10th Cap
Tempat ini lagi...
Rumah ini sangat besar dan begitu dingin. Kayu-kayu eboni yang merupakan dominasi dari banyaknya furnitur mahal menjadi kilasan kekuasaan menakutkan di mataku. Siapapun pemiliknya, mereka juga pasti memiliki kekuatan setara.
Hanya saja aku selalu sendirian di sini, dengan kaki dan tangan terluka. Apa yang kukerjakan sebenarnya? Tidak. Pertanyaan yang benar adalah, apa yang sudah mereka lakukan padaku?
Kemudian suasana berubah lagi dan aku sudah berada di lantai yang kotor dan dingin. Jika eboni tadi hanya menghasilkan efek ketakutan secara psikologis, mungkin sekarang adalah penyebab mengapa aku tidak merasa sangat baik secara fisik. Demi Dia yang mereka sebut Tuhan, tempat ini sangat berdebu. Sekelilingku hanya ada potongan besi-besi berkarat dan jelek. Seperti tempat pembuangan limbah konstruksi. Dingin... karena aku juga tidak menggunakan pakaian yang layak untuk musim dingin.
Tunggu? Musim dingin? Ya... satu hal lagi yang kuingat. Saat itu adalah musim dingin. Aku tidak melihat salju, tapi tubuh ini membeku sampai ke tulang. Entah dari alasan yang mana aku selalu merasa kesulitan bernapas.
Aku benci ada di sini...
"Ryeowook! Kim Ryeowook! Jawab aku!"
Oh, suara itu...
"Buka pintunya!"
Bukankah kau yang seharusnya membuka pintu? Aku tidak akan berada di sini jika bisa keluar.
"Ya Tuhan, Ryeowook. Jawab aku! Ayah sudah pergi, dia tidak akan menyakitimu. Jangan sembunyi lagi. Kau belum makan apapun dari kemarin."
Makan? Apa itu penting sekarang? Aku tidak bisa bernapas serta menggerakkan tangan dan kaki. Dan demi Tuhan! Aku tidak bersembunyi. AKU TERKUNCI DI SINI!
Suara itu terus saja memanggil dan menggedor-gedor pintu tanpa sedikitpun mampu menggerakkannya. Aku kemudian menyadari bahwa semua hal yang ada di ruangan ini terlihat rapuh dan mudah hancur kecuali pintu.
"Tuan Muda, kau sudah terlambat."
"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kalian membuka pintu ini dan membawa Ryeowook keluar!"
"Tapi Tuan Besar sudah memperingatkanmu untuk tidak lagi melewati kelas hari ini—"
"PERSETAN DENGAN KELAS BODOH ITU! SEKARANG BUKA PINTU INI!"
"Kami memaksa, Tuan Muda."
"Lepaskan!"
"Bawa dia dari sini!"
"KUBILANG LEPASKAN!"
Aku mulai panik. Seseorang yang tadi memaksa membuka pintu mulai berteriak liar. Mereka akan membawanya pergi. Tidak! Kumohon jangan pergi. Buka dulu pintunya dan bawa aku keluar.
"RYEOWOOK!"
Suara itu menjauh...
Aku tidak ingin sendirian lagi...
"LEPASKAN AKU!"
Tolong aku...
"LEPASKAN ADIKKU!"
"Hyung—"
[...]
.
.
.
"Hyung..."
"Ryeowook-ah..."
"Hyung..."
"Ryeowook... buka matamu..."
"Hyung... jangan tinggalkan aku..."
"YA TUHAN, KIM RYEOWOOK!"
Pria itu langsung membuka matanya dengan tiba-tiba. Seolah tengah berhadapan langsung dengan sesuatu yang paling menakutkan, kedua mata Ryeowook membelalak hingga rasanya nyaris keluar dari tempatnya. Butuh beberapa detik untuk benar-benar menariknya dari alam bawah sadar.
"Ryeowook-ah..."
Kemudian bagai penawar, suara lembut Kyuhyun akhirnya membuat pupil itu bergerak dan mengarah pada satu orang. Padanya...
"Ada apa? Bermimpi buruk? Oh, kau menangis, sayang."
Wajah Kyuhyun adalah hal paling menenangkan untuk bisa ia lihat saat semua mimpi buruk itu lenyap. Ia merasakan sapuan lembut di kepalanya. Jemari Kyuhyun yang sangat ampuh menghilangkan rasa sakit ketika pertama kali pertemuan mereka.
"Kau di sini." Ryeowook dapat merasakan tenggorokannya bergetar saat ia mengucapkan kalimat pertama.
Kyuhyun mengerutkan alisnya. Pernyataan 'kau di sini' seperti mengandung artian yang berbeda. Tentu saja ia di sini. Kyuhyun bersama dengan Ryeowook sudah melewati malam yang sangat menakjubkan. Dan sepertinya aneh jika kalimat pertama yang keluar di pagi hari untuk dirinya adalah 'kau di sini'.
"Kau menangis. Apa mimpimu sangat buruk?"
Itu bukan mimpi, tapi potongan masa lalu yang sedang aku coba ingat. Dan ya... sangat buruk.
Kyuhyun mengusap sisa air mata yang masih mengalir di wajah Ryeowook. Sinar wajahnya pagi ini tidak seperti semalam ketika tubuh mereka menyatu. Ada kepolosan asing yang Kyuhyun lihat. Ryewook memang berwajah pucat, tapi tidak sepucat hari ini.
"Bagaimana perasaanmu?" Kyuhyun kembali bicara. Jujur saja, ia sangat gugup menantikan bagaimana reaksi Ryeowook ketika ia bangun dan mengingat apa yang sudah mereka lakukan. Baginya tentu itu adalah hal yang sangat hebat, ia bahkan percaya jika saja manusia bisa terbang, Kyuhyun sudah melayang dan menari-nari di udara saat ini.
Ryeowook tampak bingung. Ia tidak tahu mengarah kemana pertanyaan Kyuhyun. Jika yang pria itu maksud adalah perasaan setelah menjalani terapi selama beberapa hari dan mimpi buruknya, tentu jawaban yang paling tepat adalah lelah. "Aku sangat lelah."
Kyuhyun menggigit bibirnya sendiri karena cemas. "Ya. Tentu saja. Kau pasti lelah." ujarnya masih gugup.
"Tubuhku juga sakit."
Lagi-lagi pria itu hanya mengangguk. Pikiran Kyuhyun apakah dia terlalu kasar tadi malam membuatnya mengusap wajah Ryeowook dengan sangat sangat sangat lembut.
"Aku tidak bisa menggerakkan tubuh bagian bawah."
Tuhanku! Kyuhyun secara mental menampar dirinya sendiri. Ia sangat yakin jika semalam itu dirinya sudah di luar batas. Karena walau bagaimanapun, ini yang pertama untuk Ryeowook, dan Kyuhyun tidak memikirkan hal itu sama sekali.
"...dan seseorang datang."
"Huh?"
"Aku terkurung di sana. Tangan dan kakiku sakit hingga tidak bisa berjalan. Lalu seseorang datang dan menggedor pintu. Dia ingin aku keluar dari sana."
Perasaan melambung tadi langsung saja hilang, dan ekspresi gugup yang konyol sekarang berganti dengan bingkai ketidakpahaman. Apa yang sebenarnya Ryeowook katakan?"
"Tapi mereka melarang dan membawanya pergi. Meninggalkanku sendirian lagi."
Kyuhyun menatap wajah Ryeowook yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa pria itu sedang mengerjainya. "Apa yang kau bicarakan, Ryeowook? Kenapa kau terkurung?"
Ryeowook menggeleng, "Tidak tahu. Ruangan itu sangat dingin dan kotor. Aku tidak bisa bernapas di dalam sana."
Kyuhyun tidak menyahut. Ryeowook seperti memang tengah menceritakan sesuatu yang penting dalam mimpinya. Muncul kecemasan kecil di dalam hati yang membuatnya tidak berani menyangkal cerita Ryeowook.
Baik Walker dan Casey sudah pernah memperingatinya jika Ryeowook kehilangan potongan hidup masa lalu sebelum ia diadopsi. Potongan hidup yang dipercaya bersifat traumatik dan membuat Ryeowook seperti selalu mengalami perubahan emosi yang ekstrim secara tiba-tiba, dan salah satu usaha mereka untuk menghambat frekuensinya adalah dengan terapi.
Entah 'terapi' macam apa yang dilakukan pada Ryeowook. Tapi yang jelas, Casey mengatakan untuk lebih bersabar menghadapi putra angkatnya selepas menjalani pengobatan. Ryeowook akan lebih mudah kalah dengan emosinya sendiri dan cenderung melupakan hal-hal kecil serta membicarakan sesuatu yang mungkin akan asing di telinga Kyuhyun.
"Kyuhyun. Kenapa aku tidak pakai baju?"
Pertanyaan tersebut langsung mengembalikan Kyuhyun ke alam nyata. "A-apa kau bilang?"
Ryeowook menatap Kyuhyun dengan pandangan ngeri. Menemukan Kyuhyun tanpa menggunakan pakaian atas adalah hal biasa baginya. Tapi mengetahuhi bahwa dirinya juga tanpa pakaian—sama sekali di bawah selimut adalah hal lain.
"Apa yang sudah kau lakukan?" Ryeowook bertanya panik.
"Aku?" Kyuhyun membelalak. Ia seperti pemerkosa di mata pria itu sekarang. "Bukan 'aku', Ryeowook, tapi 'kita'. Apa kau lupa apa yang sudah kita lakukan semalam?"
Pertanyaan itu sontak membuat Ryeowook beringsut mundur dan menarik selimutnya lebih tinggi. "Apa maksudmu?"
Kyuhyun yang terpaku melihat reaksi kekasihnya di sana hanya bisa diam. Jadi Ryeowook memang benar-benar tidak mengingatnya? Apa dia mabuk semalam? Jadi apakah sikap Ryeowook yang meminta lebih dulu hanya karena ia mabuk?
Kyuhyun mencoba mendekat, "Jangan membuatku khawatir, Ryeowook—"
"Kau yang membuatku takut!"
Teriakan itu kembali membuat Kyuhyun diam tak bergerak. Ryeowook mencoba turun dari ranjang dan mengaduh ketika merasakan tubuh bagian bawahnya sakit. Pria itu bahkan hampir terjatuh.
"Brengsek!" umpatnya pelan, "Apa yang sudah kulakukan?" ia menyambar sebuah kimono tipis yang tergeletak di lantai dan berdiri. Masih sedikit limbung karena sama sekali tidak terbiasa dengan dekorasi kamarnya—yang memang bukan kamarnya. Beberapa kali ia terantuk benda-benda yang berantakan di sekitar mereka sebelum akhirnya berhasil membuka pintu dan keluar.
Sementara itu Kyuhyun masih tidak tahu harus melakukan apa. Ryeowook meninggalkannya sendirian di kamar seperti seorang idiot. Ingatannya sangat jelas. Malam itu adalah masa yang tidak akan pernah bisa ia lupakan karena untuk pertama kali dalam sejarah percintaan, bukan dia yang meminta sebuah hubungan intim.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kyuhyun benar-benar ingin tahu apa yang seorang pria lakukan ketika pasangan mereka tidak mengingat percintaan yang sudah dilakukan dan justru meninggalkannya sendirian di dalam kamar.
"YAH, KIM RYEOWOOK!"
oOo
"Tidak ada yang menganggap sebuah hubungan intim adalah hal kecil."
Suara Kyuhyun terdengar parau namun masih sangat kuat untuk mengisi seluruh ruang tamu dengan ketegangan. Ia menatap Casey yang memandangnya dengan prihatin.
"Dia benar." Walker mengangguk.
"Hal kecil tidak terbatas hanya dengan sebuah perbuatan yang tidak bermakna, Kyuhyun. Saat seseorang hanya melakukan suatu perbuatan dalam jangka waktu yang relatif singkat, otak manusia juga bisa merekamnya sebagai hal kecil." Casey berusaha memberikan penjelasan yang masuk akal.
"Dia juga benar." Lagi-lagi dokter pria itu mengangguk.
"Ya Tuhan, lima belas menit dalam keadaan seperti itu bisa membakar sebagian besar kalori yang kalian konsumsi seharian." Kyuhyun masih bersikeras. Harga dirinya sedang dipertaruhkan.
"Oh! Casey, bocah ini benar lagi—"
"Shut up, Walker!" Casey membentak dan melayangkan tatapan dengan penuh makna tak terucap, Apa kau tidak lihat kalau aku sedang menenangkan anak ini?
Wanita itu memijat keningnya frustasi karena mengetahui tidak akan ada akhirnya jika harus berdebat dengan seorang pria yang merasa bahwa harga dirinya sedang diinjak. Bukan salah siapa-siapa jika Ryeowook cenderung akan melupakan sebuah ingatan yang membahagiakan. Pria itu kini menjalani hidup untuk mengingat kenangan-kenangan buruk masa kecil untuk lepas dari sakit psikologinya. Dan ketika sebuah kebahagiaan muncul, otaknya akan sulit memberikan jalan masuk. Ada batasan yang secara tidak sadar Ryeowook bangun. Batasan yang tidak akan pernah Kyuhyun mengerti.
Sementara itu Kyuhyun masih dengan raut wajah kesalnya duduk melipat kedua tangan di dada. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk membuat Ryeowook keluar dari kamarnya dan berbicara. Namun pria itu tidak juga membuka pintu. Jangankan bicara, menyahut saja tidak. Hingga rasa khawatir berangsur jadi sebuah kekesalan absurd, Kyuhyun akhirnya menelepon Walker—yang dengan sangat baik hati membawa serta kakak perempuannya.
"Aku sudah secara khusus memintamu bersabar, Kyuhyun."
Kalimat tersebut akhirnya meluluhkan sedikit pertahanan Kyuhyun. Apapun alasannya, Kyuhyun tengah berhadapan dengan seorang ibu bagi Ryeowook. Dibandingkan dengan kemarahannya, mungkin Casey memiliki permasalahan yang lebih kompleks dari sekedar menekuk wajah seperti apa yang ia lakukan saat ini.
Beruntung Walker saat itu tidak memihak siapapun, dia cukup tidak dewasa untuk menghadapi perdebatan antara Kyuhyun dan Casey. Selain itu, ini adalah yang pertama bagi keponakannya. Sebuah perubahan besar, dan mungkin saja mengarah pada kesembuhan Ryeowook secara total.
Sebuah metode yang lebih baik daripada mencari-cari masa lalu.
Kyuhyun berdiri dan menghampiri pintu kamar Ryeowook. Ia sudah bersiap dengan senjata terakhirnya menghadapi keanehan Ryeowook. "Aku akan pergi dari sini." Ujarnya pelan, namun cukup bisa didengar oleh semua orang termasuk yang di dalam kamar. "Jika kau memang ingin sendirian selama berhari-hari, aku tidak akan membiarkan kau tidak makan hanya karena harus keluar kamar untuk menuju dapur. Ini sudah lewat jam makan siang, Ryeowook, kau harus makan keluarlah setelah aku pergi."
Pria itu kemudian kembali ke ruang tengah dan meraih tas jinjingnya yang sudah ia persiapkan. Ia tidak harus repot berkemas karena isi tas jinjing itu tidak sempat ia keluarkan sejak dibawa dari apartemennya semalam.
Casey berdiri dan meraih tangan Kyuhyun, "Kau tidak harus seperti ini." ujarnya pelan. "Nathan membutuhkanmu."
Kyuhyun membalas dengan menggenggam jemari lembut tersebut, "Aku tidak bisa menghadapinya dengan kondisi seperti ini. Cho Kyuhyun adalah yang terburuk jika sedang marah. Bila ada orang yang harus ditenangkan sekarang, itu adalah aku." Ia bicara sambil memaksakan senyumnya. "Lagipula aku akan kembali bekerja dalam dua hari ini dan harus membenahi apartemenku. We just need... times."
Casey mengerti dan sebagai ucapan sampai jumpa ia menepuk pipi Kyuhyun dengan sayang. "Sejauh ini kau adalah yang terbaik, Kyuhyun. Kami tidak akan kecewa denganmu."
oOo
Jungsoo sudah mendapatkan hasil dari tes laboratorium untuk DNA pelaku penyerangan terhadap Sungmin. Identifikasi memang tidak akan sempurna tanpa pembanding. Pupil hitam, cologne mahal, dan obat anti-depresant adalah hal yang bisa dipastikan. Hanya saja pupil hitam adalah warna untuk hampir semua orang Asia. Kemudian cologne juga sebuah keharusan untuk masyarakat yang menjalani hidup di kota besar, dan obat anti-depresan juga semakin banyak dikonsumsi banyak orang saat ini.
"Benar-benar petunjuk yang berguna." Sungutnya. Jungsoo menenggak habis gelas wiski terakhirnya untuk hari itu. Jika dihitung-hitung, dirinya semakin sering minum. Belum lagi seseorang di rumah terus saja menyuruhnya pulang dan bicara.
Kyuhyun menghubunginya semalam dan mengatakan akan kembali bertugas pada hari Senin. Setidaknya satu dari sekian kabar bisa membuatnya senang. Kyuhyun bukan pilihan bagus untuk diajak kerja sama jika tidak sedang menyandang lencana dan pistolnya, dan kabar akan segera aktifnya salah satu perwira terbaik membuatnya tidak bertingkah konyol untuk tes DNA yang ia terima hari ini.
Lain halnya dengan Sungmin. Dokter muda itu terlihat tidak lagi antusias selain mengetahui kenyataan bahwa menemukan pelaku penyerangan terhadapnya akan mengembalikan ponsel pribadinya.
Dering telepon mengudara. Jungsoo langsung mengaktifkan speaker agar tidak harus repot meletakkan benda itu di telinganya. Kepalanya sudah cukup berat hari ini.
[Aku membutuhkan bantuanmu untuk membuka kembali kasusuku.] Suara Kyuhyun mengudara di ruangan kerja Jaksa Park yang cukup besar.
Pria itu tersenyum. "Kau harus menyingkirkan anjing penjaga untuk melewati gerbang dengan nyaman."
[Apa maksudmu?] Kyuhyun terdengar bingung namun masih bersabar untuk sebuah penjelasan.
Kemudian Jungsoo terlihat membuka komputernya dan mengetikkan sesuatu di layar. "Aku mengirimkan data mengenai pengangkatan jabatan Komisaris Lee Joosok. Kau tahu passwordnya."
Beberapa detik berlangsung sunyi tanpa ada suara dari keduanya. Sebelum akhirnya terdengar umpatan pelan dari orang di seberang telepon.
[Penyuapan, huh? Kau memang brengsek, Joosok!]
Jungsoo terkekeh mendengarnya. "Dan kabar baiknya adalah kasus ini sudah mendapatkan izin untuk penggeledahan. Komisarismu akan segera diinterogasi mulai besok."
[Kau memang mengerikan, hyung.]
Pria itu tersenyum dan menutup layar komputernya. "Aku tidak akan melewatkan pesta 'penyambutanmu', Kyuhyun. Sampai jumpa Hari Senin."
oOo
Sungmin baru saja keluar dari ruangan sebuah klinik besar di Myeongdong ketika ia melihat sosok yang sangat dikenali.
Kyuhyun duduk di antara deretan kursi tunggu para pasien di lobi klinik sambil memegangi lengannya. Wajahnya tidak terlihat pucat namun nampak sekali gurat kelelahan di sana. Mantel tebal berwana hijau army yang selalu menjadi favoritnya di musim dingin dibiarkan terbuka hingga menampilkan sweater abu-abu yang terlihat hangat. Pria itu tidak terlihat memainkan ponsel atau benda apapun seperti yang dilakukan banyak orang di sekitar saat sedang sendirian. Kedua matanya hanya fokus pada sesuatu—atau jika Sungmin bisa menebak, Kyuhyun bahkan tidak sedang fokus pada apapun. Ia melamun.
"Kyuhyun?"
Yang dipanggil mendongak. Menampilkan lebih jelas bagaimana kedua mata itu berkedip sayu seperti kurang tidur. Kyuhyun menatap tanpa emosi, sangat jauh berbeda dengan pandangan Sungmin yang terkesan terkejut bercamur cemas.
"Aku sudah mulai terbiasa dengan tatapan yang seperti ini." Sungmin membuat dirinya tersenyum, "Rasanya aku tidak perlu mengeluh lagi." Lanjutnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Kyuhyun menjawab dengan ekspresi aneh di wajahnya dan langsung ditanggapi tawa canggung dari Sungmin. Pria itu menyadari bahwa pertanyaannya tadi kurang tepat. Memangnya apa yang bisa orang selain dokter dan perawat lakukan di klinik?
"Apa kau baik-baik saja? Ada yang sakit?"
Kyuhyun menunjukkan luka bekas suntikan di tangannya, "Aku mendapat sedikit obat penghilang mabuk. Kurasa semalam aku terlalu banyak minum." Ujarnya parau. Tenggorokannya belum membaik sejak ia bangun tadi pagi.
Sungmin diam sejenak sebelum merespon. Jika dipikir kembali, memang tidak mudah bicara dengan Kyuhyun sekarang. Pria itu akan lebih mudah tersinggung saat bicara padanya. Perkataan orang-orang memang benar, tidak mudah bicara dengan mantan kekasihmu, terlebih jika kalian berpisah dengan cara yang tidak menyenangkan.
Dan Kyuhyun-Sungmin bukan hanya berpisah, mereka benar-benar hancur.
"Kau sudah mendapatkan suntikan. Masih menunggu obat lain?" Sungmin bertanya lagi.
Yang ditanya menggeleng, "Aku tidak tahu obat apa yang mereka suntikan padaku, tapi rasanya lebih buruk dari mabuk. Dokter mengatakan efeknya akan segera hilang, jadi aku hanya ingin duduk sebentar di sini."
Tidak ada pertanyaan lagi. Sungmin tahu benar apa yang dimaksud Kyuhyun dengan efek obat tersebut. Ia kemudian memposisikan dirinya duduk di samping Kyuhyun. Tidak bicara. Hanya mengawasi bagaimana pria itu melawan reaksi obat dalam tubuhnya.
Entah berapa banyak alkohol yang masuk ke dalam tubuh Kyuhyun hingga membuatnya berakhir di klinik dan meminta bantuan dokter. Setahu Sungmin, Kyuhyun bukan orang yang akan membiarkan dirinya mabuk hingga tak sadarkan diri. Tapi jika pun ada keadaan yang memaksanya seperti itu, ia sangat tahu apa yang harus dilakukan. Seperti saat ini.
Sungmin beranjak untuk membeli sesuatu di mesin penjual minuman. Sekaleng sari buah lemon, dan masih hangat. Kemudian Ia kembali dan memberikannya pada Kyuhyun.
"Aku baru saja disuntik." Kyuhyun menatap kaleng minuman tesebut dan menatap Sungmin bingung.
Dokter muda itu tersenyum, "Jangan khawatir, kau tahu benar aku tidak akan memberikan sesuatu yang akan mengakibatkanmu terbunuh karena keracunan." Ucapnya menenangkan. "Suntikan itu seharusnya tidak menimbulkan efek apapun. Obat yang mereka berikan hanya belum menunjukkan hasil. Kau pasti minum sangat banyak. Minuman asam ini akan membuatmu segar kembali dengan lebih alami. Tidak ada asam lambung, kan?"
Alih-alih menjawab, Kyuhyun akhirnya membuka kaleng minuman tersebut dan menyesapnya sedikit demi sedikit. Ia membenarkan teori Sungmin dalam hati, cairan hangat dan sedikit asam tersebut langsung menampar titik fokusnya hingga ia bisa membuka kelopak mata dengan baik.
Ya, Sungmin adalah dokter yang hebat, ia tidak heran dengan jika sarannya dalam hal kesehatan cukup ampuh.
"Terima kasih." Kyuhyun mengucapkan dengan tulus. Walau bagaimanapun ia memang butuh bantuan seseorang untuk mengatasi rasa jengkel karena harus kalah dengan efek mabuk. "Aku harus kembali bekerja besok. Jadi pemeriksaan hari ini seharusnya hanya untuk prosedur. Kurasa hasilnya tidak akan kuberikan. Mereka akan kembali meliburkanku jika mengetahui kondisiku hari ini."
Sungmin tersenyum mengetahui jika Kyuhyun tidak lagi memberikan tembok pemisah antara mereka berdua. Kejadian di apartemen Kyuhyun mungkin sedikit banyak sudah membuat pria itu akhirnya meluluh. Walau bagaimanapun mereka berdua pernah bersama. Keadaan Kyuhyun sudah jauh lebih baik, dan seharusnya tidak akan menyakiti jika mereka mulai bicara seperti layaknya teman.
Walaupun Sungmin sejujurnya menginginkan lebih dari itu...
"Jadi kau akan segera bergabung menangani kasusku?" Sungmin bertanya polos. Ia tidak tahu bahwa pertanyaannya akan segera membangunkan macan tidur. Tiga orang tak berdosa akan menjadi korban.
Kyuhyun mengerutkan dahinya bingung, "Kasusmu ditangani oleh departemen lain. Kenapa aku harus bergabung dengan mereka?"
"Huh? Jadi kau tidak tahu?" Sungmin juga terlihat bingung, "Aku meminta kepolisian untuk mengganti tim yang mengurus kasus penyerangan itu. Aku memilih tim mu. Minho bahkan hari ini meninggalkan pesan bahwa DNA pelaku sudah teridentifikasi."
Guratan di dahi Kyuhyun semakin banyak, "Memangnya bisa seperti itu? Dan… mereka kembali bertugas lebih dulu?" Kyuhyun terdengar tidak terima dengan kenyataan tersebut.
Sungmin menggeleng, "Aku tidak tahu bagaimana prosesnya. Kupikir memang hanya kau yang sedang diliburkan."
"Sungmin, sejak dipindahtugaskan di kantor pusat, kami tidak pernah menerima kasus selain yang melibatkan pejabat-pejabat penting di kota. Lalu tadi kau bilang apa? Kami mengambil-alih kasusmu?"
"Aku yang minta—Kyuhyun!"
Kyuhyun sudah akan berdiri ketika lengannya ditahan. Sikapnya membuat Sungmin bingung harus mengatakan apa. Jika dipikirkan benar-benar, ia seharusnya tersinggung karena di satu sisi Kyuhyun seperti sedang menganggap kasusnya tidak layak untuk mereka ditangani, tapi di sisi lain, Sungmin dapat mencium sebuah ketidak-terus-terangan di antara anggota kelompok. "Apa aku salah bicara? Kau mau kemana?"
"Aku sudah lama tidak menendang bokong tiga orang idiot."
"Cho Kyuhyun, tunggu aku!"
oOo
Ryeowook duduk di hadapan kedua orang tua angkatnya. Ia tidak menatap salah satu dari mereka dan lebih memilih memandang langit cerah di musim dingin lewat jendela apartemen besarnya. Saat ini hanya ada satu nama di dalam kepalanya. Cho Kyuhyun. Kyuhyun. Kyu... ia mengacak-acak rambut dengan kasar dan menggeram pelan, hingga pemuda itu sudah tampak seperti pengidap depresi tinggi. Bedanya, wajah Ryeowook tampak menyedihkan.
Menyedihkan sekaligus menggelikan.
Itulah yang saat ini dipikirkan Casey. Putra angkatnya ini benar-benar membuatnya cemas ketika memutuskan untuk tidak keluar kamar dan menyelesaikan masalah—apapun itu—dengan Kyuhyun. Namun Tuhan sepertinya tidak membiarkan wanita paruh baya tersebut untuk menambah kerutan di wajahnya waktu itu. Selang beberapa detik ketika Kyuhyun keluar dari rumah, Ryeowook membuaka pintu kamarnya dengan wajah memerah.
"Kau tetap tidak mau bicara pada kami, Nathan?" Casey bertanya dan membuat tatapannya seolah jengah. Padahal siapapun tahu jika wanita itu tidak akan pernah bosan untuk semua hal yang berkaitan dengan anaknya ini. Bahkan ia mungkin bisa bertahan duduk di sana berhari-hari, memperhatikan buah hati yang tanpa hubungan darah itu tengah mengalami kesulitan khas remaja yang tengah jatuh cinta. Namun masalahnya Ryeowook bukan lagi remaja.
Ryeowook melirik sang ibu dari balik frame kacamatanya—dia akan menggunakan benda tersebut jika pikirannya benar-benar sedang terganggu. Kemudian menyerah dan menghela napas panjang. "Mom~"
Casey benar-benar menahan diri untuk tidak tersenyum dan memeluk pemuda di hadapannya. Pasalnya tidak setiap waktu Ryeowook akan memanggil dirinya dengan sebutan seperti itu. "Ini sudah hari ketiga kami datang, dan kau tetap saja duduk tanpa mempedulikan kami di sini." Wanita itu memainkan perannya sebagai ibu-yang-sedang-marah dengan baik. "Kau tahu kami juga punya banyak urusan di luar sana, dan mengurusi puberitasmu ini hanya akan menghabiskan visa yang kami punya. Kau tahu aku tidak suka jika harus mengurus hal-hal bodoh semacam itu." Casey menganggap bahwa mengurus perpanjangan visa di sebuah negara adalah kegiatan yang paling menyebalkan. Karena itu, sebisa mungkin ia tidak akan pernah melanggar apapun yang tertulis di sana.
"Kalau kau hanya ingin sendiri, kami akan memberimu waktu." Andrew, yang sedari tadi (berpura-pura) sibuk dengan layar tabletnya kini ikut bersuara—tanpa mengalihkan tatapan dari benda persegi di tangannya.
Ryeowook baru saja akan mengatakan 'tidak'.
"Dan jika kau memang merasa tidak ingin sendirian, bukan kami kan yang kau inginkan ada di sini?" Casey sekarang benar-benar menikmati perannya.
"Aku tidak bilang tidak ingin kalian di sini. Aku memang tidak ingin sendirian. Untuk itulah aku meminta kalian datang lagi." Ryeowook merajuk, suaranya yang memohon dipadukan dengan keras kepala yang benar-benar milik Nathan Kim O'Connell.
Wanita itu memutar bola matanya, "Oh, lihat sayang. Anak ini semakin sulit saja. Aku tidak mengerti apa yang dia inginkan sebenarnya." Ujar Casey pada sang suami. "Haruskah aku menelepon Kyuhyun?"
"Tidak! Ya Tuhan, kumohon jangan, Casey. Aku tidak—belum ingin menemuinya."
"Tapi matamu tidak berkata seperti itu."
"A-apa maksudmu?"
Andrew akhirnya melepas tablet yang sedari tadi ia pegang dan bermaksud lebih fokus pada pembicaraan. "Nathan, jika kau lihat di cermin sekarang, di dahimu itu hanya ada nama Cho Kyuhyun." Laki-laki itu jelas ingin sekali menggoda walaupun apa yang ia katakan tadi memang benar adanya.
"Jadi hubungi dia sekarang juga dan minta maaf tentang apa yang sudah kau lakukan dua hari lalu." Casey memerintahkan dengan sangat jelas, seperti tidak ingin dibantah oleh siapapun.
"Aku tidak bisa melakukannya." Ryeowook mencicit. Ia membenamkan kepalanya di antara kedua lutut. "Apa yang harus aku katakan saat bertemu dengannya? Semua terasa begitu memalukan. Harusnya aku mengubur diri di dalam tanah."
Andrew hampir saja kelepasan tertawa. Beruntung Casey sigap untuk memperingatkan. Ia menyikut perut suaminya dengan sayang. "Memangnya apa yang membuatnya begitu sulit? Kau hanya perlu minta maaf dan kalian bisa melakukannya 'lagi'—aww, why baby?" ia mengusap lengannya yang sedikit memerah akibat cubitan Casey. Wanita itu memelototinya.
"Memalukan..." Ryeowook berbisik pada dirinya sendiri. "Kyuhyun tidak akan melakukannya jika bukan aku yang minta..." kalimat itu lagi-lagi membuatnya tenggelam dalam rasa malu lebih dalam. "Idiot!"
Entah siapa yang ia sebut 'idiot', tapi itu dengan segera membuat Casey akhirnya melepaskan senyuman. Ia menghampiri putra angkatnya dan membelai rambutnya dengan lembut. "Sayang, untuk kali ini kami benar-benar tidak mengerti kenapa kau merasa malu. Kami juga tidak bisa membantu. Hal seperti itu sangat lumrah untuk setiap... pasangan." Katanya hati-hati. Ia berusaha memilah kalimat yang tidak akan menyinggung apapun dan siapapun di sana.
Ryeowook mengangkat kepala dan menatap sang ibu yang kini menghujaninya dengan kasih sayang berlebih dari sorot matanya yang lembut. "Aku takut jika suatu saat terjadi kesalahan—"
"Ssstt..." Casey mendiamkan pemuda itu sambil mengusap tulang pipi Ryeowook. "Sejauh ini kau melakukan semua dengan sangat baik. Aku bahkan tidak pernah menyangka jika Kyuhyun adalah alasan untuk kemajuan pesat dari pengobatan terakhirmu, sayang." Wanita itu tersenyum dan melanjutkan perkataannya. "Kau bahagia. Dan itulah penawar terbaik dari semua kesulitanmu selama ini."
"Apa kau berpikir kalau aku benar-benar bahagia?"
Casey mengangguk. Masih dengan senyum terbaiknya. "Kau membuat kami semua terkejut saat sesi hipnotis. Begitu tenang dan terkendali."
Ryeowook membenarkan perkataan ibunya dalam hati. Wanita itu benar. Jika pada terapi-terapi sebelumnya ia begitu frustasi untuk mengingat kenangan-kenangan pahit yang membuat luka besar di dalam dirinya hingga saat ini, saat itu Ryeowook seperti mampu berdiri menyongsong potongan-potongan jati dirinya dengan lebih tenang. Walau bukan berarti ia sudah cukup berani menghadapi semua itu. Hatinya masih sangat gugup untuk setiap hal baru yang ia ingat.
Tapi ibunya benar. Ini adalah pengobatan pertama yang ia lakukan setelah bersama Kyuhyun, dan hasilnya seperti bahkan bisa membuat Andrew menitikan air mata karena bahagia. Hanya satu cara yang selalu kedua orang tuanya itu katakan sebagai obat terbaik.
"Kau harus bahagia, Nathan."
Ryeowook mengangguk dan perlahan tersenyum pada Casey. "Aku mengerti. Walaupun aku masih khawatir jika suatu saat aku bisa menyakitinya, aku akan mencoba terus. Aku janji."
"Kalian akan baik-baik saja." Terakhir dari Casey sebelum ia memeluk putra angkatnya dengan erat.
oOo
"Kapten, tanganku seperti ingin patah." Henry merintih dengan begitu menyedihkan. Wajah itu memerah dan tubuhnya sudah basah oleh peluh.
Masih ada dua ratus tiga puluh tiga hitungan lagi untuk menuju lima ratus. Walaupun belum saatnya ia bertugas, saat itu Kyuhyun langsung meluncur ke markas besar selepas dari klinik. Kemudian begitu bersemangat saat ia melihat bahwa ketiga anak buah kesayangannya berada di dalam ruangan dan membuat ekspresi yang hampir sama saat melihat kedatangan Kyuhyun.
Tanpa ucapan salam, Kyuhyun langsung bertanya "Apa kalian ingin sesuatu yang hangat?" pada Henry, Minho, dan Jonghyun.
Kemudian…
Lima ratus hitungan untuk push-up sepertinya terlalu hangat untuk hari ini.
Sementara itu Sungmin yang mungkin mulai paham dengan situasi, hanya memandang ketiga orang tersebut dengan tatapan minta maaf, walaupun sejujurnya apa yang tengah terjadi di depan matanya saat ini bisa dikatakan sangat lucu. Tapi karena tidak ingin menambah beban karena ikut campur, Sungmin hanya duduk di salah satu meja sambil menopang dagu, dan sesekali mengernyit ketika Jonghyun berteriak menyebutkan angka tiga ratus karena Kyuhyun menginjak punggungnya.
"Masih ada dua ratus dan kalian sudah seperti ini? Haaa... tanpa aku di sini, kalian pasti sudah melewati latihan pagi setiap hari, kan?" Kyuhyun membuat suaranya tidak bergetar. Emosinya bercampur aduk antara kesal karena sudah dikhianati dan bersemangat karena akhirnya setelah dalam dua bulan terakhir, ia tidak pernah berteriak dan diteriaki orang.
"Kapten—"
"Aku belum resmi bertugas!"
"Hyung... maafkan kami!" Jonghyun lagi-lagi berteriak. Perutnya benar-benar mati rasa.
"Ini yang terakhir!" Henry menambahkan. "Kami tidak akan pernah mengkhinatimu lagiiiiii."
Kyuhyun melipat kedua tangannya di dada, "Kalian tahu aku tidak pernah percaya pada sebuah janji. Jadi simpan saja perkataan manis itu dan HITUNG LAGI! Atau aku akan menyuruh kalian untuk mengulanginya dari awal.
[...]
Kyuhyun memberikan botol minum terakhir terakhir pada Minho. Pemuda itu tidak terlalu berbeda dengan kedua kawannya yang sudah begitu kepayahan. Seolah tiga botol air mineral yang diberikan belum cukup untuk mengganti semua energi yang terkuras akibat hukuman tadi. Hanya saja Minho tidak terlalu banyak mengeluh seperti Henry dan Jonghyun. Pemuda itu memang selalu menjadi yang paling sunyi di antara yang lain.
"Apa kau sudah memaafkan kami?" tanyanya masih sedikit tersengal.
Kyuhyun tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan diri di sebuah batu besar mengikuti yang lainnya. Siang itu matahari menampakkan sedikit wajahnya dan membuat bumi yang mereka pijak tidak terlalu dingin. Taman di belakang markas adalah tempat paling favorit untuk sekedar bersantai, dan karena terlalu sering Kyuhyun dan ketiga rekannya datang ke tempat itu, orang-orang dengan sendirinya menghindar untuk tidak duduk di sana hingga taman kecil tersebut secara otomatis menjadi markas kecil bagi keempat petugas itu.
"Kau terlihat lebih siap dari pada yang lain. Seharusnya aku juga meninju wajahmu tadi. Kau tahu? Terakhir kali dikhianati, aku tidak sanggup melampiaskannya kepada siapapun, dan rasanya seperti ingin mati saja." Mereka menatap Sungmin yang tengah tertawa bersama dengan dua rekannya yang lain di batu besar yang letaknya berseberangan dengan batu dimana Kyuhyun dan Minho berada. Karena jaraknya tidak terlalu dekat, tiga orang di sana tidak akan mendengar apa yang tengah Kyuhyun bicarakan.
"Kau belum memaafkan kami." Minho tersenyum kecut di sebelahnya. Ia kemudian memilih untuk membasahi kerongkongannya kembali dengan air.
"Kenyataan bahwa kalian juga tidak jujur tentang artikel yang Sungmin buat, sebenarnya sudah lama kulupakan. Dan mungkin untuk kali ini pun tidak akan begitu sulit." Kyuhyun mengangkat salah satu sudut bibirnya dan tersenyum.
"Kau lebih menakutkan saat mengatakan itu."
Yang dimaksud hanya bisa terkekeh pelan. Benar sekali bahwa perkataan itu tidak datang dari seorang Kyuhyun yang pemaaf. Jika ingin jujur, ia masih saja gusar dengan kejadian beberapa hari terakhir. Kemudian berita tentang Minho dan kawan-kawan yang mengambil kasus Sungmin tanpa sepengetahuannya seolah menjadi pemicu. Ia memang tidak benar-benar marah pada ketiga anak buahnya itu, hanya saja keadaan seperti mencemoohnya. Kyuhyun merasa tidak lagi profesional karena selalu saja terjebak dengan urusan pribadi. Terlebih, semu itu adalah sebuah urusan percintaan.
"Kurasa aku jatuh cinta lagi, Minho."
Kemudian yang bisa terjadi pada pemuda malang di sampingnya hanyalah menyemburkan air dari dalam mulut dan terbatuk-batuk.
"Hyung..." Minho merintih, "Katakan kalau aku salah dengar."
Kyuhyun tertawa sambil menggeleng. "Sayangnya kau tidak salah dengar. Apa berita ini terdengar begitu buruk?" tanyanya sedikit canggung.
"Ti-tidak, bukan begitu. Maksudku..." Minho kembali mengatur napas dan fokusnya, walau bagaimanapun Kyuhyun adalah manusia yang tidak pernah main-main saat mengatakan sesuatu tentang 'cinta'. "...kau jatuh cinta lagi? Dengan siapa? Jangan katakan..." pemuda itu mengalihkan tatapan pada Sungmin yang masih mengobrol ceria di sana dengan sorot mata menakutkan. Sejujurnya ia sudah menahan keingintahuan tentang bagaimana Kyuhyun dan Sungmin bisa dating bersama-sama hari ini.
Kyuhyun menyadari apa yang ada di kepala Minho. Secara otomatis matanya ikut beralh menatap objek yang sama. "Jika dengan Sungmin, aku bisa mengatakan bahwa hal itu terjadi sebaliknya."
"Maksudnya?"
Kyuhyun terlihat berpikir, "Atau mungkin tidak. Sungmin sepertinya hanya masih mencintaiku."
"Hyung, kau ini benar-benar—katakan dengan jelas, aku tidak mengerti maksudmu." Minho seperti melupakan rasa lelahnya. Pemuda itu begitu frustasi dengan pengakuan Kyuhyun yang masih seperti ucapan-ucapan tidak jelas.
Kyuhyun akhirnya menatap Minho. "Aku bertemu dengan orang lain,"
"Itu bagus!"
"Dan kurasa aku sudah benar-benar mencintainya. Tapi..."
"Tapi apa?" Kedua mata Minho sudah seperti anak kecil yang sangat ingin tahu tentang bagaimana cara Jack Sparrow mempertahankan eyeliner-nya di tengah-tengah pertarungan yang penuh keringat dan darah.
"Tapi aku tidak tahu apakah dia juga memiliki perasaan yang sama." Kyuhyun berujar tanpa emosi. "Kemudian Sungmin tiba-tiba berkata padaku akan melepaskan semuanya hanya agar kami bisa bersama lagi seperti dulu."
"APA KATAMU?!"
Minho tiba-tiba saja berteriak dan berdiri. Ia membuat semua orang akhirnya diam dan memperhatikan dengan tatapan aneh.
"Yah, Choi Minho, ada apa denganmu?" Jonghyun lah yang pertama kali merespon. Sementara Henry hanya bisa menganga di sebelahnya.
"Kalian bertengkar?" itu Sungmin yang bertanya. "Kyuhyun-ah..."
Kyuhyun tidak menyahut, pria itu justru membuang muka walaupun ikut berdiri. Ada luka dalam tatapannya yang hanya sekilas. Ia melirik jam tangan dan mengetahui bahwa memang sudah saatnya untuk pergi. Walau ia sama sekali tidak punya acara yang harus didatangi atau janji dengan siapapun.
"Aku harus pergi. Sampai bertemu besok pagi."
Kemudian pemuda itu berlalu pergi. Sosok Kyuhyun semakin terlihat kecil karena jarak yang ia buat dengan langkah-langkahnya. Tenggelam bersama jarak pandang yang semakin melebar dan membawa semua kegelisahannya seorang diri.
"Apa yang terjadi?" Henry membuka suara. Ketiga orang itu mendekati Minho yang masih terlihat gusar. Wajahnya bahkan seperti saat ketika ia kehilangan seorang pencopet di antara kerumunan orang.
Minho menatap Henry dan Jonghyun tanpa berkata apapun. Namun ketika tatapannya sampai pada sosok Sungmin yang diam dengan sedikit kecemasan bercampur bingung di wajahnya, pemuda itu membuka suara. "Tidak bisakah kau membiarkannya sendiri?"
Sungmin terkejut ketika perkataan itu memang dengan sangat jelas ditujukan padanya. "Minho-ya..." namun tidak ada kalimat apapun yang bisa ia rangkai.
Kemudian dengan atmosfir yang kelam, Minho meninggalkan kedua rekannya dalam keadaan bingung bercampur penasaran.
Dan satu orang disana yang secara aneh, begitu terluka dengan perkataan terakhir tadi.
oOo
Dengan jantung berdebar dan sikap waspada, Kyuhyun melangkahkan kakinya di ruang tengah sambil membawa sebuah pemukul baseball di kedua tangan. Pasalnya, ia baru saja masuk rumah dan menemukan bahwa semua lampu sudah menyala. Kyuhyun tidak pernah lupa untuk memadamkan penerangan di dalam apartemennya saat akan keluar, dan ia masih sangat yakin jika pagi tadi lampu itu memang mati.
Jantungnya seperti akan melompat ketika sebuah suara terdengar dari dalam kamarnya. Apa benar-benar ada pencuri di rumahnya? Kyuhyun terus mengulangi perkataan itu di kepalanya. Kedua tangannya menggenggam tongkat pemukul tadi lebih erat dan bergerak perlahan menuju kamar pribadinya.
Kemudian ketika pintu terbuka, semua kewaspadaan meluntur bersama dengan persendiannya yang berangsur mengendur.
"Ryeowook?"
Sosok yang memiliki nama itu berbalik, dan jika dilihat dari ekspresi wajah, ia juga sama terkejutnya. "K-Kyuhyun? Kau sudah pulang?"
"Apa yang kau lakukan di sini?" Kyuhyun masih terpaku di ambang pintu kamar. Matanya menangkap Ryeowook dengan balutan sweater coklat dan celana panjang polos berwarna senada. Tidak jelas bahannya, namun terlihat cukup nyaman untuk dipakai bersantai.
Tunggu. Ryeowook? Dengan pakaian santai? Di rumahnya? Kyuhyun seperti belum berhasil menemukan cara untuk memahami situasi saat ini.
"Aku?" Ryeowook menunjuk diri sendiri, "Ah, maaf, aku mencari handuk karena sepertinya di lemari kamar mandi masih sangat kosong."
Kyuhyun menatap Ryeowook lagi dengan lebih lekat. Memang masih terlihat jejak air dan basah di helaian rambut bagian depan. Pria itu sepertinya memang habis mencuci muka dan belum sempat dikeringkan.
Lagi-lagi Kyuhyun mempertegas pikirannya. Ryeowook ada di rumahnya dengan pakaian santai. Dan dia... mencuci mukanya? Pria itu memakai kamar mandinya? Sesaat ia menggeleng sebagai usaha bahwa mungkin saja bisa memperbaiki kerja otaknya.
"Kau dari mana saja?" Ryeowook kemudian melangkah untuk mendekat, walaupun masih ragu untuk bisa terlalu dekat. Sepenglihatannya, pria di depannya saat ini cukup terkejut dengan tamu tidak diundang—sebutan itu sebetulnya cukup membuatnya tersinggung.
"Bagaimana kau bisa masuk?" Kyuhyun menjawab dengan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan apa yang Ryeowook katakan tadi.
"Lewat pintu, tentu saja." Ryeowook menjawab cepat.
"Aku menggunakan kode rahasia untuk membuka pintu."
"Aku juga menggunakannya."
"Dan setahuku, aku tidak pernah memberitahumu."
"Mmm... petugas wanita itu yang membantuku." Ryeowook sedikit membuang muka.
"Dia membantumu membuka pintu? Kenapa?"
"Karena aku memohon padanya."
Kemudian Kyuhyun menaruh tongkat baseball-nya dan berkacak pinggang. Terlihat sekali ia tengah berusaha bersabar dengan pembicaraan yang-tidak-berujung ini. "Jangan main-main, Ryeowook. Apartemen ini memang bukan yang termahal di kota. Tapi pegawai yang ada di sini tidak akan pernah sembarangan membuka pintu apartemen yang bukan miliknya hanya karena seseorang memohon pada mereka."
Kesunyian terjadi beberapa saat sebelum akhirnya Ryeowook menyerah. Ia menghela napas panjang. "Baiklah. Aku minta maaf karena sudah membobol pintu apartemenmu." Ujarnya sambil merengut.
Pengakuan itu justru membuat kedua mata Kyuhyun melebar. "Membobol? Dengan apa?" Jelas sekali tidak ada keusakan pada pintunya.
Ryeowook mengangguk. "Kau tahu kan? Sesuatu yang bisa dipakai untuk merekam beberapa angka yang sering ditekan pada sebuah tombol dan menyaringnya dengan probabilitas tinggi dan tingkat error hanya satu sampai lima persen."
"Dan kau melakukannya dengan itu? Bahkan tidak semua anggota FBI punya alat itu."
Ryeowook mulai jengah dengan pertanyaan dan ekspresi terkejut-namun-tidak-percaya Kyuhyun. "Tidak bisakah kau hanya senang karena melihatku di sini? Aku bukannya ingin merampok atau semacamnya di rumahmu."
Kyuhyun sedikit menurunkan nada suaranya, "Kau bisa menggunakan cara yang normal, kan?"
"Aku hanya ingin memberikan kejutan."
"Ya. Aku terkejut. Lalu apa lagi?"
Ryeowook tidak menyahut lagi. Hal itu kembali menimbulkan kesunyian di antara mereka. Entah apakakah cara yang ditempuh benar-benar buruk hingga membuat Kyuhyun kesal dengan kedatangannya, atau pria itu hanya benar-benar kesal karena Ryeowook datang ke rumahnya. Jika alasannya yang pertama, Ryeowook akan minta maaf dengan cara yang benar. Tapi jika yang kedua adalah alasan mengapa Kyuhyun begitu terlihat tidak nyaman, keinginan pertama yang ada di kepalanya adalah segera meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Kyuhyun yang melihat diamnya Ryeowook sedikit demi sedikit melunak. Tanpa tergesa, ia melangkah mendekati sosok tersebut yang kini duduk menunduk di pinggir ranjang.
Kemudian menyadari bahwa di dekatnya kini sudah berdiri sosok satu-satunya orang yang terus saja memenuhi isi kepalanya dalam dua hari terakhir, Ryeowook hanya mengulurkan kedua tangan dan melingkarkannya di pinggang Kyuhyun. Tidak ada suara selain desah napas lembut dan detak jantung samar di telinga Ryeowook ketika wajahnya menemukan kehangatan permukaan kulit Kyuhyun yang masih tertutup dengan bahan rajutan pakaiannya.
Beberapa menit berlalu dengan percakapan batin mereka berdua, hingga akhirnya Kyuhyun membalas pelukan tersebut.
"Apa kau marah padaku?"
Ryeowook menggeleng tanpa melepaskan pelukannya.
"Tapi aku masih marah padamu."
Kali ini sebuah anggukan.
"Aku boleh marah padamu?"
Lagi-lagi anggukan.
"Kalau begitu lepaskan aku."
Ryeowook justru tiba-tiba semakin mempererat pelukan dari kedua tangannya. Seolah ia tidak akan melepaskan Kyuhyun untuk selamanya. Atau... apakah ia memang berniat untuk tidak akan melepaskan Kyuhyun selamanya?
[...]
.
.
"Kau sudah seperti panda, Ryeowook. Jangan katakan kau tidak tidur selama dua hari ini."
Mereka kini sudah berada di atas ranjang yang memang dipersiapkan Kyuhyun untuknya dan Ryeowook. Dan seperti yang sudah ia perkirakan, tempat ini memang lebih nyaman jika ditempati berdua. Ryeowook bahkan sudah terlihat ingin memejamkan matanya sedari tadi. Tapi dirinya masih ingin menatap Kyuhyun yang juga berbaring menatapnya. Keduanya tidak berpelukan, hanya saling menatap dan menautkan jemari mereka di atas tempat tidur.
"Apa menurutmu aku bisa tidur dengan nyenyak?" Ryeowook bertanya pelan. Suaranya benar begitu lelah.
"Itu belum bisa membuatku berhenti marah padamu." Ujar Kyuhyun sama lelahnya.
"Kapan kau berencana untuk memaafkanku?"
Kyuhyun tidak langsung menjawab. Matanya menangkap begitu banyak makna dari setiap perkataan Ryeowook. Dalam kepalanya, sosok ini masih begitu asing untuk ia kenal lebih dalam. Terlalu banyak hal dari diri seorang Kim Reowook yang nantinya mungkin akan membuat Kyuhyun terkejut. Hal 'membobol' nomor sandi rumahnya adalah hal kecil, karena ia tahu ada bom besar yang tersembunyi, dan entah bagaimana bom itu akan meledak. Apakah harus ada tombol rahasia yang ditekan, atau bahkan tidak ada tombol sama sekali?
Karena bisa saja sesungguhnya bom itu sudah memiliki 'waktu' untuk meledak.
"Tergantung padamu." Kyuhyun menjawab singkat.
"Aku? Bagaimana?" Ryeowook menatap bibir Kyuhyun dan membayangkan kembali bagaimana benda itu selalu berhasil membuatnya diam.
"Jika kau bersikap baik, penangguhan 'maaf' itu akan semakin singkat."
Ryeowook beringsut untuk memperkecil jarak mereka. "Aku sudah bersikap baik sekarang."
"Kau membobol rumahku tadi."
"Aku hanya iseng mempraktekkan sedikit penemuan."
Kyuhyun terkekeh, "Ya Tuhan, kau berpotensi membuka brankas bank negara tanpa merusak pintunya, Ryeowook."
"Aku tidak tertarik. Karena mungkin saja satu brankas itu isinya adalah uangku semua."
"Kau akan menyesalinya nanti."
"Aku tidak menyesal membuka pintu rumahmu."
"Kenapa?"
"Karena ternyata ada ranjang yang sangat besar di dalamnya..."
Ryeowook mendongak untuk sebuah ciuman singkat.
"Dan kau yang membuatnya semakin hangat dan nyaman."
oOo
Sungmin mencengkeram meja dengan laboratorium dengan erat. Kedua matanya memancarkan aura kemarahan yang tertahan. Hari ini adalah pengujian dari penelitiannya yang kesekian kali. Seekor monyet kecil yang terdeteksi mengidap mesothelioma sudah berada dalam pengawasannya dalam beberapa minggu, dan hari ini adalah hasil dari pengujian vaksin terakhir sebagai fase pereaksi dari semua serum yang sudah ia tanam pada tubuh primata malang tersebut.
Dua hari dua malam ia tidak tidur untuk menyeleksi perkembangannya, dan apa yang terjadi hari ini membuatnya ingin menghancurkan seluruh isi laboratorium.
"Seperti yang pernah kita khawatirkan, Dokter. Serum ini tidak mudah dimodifikasi. Sifat aslinya memang 'membakar' habis sel kanker, tapi zat sisanya di dalam tubuh masih terlalu kuat untuk merusak sel-sel sehat. Pasien tidak akan selamat untuk efek samping SHC yang ditimbulkan."
Sungmin melepas sarung tangan karet dan melemparkannya dengan kasar. "Aku akan membuat ulang rumusan dan mengurangi kadar serumnya."
"Tapi kita sudah melakukannya hingga dosis paling rendah."
Sungmin mendelik marah, "Sebelum quark dan lepton ditemukan, semua orang bahkan sudah begitu percaya jika atom tidak dapat dibagi lagi. Kenapa kau yakin sekali mengatakan bahwa kita sudah menggunakan dosis terendah?"
Asistennya diam dan hanya menunduk patuh. Sungmin memang bukan tipikal senior dengan tempramen buruk. Walaupun terkesan ramah, pria itu tidak bisa diremehkan ketika ada sesuatu yang menganggunya.
"Aku penasaran apa rumor itu benar?" gadis muda tadi berjalan sambil mengucapkan kalimat-kalimat asal. Namun salah satunya membuat Sungmin cukup penasaran.
"Rumor?"
Dokter magang itupun berbalik dan mulai terlihat gusar. "Mmm... beberapa orang pernah mengatakan padaku jika ada satu orang yang selamat dengan penggunaan serum itu. Apa kau masih ingat nama perumus awal serum ini? Rumor mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah berhasil dengan penelitian tersebut. Pasien terakhirnya menghilang begitu saja setelah dibawa ke New York. Beberapa bilang kalau dia sudah mati, tapi sebagian kecil justru mengatakan yang sebaliknya."
Sungmin diam-diam merekam perkataan calon dokter muda itu. Memang benar. Perumus serum itu melakukan pengujian terakhirnya di rumah sakit ini dan tidak ada yang tahu bagaimana kondisi pasien yang digunakannya.
Dokter itu hanya meninggalkan catatan-catatan dasar pembuatan fase vaksinasi dan serum pamungkas tanpa membeberkan hasil paling akhir. Catatan itu jelas terputus, dan hanya dari sanalah Sungmin mulai melakukan penelitian.
"Tapi mungkin itu hanya perkataan omong kosong. Dokter tahu, kan? Efek terbakar-dari-dalam itu..." gadis itu mengusap-usap tubuhnya sendiri karena merinding, "Siapa yang akan bisa bertahan?"
"Apa ada yang pernah bertemu dengan dokter itu?" Sungmin akhirnya melayangkan pertanyaan tersebut dengan satu keyakinan baru.
"Tidak ada yang bisa menemukannya. Orang-orang mengatakan mungkin saja dia sudah mengganti nama. Tapi hanya ada satu dokter di sini yang memiliki nama sama dengan dokter hebat itu."
"Siapa?"
Gadis tadi mencoba menjawab walaupun dirinya sendiri ragu. "Sekali lagi, Dokter. Ini mungkin hanya kabar burung yang tidak berarti apa-apa. Jadi jangan terlalu dipikirkan. Ada seseorang, walaupun dia mengaku masih keturunan Korea, tidak sedikit yang curiga jika sebetulnya ia punya hubungan dengan Abigail Walker."
Untuk pertama kalinya sejak memulai semua percobaan tentang penyembuhan penyakit kanker ini, Sungmin mendengar nama belakang dokter wanita yang hebat tersebut, kemudian ia seperti memiliki sebuah harapan baru. Sebuah harapan yang mungkin tidak hanya akan membawanya kepada satu kesuksesan akan pengobatan besar, namun juga membuka semua tabir masa lalu tentang rumah sakit ini.
oOo
Kyuhyun, Minho, Jonghyun, dan Henry tengah berada di ruang monitor dimana mereka bisa menyaksikan sepak terjang Jaksa Park dalam menginterogasi. Di hari pertama Kyuhyun datang ke markas besar, mereka sudah dihadapkan dengan kasus penyuapan. Dan yang cukup menarik untuk diikuti, tersangka kali ini melibatkan petinggi kepolisian yang tidak lain adalah komisaris mereka sendiri.
"Sangat menarik. Kupikir semua ini menjawab semua pertanyaan kenapa banyak sekali polisi-polisi idiot di Seoul. Bukan rahasia jika si tua itu banyak menerima suap dari para calon perwira di sini, tapi aku cukup terkejut kalau ternyata dia juga salah satu yang menggunakan jalan pintas untuk sampai pada posisinya." Jonghyun berbisik, masih sambil memperhatikan bagaimana mantan atasan mereka berada di ruang akuarium dengan tampang sangat lelah karena sudah berjam-jam diinterogasi.
Berbanding terbalik dengan pria paruh baya tadi, Jungsoo masih cukup tampan dan berkarisma dengan lontaran-lontaran pertanyaan yang sepertinya lebih banyak menghasilkan pertanyaan lain saat Komisaris Lee menjawabnya.
"Dari dulu, aku memang lebih suka bekerja dengan para peserta wajib militer. Karena jika mereka melakukan kebodohan, mereka pasti mengakui jika memang bodoh." Henry menimpali.
"Kalau aku lebih suka bekerja dengan polisi wanita. Mereka benar-benar..." Jonghyun menyelesaikan kalimatnya dengan mengacungkan ibu jari.
Minho dan Kyuhyun hanya melirik bagaimana dua rekannya bergurau. Tidak ada yang bisa melarang mereka jika sudah seperti itu. Karena jika ingin jujur, keempatnya lebih memilih menghajar para preman pembuat onar di jalan daripada hanya duduk diam dalam jangka waktu yang lama seperti ini.
"Kyuhyun, seseorang ingin bicara denganmu." Tiba-tiba sang operator memanggil Kyuhyun setelah menerima sebuah panggilan interkom.
Alis Kyuhyun mengerut bingung, namun ia tetap menerimanya. "Ini Cho Kyuhyun." Ujarnya tegas.
Pria itu mendengarkan beberapa saat seseorang di seberang sana berbicara, mimik mukanya masih belum berubah.
"Kenapa baru datang sekarang?"
Kyuhyun melanjutkan mendengarkan.
"Baiklah. Aku akan bicara pada Jaksa Park. Suruh mereka untuk menunggu."
"Ada apa?" Minho yang bertanya.
"Pengacaranya baru saja tiba dan memaksa untuk menghentikan interogasi." Kyuhyun tidak menjelaskan banyak. Ia justru langsung beranjak untuk masuk ke dalam ruangan dimana Komisaris Lee dan Jaksa Park Jungsoo berada.
"Aku minta maaf karena menginterupsi. Tapi pengacara—para pengacara sudah hadir. Mereka ingin bicara denganmu." Kyuhyun tidak berbasa-basi saat menyampaikan kenapa ia terpaksa masuk di tengah proses interogasi.
Jungsoo tidak menyahut, ia justru melirik lelaki paruh baya di hadapannya dengan seringaian. "Jika tidak ingin bicara, kenapa tidak memanggil mereka dari awal, Komisaris? Kau membuang waktumu yang berharga."
Kemudian setelah mendapat persetujuan, akhirnya Komisaris Lee meninggalkan ruang interogasi untuk mendapat bimbingan dari dua orang pengacaranya.
Mereka berempat kini berkumpul di ruang interogasi dengan alasan bahwa di sana lebih hangat daripada ruang pertemuan. Membicarakan beberapa petunjuk dan bukti-bukti tentang kasus yang sedang mereka tangani. Walau terbilang cukup kecil, ruang lingkup kasus ini bisa menjadi jalan bagi mereka untuk bisa menyentuh kasus yang lebih besar.
"Kau bertanya soal hubungannya dengan Moon Sae Young? Tidakkah terlalu dini?" Kyuhyun menatap Jaksa Park dengan heran. Sampai saat ini entah kenapa dari setiap kasus, ia pasti menghubungkannya dengan tokoh masyarakat yang satu itu.
"Hanya intermezo. Aku hanya perlu melihat perubahan di wajahnya saat mendengar pertanyaan itu." Jungsoo tersenyum. Ia memutar-mutar cincin di jari telunjuk kanannya.
"Lalu, ekspresi apa yang kau dapatkan?" Sekarang Henry yang bertanya.
Pria itu mengendikkan bahu. "Sangat umum. Walaupun bukan secara 'pernyataan', aku bisa menebak kenapa dia menahan kasus kalian terdahulu. Orang itu benar-benar memiliki mata di sana-sini." Jungsoo menghela napas untuk membuang kejengkelan. "Dan menggunakan orang yang paling berpengaruh di sebuah isntansi adalah cara mereka menutup semua mata, telinga, dan mulut."
"Aku ingin sekali jika semua dugaanmu itu terbukti." Kyuhyun melirik arlojinya dan mengubah topik. "Sudah waktunya. Kita akan mendengarkan bagaimana pengacara-pengacara itu menciptakan sebuah cerita yang persuasif untuk kita."
[...]
Mereka semua pindah ke sebuah ruangan yang lebih besar. Kali ini bukan ruang interogasi, karena sama sekali tidak ada 'tersangka' di sana.
"Baiklah, mari kita dengarkan apa pendapat kalian mengenai kasus ini." Jungsoo memimpin pertemuan kecil tersebut dengan sangat profesional. Wajahnya menunjukkan sebuah keramahan yang justru terasa sangat berbahaya. Perkataan yang keluar dari mulutnya mungkin tidak akan sebanyak ketika ia harus mewawancarai seseorang, namun otaknya selalu bisa mengolah satu rangkain kalimat yang mungkin hanya terdiri dari subjek, predikat, dan objek ke dalam ribuan makna.
Bahkan Kyuhyun tidak pernah bisa menebak isi kepala jaksa muda tersebut.
"Seperti yang sudah kami duga, kalian sudah bertindak terlalu jauh tanpa memperhatikan bahwa klien kami punya hak untuk diam." seorang pria dengan balutan setelan rapi dan berkacamata tebal memulai argumen mereka. "Kami bisa menuntuk balik untuk pelanggaran kecil tersebut."
Berbeda dengan keempat orang di sebelahnya yang kini menunjukkan raut wajah sedikit tegang, Jungsoo justru menyamankan diri dengan menyandarkan punggung lebih dalam di kursinya. "Anda harus tahu kalau aku tidak akan pernah membuang sedikitpun kesempatan. Siapa yang menyuruh kalian untuk terlambat?"
Perkataan tadi tidak disangka cukup untuk membuat pria yang satunya—yang terlihat lebih muda bergerak seperti ingin menyerang balik. Namun pria berkacamata tadi langsung menahannya. Ia melanjutkan setelah melihat partnernya kembali tenang. "Untuk hal yang satu itu kami punya alasan yang cukup bagus, Jaksa Park. Aku bisa menyebutkannya jika kalian menginginkan."
Jungsoo menolak tawaran tersebut, "Lanjutkan saja pada kasus. Aku cukup penasaran bagaimana kalian akan melakukan pembelaan dengan beberapa bukti yang sudah kami miliki."
"Kami akui kalian sangat cepat. Tapi tetap saja, kami harus memeriksa sendiri para saksi agar yakin bahwa mereka bicara tanpa tekanan."
"Aku penasaran tekanan semacam apa yang membawa beberapa orang untuk akhirnya datang sendiri dan membuat pengakuan bahwa mereka telah dimintai sejumlah uang untuk mengikuti tes menjadi anggota kepolisian." Jungsoo memiringkan kepalanya, "Dan itu jumlahnya sangat besar, Tuan-tuan."
"Tidak ada penyangkalan, Jaksa Park. Kami hanya ingin bicara dengan narasumber—"
"Mereka tidak akan bicara kepada siapapun selain kami."
Ada keheningan beberapa detik akibat ketegasan tersebut. Semua orang terlihat sekuat tenaga untuk menahan diri hanya demi sebuah proses yang tidak melewati batas. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain mematahkan kaki dan tangan bagi enam orang di dalam ruangan tersebut.
"Baiklah. Tidak ada jalan selain hanya bisa mendengarkan mereka di pengadilan." akhirnya si pria berkacamata memutuskan untuk tidak membuat keadaan semakin sulit. "Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang kau ajukan tentang para pejabat yang mungkin terlibat? Tidakkah hal tersebut terlalu jauh?"
Alih-alih menjawab langsung, sekarang Kyuhyun beranjak untuk mengambil sebuah file tipis dari atas lemari yang terletak tidak jauh dari dimana mereka duduk. Kemudian pemuda itu memberikannya pada tamu mereka.
"Catatan transaksi keungan Komisaris Lee Joosok selama lima tahun."
Si pengacara mengerutkan keningnya, "Dan kalian mendapatkan semua ini secara legal?"
"Tentu saja. Kami anggota kepolisian. Ada yang dinamakan prosedur dalam menjalankan tugas setiap saat." Kyuhyun hampir tersulut oleh pertanyaan sang pengacara yang menuduh dengan cara halus.
"Lalu?"
"Terlalu banyak uang dikirimkan ke rekening ini dengan memanfaatkan bilyet giro."
Dua pengacara tersebut tertawa merendah, "Ayolah kawan, ibuku bukan seorang pekerja, tapi buku rekeningnya selalu penuh dengan semua uang kiriman dari anak-anaknya."
Jungsoo tidak merespon. Ia membiarkan Kyuhyun melanjutkan.
"Setiap bilyet menggunakan satu kodek unik. Beruntunglah kami karena mendapatkan nama orang pemilik bilyet giro tersebut."
Suasana kemudian mulai kembali menegang—tidak, ketegangan itu lebih tepatnya hanya terpancar dari dua pengacara di dalam sana.
"Im Yeoson." kini Jungsoo kembali membuka suara. Tubuhnya sudah tegak dan menatap dua tamunya dengan sorot mengancam. "Seorang supir."
Metode patah-patah dalam nada bicaranya menghasilkan efek ketegangan yang luar biasa.
"Orang-orang mengenalinya sebagai supir pribadi istri ketiga Menteri Moon Sae Young."
oOo
"Berapa lama orang tuamu akan tinggal di Korea?" Kyuhyun mencoba berkonsentrasi untuk menyingkirkan beberapa helai selada ke pinggir piringnya ketika Ryeowook ikut bergabung di meja makan.
"Aku tidak tahu pasti. Mungkin satu minggu. Mereka sedang sibuk memberikan banyak kuliah umum di Cap-off untuk para mahasiswa kedokteran." Ryeowook mengernyit ketika matanya menangkap apa yang tengah dilakukan Kyuhyun. "Itu selada, Kyuhyun. Mereka tidak akan menggigitmu. Makan."
Tidak ada sahutan. Kyuhyun tidak peduli jika dedaunan hijau itu bahkan bisa memberikan kekuatan super padanya. Entah apa yang terjadi, lidahnya pagi ini benar-benar tidak mentolerir rasa apapun.
"Kau tidak suka saladnya?" Ryeowook berkata lagi ketika akhirnya Kyuhyun berhenti makan.
Yang ditanya menggeleng dan mendesah pelan, "Kurasa ada yang aneh dengan mulutku." Ujarnya tak yakin. "Dari tadi tidak ada yang enak."
Ryeowook mengerutkan keningnya. Pagi ini mereka memutuskan untuk memesan makanan karena di dalam kulkas sama sekali tidak ada yang bisa diolah. Kyuhyun benar-benar belum mengisi apapun ke dalam lemari pendinginnya.
Ia tidak makan menu yang sama seperti Kyuhyun, jadi tidak tahu seperti apa rasanya. Kemudian untuk memastikan, Ryeowook mencoba sedikit makanan Kyuhyun.
"Tidak ada yang aneh." Katanya yakin. "Apa kau baik-baik saja? Keluarkan lidahmu." Ryeowook mulai memeriksa lidah Kyuhyun yang memang terlalu pucat dari biasanya. "Merasa mual?" tanyanya lagi, sambil meletakkan telapak tangannya di kening Kyuhyun.
"Sedikit."
"Apa kau makan sesuatu yang aneh selama beberapa hari ini di tempat kerja?" Ryeowook mulai menyingkirkan makanan Kyuhyun dari atas meja dan menggantinya dengan segelas susu yang sudah ia periksa tanggal kadaluarsanya. "Minum ini. Pelan-pelan saja."
Namun Kyuhyun mengernyit saat melihat cairan putih dan kental tersebut disajikan di depan matanya. "Eugh... sepertinya tidak bisa." Ia menggeleng.
"Pelan-pelan saja. Ini bisa menetralisir toxic rendah di dalam tubuhmu." Ryeowook terlihat cukup khawatir.
Kyuhyun tetap menolak, ia justru berdiri dan meraih mantelnya. "Aku baik-baik saja, Ryeowook. Mungkin hanya kurang tidur. Udara dingin di luar pasti bisa membantuku kembali segar."
Namun baru saja ia akan melangkah melewati ruang tengah, tiba-tiba seluruh badannya terasa begitu dingin. Kyuhyun bahkan tidak yakin jika Ryeowook lupa menutup jendela karena rasanya seperti angin di luar masuk dan menghantam permukaan kulit hingga persendiannya.
"Kyuhyun?" Ryeowook memperhatikan perubahan aneh pada Kyuhyun.
Yang dipanggil mencoba menoleh, dan begitu terkejut dia saat penglihatannya mendadak kabur dan Ryeowook terlihat tidak hanya satu. Kyuhyun mencoba tetap fokus dan berusaha memperbaiki penglihatannya. Tangannya yang bebas mulai mencari sesuatu sebagai pegangan. Beruntung pria itu berdiri di dekat sofa hingga benda itu kini menjadi satu-satunya penyangga tubuh.
Pikirnya ia pasti sudah gila. Persendiannya mendadak sama sekali tidak memiliki kekuatan dan Kyuhyun jatuh di atas sofa yang tadi hanya ia pegangi.
Ryeowook yang tadi hanya menatap bingung kini sudah langsung melesat untuk menolong Kyuhyun. Walaupun terlambat karena tubuh itu sudah lebih dulu ambruk di atas sofa, ia tetap berusaha membuat Kyuhyun tetap fokus. "Kyuhyun... Kyuhyun! Lihat aku!" Ryeowook mencoba dengan mengguncang tubuh tersebut, dan demi seluruh pendingin yang ada di kota ini, suhu tubuh Kyuhyun sudah hampir menyamai mereka semua.
Suara yang awalnya terdengar keras, lambat laun hanya seperti sebuah bisikan di telinga Kyuhyun. Ia begitu frustasi dengan penglihatan ganda dan tuli secara tiba-tiba. Ingin sekali ia menjelaskan apa yang sedang dirasakannya pada Ryeowook, namun otot-otot bibirnya bahkan tidak mau menuruti perintah otak. Semuanya semakin parah ketika beberapa detik berlangsung, dan Kyuhyun menyadari bahwa tidak ada oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya.
Apa yang terjadi dengannya? Kyuhyun tiba-tiba merasa takut luar biasa.
Keadaan Ryeowook tidak lebih baik. Pemuda itu terus mencoba memanggil Kyuhyun dan membuat kekasihnya bicara walau hanya sepatah kata. Air mata sudah menggenang di pelupuk dan otaknya berusaha memikirkan jalan keluar lain. Pria di hadapannya saat ini sudah sedingin es. Wajah itu membiru, mengisyaratkan bahwa sistem pernapasan Kyuhyun tidak bekerja. Jika terus seperti itu Ryeowook mungkin akan segera mendapati jantung Kyuhyun berhenti berdetak.
Kemudian benda itu terlihat di atas meja.
Ryeowook segera menekan tombol angka satu pada ponselnya, dan segera panggilan itu terjawab pada dering pertama.
"Aku butuh ambulan, SEKARANG!"
oOo
"Botulinum."
Walker menghampiri Ryeowook yang masih duduk tepat di samping ranjang rumah sakit. Kyuhyun sudah dipindahkan dari unit gawat darurat ke ruang perawatan. Semua orang seperti bekerja pada detik-detik terakhir. Kyuhyun bahkan mendapat penanganan langsung dari tiga dokter secara bersamaan. Sebuah ventilator langsung dipasangkan pada tubuh yang sudah setengah mati karena kesulitan bernapas. Kyuhyun benar-benar kehilangan kendali akan seluruh sistem saraf motoriknya.
Ia sangat beruntung karena pemberian antitoksin dilakukan dengan cepat hingga reaksi lebih lanjut racun tersebut dapat segera dihentikan.
"Tanda-tanda vitalnya sudah berangsur normal. Dia akan baik-baik saja." Walker memutuskan untuk tidak membahas racun yang hampir saja menghilangkan nyawa seorang petugas polisi terbaik di kota. Melihat bagaimana keponakannya berusaha menahan diri walaupun semua tahu ia bisa saja meledak membuat dokter itu tersenyum tanpa sadar.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Ryeowook mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku hampir kehilangan dia, Paman."
Alih-alih menjawab, Walker justru mempererat genggaman tangannya pada pundak Ryeowook. Tidak ada pengalaman yang lebih mengerikan dari 'hampir-kehilangan'. Apalagi jika kau benar-benar kehilangan.
Kesunyian yang diiringi dengan bunyi 'kehidupan' dari alat yang dipasang pada tubuh Kyuhyun tidak berlangsung lama. Benda persegi yang sudah sejak lama tergeletak dingin di atas nakas besi bergetar menandakan sebuah panggilan.
Ryeowook sebetulnya masih ingin mengabaikan gangguan kecil tersebut dan terus mengawai sampai Kyuhyun sadar. Namun ketika di sisi lain ia merasa semua itu tidak akan berguna untuk menemukan jawaban apapun, pria itu mulai meraih ponsel Kyuhyun dan mengangkat panggilan.
"Halo?" suaranya terdengar berat dan serak. Sama sekali tidak seperti miliknya sendiri.
[Kyuhyun! Brengsek! Dasar bocah sialan. Kenapa baru mengangkat? Apa kau sadar sudah berapa kali aku menghubungi?]
Ryeowook diam saja. Toh ia memang tidak tahu harus menyahut seperti apa. Siapapun ini, ia dapat mendengar sebuah kecemasan. Mungkinkah ia tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun? Pikirnya risau.
[Dengar. Aku tidak suka mengatakan hal ini lewat telepon. Tapi sebaiknya memang kulakukan agar kau segera datang kemari tidak peduli dimana dan apa yang sedang kau lakukan saat ini.]
Kemudian ada jeda beberapa detik sebelum Jungsoo melanjutkan.
[Komisaris Lee ditemukan tewas di dalam ruang tahanan sementara. Seseorang meracuninya, Kyuhyum]
Kemudian entah apa yang terjadi padanya. Ryewook seperti menyadari sesuatu. Merasakan sesuatu yang tidak berbeda. Sesuatu yang… sudah sangat lama.
[Kyuhyun. Cho Kyuhyun?]
"Ryeowook. Kim Ryeowook"
[Yah, kau masih di sana, kan? Jawab aku!]
"Jawab aku!"
[Kau dengar aku? Ya Tuhan, Kyuhyun, jawab aku!]
"Ya Tuhan, Ryeowook, jawab aku!"
Suara itu….
[Yah, CHO KYUHYUN!]
.
.
.
"Hyung—"
oOo
Attention please...
Due to eventually access-web error, i will continue the rest of story to asianfanfics
Please do support and visit : story/view/1011962/cap-off-love-kyuhyun-kyuwook-ryeowook (you need account for subscribe).
Thanks a loooot. I Love you...
