Chapter 10 update !
Balasan review :
Ichi Stida Otoejinsei : Hahaha… Len belum melupakan Rin kok. Tenang saja… tapi memang sudah sekitar 4 bulan setelah Rin meninggal.
Author : Kaito, Kiyoteru, jangan bengong saja ! pegangin Rin ! kalian mau ruang ini menjadi abstrak ?!
Len & Miku : di pojokan, jongkok, menatap horror kearah Rin "Kowai…"
Minna, terima kasih atas dukungannya selama ini.
Dukungan kalian sangat membuat Author bersemangat untuk tetap melanjutkan fic ini.
Well, Happy Reading~
Fandom :
Vocaloid
Author :
MC Shirayuki
Genre :
Romance / Hurt / Comfort
Rating :
T
Pairing :
Kagamine Len and Hatsune Miku
Warning :
AU, Typo, OOC, Gaje
DON'T LIKE ? DON'T READ !
Kagamine Len : 16 tahun
Hatsune Miku : 15 tahun
Shion Kaito : 17 tahun
Megurine Luka : 16 tahun
IA : 16 tahun
Akaito : 16 tahun
Nero : 16 tahun
Luki : 16 tahun
Kaiko : 15 tahun
Chapter 10 : Enemy Not Assured
2 bulan setelah kedatangan ketiga murid baru. Seorang siswi yang mempunyai rambut berwarna silver yang panjang sepinggang dengan rambut bagian depannya yang di kepang, pony yang melebihi alisnya dan mempunyai mata berwarna sapphire. Siswi tersebut sangat populer di sekolah karena kecantikannya. Bukan hanya cantik, siswi yang berasal dari keluarga yang merupakan salah satu perusahaan besar yang sedang maju tersebut juga terkenal akan kepintarannya. IA, nama siswi tersebut. Siswi tersebut sedang berjalan di salah satu lorong sekolah. Tanpa di sengaja, dia mendengar percakapan antara 3 murid laki-laki yang yang berasal dari kelas yang berbeda kelas.
"Hey, Nero kamu beruntung sekali. Bisa sekelas dengan Miku, anak pindahan itu." Seorang siswa yang mempunyai rambut berwarna pink dan mata berwarna sapphire memulai pembicaraan.
"Ya, aku memang beruntung bisa sekelas dengannya. Apalagi aku duduk berdekatan dengannya. Sayang sekali kau Luki, Akaito, kalian berada di kelas yang berbeda denganku." Kata seorang siswa yang mempunyai rambut berwarna blonde dan mata berwarna sapphire.
"Kamu membuatku iri saja... Aku juga ingin duduk berdekatan dengannya. Dia itukan cantik dan pintar." Seorang siswa yang mempunyai rambut berwarnamerah dan mata berwarna ruby mendengus kesal.
"Dia juga gadis yang baik."
"Dia itu seperti gadis impian."
"Ya. Belakangan ini banyak laki-laki yang membicarakannya."
Perlahan, suara ketiga murid itu mulai tidak terdengar dengan jelas. IA yang mendengar percakapan itu, emosinya langsung meledak-ledak.
"Miku lagi, Miku lagi. Kenapa dia yang selalu dibicarakan oleh para siswa belakangan ini ? Miku cantik, Miku pintar, Miku baik. Apa yang Miku miliki namun aku tak miliki ? aku rasa tidak ada. Aku jauh lebih sempurna darinya." IA berkata kesal dalam hatinya sambil berjalan menuju kelasnya.
Saat pelajaran di mulai, IA sama sekali tidak memperhatikannya. Dia sedang sangat kesal. Lalu tanpa sengaja dia melihat Luka yang duduk tepat di sebelahnya. Terlihat, Luka seperti memperhatikan sesuatu dengan ekspresi yang sulit dimengerti oleh IA.
"Lho, Luka kenapa ? seperti sedang memperhatikan sesuatu. Ekspresinya menunjukkan sesuatu yang sulit untuk diartikan. Seperti tersirat. Ekspresi apa itu ? memangnya apa yang sedang dilihatnya ?" IA berkata dalam hatinya sambil melirik apa yang sedang dilihat oleh Luka. "Ha ? Len ? Luka memperhatikan Len ? tidak salah ? tapi kenapa dengan ekspresinya ? oh iya, akhir-akhir ini Len kan dekat dengan Miku semenjak mereka pindah kesini. Apa Luka menyukai Len ? kalau benar… hal ini bisa kumanfaatkan. Hm… aku jadi punya ide bagus untuk menyingkirkan Miku." IA berbicara dalam hati dengan memasang ekspresi liciknya. IA mulai menyusun sebuah rencana permainan untuk Miku, yang pastinya akan membuatnya sangat menderita. IA mulai mendapatkan ide dan mulai menyusunnya bagaikan sebuah maze yang akan sangat sulit untuk di lalui. "Hahaha… aku rasa rencanaku sudah sangat bagus. Hanya tinggal mencari kesempatan yang bagus untuk dapat melaksanakannya." IA tersenyum licik.
1 jam kemudian.
Teng, Teng.
Bel istirahat berbunyi. IA memulai percakapan dengan Luka, saat Luka ingin pergi ketempat Miku.
"Luka…"
"Ada apa IA ?" Luka menoleh kearah IA dan berbicara dengan nada datarnya.
"Oh iya, tadi aku lihat kamu melamun saat pelajaran. Kamu melamunkan apa ?"
"Ha ? bukan apa-apa kok" Luka berusaha berbicara dengan nada datarnya walaupun tadi dia sempat terkejut oleh pertanyaan yang diberikan oleh IA.
"Huh, dasar anak sombong yang tak tahu diri ! berani sekali dia membohongiku. Dia pikir aku bodoh apa ? Baik… tidak masalah. Kalau dia tidak mau memberitahu, akan aku paksa dengan kata-kata."
"Jangan bohong. Kamu….. melamunkan Len ya ?"
Luka sangat terkejut dengan kata-kata IA. Luka tak bisa menjawab, dia hanya bisa diam.
"Dia ini… kenapa sangat ingin mengetahuinya ? Apakah hal tersebut penting baginya ? Apakah hal tersebut akan menguntungkan baginya ?" Luka yang memang pada awalnya merupakan seorang yang tidak terlalu mempercayai seseorang, hanya bisa mengambil langkah terdiam. "Aku ingin tahu apa yang akan dikatakan olehnya selanjutnya."
"Menyebalkan sekali anak ini. Berani-beraninya dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah berdiam diri seolah tidak mendengar pertanyaanku barusan. Tapi, dari sikapnya sudah dapat dipastikan, jawaban dari pertanyaanku adalah ya."
"Sudah kuduga. Kamu… apa kamu menyukai Len ?"
"Tahu dari mana dia ? Apakah dia hanya menebak saja ? Hanya dari sebuah tatapan, dia dapat mengetahuinya ? Chk, hebat juga dia."
"Masih belum mau memberitahu ya ? Kita lihat, siapa yang akan bertahan sampai akhir. Aku yang dapat membuatmu membuka suara. Atau kau yang mampu membuatku menyerah."
IA menggerakkan kedua tangannya kearah kedua tangan Luka. Lalu, dia menggenggam halus tangannya. IA menatap Luka lekat-lekat dengan tatapan yang lembut. Dia ingin membuat Luka dapat percaya kepadanya.
"Lihat mataku. Tatap lekat-lekat mataku. Apa yang dapat kamu lihat ? apakah aku terlihat berniat mempermainkanmu ?"
"Tatapannya itu… entah kenapa aku dapat percaya kepadanya. Tatapan yang begitu lembut. Aku rasa dia tidak berbohong padaku."
Kepala Luka tertunduk, lalu tampak beberapa bulir-bulir air mata jatuh di pipinya.
"Gotcha. Akhirnya kamu mau menunjukkan kepadaku perasaanmu yang sesungguhnya. Katakan padaku. Katakan padaku kalau kamu benar-benar menyukai Len. Ayo, katakan padaku yang sesungguhnya. Jadi, aku bisa menjalankan rencana awalku."
"Ya… Aku memang menyukai Len. tapi, aku tidak mungkin menghancurkan sahabatku sendiri dengan menyukai orang yang dia sukai" Luka berkata lirih sambil mengalihkan perhatian matanya menuju ke lantai tempatnya berpijak. Dia terdiam sejenak. Lalu mengalihkan perhatiannya kembali kearah IA.
"Hahaha… ternyata tak sesulit yang aku kira. Ternyata sangat mudah membohonginya. Hanya perlu ber-acting yang menyakinkan, dia sudah percaya kepadaku. Baiklah… kita mulai permainan ini…" IA tertawa licik di dalam hatinya.
"Luka… kamu bisa mendapatkan hati Len. Kamu tidak ingin semakin merasakan sakitnya patah hati karena terus-menerus mengalah kan ?. Lihat, sudah ada Kaito yang selalu berada di sisinya. Lalu untuk apa Len ? mungkin Len hanya untuk mainannya saja. Kalau dia sahabatmu, harusnya dia menyadari bahwa kamu menyukai Len. Jadi, kamu harus berusaha mengambil hati Len. belum tentu jika Miku menyukai Len, maka Len juga akan menyukai Miku. Aku akan membantumu supaya bisa mendapatkan hati Len. Bagaimana ?"
Bagai tertimpa beban yang sangat berat, Luka terdiam sejenak. Tangan kanannya perlahan tertuju kearah dadanya. Dia menempelkan tangannya di dadanya untuk merasakan detak jantungnya. Perlahan tangannya mengepal.
"Apa yang dia katakan ada benarnya juga. Sakit sekali… sakit sekali rasanya patah hati. Perih sekali rasanya melihat orang yang kusukai dekat dengan sahabatku sendiri. Cukup sudah bagiku untuk selalu mengalah. Saat pertama kali aku bertemu Miku dan Kaito, sebenarnya entah mengapa aku menyukai Kaito. Aku merasa begitu mengenal, dekat dan nyaman bersama dengan Kaito. Namun… setelah melihat hubungan Kaito yang begitu dekat dengan Miku, Kaito yang begitu perhatian dengan Miku, tatapan Kaito untuk Miku, aku mundur. Aku membiarkan hatiku terus digerogoti oleh perasaan sakit hati. Walaupun aku menjadi sahabat mereka, tetap tidak bisa bagiku untuk mendapatkan hati Kaito. Hingga akhirnya, karena merasa hatiku sudah tak tersisa, aku berubah menjadi seorang yang dingin dan jarang mempunyai perasaan. Namun, setelah aku bertemu dengan Len, aku merasa pecahan hatiku perlahan menyatu kembali dengan perekat cinta. Apa Miku juga menginginkan hati Len, setelah dia memiliki hati Kaito ? Apa dia ingin semua lelaki menyukainya ? mencintainya ? Cukup sudah dengan semua ini. Aku tidak akan mundur kali ini."
"Hm… sepertinya kamu benar juga. Kalau dia memang sahabatku, harusnya dia dapat memahamiku. Aku akan merebut Len dari Miku." Luka tersenyum licik.
"Wah… benar-benar sebuah jawaban yang memuaskan. Bagus… bagus… umpan telah dilempar. Buruan telah berhasil memakan umpan. Tinggal menaruh buruan di tempat di mana mangsa berada."
Tak lama, Miku datang menghampiri Luka. "Hm… maaf, apa aku mengganggu percakapan kalian ?"
"Sama sekali tidak" IA tersenyum kearah Miku.
"Ada apa Miku ?"
"Luka, kekantin yuk… sama Len dan Kaito."
IA menyikut tangan Luka. "Luka, kamu ikut saja."
"Ya, aku ikut"
"Ah, apa IA mau ikut ?" Miku menatap IA.
"Ah, tidak usah. Kalian pergi duluan saja, nanti aku akan kekantin sama Kaiko."
"Oh, ya sudah. Kami duluan ya…" Miku berjalan meninggalkan meja IA.
Miku dan Luka pergi menghampiri Len dan Kaito. Len, Miku, Luka dan Kaito berjalan bersama keluar kelas. Tak lama, IA tersenyum. "Hahahahaha… Rasakan kamu Miku. Perlahan… temanmu sendiri yang akan menghancurkanmu. Kalau kamu tahu, perlahan namun pasti, hatimu akan terasa sakit dan hancur berkeping-keping hingga menjadi pecahan yang terkecil." IA berkata dengan licik di dalam hatinya.
TBC
Jika ada yang bertanya-tanya. Apakan Luka ada hubungannya dengan Kaito ? jawabannya, ya ada. Tapi itu akan di ketahui nanti~ hehehe…
Tapi kalau ada yang bertanya-tanya apakah Luka nanti akan bersama dengan Kaito ? jawabannya, tidak. Kaito hanya cinta Luka yang sudah lalu.
Well, minna mind to review ?
Omake~
Chapter 1 :
Len berdiri dan dengan sekuat tenaga dia berlari keluar kamarnya untuk mencari kakaknya. Tubuhnya semakin terasa sakit seiring ia terus memaksakan dirinya untuk berlari. Ia sempat beberapa kali berhanti berlari dan menyandarkan pundaknya pada tembok yang berada di sampingnya. Dengan tidak memperdulikan keadaannya sekarang, Len terus berlari. Dia mendobrak dan melihat satu-persatu ruangan di rumah sakit untuk mencari sosok yang di carinya, kakaknya, ya kakaknya.
Ruang operasi
Brakk
Dokter : (Sedang yang sedang membedah pasien menoleh kearah pintu tidak berdosa yang telah didobrak) "…"
Pasien : "Si-siapa kamu ? apakah kamu adalah malaikat pencabut nyawa ?"
Plakk
Dokter : "Kamu ini kan sedang operasi ! ngapain sadar ?!"
Chapter 2 :
Saat berada diruang praktek, di kelompok Len, Rin hanya melihat karena tak begitu bisa. Sementara Len yang bekerja, karena bosan Rin iseng mencampurkan beberapa bahan kimia kedalam sebuah tabung dan…..
DHUARR !
Terjadi ledakan yang kecil, hanya meyebabkan Len, Rin dan sekeliling mereka tertutup asap hitam.
Merekapun bertengkar sementara murid yang lain hanya sweatdrop melihat mereka. Tak lama, bel istirahat berbunyi
Teng, Teng
Kiyoteru berjalan menuju ruang guru
Ceklek
"GYAAAAA…..!"
"SETAANN…..!"
BUK
BRAK
TRAK
DUAK
JLEB
Beberapa guru wanita banyak yang pingsan karena melihat wajah abstrak Kiyoteru. Sementara, wajah abtrak Kiyoteru makin abstrak karena mendapat hadiah lemparan penggaris besi, tong sampah, jangka, kamus bahasa Inggris, kamus bahasa Jepang, kamus bahasa Jerman, kamus bahasa Prancis, kamus bahasa Mandarin, garpu, pisau*? dan lain sebagainya.
Poor Kiyoteru~
Chapter 4 :
"Bercanda, bercanda. Aku hanya bercanda. Kamu mau kan mengajariku ? karena aku dulu cuma belajar biola sebulan, sebelum…" ekspresi Len perlahan berubah.
"Oh, tidak apa-apa. Mari, kita mulai latihannya." Rin mengulurkan tangannya kearah Len.
"Iya… terima kasih ya Rin…" Len tersenyum dan meraih tangan Rin.
"Ya, sama-sama" wajah Rin merona.
Akhirnya Rin pun mengajari Len.
Ruang Musik
Jreng~
Jreennggg~
Jreng !
SeeU dan seluruh murid –kecuali Len- menutup telinga mereka rapat-rapat untuk menyelamatkan telinga mereka dari bencana.
"Ini terakhir kalinya aku mengadakan ujian mengambil nilai musik untuk kelas dengan Len di dalamnya. Aku tidak mau ada murid yang tuli, cacat pendengaran atau bahkan menderita gangguan jiwa." Batin SeeU.
Jam menunjukkan pukul 15.00. Vocaloid International High School terlihat sepi dari luar karena hampir semua murid sudah pulang. Yang masih ada disekolah hanya murid-murid yang sedang melaksanakan ekskul, beberapa guru dan penjaga sekolah. Di sebuah lorong yang sedang sepi, dapat terdengar dengan jelas alunan melodi gitar yang indah dari ruang musik.
"Bagus, kamu sudah cukup mahir memainkannya" kata Rin sambil menepuk bahu Len.
"Iya, aku senang bisa belajar main gitar. Ternyata bermain gitar tidak sesulit yang aku bayangkan" Len tersenyum sambil melihat gitar di pegangan tangannya.
"Gampang dari Hongkong ?! tadi saja hampir semua teman-teman mengalami cacat pendengaran." Batin Rin.
Chapter 6 :
Tapi, seakan tubuhnya mati rasa dan kaku. Rin hanya bisa terpaku dalam diam hingga…..
BRUUUGGHHHHHH!
Tabrakan pun tak dapat dihindari, dalam sekejap tubuh Rin terpental karena menghantam mobil tersebut. Mata Len membulat. Dia hanya bisa terpaku, menatap tubuh Rin yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan luka di hampir seluruh badannya dan cairan kental berwarna merah yang keluar dari lukanya. Sementara mobil yang menabrak Rin, yang sempat berhenti kini melaju kembali dengan cepat seakan tidak terjadi apa-apa. Dengan tubuh yang gemetaran, Len berjalan menghampiri Rin. Len yang tak kuat berdiri lagi, jatuh berlutut di sebelah Rin. Linangan air mata yang tak dapat terbendung pun jatuh membasahi pipinya.
"Ri…. Rin ! bangun Rin ! Maafkan aku ! aku tidak dapat menyelamatkanmu dari tabrakan. Aku memang tidak berguna ! kumohon Rin, kumohon… jangan tinggalkan aku. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu… RIN…"
Tak jauh dari sana lewat beberapa anak SMA.
"Eh, lihat deh"
"Apa ?"
"Itu… ada seorang pria yang menatap wanita yang mempunyai banyak luka di tubuhnya. Apa perempuan itu mengalami kecelakaan ?"
"Bukan bodoh ! mereka sedang ber-acting. Kan sangat jelas dari wajah sang aktor yang begitu tampan."
"Aktor baru ya…"
Jepret
Jepret
Akhirnya, bila ada yang lewat tak jauh dari mereka, pasti langsung mengambil handphone dan mengambil gambar Len. Itulah sebabnya mengapa tidak ada satu orang pun yang menolong atau membantu Len.
Poor Len~
Chapter 7 :
Kemudian Mayu berjalan pulang, sementara Len hanya diam sambil menatap langit. Siang pun perlahan berubah menjadi sore. Sekarang sudah senja, matahari sudah hampir terbenam. Perhatian Len teralihkan ke senja. Dia menatap menerawang ke masa lalu. Masa dimana dirinya dan Rin untuk pertama dan terakhir kalinya melihat senja. Len tersenyum miris. Namun, perlahan senyumnya berubah menjadi senyuman tulus.
"Hey, Rin… kamu bisa melihatnya ? senja yang indah bukan ? aku harap kamu juga bisa melihatnya. Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya… sampai jumpa, Rin…"
Tak jauh dari Len, lewat seorang ibu dan anaknya.
"Ibu, siapa kakak tampan itu." Anak tersebut menunjuk kearah Len.
"Jangan dipedulikan nak, dia hanya orang gila yang entah sedang berbicara dengan siapa."
"Tampan, tampan kok gila ? kan sayang…" Batin sang anak.
Thanks for read
Mind to review ?
