Seorang gadis duduk termenung ditepian tebing. Dia menatap jauh ke langit timur dan tersenyum, "Dia sudah semakin dekat! Apa kau juga bisa merasakannya, Ryou-chin?"
.
.
One Piece belongs to Eiichiro Oda
MUGIWARA'S SON
CHAPTER X
.
.
"Tidak salah lagi, ini memang tulisan tangan Axel-kun…"
Sandersonia menghela pelan, "Syukurlah jika anak itu baik-baik saja, sekarang kita bisa sedikit bernapas lega!"
"Aku akan diantar pulang setelah paman berhasil mendapatkan kapal, jadi berhentilah mogok makan!" Marigold membaca sebaris kalimat dalam surat Axel. Sedikit tertawa, "Dasar bocah tengil, dia pikir karena siapa ibunya sampai tidak mau menyentuh makanan?!"
"Rupanya dia bisa merasakan kekhawatiran ibunya,"
"Mungkin itu yang disebut orang dengan ikatan batin antara ibu dan anak,"
"Ikatan batin antara ibu dan anak ya? Manis sekali…" gumam Sandersonia sambil melirik Hancock yang sedang sibuk mengomando para dayang untuk mengumpulkan seluruh persediaan daging yang ada ke ruang makan istana. "Semangatnya telah kembali, tidak ada lagi yang perlu kita cemaskan."
"Masih ada!"
"Masih ada?!" ulang Sandersonia. "Kita sudah tahu keadaan dan keberadaan Axel-kun, dan sepertinya kakak juga sudah berhenti mogok makan. Lantas apa lagi yang harus kita cemaskan?"
"Ini tentang laki-laki yang Axel-kun sebut 'Paman' dalam suratnya…" Marigold menggigit ujung ibu jarinya. Berpikir, "Kita masih belum tahu apakah orang itu benar-benar orang baik atau hanya orang yang berpura-pura baik."
"Apa maksudmu?"
"Sonia-nee-sama, kau tahu benar bagaimana sifat keponakanmu itu! Aku yakin mulut besarnya pasti sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan…"
"Maksudmu Axel-kun telah memberitahukan identitasnya?"
Marigold mengangguk ringan dengan muka serius. "Di dalam suratnya dia menulis akan diantar pulang. Paling tidak dia pasti sudah mengatakan bahwa dia berasal dari Kuja."
"Sial, aku tidak berpikir sampai sejauh itu! Apa jadinya jika dia mengatakan bahwa dia adalah putra dari penguasa Kuja, pasti banyak orang yang akan memanfaatkan situasi ini. Berpura-pura mengatar Axel-kun pulang lalu…"
"Tidak masalah jika dia hanya menyebut 'Boa Hancock' sebagai nama ibunya, kita masih bisa membuat seribu alasan untuk mengatasinya," Marigold menyela. "Tapi akan jadi masalah jika dia juga menyebut 'Monkey D. Luffy' sebagai nama ayahnya."
"…?!" Sandersonia tercekat.
"Kita akan mendapat masalah besar. Kalau sudah seperti itu, kita harus siap menghadapi kemungkinan terburuk!"
"Kemungkinan terburuk?" Kedua bola mata Sandersonia beralih menatap Hancock, nanar. Tak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada kakaknya itu jika memang 'sesuatu' yang buruk itu benar terjadi. "Onee-sama…"
Kemudian, jauh di laut timur.
Di semenanjung pulau Dawn, tempat Sabo dan Marco bertarung.
Satu hari telah berlalu sejak pertarungan sengit itu berakhir. Namun pasukan angkatan laut masih terlihat sibuk berlalu-lalang di sekitar tempat itu. Bahu-membahu mereka membersihkan reruntuhan batu hasil pertarungan Sabo dan Marco yang menutup akses jalan menuju pelabuhan.
Dampak yang timbul akibat pertarungan antara Sabo dan Marco memang luar biasa, tidak hanya memutus jalan menuju pelabuhan, satu-satunya jalan terdekat yang munghubungkan Gray Terminal dan desa sekitar pun ikut terputus akibat adanya retakan tanah sedalam puluhan meter yang nyaris membelah pegunungan Corvo. Hingga kini untuk sampai ke Gray terminal warga harus memutar arah dan menempuh jarak dua kali lebih jauh.
"Oyoyooii!" seorang kakek berjanggut merah panjang tiba-tiba melompat keluar dari dalam lubang besar—hasil karya Sabo. Sontak semua pasukan yang sedari tadi fokus memindahkan batu di sekitar lubang itu terenyak, kaget. "Tempat ini lebih mengerikan dari perkiraa…" kakek berjanggut merah itu langsung terdiam melihat beberapa pasukan angkatan laut yang terheran-heran menatapnya. Muncul tiga tanda tanya komikal berkedip-kedip di atas kepalanya. "Eng… Siapa kalian?"
"SEHARUSNYA KAMI YANG BERTANYA! SIAPA KAUU?!" geram para pasukan muda itu bersamaan.
"Ooo…" kakek itu menggaruk-garuk pipi, entah bingung atau tidak tahu harus menjawab apa.
"Hei orang tua! Cepat katakan pada kami siapa kau dan bagaimana bisa kau muncul tiba-tiba dari dalam lubang itu?!"
Kakek itu berdehem lumayan keras lalu sambil mengacungkan dua jarinya dia menjawab, "YO!"
Tiga pasukan yang ada di depan kakek itu langsung bertampang suram mendengar jawaban si kakek. Sweatdropped, "YO?!"
"Apa dia gila?," gumam pasukan berbadan besar.
"Mungkin…" sahut pasukan berkaca mata.
"Sepertinya kemunculanku telah mengejutkan kalian,"
"Tentu saja! Kau muncul tiba-tiba dari lubang itu bagaimana kami tidak terkejut!" seru pasukan berbadan besar.
"Kami ingin tahu apa yang sedang kakek tua sepertimu lakukan di tempat ini?! Apa kau tidak melihat papan peringatan yang telah kami pasang?" tanya pasukan berbibir tebal.
"Papan peringatan?"
"Ya! Di papan itu tertulis bahwa tidak ada seorangpun yang boleh memasuki area ini kecuali kami para anggota angkatan laut!"
"Oyoyooiii! Begitu ya? Aku tidak tahu kalau masuk ke tempat ini aku harus memakai seragam resmi angkatan laut, wari… wari… oyoyoyoooii!" sahut kakek berjanggut merah itu sambil mengibas-ngibaskan tangan lalu terbahak.
"Aku sudah tidak tahan lagi…"
"Sebaiknya kita suruh kakek tua itu segera pergi sebelum kita mendapat masalah karena keberadaannya di tempat ini,"
"Kurasa itu tidak akan mudah, dia bahkan tidak bisa menangkap maksud kalimat yang dari tadi kita katakan. Kita bertanya siapa dia dan bagaimana bisa dia keluar dari lubang itu dia malah menjawab Yo. Kita memperingatkan tentang larangan warga sipil masuk ke area ini tapi dia malah mengira kalau masuk ke area ini harus memakai seragam angkatan laut."
"Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan agar dia segera lenyap dari tempat ini?"
Ketiga pasukan itu menggosok dagu bersamaan. Berpikir.
"…?!" kakek berjanggut merah.
Lampu pijar di otak ketiga pasukan itu menyala. Muncul ide brillian. Sambil tertawa licik ketiga pasukan muda itu mendekati sang kakek. Mereka berencana menyeret keluar kakek itu dengan paksa. Namun sebelum semua itu terjadi…
PLETAAKKK! Sebuah pukulan keras lebih dulu mendarat di kepala mereka.
"Apa yang sedang kalian bertiga lakukan HAH?! Bukannya membantu menyingkirkan batu-batu itu kalian malah bergelombol di tempat ini!"
"Maafkan kami Kapten!" seru ketiga pasukan itu sambil mengusap kepala masing-masing.
"Aku tidak butuh kata maaf kalian! SEKARANG CEPAT LANJUTKAN PEKERJAAN KALIAN!"
"BAIK KAPTEN!"
"Oyoyoiii! Aku suka pasukan yang penuh semangat!"
"Ehh? Siapa kakek pendek itu?" tanya sang kapten saat menyadari sosok asing di belakang anak buahnya.
"Gawat! Kapten menyadari keberadaan orang tua itu!"
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?!"
"Hei siapa kakek pendek itu?" tanya sang kapten lagi, sedikit membentak.
"Kakek itu…"
"Kami juga tidak tahu siapa kakek itu, Kapten! Dia tiba-tiba saja muncul dari dalam lubang besar itu,"
"Hoii kakek sebaiknya kau segera pergi, tidak seharusnya kau berlama-lama di tempat ini!" kata pasukan berbibir tebal, berbisik.
"Oyoyoyoii! Aku memang tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Jangan sampai aku bertemu gorilla tua itu disini!" kata kakek berjenggot merah itu lalu pergi begitu saja.
"Gorilla tua?"
"Orang tua yang aneh,"
"Jangan-jangan dia telah diterlantarkan keluarganya?!"
"HEEE~ diterlantarkan? Apa orang yang dia sebut gorilla tua adalah anak tertuanya?"
"Bisa jadi…" sahut pasukan berkacamata sambil memenarkan topinya. Lalu dia mengalihkan padangannya pada kaptennya. "Hmm, Kapten! Apa Anda baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Tapi kakek itu mengingatkanku pada…" jawab sang Kapten sambil terus menatap sosok kakek berjanggut merah yang mulai menjauh dan tak terlihat.
"Sudahlah Kapten , mungkin dia hanya kakek-kakek aneh yang sedang tersesat,"
"Berhenti menyebutnya kakek aneh! Dia itu orang tua yang malang, seharusnya kita menolong dan mengasihaninya," bentak pasukan berbibir tebal, dia menggigit kerah bajunya lalu menangis komikal. Terharu.
Salah tingkah, pasukan berbadan besar itu menepuk-nepuk pundak temannya—agar berhenti menangis. "Ha-ha-ha biarpun aneh dia tetap orang tua yang lucu kok! Lihat jenggot merahnya yang panjang bukankah itu lucu?"
BUAGGH! Si bibir tebal memukul pasukan berbadan besar. "Apanya yang lucu?!"
Sambil terkapar pasukan berbadan besar itu menyahut, "Maksudku menggemaskan Kakak!"
"Yak ampun! Mereka berdua benar-benar memalukan…" gumam pasukan berkaca mata.
"Berjanggut merah, pendek dan selalu nyebut kata 'oyoyoi' mungkinkah orang tua tadi adalah utusan dari markas pusat...?!"
"…" pasukan berkacamata.
"…" pasukan berbibir tebal.
"…" pasukan berbadan besar.
"Admiral legendaris OJOU si JANGGUT MERAH!"
"HEEEE~! ADMIRAL?!"
.
.
Di Majonoia.
"Hyaaaa~! Baju-baju itu cantik sekali!" Nami menjerit kegirangan melihat deretan baju cantik yang terpajang dalam sebuah etalase toko. "Raw-chan ayo kita kesana!"
"Ayo!" Raw menyahut riang.
Nami menarik tangan Raw, mengajaknya berlari cepat-cepat. Apalagi setelah melihat poster bertuliskan 'Diskon up to 75% for ALL item' menempel di kaca etalase, gadis berambut orange itu semakin cepat memacu laju kakinya.
Namun sesampainya di depan toko, tiba-tiba dia berhenti dan berbalik menatap tiga manusia bermuka datar yang ada di depannya sekarang.
Hmm~ mungkin bukan tiga tapi hanya dua, Luffy dan Usopp.
Kedua pria itu sedari tadi memasang muka sebal karena tak bisa bersenang-senang seperti Brook, Franky dan Sanji. Dalam imajinasi mereka, ketiga temannya itu pasti sedang tertawa riang karena bisa berkeliaran ke semua penjuru kota. Tidak seperti mereka yang dipaksa menjadi kuli angkut belanjaan.
Luffy menjatuhkan kantung-kantung belanjaan Nami, masih dengan muka sebal, "Nami, aku lapar!"
"Aku juga!" sahut Usopp ikut-ikutan.
"Kita akan mencari tempat makan setelah aku selesai berbelanja!"
"Tapi aku sudah lapar!" Luffy semakin ngotot.
"Apa aku harus mengulang semua kalimat yang telah kuucapkan?! Kubilang kita akan mencari tempat makan setelah aku selesai berbelanja!" Nami menyahut dengan memberi penekanan pada empat kata terakhir dalam kalimatnya.
"Aku benar-benar sudah lapar…" Lidah Luffy menjulur, melas.
"Biarkan saja mereka pergi, daripada bengong menunggu kita berbelanja bukankah akan lebih baik jika membiarkan mereka bersenang-senang sebentar, setidaknya suruh mereka kembali sebelum kita selesai dengan belanjaan kita…"
"Hei Raw-chan…" Mata Nami menyipit, "…kau terlalu baik pada mereka, terutama pada Luffy. Entah sudah berapa kali kau membelanya hari ini!"
"Gadis itu benar, apa susahnya bersikap lebih manusiawi pada kami?!" Usopp berkacak pinggang dan mencondongkan tubuhnya ke Nami.
"Berisik!" damprat Nami, tak lupa sebuah bogem melesat dari tangannya. Lagi-lagi tiga garis lengkung muncul di kepalanya.
Tangan Nami mengepal geram tapi hanya sebentar. Lalu menghela.
"Baiklah, kalian boleh pergi!" sahut Nami, akhirnya. "Tapi kalian harus segera kembali, jangan sampai kalian membuatku menunggu atau kalian akan menanggung akibatnya!"
"WOOYAA~!" Luffy melompat meninju langit. Meski kalimat Nami lebih terdengar seperti sebuah ancaman, dia tetap bersorak senang. "AYO KITA BERBURU MAKANAN!"
Tak mau menunggu lama Luffy langsung meluncur pergi bersama Usopp di belakangnya.
Nami berjalan pelan menghampiri Chopper dan memandanginya heran, "Kenapa masih disini?"
"Aku tidak terlalu lapar, aku masih bisa menahannya. Lagipula jika aku juga pergi siapa yang akan membawa barang-barang ini?" ucap Chopper polos.
"Kau tidak perlu memikirkannya," Nami tersenyum tulus, "Sekarang pergi dan bersenang-senanglah!"
Chopper tersenyum lebar dan kembali ke wujud aslinya, "Benarkah?"
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran!"
Chopper berjingkrak sebentar kemudian berlari menyusul kedua temannya, Luffy dan Usopp yang sudah pergi mendahuluinya. "Luuuuffy! Usssooop! Tunggu aku!"
"Dasar…" Nami menepuk jidat.
Kemudian di tempat lain, masih di sekitar kota Hantu.
Di dalam hutan tempat Zoro berada.
Pria bermata satu itu masih terjebak dalam situasi yang sama. Keringat mulai membasahi kening dan bahunya. Tubuh dan otaknya mulai lelah mencari jalan menuju kota. Tapi bukan Zoro namanya jika dia menyerah begitu saja, otaknya kini masih diperah untuk menentukan pohon mana lagi yang harus ditumbangkannya.
Ini seperti memilih kucing dalam karung, tingkat keberhasilannya untuk menemukan jalan keluar sangatlah kecil tapi mengingat kecerdasannya akan arah sangat diragukan bukan tidak mungkin jika persentase keberhasilannya untuk menemukan jalan keluar menjadi nol.
Zoro mendengus, sepertinya dia mulai berpikir bahwa menebas semua pohon yang ada adalah solusi paling efektif untuk mengeluarkannya dari hutan.
Zoro melebarkan kaki, ketiga pedangnya juga sudah siap diposisi masing-masing. Kedua matanya terpejam—berkonsentrasi—mencari titik yang paling tepat dimana dia bisa meratakan hutan itu dalam sekali tebasan jurusnya.
"…?!" Mata Zoro terbuka dan memincing ke sebuah arah. Kemudian dia melompat dan melesatkan jurusnya. Aksi penggundulan hutan pun dimulai…
SHEEEEET! SHEEEEET! SHEEEEET!
SRUEEEEENG~
DOOOOOEM!
Satu pohon besar tumbang.
Hmm~ Kenapa hanya satu, bukankah dia berniat meratakan hutan dalam sekali tebasan?! Sebenarnya apa yang sedang pria itu pikirkan…
Zoro berjalan mendekati pohon besar yang baru saja dijatuhkannya. Kemudian dia mengacungkan pedangnya. Wajahnya datar tak berekspresi. "Siapa kau?" sahutnya tiba-tiba pada sosok yang ada tepat diujung pedang hitamnya.
Rupanya dia menyadari bahwa ada orang yang sedang mengawasinya dari atas pohon yang dijatuhkanya. Karena itulah dia mengubah rencana.
Hening. tidak ada jawaban cepat.
Alis Zoro mengkerut melihat senyuman terkulum di wajah asing itu. Tak ada sedikitmu rasa takut disana. Hanya ada rona merah padam dan… "Ekspresi macam apa itu?!" gumam Zoro dalam hati.
"Apa kau percaya adanya cinta pada pandangan pertama?" sahut sosok itu tiba-tiba. Kedua bola matanya yang hijau membesar, menatap Zoro dengan antusias. "Sepertinya aku baru saja merasakannya…"
"…?!" Zoro.
Kembali ke tempat Luffy, Usopp dan Chopper.
"Woah~ banyak sekali kedai makanan di tempat ini, kalau seperti ini aku jadi bingung harus masuk ke kedai yang mana… Hmmm~?!" Usopp garuk-garuk, bingung.
"Bagaimana dengan kedai yang ada di sebelah sana?" Chopper menunjuk kedai yang ada di ujung perempatan jalan.
"Terlalu ramai! Kita bisa makan sambil berdiri jika nekat pergi kesana,"
"Aku tidak mau makan sambil berdiri tapi…" Chopper menoleh ke kedai lain. Dia sedikit merengut karena hampir semua kedai sama, sama-sama dipadati oleh pengunjung. "…sepertinya kita tidak punya pilihan lain,"
"Haah terpaksa~" Usopp menghela pasrah. "Duduk atau berdiri, makan tetap saja makan. Lagipula kita tidak punya banyak waktu, kedai yang mana saja boleh lah…"
"Kau benar! Kita tidak boleh membuang-buang waktu, Nami bisa marah jika kita tidak segera kembali…"
"Baiklah Chopper, kita ke kedai yang itu saja!" Usopp menunjuk kedai yang ada diujung perempatan.
"Euhm!"
Tanpa ba-bi-bu langsung saja Usopp dan Chopper berjalan menuju kedai yang telah mereka pilih. Tapi belum ada lima langkah mereka melangkah, tiba-tiba mereka membatu. Muncul firasat buruk.
"Tiba-tiba aku merasa ada yang kurang. Apa kita telah melewatkan sesuatu?"
"Aku juga merasa begitu,"
Hening sesaat…
"Semoga tidak terjadi lagi…" gumam Usopp saat menyadari sesuatu.
"Ehhh…"
Usopp menelan ludah, tak berani menoleh kebelakang.
Namun setelah mengesampingkan pikiran negatif di kepalanya, perlahan dia—memberanikan diri—membalikan badan. dan…
Tamatlah sudah.
"EEH~ Aku ada dimana?" gumam Luffy sambil mengusap dagu. Heran. "Kenapa aku sendirian…"
Luffy menoleh ke sisi kanan dan kirinya. Namun tak jua menemukan sosok Usopp dan Chopper dimanapun. "Haah~ Lagi-lagi mereka meninggalkanku!"
Di tempat Robin.
"Kenapa kau menghentikanku?" tanya Robin pada pria berambut silver yang ada di depannya.
"Pergilah!" sahut Chito lalu berbalik.
"…?!" Robin.
"Sebaiknya urungkan niatmu, orang asing sepertimu tak seharusnya ada di tempat ini."
"Tunggu!" Robin mencoba menghentikan Chito, saat pria berambut silver itu beranjak pergi. "Apa karena ada sesuatu yang berhubungan dengan Pemerintah Dunia? Apa itu sebuah rahasia besar sehingga orang asing sepertiku tidak boleh melewati gapura itu?"
"Keras kepala," Chitto menghela lalu mengambil sebuah batu dan melemparnya ke gapura yang sangat ingin Robin lewati.
DDUAAAR! Petir seketika menyambar batu yang Chitto lempar sesaat sebelum batu itu melewati gapura.
"…?!" Robin tercekat. Tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Persetan dengan rahasia besar Pemerintah Dunia. Aku hanya memperingatkanmu, karena tidak ada yang tahu apa yang akan dewa lakukan padamu jika kau berani menginjakan kaki di altar sucinya…"
Robin berdiam. Kali ini dia tidak menghentikan Chito dan membiarkannya pergi.
"Altar suci…" Robin mengalihkan pandangannya pada gapura merah yang hampir dia lewati. Andai saja, dia bisa melewati dua tiang kokoh berukir naga itu. Pasti ada sebuah petunjuk yang akan dia dapatkan untuk menyelesaikan puzzle yang selama ini dia mainkan.
Kata-kata Chito terngiang di benak Robin.
Persetan dengan rahasia besar Pemerintah Dunia…
Karena tidak ada yang tahu apa yang akan dewa lakukan padamu jika kau berani menginjakan kaki di altar sucinya…
Kebobrokan dunia, rahasia besar pemerintah dunia, apakah semua itu berkaitan dengan sejarah 100 tahun yang hilang? Robin bertanya dalam hati.
"Haft~" Robin mendesah lalu mendongak. Dia melihat rintik-rintik hujan mulai berjatuhan.
Lalu dari hutan tak jauh dari tempat Robin berdiri sekarang.
SHEEET! SHEEET!
DOOOEEEEEEEM!
Zoro terengah-engah, "Arrrgggh! Sial! Ini semua gara-gara kau terus mengikutiku! Aku semakin tidak tahu dimana aku sekarang!"
"Kenapa aku?"
"Karena kau terus mengikutiku dan caramu melihatku itu benar-benar…" sudut bibir Zoro berkedut-kedut. Ngeri melihat tatapan kasmaran gadis di depannya. "Berhentilah menatapku seperti itu!"
"Zoro…"
Zoro menoleh ke arah suara yang memanggilnya. "Robin…"
"Tersesat lagi?" Robin melempar senyum.
Zoro menyeringai, "Jangan menghina…"
Zoro dan Robin saling menatap, seolah dari tatapan itu mereka berkata senang bisa melihatmu lagi.
(Author joget-joget sambil tebar bunga, "Ciee… Ciee… Ciee…")
"M-I-D-O-R-I-!" gadis bermata hijau itu langsung meneriakan namanya sebelum keberadaannya benar-benar tidak dianggap oleh Zoro dan Robin.
"…?" Zoro.
"…?" Robin.
"Hei Kakak! Jangan pernah lagi menatap pria ini dengan tatapan seperti itu! Karena dia adalah calon suamiku!" tandas Midori sambil berkacak pinggang.
"APA?!" Zoro berteriak terkejut
"Fufufu~"
"Apa yang sedang kau tertawakan?" sahut Zoro kesal.
"Sepertinya gadis itu sangat menyukaimu, fufufu~"
"Err…"
Robin menghampiri Midori. Sedikit membungkuk dan berbisik, "?! #!/+*%?"
"Heee~ benarkah?" mimik wajah yang semula masam seketika berubah.
"…?!" Alis Zoro merapat.
"Fufufu!" Robin meletakan jari telunjuk di bibirnya. Sebagai isyarat agar Midori merahasiakan apa yang telah dia bisikan.
"Kali ini apa?" tanya Zoro, penasaran juga.
Robin hanya mengangkat bahu.
"Rahasia!" sahut Midori, riang.
"Sebaiknya kita mencari tempat berteduh sebelum hujan ini semakin deras…"
"AYO!" Midori berlari mendahului Zoro dan Robin.
"Dasar bocah!"
.
.
"Ojou-san, akhirnya Anda kembali juga…" sahut seorang wanita.
"Lily siapkan air hangat untukku! Berendam air hangat di musim dingin? Oyoyoii! Ayo kita lakukan!"
"Tapi ini bukan saatnya untuk berendam!"
"Egh? Kenapa?"
"Karena Bogart-kun sudah lama menunggu Anda…"
"Oyoyooii! Sejak kapan bocah itu jadi tak sabaran begitu?! Padahal belum satu hari aku datang ke desa ini,"
"Mereka bilang mereka sudah tahu siapa orang yang telah mengacau di desa ini," jelas Lily sambil memakaikan jubah keadilan di pundak atasannya.
"Kalau mereka sudah tahu kenapa masih menyuruhku datang kemari?
"Hmmm~ mungkin karena pelakunya adalah komandan pasukan revolusi yang telah mencundangi kita dua belas tahun yang lalu,"
"Oyoyoiii~ aku harap kau sudah menetralisir tempat pertemuan itu,"
"Menetralisir?"
"LILLLLY!"
"Hai, Taishou!" sahut Lily dalam posisi tegap member hormat.
"Jadi kau belum memastikan apakah gorilla tua itu ada disana atau tidak?"
"Hihihi…" Lily hanya nyengir.
"Oyoyooii~ kalau begitu aku tidak mau pergi!"
"Kumohon! Hari ini saja, kita kibarkan bendera putih dan menghentikan perang dingin ini untuk sementara waktu. Bukankah Anda pernah bilang kalau kita tidak boleh mencampur-adukan pekerjaan dan masalah pribadi?"
"Lilyana! Jangan menyerangku dengan ilmu yang kuajarkan padamu…"
"Hehehe~ jadi bagaimana? Kita berangkat sekarang?"
Kakek berjanggut merah itu membuang muka, sebal. "Hanya untuk hari ini! Catat itu!"
"Baiklah akan aku catat di buku agenda Anda," sahut Lily, sweatdropped.
"Hoii GORILLA TUA! Jangan harap aku mau berbaikan denganmu YA! Setelah putriku, cucuku pun kau jadikan BAJAK LAUT! Seharusnya tak kubiarkan cucuku dalam asuhanmu, DASAR GORILLA TUA BRENGSEK!"
"Anoo… Lily-san, apa yang sedang Ojou taishou lakukan?" tanya seorang pasukan yang mendapati atasannya ngedumel sambil menendang-nendang pohon.
"Curhat sama pohon!" jawab lily sekenanya.
"Ehhh~?"
.
.
Sniff! Sniff! Hidung Luffy mengendus aroma sedap di udara. Saking sedapnya, air liurnya sampai menetes. Dengan mata terpejam Luffy melayang mengikuti arah aroma sedap itu menggiringnya.
Sedangkan di tempat lain, Usopp dan Chopper berlarian mencari Luffy.
"Luuffffy~!"
"Luuuuffffy~ dimana kau?!"
"Chopper aku sudah tidak kuat lagi. Aku lelah!" kata Usopp, ngos-ngosan.
"Aku juga, tapi kita harus segera menemukan Luffy…" Chopper tidak kalah ngos-ngosan.
"Argggh~! Dimana si bodoh itu sekarang?!" teriak Usopp kesal.
"Ayo kita cari lagi, Usopp!"
Di tempat Nami dan Raw…
"Haaaah~ payah! Kenapa hujan turun sederas ini, padahal masih banyak tempat yang belum kita datangi…" Nami menopang dagu, kesal.
"Jika tidak bisa hari ini kan masih ada hari lain," sahut Raw menenangkan.
"Raw-chan, apa itu artinya kau masih mau menemaniku berbelanja?"
"Dengan senang hati,"
"HYAAAA~ terima kasih Raw-chan!" Nami memeluk Raw, senang.
"Hahaha sama-sama Nami-san. Aku senang jika kau merasa nyaman," Raw tertawa renyah sampai seekor gagak raksasa berkepala dua muncul dan meredakan tawanya. Matanya terbelalak dan wajahnya memucat.
"Raw-chan wajahmu tiba-tiba pucat, apa kau demam?" tanya Nami.
"J-Jakeen…" ucap Raw terbata.
"Jaken?" ulang Nami. Menyadari ada yang tidak beres, Nami mengikut arah pandangan Raw. Dan betapa terkejutnya dia melihat seekor burung raksasa tengah melintas di atas kepalanya. "HEEEEE~!?"
Kembali ke tempat Luffy.
Aroma sedap yang diklaim Luffy sebagai aroma daging panggang telah menuntunnya sampai ke sebuah pondok tua. Tanpa tahu tempat apa itu, Luffy langsung masuk begitu saja.
Sniff~! Sniff~! Hidung Luffy mengembang dan mengempis. Mencari-cari dimana gumpalan daging itu berada.
"Ehmmmm ahhh~ disana!" teriak Luffy lalu menerjang pintu.
Dan Yatta! Dia menemukan daging itu.
"Itadakimasu!" ucap Luffy sebelum membuka mulutnya lebar-lebar.
Hap~! Luffy menggigit daging itu. Dan…
"HUWAAAAAAAAAA KEPALAKU!"
BUAAAGH! Sebuah bogem mementalkan Luffy hingga keluar pondok!
Di sekitar altar suci.
Chito berjalan menerjang hujan. Meski cuek tapi dia masih saja kepikiran Robin. Dia takut jika wanita asing itu nekat memasuki gapura itu.
"Bodoh! Apa yang sedang kupikirkan?" gumam Chito sambil memukul jidatnya tiga kali.
Lalu dari atas tanah Chito melihat bayangan hitam besar bergerak kearahnya. Kakinya terhenti saat bayangan itu melewatinya. Dia mendongak, reaksi Chito hampir sama dengan Raw—kedua matanya terbelalak—saat melihat burung gagak raksasa berkepala dua itu.
"Kagura…" gumam Chitto.
"Robin dalam bahaya!" Chito memutar tubuhnya dan berlari kembali ke altar suci—tempat Robin berada.
"Hatciiiih~!" Midori menggigil.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja…" sahut Midori sambil memegangi tubuhnya yang semakin menggigil.
Zoro melirik Robin dan Midori. Sikap keduanya yang tiba-tiba menjadi akbrab menjadi sebuah tanda tanya besar di kepalanya. Terlebih Robin sempat membisikan sesuatu pada gadis itu. Bertambah satu lagi tanda tanya di kepala Zoro.
"Tubuhmu semakin menggigil…"
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku," Midori mencoba tersenyum. Tidak biasanya aku seperti ini. Apa ini sebuah pertanda buruk? Midori bergumam dalam hati.
Mata Zoro memincing, dia merasakan sesuatu melesat ke arah mereka.
SYUUUUUUUUT~ DOOOOEM!
Kuil tempat Zoro, Robin dan Midori berteduh hancur.
Tapi untunglah mereka bertiga berhasil menghindar sebelum kuil itu diserang dan hancur.
"Uhuk~! Apa itu tadi?"
"Satu monster dan satu wanita," sahut Zoro.
"Kalian baik-baik saja?" Robin sudah dalam sikap siaga. Kedua tangannya menyilang di depan dada guna menghadapi serangan berikutnya.
"Akhirnya aku menemukanmu, Midori-chan!" Muncul seorang wanita bersama seekor burung gagak raksasa berkepala dua.
"Kagura-nee-san…"
"Hei bocah, rupanya kau sudah mengenal wanita gagak itu,"
"Kakak pendekar, sebaiknya turunkan pedangmu! Kau bukan tandingannya, jika kau sampai mati bagaimana dengan pernikahan kita nanti?"
"Apa maksudmu dengan pernikahan kita?!" Zoro langsung beralih menatap Robin dalam mode same. "OII ROBIN SEBENARNYA APA YANG TELAH KAU BISIKAN PADA BOCAH INGUSAN INI HAH?!"
"Fufufu~"
"Midori! Cepat akhiri petualanganmu dan ikutlah aku kembali ke rumah!"
"Tidak akan! Aku tidak akan kembali!"
"Tidak akan katamu?! Kalau begitu tidak ada cara lain selain menyeretmu! Jakeeen serang mereka!"
NGAAAAAAAAAAK~
Gagak berkepala dua yang dinaiki Kagura meluncur cepat. Dan dengan paruhnya dia menyerang Zoro, Robin dan Midori.
"Mille Fleur Gigantes Mano!" Robin menumbuhkan ribuan lengan yang membentuk tangan raksasa. "SPANK!"
NGAAAAAAAAAAK~! Jaken terdorong mundur.
"Cih!" Kagura mendengus kesal.
Jaken kembali menyerang, sekarang dengan cakar tajamnya Jaken menangkap dan mencengkram tubuh Robin. "Tidak akan kubiarkan kau hidup! JAken! Hancurkan tubuhnya!"
"GKYAAAAAA~" Robin menjerit kesakitan.
"Robin-nee-san!"
"Santoryu…108 Pound Hou! " Zoro menebas jaken dari belakang.
NGGGGAAAAAAAAAAAAAK~! Jaken kesakitan hingga Robin terlepas dari cengkramannya.
"Jaken, bertahanlah!" teriak Kagura.
Zoro menangkap Robin yang sudah tak sadarkan diri dan membaringkannya. "Kutitipkan dia sebentar…"
"Robin-nee-san…" panggil Midori lirih lalu menangis. "Jangan mati!"
"Bodoh! Dia tidak akan mati semudah itu,"
"Jangan senang dulu, kali ini aku akan bersungguh-sungguh!" teriak Kagura.
"Aku juga," Zoro menyeringai.
.
.
Kembali ke lautan Timur, di pegunungan corvo kawasan kerajaan Goa.
Markas keluarga Dadan.
"Yah~ kenapa tiba-tiba seperti ini…" rajuk Sabo sambil melihat ke luar jendela.
"Sebaiknya kalian tunda dulu sampai besok, sepertinya hujan ini juga tidak akan reda sampai malam nanti…" sahut Dogra.
"Axel-kun juga terlihat sangat lelah, sebaiknya kalian pergi besok," tambah Magra.
"Sejak kembali dari hutan kau jadi tak banyak bicara, kau baik-baik saja?" tanya Sabo.
"Jangan-jangan dia demam, bukankah tadi kalian kehujanan…"
"Demam?!" sahut Sabo lalu meletakan tangannya di kening Axel untuk memastikan apakah keponakannya itu demam.
Axel buru-buru menepis tangan Sabo, "Aku baik-baik saja, Paman."
"EH?"
"Aku hanya mengantuk…" sahut Axel kemudian pergi ke kamarnya.
"Aku tak yakin dia baik-baik saja,"
"Dia memang tak terlihat baik-baik saja. Aku bahkan belum dengar tawanya sejak kalian kembali dari hutan. Apa terjadi sesuatu?"
"…" Sabo.
Di dalam kamar.
Axel menggelar futon dan membaringkan diri. Menghela pelan, teringat kejadian di hutan beberapa saat yang lalu.
"Aku yakin suara itu bukan hanya imajinasiku saja…" Axel menatap langit-langit kamar, merenung.
Jika hal seperti itu sampai terjadi lagi, apakah paman Sabo akan bersikap sama seperti penduduk Kuja yang lainnya? Tidak bisa kupungkiri, memang ada sesuatu yang aneh di dalam pikiranku yang menjadikanku berbeda dengan anak-anak yang lain.
Aku bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin anak-anak lain lakukan. Kupikir itu akan menjadi sesuatu yang keren dan dapat dibanggakan, tapi kenyataannya aku malah dianggap gila.
"Lebih baik aku tidur…" Axel menutup mata dan tidur.
Hujan semakin deras mengujam atap rumah, angin bergemuruh diikuti suara langkah kaki.
Ngeeeekk~! Suara pintu terbuka.
Dengan satu matanya Axel melirik ke arah pintu. Mencari tahu siapa orang yang telah mengganggu rencana tidurnya.
Bocah itu langsung bangkit saat dia tidak melihat siapa-siapa di depan pintu.
Angin?
Mana mungkin…
Muka Axel berubah masam, dia mulai berpikir jika ini adalah ulah usil pamannya. Dengan malas-malasan dia melangkah keluar kamar. Tak lupa dia merangkai kalimat pedas yang pantas untuk para pengganggu tidurnya.
Axel melongo. Tidak ada siapapun di ruang tengah. Kamar Dadan, dapur bahkan toilet dan kamar mandi.
"Dimana mereka semua? Jika ini hanya lelucon untuk menakutiku. Akan kupastikan mereka mendapat balasan yang pantas…" Axel mengepalkan tangan, marah.
Malas menanggapi lelucon bodoh orang-orang dewasa dirumah itu, Axel berniat kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya.
"Hoooam, hari yang membosankan," Axel menguap.
"TOLOOOOOOONG~!"
"…!" Axel tercekat. Suara itu lagi, gumamnya dalam hati.
Mata Axel langsung menatap jauh ke luar jendela.
"SELAMATKAN AKU! TUBUHKU, TUBUHKU TERJEPIT! SESEORANG TOLOOOONG SELAMATKAN AKU!"
Axel berjalan keluar rumah. Tak peduli betapa derasnya hujan, bocah berambut raven itu tetap melangkahkan kaki mengikuti arah suara yang di dengarnya. Dan saat suara minta tolong itu menghilang dia sudah berada—di suatu tempat entah dimana—di tepi jurang.
"Tempat apa ini?" gumam Axel sambil melihat ke sekeliling. Dia yakin suara minta tolong itu sengaja menggiringnya ke tempat itu. Dan itu artinya ada sesuatu di tempat itu.
Dari arah belakang, Axel merasa ada sesuatu yang sedang mengawasinya. Dan saat berniat mencari tahu…
EEERRRRH… ROAWRR~! Seekor serigala besar tiba-tiba saja menerkam dan menggigit bahu Axel.
"HOOOOARRR!" Axel menjerit kesakitan.
Tak mau jadi santapan malam seekor serigala, Axel mencengkram kepala srigala itu dan membantingnya ke belakang. Hanya rasa perih yang tersisa saat gigi-gigi tajam serigala itu dicabut paksa dari bahunya.
"Och~ sakit!" Axel merintih sambil memegangi bahunya yang terluka. "Darah…"
Serigala abu-abu yang telah menyerang Axel bangkit kembali dan bersiap menyerang bocah itu lagi.
ERRR~ RRRRE~! Serigala itu mendesis—menggertak.
"Majulah!"
HHHRRRRAWWW~! Serigala itu melompat ke arah Axel.
Axel mengepalkan tangan dan mementalkan serigala itu dengan bogemnya. Kali ini serigala itu langsung terkapar.
PLOK! PLOK! PLOK! Suara tepuk tangan.
Axel menoleh ke arah suara tepuk tangan itu berasal.
Petir menggelar, kilatan cahanya birunya memperlihatkan sosok gadis yang sedari tadi berdiri bersembunyi di atas pohon. Axel memperhatikan gadis itu dengan seksama.
"Akhirnya kita bertemu, Axe-chin…"
"Axe-chin?!" gumam Axel, straight-faced.
Dari atas pohon tiba-tiba gadis itu sudah ada di depan Axel.
"…?" Axel tersentak.
Gadis itu berjongkok menyejajarkan diri dengan tinggi badan Axel. "Aku harap kau sudah siap menerima apa yang seharusnya menjadi milikmu…"
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan," ucap Axel polos.
Gadis itu tersenyum dan memakaikan sebuah gelang batu berwarna hitam di tangan kiri Axel.
"Siap menerima apa yang seharusnya aku miliku…" Axel menatap gelang di tangan kirinya, "Apa yang kau maksud adalah gelang ini?"
Gadis itu menggeleng kemudian berdiri.
"Kalau begitu apa? aku benar-benar tidak mengerti!"
"Akan kuberi tahu jawabannya jika masih bisa selamat dari ini!"
"…?" Axel tiba-tiba terpental dan jatuh ke jurang. "HOYAAAAAAAA~!"
"Sayonara, Axe-chin…" gumam gadis sambil menatap tangannya yang mengepal. "Jadilah lebih kuat dan sadarkan mereka. Selamanya arang tidak akan pernah bersinar seperti emas!"
"HYAAAA~!" Axel terbangun. Hanya mimpi, pikirnya.
Axel duduk, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tenang! Tenangkan dirimu Axel! Ucapnya dalam hati. Dia berusaha menenangkan dirinya tapi jantungnya masih saja berdebar kencang.
"Kau sudah mabuk berat!"
"Aku masih kuat minum! Ayo kita selesaikan pertarungan kita, bocah!"
"Aku bukan lagi anak berusia sepuluh tahun tahun. Berhentilah memanggilku bocah!"
"Kau marah? Hahaha~! Sampai kapanpun…" Dadan mengangkat botol sakenya, "…bagiku kau tetap saja bocah ingusan! Hahaha~!"
"Okashira, suaramu bisa membangunkan Axel-kun…"
"Berisik! Ini adalah rumahku terserah aku mau bersuara seperti apa!" Dadan berbicara lebih keras.
Sabo langsung membungkam mulut Dadan, "Dasar nenek-nenek! Pelankan suaramu!"
Dadan meronta, "MPHHH HHHIMKAN HMANGAN HMMMHUSUMPMU!"
"Axel-kun…" Magra.
"NG?" Sabo, Dadan, dan Dogra langsung menoleh ke sosok bocah yang sedang berdiri di samping tangga.
"Apa suara cempreng kakek ini telah membangunkanmu?" tanya Sabo tanpa melepaskan bekapan tangannya di mulut Dadan.
BUAGH! Dadan memukul kepala Sabo lalu mengomel, "Siapa yang kau sebut kakek Hah!?"
"Tentu saja kau! Memangnya diantara kita berempat siapa lagi yang mirip kakek-kakek selain dirimu?" sahut Sabo.
"Apaa…?!" Dadan dikerubungi aura hitam. Kedua bola matanya terbakar, emosi tingkat tinggi. "Besar juga nyalimu BOCAH!"
Dadan mencekik Sabo.
"HIYAHAHAHA AMPUNNN!"
"…!" Dogra dan Magra sweatdropped. "Mereka tidak pernah berubah…"
"Ahahahak~! Ahahahak!" Axel terbahak melihat pertengkaran konyol Dadan dan Sabo. Dia terbahak sampai perutnya terasa sakit.
"Dia tertawa…" Dogra.
"Akhirnya dia tertawa…" Magra.
"Hehm?!" Dadan.
"Oops…!" Axel menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu nyengir. "Hihihi~!"
"Sepertinya kau sangat senang nelihat penderitaanku," sahut Sabo sambil mengusap kepala.
"Apa kami telah membangunkanmu?"
Axel menggeleng cepat, " Aku haus!"
"Haus?"
"Kemarilah, akan ku buatkan minuman yang bisa menghangatkan tubuhmu…" sahut Magra kemudian berlari ke dapur.
Axel memilih duduk di antara Sabo dan Dadan. Dia meringis sambil mendesak tubuh Sabo dan Dadan.
"Masih ada banyak tempat yang bisa kau duduki, kenapa kau malah memilih tempat itu?"
"Melihat ukuran badanmu yang besar, bocah ini pasti berpikir betapa hangatnya bila duduk di sebelahmu." Sabo mengacungkan jempol.
"Tutup mulutmu! Aku tidak bertanya padamu!"
"Apa yang dikatakan paman Sabo tidak salah…"
"Nani?" Dadan melotot.
"Tapi…" Axel memeluk Dadan. "Aku duduk disini karena aku ingin duduk diantara orang yang berharga untukku."
"…!" wajah Dadan memerah. Kata-kata Axel begitu menusuk masuk ke hatinya.
"Hohoho… lihat wajah itu!" Sabo menggoda.
Masih dengan wajah memerah, Dadan melepas pelukan Axel lalu mengeser tubuhnya agak jauh dari Axel. Karena grogi, tubuh Dadan bergerak seperti robot yang kehabisan energi.
"Ahahahak!"
Lalu datang Magra dengan segelas minuman hangat di tangannya. "Sepertinya kau sudah kembali ceria," sahutnya sambil menyerahkan minuman yang dibawanya pada Axel.
"Terima kas…" Axel menggantung kalimatnya. Matanya mendelik menatap pergelangan tangan kirinya.
"Ano… Axel-kun, noda merah apa itu di bahumu?" tanya Magra.
Axel memegang bahunya. Dia meringis, sakit.
"…!" Sabo mengusap noda di bahu Axel. Wajahnya berubah panik, buru-buru dia melepas baju Axel. Dan betapa terkejutnya dia mendapati luka gigitan di bahu kiri Axel. "Kapan…"
"A-Aku…"
Sabo mengguncang tubuh Axel, "Kapan ini terjadi?"
Suara Sabo yang meninggi membuat Axel takut. Belum pernah dia mendengar Pamannya bersuara setinggi itu. "AKU TIDAK TAHU!" jerit Axel lalu menangis.
"…?" Sabo mengerutkan alis.
.
.
"Nyoam~ Nyoam~ Nyoam~" Luffy melahap semua makanan di depannya. Kedua tangannya melar kesana-kemari mengambil makanan yang ada. "Hei Nenek, makanan ini enak. Boleh aku tambah lagi? Shishishi~!"
"Kau itu sebenarnya apa?" gumam seorang nenek dengan konde menyerupai daging.
"Nyonya sebaiknya kita usir pria itu sebelum dia menghabiskan semua persediaan makan di rumah ini," bisik seorang pelayan pada nenek berkonde itu.
"Biarkan saja, sekarang ambil semua makanan yang tersisa!"
"Tapi Nyonya…"
"Sudahlah cepat ambil, sepertinya dia masih kelaparan…"
"Baik Nyonya…"
Nenek tua berkonde itu tersenyum ramah pada Luffy. Dengan mudah dia melupakan kejadian mengerikan yang baru saja dia alami. Hampir saja konde besar di kepalanya menjadi makan malam Luffy, tapi sedikitpun tak tampak ekspresi marah ataupun benci di wajah tuanya.
"Kenapa menatapku seperti itu, apa kau juga mau makan? Ini enak looh~!"
"Tidak, kau boleh menghabiskan semuanya…"
"Baiklah!" Luffy semakin rakus menyantap makanannya. Bahkan makanan yang baru saja dibawa pelayan itupun langsung lenyap dan berakhir di perutnya.
"HOEEEK~~!" Luffy bersendawa. "Yahh aku kenyang sekali," seru Luffy sambil mengusap perut super buncitnya.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, kau pasti bukan penduduk kota ini."
"Aku Luffy, Monkey D Luffy! Aku adalah orang yang akan menjadi raja bajak laut!" sahut Luffy semangat.
"Raja bajak laut ya?" sahut nenek itu, merenung sejenak. "Aku Nikumiya, aku adalah seorang peramal. Senang bisa bertemu denganmu anak muda."
"Niku?" ucap Luffy dengan liur menetes dan bola matanya berubah menjadi potongan daging berasap.
"ADA APA DENGAN MATAMU?! " sahut nenek Nikumiya kaget.
Beberapa detik kemudian…
Nenek Nikumiya mengacak sebuah kartu di atas meja, "Ambil empat buah kartu dan berikan padaku…"
Luffy mengambil empat buah kartu dan menyerahkan kartu itu pada nenek Nikumiya.
Satu per satu nenek berkonde itu membuka kartu yang diambil Luffy dan meletakannya di atas meja. Sejenak dia mengamati kartu-kartu itu lalu bertanya, "Apa ada yang ingin kau tanyakan?"
"Anu… apa daging di atas kepalamu itu bisa dimakan?"
"Tidak! Harus berapa kali kuingatkan," nenek Nikumiya menunjuk konde di kepalanya, "Benda ini bukan daging!"
"Ng?"
"Kalau tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, sekarang aku yang akan bertanya padamu."
"…" Luffy.
"Apa ada seseorang yang sangat ingin kau temui?"
"Orang yang sangat ingin kutemui?" Luffy mengupil.
"Ya. Kartu-kartu ini berkata akan ada badai besar yang akan menentukan hasil akhir petualanganmu. Jika kau bisa selamat dari badai itu, maka kejayaan akan ada dalam genggamanmu…" nenek Nikumiya menyodorkan satu kartu ke depan Luffy. Sebuah kartu bergambar prajurit sedang mengacungkan pedang. "Dan orang inilah yang akan menjadi pemegang kunci penting dalam pertarungan terakhirmu."
"Ngg… sebenarnya aku tidak mengerti tapi sepertinya menarik. Dan orang ini…" Luffy menunjuk kartu yang di sodorkan nenek Nikumiya, "Siapa dia?"
"Seseorang yang sangat berharga dan sangat ingin kau temui…"
"…" Luffy terdiam.
"Dan kabar baiknya, pertemuan itu akan terjadi tidak lama lagi,"
.
.
BERSAMBUNG
Akhirnya bisa update xixixi... ^^)d
terima kasih untuk semua dukungan kalian #hug!
sampai jumpa di chapter berikutnya HoHoHoHO~! #santaModeOn~
#tambahan::
berhubung Sabo beneran masih hidup #mataBlinkBlink~
pasti udah pada tahu Donk? apa ada yang mau kasih saran harus ku apakan Sabo versi fic ini?
secara Sabo buatan Bapak saya (baca: Eiichiro Oda) lebih keren, apa perlu ku poles Sabo di fic ini biar ga terlalu nyimpang dari yang asli? #Rofl~
tapi~ tapi~ ide fic ini ada jauuuuuh sebelum Sabo muncul 0.o
jadi haruskah kuteruskan imajinasi saya atauuu...?
yah segitu aja deh curhatnya xoxoxo~ see youu! .^)d
