A/N : Minna san,, hontou ni gomennasai!

Bukannya saya sebagai penulis ingin memperlambat atau melupakan fic ini, hingga updatenya ngaret sampai dua bulan lebih #kalau ngga salah

Tapi, punya alasan kok kenapa bisa sangat lama.

Membuat makalah PLH, harus selesai dalam seminggu.

Membuat proposal pengajuan kredit, harus selesai dalam satu bulan.

Membuat dialog drama, harus selesai seminggu.

Presentasi kebudayaan #rencananya mau tentang kebudayaan Jepang, waktu satu bulan lagi

Membuat makalah PLH, harus selesai dalam seminggu.

Membuat proposal pengajuan kredit, harus selesai dalam satu bulan.

Membuat dialog drama, harus selesai seminggu.

Presentasi kebudayaan #rencananya mau tentang kebudayaan Jepang, waktu satu bulan lagi

Membuat laporan PSG, ini sih bisa kapan-kapan

Bisa dibayangkan betapa sangat stessnya hingga fanfic terlantar begini, yang paling sulit tuh presentase kebudayaan IPS, eh buat dialog drama juga deh.. q,p

Author bukan seseorang yang bisa berbicara di depan banyak orang, benar-benar sangat memusingkan hidup ini!

Curcol kepanjangan nih, langsung balas review saja lah~

widi orihara :

Hieeee! Bingung ya. Gomen T^T

WB ku menjalar lagi~

Nih sudah lanjut, ^^

Makasih sudah review

yuki amano :

hohoho, ntu karena yuki san reitan san?- maggilnya apa nih?- fans nya. Makanya kebayang dia.

Naru punya 4, termasuk kepribadian utama ^^

Makasih sudah review ^^

Aoi Ko Mamoru :

Yah, dan sekarang lagi banyak tugas. Nambah aja dih Wb nya T^T

Authornya sendiri juga janggal bayangin orang yang udah seperti adikkakak itu melakukan begituan =="

Habisnya nggak ada chara lain sich yang kepikiran.

Makasih udah review^^

Earl Louisia vi Duivel :

Review ampe ada tiga ,,ck ck ck!

Tapi nggak apa-apa, biar krliatan banyak reviewnya # sembor air empang!
balasannya sudah diPM, aku nulisnya lagi males # plak!

Makasih sudah review ^^

kkhukhukhukhudattebayo :

yang dimanfaatkan, harta iya, kekuasaan Jiraiya iya, pokoknya Kyuubi itu pekerja lepas Jiraiya # apan sih!

Kushina muncul, tapi bukan buat bisnis. Kan belum dijelasin dia kerjanya apa..^^

Beuh, jangan ditanya. Romance muncul kalau Sasu dah tahu Naru punya pribadian ganda, paling bentar lagi #bocoran dikit

Makasih udah review ^^

Gunchan CacuNalu Polepel :

Gun chan, jangan lupa disiram ya ^^ #plak!

Itachi?

Emang rambutnya panjang ya? Emang sih panjang #plak!

Tapi bukan Itachi kok! Dia kan lagi ngegalau -,-

Coba tebak aja, siapa yang tambutnya panjang?

Gomen ne, ini flashback. Jadi SasuNaru nggak akan tampil *nyengir* #tampoled

Jamcomaria :

Seseorang yang punya DID juga bisa sadar dia punya dirinya yang lain, misalkan
si A pribadi utama dan si B pribadian keduanya, Si B yang tengah muncul pergi dari rumahnya dan berada disuatu tempat dan tiba-tiba si A sadar dan mendapati dirinya bukan ditempat terakhir dia berada dan hal itu terus berulang. Pasti dia juga curiga dong dan mungkin dia akan cari info atau hal lain untuk mendukung kecurigaannya.

Satu lagi, kepribadian ganda itu kan awalnya satu, jadi setiap kepribadian itu terhubung ^^

Coba baca chap um lupa keberapa, saat Kitsune pertama ketemu dengan Pain. Pain menyentuh tangan Kitsune kan, saat itu Kitsune terdiam dan berbicara dengan seseorang. That is Kyuubi ^^

Pamannya bukan Itachi, bukan pula Fugaku...yang rambutnya panjaaaaang! Aduh kukira bakal pada tahu -,-a

Ya sudahlah, makasih sudah review ^^

Balasnya kepanjangan -.-"

Tetchan :

Yap! Kamu benar sekali!

Konflik intinya belum muncul, menyentuh saja belum. Fic ini sungguh alot sangat.

Tapi jangan bosan-bosan bava ya ^^

Makasih sudah review ^^

.Micha007 :

Aduh ! #nepuk jidat

Gomen ne, lemonnya tidak ada T^T

Ini flashback jadi hanya sekedar lime yang sepet aja nggak.. _,_

Makasih sudah review ^^

devilojoshi :

iyah, Naru punya 4, dan konflik puncaknya belum nyampe.

Aduh! Jangan tanya ntu lemon kapan, nggak bisa diprediksi kapan lemon Sasu Narunya.

Makasih sudah review ^^

devilluke ryu shin :

Rambut hitam panjang, kira-kira siapa?

Kushina datang karena dipanggil seseorang dan untuk pekerjaannya ^^

Naru punya 4 termasuk kepribadian utamanya ^^

Makasih sudah review ^^

MoodMaker :

Ini flashback, jadi untuk Kyuubinya nanti ya ^^

Makasih sudah review ^^

Yang Fave juga makasih ^^ ya, padahal fic ini makin membosankan T^T. Tapi kalian setia sekali sama fic ini hiks...

Sudahlah, kita mulai saja!

Let's enjoyed!

.

Disclaimer : Naruto punyanya Kishimoto sama, juga milik baka teme

Genre: Romance, Family,Crime.

Rated: M for this chapter

Pairing: (OC) RyuuNaru

Warning: Yaoi, BoyXBoy, sho-ai, BL, Alur kadang cepat kadang lambat, Alur maju mundur, Typo(?) , amatir, pedophilis, little Naru, Psico, Fsikologi, lime, OC, Typo, bored, aneh, gaje etc.

Don't like don't read this ok?


Chapter 10 Flashback Chapter 2 Part 1

Waktu mempermainkan manusia, sejak dilahirkan manusia hanyalah budak dari sang dewa waktu. Tidak akan ada seorang pun manusia yang bisa melawan kehendaknya. Memberikan takdir pada setiap manusia. Perjalanan dimana kehidupan bisa disebut dengan kehidupan.

Tetapi, terkadang waktu memberikan takdir kejam pada manusia dan manusia hanyalah bagian dari alur yang terus berputar. Seberapa pun inginnya manusia ingkar, maka sang waktu akan membuatnya merasakan betapa lemahnya manusia itu dihadapannya dan manusia, hanya bisa dengan patuh mengikuti semua permainannya.

.

.

.

Bocah berambut pirang itu menatap penuh bingung pada sesuatu di depannya, terkadang ia memiringkan kepalanya, terkadang pula ia menyentuh sesuatu itu dengan tangan kecilnya. Lalu tiba-tiba tertawa karena merasakan lembutnya sesuatu itu ketika bersentuhan dengan jari-jarinya.

"Naru lagi napain?"

Bocah pirang itu memutar tubuhnya ke belakang, menghadap seseorang yang baru saja memanggilnya.

"Gaala!" Bocah pirang itu tersenyum melihat sahabatnya yang berdiri di belakangnya. Ia menepuk tanah di sebelah kanannya meminta Gaara untuk berjongkok di sampingnya. Ia bergeser sedikit begitu Gaara berjongkok di sampingnya.

"Dali tadi Shilo ngikutin tangan Nalu." Ucapnya seraya menggerakan tangannya ke kiri dan ke kanan di depan sesuatu yang terlihat seperti gumpalan bulu putih. Ia mengelus gumpalan bulu itu dan sesekali tertawa geli saat tangannya digigiti.

Gaara hanya tersenyum melihat Naruto, ini pertama kalinya Gaara melihat senyum sahabatnya itu setelah lebih dari satu bulan Kyuubi pergi. Naruto sudah lebih baik dari sebelumnya, mengingatnya yang kemarin saja bisa membuat Gaara ingin menangis. Naruto menjadi pendiam selama hampir tiga Minggu dan hanya bicara jika diajak bicara, selebihnya Naruto hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun.

Trek!

Kedua bocah itu menatap seseorang yang baru saja membuka pintu yang terbuat dari jaring kawat mengelilingi kandang kelinci yang sedang Naruto elus. Orang itu berjalan memasuki kandang, ditangannya terdapat beberapa sayuran juga wortel lalu orang itu berjongkok di depan sebuah kotak persegi dan meletakan sayuran itu di dalamnya.

Shiro, kelinci yang tengah dielus oleh Naruto langsung berlari mendekati orang itu dan mengendus-endus jari orang itu. Mungkin dia mencium bau dari sayuran yang tadi dipegangnya, orang itu mengambil wortel dalam kotak persegi dan menyodorkan wortel itu pada kelinci yang tengah mengendus tangannya. Ia tersenyum begitu kelinci itu beralih dari tangannya, memakan wortel yang ia berikan.

Orang itu mendongak dan tersenyum saat ia melihat dua bocah laki-laki yang sedang memperhatikannya yang sedang memberi makan kelinci. Ia berjalan mendekati dua bocah itu dan berjongkok di depan mereka, hanya terhalang oleh kandang yang terbuat dari kawat. "Hai, mau membantuku memberi makan kelinci?" Tanya orang itu pada Naruto dan Gaara.

Naruto yang mendengar itu langsung mengangguk semangat dan berdiri menatap lurus 'kakak' di depannya. "Iya iya iya, Nalu mau Nii chan!" Ucap Naruto semangat.

"Kalau begitu masuk sini." Remaja laki-laki itu mengarahkan tangannya menunjuk pintu kandang yang berada diujung kanannya.

"Um! Ayo Gaala!" Naruto menarik tangan Gaara dan berjalan cepat menuju pintu kandang itu, ia membuka pintu kandang itu dan berjalan menghampiri pemuda tadi.

"Ini, Kuro juga belum diberi makan." Pemuda berambut hijau itu menyerahkan dua wortel pada Naruto dan Gaara lalu menunjuk seekor kelinci yang berada di pojokan, tengah menggali-gali serbuk kayu yang menjadi alas kandang. "Tapi hati-hati ya, dia agak sedikit nakal." Ucap pemuda itu.

Naruto menatap bingung pemuda itu, tidak mengerti dengan maksud dari kata-kata yang diucapkannya. Ia berjalan mendekati kelinci yang tengah sibuk menggali itu berjongkok di belakang kelinci itu dan menyodorkan wortel ditangannya.

"Ne Kulo, ayo makan." Ucap Naruto pada kelinci itu.

Kelinci berbulu hitam itu hanya melihat sekilas wortel ditangan Naruto sebelum kembali menggali serbuk kayu di depannya, mengabaikan Naruto. Naruto yang merasa dicueki kelinci berbulu hitam itu pun menggendong kelinci bernama Kuro itu dan membawanya menjauh dari pojokan kandang, kelinci itu berontak saat Naruto menggendongnya. Kakinya ia gunakan untuk menendang-nendang Naruto hingga wortel yang ada ditangannya jatuh. Dengan tiba-tiba kelinci itu mengigit jari telunjuk Naruto yang membuatnya kaget dan menjatuhkan kelinci ditangannya.

"Ah, itai~" Ucapnya dengan suara hampir menangis. Gaara yang melihat itu langsung menghampiri Naruto dan melihat jari Naruto yang memerah karena digigit kelinci tadi.

"Kamu baik-baik saja?" Pemuda itu berjalan mendekati Naruto, "Kan sudah Nii chan bilang kalau Kuro itu nakal." Ucapnya seraya mengeluarkan sesuatu dari kantung celana depannya.

"Sini tanganmu." Naruto dengan patuh mengulurkan tangannya pada pemuda itu, ia bisa melihat pemuda itu tengah memasangkan plester pada jarinya. "Makanya hati-hati," Ucap pemuda itu seraya tersenyum pada Naruto.

Naruto hanya mengangguk namun dengan tiba-tiba ia berteriak seraya menunjuk ke arah depan. Membuat Gaara dan pemuda itu menatapnya bingung. "Kelincinya! Pintu! kelual! Kabul!" Teriak Naruto ketika ia melihat Kuro, kelinci yang telah menggigit jarinya tengah meloncati pintu kandang.

"Ah! Kelincinya, kalau sampai hilang aku bisa dimarahi!" Pemuda itu segera mengejar kelinci yang tengah meloncat-loncat di luar kandang.

"Naru, kita juga bantu." Ucap Gaara, ia dan Naruto berjalan keluar kandang dan membantu menangkap kelinci itu.

.

.

"Gaala, kilimu! Kilimu!" Teriak Naruto, ia berlari ka arah kanan untuk mencegah kelinci itu melewatinya dan membuat kelinci itu memutar berlari ke arah Gaara.

Dengan sigap Gaara menjaga arah kirinya agar kelinci itu tidak bisa melewatinya namun kelinci itu malah berlari ke kanan dan menjauhinya. Tapi dengan cepat disergap Naruto yang sudah bersiap di belakang Gaara.

"Belhasil!" Teriak Naruto, ia meloncat-loncat kegirangan karena berhasil menangkap kelinci sekarang dalam gendongannya. Saking girangnya hingga ia tidak menyadari bahwa tanah di belakangnya menurun hingga dengan sekali pijakan yang tidak seimbang membuatnya terjatuh ke belakang.

"Hu huwa!"

"Naru!"

"Hati-hati!"

Naruto memejamkan matanya erat, tidak berani untuk membukanya. Ia bisa mendengar bunyi 'burgh!' saat jatuhnya dan ia yakin tubuhnya terguling beberapa kali sebelum terhenti tapi ia sama sekali tak merasakan sakit. Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya, ia mendongak menatap seseorang yang tengah meringis karena punggungnya yang menabrak dinding di belakangnya .

Ia membulatkan matanya, tubuhnya mengejang saat melihat pemuda yang kini tengah memeluknya. "Kyuu nii," Ia bergumam tanpa sadar.

"Eh? Kau mengatakan sesuatu?" Pemuda berambut hijau itu melihat Naruto yang terdiam dengan iris coklatnya. "Adik kecil, kau baik-baik saja?" Tanya pemuda itu, sedikit khawatir karena bocah dalam dekapannya terus saja diam seraya menatapnya.

Menggelengkan kepalanya, Naruto kembali menatap pemuda di depannya, "Nalu baik-baik saja nii chan." Jawab Naruto.

Pemuda itu menghela napasnya lega, rasa khawatirnya terlalu berlebihan. Ia melepaskan pelukannya dari Naruto dan duduk bersandar pada dinding.

"Naru! Kamu baik-baik saja?" Gaara berlari mendekati Naruto, ia memeriksa Naruto dari bawah hingga atas. Memastikan jika Naruto baik-baik saja.

"Nalu baik-baik saja Gaala." Ucap Naruto, sedikit tidak suka dengan cara Gaara memperlakukannya.

"Harusnya kau hati-hati Naru." Gaara memandang penuh khawatir.

"Iya, tapi kan Nalu baik-baik saja." Ucap Naruto. Bocah berambut pirang itu segera mengalihkan pandangannya pada pemuda yang tengah tersenyum seraya memperhatikan apa yang percakapannya dengan Gaara, "Nii chan nggak apa-apa?" Tanya Naruto pada pemuda itu.

Pemuda itu hanya tersenyum melihat tatapan khawatir yang terpancar dari mata Naruto, "Nii chan baik-baik saja, tidak perlu khawatir begitu adik kecil." Ucapnya seraya mengacak surai pirang Naruto, tidak mempedulikan jika sang empunya rambut tengah mengembungkan pipinya karena tidak suka dengan sebutan 'adik kecil' yang diterimanya.

"Ini gara-gara kau Kuro. Lihat, kau hampir saja membuat adik kecil berwajah manis ini celaka." Ucap pemuda itu, memarahi kelinci yang berada digendongan Naruto. Ia mengambil alih kelinci itu dari tangan Naruto dan mengguncang-guncangnya pelan.

"Eeh! Nii chan kenapa malah sama Kulo?" Ucap Naruto, ia merebut paksa kelinci itu dan kembali memeluknya.

"Tapi dia kan membuatmu hampir celaka adik kecil." Ucap pemuda itu.

Naruto menggembungkan pipinya mendengar ucapan 'kakak' di depannya itu, "Tapi aku kan sekalang nggak apa-apa Nii chan." Ucapnya berusaha membela kelinci yang sekarang tengah menggigiti lengan baju yang ia kenakan.

"Hahaha, kamu manis sekali adik kecil!" Pemuda itu kembali mengacak-acak rambut Naruto.

"Nalu nggak manis Nii chan!"

"Iya deh, terserah Naru chan." Ucap pemuda itu.

"Eh? Nii chan tahu dali mana nama Nalu?" Tanya Naruto, pemuda itu tertawa pelan sebelum menjawab pertanyaan dari bocah berambut pirang di depannya.

"Kan dari tadi temanmu ini memanggilmu Naru, yang artinya Naru itu namamu kan?" Pemuda itu menunjuk Gaara yang sejak tadi diam memperhatikan mereka.

"Hu'um," Jawab Naruto, "Telus nama Nii chan siapa?" Tanya Naruto, pemuda itu tersenyum dan mendekatkan dirinya pada Naruto.

"Namaku Ryuu, senang berkenalan denganmu Naru chan dan um..Gaara chan." Ucap pemuda bernama Ryuu itu.


Dan,

.

Waktu mempertemukan manusia dengan takdir yang merubah hidupnya. Baik atau buruk kah itu untuknya. Sang waktu akan tetap memaksa manusia menjalaninya. Suka atau tidak. Putaran itu tidak akan pernah terhenti. Sang penguasa dewa Aion telah menentukan takdir manusia, hidup dalam waktu yang merupakan kekuasaannya.

.


"Naruto, kenapa belum tidur?" Iruka yang sedang melakukan tugasnya memeriksa keadaan mansion menatap heran pada ruangan tempat tuan mudanya berada. Lampu kamar itu masih menyala, padahal ini sudah lebih dari jam sepuluh malam. Ia membuka pintu ruangan itu untuk sekedar memeriksa keadaan tuan mudanya namun yang ia lihat adalah Naruto yang tengah terduduk dipojok tempat tidur seraya memeluk kedua lututnya.

"Hei, Naru?" Iruka melangkahkan kakinya masuk, ia berjalan mendekati Naruto yang sama sekali tak menghiraukan kehadirannya.

"Ada apa sayang, ini kan sudah malam. Waktunya Naru untuk tidur,"

"Paman, Nalu mau sama Kyuu nii saja."

Iruka terkejut dengan ucapan tuan mudanya barusan, ia segera mendudukan dirinya di depan Naruto dan mengelus lembut helaian pirang Naruto. "Naru kenapa? Ceritakan pada Paman." Ucapnya lembut.

Naruto hanya menggelengkan kepalanya dan memeluk lututnya lebih erat. Kepalanya tertunduk dalam hingga Iruka tidak bisa melihat wajahnya.

Iruka hanya menghela napas saat melihat Naruto yang tak mau menatapnya, pemuda berumur delapan tahun itu pun perlahan menarik Naruto mendekat. Membawanya dalam sebuah pelukan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, aku di sini sayang. Ceritakan padaku," Ucap Iruka seraya terus mengelus punggung Naruto.

Ia bisa merasakan tubuh dalam dekapannya itu mulai gemetar dan sesekali terdengar isakan kecil, tuan mudanya menangis.

"Na Nalu tadi minta Kaa chan mem hiks belikan kelinci tapi hiks tapi Kaa chan bilang ka kalau Nalu yang hiks pelihala nanti kelincinya pelgi hiks sepelti Kyuu nii."

Iruka merasakan hatinya tertusuk ribuan pedang, ia mengeretkan pelukannya pada Naruto. Tak habis pikir dengan majikannya yang sampai hati mengatakan hal itu pada anaknya sendiri. Pergi seperti Kyuubi, bukankah dengan tidak langsung majikannya itu mengatakan jika Naruto adalah penyebab dari kematian Kyuubi.

"Naru, mungkin Kushina sama sedang lelah. Naru kan tahu jika Kushina sama akhir-akhir ini sibuk," Ucap Iruka.

"Tapi hiks tapi kenapa Kaa chan bilang begitu sama Nalu, Kyuu nii hiks Nalu mau Kyuu nii."

"Tidak sayang, Naru harus tetap di sini. Kalau Naru pergi, apa yang harus ku lakukan." Tidak ada kah yang bisa ia lakukan, melihat Naruto yang seperti ini. Ia sangat tahu betapa beratnya yang harus ditanggung bocah dihadapannya ini, ia sangat tahu karena ia selalu berada di sampingnya. Melihat bagaimana setelah Kyuubi tiada, ayah dan ibunya memperlakukan Naruto. Tidak ada yang bicara, bahkan untuk sekedar memberikan senyum. Mereka saling mengacuhkan satu sama lain.

Berada dalam satu atap yang sama saja hampir tak pernah karena kedua orang itu menyibukan diri mereka dengan pekerjaan. Tak melihat Naruto yang selalu menatap mereka, bocah ini butuh dukungan. Tapi kenapa sikap mereka berubah seperti itu, begitu dingin.

Iruka menutup kedua matanya erat, ia tak mau memikirkannya. Hal itu hanya akan membuat hatinya bertambah sakit, terlebih apa yang Naruto rasakan lebih dari yang ia rasakan sekarang. Ia mengelus punggung Naruto, menenangkan tuannya yang sejak tadi merapalkan nama kakak yang disayanginya. Mungkin bocah itu berharap jika hal itu bisa membuat Kyuubi kembali, andai itu benar terjadi.

.

.

.

"Naru, aku akan pergi."

"Eh? Gaala mau pelgi kemana?" Naruto menatap bingung pada sahabatnya itu.

"Aku akan ke Suna selama seminggu." Jawab Gaara.

"Kenapa? Nanti Naru sendirian." Gaara hampir saja membatalkan niatnya untuk pergi ke Suna begitu melihat Naruto yang hampir menangis. Tapi ia tetap saja tidak bisa, semuanya keputusan dari ayahnya.

"Kan hanya seminggu." Ucap Gaara.

"Tapi seminggu kan lama!" Naruto memalingkan wajahnya ke samping seraya menggembungkan kedua pipinya.

Gaara menghela napasnya, beginilah jadinya jika berhadapan dengan Naruto. Melihat sikapnya yang seperti ini pasti membuatnya luluh. "Baiklah, tidak sampai seminggu dan aku akan membawakanmu oleh-oleh saat aku pulang nanti." Ucap Gaara, Naruto menunjukan cengirannya begitu mendengar ucapan Gaara barusan. "Lamen!" Teriaknya seraya memeluk Gaara.

"Di Suna tidak ada ramen Naru," Ucap Gaara yang sedang berusaha melepaskan pelukan maut Naruto.

"Ah! Nalu nggak akan bialkan Gaala pelgi kalau nggak dikasih lamen!"

"Ya sudah, nanti ku cari." Jawab Gaara pasrah.

.

.

"Ne, Shilo. Gaala pelgi selama seminggu," Ucap Naruto pada kelinci di depannya. "Kaa chan nggak ada di lumah,"

"Tou chan pelgi ke lual negeli, cuma ada paman Iruka."

Tes

Air mata jatuh membasahi kedua pipi Naruto, sebelah tangannya yang bebas ia gunakan untuk menghapus air mata yang keluar. Lagi-lagi ia menangisi sesuatu yang pergi. Shiro, kelinci itu hanya menggigiti tangan Naruto, mungkin kelinci itu ingin membuat bocah itu menghentikan tangisnya.

"Nalu, sendilian." Gumaman kecil terdengar ditengah isakannya. Mengungkapkan begitu ia merasakan apa yang dinamakan kesepian itu.

"Naru chan tidak sendirian kok."

Terkejut, Naruto menatap seseorang yang baru saja mendudukan diri di sampingnya. Orang itu tersenyum padanya. "Hai, Naru chan." Sapa orang itu.

Naruto dengan cepat menghapus air matanya, ia menggosok-gosokan punggung tangannya hingga hidungnya memerah. "Lyuu ni nii chan bikin kaget Nalu." Ucapnya terbata karena habis menangis.

"Gomen, tapi apa yang kau lakukan di sini?" Tanya pemuda bernama Ryuu itu.

"Nalu cuma ingin ketemu Shilo sama Kulo." Jawab Naruto, pemuda bernama Ryuu itu tahu jika bocah dihadapannya ini tidak jujur. Ia menyipitkan matanya seraya menatap lekat Naruto.

"Terus matamu merah kenapa?" Tanyanya.

"I itu, mata Nalu kemasukan debu." Jawab Naruto seraya memalingkan wajahnya.

Melihat wajah Naruto yang memerah, Ryuu berniat menggoda bocah itu. "Naru chan malu ya ketahuan nangis~?" Tanyanya dengan nada menggoda.

"Na Nalu nggak nangis Lyuu nii!"

"Masa? Terus kenapa tuh pipinya basah~. Ayo, mengaku saja kalau Naru chan tadi nangis." Ryuu semakin bersemangat saat bocah pirang itu hampir meledak karena kesal.

"Nii chan nggak akan bilang siapa-siapa kok."

"Hiks.."

"Eh?" Pemuda itu menatap Naruto ketika ia mendengar isakan ditelinganya.

"Hiks...hiks..."

"Na Naru chan?"

"Huwee!"

Dengan tiba-tiba Naruto menangis hingga membuat gelagapan pemuda di depannya. "Na Naru chan, kenapa malah nangis. A aduh, Nii chan hanya bercanda. Sudah ya, jangan nangis lagi." Ucap Ryuu, ia mencoba menghentikan tangisan Naruto dengan membuat wajah-wajah aneh dengan tangannya.

"Huwe~, Lyuu nii jaha~t!"

"Ha~, jangan nangis Naru chan~. Naru chan boleh minta apa saja, tapi Ryuu nii mohon berhenti menangis ya, ya?" Ucap Pemuda itu menyatukan kedua lengannya di depan wajahnya.

"Hontou! Kalau begitu Nalu mau lamen!" Ucap Naruto yang langsung menghentikan tangisnya dan berganti menjadi wajah cerah.

"Ha?" Pemuda itu menatap Naruto dengan mulut yang menganga, bukan kah tadi bocah ini tengah menangis tapi kenapa tiba-tiba langsung berhenti.

"Lyuu nii chan ayo! Katanya mau bliin Nalu lamen!" Naruto menarik tangan pemuda itu dan berlari dengan cepat hingga membuat seseorang yang ditariknya harus berjalan cepat untuk mengimbangi langkahnya.

"Na Naru chan pelan-pelan."

.

.

"Paman!" teriak Naruto saat ia memasuki sebuah kedai yang di depan pintunyatertulis 'Ichiraku Ramen'. Ia berlari menghampiri seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahunan dan berhambur memeluknya.

"Oh, Naru chan!" Teriak laki-laki itu tak kalah gembiranya dengan Naruto. ia mengangkat bocah itu dan melambungkannya.

"Sudah lama kau tidak ke sini, kemana saja kau bocah nakal?" Ucap laki-laki itu, ia menurunkan Naruto dari gendongannya.

"Hehehe, Paman Nalu mau lamen." Ucap Naruto dengan cengiran rubahnya.

"Baiklah! Paman akan buatkan ramen spesial khusus untukmu!" Ucap laki-laki yang dipanggil paman oleh Naruto itu.

"Yey!" Teriak Naruto, ia meloncat-loncat kegirangan namun ia langsung berhenti saat seseorang memasuki pintu masuk kedai sambil terengah-engah.

"Hah hah hah, Naru chan larimu cepat sekali." Pemuda bersurai hijau itu menumpukan tangannya pada lutut, mengatur napasnya yang terengah-engah karena berlari mengejar Naruto yang tiba-tiba saja melepaskan tangannya dan berkali kencang menyeberangi jalan raya.

"Lyuu nii chan payah ah!" Ucap Naru, ia tersenyum bangga karena dirinya yang terlebih dahulu sampai.

"I ini kan hah bukan balapan. Lagi pula kamu kan lari duluan, itu artinya curang tahu." Ucap pemuda itu, ia tertawa kecil ketika melihat Naruto yang cemberut karena ucapannya.

Teuchi, nama laki-laki yang dipanggil paman oleh Naruto tadi menatap penuh selidik pada pemuda yang tengah bercakap akrab dengan Naruto. Alisnya berkerut, sepertinya ia pernah melihat wajah pemuda ini tapi ia tak ingat dimana.

"Ekhm, maaf. Kamu siapa ya, kenapa bisa kenal dengan Naru chan?" Tanyanya pada pemuda itu.

"Ah, maaf. Namaku Ryuu, aku diajak Naruto kemari karena dia bilang ingin makan ramen." Ucap pemuda itu, ia menundukan tubuhnya sedikit untuk kesopanan.

"Ryuu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Teuchi lagi, ia benar-benar seperti pernah melihat pemuda ini entah dimana.

"Sepertinya belum, um Teuchi san." Jawab Ryuu yang melihat name tag yang dikenakan Teuchi didada sebelah kanannya. "Mungkin anda salah mengenali orang karena sebenarnya aku orang baru di daerah ini."

"Begitu ya, ah tapi sudahlah mungkin benar aku yang salah. Anak muda apa kau juga ingin makan ramen?" Tanya Teuchi.

"Ah, tapi uangku hanya cukup untuk mentraktir Naru chan." Ucap pemuda itu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Tenang saja, kau bayar bagianmu saja. Bagian Naruto tidak usah kau bayar," Ucapnya seraya tersenyum ramah.

"Benarkah? Terima kasih kalau begitu." Ucap pemuda itu, dalam hati ia bernapas lega karena uangnya tak berkurang terlalu banyak.

"Ya~h, kalau begitu Nalu bukannya ditlaktil Lyuu nii chan tapi ditlaktil sama paman." Ucap Naruto, ia mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa senti dan terlihat lucu.

"Memangnya kenapa? Kan sama-sama dapat ramen Naru chan." Pemuda itu menunduk menyamakan tingginya dengan Naruto.

"Nggak sama! Lyuu nii chan kan sudah janji mau mentlaktil Nalu." Ucap Naruto yang masih mengerucutkan bibirnya.

"Bagaimana ya," Pemuda itu menggaruk belakang kepalanya, "Ah! Begini saja, Naru chan sekarang ditraktir Teuchi san. Nanti kalau ke sini lagi, Nii chan yang traktir. Ok?" Ucap pemuda itu.

Naruto menatap pemuda itu seraya mengangguk pelan, "Tapi janji ya?" Bocah itu menyodorkan jari kelingkingnya.

Pemuda itu tersenyum dan menautkan kelingkingnya, "Janji." Cengiran lebar dari bocah itu membuat kedua orang yang ada di dekatnya tak bisa lagi menahan tawa mereka melihat moodnya yang selalu berubah-ubah.


*##########*###########*##############*###############*###############*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o


.

"Lyuu nii chan kenapa nggak mau main ke lumah Nalu?" Tanya bocah pirang itu pada pemuda yang tengah menggenggam tangannya.

"Kalau lain kali saja bagaimana? Ini sudah terlalu sore," Ucap pemuda itu, ia mengelus rambut Naruto.

"Tapi janji ya?" Tanya Naruto.

"Hu`um." Jawab pemuda bernama Ryuu itu, ia menghentikan langkahnya begitu sampai di perempatan jalan, "Nii chan mengantar sampai sini saja ya." Ucapnya seraya berjongkok di depan Naruto.

"Kenapa tidak sekalian main Nii chan?"

"Kan sudah Nii chan bilang ini sudah sore, Nii chan juga harus kerja sambilan." Ucap pemuda itu, Naruto langsung menunduk begitu mendengar ucapannya. "Tapi, kalau Naru chan mau ketemu sama Nii chan, Naru chan datang saja ke kandang Shiro dan Kuro. Nii chan pasti ada di situ."

"Benalkah! Janji ya?" Ucap Naruto yang langsung bersemangat.

"Ffft...hahahaha, adu duh ahaha..." Pemuda itu tertawa mendengar ucapan Naruto barusan, ia tidak bisa menghentikan tawanya meski perutnya sudah terasa sakit.

Naruto memandang bingung pemuda yang tengah tertawa-tawa di depannya, "Nii chan kenapa?" Tanyanya. Ia memiringkan kepalanya lucu dengan bingung.

"Ahaha..hah aduh. Ma maaf, habis dari tadi Naru chan selalu bilang janji-janji terus." Ucap pemuda itu, ia menarik napasnya dalam untuk menghentikan tawanya.

"Memangnya tidak boleh ya?" Tanya Naruto.

"Um," Pemuda itu menggelengkan kepalanya, "Naru boleh kok buat janji apa pun sama Nii chan." Ucapnya. "Asal Naru juga janji sama Nii chan."

"Hontou! Naru harus janji apa sama Nii chan?" Tanya Naruto dengan penasarannya.

Pemuda itu melengkungkan bibirnya ke atas, "Naru tidak boleh bilang kepada siapa pun mengenai Nii chan." Ucap pemuda itu.

"Kenapa? Padahal Nalu mau celita sama Paman Iluka."

"Tidak boleh Naru chan, ini rahasia. Ok?"

"Baiklah, tapi Nii chan juga janji sama Nalu ya!"

"Iya manis, Nii chan janji." Pemuda itu mengacak rambut pirang Naruto hingga sedikit berantakan. "Kalau begitu, Naru chan pulang ya. Nanti Pamanmu khawatir." Ucap pemuda itu.

"Um, sampai jumpa Nii chan!" Naruto berjalan menjauhi pemuda itu, ia melambaikan tangannya sebelum berbelok dipersimpangan jalan di depannya.

Pemuda itu terus menatap tempat terakhir Naruto menghilang dipersimpangan, perlahan bibirnya tertarik ke atas hingga matanya menyipit. Ia mengangkat tangan kanannya menyentuh wajahnya dan menghirup dalam-dalam telapak tangannya. Ia menjulurkan lidahnya, menjilat setiap jemarinya hingga basah dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


.

.

*##########*###########*##############*###############*###############*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.


"Sudah kubilang itu tidak akan berhasil Kushina!"

"Lalu apa! Aku hanya berusaha! Tidak seperti kau yang diam saja Minato!"

"Diam saja! Kau pikir selama ini aku melakukan apa! Main-main? Aku juga berusaha Kushina, mencarikannya yang terbaik!"

"Terbaik? LIHAT DENGAN MATAMU, TIDAK ADA KEMAJUAN SAMA SEKALI!"

"Jangan membentakku Kushina!"

"Kenapa? Aku-"

Kedua orang itu sekejap terdiam, menatap ke arah pintu yang terbuka sedikit. Di sana, seorang anak laki-laki berambut pirang tengah menatap mereka dengan raut wajah ketakutan.

"Ka Kaa chan, Tou chan."

Sang ayah berjalan mendekatinya dan tanpa mengatakan apa pun pintu itu ditutupnya, menyisakan anak laki-laki yang masih berdiri di depan pintu. Bibir anak itu bergetar menahan tangisnya agar tak keluar, dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar, saling membentak dengan wajah penuh emosi.

"Hiks..."

Satu isakan itu keluar dari bibirnya, ia mulai melangkah mundur. Kepalanya tertunduk sangat dalam dan ia mulai berlari, melewati pintu depan mansionnya tanpa mempedulikan para maid dan penjaga yang memanggil-manggil namanya.

.

.

.

"Hiks..."

"Kyuu nii...hiks...hiks.."

"Naru chan? Kamu kenapa?"

Naruto menegakan kepalanya, menatap seseorang yang tengah berjongkok di depannya. Ia menggeleng untuk menjawab pertanyaan orang itu.

Orang itu hanya bisa menghela napas saat bocah di depannya itu hanya menggeleng, ia mengelus rambut pirang Naruto dan mendudukan diri di sampingnya. "Naru chan senang sekali menangis ya, kamu jadi jelek loh kalau nangis." Ucap orang itu.

"Coba Naru chan senyum terus, pasti manis."

"Naru chan mau cerita sama Nii chan kenapa Naru chan menangis tidak? Mungkin Nii chan bisa bantu." Ucap pemuda bersurai hijau itu, ia terus bicara meski pun bocah di sampingnya sama sekali tak menanggapi ucapannya.

"Naru chan tahu tidak, Nii chan dulu juga sering menangis."

" Euh, Nii chan masih ingat waktu itu Nii chan ketahuan ngompol dicelana dan semua teman-teman Nii chan tertawa. Ukh, aku sampai menangis karena malunya."

"Nii chan pe pelnah ngompol?"

Pemuda itu menatap bocah di sampingnya dan mengangguk, "Hu'um, apalagi saat itu waktu kelulusan sekolah."

"Memangnya kenapa Nii chan bisa ngompol?" Naruto menatap pemuda di sampingnya dengan mata yang masih sembab memerah.

"Itu, aku disuruh bernyanyi di atas panggung. Ta tapi karena aku gugup sekali tiba-tiba saja celanaku basah dan semua orang yang ada di sana menertawakanku."

"Haha, Nii chan sudah besal masih ngompol. Nalu saja tidak pelnah ngompol." Ucap Naruto tertawa saat mendengar cerita pemuda itu.

"Eeeh! Kenapa Naru chan juga tertawa, ini tidak lucu tahu. Lagi pula kan bukan salahku kalau aku mengompol, huh!" Pemuda itu memalingkan wajahnya dari Naruto berpura-pura ngambek.

"Habisnya Nii chan lucu!"

"Nggak lucu tahu!"

"Nii chan."

"..."

"Nii chan?"

"..."

"Nii chan?" Naruto terus memanggil-manggil pemuda di depannya, tetapi sama sekali tak dijawab olehnya.

"Nii chan marah ya sama Nalu?" Tanya Naruto, ia mengguncang-guncang lengan pemuda bernama Ryuu itu.

"Nggak cuma lagi kesal." Jawab pemuda itu, masih tak mau menatap Naruto.

"Ja jangan malah sama Nalu, hiks kalau Nii chan juga malah sepelti Kaa chan sama Tou chan hiks Na Nalu sama siapa." Ucap Naruto, ia menggenggam lengan baju pemuda itu lebih erat dengan sedikit gemetar.

Pemuda itu menatap wajah hampir menangis Naruto, ia tersenyum dan mengacak surai pirang bocah itu, "Naru chan kok nangis lagi sih, Nii chan tidak marah kok." Ucap pemuda itu.

"Tapi memangnya kenapa Kaa chan dan Tou chan marah sama Naru chan?" Tanya pemuda itu.

Naruto langsung menundukan kepalanya dan pundaknya mulai gemetaran, "Tadi Kaa chan sama Tou chan beltengkal ta tapi Nalu nggak tahu kenapa."

"Apa Tou chan sama Kaa chan benci Nalu?"

"Naru chan kenapa bicara begitu?" Pemuda itu bertanya pada Naruto.

"Ha habis Kaa chan bilang Nalu buat Kyuu nii pelgi hiks, Kyuu nii hiks...hiks..."

Pemuda itu menarik tubuh Naruto dan mengelus punggung anak itu, "Ssst, sudah Naru chan jangan nangis lagi." Ucap pemuda itu, ia terus mengelus punggung Naruto yang masih gemetaran.

.

.

.

"Nii chan ini dimana?" Tanya bocah bersurai pirang yang tengah duduk di pinggiran tempat tidur.

"Ini rumahku, coklat?" Jawab pemuda yang tengah menyodorkan segelas coklat hangat ke arahnya.

Naruto mengambil gelas berisi coklat hangat itu dengan kedua tangannya, ia menatap sekeliling ruangan yang beraksen abu-abu itu dengan mata birunya antusias. "Kok banyak gambal Nalu ya?" Ucap anak itu, ia menaruh gelas yang ada ditangannya ke atas meja kecil di sebelah tempat tidur dan menuruni tempat tidur. Meski agak susah karena tempat tidur itu sedikit tinggi untuknya.

Naruto berjalan menghampiri dinding di depannya, ia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tangannya mengambil salah satu foto yang tertempel bebas pada dinding di depannya. Kemudian ia berbalik dan menatap pemuda yang tengah tersenyum padanya. "Ini Nalu kan?" Tanyanya pada pemuda itu.

Pemuda itu hanya mengangguk dan berjalan mendekati Naruto, "Iya itu Naru chan."

Bocah itu berbalik lagi dan menatap satu persatu foto yang terpampang dihadapannya, dengan antusias ia terus mengedarkan pandangannya. Ia terlihat sangat kagum dengan banyaknya foto dirinya yang bertebaran(?) di dinding ruangan itu. Foto yang memperlihatkan ia sedang melakukan berbagai aktivitas, entah itu sedang bersama Iruka, bermain di play group, ia sedang sendiri atau pun ia yang sedang merengek pada sahabatnya Gaara.

"Ini semua Naru chan, kau suka?" Tanya pemuda itu, ia berjongkok di belakang Naruto dan memeluk Naruto. Mendekatkan wajahnya pada helaian pirang bocah itu dan menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari sana.

"Hu'um, Lyuu nii chan dapat dali mana?" Naruto berbalik menghadap pemuda itu dan tersenyum ceria, ia berpikir jika semua foto ini sangatlah hebat.

"Nii chan memang suka memfoto Naru chan kok, jadi jangan heran ya kalau Nii chan punya banyak fotomu." Ucap pemuda itu, ia mengelus pipi chubby Naruto.

"Um, ini kelen! Nalu nggak pelnah lihat foto sebanyak ini!" Ucapan kagum dari bocah polos itu membuat pemuda di depannya menarik sudut bibirnya ke atas dan mendekatkan tubuhnya pada bocah itu.

"Kalau Naru chan mau, Nii chan bisa kok buat lebih banyak dari ini." Ucap pemuda itu.

"Benalkah! Tapi Nalu maunya sama Nii chan, apa boleh?" Tanya Naruto, ia memiringkan kepalanya seraya menatap pemuda di depannya.

"Boleh, tapi sepertinya Naru chan harus mandi dulu." Ucap pemuda itu, ia memperhatikan pakaian Naruto yang belepotan tanah karena tadi bocah itu duduk di tanah dekat kandang kelinci.

"A~h, Nalu nggak mau." Ucap Naruto, ia mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa senti.

"Kenapa, katanya mau difoto sama Nii chan?" Tanya pemuda itu.

"Iya sih, ya sudah Nalu mau." Ucap Naruto.

Pemuda itu tersenyum, ia berdiri dan menuntun Naruto kesebuah pintu yang ada di ruangan itu. Pemuda itu membuka pintu di depannya lalu menutupnya kembali setelah Naruto masuk. Ia berjongkok di depan Naruto yang masih celingak-celinguk memperhatikan ruangan tempat mereka berada.

"Sekarang buka bajunya." Ucap pemuda itu, ia mulai mengangkat kaos yang dipakai Naruto.

"Ne, Nii chan juga ikut mandi sama Nalu?" Tanya Naruto, ia mengangkat tangannya agar kaos yang ia gunakan bisa terlepas.

Pemuda itu hanya mengangguk dan kembali menuntun Naruto mendekati sebuah bathtub yang telah terisi air hangat. "Sini Nii chan gendong." Pemuda itu menggendong Naruto dan menurunkannya di dalam bathtub.

Naruto yang sudah berada di dalam bathtub langsung memainkan air hangat yang merendamnya, menciprat-cipratkan air itu hingga keluar bak dan mengenai pemuda yang berjongkok di sampingnya.

"Aduh, Naru chan. Baju Nii chan basah," Ucap pemuda itu, ia membuka T-shirt abu-abu yang dikenakannya dan melemparnya kesembarang arah.

"Hehehe, Nii chan juga kan mau mandi. Jadi, nggak apa-apa basah juga!"

"Heee, kau ini awas ya Nii chan balas!" Pemuda itu menciprat-cipratkan air pada Naruto yang dibalas kembali oleh bocah itu.

"Hahaha, Nii chan basah semua!" Naruto tertawa-tawa saat melihat 'kakak' di depannya yang sudah basah kuyup karenanya.

"Ah, sudah Naru chan. Nii chan mengaku kalah!" Ucap pemuda itu, ia menyisir rambutnya yang basah ke belakang dan berdiri untuk membuka celana jeansnya yang juga basah. Ia berjalan mendekati sebuah lemari kecil yang ada di dinding dan mengambil sesuatu dari sana dan kembali mendekati Naruto yang masih asyik bermain air.

"Naru chan, lihat kemari." Ucap pemuda itu.

Naruto langsung melihat ke arah pemuda itu namun matanya langsung terpejam begitu kilatan cahaya menerpa matanya. Naruto mengucek-ngucek matanya yang terasa buram dan kembali menatap pemuda itu dengan pandangan bingung. "Nii chan ngapain?" Tanyanya memiringkan kepalanya bingung.

"Nih, baguskan?" Pemuda itu memperlihatkan sebuah gambar yang berada dilayar kamera ditangannya pada Naruto.

"Eeeeh! Tadi Nii chan foto Nalu ya?" Tanya Naruto dengan antusias.

"Hu'um,"

"Nalu mau lihat!" Dengan semangat Naruto berdiri dari bathtub dan melangkahkan kakinya keluar namun dengan tiba-tiba kakinya terpeleset genangan air di lantai dan oleng.

"Naru chan!" Pemuda itu langsung menangkap tubuh Naruto yang hampir jatuh. Sedangkan Naruto hanya menatap lurus pemuda itu. "Fu~uh, hampir saja." Ucap pemuda itu, "Kau tidak apa-apa Naru chan?" Tanya pemuda itu, alisnya berkerut begitu melihat Naruto yang terdiam menatapnya.

"Naru?"

"Kyuu nii..."

"Kyuu nii?" Pemuda itu mengerutkan keningnya saat telinganya mendengar gumaman kecil dari bocah dalam dekapannya.

Mengerjap, Naruto langsung menundukan kepalanya saat tersadar dengan ucapannya barusan, "Go gomen." Ucapnya yang makin tertunduk.

Pemuda itu tersenyum, ia mengangkat tangan putihnya dan menangkup dagu Naruto agar bocah itu menatapnya. Bocah itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca membuat ia makin melengkungkan bibirnya ke atas. "Naru chan boleh kok panggil Nii chan dengan nama Kyuu nii." Ucap pemuda itu, Naruto yang mendengar hanya mengerjapkan matanya.

"Ni Nii chan?"

"Tidak apa-apa." Ucap pemuda itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Naruto, "Kau bisa memanggilku Kyuu nii." Ia mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan. "Ok?"

"Hiks..." Air mata kembali membasahi pipi Naruto, ia langsung memeluk pemuda di depannya dan membenamkan kepalanya di dada pemuda itu. "Kyuu nii!"

"Iya Naru chan, ini Kyuu nii." Pemuda itu mengelus lembut punggung Naruto dan membenamkan wajahnya pada helaian pirang dari bocah dalam dekapannya. Menghirup dalam aroma yang menguar dari rambut itu. " Ini Kyuu nii Naru," Ucap pemuda itu lagi, terus berulang merapalkan kalimat yang sama pada bocah di hadapannya. "Ini Kyuu nii."

.

.

.

Iris coklatnya menatap dengan intens sosok mungil yang tengah menutup kedua matanya, wajah dengan pipi chubbynya terlihat damai meski dihiasi dengan air mata yang mengering disudut matanya. Jemari putih yang jelas lebih besar menangkup jemari mungil bocah itu, menyentuhkan bibir lembutnya mengecup pelan tangan sang bocah yang tengah terlelap.

"Namikaze Naruto," Pemuda itu mengecup kembali punggung tangan mungil itu, "Milikku."

"Benarkan sayang?" Sebelah tangannya yang lain ia arahkan untuk menyentuh pipi tan bocah itu, menyusuri setiap lekuk dari garis tulang pupinya hingga membawanya menyapu bibir mungil yang kemerahan. Ia menjilat bibirnya, bibir yang selama ini ia lihat hanya dengan memandangi fotonya tengah ia sentuh sekarang.

"Hanya milikku,"

Ia menundukan kepalanya seraya terus mengelus wajah bocah itu, menjilat bibir mungil kemerahan itu. Merasakan betapa lembutnya kulit tipis itu, menjilatnya sekali lagi dan mengecupnya pelan. Ia tersenyum saat bocah itu mengerang tak nyaman atas perlakuannya. "Ssst, Naru chan. Kyuu nii di sini." Ucapnya seakan menenangkan bocah dalam dekapannya.

Setelah bocah mungil itu kembali pulas, pemuda itu kembali menyusuri setiap lekuk dari tubuhnya. Matanya menatap setiap gerakan yang dilakukan jemari tangannya, kemeja kebesaran yang dipakai bocah itu membuat leher dan bagian dadanya terekspose bebas memperlihatkan kulit halus yang belum pernah terjamah siapa pun.

Pemuda itu menjilat bibirnya lagi, napasnya memburu bersamaan dengan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat. 'Tenang, sedikit lagi.' Lalu, pemuda itu menyenandungkan lagu pengantar tidur untuk malaikat kecilnya dengan sebuah kecupan pada bibir mungilnya.

.

.

.

Namikaze mansion tengah dilanda kepanikan, para pelayan berlalu lalang keluar masuk gerbang mansion dengan raut wajah cemas yang beragam. Diantara para pelayan itu, ada seorang anak yang terus berbicara pada para pelayan menanyakan hal yang sama secara berulang-ulang selama lebih dari empat jam yang lalu. Sesekali ia mendekatkan ponsel dalam genggamannya pada sebelah telingannya dan wajahnya akan semakin menunjukan kecemasan begitu ponselnya kembali menjauh.

"Iruka kun, tenangkan diri anda." Seorang pria tua yang berdiri di sebelahnya mencoba menenangkan meski dirinya juga tak bisa setenang itu.

"Kepala pelayan, apa yang harus saya lakukan? Minato sama dan Kushina sama tidak bisa dihubungi." Suaranya hampir terdengar sedikit gemetar, ia mengeratkan genggamannya pada ponsel ditangannya. Ia sangat cemas, majikannya, tuan mudanya menghilang sejak tujuh jam yang lalu dan hanya kesaksian dari beberapa pelayan yang melihat Naruto berlari meninggalkan mansion. Ia tidak bisa menenangkan dirinya, firasatnya berkata jika ada sesuatu yang tidak beres dengan tuan mudanya.

"Iruka san! Sa saya tidak menemukan Naruto sama di taman." Seorang maid terlihat terengah-engah menyampaikan informasi yang didapatnya.

"Kalau begitu cari ditempat lain yang sering dikunjungi Naruto!"

"Baik!" Ucap maid itu, ia segera berbalik dan kemudian bergegas mencari tuan mudanya lagi.

'Naruto, dimana kau?'

.

.

.

"AAH! Ayame, dimana koran yang ku beli lima hari yang lalu!"

Teuchi, pemilik ramen Ichiraku berteriak memanggil putrinya, sedangkan ia sendiri tengah sibuk mengobrak abrik berembar-lembar koran bekas yang menumpuk dalam kardus.

"Dilemari ayah! Memangnya ada apa?" Seru putrinya.

"Aku merasa mengingat sesuatu dan aku harus memastikannya. Kemari dan bantu ayah mencarinya Ayame!" Ucap Teuchi dengan agak keras, ia sangat tergesa-gesa dalam mencari barang yang dicarinya. Ia harus memastikan sesuatu, dan ia berharap jika dugaannya ini salah.

"Ayah ini mencari dimana sih, ku bilangkan korannya ada dilemari." Ucap Ayame, ia berjalan mendekati rak yang cukup besar dan melilah-milah koran yang tertumpuk di sana.

"Ini dia!" Ia segera menyerahkan koran yang ada ditangannya pada sang ayah yang terlihat sangat gelisah. "Memangnya untuk apa ayah mencari koran ini?" Tanyanya.

Tak menjawab putrinya, Teuchi tengah sibuk menyusuri setiap cetakan-cetakan berita yang ada dikoran itu dan dengan tiba-tiba dia berteriak dengan sangat keras sehingga Ayame yang berada di sebelahnya terlonjak kaget.

"INI GAWAT!"

"Apanya yang gawat sih ayah?" Tanya Ayame yang makin penasaran dengan ayahnya yang seperti orang kesetanan setelah membaca sebuat berita dalam koran yang dipegangnya.

"Ayame, cepat hidupkan motormu! Kita harus ke rumah Naru chan sekarang!" Ucap ayahnya.

"Sebenarnya ada apa sih ayah?"

"Nanti ayah jelaskan, sekarang cepat kita harus ke rumah Naru chan!" Ucap ayahnya lagi, Ayame hanya mengangguk dan berjalan cepat menuju motornya. Ia menghidupkan mesin motornya dan langsung melesat menuju mansion Namikaze.

.

.

.

Mansion Namikaze (7 jam setelah menghilangnya Naruto)

Iruka masih setia dengan ponselnya yang selalu terus mencoba menghubungi kedua majikannya. Sejak tadi ia terus berusaha menghubungi mereka dan tak ada satu pun dari mereka yang mengangkat teleponnya sama sekali. Selalu berakhir dengan suara operator yang menyatakan jika seseorang yang dihubunginya sedang sibuk.

Ia berjalan mondar mandir entah untuk keberapa ratus kalinya hari ini, ia benar-benar cemas. Hatinya merasakan sesuatu bahaya dan ia takut jika majikannya itu benar-benar dalam bahaya seperti apa yang ada dalam pikirannya. Ia sudah berusaha berpikiran positif, namun apa dayanya ini jika pikirannya terus menunjukan hal-hal negatif padanya.

"Iruka san!"

Iruka menghentikan acara mondar mandirnya dan menatap seorang pelayan yang tengah berjalan secara tergesah kearahnya.

"Bagaimana? Apa Naruto sudah ditemukan?" Tanya Iruka saat pelayan itu berdiri di depannya.

Pelayan itu menggeleng, "Maafkan saya, tapi di luar ada seorang laki-laki dan perempuan yang ingin bertemu dengan anda." Ucap pelayan itu.

Iruka sangat kecewa dengan jawaban yang diterimanya, namun ia segera mengusir perasaannya itu dan kembali menatap pelayan itu. "Seorang laki-laki dan perempuan? Siapa?" Tanya Iruka.

"Mereka bilang, mereka adalah pemilik kedai ramen yang sering dikunjungi oleh Naruto sama." Jawab pelayan itu.

"Dimana mereka?" Tanya kepala pelayan yang berdiri di sebelah Iruka.

"Mereka ada di depan." Jawab pelayan itu, ia memiringkan tubuhnya saat Iruka dan kepala pelayan melewatinya dengan tergesa-gesa.

"Jii san!"

"Ah! Iruka kun ini gawat!" Iruka melihat laki-laki paruh bawa itu terlihat sangat gelisah, ia menyerahkan koran yang sejak tadi ia bawa pada anak laki-laki dihadapannya.

"Naru chan, kemarin lusa ia ke kedaiku bersama seseorang dan orang itu! Ini! Ini!" Teuchi terlihat menunjuk-nunjuk sebuah gambar pada halaman berita.

Iruka mengerutkan keningnya, ia menatap kearah telunjuk yang terus mengetuk sebuah gambar yang menunjukan seseorang laki-laki yang tengah memegang sebuah papan dengan angka entah apa itu. "Jii san, maksudnya?" Tanya Iruka yang sedikit bingung.

"Ryuu Ryuuga Souzo, Naru chan ke kedaiku bersama orang ini! Buronan polisi!" Ucap Teuchi, semua mata terbelalak sempurna. Naruto bersama laki-laki ini, kenapa bisa? Sebenarnya apa yang terjadi.

'Dicari, Ryuuga Souzo. Umur 16 tahum, tinggi 178 cm. Ciri-ciri berambut hijau daun, bermata coklat, berkulit putih. Jika anda melihatnya mohon segera hubungi kami di xxx xxxxxxx'

Ryuuga Souzo melarikan diri dari tahanan pada tanggal 7 Januari xxxx, ditahan dengan pasal berlipat antara lain melakukan pelecehan seksual pada anak dibawah umur lima tahun, penculikan, pembunuhan terhadap 4 orang anak dan pencucian otak pada anak yang diculiknya. Korban yang telah terungkap identitasnya 5 orang dan diduga jika masih ada 7 anak yang hilang dan belum ditemukan.


*##########*###########*##############*###############*###############*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.


"Engh..." Suara kecil terdengar dari bocah pirang yang kini sedang mengucek matanya yang masih terasa lengket karena tidur. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap ruangan tempat ia sekarang berada.

"Ini bukan kamal Nalu?" Ucapnya seraya terus memperhatikan setiap penjuru ruangan.

"Ohayou Naru chan."

Naruto langsung menatap seseorang yang tengah berjalan kearahnya dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat sebuah mangkuk yang isinya sangat dikenali Naruto. "Nii chan!" Ia menunjukan cengirannya pada pemuda itu. "Nii chan bawa apa?" Tanya antusias.

"Um, apa ya?" Ucap pemuda itu, ia melirik Naruto yang matanya sudah bling-bling seraya menatap nampan yang dibawanya.

"Nii chan bawa ra-"

"Lamen!" Teriak Naruto yang langsung berdiri dan membentangkan tangannya untuk meraih semangkuk ramen yang dibawa pemuda itu.

"Eit! Tunggu dulu Naru chan~" Pemuda itu menjauhkan nampan yang dibawanya dan menggerakan telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan wajah bocah yang langsung merengut karenanya.

"Sebelumnya, ini dulu." Ucap pemuda itu seraya menunjuk pipi kanannya.

Naruto memiringkan kepalanya tak mengerti apa yang dimaksudkan 'kakak' di depannya. "Pipi Nii chan kenapa?" Tanya Naruto.

"Ha'ah, cium dulu baru Nii chan berikan." Ucap pemuda itu, ia tersenyum begitu Naruto sepertinya sudah mengerti dengan ucapannya.

"Sini Nalu cium!" Ucap bocah itu yang langsung melangkah maju dan mendekatkan wajahnya pada pemuda itu, tak menyadari jika pemuda itu memutar kembali wajahnya.

Cup

Naruto tepat mencium bibir pemuda itu, bocah itu mengerjapkan matanya bingung. "Nii chan! Kenapa berlgelak sih, kan jadinya nggak kena pipi!" Ucap Naruto polos.

"Hehehe, 'kan sama saja dibibir juga." Ucap pemuda itu, ia meletakan nampan yang dibawanya pada meja kecil di dekat tempat tidur. "Nah, sekarang Naru chan makan ya." Ucapnya, ia tersenyum saat bocah itu langsung memakan ramen yang tadi dibawanya.

"Wah! Enak!" Ucap Naruto, ia memakan dengan semangat ramen yang ada di depannya meski sesekali tersedak karena terlalu terburu-buru.

Pemuda itu menatap Naruto yang tengah memasukan mie penuh lemak itu dengan lahapnya, ia melengkungkan bibirnya ke atas. Tangannya bergerak menyisir helaian pirang Naruto, membuat bocah itu mendongak menatapnya.

"Nii chan?" Naruto menatap pemuda itu dengan wajah belepotan penuh kuah ramen.

Tersenyum, pemuda itu mendekatkan wajahnya pada Naruto. Menjilat sudut bibir Naruto hingga bersih dari kuah ramen.

Naruto menyentuh pipinya yang basah dan menatap 'kakak' di depannya. "Iiih! Nii chan jorok!" Ucapnya seraya menunjuk pemuda itu.

"Eh, kenapa? Nii chan kan cuma membersihkan pipimu yang belepotan itu Naru chan." Ucap pemuda itu.

"Tetap saja, menjilat itu jorok tahu!"

"Ya sudah deh, gimana kalau sekarang Naru chan mandi?" Ucap pemuda itu seraya menggendong Naruto.

"Yosh!" Ucap Naruto semangat.

Pemuda itu pun segera membawa Naruto ke kamar mandi, membuka kemeja kebesaran yang dipakai Naruto dan memasukan bocah itu ke dalam bathtub. Sedangkan ia sendiri ikut masuk tanpa melepas pakaiannya.

"Nii chan ngapain masuk, bajunya jadi basah tuh." Ucap Naruto yang melihat 'kakak'nya itu duduk dan bersandar pada pinggiran bathtub.

"Kalau sama Naru chan sih masuk tidak masuk, tetap basah." Ucap pemuda itu, ia menarik tubuh Naruto yang tengah duduk di hadapannya agar lebih dekat. "Nah sekarang, bagaimana kalau kita bermain?" Tanya pemuda itu.

"Ne, mau main apa Nii chan?" Tanya Naruto, ia mendongak ke belakang menatap pemuda yang tengah tersenyum padanya.

"Cara mainnya begini." Pemuda itu menyentuh pinggang Naruto dan mendudukan bocah itu dipangkuannya. "Pertama-tama Naru chan harus bisa menahan geli. Kalau kalah, Nii chan boleh minta satu permintaan sama Naru chan." Ucap pemuda itu.

"Kalau Nalu menang gimana?" Tanya Naruto.

"Kalau Naru chan menang, Naru chan juga boleh minta sesuatu dari Nii chan." Jawab pemuda itu.

"Asyik! Kalau gitu ayo main Nii chan!" Ucap Naruto semangat.

Pemuda itu menyunggingkan senyumnya, "Kalau begitu kita mulai." Ucapnya tepat disebelah telinga Naruto. Tangannya yang berada dipinggang Naruto bergerak menyusuri perut Naruto. Mengelus perut itu hingga Naruto merasa kegelian. Ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Naruto dan menggosok-gosokan hidung dan bibirnya di sana.

"Nii Nii chan, pelut Nalu geli hahaha." Naruto tertawa-tawa merasakan geli dibagian perutnya.

"Nah! Naru chan kalah!" Ucap pemuda itu.

"Naru nggak kalah Nii chan!" Ucap naruto.

"Pokoknya Naru chan kalah. Sekarang Naru chan harus nurutin permintaan Nii chan." Ucap pemuda itu.

"Huft, tapi Nalu nggak kalah." Naruto mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Satu permintaan~" Ucap pemuda itu, tersenyum-senyum pada Naruto.

"Uh, Nii chan minta apa sama Nalu?" Tanya Naruto.

"Um, apa ya?" Ucap pemuda itu, "Ah, Nii chan tahu. Cium Nii chan," Ucap pemuda itu.

"Cuma itu?" Tanya Naruto, ia melihat pemuda itu mengangguk. "Ya sudah, sini." Ucap Naruto.

"Tunggu dulu, tapi nanti Naru chan buka mulutnya ya."

"Memangnya kenapa?" Tanya Naruto.

"Buka saja." Ucap pemuda itu, Naruto hanya mengangguk dan diam saat pemuda itu mendekatkan wajahnya. Ia merasakan jilatan hangat pada bibirnya sebelum bibirnya dipagut pemuda dihadapannya.

Pemuda itu menjilat, menarik pelan bibir Naruto dan membawanya dalam mulutnya, ia melirik Naruto yang hanya diam dan mengerutkan keningnya saat ia tengah menjamah bibirnya.

"Buka mulutnya Naru chan." Ucap pemuda itu, perlahan Naruto membuka mulutnya dan pemuda itu langsung menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut bocah itu. Menjilat setiap sudut rongga kecil itu dengan lidahnya.

"H hn.." Naruto mengerang geli krtika bagian atas rongga mulutnya dijilati oleh lidah yang berada dalam mulutnya.

"Emmm...nnh..." Pemuda itu mendesah, ia sangat menikmati lembabnya rungga mulut dari bocah kecil di depannnya. Ia terus menerobos dan menjilati semua bagian dalam mulutnya. Sungguh nikmat, ia mendorong kepala bocah pirang itu untuk memperdalam ciumannya dan semakin membuatnya mendesah. Bocah yang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan sang pemuda.

"Emmmh..."

Pemuda itu melepas ciumannya, membiarkan untaian saliva yang masih terhubung dari bibirnya dan bibir bocah dihadapannya. Ia melihat Naruto yang terengah-engah karena kehabisan napas.

"Nii Nii chan. Nalu hah susah na hah pas," Ucap bocah itu padanya.

Ucapan polos dari bocah itu membuatnya menyunggingkan senyum, "Tidak apa-apa, kalau begitu kita lanjutkan mandinya ya." Ucap pemuda itu, ia mengambil sebuah botol yang terletak di samping bathtub dan mengeluarkan isi botol itu pada tangannya.

"Nah, sini tangannya."

Naruto menjulurkan tangannya pada pemuda itu yang mulai melumuri tangannya dengan sabun cair dan menggosok-gosoknya hingga sabun itu mulai berbusa. Naruto terlihat antusias dengan busa yang ada ditangannya, ia menggosok tangannya sendiri dan memperbanyak busa itu.

"Busa, busa. Mandi busa." Ucap Naruto yang tengah memainkan busa yang menutupi air yang merendam tubuhnya.

Pemuda itu pun ikut menggosok tubuh Naruto, ia mengelus bagian dada dan punggung Naruto. Melakukannya berkali-kali, dengan mata yang terus mengikuti tingkah bocah di depannya. Ia mengelus perut Naruto dengan jari-jarinya, lalu menggerakan tangannya untuk lebih ke bawah. Menyentuh sesuatu yang kecil diantara dua kaki Naruto. Sedangkan Naruto seakan tak merasakan apa pun, bocah itu terus melanjutkan acaranya memainkan busa sabun.

Mengelus lembut sesuatu yang hanya sebesar kelingkingnya, pemuda itu kembali tersenyum dan mendekatkan dirinya pada Naruto. "Naru chan, mau main lagi?" Tanyanya pemuda itu.

"Main apa lagi, Nii chan?" Naruto mendongak dan menatap pemuda itu lagi.

"Mainnya.." Pemuda itu mengecup bibir Naruto, "Seperti ini." Ia mengelus-elus milik Naruto dan menggenggamnya dengan dua jari, jari tengah dan telunjuknya.

"EEH! Nii chan kenapa pegang punya Nalu!" Ucap Naruto yang langsung menutupi miliknya dengan kedua tangan.

"Huhuhu, tidak apa-apa kan. Naru chan juga boleh pegang punya Nii chan." Ucap pemuda itu, tangannya mengarah pada kancing celananya dan membukanya. Ia menurunkan resleting celana miliknya dan membuka celana dalam yang sejak tadi membuatnya sesak.

"Ah..." Ia mendesah saat miliknya bisa bebas, ia yang sudah sedikit menegang, "Naru chan juga pegang." Ucapnya, mengarahkan tangan mungil Naruto untuk menyentuh miliknya.

"Kok punya Nii chan lebih besal dari Nalu?" Tanya Naruto bingung, ia memegang milik pemuda itu dengan penasaran. Tidak menyadari jika perbuatannya membuat hasrat pemuda itu semakin memuncak.

"Ukh, ka kalau Naru chan s sudah besar juga bisa sebesar i ini." Pemuda itu menjawab dengan menahan erangannya untuk keluar. "Jadi, Na Naru chan mau main?" Tanya pemuda itu.

"Kalau asyik Nalu mau!"

"Ini pasti asyik sayang, dan Naru chan pasti ingin memainkannya lagi." Ucap pemuda itu, Naruto hanya tersenyum polos mendengar ucapan pemuda yang kini tengah menyeringai padanya.


*##########*###########*##############*###############*###############*##########*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o


.

Mansion Namikaze (12 jam setelah menghilangnya Naruto)

Kakek tua yang menjadi kepala pelayan di mansion Namikaze hanya bisa mengelus punggung anak laki-laki yang duduk di sampingnya. Semuanya masih berusaha, mencari tuan mudanya yang telah menghilang lebih dari 12 jam dan sama sekali tidak ada kabar dan informasi yang bisa membuatnya tahu dimana gerangan boo channya itu sekarang.

Iruka yang menjadi pelayan pribadi tuan mudanya itu terus bergerak-gerak gelisah dengan mata yang sudah memerah sembab. Anak itu terus menangis dari beberapa jam yang lalu saat mengetahui majikannya diduga menjadi korban penculikan dari buronan polisi berdasarkan ucapan dari pemilik kedai ramen yang biasa Naruto kunjungi.

Anak ini belum tidur sejak kemarin, tidak ada satu orang pun yang sanggup untuk memejamkan matanya di saat majikan mereka tengah hilang. Meski lelah dan rasa kantuk terus dirasa oleh mereka. Setiap detikan jam serasa begitu lambat bagi mereka.

"Ada apa ini Iruka?"

Iruka yang sedari tadi menundukan wajahnya langsung mendongak begitu mendengar panggilan dari suara yang amat ia kenal. Ia melihat Namikaze Minato yang menatapnya dengan geram, seakan ia melakukan suatu kesalahan. Ia memang melakukan suatu kesalahan, kesalahan besar yang pantas jika majikannya itu meminta nyawanya sebagai pengganti.

"Mi Minato sama." Ia berdiri dan membungkuk pada laki-laki yang tengah berjalan kearahnya.

"Katakan ada apa ini, kenapa para maid dan butler dirumah ini tidak ada." Ucap Minato.

"Naruto sama. Sa saya, gomennasai Minato sama. Na Naruto menghilang." Ucap Iruka yang semakin membungkukan tubuhnya.

Seketika wajah Minato mengeras, ia menarik kerah seragam pelayan yang dipakai Iruka hingga anak itu berdiri tegak dengan terpaksa. "Apa maksudmu dengan Naruto menghilang?" Tanya dengan nada dingin menusuk.

"Naruto, su sudah tiga belas jam kami mencarinya. Tetapi ka kami tidak menemukannya dimana pun da dan Teuchi san, pemilik kedai ramen yang sering Naruto datangi mengatakan ba bahwa Naruto ke kemungkinan pergi bersama seseorang bernama Ryuuga Souzo." Jelas Iruka, sungguh ia sangat takut pada majikannya ini. Bukan karena ia takut jika ia akan dihukum atas kelalaiannya, ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto.

"Kepala pelayan." Panggil Minato.

"Ya, Minato sama." Kepala pelayan membungkuk hormat pada majikannya itu.

"Hubungi Anko, katakan padanya untuk mengirimkan Anbu." Ucap Minato, ia melepaskan kerah Iruka dan berjalan menaiki tangga mansionnya. Dengan ponsel yang berada di telinganya.

.

.


To be continue

Ha'ah, akhirnya selesai. #selesai gundulmu! Ini nyampe klimaks saja belum!

Hehehe, gomennasai minna..

Dipikir lagi kalau flashback ke dua ini dijadikan satu chapter maka akan lebih dari 14 ribu word jadi dipotong sampai sini dulu ya ^^

Nanti chapter-chapter selanjutnya akan ada lanjutannya atau terserah minna sih maunya chapter depan itu lanjutan flashback atau mau lanjutin chapter 9..

Tergantung padamu ^^

Juga mohon reviewnya ya, tidak mengharapkan banyak karena author tahu dengan pasti jika fic ini sudah mulai membosankan T^T

Ha'ah, hanya bisa menghela napas saja dan pasrah.

Review ?