Disclaimer: Karakter dan beberapa setting hanyalah pinjaman dari series Gundam SEED. Kesamaan tentu saja disengaja untuk kelancaran cerita ini.
.
Chapter 10
.
Pukul 5 pagi Cagalli masih terjaga. Menyelesaikan kue terakhir yang akan disajikan di pernikahan Kira dan Lacus. Kue pernikahan 3 tingkat berwarna putih. Kue elegan, tapi sederhana.
Mungkin orang-orang berpikir membuat kue untuk pesta besar itu menyusahkan dan melelahkan. Tapi untuknya, ini adalah salah satu hadiah untuk Kira dan Lacus. Ia sebenarnya mampu untuk memberikan hadiah yang lain, tapi hadiah dengan usaha itu lebih menyentuh daripada hadiah yang hanya dibeli dengan uang.
Cagalli menempelkan ponsel ke telinganya, "Halo—ah, maaf pagi-pagi menghubungi—aku hanya memastikan—apa?—oh, ya. Mobil. Bisa, kan? Jangan sampai terlambat. Jam 6 pagi kutunggu di kediaman Athha. Kuenya harus sampai tempat tujuan pukul 07.30 pagi." Cagalli mengangguk-angguk, "Oke. Pastikan kue itu aman sampai tempat tujuan. Terima kasih."
Athrun menunggu di tempat acara. Mengobrol dengan sang mempelai pria seraya menunggu datangnya mempelai wanita. Ia, apalagi Kira, tak sabar melihat betapa cantiknya Lacus hari ini.
07.25
Angka itu terpampang di jam tangannya. Setengah jam lagi acara harus dimulai. Kue putih bertingkat tiga baru saja datang, diantar oleh beberapa orang berbaju putih. Sepertinya itu kue yang telah dibuat oleh Cagalli.
Indah.
"Itu kue yang dibuat Cagalli?" bisik Kira kagum.
"Ya. Sepertinya." Athrun menjawab sambil terus memerhatikan kue itu dipindahkan. "Di mana Cagalli?" tanyanya.
"Aku belum melihatnya dari pagi." balas Kira. Matanya juga masih melekat pada kue besar yang baru saja dibawa masuk. "Mungkin masih merias diri."
"Tidak mungkin." Athrun tertawa, tapi kemudian sadar dengan apa yang barusan terlontar dari mulutnya. Sejak kapan ia bisa menebak Cagalli? Cagalli yang belum lama ia kenal. Bahkan, hubungan mereka baru membaik baru-baru ini.
Meskipun ia ragu dengan apa yang barusan ia katakan, Kira, saudara kembar Cagalli pun setuju dengan apa yang dikatakan Athrun. Cagalli memang bukan orang yang suka merias diri. Ia baru akan merias wajahnya ketika ia diharuskan untuk itu dan sudah berada diujung jalan.
Orang-orang mulai datang. Mereka menyalami dan memberikan selamat kepada Kira. Athrun kenal sebagian tamu undangan, tapi sebagian lagi adalah orang asing baginya. Sepertinya kebanyakan tamu yang datang adalah rekan kerja dan teman kuliah Kira.
Sebaliknya, sebagian besar tamu udangan Lacus kenal dengannya. Tentu saja, Athrun dan Lacus adalah teman sejak kecil. Beberapa dari mereka, dengan nada bercanda, menyayangkan dirinya yang tidak menikah dengan Lacus, padahal mereka sangat dekat. Athrun hanya tertawa kecil mendengar itu. Berusaha sopan kepada para tamu undangan yang mengajaknya berbincang.
Ketika jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 07.50, ia pamit kepada mereka untuk ke depan, karena ia harus bertugas sebagai pembawa acara. Athrun pun mengajak Kira untuk bersiap-siap di depan. Athrun mengingatkan semua keperluan yang dibutuhkan Kira. Ia terlihat lebih gugup dari sang calon pengantin sendiri.
"Athrun, tenanglah." Kira menepuk pundak Athrun, mencoba menenangkannya. "Semua sudah di bawah kendali."
Athrun menarik napas. "Maafkan aku. Aku tidak ingin pernikahanmu kacau hanya karena hal kecil."
"Tidak apa, Athrun. Terima kasih."
Ketika waktunya tiba, Athrun mengkondisikan semua panitia dan tamu undangan. Athrun menekan telinga kirinya pelan, meminta kepada orang di seberang handsfreenya untuk segera mengeluarkan calon pengantin wanita. Tidak lupa, ia pun meminta para tamu untuk duduk di kursinya masing-masing karena acara akan segera dimulai.
Dan di sana, di belakang para tamu undangan, ada Cagalli yang sibuk dengan kue-kue kecilnya. Ia terlihat feminim dengan gaun hijau muda selututnya dengan rambut yang diikat. Sama sekali tidak terlihat seperti biasanya; tomboy dan ... galak.
Tidak jauh dari Cagalli, Lacus datang dengan gaun putih membalut tubuhnya. Ia berjalan menghampiri Kira yang terlihat sangat bahagia.
Cantik.
Sungguh cantik.
Cagalli menggoyangkan gelas di tangannya. Matanya menatap kebahagiaan orang-orang di dalam ruangan besar di balik jendela besar di depannya. Tugasnya sudah selesai, tapi ia tak sanggup untuk masuk ke dalam ruangan besar itu. Ia menjauh dari sesuatu yang dapat membuatnya meledak-ledak.
Ia menyesap wine putih dari gelasnya. Berusaha menenangkan hatinya.
"Tidak masuk?"
"Ah, Kira." Cagalli menggeleng. "Tidak. Aku tidak ingin bertemu dengannya, lagi."
"Ibu?" tanya Kira tepat sasaran.
Cagalli diam, tak ingin menjawab pertanyaan Kira. Pertanyaan itu tentu saja sudah terjawab meskipun tanpa jawaban darinya.
"Sampai kapan kau akan menghindarinya, Cagalli?"
"Entahlah." jawab Cagalli singkat.
Cagalli mencoba menjaga jarak dari Kira, menjauh dari pertanyaan dan paksaan yang dilontarkan Kira. Ia tak tahan dengan pertanyaan Kira tentang ibunya. Ibunya yang menyerahkannya kepada keluarga Athha.
"Kau tahu bagaimana perasaanku, Kira?" Cagalli bertanya tanpa menatap Kira di belakangnya, membiarkan Kira mengira-ngira bagaimana ekspresinya sekarang. "Sakit. Sakit ketika tahu ibu kandungku memberikanku kepada keluarga Athha dengan alasan seperti itu."
"Tapi aku beruntung mendapat seorang ayah yang baik. Dan aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku." tambah Cagalli. Meskipun ia terdengar bahagia, ada sedikit kesedihan yang dipantulkan melalui matanya. Mata yang selalu terlihat membara kini meredup. Seperti kehilangan apinya.
"Tapi, Cagalli, dia tetap ibumu. Ibu kita."
"Seorang ibu yang hanya melahirkanku, lalu memberikanku kepada orang lain?!"
"Ibu tidak memberikanmu, Cagalli."
"Lalu?" darah sudah mulai naik ke kepala Cagalli. Ia tidak mau mendengarkan hal itu lagi dari mulut Kira. Kalau iya, ia bisa membuat hari bahagianya menjadi hari kiamat.
"Ah, sudahlah, Kira. Jangan buat aku naik darah. Jangan membuat keruh suasana bahagia ini." Cagalli menepuk pundak Kira keras. "Sana temani Lacus." Cagalli menendang kaki Kira sekuat tenaga. Kira memekik keras. Ia memegangi tulang keringnya yang baru saja ditendang oleh Cagalli.
Kira kesal, tapi ia tetap mengalah. Tidak ingin sakit di kakinya menjadi lebih parah.
Cagalli menjulurkan lidahnya, meledek Kira yang masih kesakitan. "Sudah sana." Cagalli mendorong Kira masuk ke dalam ruangan.
Cagalli menghela napas.
Ia tak tahu kenapa Kira harus mengungkit masalah itu. Bukankah lebih baik ia tidak mengungkitnya di sini sekarang? Sungguh menyebalkan. Bagaimana jika ia tiba-tiba merubah suasana di sini? Membuatnya dan keluarga Athha malu karena tingkahnya, yang bisa jadi, kekanak-kanakan.
Cagalli sadar bahwa ia sangat tempramental. Sedikit saja tersenggol, ia bisa saja teriak dan marah pada orang lain. Di umurnya yang hampir menyentuh angka 30, ia tidak mau tempramennya membawa petaka untuk orang-orang di sekelilingnya. Ia mencoba merubahnya. Namun, tentu saja itu sulit meskipun sudah dicoba bertahun-tahun. Sifat itu akan kembali, lagi dan lagi.
"Ternyata kau bersembunyi di balik gaunmu." Athrun menghampiri Cagalli, menggantikan Kira yang baru saja pergi.
"Athrun."
"Kenapa kau ke sini?" tanya Cagalli.
"Tadi aku melihat Kira yang kesakitan. Kukira aku harus melihat dan membalas orang yang menyakitinya." Athrun tersenyum kecil padanya, seakan tahu siapa yang menyakiti Kira.
Cagalli tertawa sinis, "Apa kau mau kutendang seperti Kira, huh?" Cagalli mengancam. Ia berkali-kali memukul Athrun, bercanda.
Athrun berpura-pura kesakitan, "Tidak. Aku tidak mau melukai diriku sendiri."
Cagalli menyandarkan punggungnya pada pilar di belakangnya, kemudian menatap taman di depannya, "Lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanya Cagalli pada pria di sebelahnya.
"Kau sendiri?" Athrun mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku?" Cagalli mencari kata-kata yang tepat, "Aku... aku sedang banyak pikiran." Cagalli meletakkan gelas winenya di pinggir pilar, kemudian menatap Athrun di sampingnya, "Tidak akan sopan jika aku sibuk dengan pikiranku sendiri di tengah tamu-tamu yang akan mengajakku berbincang."
Athrun mengangguk, setuju dengan alasan yang dibuat Cagalli. "Ya, kadang seseorang memang butuh sendiri." Athrun menambahkan.
Athrun menggaruk kepalanya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi kepada perempuan di depannya. Mungkin kedatangannya di sini sedikit menganggunya, karena dari tadi Cagalli hanya diam. Tidak seperti biasanya.
Ia baru saja akan pergi ketika Cagalli memintanya untuk tidak pergi dan menemaninya.
"Tunggu di sini." pinta Cagalli. "Ah, ini hanya sebagai kamuflase, maksudku, kalau aku di sini sendiri, akan ada orang lain lagi yang datang menghampiriku. Sepertinya akan lebih baik jika kau yang di sini. Bukan orang lain."
"Daripada di sini," Athrun mengulurkan tangannya, "Bagaimana kalau kau ikut denganku?" ajak Athrun.
Cagalli tersenyum lebar dan, tanpa bertanya lebih jauh, menggapai tangan Athrun.
Orang-orang melihat mereka berdua dengan tatapan aneh. Setiap langkah selalu ada mata yang mengikuti mereka. Ya, tentu saja. Bagaimana tidak? Mereka datang ke pasar menggunakan baju formal. Orang-orang pun berbisik, bertanya-tanya apakah ada syuting yang dilaksanakan di sekitar situ.
Cagalli berusaha tidak menghiraukan mereka, tapi tetap saja bisikan-bisikan itu terdengar sampai ke telinganya. Bahkan ada seseorang yang mengenali dirinya sebagai putri keluarga Athha. Rasanya ingin sekali ia cepat-cepat kembali ke mobil, tapi ia masih ingin membeli beberapa makanan.
"Sebenarnya kau ini bodoh atau polos, Athrun?"
Cagalli berbicara dengan mulut penuh makanan. Saus menempel di sekitar bibir, bahkan pipinya. Dan, di tangannya masih ada 3 bungkus makanan berbeda jenis.
Athrun melirik Cagalli, ia tidak mengerti kenapa pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Ia ingin menjawab pertanyaan itu, tapi ketika ia melihat betapa bodohnya wajah Cagalli, niat itu ia urungkan. Ia melanjutkan memakan makanannya yang hampir habis.
"Apa kau tahu dari tadi banyak orang melihat kita?"
Athrun menggeleng.
Cagalli menepuk dahinya.
"Kau mengajakku ke pasar dengan pakaian seperti ini. Kau tahu apa artinya?"
Athrun menggeleng.
Cagalli tiba-tiba frustasi dengan pria di sampingnya.
"Semua orang dari tadi terus melihat ke arah kita."
"Oh."
"Apanya yang 'oh'?"
"Hanya itu?"
"Apanya yang 'hanya itu'?" Cagalli kesal. Ia memukul keras lengan Athrun. "Jangan so—"
Athrun menangkap tangan Cagalli. Membuatnya berhenti mengoceh.
"Cagalli, jangan ribut. Mereka akan tambah memperhatikan kita." Cagalli berhenti dan merasakan mata orang-orang tertuju padanya. "Ayo kita pergi dari sini. Untuk menjauh dari mereka dan," Athrun menunjuk bibir Cagalli yang penuh dengan saus. "Menghapus saus itu dari wajahmu."
Cagalli menyentuh pipinya dan sadar bagaimana cerobohnya ia makan. Ah, bagaimana bisa ia makan seperti anak kecil? Ia menutup wajah penuh sausnya dengan tangannya, malu. Malu pada orang-orang yang melihatnya. Malu pada... Athrun.
"Ke—?"
"Cagalli," Athrun menggeleng, "Ayo, kita ke mobil dan pergi ke tempat lain." ajak Athrun.
"Ke mana ... lagi?"
"Pantai."
"Pantai?"
Athrun mengangguk, "Ya, pantai."
Dalam waktu 2 jam, mereka sampai tempat tujuan mereka. Athrun menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat pantai. Ia membangunkan Cagalli yang tertidur pulas di sampingnya. Cagalli membuka matanya perlahan, menguceknya untuk memperjelas pengelihatannya.
Ketika matanya sudah fokus, Cagalli keluar dari mobil. Berlari tanpa alas kaki menuju bibir pantai. Langsung menceburkan kakinya ke dalam riak ombak yang menggulung ke bibir pantai. Ia memanggilnya untuk segera menyusulnya.
Athrun mengangguk. Ia akan menyusulnya setelah menekuk celananya. Sambil menekuk celananya, ia memperhatikan Cagalli yang bersemangat ketika melihat laut. Sangat bersemangat seperti anak kecil yang tak pernah melihat laut. Ia berlari, berkejaran dengan ombak.
Posel di kantongnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Kira.
"Kira." Athrun menempelkan ponsel ke telinganya.
"Kau di mana, Athrun? Dan Cagalli. Apa kau bersamanya?"
"Ya. Aku bersamanya sekarang. Di pantai." Athrun melihat Cagalli yang masih berlari-lari di pinggir pantai. "Ada apa?"
"Aku tidak bisa menemukanmu dan Cagalli di mana pun. Lacus mencari kalian berdua. Setelah apa yang terjadi tadi siang, kukira Cagalli akan kabur, mengingat tempramennya yang seperti itu. Tapi aku tidak menyangka ia akan kabur bersamamu, Athrun. Apa dia memintamu untuk membawanya pergi?"
Athrun tertawa pelan, "Tidak. Aku lah yang mengajaknya." Athrun merubah nada suaranya menjadi lebih serius. "Ia terlihat begitu penat. Kau tahu, seperti orang yang mau meledak."
"Ya. Cagalli tidak ingin bertemu dengan ibuku, tidak, ibu kami."
"Kenapa?"
"Kau tahu, 'kan, kami berdua baru bertemu setelah SMA."Athrun mengangguk. "Ia begitu terpukul ketika tahu ia bukan anak kandung dari Tuan Athha. Dan ia lebih terpukul lagi ketika tahu hanya dirinya yang diberikan kepada Athha dan aku tidak. Tidak, ia tidak diberikan, ia dititipkan. Cagalli dititipkan karena ibuku tidak bisa merawat kami berdua sekaligus dengan keadaan ayah yang seperti itu."
"Ayahmu?"
Cagalli melambaikan tangannya, mengajaknya untuk cepat bergabung dengannya, bermain di pinggir pantai. Athrun memintanya untuk menunggu sebentar sampai ia menyelesaikan teleponnya.
"Ya. Ayahku." Kira diam sejenak, lalu kembali melanjutkan ceritanya. "Aku belum pernah cerita padamu. Ia memiliki schizophrenia."
Athrun mengerti kenapa Cagalli begitu tertekan sebelumnya. Ia tak tahu cerita keluarga Kira dan Cagalli yang cukup rumit. Ini adalah kali pertama ia mendengar cerita itu dari Kira. Yang ia tahu adalah ia dan Cagalli terpisah sejak kecil dan ia tidak tertarik, atau lebih tepatnya menghargai temannya ini. Ia menunggu sampai cerita itu keluar dari mulutnya sendiri. Dan, hari ini pun datang.
"Aku senang kau menceritakannya padaku."
Dari seberang telepon, Kira tertawa, "Jangan seperti itu. Aku seperti tidak pernah cerita apa pun padamu."
"Apa itu Kira?" tanya Cagalli yang tiba-tiba berada di depannya.
Athrun mengangguk.
Cagalli merebut ponsel di tangan Athrun. Memindahkannya ke telinganya.
"Jangan pulang terlalu malam, Ath—"
"Kira. Maafkan aku, pergi tanpa pamit." Cagalli memotong perbincangan mereka berdua. "Aku ... aku hanya ..."
Athrun tidak dapat mendengar percakapan mereka berdua. Setelah merebut ponselnya, ia pergi menjauh, tentu saja dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Ia menjauh ke tempat di mana ia tidak bisa mendengarkan apa pun yang ia katakan.
Cagalli kembali dan menyerahkan ponselnya. Teleponnya dan Kira sudah terputus.
"Kira bilang apa?" tanya Athrun.
"Tidak bilang apa-apa."
"Benarkah?"
Cagalli mengangguk lalu kembali bermain dengan ombak di pinggir pantai.
Matahari sudah hampir tenggelam. Warna oranye di ujung horizon menemani Cagalli bermain di pinggir pantai. Athrun kembali membuka ponselnya, mengambil momen indah di hadapannya dan menyimpannya di dalam memori.
"Athrun!"
Sudah keberapa kali namanya dipanggil oleh perempuan berambut pirang itu?
"Ya, ya. Aku ke sana."
Athrun melepas sepatunya dan langsung meluncur menuju bibir pantai, menyusul Cagalli bermain air. Saat mendekat, Cagalli mulai menyiraminya dengan air. Ia tidak ingin bajunya basah, tapi kemungkinan besar bajunya akan basah kuyup karena Cagalli. Mungkin sekali-kali membuat bajunya kotor dan basah bukanlah masalah.
"Athrun, ponsel." Cagalli meminta ponselnya.
"Mau apa dengan ponselku?"
"Foto." Cagalli menunjuk sunset di belakangnya. "Ayo kita foto bersama."
"Di mana ponselmu?"
"Di mobil. Ayolah, pinjamkan ponselmu."
Athrun menyerah. Ia pun menyerahkan ponselnya pada Cagalli dan membiarkannya memotret mereka berdua dengan latar belakang laut dan matahari terbenam. Cagalli tersenyum lebar ketika melihat hasil dari foto yang ia ambil.
"Bagus." Cagalli berbisik. "Fotonya bagus, Athrun!"
"Iya, iya. Cepat kembalikan ponselku, sebelum dia ikut bermain air bersama kita." Athrun meminta ponselnya secara paksa. Sebenarnya itu hanya sebuah alasan. Alasan untuk menyembunyikan foto yang diambilnya. Cagalli pasti akan berisik ketika melihat dirinya ada di galeri ponselnya.
"Jangan lupa kirim itu padaku."
"Oke." Athrun memasukkan ponselnya kembali ke tempatnya. Menyimpannya di tempat yang aman.
"Oh, ngomong-ngomong," Athrun ingat sesuatu, "Lusa, apa kau masih di sini lusa nanti?"
Cagalli mengangguk, "Ada apa?"
"Temanku mengirimiku tiket konsernya. Ia memberikanku 2 tiket. Apa kau mau ikut?" tatapan Cagalli mengeras. Ia terlihat kebingungan.
Athrun tidak ingin memaksakan kehendaknya untuk pergi ke konser piano temannya, Nicol, lusa nanti. Cagalli tidak ikut pun bukan masalah, tapi tiket itu akan terbuang sia-sia. Ia ingin mengajak Kira, tapi itu tidak mungkin. Tidak mungkin ia mengajak pasangan yang baru saja menikah untuk pergi meninggalkan belahan jiwanya—ya, meskipun Lacus akan mengizinkannya, tapi tetap saja ia tidak bisa melakukan itu.
"Hanya sebuah konser piano. Bagaimana?"
"Coba kupikirkan dulu.
"Tentu saja."
"Kutunggu jawabanmu besok."
A/N:
Halo, sudah lama tidak bertemu hehe. Tahun ini adalah tahun keenam fic ini. Setelah melewati beberapa masa, akhirnya aku kembali ke sini. Aku ngga melupakan fic ini. Ini masih hutangku. Hutang pada diriku sendiri untuk menyelesaikan apa yang sudah kubuat.
Aku butuh membaca ulang fic ini buat mengingatkanku pada beberapa detil cerita yang mungkin saja kulupakan. Dan waktu membaca ulang, aku iseng membaca review-review untuk fic ini.
Aku terharu. Sangat. Aku hampir nangis di tempat umum. Review yang masuk sangat teramat supportive. Terima kasih. Terima kasih banyak.
Aku pasti akan menyelesaikan fic ini. Dan aku janji sebisa mungkin akan update seminggu sekali.
*pinky promise*
(((:
