Harry Potter Belongs to J.K Rowling
I only own the plot and some characters you didnt know
Happy Reading!
10
xxx
Hello! I'm so sorry for late update! Terakhir saya update itu sebenarnya saya lagi kosong jadwal banget. Tiba tiba minggu depannya dosen dosen saya—ngasih tugas kelompok. Sehingga saya mau nggak mau dua minggu ini disibukkan dengan tugas kelompok 4 mata kuliah. But i hope you guys still excited to read this fanfict.
AuroraDM: thank you for loving this fanfict! Terimakasih reviewnya^^
Ryuusei428: finally! Kekeke terimakasih reviewnya!
Guest: duh siapa yang bisa mengelak dari pesona abang Malfoy? terimakasih reviewnya!
Gita267: Mau banget sih pecat Sophia but later c: terimakasih reviewnya!
Albavica: Saya juga ngetiknya sambil senyum sendiri m terimakasih reviewnya!
Tenshi Kazenna: Semoga bisa dicerna dengan baik kekeke terimakasih reviewnya!
Bluesweetpink: Terimakasih reviewnya!
Riska662: Read this chap and find the answer of that question terimakasih reviewnya!
Aquadewi: bagaimanapun Draco hanyalah CEO Pengganti (?) ini muncul uncle Corneliusnya kekeke terimakasih reviewnya!
Nara: Saya gasuka dua duanya /lah xD adegan sophianya hancur? Masih tahap perencanaan kekeke terimakasih reviewnya!
Staecia: waduh nenek sihir keke dia masih muda xD terimakasih reviewnya!
Ayuniejung: Terimakasih sudah suka ff ini!^^ Terimakasih reviewnya!
Shaquillazeeva: wah syukur kalau kerasa sosweetnya kekeke terimakasih reviewnya!
Guest: mereka berdua diadakan memang untuk membuat reader sebal(?) kekeke terimakasih reviewnya!
Azzaynzi: setuju sama kamu m terimakasih reviewnya!
Aquades: ini update! :3 terimakasih reviewnya!
Hans: dia bukan Cuma gentle, dia juga ganteng kekeke terimakasih reviewnya!
Puma178: ini update!^^ Terimakasih reviewnya!
Cherryllyo Neo: why people hate Ethan and Sophia kekeke terimakasih reviewnya!
xxx
Beberapa hari setelah Hermione dan Draco saling mengetahui perasaan masing-masing, hari-hari berjalan seperti biasa. Hermione belum juga memberitahu Ethan soal perasaannya yang ternyata tidak mencintai lelaki itu. Draco sudah gusar, meminta Hermione memberitahu lelaki berambut cokelat itu. Ia takut Ethan menyangka Hermione menerimanya dan berbuat seenaknya pada gadis itu.
"Berikan aku waktu, aku belum siap. Kau tahu, kan berapa banyak teman yang aku punya dikampus? Hanya satu dan aku belum siap kehilangan teman."
Selalu itu alasan yang diberikan Hermione padanya ketika ia meminta gadis itu mengatakan perasaannya pada Ethan karena lelaki itu masih saja menunggui Hermione dipagi hari dan selalu menatap Draco Malfoy dengan tatapan arogan entah apa maksudnya. Ingin sekali Draco keluar dari mobil dan menonjok lelaki itu tepat diwajah dan memberitahunya kalau Hermione adalah miliknya. Hermione selalu melarangnya. Dia bilang, cepat atau lambat Ethan akan tahu soal perasaannya. Toh beberapa bulan lagi mereka akan kembali ke Hogwarts.
"Apa Malfoy kesal ketika kau menciumku tempo hari, Mione?" tanya Ethan sembari berjalan disebelah Hermione keperpustakaan. Ethan tahu gadis itu sangat menyukai perpustakaan. Meskipun ia tidak begitu menyukai perpustakaan, ia menyebutnya toleransi dalam berhubungan. Meskipun ia belum mempunyai hubungan apapun dengan Hermione Granger. Well sooner or later we will. Pikir Ethan.
Hermione mengedikkan bahu sembari berjalan ke rak disebelahnya, menghindari tatapan penuh cinta yang ditunjukkan Ethan padanya. "Aku tidak tahu.. kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak... hanya saja... ah, lupakan." Ethan akhirnya mengekori Hermione untuk duduk disofa.
xxx
"Kau tak mengangkat teleponku."
"Good morning, Soph. Dimana kopiku?"
Sophia memutar bola matanya sembari mengikuti Draco masuk keruangannya dan menutup pintu ruang kerja lelaki pirang itu begitu mereka berdua didalam. "Kau marah padaku hanya karena aku pergi kesalon diwaktu kerja? Atau karena aku memakai kartu kreditmu untuk perawatan? Kau pasti pura-pura tidak tahu, aku melakukan perawatan untuk siapa—"
"Kau pergi dijam kerja. Bos mana yang tidak marah kalau karyawatinya pergi dijam kerja?" Draco mengetuk-ngetukkan pulpennya kemeja. Menatap wanita didepannya tajam. Dan apa maksudnya 'memakai kartu kreditmu'? kartu kredit yang selalu dipakainya untuk mentraktir wanita itu adalah kartu kredit perusahaan. Memang diberikan kepada Draco untuk menunjang kebutuhannya sebagai CEO baru. Seperti mentraktir investor sembari rapat atau menyenangkan hati investor dengan mentraktir ini dan itu.
"Dan—semua orang kini mengolok-olokku soal hubungan kita. mereka bilang kau mengonfirmasi pada Shane kalau kita tidak ada hubungan sama sekali, mereka mengolokku kalau aku berbohong soal kita." Sophia duduk tepat didepan Draco Malfoy dan menatap wajah pria itu garang.
"Kita memang tidak ada hubungan apapun."
"Really, Drake? Setelah kita berhubungan sex beberapa kali kau hanya akan menggunakanku sebagai sexdoll-mu?" nada bicara Sophia meninggi.
Draco Malfoy akhirnya menghela nafas. Berbicara dengan Sophia selalu membuatnya emosi akhir-akhir ini. Ia tahu, mendekati Sophia –meskipun hanya untuk seks- sama saja dengan menyetel sebuah bom tanpa batas waktu. Kau tak tahu kapan bom itu akan meledak. Draco juga belakangan tahu Sophia begitu ingin mengganti nama belakangnya dengan namanya untuk fame, pride, and money. For sure. Lelaki itu akhirnya mengangkat teleponnya dan memencet angka empat. "Shane, bawakan aku secangkir kopi."
"Damn, Draco Malfoy. I hate you." Sophia akhirnya keluar dari ruangan Draco Malfoy setelah mengumpat lelaki pirang itu.
xxx
From: Draco
What are you doing rn?
I miss you damn much.
Hermione membuka pesan dari Draco Malfoy lalu tersenyum. lelaki itu akhir-akhir ini sering membanjiri inboxnya dengan pesan romantis yang membuatnya tersenyum. Hermione belum mengatakan apapun kecuali pada Ginny Weasley soal ini. Teman-temannya yang lain bisa jantungan kalau Hermione memberitahunya bahwa ia menaklukkan Draco Malfoy. Bukan hanya menaklukkan tentunya, ia juga ditaklukkan oleh lelaki pirang itu. Siapa sangka setelah bermusuhan beberapa tahun lamanya kini Hermione melihat Draco Malfoy disampingnya ketika ia membuka mata diwaktu bangun tidur? Kini Hermione menatap lelaki itu dengan sayang, sungguh berbeda dengan apa yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Dulu, ia selalu ingin melemparkan kutukan ini dan itu ketika melihat Draco Malfoy.
To: Draco
Working on my paper.
I want to finish my paper soon and graduate from Hogwarts..
From: Draco
Dan setelah kau lulus dari Hogwarts?
Apa kau ingin menjadi seorang Malfoy?
To: Draco
Aku ingin bekerja di kementrian.
Menjadi seorang Malfoy?
Biar aku pikirkan dulu selama beberapa tahun.
Hermione tersenyum kecil. Pesan terakhirnya pada Draco pasti membuat lelaki itu ketar-ketir. Lelaki itu akhir-akhir ini selalu mengatakan bahwa satu-satunya gadis yang ia ingin berikan nama belakangnya hanya Hermione Granger. Nyatanya, meminta Hermione jadi kekasihnya pun tidak. Entah apa yang ada didalam kepala pirang Draco.
"Mione, kau mau pergi nonton denganku nanti malam?"
Ethan tiba-tiba menepuk bahunya dan membuyarkan lamunannya.
xxx
"Uncle Cornelius? Apa yang membawamu datang kesini?" tanya Draco yang baru saja kembali dari istirahat makan siangnya dan menemukan pamannya sudah ada diruang kerjanya dan mengotak atik komputer yang belakangan ini menjadi miliknya.
"Kau mengurus Malfoy Corps dengan baik, Boy.." Lelaki paruh baya berambut pirang itu hanya mengacungkan jempolnya pada Draco, membuat lelaki itu menatapnya dengan heran. Ia pasti mengecek semua dokumen yang sudah Draco kerjakan dan berpikir lelaki pirang muda itu bekerja dengan baik.
"Oh, Uncle, apa yang kau lakukan? Aunt Sarah bisa mengamuk..." Draco mengambil tisu basah dan mengusap bagian bahu dikemeja putih pamannya yang terlihat kotor oleh noda lipstik merah. "Aku yakin ini bukan milik Aunt Sarah. Aku selalu hafal ia tidak pernah menyukai lipstick berwarna merah terang. Aunt Sarah selalu memakai lipstik merah marun."
"Apakah kemejaku... Damn wanita genit itu."
Draco merenyitkan dahinya sembari membersihkan noda dikemeja pamannya yang agak susah dihilangkan karena noda lipsticknya terlalu tebal. "Wanita genit?"
Cornelius berpindah duduk disofa dan memanggil dua gelas kopi yang sudah terisi dengan sihir dan menggumamkan silencing spell. "Sophia sepertinya tidak berhasil mendapatkanmu? Ketika aku datang, dia menarikku kerestoran mewah diujung jalan dan menangis. Dia bilang butuh bahuku untuk bersandar." Jelas Cornelius membuat Draco duduk didepan pamannya itu, menuntut penjelasan lebih. "Dia selalu ingin menjadi seorang Malfoy. Kau tahu. Fame, pride, money. Dia menggodaku. Tapi aku sudah terlanjur cinta mati pada bibimu."
"Menggoda—maksudmu—"
"Kau sudah mencicipi tubuhnya? Aku selalu suka menampar bokongnya. Memantul seperti bola."
"Shit.." Draco Malfoy seketika bergidik ngeri. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jadi—selama ini aku meniduri wanita yang juga ditiduri pamanku? Batinnya masih dengan ekspresi ngeri.
"Jadi ketika kau datang... mungkin dia merasa dia masih ada harapan. Untuk menjadi seorang Malfoy." Cornelius mengesap kopinya perlahan. "Aku sudah tahu dia akan melakukannya padamu. Dia tak mendapatkannya dariku, melihatmu yang masih muda, tampan, tegap—tentu saja dia akan mendekatimu dengan segala cara.."
Draco duduk didepan pamannya dan menatap lelaki paruh baya yang sedang mengesap kopinya itu dengan wajah kesal. "Kalau kau tahu, kenapa tidak pecat dia sejak awal? Kini dia bertingkah semaunya seolah-olah dia adalah kekasihku dan semua karyawan tidak ada yang berani melawannya."
"Tidak semudah itu melepas wanita cerdas seperti dia, Draco.. Malfoy Corps membutuhkannya.."
xxx
"Kau begitu berbeda dengan yang biasa aku lihat ketika aku berkunjung ke Hogwarts... Bagaimana kabarmu Ms. Granger?"
Hermione menundukkan wajahnya. Lawan bicaranya terlihat masih ingin memuji kecantikannya, tetapi pujian itu membuatnya tidak nyaman. Apalagi jika dikatakan oleh seseorang didepannya sekarang.
Hermione menemukan orang itu tidak sengaja, ia baru saja akan ke bagian administrasi untuk melihat jadwal ujian akhir semester-nya dan menemukan seseorang yang agak ia segani duduk dikursi didepan kelasnya. Lebih pintar dari Zabini, Nott, Harry, Ron dan Ginny, orang itu mencarinya melalui bagian kesiswaan. Menanyakan ada dikelas mana siswi Hermione Granger pada pukul sebelas dan orang itu tepat menungguinya didepan kelasnya.
"Sa-saya baik-baik saja—Mr. Malfoy.." Hermione memainkan gelangnya ditangan. Sesekali mengusap keringatnya. Berhadapan dengan Malfoy Senior tentu saja adalah momen yang sedikit membuatnya gugup. Apalagi sejarah mereka- bukanlah sejarah yang indah untuk dikenang. "Apakah anda mencari Draco Malfoy, Sir?"
Lelaki berambut persis seperti Draco itu menggelengkan kepalanya dan menatap heran pada lelaki muda berambut cokelat yang menghampiri Hermione dan tanpa basa-basi padanya langsung mengajak gadis itu makan siang bersama. Sungguh tidak punya tatakrama. Pikir Lucius.
"Lain kali saja, Ethan. Aku sedang kedatangan tamu." Tolak Hermione dengan halus.
Setelah Ethan pergi, Lucius mengajak Hermione untuk makan siang bersama disebuah restoran dekat kampus Hermione. Membuat gadis itu bingung. Bukankah lelaki ini seharusnya datang untuk mencari putra kesayangannya? Mengapa repot-repot mentraktirnya makan siang?
Tetapi kelihatannya memang Lucius Malfoy datang untuk menemui Hermione Granger. Masa iya, dia tidak tahu dimana Malfoy Corps berada sehingga perlu repot mencari dirinya untuk mengantarkan lelaki itu pada putranya? Dari gelagatnya, Hermione bisa membaca kalau Malfoy senior itu mungkin sudah tahu kedekatannya dengan putra semata wayangnya itu dan meminta Hermione menjauhi Draco.
"Apa kau tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan Draco saat ini?" tanya Lucius Malfoy sembari menyuapkan pasta kemulutnya.
Hermione merenyitkan dahinya mendengar pertanyaan ayah dari lelaki yang dicintainya itu. Jawaban yang terpikirkan olehnya adalah 'tentu saja saya, Mr. Malfoy' tetapi dari nada bicara Lucius yang bernada sedikit marah, ia tidak jadi mengatakannya dan memilih untuk diam dan fokus untuk makan dengan benar. Hermione sangat gugup. Saking gugupnya sampai ia terus menjaga agar garpunya tidak masuk kedalam hidung.
"Aku menerima pesan tagihan kartu kredit dari Cornelius yang sudah disalin ke perkamen dan sepertinya Draco sangat boros beberapa bulan ini." Lucius menghentikan makannya sejenak membuat Hermione juga mau tak mau menghentikan makannya. "Beberapa bulan ini, aku bisa melihat Draco seperti sedang berusaha menyenangkan seorang wanita. Tas bermerek, sepatu bermerek, pakaian, perhiasan, dan terakhir, paket mewah perawatan disalon.."
Hermione mengangguk paham. Pasti Sophia, pikir gadis Gryffindor itu cepat. Siapa lagi yang menyokong kebutuhan biologis Draco selama ini selain wanita ular itu. "Sebenarnya, Sir, Draco sedang dekat dengan asistennya dikantor. Namanya Sophia." Jawab Hermione jujur melihat tatapan mata Lucius padanya yang seolah-olah mengatakan Aku-tahu-kau-tahu-sesuatu.
"Sedekat apakah mereka sampai Draco menghabiskan banyak uang untuknya?" tanya Lucius membuat Hermione agak terbatuk. Memikirkan Sophia yang sudah sering menyentuh tubuh lelakinya saja membuatnya bergidik dan marah. "Aku sudah bilang pada Draco, aku tak suka pada muggle. Kecuali dirimu, tentu saja Ms. Granger. Silahkan lanjutkan makannya."
Hermione akhirnya memilih untuk bungkam soal Sophia. Ia tidak mau menerima resiko Lucius akan mendamprat Draco karena terlalu terikat dengan muggle. Ia tidak percaya Lucius Malfoy mengajaknya makan siang hanya untuk menanyakan pertanyaan itu. Kenapa tidak langsung bertanya pada putranya?
"Ngomong-ngomong.."
Hermione menatap kearah Malfoy senior itu lagi karena sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu pada dirinya.
"Kau sangat cantik, Ms. Granger. Persis seperti yang dikatakan Draco selama ini." Lucius meminum air dan tersenyum pada Hermione. Hermione tidak bisa berkedip melihat senyum yang diberikan Lucius Malfoy padanya. "Draco sesekali mengirim surat ke manor. Lewat Cornelius tentunya karena aku tahu dia tidak boleh menggunakan atribut sihir selama ada disini dan dia banyak membicarakan soal dirimu. Kini aku bisa melihat, yang dikatakan Draco itu benar."
Hermione tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain membalas senyum Lucius Malfoy.
xxx
"Ayahmu datang kekampus dan menemuiku." Hermione menatap Draco yang sedang membantunya untuk memasang sabuk pengaman.
Setelah membantu Hermione memasangkan sabuk pengamannya, Draco akhirnya memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. "Oh ya, apa yang dilakukannya?"
"Menanyakan padaku siapa yang sedang dekat denganmu saat ini—"
"Kau." Potong Draco sembari menjawil pipi Hermione, ia baru saja akan menjawil pipi gadis itu lagi dan diurungkannya melihat wajah Hermione yang mendadak tertekuk. Marah? Kesal? Entahlah.
"Karena kau menghabiskan begitu banyak uang untuk wanita itu."
Draco terdiam. Cornelius pasti mengirim tagihan kartu kredit itu pada ayahnya. Secara harfiah, perusahaan itu memang milik ayahnya, sehingga Cornelius memang rutin memberikan laporan keuangan, termasuk penggunaan kartu kredit perusahaan yang diberikan khusus padanya. "Apa kau juga ingin aku belikan..."
"Aku tak butuh barang-barang seperti itu." Potong Hermione cepat. Dia sedikit kesal setelah mengetahui berapa banyak yang sudah dihabiskan Draco untuk wanita ular itu. Lucius memperlihatkan Perkamen yang agak panjang itu padanya ketika makan siang tadi dan memang. Draco agak boros dalam hal menyenangkan Sophia.
"That's my girl." Draco mengecup kening Hermione sembari menunggu lampu hijau.
"Wanita itu sepertinya mendekatimu untuk harta, Draco."
"Benar. Tepatnya ia ingin nama Malfoy dibelakang namanya." Draco mengedikkan bahunya santai. Ia menyandarkan kepalanya dibahu Hermione sembari menunggu lampu hijau. "Kau tahu, ia hanyalah seorang muggle biasa yang ingin harta, tahta, jabatan, harga diri.."
Hermione memutar bola matanya kesal. "Dan kau terus membiarkan wanita licik itu berada disekitarmu? Demi Merlin."
"Aku tidak—Uncle Cornelius tidak mengizinkanku untuk—" Draco menghela nafas melihat Hermione yang terlihat sudah ogah-ogahan mendengarkan penjelasannya. Kemudian ia teringat sesuatu sebelum akhirnya membalas perkataan Hermione. "Kau juga mengizinkan Winchester berada disekitarmu! Siapa yang melakukannya duluan? Aku atau kau? Aku sudah memintamu untuk mengatakan kau milikku padanya dan kau menolak. Kau pasti jatuh cinta padanya."
"Draco Malfoy!"
xxx
Sore itu, suasana agak tidak menyenangkan terjadi diantara Draco dan Hermione karena perdebatan mereka sepanjang jalan pulang. Hermione yang sudah terlanjur kesal pada lelaki pirang itu memilih untuk berdiam diri dikamarnya sembari melanjutkan tugas akhirnya yang sudah seperempat jalan. Bagaimana mungkin Draco Malfoy bisa menyimpulkan ia mencintai Ethan? Yang Hermione butuhkan hanyalah sedikit waktu sebelum ia siap untuk mengatakan perasaannya pada Ethan. Ia dulu memang ingin segera menyelesaikan permasalahan soal perasaannya itu. Tapi dipikir-pikir lagi, ia bisa kehilangan seorang teman kalau ia memberitahu Ethan sekarang.
Setali tiga uang dengan Draco Malfoy, lelaki itu juga memilih untuk menghabiskan waktu didalam kamarnya. Mendengarkan musik melalui iphonenya dengan earphone. Ia agak tidak bisa mengerti soal jalan pikiran Hermione yang marah padanya soal memanjakan Sophia- atau apalah itu. Bukankah ia sudah menjelaskan bahwa Sophia hanya pelampiasannya saja? Draco melirik tempat tidurnya yang luas. Akhir-akhir ini, king size-bednya tidak seluas dulu. Karena ia dan Hermione menempatinya bersama. Saling mendekap dalam tidur.
"Damn, Hermione Granger, kau membuatku gila." Draco lalu menyimpan earphone dan handphonenya diatas meja dan berjalan keluar, memasuki kamar gadisnya itu tanpa permisi. Ia langsung menggendong Hermione yang sedang fokus dimeja belajar-berkutat dengan laptopnya-keatas tempat tidur dan kemudian merebahkan tubuhnya sendiri disamping Hermione, memeluk pinggang gadis itu erat dari belakang.
Hermione diam, Draco juga diam.
"Maafkan aku." Bisik keduanya bersamaan.
"Aku seharusnya berpikir panjang sebelum kesal padamu. Kau pasti tidak bisa seenaknya memecat seorang karyawan. Kau pasti butuh izin dari Malfoy senior." Hermione memutar tubuhnya lalu memeluk Draco erat.
"Maafkan aku sudah meragukan perasaanmu. Aku mengerti, kau hanya punya satu teman dan kau bisa kehilangan teman. Aku hanya khawatir si bodoh itu akan berbuat yang macam macam padamu.." Draco berbisik ditelinga Hermione lembut.
"Kau tahu, aku bahkan menolak ajakan Ethan untuk menonton malam ini. Jangan lagi mengatakan hal bodoh seperti tadi. Aku tidak mencintai Ethan."
Draco tersenyum mendengar pengakuan Hermione padanya sebelum akhirnya melumat bibir Hermione yang berjarak hanya beberapa senti dari bibirnya.
xxx
Hermione tersenyum sembari memegang bibirnya sendiri. Kini, ia dan Draco selalu berciuman ketika Draco mengantarnya kekampus. Tentu saja hanya ketika Ethan tidak menungguinya digerbang depan. Lelaki itu kini tidak menungguinya setiap hari seperti biasa, terkadang lelaki berambut cokelat itu menungguinya, terkadang ia tidak menungguinya. Setelah itu Hermione akan bersikap senormal mungkin dengan jutaan kupu-kupu berterbangan didalam perutnya. Efek samping dari ciuman dengan Draco.
"Mione! Maaf aku terlambat menungguimu dipagi hari." Ethan berlari dari kejauhan lalu menepuk pundak Hermione dari belakang, membuat gadis itu kaget. "Bibirmu agak tebal. Kau kedinginan?"
Cuaca sudah mulai agak dingin diawal bulan desember. Hermione kini meninggalkan banyak pakaian tipisnya dan menghabiskan tabungan mugglenya untuk membeli banyak pakaian hangat yang modis. Bibir Hermione memang agak tebal pagi itu. Karena Draco terlalu bersemangat menghisap bibirnya. "Ya—sedikit."
"Ayo kita keperpustakaan. Aku ingin kau mengajarkanku sedikit sebelum jadwal ujian kita..." Ethan menggenggam tangan Hermione dan menarik gadis itu keperpustakaan membuat gadis itu sedikit merasa risih dan berusaha menarik tangannya dari tangan Ethan. Tetapi cengkraman lelaki itu pada tangannya terlalu kuat.
Ethan menoleh kearah Hermione dan tersenyum pada gadis itu, meskipun ia merasakan Hermione sedikit demi sedikit ingin melepaskan tangannya dari genggamannya yang begitu kuat. "Kau sepertinya agak terburu-buru pagi ini, Mione.." ujar Ethan sembari mengusap pipi Hermione yang ternodai oleh lipstiknya sendiri.
xxx
"Aku pinjam jarimu, Shane."
"Maafkan aku Sophia, Mr. Malfoy tidak mengizinkanmu masuk keruangannya tanpa izin."
Sophia berdecak sebal sembari melihat kearah ruangan Draco. Bagaimana mungkin Draco tidak memberikan akses masuk untuknya, padahal posisinya adalah asisten lelaki pirang itu?
"Aku kekasih Drake, Shane. Biarkan aku masuk."
"Oh well, kalau kau memang kekasih Mr. Malfoy, bukankah ia seharusnya membuat akses untukmu masuk ruangannya?" Shane akhirnya pergi setelah meletakkan segelas kopi yang kesekian kali diminta Draco hari itu.
Draco Malfoy benar-benar sudah putus asa dengan keadaan yang terjadi. Sophia sudah mulai mengabaikan tugas-tugasnya dan memilih untuk fokus mengejarnya. Maka Draco memindah tugaskan semua tugas Sophia pada Shane dan menempatkan karyawan lain untuk menggantikan tugas Shane. Jika Sophia memang tidak bisa dipecat, fine. Tetapi Draco tidak ingin lagi berurusan dengan wanita itu.
Sudah berkali kali Sophia seenaknya masuk kedalam ruangannya hanya untuk menggoda Draco atau untuk memaksa lelaki pirang itu agar mencintainya. Mengunci ruangannya dengan kunci fingerprint adalah hal terakhir yang bisa Draco lakukan untuk menyelamatkan dirinya dari Sophia. Ia hanya mendaftarkan sidik jarinya dan sidik jari Shane untuk masuk kedalam ruangannya ketika mengantarkannya kopi. Ia percaya Shane adalah seseorang yang bisa berkomitmen. Sophia tidak boleh masuk, titik.
"Sir, Sophia menunggu diluar." Ucap Draco pelan sembari membaca pesan yang masuk kedalam kotak masuknya. Dari Shane. Lelaki itu menghela nafas. Wanita itu tak tahu kapan harus menyerah. Draco akhirnya membuka pintunya dan menghadapi Sophia yang langsung merengsek kedalam pelukan Draco.
"Jangan menyiksaku."
xxx
Ginevra Weasley agak menyipitkan matanya melihat pemandangan didepannya. Draco Malfoy berpelukan dengan seorang wanita yang ia percaya adalah Sophia. Ginny segera mengambil ponselnya dan memotret apa yang dilihatnya itu. Profesor Snape menyuruhnya mengantarkan beberapa perkamen yang menurutnya sangat penting pada Draco Malfoy. Ia sebenarnya tidak menyuruh Ginny, tetapi wanita itu mengajukan diri agar bisa pergi ke dunia muggle dan bertemu dengan Hermione yang sudah mengagetkannya dengan sebuah pesan beberapa hari yang lalu.
Gin, Draco bilang dia mencintaiku!
Percaya tak percaya, aku juga mencintainya!
Apa yang harus aku lakukan?
Itulah pesan yang diterimanya beberapa hari yang lalu dari gadis emas Gryffindor itu. Ia tidak kaget. Ia sudah bisa menebak Hermione jatuh cinta pada Draco ketika gadis itu bercerita mengenai asisten Draco yang kelewat genit. Namun ketika gadis berambut merah itu bertanya cerita lengkapnya, Hermione hanya mengatakan ia akan menceritakan semuanya ketika mereka bertemu. Maka, tak mau berlama lama digantungkan oleh pesan dari Hermione, Ginny dengan senang hati mengantarkan perkamen itu dan Draco yang sedang berpelukan dengan wanita lainlah yang ia lihat seketika setelah keluar dari lift dilantai 9.
"Weasley?"
Ginny agak salah tingkah ketika mata Draco dan matanya bertemu. Draco langsung mendorong Sophia, membuat wanita itu menoleh kearah Ginny, yang membuat Draco Malfoy begitu panik dan langsung mendorongnya. "Hello, Malfoy."
"Jadi, Profesor Snape menyuruhmu mengantarkan ini padaku?" tanya Draco sembari mengacungkan perkamen perkamen ditangannya. Ginny hanya mengangguk kecil. Kejadian sebelumnya masih mengganggunya. Ia akan bertanya pada Hermione soal itu. Meskipun nantinya Hermione marah dan sakit hati, mengetahui kebenaran soal Draco lebih baik ketimbang dibohongi oleh lelaki pirang itu, bukan?
"Apa?" tanya Ginny pelan begitu Draco berbisik padanya, meminta gadis Weasley itu untuk menggumamkan silencing spell. "Baiklah."
Setelah Ginny menggumamkan silencing spell, Draco agak sedikit relaks untuk berbicara dengan volume agak keras pada Ginny. "Yang tadi kau lihat... tolong jangan bilang-bilang Hermione." Baru saja Ginny akan membalas perkataan Draco Malfoy, lelaki itu memotongnya dengan cepat. "Aku bisa melihatnya. Tertulis didahimu. Kau begitu ingin memberitahu Hermione soal tadi. Aku tidak berpelukan. Aku dipeluk. Berpelukan dan dipeluk adalah dua hal yang berbeda, Weasley."
"Aku tahu, kau pikir aku anak kecil?" Ginny mendengus kesal membuat Draco tertawa kecil lalu lelaki pirang itu berdiri dan mengambil jus jeruk dingin dari dalam lemari es kecil didalam ruangannya, memberikannya pada Ginny.
"Wanita tadi.. kupikir Mione sudah menceritakannya padamu bukan? Mengingat kalian berdua sangat dekat." Draco kembali duduk dikursi kebesarannya dan menatap Ginny yang mengangguk mengiyakan. "Dia begitu menginginkanku. Lihatlah ia terus menerus mengawasi kita, seperti anjing penjaga." Draco menoleh sedikit kearah pintu dan matanya menangkap Sophia berdiri didepan ruangannya seperti ingin mencuri dengar apa yang dikatakan Draco pada gadis berambut merah didepannya itu.
"Jadi sepertinya benar kalau kalian sekarang... tahulah." Ginny tertawa kecil, Draco mengangguk, paham akan perkataan Ginny. "Aku tak akan memberitahu Harry atau Ron mengenai hal ini. Aku tidak mau ambil resiko jadi sasaran amukan mereka berdua. Lagi pula kalian belum menjadi sepasang kekasih, kan? Aku permisi dulu, Malfoy. Waktuku terbatas. Aku harus kembali ke Hogwarts pukul tujuh. Aku harus menagih cerita lengkap soal kalian berdua dari Hermione."
Draco menganggukkan kepalanya dan segera mengunci pintu ruangannya begitu Ginny pergi. Ia melihat Sophia menghampiri Ginny yang sepertinya ingin menginterogasinya soal percakapannya dengan dirinya tadi. Perkataan Ginny Weasley tadi agak menempel dikepalanya. Benar, dia dan Hermione belum menjadi sepasang kekasih. Ia akan meminta gadis itu menjadi kekasihnya, tentu saja. Setelah gadisnya itu memberitahu Ethan soal perasaannya.
Ginny tidak begitu heran ketika melihat Sophia dengan terburu buru menghampirinya yang sedang menunggu didepan lift dan menanyainya, 'apa yang kau bicarakan dengan Draco Malfoy tadi?' Ginny menoleh kearah name tag milik wanita itu. "Maaf, tetapi pembicaraanku dengan Malfoy, bukanlah urusanmu, Talbot."
Ginny kemudian memasuki lift dan meninggalkan wanita itu menatapnya dengan kesal.
xxx
To be Continued.
