~Fall in Love With You, again and again ~ [Chapter 10]

Judul : Fall in Love With You, again and again.
Author : Ciel Bocchan
Genre : Romance, School, Comedy, and Fantasy
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata)
Rating : T


|Hanya karena mereka tak menginginkanmu, bukan berarti aku juga seperti itu. Kau harus tahu, bahwa di dunia ini, akulah yang paling menginginkanmu|

"Aah, Hinata-chan" panggil Naruto yang sepertinya tiba-tiba teringat akan sesuatu.

"A-apa?" sahut Hinata lalu meminum air putih di depannya untuk mengurangi gelisah.

"Kau tahu? Saat aku tertidur tadi. Aku merasakan ada sesuatu yang hangat di bibirku. Juga aroma harum seperti Hinata-chan" kata Naruto dengan senyum lebarnya. Hinata langsung tersedak oleh minumannya. Gadis Hyuuga itu menunduk sambil merutuki dirinya. Kenapa ia harus nekat mencium Naruto yang sedang tidur? Bagaimana jika Naruto tahu dan pemuda Uzumaki itu marah lalu menjauhinya?

"Apa itu Hinata-chan?" tanya Naruto. Hinata langsung mengangkat kepalanya dan menatap pemuda itu.

"B-bukan! A-ku terus d-di dapur dan a-aku ingin membangunkan N-Naruto-kun t-tapi N-Naruto-kun terbangun sendiri" kilah Hinata yang benar-benar tak bisa menghilangkan bicaranya yang terbata. Naruto mengangguk-angguk dengan wajah yang masih bingung.

"Kupikir itu Hinata-chan, karena aromanya sama. Tapi, sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja" kata Naruto. Pemuda itu kemudian menggaruk kepalanya sambil tertawa.

Jam sudah menunjukan pukul empat lebih beberapa menit. Diluar, salju sudah berhenti, tapi tak berpengaruh pada udara yang tetap dingin.

"Minum obatnya. Setelah itu istirahat. Aku akan pulang setelah membereskan dapur. Aku sudah memotong dan membersihkan sayurannya, kau tingggal memasak saja. Jangan makan daging terus. Aku akan tahu kalau kau berbohong telah makan sayur padahal sayurannya telah dibuang" kata Hinata sambil membereskan piring-piring di atas meja makan lalu membawanya ke dapur. Naruto hanya tersenyum lebar mendengar Hinata sedikit mengomel padanya. Itu berarti bahwa gadis itu perhatian padanya.

"Kau akan kemari untuk memasakkan sayur untukku lagi, kan, Hinata-chan?" tanya Naruto yang sedang berdiri di pintu dapur melihat Hinata yang sedang mencuci piring.

"K-kenapa aku harus?" sahutnya tanpa menoleh ke arah Naruto. Gadis itu sudah tak mampu untuk menatap Naruto lagi.

"Karena aku tidak bisa memasak sayuran. Aku hanya bisa mematangkan daging, tidak dengan tumbuh-tumbuhan hijau seperti itu" ujar Naruto sambil berjalan masuk dan membantu Hinata merapikan piring-piring yang telah dicuci dan menyusunnya di rak. Hinata tak merespon. Gadis itu hanya mempercepat pekerjaannya lalu segera kembali ke kamar Naruto untuk mengambil tas.

Naruto mengantar gadis itu sampai di depan pintu.

"K-kalau begitu, aku pulang. Istirahatlah" ujar Hinata

"Iya" Naruto mengangguk sambil sesekali melihat situasi di sekitar rumahnya. Ketika Hinata akhirnya pulang dan berjalan menuju halte bus. Naruto mengikuti gadis itu setelah mengambil mantelnya dan menyusul Hinata. Naruto khawatir dengan adanya siluman-siluman lain yang mungkin akan mengincar Hinata, karena dalam tubuh gadis Hyuuga itu, kemungkinan adalah api rubah miliknya.

Hinata menoleh lagi sebelum membuka pintu rumahnya. Seperti ada seseorang yang terus mengikutinya sejak dari rumah Naruto.

"Naruto-kun membuatku seperti orang gila" gerutu Hinata lalu membuka pintu rumahnya. Mengabaikannya keadaan sekelilingnya.

"Aku pulang!" seru Hinata sambil melepas sepatunya. Gadis itu berjalan masuk sambil melepas sweater tipisnya.

"Ke rumah si kuning jabrik itu lagi?" tanya Hyuuga Neji sinis. Kakak laki-laki dari Hyuuga Hinata itu sedang duduk sambil membaca buku di ruang tamu.

"Naruto!" sahut Hinata kesal. Karena Neji selalu memanggil Naruto dengan ledekan seperti itu, seperti teman-temannya di sekolah. Padahal mereka belum pernah bertemu.

"Yah, siapapun namanya. Kau pulang terlambat, lagi, karena anak itu, bukan?"

"Aku pergi ke rumahnya karena khawatir. Ternyata Naruto-kun sedang tidak enak badan. Aku sudah pernah bercerita pada Oniisan, bukan? Kalau Naruto-kun memiliki suhu tubuh yang dingin" jelas Hinata

"Jadi, karena itu kau meminta obat herbal pada Ayah?"

"Benar sekali" sahut Hinata dengan senyum lebarnya lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

"Kau sudah tahu?" seru Neji saat Hinata hampir sampai di kamarnya. Mendengar kakaknya berseru, Hinata langsung berjalan ke besi pembatas lantai dua dan melihat kakaknya dari sana.

"Apa?" sahutnya

"Bahwa kita tidak boleh keluar selama musim dingin, selain untuk pergi ke sekolah. Terlebih lagi kau, yang memiliki suhu tubuh paling hangat diantara keluarga kita. Diantara semua klan Hyuuga. Ayah menyuruhku untuk mengantar dan menjemputmu sekolah" jelas Neji

"B-benarkah? Kenapa?" seru gadis itu

"Karena siluman-siluman salju sudah mulai keluar ke dunia kita untuk mencari api yang bisa menghangatkan mereka"

"Kenapa Oniisan dan Ayah percaya pada hal-hal seperti itu?" gerutu Hinata

"Hanya kau satu-satunya yang tak percaya sejarah klan kita. Kau bahkan pernah hampir meninggal kalau saja api rubah itu tak dimasukkan ke dalam tubuhmu. Aku masih mengingat kejadian itu walaupun saat itu aku masih sangat kecil"

"Bukankah semuanya terlalu mustahil? Oya, dimana Ayah?" tanya Hinata ketika tak melihat atau mendengar suara Ayahnya.

"Ayah sedang berkunjung ke rumah keluarga Uchiha. Mulai hari ini, jangan pergi kemanapun lagi tanpa kakak, mengerti?" peringat Neji sambil mendongak ke arah adik perempuannya itu.

"Baiklah-baiklah. Aku ingin istirahat. Jika Ayah mencariku, katakan saja aku sedang tidur di kamar" kata Hinata lalu berjalan kembali ke kamarnya. Gadis Hyuuga itu memikirkan tentang perkataan kakaknya. Mereka tidak diperbolehkan keluar rumah kecuali untuk sekolah dan itupun harus diantar-jemput oleh kakaknya.

"Siluman-siluman salju? Apa-apaan itu?" gerutu Hinata sambil melempar dirinya di atas kasur. Gadis Hyuuga itu menatap langit-langit kamarnya dengan mata setengah mengantuk. Wajah Uzumaki Naruto tiba-tiba membayang di matanya. Hinata merutuki dirinya sekali lagi, bahkan berulangkali sepanjang perjalan pulang.

"Kenapa aku nekat mencium Naruto-kun?" gumamnya lagi sambil mengacak pelan puncak kepalanya, gelisah dengan tindakan paling bodoh yang telah dilakukannya. Hinata bahkan tak pernah berpikir kalau dirinya akan berani mencium seseorang lebih dulu. Gadis itu lalu menyadari bahwa apa yang dikatakan Karin, sepertinya benar. Bahwa ia telah jatuh cinta pada Uzumaki Naruto dan telah melupakan Uchiha Sasuke begitu saja.

"T-tapi...bagaimana jika c-ciuman tadi adalah yang pertama bagi Naruto-kun?" tanya Hinata. Begitu tersadar akan sesuatu yang juga penting untuk dirinya sendiri, Hinata langsung bangun dan duduk dengan tegak, dan tegang. Gadis berambut lavender panjang itu menyentuh bibirnya.

"Bukankah itu juga yang pertama bagiku?" serunya kaget sambil berdiri tegak. Gadis itu lalu memukul-mukul kepalanya sambil berkata 'bodoh'.

Hinata kemudian kembali merebahkan tubuhnya dengan wajah gelisah. Dan wajah Uzumaki Naruto yang sedang tertawa membuatnya tersenyum lalu bergumam sangat pelan.

"Sepertinya aku telah menyukaimu, kau tahu?"


Naruto akhirnya terpaksa mengikuti permainan bodoh teman-temannya di waktu istirahat. Padahal, ia bermaksud untuk mengajak Nagato dan Karin berbicara. Tetapi, Suigetsu langsung memprovokasi Nagato untuk mengajak Karin ikut. Dan Sasuke, tentu saja mengajak Hinata. Kiba duduk berjauhan dengan Shino. Sakura terus menempeli Naruto seperti permen karet yang terlanjur menempel di kayu. Suigetsu tentu saja dengan hobinya 'menghina' Karin. Nagato duduk berdekatan dengan sepupunya. Dan Tenten, menempeli Hinata sebagai media paling mudah untuk bisa mendekati Hyuuga Neji.

Ketika botol kosong berputar dan berhenti, mulut botol menghadap tepat ke arah Naruto. Pemuda berambut kuning jabrik itu menatap teman-temannya dengan wajah bodoh. Hanya Hinata yang kaget. Yang lain malah menyeringai tak sabar ingin mengerjai Naruto. Karena yang memutar botol adalah Sasuke, jadi, pemuda berambut raven itulah yang akan memberikan pertanyaan.
Sasuke melihat ke arah Naruto dengan seringai jahil. Sementara yang lain, minus Hinata, menunggu dengan wajah tak sabar.

"Pertanyaannya ; Naruto, siapa yang kau sukai?" tanya Sasuke.

Yang terlihat paling bersemangat menunggu jawaban Naruto adalah Suigetsu, Kiba, Karin, TenTen, dan tentu saja si pemberi pertanyaan. Shino tak memiliki ekspresi. Nagato terlihat biasa saja. Sakura berdebar. Dan Hinata gelisah, lagi.

"Aku? Siapa yang kusukai?" tanya Naruto dengan wajahnya yang tentu saja tak mengerti.

"Ya, yang kau su-ka-i" eja Sasuke untuk lebih menjelaskan pada Naruto yang sudah terkenal lambat mencerna sesuatu.

"Aku tahu!" seru Naruto dengan wajah yang langsung cerah.

Semua mata langsung melotot padanya termasuk Shino dan Nagato yang tadinya terlihat tidak tertarik. Semua antusias. Hinata menatap pemuda bermata biru safir dengan perasannya yang sudah bercampur aduk.

"Aku sangat menyukai daging" kata Naruto dengan wajahnya yang berseri dan senyumnya yang secerah mentari. Hinata menahan tawa dengan menunduk sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan.

Speechless...

"N-Naruto?"

"Apa yang kau..."

"...Siapa..."

"Bukan apa"

"N-NA-RU-TOOOOOOO...!" teriak Sasuke dan Kiba bersamaan lalu menerjang Naruto sampai pemuda berambut kuning jabrik itu terjungkal ke lantai. Naruto meringis kesakitan karena kepalnya terbentur lantai. Sasuke dan Kiba yang sudah kembali berdiri, menatapnya dengan tatapan membunuh. Naruto menatap bingung lalu kembali merapikan bangku dan duduk. Dengan wajah tanpa dosa, pemuda itu lalu bertanya, "Kenapa kalian malah menyerangku? Sasuke bertanya, dan aku sudah menjawabnya, bukan?"

"Naruto!" dada Sasuke sampai naik turun karena terlalu kesal dan tidak habis pikir tentang kebodohan yang menimpa Naruto.

"Sasuke bertanya SIAPA! Bukan APA!" bentak Kiba, sama kesalnya dengan Sasuke.

"Tidak perduli siapa dan apa, aku tetap menyukai daging" sahut Naruto. Rubah itu benar-benar tak mengerti apapun. Sakura, Karin, dan Tenten menatap Naruto tanpa berkedip dan mulut melongo. Sementara anak laki-laki, menatap Naruto, sama kesalnya. Minus Hinata lagi. Gadis Hyuuga itu hanya tersenyum kecil, masih menahan tawa.

"Lupakan si kuning bodoh ini! Dan kita lanjut" kata Sasuke sambil menjitak kepala Naruto. Karena tadi Naruto yang mendapat pertanyaan, jadi, pemuda itulah yang harus memutar botol.

"Aah! Hinata-chan!" seru Naruto tepat ketika mulut botol yang berhenti mengarah pada Hyuuga Hinata. Semua mata menatap gadis Hyuuga itu. Kemudian menatap si pemberi pertanyaan, Naruto, dengan harapan bahwa pemuda bodoh itu tak menanyakan hal yang bodoh. Sementara Hinata, menatap pemuda bermata biru safir itu cemas, gelisah lagi.

Naruto menatap Hinata dengan kening mengerut. Pemuda Uzumaki itu sedang memikirkan pertanyaan apa yang ingin ia tanyakan pada Hyuuga Hinata. Sementara Hinata, berdoa agar Naruto tidak menanyakan hal-hal aneh saat bersama banyak orang seperti ini.
Naruto seperti sedang ingin berbicara dan membuat semua teman-temannya tegang. Bukan karena penasaran dengan pertanyaan Naruto, tapi karena khawatir dengan pertanyaan seperti apa yang akan ditanyakan oleh pemuda berambut kuning jabrik itu.

"Apakah...Hinata-chan, menginginkanku?" tanya Naruto akhirnya.

Hinata melongo. Begitu juga dengan yang lainnya. Pertanyaan apa itu? Sasuke lagi-lagi menjitak kepala Naruto kesal.

"kenapa kau senang sekali memukul kepalaku?" omel Naruto sambil mengelus-elus kepalanya.

"Kenapa kau bertanya seperti pada Hinata-chan?"

"Kenapa? Bukankah peraturannya kita boleh menanyakan apa saja?" balas Naruto tak mau kalah.

"...Benar, tapi, pertanyaan seperti itu..." Sasuke kehilangan kata-katanya. Sakura tak tahu harus ikut berbicara atau tidak.

"Karena pertanyaanmu itu terdengar seperti kau sedang menembak Hinata-chan" ujar Nagato tenang. Semua orang langusng menatap pemuda Uzumaki berambut merah itu dengan wajah tertohok.

"Aku tidak menembak Hinata-chan. Aku hanya bertanya apakah Hinata-chan menginginkanku!" tegas Naruto. Habis sudah kesabarannya teman-temannya. Mereka hanya menggeleng pasrah. Dengan wajah lemah, Sasuke kemudian berkata, "Nah, jawablah pertanyaan si bodoh ini, Hinata-chan". Hinata tergagap, tentu saja. Apa yang harus dijawab oleh gadis Hyuuga itu jika pertanyaan Naruto memang terdengar seperti sedang menembaknya. Hinata diam untuk mengulur waktu, berharap ada sesuatu yang akan membubarkan permainan konyol ini.

"Ah! Ponselku" seru Naruto tiba-tiba. Ponselnya berdering, Uchiha Itachi memanggil. Kening Naruto langsung mengerut. Kalau Uchiha Itachi menelponnya, pasti ada sesuatu yang penting. Naruto lalu berkata kalau ia harus berhenti mengikuti permainan untuk menjawab panggilan penting di ponselnya. Pemuda berambut kuning itu kemudian segera menyingkir dan mencari tempat yang aman untuk berbicara.

"Moshi-moshi?"

"Naruto?" panggil Uchiha Itachi di ujung ponsel

"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Naruto cepat

"...Siapa kau sebenarnya?"

Kedua mata Naruto langsung membelalak, kaget. Pertanyaan Itachi yang terdengar dingin membuatnya sempat takut walaupun hanya sebentar. Takut kalau kakak Uchiha Sasuke itu memberitahu manusia siapa Naruto sebenarnya.

"Aku ingin bicara denganmu, tapi tidak sekarang. Aku sedang diawasi sejak tadi malam karena aku telah mengetahui sesuatu yang seharusnya tak boleh kuketahui" ujar Itcahi. Suara pemuda itu terdengar serius.

"Sesuatu? Apa?"

"Tentang buku peninggalan Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina"

"K-kau tahu dimana buku itu?" desis Naruto.

"Aku akan menelponmu lagi, dan kita akan bicara setelah keadaan di sini aman" suara Itachi di seberang sana terdengar seperti sebuah bisikan. Kemudian, sambungan telpon terputus. Itachi telah mematikan ponselnya lebih dulu.

Naruto menatap ponselnya tanpa berkedip. Sebentar lagi, ia akan tahu di mana buku itu. Tetapi, masalahnya Uchiha Itachi sedang diawasi sehingga Naruto harus sedikit bersabar. Uzumaki Mito belum menangkapnya karena ia harus mendapatkan buku itu lebih dulu untuk menyegel. Satu-satunya yang masih berkeliaran untuk mencarinya saat ini adalah klan Uchiha yang menginginkannya.

Naruto langung memasang wajah biasa saat ia mendengar suara Nagato, Karin dan Hinata yang semakin mendekat ke arahnya. Pemuda itu berpura-pura tidak tahu sambil memainkan lantai dengan kakinya.

"Aku akan menunggu di kelas. Sepertinya kalian ingin membicarakan sesuatu yang penting" suara Hinata terdengar di telinganya. Naruto mendengar langkah gadis Hyuuga itu memasuki kelas.

"Naruto!" panggil Nagato. Naruto menoleh, lalu berhenti memainkan kakinya di lantai. Nagato dan Karin kemudian mengajak Naruto untuk ke taman belakang sekolah agar mereka bisa berbicara lebih tenang tanpa suara-suara yang mengganggu.

Naruto menunggu agak lama sampai duo Uzumaki itu berbicara. Naruto tak perlu mengajak mereka berbicara lebih dulu, yang batal karena permainanputar botol tadi. Karena Nagato dan Karin, akhirnya mengajak untuk berbicara lebih dulu. Tetapi, Naruto heran apa yang ingin dibicarakan duo Uzumaki tersebut. Sesuatu yang sepertinya sangat penting karena wajah mereka terlihat serius.

"Ternyata, kau adalah tuan rubah yang selama ini dicari" Nagato membuka suara. Naruto yang sangat kaget langsung menoleh ke arah Nagato yang duduk di sisi kirinya.

"Sebenarnya ini terdengar agak aneh. Tetapi, kami, klan Uzumaki, harus memanggil 'anda' pada tuan rubah yang sangat dihormati sejak zaman para leluhur klan Uzumaki" lanjut Karin yang duduk di sisi kanannya.

"Apa yang...kalian...tahu dari mana?" tanya Naruto dengan wajah shock. Nagato dan Karin tersenyum lebar.

"Kami telah melakukan pertemuan keluarga malam tadi. Klan Uzumaki yang tersisa hanya sepuluh orang. Ayah, Ibu, Kakek, dan Nenekku. Kedua orangtua Karin, dan dua lainnya yang merupakan kerabat jauh. Mereka memberitahu kami bahwa kau adalah tuan rubah yang sedang diburu. Mereka memberi perintah bahwa aku dan Karin harus melindungi anda selama berada dalam wujud manusia" jelas Nagato serius. Naruto mendengar penjelasan tersebut dengan wajah masih tak percaya bahwa semua klan Uzumaki telah mengetahui identitasnya. Naruto langsung yakin bahwa Uzumaki Mito, secara tak langsung, adalah orang yang telah membeberkan identitasnya. Tetapi, sepertinya, mereka belum tahu tentang Uzumaki Mito.

"Mungkinkah..." Naruto tak melanjutkan kata-katanya karena teringat dengan empat orang anggota Uzumaki yang berada di rumah Uzumaki Mito saat itu. Mungkinkah mereka adalah Ayah dari Nagato dan Karin? Lalu, dua anggota lainnya adalah dua orang kerabat jauh yang Nagato katakan. Jika Nagato mengatakan bahwa anggota klan Uzumaki yang tersisa hanya sepuluh orang, berarti, sebagian dari mereka tak diberitahu tentang Uzumaki Mito yang masih bertahan hidup sampai sekarang.

"Pantas saja saya merasa aneh saat pertama kali melihat anda" kata Karin dengan bahasa yang sudah berubah sopan. Gadis Uzumaki itu tersenyum lebar.

"Kami tak pernah menyangka bahwa siluman rubah seperti anda bisa berada diantara manusia" tambah Nagato

"Apa kalian tahu tentang buku peninggalan orangtuaku?" tanya Naruto kemudian.

"Buku? Aah, kami tahu, tetapi, buku itu tidak ditemukan di manapun"

"Anda tidak seharusnya sering keluar di musim dingin seperti ini. Sekolah bukanlah sesuatu yang penting bagi anda" ujar Karin serius.

"Selama aku merasa cukup hangat, aku akan baik-baik saja" kata Naruto.

"Tetapi anda tetap harus berhati-hati, karena siluman-siluman salju sudah berkeliaran, dan kemungkinan besar akan mengejar anda yang memiliki kekuatan api paling kuat" peringat Nagato. Naruto mengangguk. Pemuda itu sama sekali tak merasa takut dengan kemunculan siluman-siluman salju yang sedang berkeliaran mencari api atau mengincar apinya. Karena walaupun kekuatan Naruto sedang melemah di musim dingin, kekuatan siluman-siluman tersebut, tetap saja tidak ada apa-apanya. Tetapi, bagaimana dengan Hyuuga Hinata? Kalau ternyata benar bahwa gadis itu memiliki sebagian dari api dalam tubuhnya, maka akan sangat berbahaya bagi gadis itu.

"Aku heran kenapa Hinata tiba-tiba dilarang ke luar rumah selama musim dingin kecuali untuk datang ke sekolah" kata Karin tiba-tiba. Naruto menoleh ke arah gadis berkaca mata itu.

"Benarkah? Sejak kapan?" tanya Naruto

"Mulai pagi ini, dia akan diantar jemput oleh kakaknya. Hinata tidak diperbolehkan lagi untuk keluar, kecuali ditemani oleh kakaknya"

"Apakah Hinata-chan memberitahu alasannya?"

"Ayahnya melarang keluar karena siluman-siluman salju mungkin akan mengincarnya. Kalian tahu? Hinata bukan gadis yang percaya hal-hal seperti itu. Tapi, tentu saja dia harus menurut. Lagipula, kenapa siluman salju mengincar Hinata yang tak memiliki apa-apa? Maksudku, bukankah siluman hanya mengincar orang-orang yang memiliki api?" jelas Karin. Mendengar penjelasan Karin, Naruto semakin yakin bahwa Hinata memang memiliki sebagian api rubah tersebut. Bahkan Ayah gadis Hyuuga itu telah benar-benar melarang putrinya keluar di musim dingin tanpa pengawasan. Tetapi, itu cukup bagus, berarti, Naruto tak perlu terlalu khawatir dengan keselamatan gadis itu.


Naruto tersenyum lebar sambil berdiri disamping Hinata. Pemuda Uzumaki itu menemani Hinata yang sedang menunggu jemputan. Setidaknya, Naruto harus memastikan kalau gadis itu benar-benar dijemput dan pulang dengan selamat.

Hinata hanya menunduk sambil memainkan salju di tanah dengan kakinya. Gadis itu masih tak memiliki cukup keberanian untuk menatap Naruto langsung. Menatap Naruto akan membuatnya teringat pada apa yang telah dilakukannya pada pemuda bermata biru safir itu. Mencium seseorang yang sedang tertidur benar-benar curang, bukan?

"Hinata-chan?" panggil Naruto sambil sedikit membungkuk untuk bisa melihat wajah Hyuuga Hinata. Pemuda Uzumaki itu mendongak tepat di depan wajah Hinata yang menunduk dalam-dalam. Kaget, Hinata akhirnya mengangkat kepalanya.

"A-ada apa?"

"Kau kenapa? Sejak tadi pagi, kau tak mau melihat atau berbicara denganku. Apa aku sudah melakukan sesuatu yang membuatmu marah?" tanya Naruto dengan wajah bingung.

"T-tidak. A-aku hanya sedang tidak ingin berbicara banyak"

"Kau belum menjawab pertanyaanku"

"Pertanyaan, yang mana?"

"Apakah Hinata-chan menginginkanku?" tanya Naruto. Hinata berdebar. Ia selalu berdebar setiap bersama Naruto, hanya berdua. Gadis Hyuuga itu menatap Naruto dengan wajah bingung. Ia harus memberi jawaban seperti apa.

"Sebelum aku menjawab, agar adil, apa aku juga boleh bertanya padamu?" Hinata malah balik bertanya, untuk mengulur waktu sampai kakaknya datang.

"Boleh. Tanyakan apa saja yang Hinata-chan inginkan" jawab Naruto dengan senyum lebarnya. Kata teman-temannya, itu senyum lima jari, khas Uzumaki Naruto.

"Aku akan bertanya hal yang sama" kata Hinata sambil menatap pemuda itu serius. Kening Naruto mengerut.

"Apakah... Naruto-kun menginginkanku?" tanya Hinata. Kedua matanya menatap serius wajah Naruto.

"Tentu saja" jawab Naruto cepat. Wajahnya yang tanpa beban itu membuat Hinata kagum. Bagaimana pemuda itu bisa menjawab pertanyaan seperti itu dengan mudahnya. Bagaimana Naruto bisa menjawab pertanyaan seperti itu dengan senyum dan wajah yakin. Hinata ingin seperti itu, ingin menjawab pertanyaan pemuda itu dengan wajah tenang dan senyum paling manis yang ia miliki. Tetapi, karena ini Naruto, maka, jawabannya hanyalah hal biasa karena pemuda itu menganggap semua temannya...

"Kau berbeda" kata Naruto tiba-tiba. Menghentakkan perasaan dan pikiran Hinata yang mulai menyamakkan posisinya dengan teman-teman Naruto yang lain. Gadis Hyuuga itu menatap Naruto tak percaya.

"Kau berbeda, Hinata-chan" tegas Naruto. Kini, pemuda Uzumaki itu telah berdiri di depan Hinata. Raut wajahnya terlihat sangat serius. Hinata tak bisa bersuara, terlalu kaget.

"Hinata!" sebuah suara menyerukan nama gadis itu. Hinata melihat melalui bahu Naruto. Hinata sedikit lega melihat kakaknya telah datang. Untuk saat ini, ia bisa menghindari pembicaraan sensitif seperti ini.

"I-itu kakakku" kata Hinata dengan senyum paksa. Naruto menoleh ke arah seorang pemuda berambut panjang yang sedang berjalan ke arah mereka.

Hyuuga Neji menatap sinis ke arah Naruto.

"Ayo pulang" kata Neji tanpa basa-basi.

"Kau kakak Hinata-chan?" tanya Naruto. Neji menoleh ke arah pemuda berambut kuning itu.

"Dan kau, pasti si kuning jabrik yang sering dibicarakan Hinata" tebak Neji. Naruto menatap Neji tak suka. Dalam hati, Naruto mengomel, kenapa Hinata memiliki kakak laki-laki yang berwajah marah seperti itu.

"Oniisan!" Hinata memukul pelan lengan kakaknya itu. Merasa tidak enak dengan Naruto.

"Karena kakakmu sudah datang, aku sepertinya harus pulang" kata Naruto. Pemuda itu tersenyum ke arah Hinata. Selalu tersenyum. Naruto sudah melangkah agak jauh ketika Hinata tiba-tiba berseru.

"Naruto-kun!"

Naruto menoleh heran.

"H-hati-hati!" seru gadis itu lagi.

Naruto langsung tersenyum lebar, lalu mengangguk.

Hinata balas tersenyum.

Neji melihat Naruto dan Hinata bergantian. Keningnya mengerut.


"Itachi bukan musuh kita, kenapa harus mengawasinya?" tanya Uchiha Shisui pada kakeknya.

"Kakek tak pernah bilang kalau Itachi musuh. Kakek menyuruh orang untuk mengawasinya karena anak itu terlalu cerdas. Dan sepertinya, Izuna-sama sudah menyadari kemampuan Itachi yang tak dimiliki oleh Uchiha lainnya" jawab Uchiha Obito. Lelaki tua itu sedang berbicara dengan cucunya.

"Apa karena Itachi telah mengetahui segalanya?"

"Iya. Pertemuan kakek dengan Hyuuga Hiashi tadi malam, tak kusangka jika Itachi berada di dalam jarak pendengaran yang jelas. Itu karena kau menyuruh Itachi menunggumu di ruangan disebelah kamar kakek"

"I-iya. Maafkan aku. Apa aku boleh memberitahu Itachi? Kalau orang yang kakek suruh untuk mengawasinya itu, adalah untuk melindunginya dari Izuna-sama"

"Sepertinya harus, karena Itachi telah mengira bahwa orang-orang yang kakek suruh, memiliki niat jahat padanya" ujar Uchiha Obito dengan senyum kecil. Uchiha Shisui tersenyum lebar. Pemuda Uchiha yang menjadi teman akrab Uchiha Itachi itu lalu keluar dari kamar kakeknya.

"Sepertinya, Itachi mengetahui sesuatu yang tidak kakek dan paman Hiashi ketahui. Kenapa Itachi merahasiakannya dariku?" gumam Shisui sambil berjalan menuju kamarnya.

"Karena kau tak bisa menjaga rahasia" suara Itachi.

Shisui menoleh cepat dan mendapati Itachi sudah berada di belakangnya.

"Sejak kapan..."

"Sejak kau keluar dari kamar kakekmu" jawab Itachi bahkan sebelum Shisui melanjutkan kalimatnya. Shisui menatap Itachi heran. Sahabatnya itu selalu mengagetkan orang dengan tiba-tiba muncul tanpa ada yang menyadari.

"Aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu" kata Itachi pelan sambil mengarahkan Shisui untuk mengikutinya.


TBC