What's Wrong With Wedding? (4W)

by exoblackpepper

.

Chanyeol X Baekhyun (ChanBaek or BaekYeol)

Romance; Drama; Fluff

T+

.

.


.

Chapter 10: Love.

.

.

.

Takdir memang selalu punya cara yang tak terduga agar selalu tampak mengejutkan. Tanpa firasat apa-apa, cinta itu datang. Andai saja kita, manusia, mampu menebak dengan tepat apa yang akan terjadi kepada diri kita di masa depan, maukah kita mencintai seseorang yang sama? Jawaban Baekhyun adalah iya.

Jelas Baekhyun ingat ketika pertama kali dirinya bertemu sang kekasih, Park Chanyeol. Saat itu ia menghadiri pernikahan sahabatnya dan secara tidak sengaja sebuah "kecelakaan" kecil terjadi. Kecelakaan yang mempertemukannya dengan si pria tinggi nan tampan. Dan lagi-lagi takdir melibatkan mereka kedalam permainannya; Baekhyun dan Chanyeol menimba ilmu di universitas yang sama, di fakultas yang sama pula. Hanya saja Chanyeol lebih senior dibanding Baekhyun yang baru akan lulus beberapa tahun lagi.

Pria berparas menggemaskan itu tak bisa berhenti tersenyum dari telinga ke telinga saat ini. Dengan jemari lentik bertautan dengan nyaman diantara jemari besar Chanyeol, ia berjalan dengan sedikit bersandar pada tubuh pria tinggi itu. Oh, jangan lupakan buket bunga dari Chanyeol tadi. Mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih. Well, sorakan dan siulan menggoda dari Jongdae dan kawan-kawan tak dapat terelakkan lagi ketika mereka keluar dari mobil, maksudnya. Pipi sepasang kekasih muda itu bersemu malu.

"Kalian masih bersama?!"

"Yay! Selamat!"

"Aww lihat, mereka cocok sekali!"

Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa tersenyum menanggapi respon super positif dari teman-teman mereka. Ini sudah tahun keberapa sejak Chanyeol meminta Baekhyun untuk menjadi tambatan hatinya. Tidak bisa dipungkiri, Chanyeol selalu berhasil membuat Baekhyun meleleh. Entah itu adalah kiriman bunga di hari tanpa event, atau kiriman voice note saat Chanyeol bernyanyi sambil bermain gitar di malam hari, mengiringi Baekhyun menuju alam mimpi.

Jadi disinilah mereka sekarang, melakukan sedikit perayaan sekaligus mengumumkan hubungan resmi mereka. Jongdae dengan Minseok dan beberapa teman seperti Jongin sudah dimiliki oleh Kyungsoo dan Suho, pria itu masih betah bersama Yixing.

Mereka semua menghabiskan malam sambil minum dan bercerita satu sama lain, terutama Jongdae yang terlihat antusias dengan cerita mereka –Chanyeol dan Baekhyun. Bagaimana Chanyeol membantu pria kecilnya dan kemudian semua itu malah melibatkan perasaan.

Chanyeol merangkul pinggang kekasihnya untuk berada lebih dekat, seolah takut Baekhyun bisa menghilang secara tiba-tiba.

"Kalian sungguh manisss!" seru Minseok.

Baekhyun merona, masih malu-malu atas perlakuan Chanyeol walaupun kupu-kupu terus berterbangan di perutnya. Ia merasa ingin mencium raksasa-nya yang begitu adorable. Kekasihnya memang tinggi, sekilas tampak begitu berwibawa dengan tatanan rambut berwarna hitam gelap yang ditarik keatas dan garis rahang tegas, tapi Baekhyun tidak begitu ingat sejak kapan Chanyeol menjadi sedikit lebih manja padanya. Chanyeol mencintai Baekhyun lebih dari puisi romantis dapat diungkapkan dan hal yang sama dirasakan oleh pria yang satunya lagi.

Seperti tidak ingin berpisah, saling mencintai seakan tiada hari esok.

"Aku ingin melihat kalian segera bertunangan atau langsung menikah!"

"Lalu aku ingin keponakan yang se-imut Baekhyunie!" Itu suara Luhan.

Kalimat itu membuat Chanyeol tersenyum lebar, Baekhyun menyembunyikan wajah merah tomat dengan melihat kearah lain tapi Chanyeol menarik dagunya dan mengecup bibir tipis itu secepat kilat, menyeringai puas.

Sorakan teman-temannya, atau suara Sehun yang mendominasi suasana ketika membicarakan angan-angan tentang acara penikahan Chanyeol-Baekhyun masih berputar-putar di kepala. Di malam itu juga sebelum pulang ke apartemen Baekhyun, Chanyeol ditarik oleh Sehun untuk berbicara diujung ruangan tentang bagaimana cara melamar seseorang.

Sehun memang lebih muda dari Chanyeol, namun ia sudah lebih dulu menikah dengan Luhan, jadi setidaknya ia tahu apa yang harus dilakukan pria tinggi itu.

Suho memberikan sebuah kartu nama dengan nama 'Kim Junhee' disana, memastikan Chanyeol bergerak sesuai dengan rencana, Sehun sudah menghubunginya sebanyak enam kali hari ini. Ditambah lagi dengan missed call dari Suho.

"Kau jadi datang ke toko hari ini?"

Chanyeol memutar stir, hampir sampai di persimpangan sebelum menginjak rem dan berhenti. Ia memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan.

"Tentu, aku sedang perjalanan kesana."

"Kau tidak membawa Baekhyun, kan?"

"Tentu saja tidak. Ia sedang pergi menemui teman-temannya."

Tiba-tiba terdengar suara berisik Sehun ditangkap oleh saluran ponsel,

"HYUNG KAU BELUM BERCERITA PADAKU BAGAIMANA RASANYA TINGGAL SERUMAH DENGAN BAEKHYUN! HAHAHA-"

Anak itu, terkadang masih berpikiran yang tidak-tidak, terlebih saat Chanyeol ketahuan sudah tinggal serumah dengan Baekhyun di apartemen pria mungil itu. Serumah. Sekamar. Siapa yang tahu?

"Geez, Sehun. Diamlah."

Chanyeol bukan tipikal pria seperti itu–mungkin hanya sedikit.

"Aku hampir sampai."

"Junhee sudah disana, kau bisa menanyakan apapun padanya langsung."

Chanyeol menutup telepon dan melangkah masuk kedalam sebuah gedung tinggi dengan dekorasi mewah disetiap sudutnya. Ia masuk kedalam sebuah toko perhiasan dan langsung disambut oleh seorang wanita berparas cantik dan elegan.

"Mhm, Chanyeol?"

"Benar."

"Ah, senang bertemu denganmu." Mereka saling bertukar sapa.

"Kalau boleh kutahu, kau sedang mencari cincin yang bagaimana? Disini ada banyak sekali model dan ukuran."

Chanyeol memindai pandangannya secara cepat ke seluruh deret cincin bermodel sederhana namun bisa dibayangkan akan sangat indah jika disematkan pada jari manis lentik milik Baekhyun. Keningnya berkerut, tampak bingung. Semua benda mengkilap nan mahal ini tampak sempurna.

Junhee yang mengerti arti air wajah Chanyeol segera bertanya, "Apakah kekasihmu bertubuh kecil?"

Chanyeol mengangguk.

"Apakah jemarinya sebesar ini?" Junhee mengeluarkan sebuah cincin dengan sebuah batu berlian di atasnya.

"Tidak, tidak sebesar itu. Jemarinya lentik dan tidak begitu besar."

Kemudian wanita itu kembali memilih pilihan lain sebelum mengambil sebuah cincin bermotif heart-knot.

"Mungkin yang ini?"

Chanyeol berpikir sejenak. Ia memutuskan untuk menolak yang satu itu karena terlalu simple. Chanyeol ingin memberikan sesuatu yang lebih terlihat berharga dan mahal.

Tidak lama kemudian matanya menangkap kilau sebuah objek yang mendapatkan perhatiannya.

"Aku ingin lihat yang ini."

Chanyeol menunjuk salah satu dari sekian banyaknya benda itu dengan butiran berlian halus menghiasi setengah lingkar cincin.

"Ini baru saja masuk tadi pagi, model baru dan limited edition dari Tiffany&co." jelasnya.

Senyum Chanyeol segera mengembang di sudut bibirnya. "Aku ambil yang ini." katanya sembari mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam lalu memberikannya kepada Junhee.

Setelah transaksi berhasil, Junhee mengatakan bahwa cincin yang dipesan Chanyeol akan dikirim olehnya nanti malam karena ada surat-surat yang harus diselesaikan sekaligus konfirmasi kepada pabrik Tifanny&co. tentang terjualnya barang limited edition itu. Dan beberapa hal lagi yang tidak di mengerti Chanyeol namun yang ia tahu adalah ia akan melamar Baekhyun dengan itu.

Jadi Chanyeol kembali ke apartemen dengan rasa berbunga-bunga dihatinya, tidak sabar untuk menunggu kepulangan Baekhyun.

[From: Honey Bunch]

'Hai sayang, mungkin aku akan pulang terlambat. Aku tidak tahu kapan Luhan akan membiarkanku pulang. Jangan lupa makan malam, okay?'

Chanyeol sedikit kecewa karena harus menunggu kekasihnya pulang, tapi memang ini yang harus ia lakukan. Karena Sehun telah banyak membantunya sehingga Baekhyun juga harus membantu Luhan. Anggap saja balas budi.

[To: Honey Bunch]

'Kau juga harus makan agar tidak menjadi kurus. I love you.'

Chanyeol tidak ingin kekasihnya menjadi sekurus batang bambu karena itu sangat tidak nyaman untuk dipeluk sehingga ia mewajibkan Baekhyun untuk berhenti diet. Ya, Baekhyun pernah melakukan itu dan katanya semua demi penampilan. Ia tidak ingin Chanyeol menemukan siapapun lebih cantik, lebih kurus, lebih sexy atau lebih imut karena bertubuh kecil dan ramping. Ia tidak ingin Chanyeol melirik wanita manapun kecuali dirinya karena Baekhyun tidak mau lagi cemburu.

Ia juga tidak pernah berharap untuk melihat Chanyeol berdiri berhadapan dengan seorang wanita, dalam keadaan gerimis di café outdoor seberang apartemen, tempat favorit Baekhyun untuk menikmati secangkir kopi.

Wanita itu tampak cantik dari jauh, Baekhyun tidak bisa melihatnya dengan jelas wajahnya tapi ia memakai kemeja putih agak transparan–memperlihatkan bayangan bra hitam didalamnya, sexy–dengan rok ketat sedikit diatas lutut memamerkan kakinya yang jenjang. Ia tampak akrab dengan Chanyeol tapi Baekhyun tidak mampu pindah lebih dekat. Yang bisa ia lihat adalah wanita itu sekarang memayungi Chanyeol dan jantungnya seperti jatuh menghempas tanah.

Baekhyun menahan nafas saat pria yang lebih tinggi bersandar lebih dekat ke hadapan seorang wanita dan selanjutnya mereka berdua tertutup oleh payung si wanita.

Jadi Baekhyun menunggu mereka, menunggu tautan bibir mereka lepas sambil menatap punggung Chanyeol dan payung biru muda yang menutupi kepala kedua orang itu.

Ia menggigit bibir sendiri, menahan nafas, mata berkaca-kaca. Ia juga menggeleng menolak keras atas apa yang dilihatnya. Sebuah kotak cincin berwarna navy bludru juga bukan punya mereka, 'kan?

Jantung Baekhyun berdegup keras, gelisah, takut. Dengan langkah berat ia berbalik dan pergi.

Semakin deras hujan turun, Baekhyun merasa semakin dingin dan menggigil.

Aku benci dikhianati, Chanyeol.

.


.

10.00 PM

11.15 PM

Baekhyun masih belum kembali ke apartemen. Chanyeol membiarkan televisi menyala tanpa berniat untuk menorehkan pandangan pada benda itu. Ia memperhatikan setiap detail dari benda mengkilap yang ia siapkan untuk hari spesial nanti. Ia berencana untuk memberikan kekasihnya sedikit clue, namun yang ia dapatkan adalah ruang tamu kosong dengan suara televisi yang tidak dihiraukan.

Tidak ada suara dengkuran Baekhyun yang seharusnya sedang terlelap disisinya.

Sudah kesekian kalinya Chanyeol berusaha untuk menghubungi ponsel Baekhyun dan membanjiri pria itu dengan pesan. Tapi sayangnya nihil. Tidak ada respon apapun.

Akhirnya Chanyeol menyadari bahwa tidak logis sekali kalau Luhan masih menahan kekasihnya untuk tidak pulang kerumah. Ia hanya mengetahui nomor telepon Sehun untuk menanyakan mengenai Luhan. Tapi sialnya anak itu tidak bisa dihubungi. Sehun bukan tipikal orang yang akan mengisi daya baterai ketika ponselnya sekarat, jadi ia tidak bisa disalahkan juga.

Sial.

Chanyeol menghubungi Sehun sekali lagi, merasa buntu karena Baekhyun tidak kunjung pulang.

Chanyeol masuk ke kamar untuk mengganti pakaian karena ia hanya mengenai kaus putih tipis dan celana rumahan saat ini, berniat untuk mencari Baekhyun kemanapun pria itu berada kalau saja kali ini Sehun masih tidak mengangkat sambung telepon. Chanyeol bersumpah akan membawa kekasihnya pulang kalaupun itu mengharuskannya untuk berkeliling dunia. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin Baekhyun.

"Uh h… a..ada apa?"

"Sehun? Apakah Luhan sudah pulang kerumah?" Rasa panik menyerangnya, mengacuhkan suara serak Sehun karena terbangun dari tidur pulas.

"Hahh? Dia sudah tidur."

Kemudian sambungan ponsel terputus. Luhan sudah tidur, lalu bagaimana dengan Baekhyun?

Panik yang dirasakan Chanyeol semakin menjadi. Ratusan dugaan yang tidak-tidak menghampiri pikirannya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Baekhyun ketika ia sedang berjalan pulang? Bagaimana kalau ponselnya kehabisan baterai dan tidak ada siapapun yang bersedia meminjamkannya ponsel? Bagaimana kalau Baekhyun tidak membawa cukup banyak uang sehingga ia tidak bisa kembali?

Chanyeol merasa takut kalau sesuatu terjadi pada pria mungil itu. Ia menelepon Yixing, satu-satunya saudara Baekhyun yang ia kenal dan bisa dihubungi. Karena ia tidak mungkin bisa menghubungi nenek Baekhyun karena wanita itu pasti sudah tidur.

"Oh ayolah, diangkat…"

Butuh waktu beberapa saat untuk mendengar sebuah suara menyapa di sebrang sana, "H-halo?"

"Yixing? Baekhyun menghilang. Ia belum pulang sampai sekarang! Kita harus mencarinya!" Chanyeol bersuara agak keras merasa was-was kalau saja Yixing belum sadar dari mimpinya.

Tiba-tiba tidak ada reaksi apapun yang terdengar, Chanyeol menutup pintu apartemen dengan keras dan berlari menuju ke tempat parkir untuk menjemput Yixing agar mereka bisa mencari Baekhyun.

"Yixing? Kau masih disana?"

Tidak ada jawaban.

"Aku akan menjemputmu sebentar lagi jadi bersiaplah sekarang." Tanpa menunggu respon apapun Chanyeol menginjak gas dan melaju dengan kecepatan yang tidak dianjurkan oleh rambu-rambu setempat. Belum lagi lokasi apartemen baru Yixing berjarak sekitar kurang lebih dua puluh menit dari sana. Waktu terus berjalan, hanya beberapa kendaraan yang masih berkeliaran di tengah malam, termasuk Chanyeol.

Sambil mengendarai benaknya terus memikirkan tempat yang mungkin dikunjungi Baekhyun hingga wilayah gangster yang biasa dihindari oleh orang-orang. Chanyeol tidak bisa fokus dan nyaris tidak bisa menurunkan kecepatan mobilnya ketika sebuah mobil menyebrang tepat didepannya di persimpangan.

Suara klakson menyadarkan lamunannya. Chanyeol menelepon Yixing lagi namun tidak diangkat.

Chanyeol menahan diri untuk tidak membunyikan klakson berulang kali mengingat ini adalah tengah malam. Tapi Yixing tidak kunjung menerima panggilan hingga pria itu akhirnya memutuskan untuk memarkirkan mobil dan melangkah cepat sampai berhenti di depan pintu apartemennya.

Chanyeol mengetuk dua kali, tetapi tidak ada jawaban.

Sekali lagi ia memanggil dan Yixing belum juga keluar.

Terakhir kali ia bersuara lebih keras tepat ketika seseorang dari balik pintu menemuinya.

"Baek- Baekhyun?"

Mereka terpaku di tempat masing-masing, saling menatap, lama. Semakin lama mereka berdiri disana, semakin lama Chanyeol menyadari bekas air mata di pipi Baekhyun dan matanya yang sembab.

Pria bertubuh lebih kecil menutup pintu secara tiba-tiba tanpa Chanyeol sempat menahannya.

"Baek? Baekhyun? Tolong bukakan pintunya aku ingin bicara..."

Tidak ada suara dan Chanyeol terus memanggil namanya. "Baekhyun? Kumohon.. Aku tidak mengerti ini jadi bisakah kita pulang dan berbicara?"

Juga tidak ada tanda-tanda seseorang dibalik pintu mendengar ucapannya.

Namun Chanyeol mendengar sesuatu. "Pulanglah Chanyeol." Terdengar bergetar dan seperti menahan isakan. Chanyeol terus mengetuk pintu karena ia tidak tahu sama sekali mengapa Baekhyun bersikap seperti ini.

Pria itu memang selalu menunjukkan sikap ketika ia marah atau tidak mood, tapi ia tidak pernah menghalangi Chanyeol memperbaiki hubungan mereka. Namun apa yang terjadi sekarang hingga Baekhyun mengusirnya pulang.

"Baby.. Kau harus mengatakan padaku apa yang salah dan bukannya lari seperti ini.. Kumohon katakan padaku.."

Chanyeol mendengar suara isakan dari dalam sana dan ia yakin itu adalah Baekhyun.

"Kita tidak bisa memperbaiki apapun kalau kau tidak mengatakan apa yang terjadi, okay? Jadi sekarang buka pintunya dan biarkan aku minta maaf.."

Suara itu kemudian menghilang bersama gelapnya malam. Ini hampir jam satu subuh dan Chanyeol masih berdiri disana berharap pria paling dicintainya membuka pintu. Ia tidak mengatakan apapun lagi, rasa cemas dan rindu menghantam dadanya membuat Chanyeol terdiam. Ia menarik nafas panjang agar tidak menangis saat bulir bening yang mulai memenuhi pelupuk mata. Senang karena Baekhyun baik-baik saja sekaligus takut Baekhyun akan terus seperti ini. Menolak dirinya.

Tiba-tiba suara kenop pintu terbuka. Chanyeol yang masih menundukkan kepala, samar-samar melihat sepasang kaus kaki berwarna kuning yang dipakai oleh seseorang.

Ia mendongak, dengan airmata memenuhi pelupuk mata. Kemudian sepasang tangan menyambut pipinya dan menghapus butiran bening yang menghalangi Chanyeol agar dapat melihat pria didepannya lebih jelas.

"Maafkan aku.. apapun kesalahan yang telah kuperbuat, aku minta maaf.. Jangan pergi.. kau bisa katakan apapun padaku atau kau ingin memukulku terserah yang penting adalah jangan menyuruhku kembali tanpamu.." Chanyeol mulai memohon.

Baekhyun menggeleng perlahan. "Aku tahu aku jauh dari kata sempurna untukmu. Maka dari itu aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik… aku juga minta maaf, Chanyeol."

Chanyeol menggeleng, "Kau adalah yang terbaik bagiku karena–"

"Sekarang masih ada satu hal yang harus kupelajari, yaitu melepaskan orang yang kucintai untuk orang lain."

"…"

Chanyeol tidak mengerti sama sekali, Baekhyun benar-benar membuatnya bingung.

"Kau tidak seharusnya disini. Bukankah masih ada orang yang menunggumu?"

Baekhyun terdengar gugup, suaranya lagi-lagi bergetar tapi ia berusaha terlihat baik. Ia juga tidak berani menatap Chanyeol yang masih berdiri didepannya. Jantungnya berdebar menunggu jawaban.

"S-siapa?"

"Wanita itu…"

"Siapa?"

"Umm.. Aku minta maaf jika aku mencampuri urusan kalian, aku hanya bermaksud–"

"Maksudmu siapa?"

Chanyeol mengerutkan kening, merasa ada yang salah diantara mereka.

"Wanita yang bersamamu di café tadi?"

"Ah.. bukan. Ia hanya mengantarkan cincin yang aku beli untukmu."

Baekhyun tertegun, tidak yakin dengan telinganya sendiri, ia spontan menjawab, "A-apa?"

Sebagian orang mengatakan dirinya pandai dalam berkata-kata, namun apakah hal ayng sama akan tetap berlaku saat kau berbicara dengan seorang spesial yang membuatmu terbata-bata. Bahkan mulut Chanyeol mengkhianatinya. Lihat bagaimana ia merutuki diri sendiri karena bibirnya kelepasan dan mengatakan kalau ia membeli cincin untuk melamar Baekhyun. Sungguh bodoh bukan?

Baekhyun terkejut, bibirnya terbuka dan matanya membulat.

"U-uh yeah, begitulah..." jawab si dobi seadanya.

"Ja-jadi itu bukan cincin tunanganmu dengannya…?"

"Tentu saja tidak. Demi apapun, Baek, nama wanita tadi adalah Kim Junhee dan dia adalah saudara Suho jadi bagaimana mungkin–"

Chanyeol memijat pelipisnya dan menghela nafas keras. Ia meloloskan tawa ringan ketika semua mulai terlihat sinkron.

"Oke, ini sangat konyol dan aku mengerti sekarang. Jangan katakan padaku kalau kau melihatku tadi sore tapi kau tidak menghampiri kami. Dan kau cemburu?"

"…" Pipi Baekhyun merona.

"Cium aku kalau aku benar."

"A…ah– b-bukan itu maksud– mmh mm.."

Chanyeol menyerang bibir itu secara tiba-tiba sebelum Baekhyun melanjutkan. Lumatan-lumatan kecil yang mereka mulai perlahan menjadi ciuman hangat yang menyulut perasaan, membawa ciuman ini menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka untuk menyampaikan rasa rindu bercampur hasrat yang menyatu didalam atmosfir.

Chanyeol mengangkat kekasihnya dan melingkarkan kaki Baekhyun disekitar pinggulnya tanpa memutuskan tautan bibir mereka, menggiring pria yang lebih kecil masuk kedalam ruang tamu dan duduk di sofa. Ciuman itu masih berlanjut ketika Baekhyun mendengus karena Chanyeol terus memborbardir bibirnya tanpa ampun sementara oksigen di paru-paru mulai sekarat. Tapi Baekhyun tidak ada bedanya dengan Chanyeol. Walaupun demikian, mereka terlihat begitu menginginkan satu sama lain seolah menuntut lebih. Rasanya seperti, ketika kau berhenti maka sesuatu didalam dirimu menjerit tanpa bisa ditahan dan kau sudah terlanjur tenggelam kedalam zat adiktif dari setiap kecupan yang kau terima dan kau berikan.

Kau tidak bisa berhenti. Sama seperti perasaan ini. Itu seperti ketika Baekhyun merasakan Chanyeol atau ketika Chanyeol menatap atau bahkan memikirkannya, Chanyeol menemukan dirinya tidak mampu bernafas. Terobsesi dengan ciuman itu namun semua akan baik-baik saja. Karena satu-satunya hal yang ia butuhkan untuk bernafas adalah Baekhyun.

Chanyeol akhirnya membiarkan Baekhyun bernafas. Senyuman menghiasi wajah mereka penuh dengan kepuasan setelah merasakan hangat tubuh masing-masing.

Masih mengatur nafasnya, Chanyeol mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru navy.

"Baekhyun,"

Yang dipanggil hanya menatap lurus, hatinya berbunga-bunga. Bibir Baekhyun tertarik keatas secara otomatis, membentuk senyuman bahagia.

"Aku minta maaf kalau kau salah paham dengan apa yang kau lihat. Aku hanya membersihkan sesuatu diwajahnya dan ia membagi payungnya agar aku tidak kehujanan."

"Aku percaya padamu, Chanyeol." katanya sambil mengangguk.

Jadi Chanyeol mengumpulkan semua keberanian di dalam ruang tamu ini, mendekap Baekhyun yang duduk diatas pangkuannya sambil membuka kotak kecil. Ia menarik satu nafas panjang.

Baekhyun menahan rona merah yang mulai menghiasi kedua pipinya, pria kecil itu meremas ujung bajunya perlahan, gugup atas apa yang akan dikatakan oleh Chanyeol.

"Aku tahu ini sama sekali tidak romantis dan dari awal kau tahu aku payah. Aku tidak bisa menahan lebih lama untuk mengatakan ini, jadi sekarang aku mengajakmu untuk mengakhiri hubungan kita dan mengganti margamu dengan marga Park."

Perasaan euphoria yang berlebihan mulai mengisi setiap sudut di hatinya, kupu-kupu beterbangan bebas didalam perut. Baekhyun gemetaran dan Chanyeol menggenggam tangannya erat.

"Jadi, Byun Baekhyun, would you marry me?"

Baekhyun tidak bereaksi, matanya berkaca-kaca tapi Chanyeol bisa melihat senyuman mengintip keluar dari sudut bibir dari pria itu. Setelah banyak kisah yang mereka jalani, setelah banyak hal yang mereka lewati, semua berakhir indah. Mungkin tidak berlaku bagi sebagian orang dan mereka tidak percaya kalau akhir yang bahagia memang benar-benar ada. Tapi Baekhyun berterima kasih karena cinta sejati adalah bukan orang yang membuat hatimu berdebar, tanganmu bergetar, dan lidah yang kelu.

Cinta sejati adalah orang yang membuatmu merasa bebas dari kegelisahan dan ketakutan akan kehilangan.

Bagi Baekhyun, orang itu adalah Chanyeol.

"Cium aku kalau kamu menerimanya."

Chanyeol menyeringai lebar, Baekhyun langsung kembali mempertemukan kedua bibir mereka, saling berbagi perasaan yang terasa meledak-ledak seperti kembang api yang menakjubkan atau suara lonceng gereja yang menyambut mereka berdiri didepan altar pernikahan.

"I would."

.

.

.

fin.


.

.

.

Extra Scene

.

Junhee menyisir surainya yang hanya sepanjang pundak menggunakan jemarinya. Wanita yang baru berumur sekitar dua puluh empat itu meletakkan sebuah paper bag diatas meja cafe seraya duduk disana. Angin berdesir halus menerbangkan beberapa helai surai coklat tuanya. Ia baru saja sampai disana beberapa menit yang lalu, untuk menemui seorang pria tinggi yang merupakan client-nya dan juga teman Junmyeon, adik kesayangannya. Lelaki tinggi itu memilih cincin yang tepat, pasalnya cincin itu baru saja dirilis dan tentu masih sedikit yang memilikinya. Well, kau beruntung, Chanyeol.

Sebetulnya Junhee bisa saja mengantar barang Chanyeol ke apartemennya namun ia merasa tidak enak–entahlah–jadi ia janjian dengan Chanyeol di cafe seberang apartemennya. Speaking of the devil, lelaki super tinggi itu memunculkan batang hidungnya dengan senyum lebar terpatri di wajah menawannya.

"Hei, apa kau sudah menunggu lama?"

Junhee menggeleng kemudian Chanyeol duduk diseberangnya, masih tersenyum lebar yang agak menyeramkan, sih. "Tidak, kok. Oh, ini pesananmu sudah sampai di jewelry-ku tadi pagi." ucap Junhee dengan senyum tipis. Chanyeol pun langsung mengambil paper bag yang disodorkan Junhee dan mengambil isinya. Sebuah kotak bludru navy blue yang berisi penentu masa depannya bersama si lelaki mungil. Ah.. baru membayangkannya saja sudah membuat kupu-kupu dalam perutnya bergejolak.

"Terima kasih banyak. Terima kasih banyak." ulang Chanyeol terus menerus, tak dapat menahan rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya.

Akhirnya. Chanyeol akan meresmikan Baekhyun sebagai pasangan sehidup sematinya.

Junhee terkekeh pelan. "Seharusnya aku yang berterima kasih karena dapat diberi kesempatan untuk membantumu."

Keduanya kemudian hanya tertawa.

"Apa rumahmu jauh? Mau kuantar?" tawar Chanyeol, merasa ingin membalas budi.

Junhee menggeleng. "Tidak perlu, Chanyeol-ssi. Aku naik taksi saja."

"Kau yakin? Aku bisa mengantarmu kalau kau mau."

Junhee menggeleng lagi. "Tidak perlu repot-repot. Lagipula aku tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita." tutupnya dengan tawa halus yang kemudian diikuti dengan Chanyeol.

"Baiklah kalau begitu."

Mereka berdua pun berdiri dan Chanyeol mengantar wanita itu ke sisi jalan, menunggu taksi yang mungkin sekedar lewat mencari penumpang. Namun tanpa diduga-duga, butiran-butiran air jatuh dari atas langit. Gerimis. Untung saja Junhee selalu membawa payung kemanapun ia pergi. Mereka berdua berdiri dibawah payung biru muda itu. Chanyeol yang lebih tinggi berinisiatif untuk memegangkan payungnya. Lima menit mereka berdiri di sisi jalan menunggu dalam diam, dan tak ada satupun taksi yang lewat.

Chanyeol menolehkan kepalanya untuk menatap si wanita muda. Memang dasarnya Chanyeol adalah pria yang—terlalu—baik sehingga melihat noda kecil saja rasanya ingin dibersihkan. Sehelai bulu mata jatuh diatas pipi Junhee, sontak Chanyeol mencondongkan tubuhnya untuk mengambil helaian bulu mata itu. Posisi mereka begitu dekat sehingga tubuh Junhee mengkaku kaget.

"A—"

"Bulu matamu jatuh," ucap Chanyeol sambil mengangkat sehelai bulu mata itu didepan mata Junhee. "Ciee ada yang kangen tuh.."

Junhee berdehem untuk menepis keheningan yang sejenak menyelimuti. Namun hujan malah turun semakin deras, dan bertepatan pula dengan terlihatnya sebuah mobil sedan berwarna kuning hitam yang tengah melaju pelan mencari penumpang. Chanyeol yang melihatnya pun reflek melambaikan tangan memanggil taksi itu.

"Hati-hati di jalan." ucap Chanyeol sembari membukakan pintu dan memayungi Junhee yang melangkah masuk kedalam taksi. Junhee pun mengucapkan terima kasih dan taksi itu kembali melaju.

Chanyeol menunduk menatap kotak bludru di tangannya, lalu tersenyum lebar lagi. Waktu yang ia tunggu akhirnya tiba. Tanpa berlama-lama ia berjalan pulang ke apartemennya yang hanya di seberang dengan payung di tangannya.

Tunggu.

Payung?

"Oh iya! Payung ini milik Junhee!" monolog Chanyeol setelah menepuk keningnya.

Well mungkin ia akan mengembalikannya nanti.

Setelah berhasil meminang Baekhyun.

.

.

.

Hujan lagi-lagi mengguyur kota dengan derasnya. Ingin rasanya ia mencari kehangatan lebih, bukan hanya dari selimut dan secangkir cokelat hangat, tetapi dari pelukan seorang pria tinggi yang amat ia cintai. Namun sepertinya sudah tidak mungkin lagi.

Baekhyun menghela nafas untuk kesekian kalinya. Maniknya menatap nanar layar ponsel yang terus berkedip menampilkan nama 'Park Yoda', ingin ia jawab panggilan itu, tapi ternyata gengsinya lebih tinggi. Ia merasa dikhianati. Pasalnya, tadi sore ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian itu. Chanyeol, kekasihnya, mencium wanita lain dibalik payung sambil menggenggam sebuah kotak bludru yang bahkan semua orang tahu apa isinya. Jika Baekhyun mampu, Baekhyun ingin sekali menampakkan diri didepan sepasang insan itu. Sayangnya, ia tak mampu. Ia lebih memilih untuk melihat mereka dari kejauhan, dengan nafas tercekat dan kaki bergetar. Akhirnya sepulang jalan-jalan dengan Luhan, Baekhyun memutuskan untuk menenangkan diri di apartemen baru sepupunya, Yixing.

Lelaki bertubuh lebih mungil dari lelaki kebanyakan itu memeluk lututnya dan meletakkan dagu diatasnya, masih menatap ponselnya. Tapi tiba-tiba, ponselnya berhenti berdering. Yang sekarang berdering malah telepon rumah Yixing.

Apakah itu Chanyeol yang menelepon? Atau orang lain? Atau jangan-jangan itu Yixing?

Dengan langkah gontai Baekhyun berjalan ke sebuah meja kecil disamping jendela. Kebetulan Yixing sedang berada di luar, sedang kencan dengan Suho mungkin. Baekhyun pun mengangkat gagang telepon dan meletakkan didepan telinga sebelah kirinya. Baru sempat ia mengatakan sepatah 'halo', suara dari seberang sana sudah menginterupsi.

"Yixing-hyung? Baekhyun menghilang! Ia belum pulang sampai sekarang! Kita harus mencarinya!"

Baekhyun langsung dapat mengenal suara baritone itu. Chanyeol.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang nyaris keluar. Namun dari seberang sana hanya terdengar bantingan pintu dan derap langkah cepat.

"Yixing-hyung? Kau masih disana?"

Sekuat tenaga Baekhyun coba untuk menelan ludah yang tersangkut di pangkal tenggorokannya, masih berusaha tidak menimbulkan suara apapun.

"Aku akan menjemputmu sebentar lagi jadi bersiaplah sekarang."

Baekhyun meloloskan nafas panjang dari kedua belah bibirnya setelah koneksi telepon diantara mereka terputus. Chanyeol sedang dalam perjalanan kesini dan Baekhyun sama sekali belum siap untuk menemui pria tinggi itu. Ia takut ketika ia menatap manik berkilau pria itu, dirinya tidak akan siap untuk melepasnya.

Langkahnya terhenti didepan pintu masuk, kemudian ia menatap pintu itu nanar. Rasanya sesak sekali didalam sini.. Baekhyun meremas bagian kiri atas sweaternya, tepat didepan jantungnya.

Namun baru saja Baekhyun ingin berbalik, derap langkah seseorang terdengar dan berhenti didepan pintu.

"Hyung! Yixing hyung!"

Tulang punggung si lelaki mungil seketika menegang, namun kakinya malah melemas. Perlahan ia mendaratkan tangannya pada pintu untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh.

"Yixing hyung!"

Tanpa sadar tangan Baekhyun memutar kenop pintu.

"Yixing—"

Pintu pun terbuka, otomatis kedua obsidian mereka saling bertabrakkan. Manik Chanyeol membulat kaget, sedangkan manik Baekhyun menatap Chanyeol lemah, nanar, sembab. Akan tetapi, Baekhyun dapat membaca seluruh arti tatapan sang pujaan hati.

Dan di saat itu pula, Baekhyun tersadar.

Ia membutuhkan sandaran.

Sandarannya hanya pria itu seorang.

Pria itu datang.

Pria itu tidak kemana-mana.

Pria itu, Chanyeol, masih peduli kepadanya.

Chanyeol masih mencintainya.

Demikian juga dengan dirinya.

.

.

.

.

The End


Chingchongs:

"Empat bulan saya nunggu kamu." /suara Dian Sastro/? —Para readers 4W.

HAAAAIIII~ SAYA KEMBALI KE PERADABAN HAHAHAHAHA

MAAF UDA BIKIN KALIAN NUNGGU, KARENA SUMPAH DEH SAYA SEMPET HILANG FEELS SAMA FIC INI T_T NAMUN DEMI KALIAN AKU MULAI NGUMPULIN LAGI MOOD BUAT LANJUT FF INI. SEBETULNYA AKU MAU DISCONTINUE INI, TAPI RASANYA GAK ENAK BGT KALO DIHENTIIN GITU AJA, JADI TAAADAAAAH~

Maaf kalo cara penulisan saya makin aneh bin absurd bin ajaib, maklum 8 bulan saya gak nulis ff (cuma nge-translate LOL). Maafkeeeuunn /bow 360 drajat/?

Terima kasih banyak untuk kalian yang uda neror saya lewat PM buat lanjutin FF ini :* u guys are the best~

Terima kasih banyak juga untuk kalian yang uda review dan ikutin fic ini dari awal sampe sekarang~ :*

Tidak lupa, terima kasih banyak kepada Park Chanyeol dan Byun Baekhyun yang masih awet banget sampe skrg /love sign/ ciee abis boncengan naik scooter /g

.

saranghaja,

exoblackpepper