

"Yang paling merindukannya adalah pria yang sedang melamun di sana." Timpal Shikamaru. "Lihat. Kita sedang sibuk dan dia tengah sibuk melamun." Sindirnya.

"Oh ayolah Sas. Bantu kami. Kami Tahu kau sedih." Kurama mengomel. "Berkas ini tidak akan mengerjakan dirinya sendiri."

Sasuke menghela nafas berat mendengar omelan Kurama dan pembicaraan teman yang lainnya. Sudah cukup memusingkan memikirkan kepergian Naruto. Ia cemas jika ada pria lain yang mengincar calon pendamping hidupnya itu. Oke sekarang dia mulai berfikir seperti seorang suami yang cemburu pada istrinya. Mau tak mau Sasuke harus mengerjakan tumpukan berkas di mejanya itu dengan berat hati.

Kriett

Pintu ruangan terbuka. Masuklah sosok wanita yang sedari tadi dipikirkannya itu. "Ada apa Naru-chan?" tanya Kiba padanya.

"Saya diperintahkan Nona Tsunade untuk mengambil berkas." Jawab Naruto yang masih berdiri di dekat pintu.

"Masuklah. Berkasnya ada pada Sasuke." Gaara mengarahkan Naruto pada orang yang memegang berkas miliknya.

"Sas." Panggil Naruto. Namun Sasuke sama sekali tidak bergeming dan membuat Naruto menatap heran dirinya. "Berkasku." Ucapnya tanpa basa basi. Namun Sasuke masih tidak kunjung bergeming.

"Um Nona Uzumaki. Apa kau sudah berkemas?" tanya Kurama disela pekerjaanya.

"Sudah. Barangku tidak terlalu banyak untuk dipacking." Jawabnya sembari mengingat – ngingat jika ia tidak melupakan sesuatu.

"Keberangkatanmu sepertinya akan di majukan. Tou-san bilang banyak yang harus di urus disana dan secepatnya di lakukan." Jelas Kurama.

"Eh? Kapan saya akan berangkat?" Naruto memiringkan kepalanya.

"Tiga hari lagi. Dan ku rasa Lusa akan ada acara perpisahan untukmu." Naruto mengendikan bahunya acuh. Di majukan atau di mundurkan tidak akan mempengaruhi Naruto. Jika di majukan malahan itu sangat bagus menurutnya. "Dan kurasa Sasuke sangat keberatan dengan kepergianmu."Ucapan Kurama membuat Sasuke tersedak saat hendak minum.

"Jangan bercanda." Elaknya. "Bukankah bagus jika Naruto menggapai impiannya." Sasuke membantah apa yang diucapkan Kurama. Walau memang benar ia keberatan jika harus jauh dari Naruto. "Naruto. Apa kau ada acara hari ini dan besok?"

"Hmmm.. sepertinya tidak." Naruto memasang pose berfikir.

"Bagus. Sekarang dan besok kau akan ikut dengan ku." Pintanya ah lebih tepatnya perintahnya pada Naruto sembari memberikan berkas yang Naruto pinta.

"Oh. Baiklah." Naruto berjalan meninggalkan ruangan Guardian.

"Waah kencan terakhirkah?" Kiba menatap jahil Sasuke.

"Hn." Jawabnya datar. "Tidak hanya kencan terakhir. Aku akan menyatakan perasaan ku padanya." Kalin ini Kurama dan Neji yang tersedak ketika hendak minum.

"APAA." Teriak mereka serentak. "Aku sudah pernah memperingatimu tentang dia Sasuke." Neji menatap khawatir temannya itu.

"Kau tidak boleh melakukannya." Larang Kurama.

"Naruto tidak sejahat itu Neji." Belanya. "Dan kau. Siapa kau berani melarangku?." Sasuke menatap tajam Kurama. "Ah. Aku tahu kau memang menyukai Naruto. Tidak, Naruto milik ku." Desis Sasuke tidak suka.

"Bukan seperti itu. Dan aku sama sekali tidak ada perasaan romantis pada Naruto." bantah Kurama.

"Tch. Hanya karena Minato ayah mu yang menjadi sponsor Naruto dan kau bisa bersikap seperti kakaknya? Tidak Namikaze."

"Woow lihat ini. perang cinta." Kiba berbisik pada Gaara.

"Stt kau tidak mau di sembur Sasuke kan?" Deidara menyikut Kiba memperingati.

"Kau perduli pada Naruto kan? Kau akan memberatkannya jika kau mengatakan perasaanmu padanya." Jelas Kurama. Sasuke terdiam. "Dia akan bimbang ketika kalian berjauhan."

"Kau tahu Kurama. Naruto bukan tipe orang yang akan memikirkan suatu hal secara berlebihan." Kali ini Kurama yang terdiam. "Dia itu sangat ambisius. Tidak ada yang bisa menghalangi hal yang menjadi keinginan nya." Sasuke kembali melanutkan pekerjaanya. "Aku bahkan tidak yakin jika dia memiliki perasaan pada ku. Aku merasa yang ada di pikiran serta hatinya hanya ada impian dan ambisinya."

Hening...

"Mungkin kau benar." Kurama mengangguk setuju. Tatapan Mata Naruto menggambarkan hal yang Sasuke katakan. Tidak ada yang bisa menghalangi langkah Naruto untuk menggapai ambisinya.

Tiba hari yang di janjikan. Sasuke sudah menunggu kedatangan Naruto di sebuah restoran ternama di malam hari. Jantungnya berdegub kencang menunggu kedatangan Naruto.

"Lama menunggu?" Suara lembut itu menyadarkan Sasuke.

"Ah kau sudah datang?" Sasuke segera berdiri dan menarik bangku mempersilahkan Naruto untuk duduk di hadapannya.

"Kenapa kau meminta ku untuk menemanimu jalan – jalan selama 3 hari? Serakah sekali. Aku juga ingin jalan – jalan bersama Conan-sensei." Gerutunya pada Sasuke.

"Kau boleh mengajak Conan-sensei besok. Karena besok kita akan pergi keluar negri." Naruto menaikan sebelah alisnya. "Ah kau juga boleh mengajak kedua teman mu itu."

"Teman?" Naruto memiringkan kepalanya. "Ah. Ino dan Hinata." Naruto tersenyum miring. Ia tidak pernah berfikir sedikit pun jika Ino dan Hinata adalah temannya. "Ah tentu saja." Naruto Fake smile. Saat ini Naruto masih memerlukan Hinata dan Ino dalam karirnya. Ketika dirinya mencapai puncak maka selamat tinggal Hyuuga dan Yamanaka.

"Setelah makan malam aku akan membantu mu mengemasi barang."

"Eh?"

"Kita akan berangkat besok."

"Heeee?"

Merencanakan Sesuatu yang begitu mendadak memanglah keahlian Sasuke. Naruto mulai membayangkan rekan yang bekerja bersamanya.

Selesai mereka makan malam bersama Sasuke mengantar Naruto ke asrama membantunya berkemas untuk kepergianya ke Roma serta kepergiannya besok. Sasuke juga mengantar Naruto kerumah Conan, Hinata dan Ino untuk mengajak serta mereka. Sesuai dugaan Naruto mereka bertiga sangat terkejut dengan ajakan mendadak Sasuke.

Namun mereka sama sekali tidak menolak ajakan itu. Bagaimana dengan sekolah mereka? Sasuke sudah mengurusnya dengan sangat baik.

"Kau benar – benar luar biasa." Naruto menatap tidak percaya Sasuke. Pria ini dapat menyelesaikan urusan semendadak ini begitu sempurna.

"Aku memang mengagumkan." Naruto nyaris muntah mendengar pengakuan Sasuke.

"Tidak ada lagi gadis yang memuji mu, huh?" Naruto memincingkan alis.

"Banyak sekali. Ku harap kau tidak buta untuk melihat di sekeliling mu." Yang benar saja. Para gadis di luar mobil sana menatap Sasuke penuh kagum dari kaca mobil yang sengaja di buka. Bahkan wanita yang berboncengan dengan kekasihnya pun mencuri pandangan ke Sasuke serta menatap Sasuke nakal.

"Gezz." Naruto berdecak sebal. Dan kenapa dirinya harus sebal. "Itu hanya perasaan mu saja. Aku rasa mereka hanya tertarik pada Ferrari seksi mu ini." Naruto mengelus jok mobil di depannya. Ah Naruto memang sangat menyukai mobil jenis ini.

"Hn." Jawaban terakhir yang membuat Naruto sangat jengkel. Rasanya ingin sekali Naruto memukul wajah tampan Sasuke itu dengan tasnya saat ini juga.

Tidak terasa akhirnya Naruto tiba kembali ke asrama. "Aku akan menjemputmu besok pagi." Sasuke membukan Naruto pintu.

"Hai hai." Jawabnya. Naruto benar – benar merasa sangat ngantuk saat ini. Ia melangkah gontai memasuki gerbang asrama. Ia sangat merindukan kasurnya saat ini. sekarang dan berikutnya mungkin Naruto akan sangat jarang bertemu sang pujaan hatinya.

Setibanya di kamar Naruto langsung menghempaskan tubuhnya kekasur. Ia merasa sangat lelah. "Berakting memang sangat melelahkan." Naruto menghela Nafas.

"Kau tidak perlu berakiting jika tidak ingin anak ku." Kushina duduk di bibir kasur menatap sang putri.

"Jika tidak. Itu akan sangat sulit Kaa-chan. Mereka akan menganggapku menjijikan." Kushina menatap kasihan pada putrinya. "Anakku. Kau tidak layak hidup seperti ini. kau pantas bahagia. Ini semua salah Ku."

"Tidak." Naruto membalikan tubuhnya. "Kaa-chan tidak perlu merasa bersalah. Karena aku akan mendapatkan kebahagiaan itu." Sautnya sebelum mata itu tertutup dan Naruto hanyut kedalam mimpi.

Naruto mengerang. Ia merasakan sesuatu yang menjejali wajahnya. "Arghh Demi Dewa siapa yang berani mengganggu tidur Uzumaki Naruto?" Mata Naruto terbelalak saat ia membuka mata dan mendapati sosok Sasuke di samping ranjangnya. "A-a-a KYAAAAAAAAAAAAAAA."

BRAKK

PLAK

BUGH

KROMPYANKK

Teriakannya menggelegar sepenjuru kamar.

Posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Sasuke. Namun Sasuke tidak pernah menyesal melakukan hal tadi pada Naruto. mengganggu tidur Naruto sangatlah menyenangkan. "Jadi bagaimana kau bisa masuk kemari." Naruto menatap Sasuke yang tengah duduk bersipuh menghadap Naruto di lantai. Hanya seorang Uzumaki Naruto yang dapat membuat seorang Uchiha Sasuke seperti ini.

"Pukulan mu itu sangat menyakitkan." Ringis Sasuke sembari mengelus pipinya yang masih terdapat bekas bogeman Naruto. "Kushina-san yang memberi ku akses."

Kushina berdehem. Ia berpura – pura mengelap meja padahal ia sama sekali tidak bisa menyentuh barang apa pun dengan tangannya. "Kaa-chan." Pekik Naruto.

"A... bukan kan Naru memang harus bangun pagi? Uchiha-kun bilang kalian akan pergi ke luar negri?" Naruto terkesiap. Benar juga, batin Naruto.

"Tapi tidak seharusnya membangunkan ku dengan cara yang menyebalkan seperti ini. menjejali wajah ku." Semburat merah muncul di pipi Naruto. "Geezz pasti ia melihat wajah ku saat tertidur. Memalukan." Naruto bergumam pelan sambil berjalan meninggalkan Sasuke dan Ibunya di ruang tengah menuju kamar.

Naruto menyeret keluar koper yang ia kemasi bersama Sasuke semalam. "Kita hanya pergi dua hari bukan?" Naruto menatap Sasuke yang mulai beranjak dari lantai.

"Hn." Jawabnya singkat.

"Aku ingin membawa Kaa-chan."

"Aku rasa tidak bisa. Karena kemungkinan teman – teman ku akan ikut."

"Aku tahu. Aku juga menghawatirkan jika Hinata bisa melihat Kaa-chan." Naruto menghela nafas kecewa. Ini kali pertamanya Naruto keluar negri. Dan ia ingin jika saat – saat itu ia bersama Kushina.

"Tidak apa anakku. Bersenang – senanglah. Saat ini kau perlu refreshing setelah ini kau akan sangat sibuk bahkan untuk beristirahat tidur juga akan sangat terbatas." Kushina membelai hampa rambut pirang putrinya.

"Aku mengerti."

"Jaga diri kalian di sana. Dan Uchiha-kun, aku titipkan Naruto padamu. Jaga dia baik – baik."

"Saya mengerti." Sasuke membungkuk sebelum pergi meninggalkan kushina.

Perjalanan Naruto akan sangat sepi dan terasa aneh. Jujur saja Naruto sama sekali tidak pernah jauh dari Kushina. Naruto tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di sana kelak.

Bersambung...

Wooppss sorry lama banget updatenya. Author lagi sibuk banget. Maklum maba dan tugas dosen itu datangnya bergilir/curhat.

Ini juga next chapternya Yu buat pas selesai UTS. Dan ya gabisa buat panjang – panjang inget waktu senggang yang bisa di bilang sangat sedikit.

Tetap stay ya. Sampai jumpa chap depan. Pay pay~

Review please