[Semesta Kagami]

Kagami mendengarkan penuturan seseorang dari handphone miliknya dengan malas. Memandangi lalu lalang manusia di jalanan New York dari ketinggian lantai 15 memang menarik. Tidak heran itulah yang membuatnya menetapkan untuk membeli studio kecil itu sebagai tempat beristirahatnya.

"Jadi intinya kau ingin membuat mereka berdua terpisah karena ingin mewujudkan keinginan konyolmu itu, Kouri?"

"Itu tidak konyol, Taiga! Aku sudah cukup bersabar selama dua tahun dan menanggung dosa selama itu."

Kagami menghela nafas. Sebenarnya apa maunya Kouri? Dan kejadian dua tahun yang lalu memang salah perempuan itu juga serta salah Akashi. Kenapa juga Kouri meminta salam perpisahan dengan sebuah ciuman? Kenapa juga Akashi mau? Dan kenapa juga perempuan yang dicintainya —meski sadar sampai kapanpun hanya dilihat sebagai seorang kakak— harus melihat semuanya serta mengalami kecelakaan?

"Itu semua salahmu, oke. Tapi jika kau berani menyentuhnya, kau tahu akibatnya." Ancaman ini bukanlah hal yang main-main dikatakan oleh Kagami. Meskipun selama ini semua orang melihatnya sebagai manusia yang cuek dan agak bodoh, tapi dirinya paham mana orang yang berharga dalam hidupnya dan mana yang tidak.

"Cih. Apa bagusnya dia sampai kalian berdua seperti ini? Dia aneh dan tidak cantik tahu!"

"Dia cantik dengan caranya sendiri dan kau yang membencinya takkan pernah paham, Kouri."

Hening. Kagami melirik jam digital yang berada di dinding dan menyadari jika dirinya harus berangkat sekarang atau bisa-bisa terlambat ke bandara serta mendapatkan omelan panjang lebar dari saudari tirinya serta ayahnya sendiri. "Kurasa kita sudah tidak perlu membicarakan apapun Kouri. Aku menutup teleponmu."

"Hei, apa dia masih memanggilmu dengan Kagami?" Padahal hanya perlu menekan tombol merah itu untuk mengakhiri percakapan mereka. Tapi salahkan telinganya yang masih sempat menangkap pertanyaan Kouri itu. Dengan malas Kagami menempelkan benda yang bernama handphone pada telinganya dan akan menjawabnya, namun niat itu diurungkan saat mendengar tawa mengejek Kouri. "Rupanya benar, dia masih tetap memanggilmu Kagami. Oke, saran sebagai seorang teman, menyerahlah."

"Kalau begitu lakukanlah pada Akashi juga."

"Tidak akan pernah."

"Kalau begitu jawabannya jelas, Kouri. Kau tidak bisa memerintahku seenaknya untuk menyerah pada perasaanku."

Hening sejenak sebelum Kagami mendengar helaan nafas dari Kouri. "Aku tutup telepon duluan. Selamat siang."

"Hm, selamat siang."


.

.

Don't You Dare Love Me

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

AU, lil OOC, typos. Tidak mengambil keuntungan profit dalam pembuatan fanfic ini. Saya tidak sanggup memasangkan Akashi dengan chara perempuan di fandom ini karena saya cinta Akashi seperti besarnya cinta saya pada suami saya di fandom sebelah =)) #youdontsay

Akashi Seijuuro x YOU (terserah bagaimana interpresentasi kalian dengan ini, yang jelas saya pakai first POV). Beberapa line bakalan ganti menjadi third POV. Saya usahakan kalian tidak akan bingung dengan perubahan linenya.

Don't You Dare Love Me © Green Maple

.

.


[Semesta Aku]

Aku merasa sakit kepala karena banyak hal. Membaca diary yang kutinggalkan di Amerika waktu itu dan banyak nama Akashi yang tertera disana. Banyak foto-foto dimana aku waktu SMA serta awal masuk kuliah yang memuat Akashi disana. Wajahnya tidak jauh berubah dari sekarang, hanya tatapannya jauh lebih dingin dari sekarang. Lalu— Apa maksudnya first kissmark dari Akashi?! Jadi dulu aku sering dapat kissmark begitu atau bagaimana?! Aku gagal paham sekarang dan sial, kepalaku makin sakit!

"Argh! Sei-kun. Sei-kun. Sei-kun. Semua isi buku ini hanya memuat Sei-kun?! Kenapa? Berapa banyak yang aku lupakan dan kenapa aku mencoba membunuh diriku sendiri?! Kenapa?!" Jeritku dan membanting diary lamaku yang membuat semua foto yang di dalam diary itu berhamburan. Aku memegangi kepalaku dan rasa sakit itu datang semakin kuat sampai mataku mengeluarkan air mata.

Dan biasanya dalam situasi ini jika tidak ibuku atau daddy yang mencoba menenangkanku, pasti Kagami. Tapi Kagami sedang berada di studio miliknya dan ibu serta daddy sedang sibuk mengurus New York Fashion Week.

Menyadari bahwa aku tidak akan bisa mengandalkan siapapun untuk menenangkanku saat ini ataupun menjelaskan sesuatu kepadaku, aku memunguti semua foto-foto yang berserakan dari diaryku sembari mencoba memaksakan diri untuk mengingat. Meskipun semakin aku memaksa, kepalaku semakin sakit.

Dan pada akhirnya, aku menyerah pada rasa sakit itu dan memilih menutup mataku sejenak serta membaringkan diri di lantai. Membuka mataku dan memandang langit-langit ruangan yang merupakan kamarku jika berada di New York, aku baru menyadari jika diatas sana tertempel banyak foto yang saling tumpang tindih sehingga aku tidak bisa memperhatikan detil setiap foto. Hanya beberapa yang bisa aku identifikasikan, seperti rancangan gaun pengantin berwarna hitam, killer shoe Lady Gora, dan mungkin sebuah rumah sederhana? Entahlah kalau yang terakhir itu.

Tapi setelah diamati lebih seksama, semua foto yang saling tumpang tindih itu membentuk sebuah wajah yang membuatku membuka mataku selebar-lebarnya.

Akashi. Tersenyum. Tanpa mata heterokrom.

Aku langsung duduk dan memperhatikan semua foto yang masih banyak berserakan di lantai. Ada tanggal serta tahun dimana foto itu diambil. Dan aku menemukan bahwa foto terakhir itu sekitar tiga tahun yang lalu. Saat aku baru masuk kuliah desain.

Aku segera mengurutkan semua foto berdasarkan tahun dan aku menemukan hal yang mengejutkan. Semua foto yang terkumpul ini selama tiga tahun dan hanya tahun pertama saja mata Akashi masih heterokrom. Itupun tidak lama karena matanya kembali ke warna normal.

Memangnya bisa ya mata heterokrom itu berubah-ubah? Lalu kenapa sekarang Akashi yang aku kenal bermata heterokrom?Apa pemicunya?

"Argh, shit! Hate this pain," memegangi kepalaku dan menghembuskan nafas dengan teratur, mencoba meredakan rasa sakit dengan berpikir bahwa aku tidak merasakan kesakitan.

Sebenarnya apa yang diriku coba sembunyikan dariku? Dan kenapa?

.

.

Don't You Dare Love Me

.

.

[Semesta Aku]

"Sialan brand itu. Begitu aku dinyatakan lulus dari universitas, aku pasti meletakkan surat pengunduran diri diatas meja direktur brand itu!" gerutunya yang membuat Kagami memutar bola matanya. Bosan mendengarkan hal yang sama selama perjalanan menuju bandara.

"Itu salahmu. Sudah kubilang sejak awal terima saja kerja di brand mom dan kau tidak akan mendapatkan masalah seperti ini." Siapa kemarin yang memaksa masuk brand Cinnamon kalau pada akhirnya mengomel begini karena jadwal kepulangannya yang harusnya besok harus maju hari ini?

"Bakagami! Justru semakin bermasalah karena aku harus bolak-balik LA ke Tokyo!"

"Tapi setidaknya kau tidak akan mengomeliku sepanjang delapan jam perjalanan!"

"Aku tidak mengomel. Aku hanya menyampaikan fakta!"

"Sama saja!"

Dan pada akhirnya, Kagami tidak akan pernah merasakan perjalanan yang tenang jika bersama saudaranya ini. Mereka memang ditakdirkan tidak bisa akur jika bersama. Pasti ada hal apapun yang menjadi perdebatan mereka.


.

.

Don't You Dare Love Me : To Be Continue

.

.


Kalian pasti kecewa karena giliran aku update, chapter ini pendek banget :"))

Jangankan kalian, aku juga merasakan hal yang sama. Aku sedang berusaha mengumpulkan feel fanfic ini yang hilang entah kemana dan aku benar-benar sudah lupa chapter ini apa yang mau aku lakukan.

Mulai chapter depan, Akashi benar-benar bersaing dengan Kagami untuk mendapatkan 'aku'. Sementara Kouri kenapa menghubungi Kagami— lihat di chapter depan ya. Soalnya mereka berempat bakalan ada dalam satu scene =)))

Dan kenapa pakai kata [Semesta]. itu untuk menggambarkan POV siapa yang tengah digunakan. Then, the problem is solve =))

Green Maple

12/11/2014