Chapter 10
.
.
.
Flasback
"Aku minta maaf, Hun. Sungguh. Kalau ada yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku pasti sudah kulakukan dari dulu" Kris yang biasanya memasang wajah arogan dan sok keren –menurut Sehun- sekarang tampak lelah dan muram, seolah-olah wajahnya dihantam beton selama bertahun-tahun. Sehun pun kasihan melihatnya. Bagaimana pun, Kris tak sepenuhnya salah. Ialah penyebab semua ini. Seandainya ia tahu lebih awal. Air mata pun kembali membasahi wajahnya.
"Bukan sepenuhnya salahmu, aku pun ikut bersalah disini" Walaupun berkata demikian, Sehun tak bisa berhenti menangis. Kris pun berinisiatif memeluk Sehun untuk menenangkannya, namun Sehun semakin histeris.
"Kau tahu, kan, bahwa orang yang memiliki gangguan jiwa akan terbebas kurungan penjara? Dalam kasus Luhan, ia anak konglomerat. Jadi, meskipun ia diamankan di rumah sakit jiwa, ia bisa saja sesuka hatinya mengirim mata-mata untukmu. Apalagi sekarang ia berkeliaran bebas tanpa diketahui siapapun. Sekarang kau yang harus berhati-hati, okay?"
Flashback end
Sehun terduduk di tempat yang sama di taman dekat kompleks apartemennya. Tatapannya kosong. Pikirannya kosong karena terlalu kalut memikirkan semua hal yang terjadi. Pada saat krisis seperti ini, seseorang biasanya akan bercerita pada teman baiknya. Tapi Sehun terlalu takut untung bercerita dengan Chanyeol. Menurutnya, ialah penyebab kematian Kai. Atau setidaknya ikut ambil bagian. Sehun merasa sama gilanya dengan Luhan sekarang. Ia ingin sekali menyumpah-serapahi Luhan. Tapi mengingat kondisi Luhan, Sehun kembali menyalahkan dirinya.
Sehun masih tak percaya dan menganggap semuanya mimpi. Bagaimana bisa seorang Luhan yang Sehun yakin 100% gay akut mencintainya. Bagaimana bisa seorang Luhan yang Sehun yakin 100% terobsesi dengan cosplay mencintainya. Bagaimana bisa Luhan yang berciuman dengan Kris mencintainya. Bagaimana bisa Luhan membunuh Kai karena mencintainya. Pikirannya semakin kalut, hingga tak terasa seseorang duduk disampingnya, memperhatikannya sedari 10 menit yang lalu.
"Hai!" Sehun yang asik melamun pun tersentak karena kaget.
"Apa maumu?" Sehun berkata dengan sinis begitu melihat pria asing yang pernah ditemuinya di tempat yang sama.
"Kenapa kau bertanya dengan nada seperti itu? Aku kan hanya menyapa"
"Kalau kau hanya mau menyapa sebaiknya kau pergi karena kau membuat suasana hatiku memburuk"
"Sebenarnya, tidak hanya menyapa sih. Waktu itu kau meminjam jaketku, kau ingat? Kenapa kau tidak segera mengembalikannya sih?" Pipi Sehun pun memerah. Malu.
"A-aku kan tidak meminjamnya! Kau saja yang sok keren dengan menyampirkannya di bahuku. Lagipula, bagaimana aku bisa mengembalikan kalau aku tak tahu kau tinggal dimana"
"Ck! Benar juga. Alamatku, kau bisa mengembalikannya di apartemen gedung C nomor 515. Dan apa tadi? Kau bilang aku sok keren? Jadi waktu menyampirkan jaket di bahumu aku terlihat keren?" Pipi Sehun yang sudah memerah semakin padam.
"Aku tak bilang kau keren! Sudah sana! Pokoknya nanti aku kembalikan jaketmu!"
"Ingat alamatku, ya! Lalu cepat kembalikan! Jaket itu mau kupakai" Pria itu pun berlalu.
Sehun kembali hanyut dalam pikirannya. "Oh iya, siapa nama pria tadi? Aish!"
"Hey, Hun! Kau tidak tidur berapa hari? Lihat! Kau punya mata panda! Hahahahaha" Sehun pun hanya bisa memukuli Chanyeol dengan tasnya. Sejak pertemuannya dengan Kris kemarin, Ia benar-benar insomnia akut. Paranoid apabila Luhan bisa saja muncul secara tiba-tiba. Sehun belum menceritakan hal ini pada siapapun bahkan Chanyeol sekalipun. Meskipun Chanyeol sahabatnya yang terpercaya, Ia masih ragu untuk menceritakannya karena hal-hal mengenai Luhan yang baru Ia ketahui benar-benar sensitif.
"Kau ini kenapa, Hun? Kenapa melamun terus? Jangan-jangan kau memikirkan lelaki lain ya?! Sudah kubilang kalau bersamaku jangan memikirkan lelaki-" Sehun yang kesal karena Chanyeol berbicara tanpa kontrol pun memukuli Chanyeol lagi dengan tasnya. "Aduh! Kenapa sekarang memukulku juga? Dasar anarkis. Jadi kau benar-benar memikirkan lelaki lain? Siapa? Apa satu fakultas denganmu? Satu universitas? Apa aku kenal?" Wajah Sehun memerah. Memang benar Sehun memikirkan lelaki lain –Luhan, tapi tidak dalam konteks jatuh cinta seperti yang diasumsikan Chanyeol.
"Berhenti membuat asumsi-asumsi tak beralasan, bodoh! Sudahlah, aku mau pulang. Kau menghancurkan mood-ku"
"Ayo ku antar, ini sudah jam 8 malam!"
"Tak perlu. Bukannya shift kerja part time Baekhyun sebentar lagi habis? Kau harus menjemputnya juga"
"Kau yakin tak apa pulang sendiri? Aku bisa mengantarmu dulu" Sehun menatap sebal ke arah Chanyeol.
"Tak apa. Aku pulang" Dia memang lelaki baik tapi terkadang Chanyeol bisa sangat protektif pada Sehun seolah-olah Sehun adalah anak gadisnya.
Sehun pun menghempas kan tubuhnya pada sofa di apartemen-nya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia merasa begitu lelah padahal hari ini tidak banyak yang ia lakukan. Sehun hampir saja Sehun terlelap di sofa kalau tidak dikagetkan dengan dering telepon selulernya.
"Ya?"
"Kau sudah sampai dengan selamat?" Dan sudah dapat dipastikan si penelpon adalah Chanyeol. Memang siapa lagi? Chanyeol ini terkadang lebih protektif pada Sehun, melebihi orang tuanya.
"Ya ampun, kalau kau cuma mau menanyakan itu akan ku tutup"
"Ya, ya, ya, sepertinya kau sampai dengan selamat. Tidurlah yang nyenyak, mata pandamu mengerikan. Sampai jumpa besok" Sehun pun beranjak, berniat tidur di kamar tetapi matanya terpaku pada sebuah jaket. 'Apa sebaiknya kukembalikan besok saja? Tapi besok jadwalku penuh, belum lagi mengerjakan tugas, lalu pulang malam, pasti langsung tertidur. Apa sebaiknya kukembalikan sekarang saja?' Sehun menatap jam dindingnya. Memang sudah malam. Apa boleh buat, pemiliknya yang bilang akan memakainya dalam waktu dekat.
Gedung C nomor 515. Gedung ini bersebelahan dengan gedung apartemen-nya. Unit ini juga berada di lantai yang sama seperti apartemen-nya. Sehun menekan bel. Tak lama, suara lembut seorang lelaki mengalun melalui interkom.
"Siapa?"
"Ini aku, tetangga yang kau pinjami jaket" Pintu terbuka, menampilkan sosok tetangga menyebalkan –menurut Sehun- yang menjumpainya di taman.
"Masuklah"
"Tak udah, aku hanya ingin mengembalikan jaketmu"
"Aku ini lelaki yang tahu sopan santun, mana mungkin aku membiarkan tamu. Masuklah" Sehun sebenarnya ingin segera pulang, tapi Ia sedang malas berdebat jadi Ia menurut untuk masuk. Bertamu sebentar saja lalu langsung pulang.
Sehun mendudukkan diri di sofa yang tersedia. Apartement ini cukup bersih untuk ukuran apartemen seorang lelaki muda. Tidak banyak perabotan di sini. Hanya ada barang-barang seperlunya saja, memberi kesan apartement yang luas. Ia baru sadar balkon apartement ini berhadapan langsung dengan balkon apartementnya. Mungkin karena itu lelaki ini mengenalinya. Dari tempatnya duduk, Ia bisa melihat lelaki itu berkutat di dapur yang terhubung dengan ruang tamu.
Sehun tak pernah memperhatikannya sebelumnya. Lelaki itu memiliki rambut yang dipotong pendek seperti lelaki kebanyakan dan berwana cokelat madu yang terlihat lembut. Matanya lebar, tidak seperti mata orang asia timur kebanyakan, dan entah bayangan Sehun saja atau apa tapi matanya bersinar terang seperti kelap-kelip bintang. Hidungnya kecil dan mancung. Wajahnya kecil dan bibirnya begitu merah. Tubuhnya tinggi, namun tak setinggi dirinya, bahunya sempit tetapi terlihat kokoh, dan kakinya jenjang dan kecil, tetapi terlihat kuat seperti kaki seseorang yang gemar bermain sepak bola.
Lelaki itu kembali dari dapur dengan dua cangkir teh dan aneka biskuit. Lelaki itu melempar senyum pada Sehun dan Ia meminum tehnya.
"Jadi kau tinggal sendiri disini?"
"Begitulah, keluargaku tinggal di Cina" Dan pembicaraan mereka mengalir seperti arus. Sehun merasa matanya semakin berat, Ia semakin mengantuk.
"Kau tahu? Kita bicara panjang lebar tanpa mengetahui nama satu sama lain", ucap Sehun setelah meminum tehnya. Ia harus segera pulang karena matanya sudah tak bisa diajak berkompromi.
"Luhan" Sehun terdiam.
"Apa?"
"Namaku Luhan, Sehun" Sehun mematung. Kesadarannya seolah dipaksa bangkit. Ia membelalakkan matanya. "Penampilanku berubah begitu drastis ya? Aku sedih sekali waktu kau tak mengenaliku. Tapi dengan begitu bukannya kau merasa nyaman berbicara denganku? Kris pasti sudah memberitahumu" Sehun merasa detak jantungnya begitu cepat. Ia takut. Sehun hendak beranjak sebelum Luhan lebih dulu memeluknya dengan erat. Mengunci pergerakannya.
"Aku sudah lama memimpikan hari ini dimana aku bisa memelukmu dengan erat seperti dulu. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu" Sehun masih mematung. Entah bagaimana Ia akhirnya mendapat keberanian untuk membuka mulut.
"Jangan bicara seolah-olah kita sepasang kekasih, Luhan"
"Kita bahkan berjanji untuk menikah bersama, Hun. Kau melupakan janji manis kita" Pikiran Sehun melayang ke masa taman kanak-kanaknya. Janji itu. Janji monyet yang Ia dan Luhan buat di bawah pohon sakura di taman kanak-kanak.
"Dulu kita selalu bermain rumah-rumahan. Kau suaminya, aku istrinya. Aku tak keberatan walaupun harus menjadi wanita. Aku tak masalah jika aku yang mengurus semuanya nanti. Asalkan kita bisa bersama, aku tak masalah" Luhan mengeratkan pelukannya. "Aku selalu melihatmu dari kejauhan. Aku ingin sekali menghampirimu, memelukmu dengan erat seperti ini. Tapi kau mulai menyadariku, dan perlahan Chanyeol juga menjadi lebih waspada. Maka aku merubah penampilanku. Kau tak tahu betapa aku menantikan hari ini, hari dimana aku bisa berterus terang padamu"
"Itu hanya janji monyet, Luhan! Tak akan ada yang menganggap janji seperti itu serius!" Ekspresi Luhan mengeras. Ia mencengkram rahang Sehun dan menatapnya tepat di mata. "Ada, Sehun! Aku. Menganggapnya. Serius." Ucap Luhan dengan penekanan kata yang mengerikan. Tak lama matanya melembut. Jari-jarinya mengelus lembut rahang Sehun yang kemerahan akibat cengkamannya.
"Aku mengirimimu benda-benda berhargaku, kau tahu? Sepatu putih yang sama seperti milikmu. Sangat sulit mencarinya. Aku hanya pernah memakainya sekali dulu waktu kita tinggal bersama karena sepatunya terlalu berharga. Aku tak mau merusaknya" Sehun baru teringat. Sepatu yang Ia dapat dari rangkaian paket aneh tanpa nama. Paket pertama.
"Aku juga mengirimimu peta kota beijing, tempat asalku. Aku ingin setelah menikah kita bisa tinggal disana. Kita juga bisa mengunjungi ibuku bersama. Aku agak merindukannya. Sebelumnya aku melihat rambutmu memanjang, jadi kuberikan ikat rambut kesayanganku padamu. Pasti cantik sekali kalau kau memakainya. Kukirimkan dua benda itu dengan seikat mawar merah" Paket kedua. Sehun ingat.
"Kau dan chanyeol mulai menyadari keberadaaanku sementara aku belum mempersiapkan apapun jika kau mengetahuiku. Jadi kupotong rambutku. Aku sedih karena Chanyeol lebih protektif padamu. Aku marah! Dia pikir dia siapa?! Kau milikku!" Luhan mulai menaikkan nada suaranya, marah. Namun dengan cepat menyadari Sehun yang bergetar, Ia kembali tenang. "Kau pernah bilang rambutku bagus dan berkilau, kau ingin memotongnya dan memajangnya. Jadi kukirimkan padamu beserta sebotol darahku. Kau tahu katanya darah bisa mengikat cinta kita selamanya. Aku ingin cinta kita abadi"
"Gila, kau gila! Lepaskan aku, Luhan, lepas!", Sehun meronta-ronta dalam pelukan Luhan. Ia memukul-mukul dada dan lengan Luhan sambil menangis. Luhan membawa wajah Sehun agar menatapnya lagi. Pandangannya penuh cinta.
"Dalam paket terakhir, selain benda-benda itu, di dalamnya ada bunga baby's breath. Mawar merah artinya aku mencintaimu. Baby's breath artinya kematian. Kalau mereka disatukan dalam buket artinya i love you until the death" Sehun menangis kencang.
"Kumohon... lepaskan aku...", ucap Sehun sambil menangis sesenggukan.
"Shh! Jangan menangis, aku paling benci kau menangis" Luhan semakin mengeratkan pelukannya. Ia mengelus-elus punggung Sehun dan menciumi dahinya.
"Kenapa? Kenapa kau seperti ini? Kenapa aku?" Luhan menghela napas lelah.
"Aku... Aku juga tak ingin menjadi seperti ini. Demi apapun, aku juga ingin normal! Tanganku selalu bergetar, hatiku resah dan merasa bersalah saat mengingat Kai. Aku tahu! Aku salah! Aku sangat bersalah! Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi, tapi aku tak bisa mengontrolnya! Aku hanya bertahan karena aku percaya padamu, Hun" Sehun menangis lebih keras lagi begitu mengingat Kai.
"Aku mencintaimu, Hun. Sangat, sangat mencintaimu. Tak pernah orang lain, hanya dirimu. Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Katakanlah apa saja agar aku bisa membuktikan cintaku padamu. Bahkan jika kau memintaku untuk mati akan kulakukan, asal jangan memintaku untuk melepasmu atau aku akan menjadi tak terkendali" Sehun tahu itu. Sehun tahu Luhan akan melakukan apapun. Sehun tahu Luhan gila. Pikirannya meneriakkan pada Luhan untuk mati, tetapi hati kecilnya tak mau membunuh Luhan. Serba salah.
Terdengar dentuman keras. Pintu apartemen Luhan didobrak. Suara nyaring pengaman pintu tak terdengar karena telah disadap. Beberapa orang polisi masuk dengan beberapa tim medis.
"Jangan bergerak!"
Luhan mematung. Rupanya sejak Sehun menyadari bahwa lelaki yang memeluknya adalah Luhan, ia langsung menghubungi telepon seluler Kris dan membiarkannya mendengar semua percakapan antara Sehun dan Luhan. Matanya berkilat marah dan berbahaya, menjelajah setiap sudut ruangan untuk mencari seseorang yang Ia kenal.
"Kris! Jangan ikut campur!"
"Aku tak akan ikut campur kalau kau tak melakukan hal gila. Lepaskan Sehun, Luhan!"
"Tak ak- Ahh!" Tanpa sadar seorang polisi mengendap-ngendap di belakang Luhan dan menusukkan jarum suntik berisi obat bius dosis tinggi di tengkuk Luhan yang membuat Luhan lemas seketika. Sehun pun terlepas dan jatuh terduduk di lantai. Dua orang polisi mengunci pergerakkan Luhan. Kris menghampiri Sehun dan memeluknya.
"Brengsek! Lepaskan tanganmu dari wanitaku, bajingan! Lepas!"
"Berhenti membuat kekacauan, Luhan! Sudah saatnya kau sembuh! Kita kembali ke beijing sekarang"
"Brengsek! Aku tak mau! Biarkan aku dengan Sehun! Lepaskan!" Luhan meronta-ronta dengan lemah. Kris heran kenapa Luhan masih sadar padahal sudah diberi obat bius dosis tinggi. Sehun menghampiri Luhan. Luhan menatap Sehun dengan pandangan seperti anak kucing yang terlantar.
"Pulanglah. Sembuhkan dirimu. Bukan hanya aku yang khawatir, keluargamu juga. Ayahmu juga. Kau ini anak ayahmu satu-satunya, kan? Kali ini aku berjanji dengan sungguh-sungguh, aku berjanji akan menikah denganmu. Tapi kau harus sembuh. Aku tak mau menikah dengan orang gila. Stabilkan emosimu, kendalikan perasaanmu. Jika kau belum berubah pikiran dan masih mencintaiku bahkan setelah kau sembuh, datanglah lima tahun lagi dan lamar aku maka aku akan langsung menerimanya. Aku akan menunggumu" Sehun mengecup bibir Luhan cukup lama. Pipi Luhan memerah, matanya bersinar malu-malu, ekspresinya seperti anak kecil. Tidak ada lagi Luhan yang meronta-ronta.
"Tapi jika setelah lima tahun kau belum sembuh, aku akan menikah dengan orang lain" Kris masih menganga mendengar ucapan Sehun. Petugas pun menyeret Luhan keluar, meninggalkan Kris dan Sehun berdua disana.
"Kau sudah gila juga ternyata, Oh Sehun. Bahkan walaupun ada tekad, Luhan belum tentu sembuh!" Kris menjambak rambutnya frustrasi.
"Aku merasa bersalah pada Luhan, juga pada Kai. Aku rasa daripada melarikan diri, ini adalah hal yang paling benar. I found out that he's a trouble. He's insane but someone have to fix it"
"Kau ini benar-benar... Kau sudah menceritakan hal ini pada Chanyeol?"
"Tidak, tidak pada Chanyeol atau siapapun. Biarlah ini jadi rahasia kita" Kris melangkah keluar. Ia berhenti di depan pintu yang telah rusak.
"Kau tahu? Menikah tanpa cinta bisa membunuhmu perlahan-lahan. Jika kau mati, maka Luhan akan mati juga"
"Aku tahu. Saat ia benar-benar datang padaku, aku akan belajar mencintainya seperti Ia mencintaiku"
"Cinta tak bisa dipaksakan, Sehun"
"Cinta memang tak dapat dipaksakan tetapi cinta bisa datang karena terbiasa, Kris" Kris terdiam. Kakinya melangkah menjauhi Sehun hingga Ia tak terlihat dari pandangan Sehun lagi.
END
.
.
.
.
.
OMAKE
5 tahun kemudian
"Hey hun! Ayo makan siang. Perutku sudah meronta-ronta" Chanyeol masih saja bertindak seperti bodyguard-nya 24/7.
"Duluan saja, aransemenku belum selesai"
"Lanjutkan nanti saja! Lagu itu kan akan diberikan untuk rookie grup di agensi Baekhyun kan? Santai saja. Lagian memang manusia berperut karet sepertimu kuat menahan lapar?" Sehun menatap Chanyeol sebal. Chanyeol masih tak peduli masih menarik-narik Sehun. "Ayo! Mobil Baekhyun sudah menunggu di depan" Sehun memilih menyerah dan bangkit dari duduknya.
Setelah mereka lulus, Sehun dan Chanyeol memang bekerja di perusahaan musik yang sama sebagai produser. Baekhyun yang satu jurusan dengan mereka memilih hiatus setelah Ia diterima dalam audisi suatu agensi dan debut sebagai penyanyi solo hanya dalam kurun waktu 7 bulan masa training. Karena kesibukan jadwal domestik maupun luar negerinya, Baekhyun tidak sempat memikirkan kuliah dan akhirnya belum lulus hingga sekarang. Baekhyun dan Chanyeol masih tetap berkencan hingga sekarang meskipun harus backstreet, menghindar dari agensi dan paparazi.
Sesampainya di luar gedung, terlihat Baekhyun yang bersandar di luar mobilnya. Penampilannya yang seperti maling malah semakin mengundang perhatian orang-orang yang berada di luar gedung. Chanyeol langsung menarik tangan Sehun dan berjalan sangat cepat ke arah Baekhyun.
"Bodoh ya?! Kalau orang lain mengenalimu bagaimana?! Disini kan ramai!"
"Ya biar saja! Kenapa kau marah-marah terus sih?! Mau putus ya?!"
"Tidak ingat siapa yang minta putus lalu mengurung diri dan tidak makan sampai sakit?! Kalau aku menyuapimu makan pasti kau sudah sekarat"
"Tidak ingat yang setelah putus mabuk-mabukan mengacau di rumah orang minta balikan?!"
"Ya sudah kalian menikah saja lalu bertengkar setiap hari tanpa putus!" Sehun sudah tak sabar mendengar pertengkaran tak jelas keduanya. Namun wajah keduanya malah bersemu malu-malu. Sudah jelas sepertinya mereka memang merencanakan untuk menikah dan bertengkar setiap hari secepatnya. Dasar pasangan gila. Gila asmara. Sehun pun menghela napas.
"Ya sudah ayo mak-" Ucapan Sehun terhenti saat sebuah mobil sport mewah berhenti di depan ketiganya.
Seorang pria keluar dari pintu kemudi mobil tersebut dengan memegang sebuket mawar merah dan baby's breath yang dijadikan satu serta sebuah kotak kecil. Ia memakai setelan jas dan rambutnya di-pomade, style up. Orang-orang mulai berkumpul melihat lelaki rupawan yang sudah jelas sangat mapan itu. Sehun membelalakkan mata kecilnya. Pria tersebut tersenyum lembut melihat Sehun yang menambah ketampanan pria tersebut. Chanyeol dan Baekhyun memandang Sehun dan pria tersebut bergantian.
"Yeol, aku merasa mengenal lelaki itu. Tapi siapa ya? Wajahnya tak asing"
"Benar juga, siapa ya? Pacar Sehun? Ah tapi Sehun sedang tak dekat dengan lelaki manapun"
Pria itu berhenti di depan Sehun lalu berlutut dan membuka kotak kecil berisi cincin berlian itu dan menyodorkan cincin dan buket bunga itu ke arah Sehun.
"Oh Sehun, will you marry me?" Orang-orang pun bersorak sorai. Ada yang memotret bahkan merekam. Chanyeol menganga karena tak percaya. Baekhyun terbelalak menatap cincin tersebut. Cincinnya emas putih dengan berlian kecil tersebar di sekelilingnya. Simpel, namun indah. Mencerminkan seorang Oh Sehun sekali. Dan cincin itu terlihat seperti pesanan, bukan seperti yang biasa ditemukan di toko perhiasan. Mata sehun berkeliaran di sekitar kerumunan. Matanya menemukannya. Ia melihat Kris menganggukkan kepalanya. Matanya kembali ke arah pria tersebut. Senyum manis mengembang di wajah cantik Sehun.
"Yes, I will, Luhan" Keramaian pun ramai dengan tepuk tangan. Luhan memasangkan cincin tersebut di jari manis Sehun dan menciumnya di bibir. "Ayo kita temui orang tuamu. Aku tak sabar ingin segera menikah!" Luhan dengan semangat menyeret Sehun ke mobilnya. Mobil tersebut pun menjauh dan menghilang dari pandangan. Kerumunan sudah membubarkan dirinya. Meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang masih mematung.
"Itu... maksudnya Luhan... Luhan yang itu?"
"Iya sepertinya Luhan yang itu"
"Yang itu kan?"
"Iya, itu"
.
.
.
OMAKE END
.
.
.
Akhirnya ini cerita absurd sudah selesai mwahahahaha
Setelah 2 tahun setengah baru selesai amit-amit padahal cuma 10 chapter -_-
Aku baca ulang dari awal sampe akhir sumpah ternyata cerita ini tuh nggak banget. Aku nulis cerita ini pertama kali tuh waktu masih kelas 2 smp, dan baru selesai sekarang padahal udah mau naik kelas 3 sma anjir emang -_-v
Aku mau berterimakasih ke semua ke semua pembaca setia /ceilahhh/ yang udah setia baca dari awal sampe akhir, baik yang sudah meninggalkan review maupun silent reader hehehe
Jujur dalam nulis cerita ini aku banyak kehilangan ide dan gairah /? Karena aku dasarnya orang mipa yang susah kalo suruh menciptakan cerita gini.
Selain itu aku juga jarang nulis karena pasti ada aja yang bentrok, ga peduli itu tugas sekolah, ulangan, event, sampe olimpiade.
Sampe chap 9 pernah mikir mau discountinue, tapi sayang juga. Yaudah berhubung uas aku maju dan sekarang udah selesai dan aku ada waktu free, aku habisin aja ceritanya di sini.
Kebayang ga aku uas udah selesai rapotan masih tanggal 18 wkwkwk nganggur setengah bulan.
Akhir kata, aku minta maaf kalau ada kata-kata gak mengenakan dalam cerita. Aku juga minta maaf kalau ada yang ga puas sama cerita aku. Aku mungkin bakal coba nulis-nulis cerita lagi tapi seperti biasa apdetnya bertahun-tahun wkwkwk -_-
Yang mau kenal aku bisa pm pm gitu wakakak /sok kenal bye/
Jangan lupa apresiasi dengan review ya!
