OH YURI PRESENT:

Son of Aphrodite, chapter nine (Kisahku berbeda dengan kisah mereka)

Cast:

-Byun Baekhyun as Son of Aphrodite

-Park Chanyeol as Son of Zeus

-Oh Sehun as Son of Poseidon

-Kim Jongin/Kai as Son of Hades

-Kim Jongdae as Son of Athena

-Kris Wu as Son of Athena

-Xi Luhan as Son of Ares

-Do Kyungsoo as Son of Nemesis and the other cast.

Genre:

Fantasy, Romance, Drama, School-Life, Fluffy

WARNING:

YAOI, BL(Boys Love)!

If you dont like YAOI, or the cast, or my pair, you can close this page, thanks.

Also, Typo(s) adn age switch

...

...

...

...

...

Baekhyun duduk diam. Kedua belah cherrynya terkatup rapat. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari tadi. Tetapi pandangan matanya serta raut wajahnya cukup untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Baekhyun bukanlah orang dengan pembawaan yang pendiam. Ia anak yang ceria dan aktif. Akan sangat mengherankan melihat Baekhyun hanya duduk diam tanpa bicara. Tetapi jika kalian mengetahui apa yang dipandanginya sedari tadi, mungkin kalian akan mengerti arti raut gelisahnya itu.

"Hei, hei, cuci dulu dagingnya baru dipotong!"

"Apa ini? Memotong sayur saja kau tidak becus, huh!"

"Astaga, Kkamjong, apa yang dapat kita makan jika berasnya lebih banyak kau tumpahkan di wastafel itu?!"

"Ya! Berhenti mendorongku! Hei, berhenti, ah!"

BRUK!

PRANG!

Park Chanyeol, Oh Sehun dan Kim Kai. Ketiga namja itu mungkin pandai bermain anggar, kuat, tangkas dan bertubuh kekar. Tetapi berurusan dengan kompor dan panci? Tidak sama sekali. Sangat, sangat, buruk.

Baekhyun menatap panci berisi air-yang sekarang airnya sudah menggenang di lantai- itu dengan pandangan miris. Keningnya mengernyit ngeri melihat cara Chanyeol memotong-motong daging. Keadaan dapurnya saat ini tak jauh berbeda dari keadaan di area medan perang. Berantakan, kacau, tidak teratur. Tepat sekali.

Transformasi dapur Baekhyun ini dimulai dari Chanyeol, Sehun dan Kai yang melarang Baekhyun memasak. Mereka beralasan bahwa mereka khawatir Baekhyun akan ceroboh hingga nanti jarinya akan teriris pisau, terciprat minyak panas, dan setumpuk alasan-alasan konyol lainnya. Maka Baekhyun hanya duduk dan memperhatikan panci-panci yang berjatuhan, potongan-potongan sayuran dan daging yang sedikit berceceran di lantai dan ditambah genangan air.

"Lihat, ini sudah hampir pukul sembilan dan kita belum juga makan malam. Ini gara-gara kalian!" Tuduh Kai sembari mendelik kesal pada Chanyeol dan Sehun. Kedu anamja itu jelas tidak terima disalahkan seperti itu.

"Aku? Kau bahkan tidak mencuci beras dengan benar!" Ungkap Sehun. "Lagipula bukan aku yang memotong daging seperti hendak memenggal kepala orang" Cibirnya melirik Chanyeol. Namja dengan mata sewarna langit itu meradang.

"Kau membawa panci berisi air saja tidak becus! Setidaknya dagingnya terpotong, bukan?" Ucap Chanyeol membela diri. Ketiga namja itu terus berdebat sampai henti. Kepala Baekhyun pening dan telinganya sakit mendengar celoteh dan bantahan yang tiada hentinya ini.

"Hyung-deul! Bagaimana jika aku saya yang memasak agar kita dapat makan dengan cepat?" Usul Baekhyun. Ketiga namja itu saling melempar pandang. "Yah, kurasa jika kita tidak ingin makan malam yang merangkap menjadi sarapan, kita memang harus menyuruh Baekhyun yang memasak" Aku Sehun. Baik Chanyeol dan Kai tidak ada yang membantah.

Dan Baekhyun mulai memasak. Untuk menyibukan anak-anak Tiga Besar itu, Baekhyun menyuruh mereka membersihkan hasil kekacauan mereka tadi. Jadi sementara Baekhyun sibuk dengan kompor dan bahan makanan, Kai berkutat dengan wastafel yang berisi beras, Sehun yang berteman dengan pel dan ember sedangkan Chanyeol menyapu.

"Maaf aku hanya membuat sup saja, sebab.. eum.. sayurannya banyak yang rusak sehingga beberapa tidak dapat dimasak dan potongan dagingnya ada yang kekecilan sehingga kalau dimasak yang lain kemungkinan akan hancur" Ungkap Baekhyun sambil tersenyum kecil.

"Ah iya, tidak mengapa, Baek. Ini saja sudah cukup" Ucap Chanyeol. Keempat Demigod itu makan dengan lahap. Setelah piring-piring sudah dicuci, Chanyeol, Sehun dan Kai pamit pulang. Baekhyun lalu mengganti bajunya dengan piyama. Tidak begitu lama setelah ia merebahkan tubuhnya di kasur, Baekhyun sudah tidur dengan lelap.

...

Baekhyun mengerjap beberapa kali. Dan yang dilihatnya adalah bagian luar dari perpondokan. Tetapi mengapa tidak seorang pun yang lewat ia kenali? Mengapa terasa berbeda?

Baekhyun berjalan mengelilingi pondok demi pondok. Ia melihat pondok Aphrodite. Pondoknya. Pintu kayu itu sedikit terbuka. Baekhyun mengernyit heran. Perlahan ia berjalan masuk ke pondok itu.

Dilihatnya seorang namja mungil sedang berdiri di pinggir kasur. Sebuah tali terjuntai didepannya. Yang membuat Baekhyun merinding adalah bentuk tali tersebut menyerupai bentuk tali yang digunakan untuk.. gantung diri.

"Hiks.. Aku tidak bisa.. Aku gagal.. Tugas itu tidak akan pernah bisa selesai.. Hiks.. Aku mengecewakan Mama, aku membuat mereka bertengkar, aku.. aku ini perusak.. Hiks.. Lebih baik aku pergi saja.." Ucap namja itu lirih. Ia mulai meraih tali itu. Kepalanya ia masukan ke lubang yang ada diujung simpul tali tersebut.

Baekhyun menjerit melihat bagaimana tubuh mungil itu mengayun kedepan lalu berayun-ayun pelan. Kakinya tidak menapak di lantai. Matanya membelalak tapi tatapannya kosong. Baekhyun berlari ke tubuh mungil itu. Tangannya terjulur hendak mengurai simpul itu agar ia dapat menurunkan namja itu. Tetapi ia tidak bisa. Tangannya bergerak menembus tali dan namja itu. Ia tidak dapat menyentuhnya.

Baekhyun berlari keluar. Hendak mencari bantuan untuk namja itu. Tetapi tiba-tiba pandangannya memburam. Latar tempat itu seketika berubah. Baekhyun berada di halaman belakang sekolah. Ia melihat sepasang namja dengan tinggi badan yang kontras. Bulu kuduk Baekhyun merinding melihat si tinggi mengacung-acungkan sebilah pisau kehadapan yang lebih pendek.

"Katakan, Se-kyung, mengapa kau lebih memilih bersama dengan dia dibanding denganku? Apa yang dia miliki sehingga ia lebih unggu dariku?" Tuntut si tinggi. Se-kyung hanya diam. Kepalanya menunduk dalam menyembunyikan tetesan-tetesan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.

"Jangan hanya diam saja, Se-kyung! Katakan padaku!" Teriak si tinggi yang sudah mulai tidak sabar. "Baiklah" Ucapnya lagi. Pandangan matanya menjadi dingin dan datar. "Baiklah. Jika begitu. Kurasa jika aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain pun tidak akan bisa" Gumamnya lirih. Se-kyung mendongak heran. Dalam waktu sepersekian detik, pisau yang dipegang si tinggi sudah menancap dalam di perut Se-kyung. Mulut Baekhyun membuka. Matanya melotot tapi tidak sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

Baekhyun berlari. Terus berlari. Tetapi kemana pun ia pergi yang diliatnya hanyalah kematian para keturunan Aphrodite. Kakak-kakaknya dari masa lampau. Hati Baekhyun pedih melihat nasib Kakak-kakaknya. Baekhyun menyadari meski keturunan Aphrodite membunuh dirinya sendiri, perpecahan itu tetap tidak akan terelakan. Keturunan Tiga Besar akan saling menyalahkan, lalu bertengkar. Bertengkar dan bertengkar. Pada akhirnya mereka akan berperang dengan saudara mereka sendiri.

Kaki Baekhyun melemas. Ia terduduk di rerumputan. Tubuhnya gemetar meski udara berhembus hangat. Kepalanya ia sembunyikan diantara kedua lututnya. Tiba-tiba ia merasakan usapan lembut di pucuk kepalanya. Ia mendongak. Ia melihatnya. Seorang wanita cantik jelita yang amat menawan. Itu Aphrodite. Ibunya.

Aphrodite ikut berjongkok disebelah Baekhyun. Diletakkan kepala putranya itu kepangkuannya. Baekhyun memejamkan matanya.

"Kau pasti bertanya-tanya dalam hati.. Mengapa dulu Mama sampai hati untuk menduakan Suami Mama sendiri, Haphaestus. Kau juga mungkin membenci Mama karena menyebabkan kalian semua harus terseret dalam kutukan yang dibuat karena kesalahan Mama ini. Ah, aku bahkan tidak pantas dipanggil Mama.." Ucap Aphrodite. Pandangannya sendu penuh kesedihan. Baekhyun membuka matanya. Ia memeluk Aphrodite.

"Tidak. Aku tidak membenci Mama. Tidak akan pernah. Mama aku berjanji akan berusaha semampuku untuk menghapuskan kutukan yang mengikat kita semua. Mama tenang saja" Bisiknya pelan. Aphrodite balas memeluk putranya tersebut.

"Sekarang dengarkan aku, Byun Baekhyun. Aku menunjukan semua ini bukan semata-mata untuk membuatmu takut. Ini adalah petunjuk bagimu. Kau telah melihat kesalahan-kesalahan yang diperbuat Kakakmu dulu, dan kau harus tau dibagian mana kau harus memperbaiki kesalahan itu. Pelajari dengan hatimu dan aku yakin kau akan berhasil" Ucap Aphrodite. Baekhyun mengangguk. Seketika pandangannya menjadi memburam.

...

Untuk kedua kalinya, Baekhyun terbangun karena mimpinya dengan keadaan berkeringat seperti ini. alih-alih memilih untuk berjalan di malam hari seperti yang dilakukannya dulu, Baekhyun meraih sebuah buku dan pena. Ia mulai menulis segala yang dilihatnya di mimpinya tadi. Setiap detail dan rinciannya ditulis dengan seksama.

"Ramalan itu.. Ramalan Delphin.. Tugas pertama, mencari sesuatu yang hilang dari keturunan Aphrodite, lalu menghidupkan bunga yang telah layu dan melakukan yang tidak dapat dilakukan keturunan Aphrodite lainnya. Apa maksudnya?" Tanya Baekhyun pada dirinya sendiri. Baekhyun mulai menggigiti bibir bawahnya, tanda jika ia mulai gelisah. Ia mengingat-ingat kembali mimpinya tadi.

Ia melihat seorang keturunan Aphrodite yang saking frustasinya sehingga ia nekat membunuh dirinya sendiri. Baekhyun mengingat bagaimana hal itu membuah keturunan Tiga Besar saling menyalahkan satu sama lain hingga hal tersebut memicu peperangan. Perang tersebut membuat semua orang sedih, kesakitan dan menderita. Tapi si keturunan Aphrodite yang bunuh diri tersebut tidak mengetahui hal tersebut. Ia meninggalkan dunia ini dengan alasan agar segala sesuatu menjadi lebih baik, padahal tidak. Ia hanya memperkeruh suasana.

Menurut Baekhyun keturunan Aphrodite yang itu sangatlah egois. Ia tidak memikirkan perasaan orang-orang yang ditinggalkannya. Ia egois. Keturunan Aphrodite yang lainnya juga begitu. Ia melihat Se-kyung meninggalkan seorang keturunan Tiga Besar setelah ia merasa bosan dengan pria tersebut.

"Benar, mereka semua sangat egois.." Ucap Baekhyun. Tiba-tiba matanya membelalak. "Itu dia! Itu yang harus dikembalikan! Sikap tulus dan mementingkan perasaan orang lain!" Ucapnya. Baekhyun tidak perduli suaranya yang keras dapat membangunkan penghuni lainnya.

"Tapi bagaimana jika aku tanpa sadar bersikap egois? Bagaimana jika aku berlaku seperti Se-kyung di kemudian hari..?" Lirihnya pelan. Baekhyun takut. Ia takut mengulang kembali segala kesalahan yang telah dilakukan kakak-kakaknya dulu. Ia takut mengecewakan Ibunya dan Daewoo. Terlebih lagi.. Baekhyun tidak ingin menyakiti perasaan Chanyeol, Sehun mau pun Kai. Ketiga namja itu sangat berharga bagi Baekhyun. Baekhyun tau mereka semua menyimpan perasaan istimewa untuk dirinya, tetapi Baekhyun tidak tau bagaimana seharusnya ia menanggapi hal tersebut.

Sebab Baekhyun tidak tau siapa yang seharusnya dipilihnya. Ia takut ia akan seperti Se-kyung yang berganti-ganti pasangan setiap kali ia merasa bosan. Se-kyung memanfaatkan paras cantiknya pada pria-pria lain. Dan itu membuat banyak hati tersakiti. Hati pria-pria yang ditinggal Se-kyung akan hancur. Hancur, remuk dan patah hati tidak akan sembuh dengan mudah. Itu seperti membuat layu sebuah tanaman. Dibutuhkan banyak perhatian dan kasih sayang untuk membuat tanaman tersebut dapat tumbuh baik kembali.

"Ah.." Jerit Baekhyun pelan. Ia mendapatkannya lagi. "Hati yang remuk sama seperti bunga yang layu.."

Baekhyun sibuk dengan kegiatannya sehinnga tidak menyadari sepasang mata mengintip melalui jendela. Namja tersebut tersenyum lega melihat Baekhyun.

"Aku benar-benar berharap kau dapat menyelesaikan tugas-tugasmu, Baek.." Ucap Daewoo lirih.

To Be Continue

Siap-siap ya baca bacotan aku di bawah ini wkwk. Cus, to the point aja ya.

Maaf, maaf, maaf, maaf banget karena lama sekali FF ini terabaikan. Maaf banget. Niatnya aku mau nulis dua chapter sekaligus mengingat ini liburan kenaikan kelas /yang sudah hampir selesai/ tetapi TERNYATA laptop aku ngadet, ga mau hidup sama sekali dan baru selesai di servis-_-

Dan lagi, melihat respon kalian di chapter-chapter yang lalu, jujur aja itu membuat semangatku menulis jadi menurun. Bukannya aku haus review atau gimana, tapi yah.. gimana ya, aku jadi ngerasa usahaku nulis disela-sela sekolah dan setumpuk tugas itu jadi ga berharga sama sekali.

Terus, alasan lainnya adalah.. mmh.. aku tau ini childish banget, tapi aku baper liat kiss scene Chanyeol :'v bikin hati aku remuk dan nambah semangatku untuk nulis jadi hilang ditiup angin. Belum lagi rumor sana sini yang terbang bebas bagai burung di langit aja.

Udahlah ya. Anyway, karena aku cukup kecewa dengan repon yang tiap chapter makin menurun, aku mutusin FF ini bakal taman dalam satu atau dua chapter lagi aja /kalo aku ga malas duluan dan jadiin ini discontinue muehehe/

Malam ini Yuri kesempatan update bareng author-author Chanbaek yang lain, ada Pupuputri, Princepink, Baekbychuu, RedApplee, Ichativa, Kang Seulla, Railash61, Flameshine, Sayaka Dini, Uchanbaek, Sebut Saja B, JongTakGu88 dan Cactus93. Jangan lupa check story mereka ya

Sampai bertemu di chapter depan^