I Hate You
Karya : Nakashima Aya


Summary : Apa yang kau lakukan ketika sahabat baikmu dipermalukan sedemikian rupa dihadapan publik oleh si megane menyebalkan itu? Siapa lagi kalau bukan Tsukishima Kei dan mulut ularnya. Aoi Cherika memilih untuk menampar pemuda itu dan menendang kaki kebanggaannya itu keras – keras. Dan hubungan mereka berawal dari rasa saling ingin menampar satu sama lain.

Disclaimer : Pokoknya Haikyuu bukan milik saya.

Genre : Friendship, Humor, Romance.

Warning : OC, OOC, OOT(maybe), Typo(s), KarasunoAU!, Tsukishima Kei X OC (Aoi Cherika)

.

.

.

Please Enjoy to Read!

.

.

.

10 of 10

Aoi membereskan buku – bukunya ke dalam tas. Ia sedang sendirian di kelas saat ini, Ayaka sedang pergi ke klub cheerleader-nya dan Cherika sedang tidak punya teman. Jadi beberapa waktu yang lalu, ia menghabiskan waktu dengan membaca ulang pelajaran hari ini di dalam kelas. Lalu ia melihat sebuah tas, sepertinya tas berisi baju ganti dan minuman, di meja Tsukishima. Cherika menghela nafas dan mengambil tas itu sebelum berlari keluar kelas.

"Haah… Si bodoh itu, meninggalkan hal sepenting itu disini. Lalu apa yang ia pakai selama latihan?"

Cherika menelusuri jalannya menuju gym, walaupun hari masih sore, ia berusaha sesegera mungkin menyerahkan barang ini dan segera pulang. Kasihan jika orang tuanya harus menjaga toko tua mereka hanya berdua, mereka pasti kelelahan –menanti Cherika untuk pulang dan membantu.

Ia menengok ke dalam gym, keadaannya panas dan pengap. Itulah mengapa ia tidak suka gym, berhubungan dengan olahraga dan rasanya keadaan gym membuat tenggorokan Cherika tercekat dan tidak bisa bernafas, saking sumpeknya.

"Kei, kau meninggalkan tasmu di kelas." Tsukishima menoleh, mendapati pacarnya sedang di depan pintu, membawakan tas baju yang ia cari – cari sedari tadi bersama Yamaguchi, bahkan ia hampir menyalahkan Hinata atas hilangnya tas keramat tersebut. Merasa bahwa Hinata terasa seperti satu – satunya orang yang bisa menyembunyikan tasnya. Tapi sepertinya ia sudah salah sangka.

Tsukishima menghampiri Cherika dan menyahut tasnya tanpa mengatakan apapun, ia hanya berdiri di depan pintu dan memegang tas berwarna hitam itu dengan genggaman erat.

"Tidak ada kata terima kasih?" Cherika melambaikan tangan di depan wajah tampan Kei, walau jujur saja ia masih agak berjinjit ketika melakukannya. Salahkan tinggi Kei yang diatas rata – rata sehingga mereka terpaut terlalu jauh apalagi Cherika termasuk gadis dengan tinggi yang standart. Bukan pendek kok –hanya standart tidak kurang tidak lebih.

Namun, bukan Tsukishima Kei jika dia menggumamkan kata terima kasih begitu saja. Kesempatan menjahili Cherika tidak datang dua kali, walaupun Kei selalu berhasil menemukan celah – celah dimana ia bisa menjahili gadis yang kini berpredikat pacarnya itu. Kei tidak mengatakan apapun, ia hanya mengelus puncak kepala Aoi dengan tidak lembut –cukup kasar bisa dibilang toh dia memang ingin membuat gadis itu kesal. Sementara tangan yang satunya masih sibuk menggenggam tas hitam itu.

Cherika tidak marah, ia sudah terbiasa jika pacarnya mendadak seperti ini. Walaupun jujur saja ia kesal, rambutnya jadi berantakan dan ia harus mendandaninya lagi sebelum beranjak pulang –sungguh hal yang menyebalkan. Tapi toh jika boleh jujur Cherika senang diperlakukan seperti itu, walau ia memiliki request agar Tsukishima mengelusnya lebih lembut. Maka kini Cherika hanya menatap Tsukishima dengan tatapan bosan, dan Tsukishima akhirnya pergi dari hadapannya setelah beberapa menit. Bahkan tanpa mengatakan apapun padanya, sungguh sebenarnya mereka ini menjalin hubungan atau sekedar bermain?

"Tsukki, kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada Aoi – chan?"

"Urusai, Yamaguchi. Kembali latihan."

"H-ha'i!"

.

.

.

Sudah menjadi rutinitas Aoi Cherika selama bertahun – tahun untuk membantu orangtuanya bekerja di toko roti untuk meringakan beban mereka, maklum kedua orang tua Cherika sudah berusia cukup tua untuk sekedar berjalan – jalan di toko dan melayani pengunjung yang datang. Maka tugas menyebalkan itu mau tak mau diserahkan pada Cherika, lagipula paras manis Cherika cocok jika dijadikan sebagai ikon dari bakery ini.

"Selamat datang, Tuan! Apa ada yang bisa saya bantu?" Cherika mendongak untuk melihat wajah pengunjungnya kali ini, dan decihan setengah kesal setengah menopang harga diri keluar dari bibir manisnya.

Sudah menjadi rutinitas Tsukishima Kei selama seminggu ini untuk mampir ke sebuah toko roti di distrik perbelanjaan. Katanya dia cukup mengagumi strawberry shortcake yang dibuat disini, dia bilang tekstur dan manisnya sesuai, dekorasinya juga cukup unik. Walau dalam hati yang paling dalam, Kei kesini hanya ingin melakukan aksi modus ala remaja masa kini.

"Aku ingin membeli strawberry shortcake." Ucap pemuda itu datar, mencoba menyembunyikan tawa yang ingin muncul melihat ekspresi Cherika saat ini –terkesan bosan melihatnya yang datang kemari setiap harinya. Padahal dia sendiri sudah selalu melihatnya di sekolah, bahkan di kelas.

'Sial, aku memakan potongan yang terakhir beberapa saat yang lalu.' Aoi kembali menghadap ke arah Tsukishima setelah aksi membuang mukanya yang hanya bertahan sekitar delapan detik.

"Maafkan kami, Tuan. Tapi cake yang anda pesan sudah habis dan masih belum matang. Silahkan kembali nanti." Cherika memaksa senyuman agar terpatri di wajahnya, berusaha sok tidak mengenal pemuda tinggi di hadapannya. Harga dirinya benar – benar akan hancur jika ia ibunya tahu bahwa pacarnya setinggi dan setampan ini. Belum lagi pacarnya itu juga pintar dan pemain voli. Jika saja dia tidak memiliki mulut berbisa mungkin Aoi sudah memberikan predikat suami idaman pada Tsukishima Kei saat ini juga. Mungkin saja ibunya juga akan memberikan predikat serupa –toh ibunya tidak tahu sifat asli Tsukishima.

Tsukishima tidak pergi dari meja kasir, ia mengamati daerah sekitar. Baki dimana seharusnya terisi jajaran strawberry shortcake kini kandas sudah, walaupun baki lainnya masih terisi lebih dari setengah. Di daerah sekitar meja kasir terdapat piring kecil, di atas piring kecil yang dimaksud remahan softcake terlihat samar dan strawberry segar masih jelas terlihat di pinggir piring walaupun sudah agak tertutupi krim lembut. Tsukishima mengeluarkan seringainya, menatap Cherika yang sibuk melayani pengunjung lainnya, melupakan Tsukishima yang masih ada di meja kasir. Bukannya melupakan sih, lebih tepatnya berusaha mengabaikan eksistensi pemuda jangkung tersebut sebelum konsentrasinya semakin hancur.

"Cherika," tidak dengar. Aoi Cherika berusaha mentulikan indra pendengarannya dari suara baritone Tsukishima Kei.

"Cherika," panggilan kedua keluar dan Cherika masih sok sibuk menata roti panggang cantik yang baru saja keluar dari dapur. Senandung sok riang bahkan keluar dari bibirnya, yang jika ditelusuri lebih teliti terdapat sisa – sisa krim yang warnanya menyerupai warna bibir, sehingga menyamarkan eksistensi benda bernama krim tersebut. Oh yeah, Tsukishima semakin yakin sekarang.

"Cherika." Panggilan ketiga, mau tidak mau Cherika harus berbalik dan menatap Kei. Cherika mengeluarkan decihan kesal dan kembali ke meja kasir, mencoba memasang senyum termanisnya, demi pengunjung dan demi tokonya.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" jujur saja, perempatan amarah sudah muncul di pelipis Cherika. Kapan sih si Tsukishima ini pulang?

"Kau…" Tsukishima memberikan jeda ganjil dalam kalimatnya, membuat Cherika berangan – angan kata selanjutnya yang akan dikatakan pemuda di hadapannya. "Kau… memakan strawberry shortcake terakhir 'kan?"

Mati aku, mungkin gumaman itu yang terpatri dalam pikiran Aoi Cherika saat ini. Apa yang harus ia lakukan ketika seorang pembeli mengetahui bahwa dirinya memakan cake terakhir yang disukai si pengunjung? Sejauh ia bekerja disini, tidak ada pengunjung yang mengatakan hal aneh semacam itu padanya. Sungguh Tsukishima Kei benar – benar spesies langka yang tidak akan bisa kau temukan di belahan dunia manapun.

Maka Cherika memilih untuk menatap tajam Tsukishima tanpa maksud apapun, ia hanya ingin si pirang ini segera pergi dari toko keluarganya. Memangnya ia tidak puas menjahili Cherika di sekolah? Kenapa juga ia sampai harus datang ke bakery keluarganya? Sekali lagi, Tsukishima menyeringai nakal, karena ekspresi Cherika saat ini benar – benar sesuai ekspestasi.

"'Hee? Nande? Kenapa seorang pembeli bisa mengatakan hal seperti itu pada pelayannya?' Itu 'kan yang kau pikirkan? Mengaku sajalah, Cherika. Kau memakan cake terakhir."

"Pulanglah, Kei. Aku yakin ibumu akan khawatir jika kau pulang larut."

"Kenapa Aoi? Kau mengalihkan topik pembicaraan."

"Urusai, pergi dan jangan kembali lagi. Tidak ada strawberry shortcake untukmu lagi."

"Jaa, biarkan aku merasakan strawberry shortcake untuk terakhir kalinya jika kau mengatakan seperti itu."

Tsukishima tidak akan menarik kata – katanya, jika ia mengatakan ingin maka ia akan melakukannya. Cherika hanya bisa diam membeku ketika Tsukishima menundukkan tubuhnya yang terlampau tinggi itu demi menyejajarkan diri dengan Cherika. Cherika bisa merasakan kehangatan yang tersalurkan tatkala Kei mengecup sejenak bibirnya. Iya. Benar sekali, Tsukishima Kei melakukan steal kiss pada Aoi Cherika yang tidak fokus.

Blush.

Cherika masih terdiam di balik meja kasirnya, bahkan ia sampai tidak melayani pembeli lain yang mulai datang. Ibunya jadi harus turun tangan apalagi setelah melihat adegan ala sinetron akhir pekan yang biasa Cherika dan ibunya tonton untuk menghabiskan waktu. Ibunya hanya tersenyum bangga melihat anak gadisnya kini sudah menjelang dewasa, mungkin sudah saatnya ia menunjang hubungan cinta anaknya dengan pemuda tinggi yang kini entah bagaimana sudah melesat keluar dari toko. Tidak peduli seperti apa ekspresi Cherika saat ini, mungkin tomat sudah terkalahkan kemerahannya jika dibandingkan paras ayu gadis bersurai kecoklatan yang baru saja ia cium, dengan alasan ingin merasakan strawberry shortcake. Dasar Tsukishima Kei dan otak collage prep. class miliknya, bahkan orang pintar memanfaatkan keenceran otaknya untuk berbuat modus semacam ini.

Manis, Tsukishima tersenyum sembari berjalan keluar dari toko roti keluarga Aoi. Ia masukkan kedua tangannya kedalam saku celana seragam SMA Karasuno, seraya masih setia mengenakan headphone yang sebenarnya memiliki fungsi ganda, mendengarkan lagu dan mencoba terlihat cool.

"K-KEEIIII!" Tsukishima berusaha mengabaikan teriakan histeris setengah out of character dari seorang gadis beriris violet di dalam toko roti di belakangnya. Ia tidak peduli, jika Cherika memang ingin membunuhnya ia bisa mengejarnya kemari, toh Kei sendiri tidak akan tidak senang jika Cherika menyusulnya kemari.

Namun pada akhirnya, Kei menoleh ke belakang dan menemukan gadis berparas ayu yang kini merona hebat tengah berlari keluar dari toko roti dengan masih menggunakan seragam pelayannya.

Tsukishima tersenyum. Ya, tersenyum, bukan menyeringai.

Dasar domba berbulu serigala. Seharusnya bilang saja jika kau ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama pacarmu.

.

.

.

OMAKE :

Hanami Ayaka tengah bersantai sambil menyeruput greentea latte di hadapannya. Sepiring cake aneka rasa juga tertata rapi di meja kayu tersebut. Tepat di seberangnya, seorang pemuda, Yamaguchi Tadashi meminum Ice Lemon Tea dengan tenang. Entah apa yang sedang ia lakukan disini, menemani gadis bersurai pendek itu menguntit pasangan baru –yang baru saja jadian satu minggu kebelakang.

Yamaguchi bisa melihat seringai tercetak di bibir Ayaka ketika kejadian ala shoujo manga yang dilakukan Tsukishima kepada Aoi. Bahkan Yamaguchi menahan nafas melihatnya. Ia tahu bahwa Kei dan Cherika sama – sama tidak menyadari keberadaannya dan Ayaka disini. Tidak apalah, toh lumayan juga mendapat traktiran makanan manis dari Ayaka.

"Akhirnya… Anak kita sudah besar, Otou – chan. Kita berhasil mendidik Cherry – chan menjadi gadis yang baik." Ayaka mencomot salah satu manisan di hadapannya. Masih sambil melihat paras ayu Cherika yang merona hebat.

Jujur saja, sejak awal tidak pernah ada teorema dimana sebuah marga Yamaguchi yang bercampur dengan Hanami bisa menciptakan marga baru dengan nama Aoi. Sungguh sebuah kemustahilan.

"Eh? Otou – chan? Dare?"

"Apakah sebaiknya kita juga jadian ya, tou – chan? Aku benci jika harus kalah dari Cherry – chan."

"Eh? EEEHH?"

.

.

.

THE END!

Finally, setelah sekian perjuangan, Aya dapat menyelesaikan fict pertama Aya di fandom Haikyuu! Yah walaupun di dua chapter terakhir ini udah gak bisa dibilang drabble lagi karena words-nya udah cetaarrr membahana. Setelah fanfict ini selesai, Aya sudah mempersiapkan story baru di fandom ini, rencananya sih Kageyama X OC. Dan storyline masih dirahasiakan! Ditunggu ya ffn Aya selanjutnya, terutama bagi kalian para Kageyama Lovers. Dukungan akan selalu dinanti!

Big thanks to all of my readers, viewers, reviewers, favers, followers, and ect. I love you all! And of course also, big big thanks to my beta reader, YummydaNina. Yo! Sister! Akhirnya aku berhasil menyelesaikan chapter terakhir berkat dukungan dari semua tentunya, jadi dirimu jangan geer eapss.

Okayy, terima kasih sekali lagi buat semuanya. Jujur aja, ini fanfic multichap pertama Aya yang bisa berhasil dan mencapai titik THE END. Biasanya fanfic Aya tuh banyak yang ke-delay gak jelas, dan berakhir discontinued sampai ada ide – ide terkini. Jadi, intinya Aya seneng bangeeet! Uyyeah!

Kalau begitu, sampai jumpa lagi di fanfiction selanjunya!

Big Love,

Nakashima Aya