CHAPTER 10
Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others
Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)
Rate : T
Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.
Annyeong, chingudeul :D. sbelumnya saya minta maap krn chap 9 nya puendek bgt. ini saya panjangin dikit lg :p. prjalanannya yunjae emg agak lambat. yunpa mulai keganggu perasaannya (?) tp dia blm nyadar. pelan tp pasti dia bkl ngakuin cintanya sm jaema. ya, smoga bntr lg :D.
###
"Hentikan!"
Yunho membuka kedua matanya dengan nafas terengah-engah. Dengan cepat dia duduk dan menoleh ke sekeliling. Dia ada di tempat tidurnya sendiri. Kondisi kamarnya masih sama. Tidak ada Jaejoong yang menindih tubuhnya dan membisikkan kata-kata maksiat itu di telinganya. Dia menekan jantungnya yang berdebar kencang, keringat dingin membasahi punggungnya. Ternyata itu semua hanya mimpi. Tapi kenapa mimpi itu terasa begitu nyata? Dia benar-benar merasa Jaejoong ada bersamanya tadi. Dan yang dia tidak habis pikir, kenapa dia bisa bermimpi mengerikan seperti itu? Kenapa Jaejoong bisa memberikan pengaruh sedalam ini padanya?
Dia sedang melihat jam di mejanya yang menunjukkan pukul 7 malam ketika tiba-tiba terdengar suara ringtone ponselnya yang mengejutkannya.
###
Yunho memandang sekeliling di tempat dia berada sekarang. Beberapa waktu yang lalu Siwon menelepon dan menyuruhnya datang ke tempat itu. Pada awalnya dia tidak mau mengingat hari sudah malam. Tapi tiba-tiba dia mendengar teriakan Yoona dan itu membuatnya khawatir jadi dia langsung pergi seketika itu juga. Di depannya ada sebuah bangunan kosong dan tidak terawat. Dia masuk ke dalam bangunan itu.
DUAGGHH!
Tendangan keras di punggung Yunho membuatnya jatuh tersungkur ke depan. Dengan segera dia bangkit dan melihat belasan namja mengelilinginya sambil menyeringai.
"Yunho-ah…" Yunho terkejut melihat Yoona yang berlari ke arahnya. Dia merasa lega, segera dia mengulurkan tangannya. Tapi tiba-tiba saja ada namja yang menarik yeojya itu dengan kasar.
"Selamat datang, Yunho-shi. Tidak kusangka cepat sekali kau bereaksi kalau itu menyangkut Yoona. Kau semakin membuatku kagum saja. Kau yakin kau tidak membawa temanmu atau siapapun ke sini, kan?"
Yunho menatap Siwon tajam. "Cepat lepaskan noona, Siwon-shi. Apa tujuanmu melakukan semua ini, huh?"
"Haha… Kau masih belum mengerti juga? Aku ingin memperlihatkan pertunjukan menarik untuk Yoona. Kau sudah tidak sabar ingin melihatnya kan, Yoona-ah?" tanya Siwon sambil membelai pipi Yoona. Yoona membuang wajahnya dengan jijik.
"Yun… Yunho-ah, kenapa kau ke sini? Pergilah, keluar dari sini."
Yunho menggelengkan kepalanya. "Ani. Tidak tanpamu, noona."
"Haha… Begitu manis dan romantis. Serasa seperti menonton drama percintaan. Haha…" Tawa Siwon sambil bertepuk tangan.
"Kenapa kaulakukan ini? Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Siwon. Memang noona sudah berbuat salah apa padamu?"
"Salah apa? Tadi kau bilang dia pacarku? Yeojya macam apa yang selalu membicarakan namja lain di depan pacarnya sendiri, huh?!" teriak Siwon dengan penuh kemarahan.
"Namja macam apa kau sampai tidak percaya pada pacar sendiri?" balas Yunho tajam.
"Kau tidak pernah mengerti, Yunho. Seharusnya kau ada setiap kali dia membicarakanmu di depanku. Seharusnya kaulihat betapa antusiasnya dia. Atau, hmm… Kau hanya berlagak tidak tahu, huh?"
"Apa maksudmu?"
"Kalian sama-sama berada di sekolah seharian. Siapa yang tahu sudah terjadi sesuatu diantara kalian? Sudah berapa kali kalian melakukannya, hum?"
Yunho mengepalkan kedua tangannya dengan emosi. "Jangan bicara kotor tentang noona!"
"Haha… Kenapa? Kau tidak terima? Dia memang kotor dan hina." kata Siwon dengan senyum mengejek.
"Kau…!" Yunho tidak sanggup menahan kemarahannya lagi. Tangannya bergerak memukul Siwon. Namja-namja di sekelilingnya dengan cepat memegangi kedua lengannya. Sekuat apapun Yunho mengerahkan seluruh tenaganya dia tetap tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman mereka.
Siwon memberi isyarat pada para namja itu. Mereka segera melepaskan Yunho. Yunho menatap Siwon dengan sorot mata yang berapi-api.
"Kau ke sini untuk menjemput Yoona, kan? Kajja. Ke sinilah dan bawa Yoona."
Yunho segera maju tapi sebelum dia bisa menyentuh Yoona, sebuah pukulan telak dari Siwon tepat mengenai wajahnya dan membuatnya jatuh tersungkur.
"Yunho…" teriak Yoona dengan cemas. Air mata mulai menggenang di matanya.
Siwon menatap Yunho sinis. "Khusus untukmu yang sudah lancang menggoda Yoona ku."
Yunho berusaha bangkit tapi sebelum dia sanggup berdiri dengan kedua kakinya, pukulan lain mendarat di perutnya membuatnya kembali jatuh.
"Dan ini hadiah karena sudah berani mencampuri urusanku."
Mata Yoona terbelalak menatap Yunho yang tidak berdaya. Dia bergerak mendekati Yunho tapi dengan segera tangannya kembali ditarik ke belakang.
Siwon meludah di depan Yunho. "Cih… Ternyata kau benar-benar lemah. Bagaimana bisa kau bersikap sok pahlawan ingin melindungi Yoona? Mempertahankan dirimu sendiri saja kau tidak bisa." Wajahnya menunjukkan kalau dia tidak berminat lagi melanjutkan permainan ini. Yunho sama sekali bukan tandingannya.
"Menyentuhku saja kau tidak mampu. Kau masih bilang mau menjaga Yoona? Akan jadi seperti apa Yoona kalau bersama namja lemah sepertimu?"
Darah di kepala Yunho serasa mendidih. Dia benar-benar merasa diremehkan. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri lagi.
Siwon kembali memberi isyarat pada teman-temannya. "Aku sudah bosan. Sekarang terserah mau kalian apakan dia. Ayo bersenang-senanglah." ujarnya sambil menyeringai.
Bagai gerombolan serigala yang kegirangan menemukan mangsanya, para namja itu menggerakkan tangan kakinya memukul dan menendangi Yunho. Dalam sekejap Yunho menjadi bulan-bulanan para namja yang beringas itu. Sebagian pakaiannya sobek memperlihatkan tubuhnya yang penuh memar dan darah.
DOR!
Siwon dan teman-temannya terkejut bukan main mendengar suara tembakan itu. Mereka berlarian mencoba untuk bersembunyi. Dalam beberapa detik beberapa polisi memasuki tempat itu dan mengepung mereka sebelum sempat melarikan diri. Siwon memandang Yunho penuh kemarahan ketika seorang polisi memborgolnya dan menariknya pergi.
"Yunho-ah…" Junsu berlari masuk dan segera mendekati Yunho. Yunho perlahan membuka matanya, melihat wajah Junsu dan Yoona yang penuh kekhawatiran. Yoona mengangkat kepala Yunho yang lemas ke pangkuannya, air matanya membanjir. Belum sempat Yunho mengatakan apapun, dia sudah terkulai tak sadarkan diri.
###
Yunho membuka matanya perlahan. Dia memicingkan mata berusaha untuk menyesuaikan pandangannya dengan sinar di ruangan itu. Dia memandangi seisi ruangan yang berwarna putih sampai dia menemukan sosok yeojya yang duduk menelungkupkan wajah di pinggir tempat tidurnya. Dia duduk dan seketika itu juga mengaduh kesakitan.
Yoona langsung terbangun karena suaranya. "Yunho-ah, jangan bergerak dulu." ujarnya dengan khawatir.
"Ini…"
"Ini rumah sakit. Aku dan Junsu yang membawamu ke sini."
"Kenapa kalian membawaku ke sini? Aku tidak apa-apa. Ayo kita pulang sekarang."
Yoona menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak, Yunho-ah. Kau tidak boleh kemana-mana sebelum kondisimu stabil. Nanti kau akan difoto rontgen untuk memastikan tulangmu tidak ada yang patah."
"Tidak usah terlalu khawatir padaku, ne?"
"Yunho-ah, tolong jangan membantah lagi. Kau terluka parah gara-gara aku. Mana aku bisa tenang melihat keadaanmu seperti ini. Kalau memang tulangmu baik-baik saja, mungkin besok kau bisa pulang."
"Tapi…" Yunho tidak sempat meneruskan ucapannya karena bibir Yoona sudah menutup mulutnya. Matanya terbelalak tidak mengira Yoona akan melakukan itu. Beberapa saat lamanya dia terdiam tidak kuasa menggerakkan tubuhnya.
Semenit kemudian Yoona melepaskan ciumannya dari Yunho. "Mianhae. Dengarkan aku sekali ini saja, ne? Kau harus banyak istirahat. Aku akan menjagamu." ujarnya sambil menatap Yunho dengan lembut.
Wajah Yunho memerah. Mulutnya terkunci, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya memandangi Yoona dengan salah tingkah.
"Umm… Junsu di mana?" tanyanya memecah kesunyian diantara mereka.
"Dia sedang mengurus administrasi. Sebentar lagi dia kembali."
"Mianhae, noona. Aku sudah membuat kalian cemas dan repot. Aku memang tidak berguna." ujar Yunho dengan nada menyesal.
"Sudahlah, jangan mulai lagi, Yunho-ah. Akulah yang harus berterimakasih padamu. Waktu tahu aku dalam bahaya, kau langsung mencariku tanpa pikir panjang. Kau sama sekali tidak mempedulikan keselamatanmu sendiri. Aku… Aku berhutang padamu, Yunho-ah."
"Yunho-ah, syukurlah. Akhirnya kau sadar juga." kata Junsu begitu memasuki ruangan itu. Dia tersenyum lega sambil menepuk-nepuk pundak Yunho. "Kenapa kau selalu membuatku khawatir, huh?"
"Appo…" Yunho mengaduh kesakitan karena Junsu menepuk bagian tubuhnya yang terluka.
"Mianhae, Yunho-ah. Mianhae." Junsu terkejut lalu mengusap pelan pundak Yunho. "Kau harus menunggu foto rontgen supaya dokter bisa tahu kondisi tulangmu, jadi untuk sementara kau istirahat dulu di sini. Arasseo?"
Yunho memutar bola matanya. "Arasseo, arasseo. Aku bukan orang tua, jadi tidak usah mengatakan itu padaku berkali-kali. Kalau disuruh menunggu, kajja, akan kutunggu dengan sabar di sini."
Junsu dan Yoona hanya tertawa mendengar ucapan Yunho.
###
Yunho duduk di sofa apartemennya. Baru beberapa menit yang lalu dia kembali dari rumah sakit. Dia menoleh ke arah Junsu. "Junsu-ah, kau harus istirahat. Kau pasti lelah sekali."
"Semalam aku sempat tidur sebentar. Lagipula di sini aku kan bisa istirahat sambil menjagamu. Kalau perlu apa-apa, kau panggil saja aku ne?"
"Gomawo, Junsu-ah." ujar Yunho sambil tersenyum. "Umm… apa benar kau yang memanggil polisi itu, Junsu-ah? Tapi aku bingung, bagaimana kau bisa ada di situ?"
Junsu menghela nafasnya. "Semalam aku mau ke sini. Dari jauh aku melihatmu pergi tergesa-gesa. Aku tidak tahu kau mau ke mana dan apa yang akan kaulakukan. Itu membuatku khawatir jadi diam-diam aku mengikutimu sampai ke sana. Aku kaget melihatmu dipukuli tapi aku tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi aku memilih untuk memanggil polisi. Sebenarnya apa yang terjadi, Yunho-ah?"
Yunho lalu menceritakan semuanya pada Junsu.
Junsu mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi. "Jahat sekali Siwon itu. Dia pasti sudah merencanakan ini semua. Dia tahu kau pasti tidak akan membiarkan Yoona disakiti. Kenapa bisa-bisanya dia memanfaatkan Yoona untuk memanggilmu ke sana lalu memukulimu?"
Yunho menghela nafasnya. "Sudahlah. Polisi juga sudah menangkap mereka, kan."
"Mengajak teman-temannya mengeroyok seseorang. Mereka benar-benar pengecut yang tidak tahu malu."
Yunho tersenyum sambil mengusap-usap lengan Junsu untuk menenangkannya. "Sudahlah. Aku bersyukur waktu itu kau sempat melihatku. Kau datang pada saat yang tepat sekali. Lalu kenapa kau malam-malam mencariku?"
"Umm... wajahmu nampak pucat seharian kemarin, Yunho. Aku khawatir jadi aku ke sini ingin melihat keadaanmu."
Seketika air muka Yunho berubah mendengarnya.
"Kalau kau memang banyak pekerjaan, kau bisa panggil aku. Aku pasti akan membantumu. Kita sahabat, kan."
Yunho memaksakan dirinya tersenyum. "Gwenchana, Junsu-ah. Aku hanya perlu istirahat sebentar. Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan."
Junsu menatap Yunho dengan serius. "Yunho-ah, apa ada sesuatu yang terjadi… diantara kau dan Jaejoong?"
Yunho tersentak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Junsu. Ingatan tentang kejadian sore itu muncul lagi di pikirannya. Dia terdiam dan merasa gelisah.
"Yunho-ah, aku melihat ada yang aneh dengan kalian. Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja. Jadi aku ingin memastikannya."
"Haha… Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Junsu? Kau terlalu berlebihan. Memang ada apa denganku dengan Jaejoong?" Yunho tertawa, sekuat tenaga berusaha supaya Junsu tidak mencurigainya.
"Yunho-ah, aku tidak mau kau menyembunyikan apapun dariku, kecuali kalau kau tidak menganggapku sebagai sahabat."
"Sungguh. Kenapa aku harus membohongimu? Aku heran kenapa kau bisa-bisanya berpikir ada masalah diantara aku dengannya?"
Junsu menatap dalam mata Yunho mencoba mencari tahu apakah ada kebohongan di sana. Dia menghela nafas panjang. "Yunho, kalau ada yang kaupikirkan, kau bebas menceritakannya padaku. Aku pasti akan mendengarkan."
Yunho tersenyum sambil menepuk pundak Junsu. "Ne. Gomawo, Junsu-ah." Dia memutar otak berusaha mengalihkan pembicaraan. "Aku lapar sekarang. Kau pernah bilang kalau kau bisa memasak. Kenapa kau tidak pernah sekalipun membuatkanku makanan?"
Junsu tertawa kecil. "Kajja. Hari ini aku akan memasak untuk sahabatku yang manja. Kulihat dulu apa yang ada di kulkasmu ne?" ujarnya lalu berjalan ke dapur.
Yunho menghela nafas lega. Setidaknya Junsu tidak mendesaknya lagi untuk bercerita.
Sore itu Yoona datang ke apartemen Yunho. "Junsu-ah, aku datang menggantikanmu menjaga Yunho. Kau pasti lelah, kan?"
"Kajja. Aku juga sudah mau pulang, kok. Kalian berdua bersenang-senanglah ne?"
Kali ini Yunho yang tersedak dengan minumannya mendengar kata-kata Junsu. "A-apa maksudmu?"
Junsu hanya menyeringai sambil memandang mereka bergantian. "Ani. Aku pulang dulu, Yunho-ah. Sampai bertemu besok ne?" kata Junsu lalu berjalan keluar.
Yunho dan Yoona berpandangan sejenak. Mendadak suasana canggung muncul diantara mereka. Entah berapa lama mereka diam. Masing-masing sibuk mencari bahan pembicaraan.
"Umm… mianhae, noona. Aku selalu merepotkanmu."
Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan berkata seperti itu lagi. Lagi-lagi kau terluka gara-gara aku. Sampai sekarang aku masih tidak percaya Siwon tega melakukan itu."
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa menyekapmu?"
"Waktu itu dia bilang mau mengajakku keluar. Tentu saja aku tidak curiga. Tapi ternyata dia membawaku ke tempat itu. Aku kaget waktu dia tiba-tiba saja mengikatku. Aku takut sekali. Aku tidak tahu apa rencananya sampai dia mengambil ponselku dan meneleponmu. Ternyata dia sengaja melakukan itu untuk memancingmu keluar. Mianhae… untuk semua kesulitan yang sudah kuperbuat untukmu." Mata Yoona mulai basah. Setitik air mata menetes ke pipinya.
Yunho tertegun menatap wajah Yoona. Tanpa sadar dia mengangkat tangannya mengusap air mata Yoona. "Noona…"
Yoona menatap Yunho dengan canggung. "Umm… bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Umm… bi-bisakah kau tidak memanggilku noona lagi?" tanya Yoona dengan suara bergetar. Dia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Yunho menatap Yoona dengan wajah memerah. "M-maksudmu...?"
"A-aku... aku tidak mau mendengarmu memanggilku noona lagi. Karena, aku... aku..."
Yunho hanya terdiam sambil terus menatap Yoona. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan.
Yoona memalingkan wajahnya yang mulai memanas dari Yunho. "Umm… kalau kau keberatan, lupakan…"
"Yoona… -ah..." ujar Yunho perlahan.
Yoona terkejut lalu kembali memandang Yunho dengan matanya berkaca-kaca.
"Yoona-ah… Apa kau keberatan kupanggil seperti itu?" tanya Yunho sambil menatap Yoona dalam-dalam.
Seketika air mata Yoona mengalir deras membasahi pipinya. "Ani. Gomawo, Yunho-ah." Dia memeluk Yunho, membenamkan wajahnya di dada namja itu. Yunho terkejut dengan tindakan Yoona, tapi kemudian hatinya mulai menghangat.
"Saranghae…" bisik Yoona lirih tapi cukup keras untuk bisa didengar oleh Yunho.
Yunho tersenyum dan melingkarkan kedua lengannya ke pinggang ramping Yoona. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Yoona mempunyai perasaan yang sama dengannya, walaupun dulu Junsu juga sudah mencoba meyakinkannya. Dia tidak mau lagi memikirkan bagaimana sebenarnya hubungan Yoona dengan Siwon selama ini. Yang terpenting sekarang mereka bisa bersama. Dan dia tidak mau lagi menyembunyikan perasaan yang selama ini dia pendam terhadap yeojya itu. Dia mengabaikan rasa sakit di tubuhnya dan menikmati saat-saat itu, saat yang sudah dia nantikan sejak lama.
###
Waa... jeongmal mianhae, chingudeul. krn critanya hrs sprti ini dulu. tp ga brtahan lama, kok. saya janji, deh. hehe... chingudeul harap brsabar ne ^^. NCan nya cm mimpi doang, mian ^^.
