NORMAL?
.
.
GENRE : ROMANCE
LENGTH : HANYA TUHAN YANG TAHU
FANFICT BY TIANLIAN
DESCLAIMER : CERITA INI MILIK SAYA, SEHUN HANYA MILIK JONGIN DAN JONGIN ADALAH MILIK KITA BERSAMA.
RATE: TAK TERDEFINISI [T_T]
WARN : YAOI, BXB, TYPO'S
.
-OH SEHUN- KIM JONGIN-PARK CHANYEOL-
And other cast
.
SUMMARY
Kami berdua adalah laki-laki normal. Kami suka payudara besar, pantat kenyal dan vagina sempit. Kami juga punya wanita yang kami sukai.
Namun,
Kenapa kami saling tertarik satu sama lain?
.
.
.
Filosofi kacang polong bagi seonggok Kim Jongin.
Pernah dulu waktu Kim Jongin kecil baru tahu apa itu namanya patah hati karena di tolak seorang cewek blasteran yang kata orang-orang memiliki kulit eksotis berbeda dari manusia korea pada umumnya Kim Jongin merasa dunia itu berputar melawan arusnya, dunia berjalan memunggunginya dan membuatnya merasa bahwa dia adalah satu-satunya makhluk paling tak beruntung di seluruh belahan dunia.
Dulu, itu dulu sekali saat Kim Jongin belum tahu bahwa belahan dunia itu tidak semenarik belahan dada kakak-kakak cantik yang selalu tersenyum manis saat Jongin menyapa mereka.
Sekarang, dunia itu bagaikan sepetak mansion bagi Jongin. Sepetak mansion yang dia tinggali sementara dengan berbagai macam godaan dari berbagai makhluk tak terdefinidsi yang seringkali di dominasi dengan kulit mulus putih tanpa pemanis buatan, hanya ada silicon dan bahan plastic lain serta tawas untuk memperbening apapun yang ingin di beningkan.
Jongin itu manusia yang paling mudah terseret arus, Chanyeol sang sahabat selahirpun tahu benar hal itu. Jongin itu orang idiot yang bealagak tahu segalanya. Manusia congkak yang sebenarnya polos sepolos kertas HVS A4. Singkatnya, seonggok Kim Jongin itu selalu berkata pada Chanyeol tentang filosofi kacang polongnya. Filosofi amburadul yang entah dari mana Jongin menyadurnya.
"kacang polong itu kayak aku, Yeol."
"apanya? Kau berasa punya kulit ijo atau kepala plontos?"
"yah, kamu siih nggak pernah mau lihat kacang polong dari sudut setetikanya!"
"dilihat dari sudut manapun kacang polong tetaplah kacang. Bulat, kecil dan ijo."
"kamu ngomong kayak gitu nggak mikiran perasaaannya kacang gimana? Kamu jahat, aku nggak nyangka."
Chanyeol mulai memutar matanya jengah, terkadang Kim Jongin itu memang menjengkelkan. Apalagi jika obatnya sudah mulai habis seperti sekarang ini.
"gimana aku tahu perasaannya si kacang kalau pas dimasak dia diem. Di kunyah pun dia juga diem. Nggak selamanya silent is gold. Makanya ngomong dong sekali-kali biar aku tahu perasaaanmu jadi kacang itu gimana!"
Mereka itu bagaikan dua buku terbuka, satunya dalam bahasa alien yang agak ambigu namun cover depan sangat menyayat dan satu lagi dengan bahasa kalbu yang covernya tak bisa di nalar oleh otak manusia. Dua buku terbuka yang saling memahami satu sama lain namun kadang disalah pahami oleh banyak manusia kebanyakan.
Kim Jongin dan Park Chanyeol.
.
.
.
[Chapter 10]
-Peanut pt Two-
.
.
.
Jongin tahu dia kini seolah tengah kabur, Jongin tahu itu karena memang sengaja dia kabur. Tidak menyelesaikan masalah memang namun cukup akurat. Dilihat bagaimanapun dia hanya akan jadi lelucon jika masih berada di restaurant itu bersama dengan Chanyeol yang baru saja mengatakan lelucon paling garing seumur dia hidup.
Heh, mencintai dari hongkong!
Kalau semisal dirinya punya dua benda bulat, yang punya pucuk pink kecoklat-coklatan itu Jongin bisa memahaminya dengan lapang dada. Nah ini, Jongin juga punya dua benda bulat sih. Punya, tapi dengan judul dan bentuk yang berbeda disertai tambahan pula. Twist ballnya ini tidak mengeluarkan apapun kecuali erangan bagi mulut bangsatnya. Lantas, coba dari segi mana Jongin bisa menganggap hal yang baru saja dilontarkan Chanyeol itu masih bisa untuk dinalar serta dimaafkan.
"Jongin, tunggu!"
Alih-alih menaati apa yang diucapkan Chanyeol yang tengah berlari mengejarnya Jongin malah mempercepat langkah yang sedari tadi sudah cukup dia buat lebar-lebar agar dirinya bisa cepat menjauh dari Chanyeol ini.
"Jongin, berhentilah sebentar kau harus mendengarkanku dulu!"
Jongin menoleh namun tak berniat berhenti, dia mendesis lalu berkata cepat sambil tetap mempertaahankan langkah lebarnya. "sedari tadi aku sudah cukup mendengar igauanmu, Park!"
"kau kan hanya mendengar setengah saja, aku belum selesai berbicara tadi!" Chanyeol keukuh dengan niatannya ingin berbicara sedangkan Jongin yang sudah mulai sumpek dengan ingar-bingar taman hiburan ini kini menuruti Chanyeol. Dia berhenti, menatap tajam Chanyeol yang kini juga menatapnya lalu tanpa banyak kata atau pun kalimat pembuka Jongin menyodorkan jari tengahnya untuk Chanyeol lantas mengumpat dengan suara lantang.
"apa sudah selesai?" Chanyeol kembali menginterupsi Jongin yang masih menatap kesal kearahnya. "kau sudah seperti perawan saja, kabur-kaburan alay seolah aku om-om genit yang bermiat jahat menjualmu ke makelar."
"KAU TIDAK PUNYA OTAK!"
"kau renungkan saja bagaimana otakku bisa jadi setumpul ini dan mengatakan hal senista itu padamu."
"KAU MENCIUMKU! BANGSAT!"
"ya.. ya.. aku tahu, itu tadi terjadi diluar akal sehatku, aku tadi agak terbawa suasana. Anggap saja kau tadi digigit nyamuk."
"MANA ADA NYAMUK YANG SEBESAR MANUSIA!"
"sudahlah, kenapa kau jadi teriak-teriak macam orang gila si Jong. Ini taman hiburan loh." Setelah Chanyeol memperingatkan Jongin tak lagi membalas. Dua orang sahabat itu saling tatap, Jongin memalingkan wajahnya saat Chanyeol membalas lirikan kesal Jongin dengan cengiran bodoh.
"jadi apa statusku sekarang?" pertanyaan ajaib itu keluar bak petasan, Jongin hampir saja membawa tinjunya dengan senang hati namun urung karena dia malas mengotori tangannya untuk si keparat Park dan omong kosong tak berbobotnya.
"PEDULI SETAN DENGAN PENGAKUANMU PARK! AKU MASIH LEBIH SUKA DENGAN PAYUDARA DARI PADA PENIS TUMPULMU!"
Tawa itu menguar, Chanyeol tahu tawanya ini bukan pada tempatnya namun anehnya seolah memang seharusnya dia tertawa. Jongin tetaplah Jongin. Manusia tidak punya otak itu bukanlah salah satu dari manusia kebanyakan. Jadi, sudah seharusnya Chanyeol tidak berpikir macam-macam tentang apa yang akan terjadi setelah pengakuan sakral itu sebab semua akan sia-sia. Pemuda ini terlalu masa bodo atas segala hal termasuk perasaannya.
"tapi aku tadi benar-benar serius loh Jong!"
"TUTUP MULUTMU! AKU TIDAK PERDULI DENGAN HATI KONYOLMU ITU PARK!"
"AHAHAHA, AKU MENCINTAIMU KIM JONGIN!"
"BANGSAT! KAU INGIN KU BUNUH HAH!"
.
.
.
.
.
Karena keduanya seolah tampak tanpa celah, bahkan setelah semua hal gila yang terjadi. Hal semacam itupun tak membuat kedua orang itu berubah. Segalanya tampak sama dan memang sudah sewajarnya. lalu semua itu lantas membuat Sehun terpekur ditempat dimana dia bisa melihat seluruh kejadian dengan teramat sangat jelas.
"aku kembali terlupakan." Sehun tertawa dengan getir. Matanya yang tajam itu masih memfokuskan perhatian pada dua pemuda tanggung yang baru saja beberapa menit tadi membuat heboh seluruh penjuru restaurant cepat saji di belakangnya dengan sebuah pengakuan bak film-film lakorn yang cukup hits belakangan ini.
Dua pemuda yang terproklamirkan sebagai saahabat, dan entah bagaimana selanjutnya.
Sehun hanya diam karena toh dia juga tidak tahu harus melakukan apa, mengejar Jongin juga untuk apa toh dua orang itu sudah meluruskan segalanya dengan berbagi teriakan di ujung sana. Dia bukan apa-apa. Sehun hanya orang asing, orang asing yang sialnya terpesona pada manusia semacam Kim Jongin.
Telpon genggam yang sedari tadi terpaksa dia jauhkan bahkan sebelum sambungan disebrang terputus itupun kembali berhasil menyadarkannya.
"ya, Yeri. Maaf ada sesuatu tadi―hm, ya. Tentu saja. apapun yang kau inginkan."
Sehun bahkan lupa satu orang lagi, satu orang yang selama dua tahun ini dia jadikan sebagai prioritas diatas segalanya. Satu-satunya orang yang masih tersisa yang harus dia jaga dan dia lindungi entah sampai kapan.
Yeri dan segala ingatannya yang terlupa.
"hm, sampai bertemu di rumah."
.
.
.
.
.
Pukul tujuh lewat beberapa detik Sehun sudah menampakkan moncong mobil hitamnya di pelataran sekolah. Gerbang besi menjulang yang masih lengang itu hanya terisi satu orang security yang tampak masih menahan kantuk, menguap serta merta mengusap matanya yang masih tampak memerah.
Ini adalah minggu ketiga Sehun bersekolah disini. Minggu ketiga yang berhasil dilaluinya dengan berbagai macam kejadian yang tak pernah dia duga sebelumnya. Kejadian yang diawali dengan seorang pemuda bernama Kim Jongin, bola dan tetesan darah serta kaca yang berhamburan. Mengingat hal itu Sehun mau tak mau mengulum senyumnya karena usut punya usut si pemilik nama itu nyatanya ada dalam jarak pandangnya sekarang. Kebetulan sekali.
Buru-buru Sehun memarkirkan mobilnya diruang kosong terdekat, dia lepas sabuk pegaman yang melilitnya ganas dengan serampangan lalu menyabit Tas yang duduk manis di kemudi sampingnya dengan penuh nafsu.
"Jongin!"
Sehun menyapanya duluan, membawa dirinya berjalan bersisian dengan Jongin yang tampak tersenyum aneh untuknya.
"oh. Ya… hai."
Dua bahu itu berhimpit, bukan karena jalan yang mereka lalui sempit atau berjubel. Bukan karena hal semacam itu karena nyatanya lorong sekolah mereka ini luasnya mencapai empat meter luasnya dan kabar baiknya pula tidaka terdeteksi makhluk apapun berada di lorong kecuali dua orang yang berangkat terlalu awal itu. itu hanya akal-akalan Sehun karena terlalu senang dengan adanya Jongin saat ini. kkkk
"kau tidak bersama temanmu itu?"
Mata cantik Jongin menatap aneh Sehun yang melontarkan pertanyaan barusan, ada sorot mata aneh yang terselubung disana bertahan beberapa detik sebelum pertanyaan konyol Jongin menguar tak senonoh. "apa kau menyukainya?!"
"hah? Apa?!"
"kenapa akhir-akhir ini banyak sekali makhluk tak normal." kalimat yang lebih seperti gerutuan itu tetaplah terdengar meski lirih. Satu detik berikutnya tawa Sehun pecah. Dia tidak tahu bahwa otak Kim Jongin itu memang terlalu absurd untuk di terjemahkan oleh manusia kebanyakan.
"ahahah, bukan seperti itu. aku hanya heran kenapa kau kembali sendirian setelah kejadian semalam."
Mata Jongin sukses memicing mendengar kata kemarin terlontar dari mulut tipis Sehun.
"JANGAN COBA-COBA BOCORKAN ITU!" reaksi yang agak terlalu berlebihan itu tak ayal kembali merebakkan tawa Sehun yang sempat surut.
"memangnya aku akan mendapat apa jika tidak membocorkannya?" pertanyaan itu hanya sekedar iseng, Sehun bahkan tidak ingat kapan dia berlaku semacam ini pada seseorang. Insting jahilnya selalu saja berkembang secara pesat jika Jongin ada dalam radius jarak pandangnya. Aneh bukan?
"kau akan selamat dari bogem mentahku." Jongin mendesis kejam namun tentu saja apapun yang Jongin lakukan sesalu membuat Sehun tak tahan untuk kembali tersenyum alih-alih tertawa terbahak-bahak.
"jadi sekarang kau mengancamku?" tapi sayangnya, ulah iseng Sehun belum selesai sampai disitu saja. dia terlalu sayang melewatkan seluruh hal indah ini untuk waktu singkat, dia ingin merekamnya lebih lama dalam ingatannya. Bagaimana suara Jongin yang selalu membuat jantungnya berdetak kacau dan ekspresi pemuda aneh itu yang entah bagaimana selalu sukses menumbuhkan bibit bunga-bunga yang berpotensi bermerakan dalam hatinya lantas merebakkan kupu-kupu yang hangat di perutnya.
Apakah cinta itu selau seperti ini? batin Sehun senang. Seluruh hatinya bahkan menghangat hanya dengan melihat Jongin baik-baik saja. pemuda itu memang sesuatu, dia adalah satu dari sekian banyak orang yang terlalu lempeng. Bahkan pernyataan cinta dari sang sahabat hanya dia anggap angin lalu dan itu bukanlah masalah untuknya. Lantas, untuk tipe manusia macam Jongin ini harus bagaimana Sehun agar dia mampu membuat Jongin menoleh dan menatapnya sama seperti Sehun menatapnya?
.
.
.
.
.
Chanyeol tahu perasaannya itu memang bukan main-main apalagi bohong, perasaannya itu serius loh seserius seorang Kim Jongin yang sempat-sempatnya membuka folder berisi ratusan video jav yang di download Chanyeol asal-asalan untuk membuangkam mulut nyir-nyir Jongin masalah ponselnya yang tiba-tiba menghilang dikarenakan Chanyeol yang katanya idiot bin bangsat. Dia serius, serius menyukai pemuda dekil bernama asli Kim Jongin yang baru saja mendapat oleh-oleh banyak makanan dari keluarganya yang semalam baru saja kembali ke rumah dengan selamat sentosa tanpa kurang apapun, bahkan malah bertambah seorang penghuni..
Nenek Kim yang berusia akhir enam puluah tahunan yang tetap saja aptudet soal fashion. Nenek tua kesayang Jongin yang selalu membanggakan kecantikan cucu paling bontotnya itu secara unik karena Jongin bahkan lebih dimanja serta di elu-elukan layaknya berlian bagi sang nenek tua itu ketimbang dua kakak perempuannya yang jelas-jelas perempuan tulen bukan pejantan tanggung macam Jongin.
"berhenti menghitung jumlahnya, Jong. Video itu tidak akan beranak meskipun kau sodomi berkali –kali dengan matamu." Bisik Chanyeol tepat di telinga Jongin yang hanya dibalas dengusan tak perduli.
Di depan sana, Guru Seo malah dengan suka cita sedang menjelaskan integral melalui kurva-kurva melungkung dengan gambar mirip jembatan yang sama sekali tak dimengerti apa maksud serta fungsinya.
Melihat gurunya itu masih asyik dengan materi, Chanyeol kembali memperingati Jongin tapi kali ini bukan secara verbal karena hal itu tidak akan berimbas apapun bagi makhluk semacam Kim Jongin.
Dengan satu gerakan cepat yang lebih mirip seperti ninja, Chanyeol dengan sukses meyerobot ponsel baru Kim Jongin. Membawanya dengan satu genggamn tangan lalu mengangkatnya tinggi-tinggi karena pastiya satu detik berkutnya Jongin sudah rewel dengan berbagai macam umpatan karena ulahnya ini.
Namun, belum sampai hal yang ada dalam otaknya itu terealisasikan suara laknat yang menjadi awal dari neraka Seo pun bergema nyaring tanpa sensor sedikitpun tak lupa backsound deritan ranjang yang sukses membuat mata serta mulut hampir seluruh para pejantan yang ada dikelas melotot dan bersorak girang, berbanding terbalik dengan Chanyeol yang mengumpat lirih.
"PARK CHANYEOL! KIM JONGIN!"
Desahan pasrah mengiringi berdirinya kedua pemuda itu. Jongin menatap Chanyeol penuh dendam dan Chanyeol menundukkan wajahnya sembari mematikan sumber dari segala neraka yang baru saja tersenyum pada keduanya.
"KE RUANG GURU SEKARANG JUGA!"
.
.
.
.
.
"KAU MEMANG BUTUH DIBUNUH SEKALI-KALI, UNTUK MEWARASKAN OTAKMU. PARK!"
Jongin itu tidak pernah banyak bicara, dia hanya akan banyak bicara jika meyangkut sesuatu yang sudah pasti tidak jauh dari hal-hal mesum kesukaanya. Jongin itu pendiam, bukan karena agak introvert karena toh dia masih sanggup untuk berkoar-koar didepan kelas hanya untuk memaki Park Chanyeol yang seolah kehilangan separuh otaknya. Dan untuk hal satu itu… otak Chanyeol, Jongin rasa dia harus bertindak tegas karena karena otak tak lengkap Chanyeol yang katanya lebih pintar dari pada Jongin―yang sekarang tengah diragukan- menimbulkan masalah yang sangat krusial dan berbuah surat panggilan untuk kedua orang tua mereka, berdua.
"ya maaf, lagian kau kan tidak sendirin. Aku juga mendapat surat panggilan looh, kurang apa aku padamu jong?"
"KAU KURANG DIHAJAR PARK!"
"maaf―AKH, KALAU BAU BDSM JANGAN DISEKOLAH JUGA JONG! AKH! AKKHHH!"
Sementara ini Jongin coba tak perduli dengan celoteh masal Chanyeol serta teriakan mengaduhnya. Tidak ada hal lain yang dapat menyelamatkannya. Tidak ada sama sekali. Dia akan mati. Mati di sidang karena surat panggilan sekolah ini. hhhhh… kenapa Jongin jadi sangat putus asa hanya karena surat panggilan ini. padahal kan bukan sekali dua kali dia mendapatkan hal semacam itu.
Yah, memang bukan satu dua kali namun berpuluh-puluh kali dan yang selalu datang adalah kakak tertuanya dengan imbalan aneh bin ajaib yang selalu saja berimbas mengerikan bagi psikis sesorang Kim Jongin.
"YAAKKK PARK CHANYEOL! BERHENTI KAU! AKU BELUM MENGULITI PENIS BULUKMU! YAAKKKK!"
.
.
.
.
.
Sehun lagi-lagi terdaftar hanya sbagai penonton kesekian dalam konser teriakan makian serta umpatan antara dua orang itu. tidak apa-apa sih, dia memang tidak apa-apa tapi juga agak iri dengan dua orang itu. rasa iri yang manusiawi.
Bel pulang sekolah telah berkumandang sepuluh setik yang lalu dan Sehun kini bersiap-siap menghijrahkan beberapa onggok buku petak yang cukup membuat netto tasnya bertambah berat barangkali beberapa kilo. Lalu alih-alih memasukkan semua buku-buku yang katanya adalah jendela ilmu itu Sehun masih sempat melihat Jongin serta Chanyeol yang tampak kepayahan dengan wajah memerah serta dipenuhi keringat datang diambang pintu kelas.
Masing-masing siswa tak mengindahkan dua orang biang rusuh itu karena pemandangan seperti itu memang sudah terlalu biasa mereka lihat sampai muak bahkan. Namun, hal itu agaknya membuat Sehun sedikit tertarik karena yang sedang berpeluh serta menstabilkan seru nafasya didepan adalah Jongin. Orang yang selalu berhasil menyita atensinya. Secara telak.
"haaah, aku menyerah! aku sudah lelah, terserah mau kau apakan diriku ini Jong, aku percaya kok padamu."
Tempeleng sadis tanpa menunggu interupsi satu atau dua detik itu langsung menyambut kepala Chanyeol. Pemilik kepala itu hanya pasrah, dia tak cukup tenaga dan hanya mau istirahat sebentar dengan menselonjorkan tubuh bongsornya pada lantai kelas yang cukup dingin. Jongin yang melihat itu tampak berdecih tapi juga malah ikut duduk bersila disamping Chanyeol. Yah, mau bagaimanapun mereka memang satu spesies sama dengan keterbelakangan mental yang tak perlu diragukan apalagi dipertanyakan.
"ini―" sebuah botol air mineral tertangkap indra Jongin disertai suara tak asing dari seseorang yang belum lama ini selalu menyapanya. Sehun si manusia tak berpigmen namun baik hati. Teman barunya―mungkin.
"ah, terimakasih." Langsung diteguklah cairan bening tanpa rasa-rasa itu untuk meredakan padang gurun di batang tenggorokannya. Jongin tidak menyodorkan pada Chanyeol ya, dia lebih haus dari yang kalian bayangkan jadi dia gilas habis sebotol penuh tanpa bersisa setetespun.
"kau haus atau bagaimana heh!" Chanyeol memprotes, dia sudah menegakkan tubuhnya kini dan berdiri menjulang seperti halnya Sehun.
"kau pikir saja sendiri." Jongin membalas, botol kosong ditangannya kini dia remat lalu lempar serampangan ke arah meja-meja bisu yang merana karena sudah ditinggal oleh para pemiliknya.
Jongin itu kurang kerjaan, yah dia memang begitu. Hobi sampingannya saja nyampah dikelas, jika ditanya kenapa jawabannya pun diplomatis. Katanya supaya anak-anak yang piket punya bahan baku untuk dibersihkan. Yah, selalu begitu tapi jika gilirannya sendiri Kim Jongin agaknya berubah jadi ibu-ibu gila kebersihan yang akan selalu mendesiskan racun bagi siapapun yang menyampah bahkan seujung upil sekalipun.
"aku selalu memikirkan hal ini sejak waktu itu." ucapan ambigu Chanyeol tak ayal membuat Jongin yang masih statis dibawah karena duduk bersila dengan dapit dua makhluk dengan tinggi lumayan bak tiang bendera itu mendongak. Dia malas berdiri tapi duduk bersila dengan mendongak juga lebih melelahkan. "haaahhh, bicaralah dengan bahasa manusia Park!" Jongin berdiri, tepat ditengah keduanya.
Dua orang yang kini saling menautkan pandangan matanya, saling berbicara tanpa kata. Oh Sehun dan Park Chanyeol. Dalam jarak pandang mereka Jongin ada dimata keduanya, dengan sorot yang sama yang masing-masing tahu apa artinya bahkan tanpa perlu pembuka.
"kurasa sudah cukup jelas, kenapa? apa kau sangat khawatir?" balasan Sehun entah bagaimana membuat urat kesabaran Chnayeol berkedut singkat. Anak baru ini benar-benar sesuatu, pikir Chanyeol.
"kh.. begitukah?" Chanyeol kembali bertanya dengan senyum mencemooh yang tak ditutup-tutupi. Melihat itu tak ayal Jongin jadi bingung sendiri, sebenarnya apa yang sedang dua manusia tinggi itu bicarakan? Jongin kok jadi penasaran.
"jika tidak begitu mau bagaimana lagi? Apa aku salah bicara? Sepertinya tidak." Bahkan Sehun tak memerlukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terlontar darinya, dan ini terasa aneh bagi Jongin. Dua orang yang terlibat baku cakap ini seakan tidak saling mengenal sebelumnya tapi kenapa sangat akrab. Apa benar dugaannya jika murid baru itu diam-diam…
Menyukai Chanyeol? Heh, iyakah? Begitu?
Hahh, sekarang semua yang terjadi makin jelas. Waktu pertama kali di ruang UKS dan dia ditinggal sendirian terkunci disana, waktu murid baru itu menatapnya sengit dibatang pohon dekat jendela, waktu murid itu meracuni dirinya dengan roti isi kacang, dan waktu-waktu lain yang membuat Jongin semakin tak percaya bahwa ternyata selama ini dia hanya dijadikan batu sandungan untuk mempesona manusia yang baru saja memproklamirkan diri sebagai Homo itu. anjirr memang. Hhh… dunia kejam macam apa yang sedang Jongin tinggali ini. dunia macam apa!
"kau tidak―"
"oookeee… sebentar ya, ini seseorang bernama Kim Jongin yang tidak homo mau berbicara dulu." Jongin menyerobot Chanyeol yang sudah mau memuntahkan kalimat selanjutnya. "maaf sebelumnya." Ucapan maaf itu Jongin layangkan untuk Chanyeol yang mukanya jadi sebelas dua belas dengan botol berkerut yang tadi Jongin remas. Keruh sekali tanpa cahanya sedikitpun.
"sebenarnya aku tidak mau ikut campur dengan cerita mengharukan kalian ini, tapi bagaimanapun juga aku adalah teman serta merangkap sebagai sahabat sekaligus saudara Chanyeol yang kemarin secara tidak sadar telah menorehkan luka memanjang yang melukai perasaanmu. Oh Sehun."
Alis-alis indah milik Chanyeol menukik tajam mendengar kalimat Jongin barusan. Sehun bahkan hanya sempat mengerutkan keningnya sebentar sebelum sebuah senyum tipis terukir disana.
"aku tahu mungkin ini terlalu mengejutkan, tapi tenang saja aku tidak menghakimi kalian kok. Aku tidak akan berkomentar apapun tentang pilihan kalian tapi serius aku merasa jadi orang yang ada dipersimpangan jika seperti ini."
Chanyeol yang gemas tak urung berkoar. "Kau mabuk setelah minum air tadi Jong? Yang benar saja!?"
Berbeda dengan Chanyeol yang merespon kalimat panjang Jongin dengan pertanyaan aneh tak bermuara. Sehun seolah tahu segalanya di balik sinar matanya yang menyorotkan setitik kebahagiaan. Semu namun Sehun tahu semua ini akan membekas dan bertahan sebagai warna lain di dalam hidupnya. Warna cerah yang sangat indah.
"apasih, kau tidak tahu Park?! Astaga! Malang sekali nasib Oh Sehun." Mendramatisir keadaan, Jongin menatap Chanyeol seolah dia adalah tersangka utama dari sebuah pembunuhan massal tiga belas orang tak berdosa lantas ditanamnya jasad-jasad malang itu didalam pot-pot super ajaibnya lalu berubah jadi kacang ajaib yang pada akhirnya tetap saja jadi korban kunyahan mulut super manusia.
"kenapa nasib orang itu yang malang? Kau memihaknya?!" sejak Chanyeol mengakui perasaan ambigunya itu agaknya hati Chanyeol sedikit lebih sensitive daripada kulit bayi, dia agak terlalu sensitive jika Jongin selalu saja menyangkut pautkan pemuda berkulit tembok itu kedalam hubungan mereka.
"Aku prihatin Park, bagaimana bisa kau tidak sadar jika Sehun menyukaimu?"
Sunyi yang panjang menyambut kalimat Jongin barusan. Chanyeol menatap Jongin tak percaya, dan Sehun malah sudah menutup mulutnya yang tak tahan ingin terbahak karena adegan lawak barusan.
"apa? kenapa? Aku benar kan?" Jongin menuntut pembenaran karena dia merasa benar. Chanyeol mengusap pelipisnya yang tiba-tiba saja pening lalu Sehun yang sudah mengaku kalah itu akhirnya terbahak. Jongin itu terlalu polos atau bagaimana?
"kau benar-benar―haish, sudahlah yang jelas semua yang terjadi tidak seperti yang ada dalam tempurung kosongmu." Chanyeol kini beranjak, menghiraukan Sehun yang masih belum puas terbahak dan Jongin yang menatap Chanyeol tak terima. "Hoy, Tas mu!"
Lemparan tas Jongin itu ditangkap dengan sangat sigap oleh sang pemilik, kini dua orang itu telah membawa masing-masing tasnya. Mereka memutuskan menydahi saja drama murahan barusan dan pulang karea ini benar-benar sudah terlalu sore.
Namun, tidak begitu bagi Sehun. Setelah puas dengan tawanya dia masih tetap berdiri tegak ditempat. Mengamati dua orang yang kini sudah saling jitak entah karena apa, menghela nafasnya secara teratur lalu berkata.
"Kim Jongin." Jongin menoleh dan Chanyeol meraa terusik karena panggilan itu, entah bagaimana ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membawa kabut kecemasan bagi Chanyeol dalam nada suaranya, sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi. Pikir Chanyeol.
"hm, ada apa?" dengan santai Jongin balik bertanya,
"aku rasa aku memang menyukaimu, sangat menyukaimu."
Jongin tak bereaksi, suara itu seperti datang dari dunia lain. Aneh, begitu jauh dan seakan tak bisa diterjemahkan. Dalam diam yang menjelma menjadi hening itu tiga pemuda berdiri bak patung-patung indah Yunani. Keindahan mereka layaknya ilusi yang nyata.
Jika Jongin hanya menunjukkan sikap pasifnya maka Chanyeol diam-diam ingin tahu, dia ingin tahu bagaimana Jongin mengatasi ini. jika dirinya tetap bertahan ditempat sebagai sang sahabat maka bagaimana dengan anak baru ini. Sehun, dia bukan siapa-siapa. Hanya murid baru yang kebetulan terlibat beberapa kejadian tak masuk akal bersama Jongin. Dan lagi-lagi dia bukanlah siapa-siapa.
"kau tidak sedang mabuk, kan?" dengan wajah tertawa yang aneh Jongin bertanya, Sehun sendiri malah tersenyum. Dua tangannya yang sedari tadi dia masukkan kedalam saku celana beranjak keluar, terangkat dengan gerakan lembut lalu bersarang pada puncak kepala Jongin. Mengusapnya perlahan.
"tidak. Tentu saja tidak." Jeda sebentar sebelum tangan Sehun kini beranjak turun merangkum wajah Jongin yang berubah pias. "aku menyukaimu. Kim Jongin."
.
.
.
[Chapter 10]
-Finish-
.
.
a/n :
kyaaaa… omo omo! SEHUN! Kamu kok licik gitu sih, menyerang saat lawan tidak memiliki pertahanan… ahahah
terima kasih atas apresiasi kalian, untuk selanjutnya saya berharap kalian tetap memberi saya kritik serta saran yang membangun guna melanjutkan ff ini
Dan terakhir,
Terimah kasih sudah membaca!
.
.
[TianLian]
072502212017
