Licorice

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by DarkChoffa™

Warning : Alternative Universe, Out Of Character, Typo, Membosankan, Banyak Percakapan, Penuh Adegan Drama, etc.

Rating : M

Pairing : Neji-Ino

~Diwajibkan membaca Hang dulu, latar cerita ini berasal dari sana.~

~Terinspirasi dari drama favorit author : Full House, Flower Boy Boyband dan Nana~

~Anggap saja tampilan Neji mirip Takumi Ichinose 'NANA'~

~Kalau sifat mesumnya mirip Neji di Naruto Road to Ninja~

DON'T LIKE? DON'T READ!

Yang nggak suka nggak usah baca -_-

No Copy Paste

Ceritanya gaje, jadi nggak perlu di copy paste. Nanti nyesel doang!

Enjoy Reading

Tekan tombol back kalau kalian merasa bosan.

Part 10

Ino pulang ke rumah tepat pukul 9 malam. Ia memutuskan untuk berendam air panas saja. Berhubung hanya ada bak mandi untuk berendam di kamar Neji, Ino memutuskan untuk berendam disana. Lagipula Neji masih sibuk dengan promo album Aranch beberapa hari terakhir. Lelaki itu tak pernah terlihat di rumah dan tentunya dia tak pernah pulang. Hah! Saatnya Ino menikmati kebebasannya kali ini. Ia akan bebas melakukan apapun di rumah ini.

.

.

.

Neji mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasa panas dalam tubuhnya semakin lama semakin menyebar. Neji membanting setirnya berkali-kali. Sai Sialan! Oh tunggu! Dia ingat siapa Sai. Pria itu adalah pria brengsek yang sering disebut Ino-nya. Astaga! Neji mulai ngelantur. Dia bahkan menyebut Ino sebagai Ino-nya—Ino miliknya.

Neji memilih pulang ke rumah dari pada pulang ke dorm. Badannya terasa tak karu-karuan kali ini. Neji akhirnya sampai di rumahnya. Dia memakirkan mobilnya secara asal di garasi. Nafasnya memburu, seluruh badannya gemetar, peluh membanjiri wajah tampannya. Pikiran Neji mulai kacau. Otaknya mulai berpikir tak waras. Dia butuh pelampiasan sekarang. Shit! Pulang ke rumahnya sama saja mencari mati. Ino ada disana. Gadis itu tak boleh melihatnya dalam keadaan seperti ini.

.

.

Ino menyelesaikan acara berendamnya. Ia memakai piyama tidurnya, piyama dengan motif boneka beruang yang lucu. Ino bingung ingin melakukan apa setelah ini. Menyelesaikan skripsinya? Yang benar saja. Beberapa hari ini, ia sudah meluangkan banyak waktunya untuk bergulat dengan kertas-kertas tak jelas itu. Ia memilih merebahkan dirinya di ranjang king size di kamar Neji. Tidur mungkin pilihan yang tepat.

Neji memasuki rumahnya. Waktu menunjukan pukul 10 malam. Semua lampu di rumahnya sudah padam. Pasti Ino sudah tertidur. Neji merasa lega. Dia tak perlu khawatir dengan keadaannya. Pria itu lalu berjalan tergesa menuju kamarnya.

'BRAKK'

Neji menutup pintu kamarnya dengan kasar. Dia membuang kunci kamarnya dengan sembarang. Tubuhnya terasa semakin tak beres. Walaupun AC di kamarnya menyala, panas tubuhnya semakin meningkat. Neji membuka Tuxedo dan kemejanya. Dia bertelanjang dada sekarang. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang besar miliknya. Dia merasa aneh. Neji meraba-raba kasurnya…. Ino tertidur tepat di sebelahnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI BODOH!" Neji berteriak keras. Dia lalu mendorong tubuh Ino hingga terpental jatuh. Ino meringis kesakitan. Ada apa ini? Ino mengumpulkan kesadarannya.

"CEPAT PERGI DARI SINI!" Neji mengusirnya dengan nada membentak. Teman satu rumahnya itu terlihat marah padanya. Ino tak pernah melihat Neji sekalut ini. Bahkan tampilan pria itu terkesan berantakan kali ini. Ditambah lagi tubuh topless Neji terpampang jelas di hadapannya.

'Glek' Ino mulai berpikiran Negatif. Damn! Ia malah fokus memperhatikan tubuh Neji.

"AKU BILANG PERGI BODOH! ARGGGGG!" Neji kembali membentaknya. Pria itu bahkan melemparnya dengan bantal secara bertubi-tubi. Ino bangkit dari lantai dan berlari tergesa. Lalu terdengar Neji berteriak tak jelas di atas ranjangnya.

"ARRGGGG!"

Ino meraih ganggang pintu. Diputarnya kenop pintu itu.

'Grek' 'Grek' 'Grek' Ino mulai panik. Pintu kamar Neji terkunci.

"Kau mengunci pintu kamarmu, Neji. Aku tak bisa membukanya!" ujar Ino dengan wajah cemas bercampur ketakutan. Neji mengacak rambutnya frustrasi. Dia ingat, dia membuang kunci kamarnya asal. Neji akhirnya bangkit dari ranjangnya. Dia berjalan menuju arah Ino, "Cepat cari! Mungkin ada di kolong kursi atau lantai!"

Ino menurutinya. Ia mencari kunci kamar itu. Saat Ino mencari kunci kamarnya, Neji merasa dirinya salah memerintah. Ino berjongkok dan meraba sisi lantai. Saat itu pandangan matanya tak sengaja menangkap belahan dada Ino dari balik piyama tidurnya. Oh Tuhan! Neji semakin tak dapat menahan nafsunya. Adik kecilnya terasa semakin sesak di dalam celananya. Shit!

Ino tak menemukan kunci itu. Ia bangkit dan berdiri. Pandangan matanya menangkap mata lavender milik Neji. Ia merasa ada yang salah dengan pria itu. Ino mulai gemetar ketakutan. Ia melangkah mundur dan semakin mundur sampai punggungnya menabrak daun pintu. Neji berjalan kea rahnya. Pria itu tampak menakutkan sekali. Tanpa sadar tubuh Neji menghimpit tubuh mungilnya disana.

"Kau tahu? aku sedang tersiksa sekarang! Maafkan aku… kau berada dalam keadaan berbahaya bersamaku" Neji berbicara tepat di hadapannya. Pria itu seperti berbisik padanya. Suasana mendadak hening. Udara AC yang dingin terasa panas bagi mereka. Ino bahkan merasakan napas memburu Neji menyapu tengkuk lehernya. Ino kalut. Ia bingung dengan suasana seperti ini. Ino hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

"Apa aku berbuat salah padamu Neji?" Ino berusaha memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Kepala Neji semakin berputar. Dia ingin segera mengakhiri semuanya. Namun, nafsu semakin membakar dirinya. Pandangan matanya bahkan tak beralih dari Ino. Walaupun gadis itu memakai piyama tidur yang tertutup, Ino sungguh tampak menggoda di matanya. Apalagi tercium aroma harum sabun dan sampo dari tubuh Ino. Neji menggeleng. Akal sehatnya pasti sudah hilang.

Ino berusaha menyingkir dari himpitan Neji. Ino meronta, tapi pria itu terlalu kuat untuk ia lawan. Neji terus menghimpitnya ke tembok dengan kuat. Punggungnya bahkan menghantam tembok dengan cukup keras. Neji mulai menciumnya. Pria itu menciumnya secara membabi buta. Ciuman itu begitu kasar dan menuntut. Ino tak mau membalas ciuman pria itu. Neji yang geram malah menggigit bibir bawah Ino. Neji berhasil, lidah pria itu berhasil menerobos masuk. Ino tak dapat menolak Neji. Pria itu terus melumat bibirnya. Napas Ino sampai sesak karena perilaku Neji. Ia berusaha meronta. Tapi usahanya masih tetap sia-sia. Ino akhirnya hanya bisa pasrah dan menangis.

Entah bagaimana caranya. Ino sudah berada di atas ranjang king size Neji. Pria itu berada tepat di atasnya. Baju mereka berdua sudah sama-sama terlepas. Tak ada lagi kain pembatas di antara kedua tubuh mereka. Neji terus menciumi seluruh tubuh Ino. Inopun sepertinya sudah kehilangan akalnya. Semula ia memang melawan Neji, tapi lama-lama ia hanya pasrah menikmati perlakuan Neji di atas tubuhnya.

"Nee…jii…akuuu ra…saa.. ini cukuuuppp…aaaaahhhh…iniii…sudaahh terlalu jauuuh.." Ino mendesah. Neji terus menyentuh titik sensitifnya. Ia yakin Neji akan meninggalkan banyak kissmark di tubuhnya.

"Damn! Kau membuatku gila Ino!"

Ino dan Neji benar-benar terbawa suasana. Mereka tak memikirkan apapun tentang apa yang mereka lakukan sekarang. Ino benar-benar terperangkap dalam pesona Neji. Perlakuan pria itu membuatnya gila. Bahkan saat tubuh mereka berdua menyatu, seperti tak ada penyesalan untuknya. Ino tau, ini adalah pengalaman pertama baginya. Betapa bodohnya ia menyerahkan harta paling berharganya untuk seorang pria bernama Neji Hyuuga.

.

.

.

Suara kicauan burung menandakan hari menjelang pagi. Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela kaca kamar. Neji terbangun dari tidurnya. Tubuh telanjangnya terlihat jelas diterpa sinar matahari pagi. Neji bangkit dari tempat tidurnya, diambilnya baju dan celananya yang tercecer di lantai. Dia lalu memakainya. Neji melirik kearah ranjangnya. Ino masih terlelap disana. Dia menyibakkan selimut kemudian menutup tubuh telanjang Ino yang hampir terekspos jelas didepannya. Matanya tak sengaja menangkap noda merah di sprei putihnya. Neji memijat pelipisnya. Raut penyesalan terpampang jelas di wajah pria 24 tahun itu.

'Arrrrrggggg'

Neji menyelesaikan dengan segera acara mandinya. Dia memutuskan untuk memasak sarapan setelah ini. Kunci kamarnya sudah dia temukan. Kunci itu tergeletak di bawah kursi santai. Seandainya semalam dia tak segegabah itu, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi. Dia tak tau akan seperti apa hubungannya dengan Ino setelah ini. Neji takut Ino akan menjauhi bahkan membencinya.

.

.

Sebenarnya Ino sudah bangun jauh sebelum Neji terbangun. Ino tak berniat bangkit dari tempat tidurnya. Ia memang sering tidur satu ranjang dengan Neji—tapi itu dalam konteks yang berbeda. Sekarang ia benar-benar merasakan apa itu 'tidur' dengan Neji. Jantungnya berdetak kencang. Ino masih bisa merasakan bagaimana Neji menyentuhnya semalam. Ia tak bisa berbohong. Siapa yang tidak senang saat kau bisa bercinta dengan pria yang diam-diam kau sukai? Ino tau, ia pasti tak berbeda jauh dengan wanita-wanita lain yang pernah tidur dengan Neji. Ada sedikit rasa penyesalan di hati Ino, ia takut Neji akan memperlakukannya sama seperti perlakuan Neji terhadap wanita-wanita itu. Ino yakin pasti Neji akan membuangnya setelah ini. Oh God! Uang tabungan Ino belum cukup untuk membeli rumah ini. Ia belum siap jika harus berpisah dengan Neji setelah ini.

.

.

.

Ino memandang pantulan tubuhnya dari balik kaca besar kamar mandi. Bercak merah terlihat jelas diseluruh tubuhnya. Ino meraba bercak itu. Lagi-lagi ia menangis. Ia menangis sambil menenggelamkan dirinya di bak kamar mandi. Ino merasa dirinya akhir-akhir ini menjadi orang yang cengeng. Ino menghapus air matanya. Ia tak boleh menangis lagi. Bukankah ia sudah berjanji untuk tidak menangis lagi? Sungguh! Seorang Neji Hyuuga selalu berhasil membuatnya menangis tanpa sebab.

.

.

Ino memakan sarapannya dengan tatapan kosong. Ia terlalu malas untuk makan pagi. Neji memasang raut khawatir. Padahal pria itu sudah bersusah payah memasak sarapan untuknya.

"Apa kau tak menyukai masakan buatanku?" Neji bertanya padanya.

"Aku sangat menyukainya."

Demi apapun! Masakan Neji adalah masakan terbaik. Pria itu jagonya meracik dan meramu bahan makanan. Tapi mood Ino yang jelek membuatnya seperti ini. Neji bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Ino membencinya. Padahal baru malam tadi kejadian itu berlangsung, tapi Neji sudah melupakannya. Bahkan tak terucap satu kata maaf-pun darinya.

.

.

Hubungan Neji dan Ino mulai merenggang. Ino tampak mendiamkan Neji. Begitu pula pria itu. Mereka tampak canggung satu sama lain. Mereka saling tak menyapa seperti biasa. Tak ada lagi candaan atau hina-menghina antara mereka berdua. Rumah merekapun tampak sepi. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

Ino mengaku, ia yang pertama kali menciptakan perang dingin dengan Neji. Ia terlalu takut dengan kemungkinan selanjutnya tentang hubungannya bersama Neji. Ia takut Neji akan membuangnya sebentar lagi. Jujur ia belum siap. Sikap biasa saja pria itu juga membuat dirinya semakin takut. Ino pasti sama dengan wanita lain yang tampak tak menarik dan mudah dilupakan. Ino tak siap menerima fakta itu jika tebakannya memang benar. Neji pasti akan membuangnya sebentar lagi.

Sedangkan Neji, Pria itu sebenarnya mulai mengakui jika dia sangat membutuhkan Ino di sampingnya. Neji mencintai Ino— Saat peristiwa malam itu, dia mulai mengakui perasaan yang selalu ditepisnya. Tapi dia merasa bersalah pada Ino. Dia sudah menodai gadis polos itu. Neji gagal menjaga Ino, padahal dia berjanji akan menjaga dan melindunginya. Sikap biasa Neji bukan karena apapun, dia takut jika Ino semakin ketakutan padanya. Tapi nyatanya gadis itu selalu menghindar darinya. Ia bahkan menjaga jarak dengan Neji. Apa sebegitu mengerikannya Neji Hyuuga untuk seorang Ino Yamanaka?

.

.

.

Ino menunggu bus di halte dekat universitasnya. Ia baru saja menyelesaikan mata kuliahnya. Ino mengeratkan syal panjang yang dipakainya. Ini memang masih musim panas, bukannya ia salah kostum atau apa, Ino punya alasan lain untuk memakai pakaian seperti ini.

Ino tersentak kaget mendengar suara klakson mobil. Shimura Sai mengemudikan mobilnya dan berhenti tepat di depannya. Muka Sai terlihat lebam. Tapi Ino tak mau ambil pusing mengenai keadaan Sai. Pria dengan senyuman palsu itu menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Ino tak sudi satu mobil dengannya. Tapi wanita pirang di sebelah Sai membuatnya bimbang. Dia adalah alasan satu-satunya Ino mau bersama Sai akhir-akhir ini.

Akhirnya Sai benar-benar pergi dari hadapan Ino. Dia meninggalkan Ino bersama wanita paruh baya itu. Sekarang ia mengikuti kemanapun wanita berambut blonde di depannya pergi. Wanita itu mengajaknya ke sebuah studio fashion terkenal. Ino hanya mengikutinya sambil menatap kagum kehidupan mewah wanita itu.

"Ternyata memang benar kau Daisy-ku." Tsunade berbicara sambil membenarkan dandanannya.

"Jadi apa alasan nyonya setelah sekian lama meninggalkanku, tiba-tiba saja mencariku?" tanya Ino menyelidik.

"Gampang saja, aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu. Aku ingin membuat hidup putriku menjadi lebih baik dengan kehadiranku."

"Hanya karena itu?" Ino menyudutkan Tsunade.

"Tentu saja tidak, aku ibumu. Aku ingin kau mengakuiku sebagai ibumu—Ibu yang melahirkanmu."

Beberapa hari lalu Sai mendatangi Ino. Semula Ino ketakutan. Tapi ternyata Sai tak seburuk itu. Sai berencana mengenalkan dan mempertemukannya dengan ibu kandungnya, Tsunade. Sai tak berbohong. Bahkan wanita bernama Tsunade itu datang sendiri kepadanya. Sebelumnya, wanita itu sempat menuduh Ino dan mengatakan bahwa ia hanya berpura-pura sebagai putrinya. Setelah dilakukan tes DNA ternyata Ino memang benar anaknya, apalagi Tsunade melihat tanda lahir merah di kaki Ino. Ia bertambah yakin.

Mengenai ibunya, tak ada perasaan apapun setelah ia bertemu dengannya. Kehidupan wanita itu sungguh berbeda dengan kehidupannya. Hidupnya serba mewah dan glamor. Semua dinilai dengan uang. Ino tak mau berharap lebih pada ibunya. Selama wanita itu sudah tau ia adalah putrinya, ia sudah cukup senang.

"Kau tinggal disini?" Tsunade memandangi rumah kediaman Ino melalui kacamata hitamnya,"Seleramu tak buruk juga."

"Tentu saja, Nyonya. Selera Inoichi tentang rumah untuk putrinya tak pernah buruk" Ino menyebutkan nama almarhum ayahnya. Tsunade tampak tak senang mendengarnya.

"Aku minta maaf padamu Ino. Aku tak ada saat hidupmu dilanda kesusahan. Bahkan aku tak tau jika Inoichi dan putraku Deidara sudah tiada. Aku benar-benar Ibu yang buruk."

"Sudahlah, itu sudah berlalu. Mereka sudah berbahagia di surga."

Ino mengajak Tsunade berkunjung ke rumahnya. Ini pertama kalinya Ino mengajak orang asing berkunjung ke rumahnya. Tak salah-kan mengajak Ibumu sendiri ke rumahmu?

"Kau tak melepas syal dan sweatermu? Bukankah ini musim panas?" Tsunade mengalihkan pembicaraan.

Ino seperti mati kutu. Ia tak mungkin melepas syal dan sweaternya di depan Tsunade. Bekas gigitan Neji belum hilang hingga hari ini.

"Aku hanya bercanda. Lihatlah mukamu ketakutan seperti itu! Ngomong-ngomong dimana pacarmu? Dia sedang kuliah atau bekerja? dia tinggal denganmu-kan?"

Ibunya berlagak seperti peramal. Ia menebak segala hal tentang Ino. Jangan-jangan ibunya tahu jika selama ini ia tinggal dengan Neji? Bocah ingusan yang dibenci ibunya?

"Aku tau kehidupan remaja zaman sekarang. Apalagi wajahmu berbakat menjadi seorang penggoda… ha..ha..ha.. Jadi siapa nama pacarmu?"

Wajah Ino merengut kesal, "Nyonya, berhentilah membahas hal seperti itu. Aku tak suka anda mencampuri urusan pribadiku."

"Ya ampun, putriku ini bijaksana sekali. Oh ya, ibu cuma ingin bilang, hati-hati dengan Shimura Sai. Dia tertarik padamu. Bilang pada pacarmu supaya dia melindungimu dari Sai."

.

.

.

Ino pov.

Sakura mengajakku menghadiri pesta kecil-kecilan yang diadakannya. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi kalian tahu sendiri bagaimana aku. Aku tak pernah bisa menolak permintaan Sakura. Dan disinilah aku berada. Aku berada di sebuah club malam bersama Sakura. Ini kali kedua aku pergi ke tempat seperti ini—setelah peristiwa kakakku yang ditawan Pain tentunya. Sakura dan Sasuke mengadakan acara ini untuk menyambut pernikahan mereka yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Sebut saja pesta terakhir sepasang kekasih sebelum mereka benar-benar terikat sebagai sepasang suami istri.

Aku kira mereka akan mengundang cukup banyak orang kesini. Nyatanya hanya anggota Aranch yang hadir. Aku menjadi canggung disini. Apalagi mereka membawa kekasih mereka masing-masing. Tau begini aku tak mau kesini walaupun Sakura memaksaku.

Di sudut sofa pandanganku menangkap keberadaan Neji. Pria itu terlihat sendirian. Dia memakai setelan Jas. Kesan manly semakin terlihat padanya. Aku dulu pernah bilang pada Neji kalau aku sangat menyukai pria dengan setelan tuxedo. Entahlah, dia sering memakai pakaian formal itu akhir-akhir ini.

Mata aquamarineku terus mengamatinya. Tak aku sangka mata lavendernya balik menatapku. Aku mendadak panik. Aku segera mengalihkan pandanganku kearah lain.

Neji pov.

Aku berusaha menghormati Sasuke. Aku menghadiri acara tak penting yang diadakannya. Aku memilih duduk di ujung sofa. Tak kusangka Ino hadir juga disini. Pandangan matanya terus menatapku. Aku berbalik menatapnya. Lihat! Apa-apan baju yang dipakainya. Dress mini merah dengan lengan terbuka dan belahan dada rendah. Apa dia ingin aku perkosa lagi? Menjengkelkan sekali.

Ino mengalihkan pandangannya dariku. Cih!

Tak berselang lama, anggota Aranch yang lain duduk mengelilingiku. Mereka membawa pasangan mereka masing-masing. Sakura dengan Sasuke. Naruto dengan adikku, Hinata. Sasori dengan kekasihnya Matsuri. Kiba dengan….. astaga! Kiba mendekati Ino. Tampak Sakura yang memprovokatori mereka berdua. Tapi kulihat Ino berusaha menghindari Kiba. Ia tampak risih bersama Kiba. Oke! Aku ingin menghajar Kiba saat ini juga.

"Kau tampak paling mengenaskan disini! Dimana tunanganmu si gadis China itu? Kau tak membawa kekasihmu kesini?" Sasori merangkulku. Pria 25 tahun itu tampak mencibirku.

"Cih! Jangan sebut dia dihadapanku!" Oke! Aku malas menyebut 'Tenten'. Memuakkan sekali gadis kecil itu.

"Aku rasa Neji sudah membawa kekasihnya kesini. Bukankah begitu Neji?" Perkataan Sasuke membuatku mendelik tajam, "Tapi aku rasa dia sedang bersenang-senang dengan pria lain." lanjutnya.

Aku paham apa maksud Sasuke. Dia tahu jika selama ini aku menjalin hubungan tidak jelas dengan Ino. Hanya Sasuke yang tahu, Sasori dan Naruto tak tau apa-apa tentang ini. Lihatlah, wajah bodoh mereka. Mereka berdua tampak kebingungan dengan perkataan pria pantat ayam itu. Otak mereka terlalu dangkal menangkap maksud Sasuke.

Normal Pov.

Malam itu acara tampak berjalan biasa. Para wanita bercengkrama. Ino berkenalan dengan Matsuri. Gadis seumurannya itu cukup menyenangkan untuk diajak berbicara. Sedangkan Hinata lebih memilih untuk diam. Ino sudah mengenal Hinata. Gadis itu tampak tak banyak bicara. Semula Ino takut jika Hinata berbicara macam-macam tentangnya. Tapi Hinata gadis yang baik. Dia tak mengungkit tentang kehidupannya bersama Neji. Sedangkan Sakura? Dia asyik bermesraan dengan Sasuke.

Para pria lebih memilih untuk bermain kartu dan meminum minuman beralcohol. Ino sebenarnya risih berada disini. Ini bukan kehidupannya. Kehidupannya tak seperti ini. Dulu ia pernah mencela dan menghujat orang-orang yang menghabiskan waktu di club malam. Nyatanya sekarang ia tak berbeda jauh dengan mereka.

.

.

.

Sasuke mengusulkan mereka semua untuk mengikuti permainan truth or dare. Sebagian dari mereka tampak antusias. Hanya Ino dan Neji yang tampak tak menyukai permainan ini. Mereka dengan terpaksa mengikuti permainan konyol ini. Akhirnya mereka semua duduk mengelilingi meja bundar. Botol minuman diletakkan diatas meja. Permainan dimulai…

.

.

Permainan dimulai oleh Sasuke. Dia memutar botol minuman dengan cepat. Botol itu berputar dan mencari orang yang tepat untuk dipilih. Dan botol itu berhenti tepat di depan…..Hinata.

"Truth or dare" Ujar sasuke. Hinata menjawab 'Truth'

"Apa yang membuatmu mencintai si bodoh Naruto dan dimana pertama kali kalian bertemu?" Pertanyaan singkat yang cukup menjebak Hinata. Mukanya memerah menahan malu. Ia nampak tergagap untuk menjawab.

"A-ku tak tau kenapa aku bisa men-mencintainya. Tapi N-naruto-kun sel-lalu tampak keren dimataku. Aku bertemu dengannnya tepat saat Naruto-kun di drop out dari universitasnya. Saat itu aku baru selesai les piano. Aku tak melihat sisi buruknya, d-dia tetap tersenyum walau dalam penderitaan. Dia bilang, dia akan menjadi orang hebat di bidang musik walaupun dia gagal dalam pendidikannya" Semua orang terenyuh mendengar penuturan Hinata. Bahkan Naruto sampai menangis hebat karenanya. Neji hanya menatap jijik ke arahnya. Wajah Naruto tampak basah berlinang air mata—bercampur ingus juga tentunya. Neji bergidik. Bisa-bisanya adiknya yang sempurna itu mencintai orang bodoh macam Naruto.

Hinata melanjutkan permainan. Ia memutar botol itu. Giliran selanjutnya jatuh pada Sasori. Sasori dengan sigap menjawab 'Truth'.

"Apa planningmu selanjutnya untuk Aranch?" Pertanyaan yang simple. Hinata seperti tak mau terlalu rumit memberikan pertanyaan.

"Planning? Aku rasa semua yang diinginkan Aranch sudah tercapai. Kami sudah terkenal dan sukses." Sasori memegang dagunya sambil berpikir. "Aku rasa mencarikan jodoh untuk Kiba adalah planning terbaik untukku. Dia kan belum punya pacar sampai sekarang. Ha..ha..ha.."

Tawa semua orang meledak karena omongan nyeleneh Sasori. Semua orang tampak menertawakan Kiba. Pemuda itu hanya menggeram kesal. Selalu saja ia yang dijadikan sasaran.

Sasori memutar botol kembali. Botol itu berputar dan berhenti tepat di depan Ino. Ino tampak syok. Ia bingung memilih antara truth or dare. Akhirnya ia memilih 'dare'. Semua orang tampak berteriak mengetahui Ino memilih 'dare'. Berani sekali Ino memilih tantangan untuk dirinya. Sasori tampak bersungut-sungut. Dia cukup bingung memilih tantangan yang tepat untuk gadis blonde itu, "Sejak tadi aku belum melihatmu meminum satu minuman beralcohol. Aku ingin kau menghabiskan satu botol minuman di depanmu."

Badan Ino berkeringat dingin. Yang benar saja, meminum habis satu botol? Ino ragu, tapi akhirnya Ino terpaksa meng'iya'kan perintah Sasori. Ia sudah terlanjur memilih tantangan bukan? Ia harus menyelesaikan tantangannya.

Pandangan Ino tak sengaja menangkap pandangan mata Neji. Neji terus menatap kearahnya. Dia khawatir dengan tantangan ini. Neji tahu jika Ino sangat payah dalam hal minum-meminum. Gadis itu pernah sekali minum sekaleng bir dengannya di rumah. Semalam suntuk Ino merancau tidak jelas. Gadis itu menari-nari dan berbuat onar. Neji hanya berdoa semoga Ino tak seperti itu lagi.

Ino meminum hampir separuh botol shake itu. Kepalanya mulai berputar. Semua orang menunggunya menghabiskan minumannya.

"Cukup! Cepat lanjutkan permainannya! Kita hanya membuang waktu untuk menunggu wanita itu menghabiskan minumannya. Biarkan dia menghabiskan minumannya saat permainan berjalan." Neji tak tahan melihat Ino hampir mabuk. Beruntung semua orang menyetujui pendapat Neji.

Ino lalu memutar botol permainan itu. Botol itu mengarah pada Naruto. Naruto tampak cengengesan tak jelas. Dia memilih tantangan, sama dengan Ino. Ino tak memikirkan tantangan apapun untuk Naruto. Dia hanya meletakkan botol shake di depan Naruto.

"Cepat habiskan isi botol Shake ini!"

Semua orang tampak menganga lebar ke arah Ino. Tantangan macam apa itu? Menghabiskan separuh botol shake miliknya? Yang benar saja. Naruto tampak kecewa. Dia kira akan ada tantangan menarik untuknya.

"Hei Neji! Gara-garamu wanita pirang itu tak menyelesaikan tantanganku!" Sasori berdecak kesal. Tapi Neji tak mau ambil pusing dengan omongan Sasori.

Permainan berlanjut. Matsuri yang mendapatkan giliran. Neji tak berfokus pada permainan konyol itu. Dia berfokus pada Ino. Gadis itu benar-benar mabuk sekarang. Ia menelungkupkan wajahnya di antara dua siku tangannya di atas meja. Neji semakin khawatir. Beruntung Ino belum mengigau macam-macam.

Giliran Matsuri selesai. Kemudian giliran Sakura. Sakura menyelesaikan tantangannya dengan baik. Berikutnya Sakura memutar botol itu. Kiba mendapat giliran selanjutnya. Sakura tersenyum penuh kegirangan. Kiba memilih 'dare'. Sakura kembali tersenyum.

"Baiklah, Aku sebut ini keberuntungan untukmu, Kiba! Aku minta sekarang juga kau nyatakan cinta pada Ino dan cium dia di depan kami."

Semua orang tampak bersorak-sorai. Mereka meneriaki dan memberi semangat pada Kiba. Neji mengalihkan perhatiannya pada Kiba. Pria penyuka anjing itu tampak bersemu merah. Apa-apan ini? Permainan konyol ini semakin lama tampak semakin tak jelas.

Ino sepertinya mulai mengigau. Gadis itu duduk tegap dengan muka memerah karena pengaruh alcohol. Gadis itu mabuk disertai cegukan.

"Hik..berisik! hik! Neji-kuuuuuunnnn…ayo kita pulang sekarangggg…aku tak mau dicium si anak anjing ituuu…hik" Semua orang menoleh ke arah Ino. Suasana yang semula riuh mendadak hening. Kiba yang mendengar perkataan Ino hanya diam membatu. Hatinya seperti dihantam pukulan keras.

"Nejiii…ayo kitaa.. pulang sekarangg…ayo kiiiiitaaa pulang kerumahhh…hik.." Pandangan mereka semua beralih ke arah Neji. Semua orang tampak kebingungan—terkecuali Sasuke dan Hinata tentunya. Mereka bingung kenapa Ino menyebutkan nama 'Neji'.

"Aku mencintaimu Nejii…Kenapa kau tak mencintaiiikuuuu…"

Neji cukup kaget mendengar penuturan Ino. Ino mencintainya? Jangan ditanya, dia juga mencintai Ino. Tapi Neji berusaha memasang wajah sedatar mungkin mendengar kalimat rancauan gadis yang dicintainya itu. Namun lambat laun dia tak tahan melihat Ino dengan keadaannya sekarang. Dia melepas jas miliknya dan berjalan kearah Ino. Neji lalu memakaikan jasnya pada bahu Ino yang terbuka.

"Ayo kita pulang." Neji berjongkok di depan Ino. Secara tiba-tiba Ino mengalungkan kedua tangannya ke leher Neji. Ino mencium Neji. Tanpa ragu Neji membalas ciuman Ino. Mereka berciuman cukup lama. Mereka tak menghiraukan berpasang mata yang menatap canggung ke arah mereka. Akhirnya Neji melepaskan ciuman itu.

"Kalau kita pulang sekarang…Apa kau akan bercinta denganku lagi setelah ini?" Ino berkata dengan setengah sadar. Perkataannya tampak semakin ngawur.

Neji mengangkat sebelah alisnya,"Aku rasa tak buruk. Ayo kita pulang dan melakukannya di kamarku." Neji mengangkat tubuh Ino ala bridal style. Pria itu menggendong Ino lalu keluar dari ruangan itu. Mereka berdua pergi tanpa berpamitan.

Semua orang menganga tak berkutik menyaksikan drama opera sabun barusan. Mereka semua tampak syok. Bahkan Sakura sempat mengejar Neji karena pria itu membawa sahabatnya pergi tanpa ijin. Tapi Sasuke dengan sigap menarik Sakura.

"Kau lihat Sasuke-kun! Ino menjadi tak waras seperti itu! Lihat dia bersama siapa! Dia bersama bajingan itu. Oh Inooo! Hiks…hiksss…aku harus memisahkan mereka." Sakura menangis melihat adegan barusan. Sasuke memeluknya dan menenangkan Sakura yang menangis.

"Benar-benar drama live terbaik yang pernah aku lihat." Sasori berkomentar aneh. Naruto hanya mengangguk setuju. Matsuri dan Hinatapun akhirnya ikut-ikutan setuju.

Sedangkan Kiba hanya terduduk lemas. Anak itu terlihat seperti mayat hidup. Ino Yamanaka, wanita itu ternyata bukan wanita polos yang sering dia bayangkan dalam mimpi indahnya. Kenapa leadernya dengan mudah mendapatkan gadis yang dicintainya itu? kenapa? Bahkan Ino tanpa malu mengajak Neji bercinta dengannya. Gadisnya yang polos itu ternyata sudah dinodai leadernya. Kiba hanya bisa menangis dalam hati. Hatinya seperti disayat ribuan pisau tajam. Perjuangannya selama ini sia-sia, dia harus mundur untuk mencintai Ino Yamanaka.

Bersambung…

Gimana chapter ini? Author berharap chapter ini nggak berasa aneh… Hohohoho…

Sekali lagi author mengucapkan terima kasih untuk saran dan kritiknya.

Untuk cerita ini yang dianggep mirip drama? Author-kan sudah pasang fanfic ini di genre Romance Drama. Jadi, harus dimaklumi kalau ceritanya mirip sinetron. Mungkin karena cerita ini, suatu hari nanti author bisa bekerja sebagai penulis naskah sinetron atau FTV? Tak ada yang tahu-kan? #berharap banget -_-

Soal Tenten, tenang saja. Kalian nggak perlu khawatir sama dia. Kalau kalian mencuci piring, dia itu ibarat minyak kotor yang menempel. Dicuci pake spon plus sabun ilang deh…. Kalau Gaara sama Kiba itu ibarat orang yang bertamu di rumah kalian. Singgah sebentar lalu pulang. #Nggak banget ibaratnya. Kalau Sai?..pikirkan sendiri saja XD

Sekali lagi, Author nggak bakal tega bikin bebeb Nejong sampe gituan sama Tenten. Pairing utamanya disini Neji-Ino. Dan author nggak punya niatan ganti pairing atau nambah pairing. Jadi author nggak bakal bikin adegan itu. Kecuali otak author tiba-tiba konslet -_- #lupakan

Yang berniat, silahkan REVIEW.

Author butuh saran dan kritik untuk kelancaran dan keberhasilan cerita ini