Title: Eyes, Nose, Lips [Chapter 10]
.
Author: Ira Putri
.
Rating: T
.
Disclaimer: SM Entertainment had the cast, but this story is mine.
.
All the cast are in the story.
.
.
.
Sinar matahari masuk menembus kaca dan gorden berwarna orange cerah itu. Suasana kamar sedikit berantakan dengan baju dan pakaian dalam yang tercecer di lantai. Sprei kasur di kamar itu lecek dan berantakan. Terdapat dua manusia yang menutupi dirinya dalam selimut kasur itu.
Ya. Kris dan Junmyeon.
Junmyeon mengerjapkan matanya saat sang sinar matahari menyilaukan matanya. Terlihat lelah, terlihat sekali dari rambut blonde acak-acakan dan sedikit menutupi wajahnya. Ia menggeliat dan berniat berganti posisi. Namun rasa sakit kembali menyerangnya di daerah pinggang dan selangkangan. Ia merintih kecil dan akhirnya menelentangkan badannya. Ia menutupi lagi tubuhnya dengan selimut.
Ia menoleh kepada orang yang sedang tidur di sebelahnya. Kris masih tidur dengan lelapnya. Semalaman mereka 'bertarung' dan mereka terlihat lelah namun menikmatinya. Junmyeon pun berniat bangun dan mencoba melawan rasa sakit yang menyerangnya itu. Tapi ia ditarik oleh sebuah tangan dan membuatnya kembali telentang di kasur.
Junmyeon menoleh kepada si pemilik tangan. "Kris...kau sudah bangun?"
Tak ada jawaban dari Kris.
Junmyeon mendesah. "Kris...aku tahu kau sudah bangun.."
"Hngg..." respon Kris tanpa membuka matanya.
"Ah Kris.. A-aku harus bekerja.."
Tak ada jawaban lagi dari Kris. Junmyeon kembali mencoba bangun dari tempat tidur. Namun aksinya dihentikan oleh Kris yang langsung menarik tubuh Junmyeon kembali telentang dan kemudian menindihnya. Hidung mereka bersentuhan. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama.
"Kau lupa? Ini hari Sabtu. Kantor tutup," jelas Kris dengan suara parau, terdengar ingin menggoda Junmyeon.
"Benarkah?" Junmyeon memegang pelipisnya. "Ahh.. Aku pasti terlalu mabuk.."
Kris menatap Junmyeon sejenak, lalu meletakkan kepalanya di leher Junmyeon. Berniat untuk bermanja-manja. Hembusan nafas Kris sangat terasa oleh Junmyeon. Junmyeon berusaha menahan geli agar tidak menimbulkan suara desahan.
"Laki-laki..."
Junmyeon sedikit menoleh ke arah Kris. "A-apa..."
"Kenapa kau mengubah dirimu menjadi perempuan?" tanya Kris.
"Supaya aku bisa bercinta denganmu, Kris. Hahaha..." Junmyeon tertawa kecil.
"Aku serius sayang.." Kris menciumi setiap inci jenjang leher Junmyeon. "Kau mengubah penampilanmu menjadi perempuan. Tapi kau tidak mengubah alat kelamin aslimu.."
"Ada kalanya...hhh... Itu berguna...hhh.. Suatu hari nanti..." Junmyeon menjawab dengan sedikit mendesah.
"Berguna untuk apa?"
"Aku tidak tahu.."
"Kenapa bisa tidak tahu?"
"Itu..." Junmyeon memalingkan wajahnya. Kris mengangkat kepalanya sedikit, karena perlakuan Junmyeon. "Aku takut Kris. Dokter pernah bilang padaku kalau aku menghilangkan tonjolan jakun di leherku ini, akan beresiko kehilangan suaraku. Aku saja takut akan itu apalagi menghilangkan alat kelamin. Aku hanya disuntikkan hormon kewanitaan saja..."
Junmyeon menoleh ke arah Kris. "Jadi.. apa aku terlihat seperti perempuan di matamu?"
"Kau laki-laki, Myeon.. Laki-laki tercantik.." Kris mengangkat kepalanya dan menatap Junmyeon. "Kau mampu membohongiku dengan cara seperti ini..."
"Aku tidak hanya membohongi kau saja, tapi semua orang.." sela Junmyeon.
"Aku tahu.."
Kris menempelkan bibirnya ke bibir Junmyeon. Itu sebenarnya bukan ciuman panas, namun cukup menghangatkan mereka berdua. Junmyeon melingkarkan tangannya ke leher Kris. Kris makin memperdalam ciumannya.
"Kau bohong padaku Myeon.." ujar Kris di sela-sela ciumannya dengan Junmyeon.
"Aku tahu itu Kris..." jawab Junmyeon.
"Kau harus dapat pelajaran..." tangan Kris menjalar ke bawah tubuh Junmyeon dan
"A-ahhh... Krisshh... J-jangan lagiihhh..." Junmyeon mendesah atas perlakuan Kris.
"Jadilah pasangan hidupku, Kim Junmyeon.." Kris mengalihkan ciumannya ke leher jenjang Junmyeon.
"Ngghhh...b-bagaimanahh..bisaa? Ak-akuu laki-laki..." Junmyeon mendesah hebat.
"Aku tak peduli dengan 'alatmu', Myeon.. Kau telah membuatku buta karena aku mencintaimu..." Kris masih menciumi leher Junmyeon.
"Ahh... Kriss.. Ak-aku juga... Nghhh..."
"Apa? Apa tadi kau bilang? Ulangi sekali lagi, Myeon!" Kris memasang tampang bodohnya untuk mendengarkan lagi apa yang dikatakan Junmyeon.
Junmyeon menarik nafasnya sejenak. Ia menarik kepala Kris dan menempelkan bibirnya tepat ke telinga Kris. "Aku...juga mencintaimu, Kris Wu.. K-kau harus tanggung jawab!"
"Tanggung jawab untuk apa?"
"K-kau sudah..." Junmyeon mendekatkan wajahnya ke wajah Kris. "Membuatku menyerahkan kehormatanku..."
"Aku 'menghormatimu' Nona Kim," Kris menyeringai. "Mau bermain berapa ronde, Nona Kim?"
"Ahh... Krisss..."
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
BRAK!
Berkas-berkas yang terlapisi oleh map itu tergeletak di meja dengan tidak elitnya. Perempuan yang melempar semua berkas-berkas di meja sekat kerjanya itu memijit pelipisnya. Ia seperti sudah kalah. Turun pangkat sudah ia anggap sebagai kekalahan baginya. Sekarang ia malah duduk di meja sekat yang baru dibuat oleh kantor dua hari lalu. Ia tak berhenti mengeluh dan menggumam.
"Suho sialan! Dia tidak bisa apa-apa. Kenapa dia harus jadi captain desainer yang baru? Presdir Wu mengangkatnya begitu saja. Baiklah, aku paham ia menang voting, tapi... Ah! Sampai kapanpun aku tidak akan sudi memanggilnya bos atau captain desainer!"
Bisa diketahui perempuan yang menggerutu itu adalah Sulli. Ia memandang meja kerja barunya itu dengan tatapan jijik. Sudah lama ia bekerja di ruangan tertutup dan sekarang harus merasakan bekerja di antara sekat-sekat karyawan lainnya. Pernah memang ia bekerja di tempat seperti itu tapi hanya berselang beberapa bulan.
Saat ia akan mengambil salah satu map dari mejanya, matanya menangkap sesosok perempuan yang ia kenal. Junmyeon. Suho. Suho yang membuatnya turun pangkat. Suho yang baru saja keluar lift dan berjalan sedikit tertatih. Entah habis jatuh terpeleset di tangga menuju lobby atau apalah Sulli tak peduli. Ia hanya memandang Junmyeon dengan tatapan benci. Junmyeon kini duduk di mejanya, dan disambut oleh Sehun. Mereka membicarakan sesuatu dan terlihat tertawa. Sulli duduk di bangku kerjanya. Ia memalingkan wajahnya dari dua perempuan itu. Berpikir.
"Harus. Harus bisa mencari cara agar Suho keluar dari Lotte Fashion ini... secara memalukan.."
.
?
.
"Eh ngomong-ngomong, kenapa kau berjalan pelan dan kelihatan kesakitan begitu tadi?" tanya Sehun heran.
Junmyeon yang tertawa tadi langsung diam. Sedikit terkejut. Ia tak mungkin berkata bahwa penyebab ia berjalan kesakitan tadi adalah ulah Kris. "A-anu... Aku terjatuh dari tangga lobby. Pinggangku terkena ujung tangga, sakit sekali..."
"Aduh, kasihan sekali kau, Suho. Apa high heelsmu terlalu licin untuk melewati tangga lobby? Apa salju yang membuatmu jadi begini?" Sehun memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi. "Atau kau sedang memikirkan..."
Junmyeon bersemu. "Ah, kau ini bicara apa? Sudahlah, kita bekerja saja! Ayo!" Junmyeon mendorong Sehun kembali ke meja kerja dan kemudian Junmyeon berbalik badan menuju meja kerjanya.
Bukan Sehun namanya kalau tidak kepo. Sehun mengintip Junmyeon dari atas sekat, dan berkata. "Aku yakin kau sedang memikirkan laki-laki tampan berkebangsaan Cina itu,"
"Sehun-ah~~!"
Gumpalan kertas berhasil mengenai rambut coklat Sehun.
.
?
.
"Ini teh hijau yang anda minta, Nona Kim," ujar office girl bernama Seulgi itu pada Junmyeon. Ia meletakkan secangkir teh hijau yang Junmyeon pesan.
"Baiklah. Terima kasih, Seulgi," jawab Junmyeon tersenyum manis pada Seulgi, lalu kembali berkutat dengan scanner.
"Baru saja saya mendapat perintah dari resepsionis lobby bahwa ada seseorang yang ingin menemui anda, Nona Kim," tambah Seulgi.
Junmyeon berpikir sejenak. Memijat pelipisnya. "Ah, jangan sekarang Kris..." Junmyeon menoleh ke arah Seulgi. "Terima kasih sekali lagi, Seulgi,"
Ada pemandangan tidak enak yang mengganggu Junmyeon dari Seulgi. Reflek tangannya membenahi tatanan rambut Seulgi. Membelah poni rambut coklat kekuningan Seulgi dan merapikannya. Pita yang ada di dada sebelah kiri baju Seulgi juga dibetulkan. Setelah selesai, Junmyeon memandang Seulgi dan tersenyum manis. "Kau bekerja sangat keras, Seulgi,"
"Te-terima kasih, Nona Kim," Seulgi tersipu dan berbalik badan meninggalkan Junmyeon.
Sulli datang ke meja kerja Junmyeon bertepatan setelah Seulgi pergi. Sulli memandang kepergian Seulgi, lalu menoleh ke arah Junmyeon. Tentu saja dengan tatapan tak suka. "Bos, Presdir bilang kita akan adakan perancangan elegant jacket seminggu lagi. Aku sudah membuat dua desain utama,"
Aktingmu bagus sekali, Choi Sulli. Junmyeon memang mudah percaya pada orang lain dan tak pernah berpikiran buruk pada orang lain. Junmyeon menerima kertas rancangan busana dari Sulli. "Terima kasih, Sulli-ssi. Sebaiknya jangan panggil aku bos. Lagipula, kau lebih senior dariku,"
Sulli memutar bola matanya, kemudian mencoba tersenyum pada Junmyeon. "Kau atasanku sekarang, Suho-ssi,"
Junmyeon meletakkan dua kertas tadi ke meja dan beranjak pergi. "Akan kulihat lagi nanti, Sulli-ssi. Aku ada urusan penting,"
Sulli memandang kepergian Junmyeon. Ada rasa penasaran yang menguak di hatinya. Setelah Junmyeon agak menjauh dari pandangannya, Sulli menyusul mengikutinya. Di pikiran Sulli adalah sebuah topik yang bisa ia jadikan alasan akal bulusnya.
Junmyeon kini sampai di lobby kantor Lotte Fashion. Ia menuju resepsionis dan bertanya mana tamu yang ingin menemuinya tadi.
"Pria tadi sudah menunggu di ruang tunggu khusus tamu karyawan, Nona Suho," jawab salah satu resepsionis.
"Terima kasih," ujar Junmyeon dan langsung berjalan menuju ruangan itu.
Junmyeon membuka kenop pintu ruang tunggu itu. Mencari-cari orang yang akan menemuinya itu. Yang tampak hanya satu orang yang menunggu di sana. Wajah yang tak asing bagi Junmyeon. Pria itu berpakaian simple. Kemeja bertuliskan 'World IT Volunteers' berwarna putih dan bergambar peta dunia yang melingkari bagian bahu baju pria itu. Tinggi pria itu sama seperti Junmyeon. Pria itu sedikit gendut dan berkacamata. Culun memang.
"Apa kau Kim Junmyeon, adikku?" tanya pria itu.
Junmyeon sedikit terpaku. "H-hyung?"
"Aku baru tahu kalau ada perempuan yang memanggilku hyung, haha.." Pria itu tertawa renyah. "Kukira setelah kau kabur dari rumah kau sudah tidak mengingatku lagi,"
Junmyeon maju mendekati pria yang ia panggil hyung itu. "Kim Wonyoung hyung... Tidak. Aku tidak melupakanmu, hyung..."
"Berarti kau masih sudi memberikanku pelukan?" Pria bernama Wonyoung itu merentangkan tangannya.
Junmyeon yang sudah 'mewek' itu memeluk erat kakak laki-lakinya itu. Rasa rindu menyeruak di dadanya. Mereka tersenyum bahagia karena mereka bisa bertemu secara langsung detik itu juga. Mereka berpelukan cukup lama. Junmyeon yang sudah menitikkan air mata itu melepas pelukannya pada kakak laki-lakinya itu.
"Aku sudah tidak pantas memanggilmu hyung lagi, Wonyoung hyung haha..." Junmyeon terkekeh. "Kau terlihat lelah sekali, kenapa tidak pulang ke rumah saja?"
"Aku baru saja pulang dari Indonesia. Kau tahu sendiri kerjaanku seperti apa, Myeon," Wonyoung berkacak pinggang.
"K-kau masih bergabung di KIV? Sudah berapa negara yang kau kunjungi? Kau makin hitam saja, hahaha," Junmyeon mulai bergurau.
"Sialan kau haha," Wonyoung menjitak kepala Junmyeon. Mereka tertawa bersama. "Myeon... Kau tidak berubah,"
Junmyeon berhenti tertawa. "Apa maksudmu tidak berubah, hyung?"
"Kau masih sama seperti dulu. Kau yang berwujud laki-laki,"
Junmyeon memicingkan matanya. "Benarkah begitu?"
"Ya. Aku tidak bisa bayangkan kalau kau punya pacar dan mengetahui kalau kau itu dulunya laki-laki," jawab Wonyoung.
"Mengenai itu... Tidak usah kau bayangkan itu sudah terjadi, hyung,"
"Apa? Oh, berarti benar dugaanku,"
"Tapi dia tetap mencintaiku. Kupikir dia biseks,"
"Dia bukan biseks, Myeon. Kau telah membuatnya jatuh cinta, haha," Wonyoung terkekeh. "Kau tahu, kau memang terlihat seperti perempuan sekarang,"
"Tapi aku tetap khawatir, hyung. Ini bukan tentang pacarku itu, tapi tentang karirku," jawab Junmyeon, ia memelankan suaranya.
Wonyoung memandang adiknya itu datar. "Identitas palsu?"
"Bukan hanya itu..." Junmyeon menatap mata kakaknya. "Kau tahu, hyung? Terkadang identitasku sekarang telah mengubah semua hidupku. Hidup sebatang kara di kompleks perumahan menengah, makan sendiri, dan bahkan aku pernah jungkir balik mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginanku. Hanya karena apa, hyung? Ijazah dan daftar riwayat hidup yang tidak sinkron. Kau tahu apa yang kumaksud,"
"Jenis kelamin," Wonyoung menjawab teka-teki Junmyeon. "Apa hanya aku yang masih melihatmu sebagai laki-laki? Laki-laki berpakaian formal dan berwibawa, blazer abu-abu, kemeja putih, syal panjang, rok selutut dan mewarnai rambutmu seperti ini, hahahaha..."
Junmyeon tersenyum. "Kau membuatku tertawa ya, hyung?"
"Ah... Aku malah ingin memiliki adik perempuan sekarang,"
"Ya! Hyung! Aku perempuan!" Junmyeon menghentakkan kakinya kesal. Wonyoung tertawa terbahak-bahak. "Lalu, kenapa kau memanggilku hyung?"
"Baiklah. Baiklah. Oppa," Junmyeon tertawa. "Sial! Itu malah tidak cocok untukmu!"
"Cocok, kok!" Wonyoung meletakkan kedua tangannya di saku celana. "Aku jadi ingat murid-muridku di Indonesia menyerbuku dan memanggil 'oppa oppa',"
"Itu karena mereka memang perempuan, oppa!" Junmyeon memukul bahu kakaknya.
Dua kakak-adik itu tertawa bersama. Dari luar ruangan itu, terlihat Sulli tengah mencoba mendengar percakapan mereka. Ruangan itu terbuat dari kaca, sehingga Sulli masih bisa mendengar pembicaraan mereka walau hanya samar-samar. Dan dua kata yang sempat terekam di otak Sulli.
"Kim Junmyeon? Laki-laki?"
Sulli berjalan sedikit menjauh dari ruang tunggu. Berpikir. "Kenapa Suho dipanggil Junmyeon? Dan... Apa maksudnya dia laki-laki?"
Sulli kembali menguping di depan pintu ruang tunggu. Sementara Junmyeon dan Wonyoung masih bercengkrama di dalam sana. Suasana masih bahagia, sebelum akhirnya Junmyeon ingin berpamitan untuk kembali bekerja.
"Maaf, hyung. Lain kali kita mengobrol lagi. Pekerjaanku menumpuk. Kalau kau mau kau bisa mengunjungi rumahku. Akan kukirim lewat email. Tapi tolong rahasiakan ini dari Papa dan Mama, ya!" Junmyeon berpamitan.
"Sebelum kau pergi... Masih ada satu lagi pertanyaan untukmu, Myeon," Wonyoung menenteng tasnya.
Junmyeon menoleh ke arah Wonyoung. "Apa itu?"
Wonyoung mendekat ke arah adiknya itu. "Sampai kapan?"
"Sampai kapan apanya?"
"Sampai kapan... Kau terus menjadi Kim Suho? Dan menjadi perempuan?"
Junmyeon membatu. Pertanyaan sulit.
Wonyoung menatap adiknya itu. "Kau, akan tetap menjadi perempuan? Beridentitas sebagai Kim Suho? Berpacaran dengan laki-laki?"
Junmyeon menarik nafasnya dalam. "Ya,"
"Bagaimana jika ada orang yang jahat padamu tahu kalau kau dulunya adalah laki-laki dan mempermalukanmu di depan semua orang?"
"Kuharap itu takkan terjadi, Wonyoung hyung," Junmyeon tersenyum getir. "Banyak dedikasi yang kuberikan di kantor ini. Teman-temanku banyak disini. Aku sudah memberikan seluruh kemampuanku. Kalau misalnya aku dipecat, aku akan dipecat secara terhormat. Mereka masih bisa menjadi temanku,"
Wonyoung mengusap-usap rambut blonde adiknya itu. "Aku sudah tahu alamat rumahmu. Tenang saja, Papa dan Mama tidak tahu aku kesini. Jaga kesehatanmu, Myeon,"
Setelah berkata demikian, Wonyoung menepuk pundak Junmyeon dan pergi dari ruang tunggu. Junmyeon masih mematung di sana. Berpikir. "Setidaknya ada satu keluarga yang masih sayang padaku walau aku sekarang menjadi perempuan,"
Kemudian ia pergi dari ruang tunggu. Sekitar 10 meter dari pintu, tampak Kris menunggunya. Junmyeon langsung menghampiri Kris dan memeluknya. Sulli masih berdiri di depan jendela ruang tunggu. Menatap Kris dan Junmyeon dari kejauhan. Di tangannya ada smartphone miliknya yang masih menyala. Setelah Kris dan Junmyeon pergi, Sulli menatap layar smartphonenya, kemudian menyeringai.
"Kim Junmyeon, anak dari Profesor Kim pemilik Chung-Ang University. Di sini terdaftar sebagai laki-laki. Oh, jadi kau berganti kelamin, Nona Suho?"
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
"... Aku galau, Baek..."
Junmyeon menghabiskan soju miliknya. Sementara Baekhyun, teman lamanya manggut-manggut. "Wonyoung hyung datang ke kantormu? Dan pertama kalinya melihat kau berdandan seperti perempuan?"
"Tepatnya dua kali," Junmyeon menyela. "Aku pernah berpapasan dengannya waktu aku membeli daging babi panggang. Aku berusaha menutupi identitasku saat ia memastikan bahwa aku Junmyeon, adiknya. Dan itu tepat sebulan sebelum ia pergi ke Indonesia,"
"Bagaimana dia bisa tahu kalau kau itu adiknya? Maksudku, dalam wujud perempuan?" tanya Baekhyun lagi.
"Insting seorang kakak, mungkin?" Junmyeon menuangkan sojunya lagi ke dalam gelas. "Entah dapat info darimana dia kalau aku bekerja di Lotte Fashion..."
"Kecanggihan teknologi, men!" Baekhyun meregangkan otot tangannya yang pegal. "Dimana saja ada internet. Sekalipun dia di Indonesia, ia masih bisa mengakses data kependudukan di Korea Selatan ini. Kan data kependudukan di Korea Selatan sudah dalam bentuk online,"
"Satu pertanyaanku, Baek," Junmyeon menatap Baekhyun. "Apa aku harus tetap menjadi perempuan dan dikenal sebagai Kim Suho?"
Baekhyun diam sejenak. "Aku sudah bilang padamu saat awal kau bertemu denganku sebagai perempuan. Itu pilihanmu. Jenis kelamin adalah hak asasi. Kau mendapatkan hakmu sebagai laki-laki, tapi kau ingin mengubahnya menjadi perempuan. Sebenarnya sia-sia hidupmu kalau kau memutuskan kembali seperti semula. Semuanya sudah terlanjur dijalani. Kau juga sudah punya pacar, bukan?"
Junmyeon termenung. "Benar,"
"Sekarang apa yang kau takutkan?"
"Yang kutakutkan...? Ada banyak sekali ketakutan, Baek,"
Baekhyun menopangkan dagunya. "Pernahkah kau sekali saja melihat para banci yang mangkal di tengah malam, atau menjelang malam di tempat-tempat prostitusi tertentu? Siang menjadi laki-laki dan malam menjadi perempuan. Dua kepribadian dalam satu hari. Sedangkan kau? Perempuan. Sudah berapa lama kau menjadi perempuan? Satu hari? Dua hari?"
"Satu setengah tahun, Baek," jawab Junmyeon.
"Nah!" Baekhyun menepuk tangannya satu kali. "Aku tak bisa memutuskan. Hanya kau yang bisa memutuskannya. Masalah dikucilkan dan dipermalukan, itu urusan belakangan. Berapa orang yang sayang padamu, Myeon? Kau juga bilang ada kakak-adik yang menganggapmu sebagai keluarga. Ada aku disini. Hyungmu juga tahu masalahmu,"
Junmyeon masih termenung. "Aku takut akan karirku selama ini, Baek..."
"Karir? Heh..." Baekhyun mendesis. "Tidak ada hubungannya antara jenis kelamin dan karirmu bodoh! Jika kau dipecat dari perusahaan besar itu maka kau bisa balas dendam, mengerahkan seluruh kemampuanmu dengan membuat perusahaan baru,"
"Karir sangat berhubungan dengan kehidupan sosial! Apa kau pikir dengan identitasku yang baru ini aku bisa tenang? Dan kau pikir... Membuat suatu perusahaan fashion itu mudah?" Junmyeon menggebrak meja di hadapannya. "Tidak, Baekhyun. Tidak sama sekali..." Junmyeon mengecilkan suaranya.
"Kau tahu kebohongan akan terbongkar. Benar begitu, Myeon?" Baekhyun duduk tenang, walaupun sedikit takut akan kemarahan Junmyeon.
Junmyeon mengusap kepalanya. Ingin dia menangis, tapi tidak bisa. Bibirnya bergetar. Ia sudah tak bisa berbohong lagi. Ia lelah. Wajah Junmyeon memerah sembari ia terus meminum sojunya. Ia mungkin sedikit mabuk, walau otaknya terus memaksa tidak akan mabuk. Baekhyun hanya menatap Junmyeon dengan tatapan kasihan. Junmyeon sudah sedikit stres akan kehidupannya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengantar Junmyeon pulang saat Junmyeon benar-benar mabuk.
Saat Junmyeon dan Baekhyun keluar dari rumah makan pinggir jalan itu, ada laki-laki berpakaian formal dan berkacamata hitam mengamati kepergian mereka berdua. Ia lalu menelepon seseorang. Ditunggunya telepon masuk dari seberang.
"Nona Sulli, aku sudah merekam percakapan mereka berdua. Saya akan mengirim rekaman itu lewat email anda," ujar laki-laki itu.
Sementara Sulli yang menerima telepon dari laki-laki tadi pun menyeringai dari atas gedung kantor Lotte Fashion lantai 2. "Akan kutunggu. Sebentar lagi, Kim Junmyeon akan merasakan malu yang sangat hebat..."
.
?
.
Junmyeon baru saja membuka mata. Ia melihat dirinya ada di kamar rumahnya. Kepalanya pusing sekali. Ia baru sadar bahwa ia masih memakai pakaian kerja. Ia kembali memejamkan matanya. Pusing sekali. Ia pasti mabuk berat.
"Kau sudah bangun, Myeon?"
Suara itu membuat Junmyeon membuka matanya kembali. Ia menoleh ke arah pemilik suara. Pemilim suara itu Kris. Kris sedang memperhatikan Junmyeon dengan menopangkan kepalanya dengan tangan. Wajahnya datar namun hangat. Seutas senyum terukir dari bibir pemuda jangkung itu sedetik kemudian. "Apa kau terlalu tertekan? Sampai mabuk begini?"
"K-kris? Sedang apa kau di rumahku?" tanya Junmyeon.
"Aku berpapasan denganmu dan temanmu di depan rumah. Lalu kuantar kau sampai ke kamar. Aku tak tega meninggalkanmu sendirian," jawab Kris seadanya.
Junmyeon berusaha mengingat kembali kejadian semalam. Memang ia minum dengan Baekhyun sepulang kerja. Ternyata ia mabuk berat. Junmyeon memijat pelipisnya. "Maaf membuatmu repot, Kris,"
"Tak perlu meminta maaf," Kris tersenyum.
Junmyeon menatap Kris, kemudia ia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Kris. Ia menempelkan kepalanya ke dada Kris. Memeluk pinggang ramping pemuda itu. Kris membalasnya dengan mengusap punggung Junmyeon.
"Kris. Apa menurutmu aku harus tetap begini?" tanya Junmyeon.
"Apa maksudmu, sayang?" tanya Kris balik.
"Menjadi Kim Suho. Menjadi perempuan. Menjadi karyawan tetap Lotte Fashion. Aku cukup lelah, Kris..." jawab Junmyeon.
"Apa kau mau kembali lagi menjadi laki-laki?"
"Tidak, Kris,"
"Lalu?"
"Bukan masalah kembali lagi menjadi laki-laki... Tapi aku takut. Aku takut ada orang yang mengetahui identitas asliku, lalu aku dikucilkan. Kau tahu akan pandangan orang-orang tentang transgender, bukan?" Junmyeon mengangkat wajahnya menatap Kris.
"Buktinya aku tidak. Aku tetap mencintaimu walau aku tahu siapa kau sebenarnya..." Kris menempelkan hidungnya ke hidung Junmyeon.
"Maafkan aku, Kris..." Junmyeon kembali memeluk erat Kris.
Tapi Kris melepas pelukan Junmyeon dan bangkit dari tempat tidur. Berjalan menuju meja kerja Junmyeon yang biasanya dipakai untuk mendesain sketsa pakaian. Ia mencari sesuatu di tumpukan kertas di meja itu. Junmyeon hanya menatap Kris dari tempat tidur. Tubuhnya terlalu lemas untuk sekedar bangkit duduk di tempat tidur. Tak lama kemudian, Kris kembali ke tempat tidur dengan membawa map berwarna merah. Junmyeon terkejut dengan apa yang dibawa Kris. Itu...
"Ijazah dan daftar pelamarmu, Myeon," Kris kembali berbaring di sebelah Junmyeon.
"B-bagaimana kau bisa..."
"Maaf.." Kris menyela Junmyeon. "Mengenai keputusanmu, kau bisa melihat kembali apa yang kau lakukan dengan ijazah dan daftar pelamar ini,"
"Aku mengganti jenis kelaminku dengan perempuan," jawab Junmyeon.
"Bawa map ini ke kantor setiap hari. Jika kau tidak ingin mengambil resiko, kau bisa mengajukan pengunduran diri ke ibuku dengan membawa ini dan berkata jujur padanya. Hanya dia yang tahu masalahmu, jadi kau bisa mengundurkan diri dengan selamat.." jelas Kris.
"Tapi.. Bagaimana kalau aku masih ingin bekerja di Lotte Fashion? Kau tahu, butuh perjuangan untuk masuk kesana Kris," sela Junmyeon.
Kris menatap Junmyeon. "Semoga saja kau masih dianggap sebagai perempuan, Myeon.."
Junmyeon membuka map itu. Ijazah kelulusannya dari universitas. Ia menatap kolom jenis kelamin di ijazah itu. Sebuah correction tape tempel bertuliskan perempuan. Correction tape itu sedikit terlepas di bagian ujungnya. Junmyeon termenung. Ada benarnya kata Kris. Ia menutup lembar map itu, kemudian menatap Kris. Kris juga menatap Junmyeon. Mereka saling bertatapan. Tatapan mereka penuh arti. Kris mengusap rambut blonde terang milik Junmyeon.
"Aku akan meminta izin ke ibuku kalau kau tidak masuk kerja hari ini," ucap Kris.
Junmyeon memeluk erat Kris.
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
Seminggu kemudian.
Junmyeon masuk kerja seperti biasa. Namun saat ia sampai di lobby, ia melihat ada kerumunan karyawan yang memadati mading kantor. Karena penasaran, Junmyeon pun mendekati kerumunan itu. Junmyeon bertanya pada salah satu karyawan. "Permisi, ada pengumuman apa di mading itu?"
"Daftar orang hilang. Tapi aku tidak mengenalnya ataupun melihatnya di kantor ini. Dia laki-laki, tapi berubah jadi perempuan.." jawab karyawan itu.
"Hah? Berubah jadi perempuan?" Junmyeon bingung.
"Tidak tahu. Di keterangan bawah foto sih begitu. Laki-laki itu mirip denganmu, Suho-ssi..." jawab karyawan itu lagi, kemudian pergi begitu saja.
Mirip dengannya? Perasaan Junmyeon tidak enak. Ia memutuskan untuk menerobos kerumunan dan mencoba melihat foto orang yang terpampang di mading kantor. Saat ia berhasil menerobis kerumunan, ia terkejut dengan foto yang ditempel di mading itu. Foto masa lalunya.
"DICARI. Kim Junmyeon. Telah hilang satu setengah tahun yang lalu. Jenis kelamin laki-laki, tapi berubah menjadi perempuan. Jika menemukan orang yang persis dengan foto di atas, segera hubungi Prof. Kim..."
Junmyeon diam. Membatu. Ada yang mengetahui siapa dia sebenarnya. Dalam hatinya, tidak mungkin kakak laki-lakinya itu melakukan ini semua walaupun baru bertemu kembali seminggu yang lalu. Junmyeon memilih kabur dari kerumunan dengan berjalan biasa, walaupun hatinya sangat kecewa. Rahasia terbesarnya perlahan terbongkar. Ia buru-buru memasuki lift dengan air mata yang hampir mengalir.
Setelah lift tertutup, Sulli berjalan melewati lift. Menyeringai menang. Kemudian ia mengambil handphonenya yang berdering. "Halo, Sehun-ah..."
"..."
"Oh? Kau tidak tahu? Kantor sedang libur sehari.."
"..."
"Aku tidak sedang di kantor. Coba kau tanya Suho, kalau kau tak percaya..."
"..."
"Model-model juga libur, pokoknya semua karyawan disini libur satu hari. Termasuk... Siapa model dari China itu? ...ah ya! Tao..."
"..."
"Baiklah.. Selamat menjalani liburanmu, Nona Oh..."
Sulli menutup teleponnya.
.
?
.
Junmyeon menatap map merah yang ia bawa. Map ijazah dan daftar pelamarnya. Ia selalu bawa map itu selama srminggu ini. Ia selalu teringat akan kata Kris. Hati dan pikirannya sedang berperang. Ia masih ingin mengabdi di kantor yang sangat ia banggakan ini. Tapi di sisi lain, dirinya terancam. Terancam dengan jati dirinya yang perlahan terbongkar. Sahabatnya, Sehun juga tidak masuk kantor, entah kenapa. Bahkan Tao pun tidak ada di kantor karena semua model Lotte Fashion libur. Kepada siapa ia akan minta pendapat dan masukan?
"Pagi, Bos!"
Panggilan itu membuyarkan lamunan Junmyeon. "Oh... Sulli-ssi?"
"Hari ini kelihatannya Bos tidak semangat. Bos sakit?"
"Tidak kok, Sulli-ssi..."
"Apa ada masalah? Kau bisa menceritakannya padaku..." Sulli ingin menarik perhatian Junmyeon.
"Tidak apa-apa, Sulli-ssi..." Junmyeon mendekap erat map merahnya. "Aku... Sedang tidak enak badan. Mungkin gejala maag..."
Sulli menempelkan kepalanya di sekat pembatas. "Kau sudah tahu mading kantor hari ini tidak, Bos?"
"Mading kantor?" Junmyeon was-was. "Orang hilang itu?"
"Iya. Kasihan ya, hilang selama hampir dua tahun. Entah dimana ia sekarang. Keluarganya pasti masih berusaha mencarinya.."
"Iya... Kasihan sekali..." Junmyeon berusaha memperlihatkan tampang kasihan.
"Ngomong-ngomong... Kenapa orang itu mirip denganmu, Bos?"
Junmyeon diam seketika. Sulli masih membulatkan matanya polos. Junmyeon menatap Sulli. "Mi-mirip denganku? Ah tidak mungkin..."
"Benar, Bos. Karyawan disini sepakat bahwa orang itu mirip denganmu..."
Junmyeon tersenyum getir. "Sudahlah tidak perlu dibahas. Itu tidak penting, Sulli-ssi.."
"Iya.. Tidak penting. Tapi boleh aku curhat sedikit, Bos?" tanya Sulli.
"Apa?"
"Kalau keterangan daftar orang hilang itu tertulis 'laki-laki yang berubah menjadi perempuan', berarti ia masih berkeliaran di luar sana. Sebagai perempuan. Kalau misalnya orang-orang tahu kalau orang hilang itu sebenarnya adalah laki-laki, bagaimana respon orang-orang?" jelas Sulli.
Junmyeon diam. Kembali membatu dengan mulut tertutup rapat. Sulli hanya tersenyum. "Tidak usah dipikirkan, Bos. Curhatanku lebih tidak penting. Baiklah aku akan kembali bekerja..."
Setelah Sulli kembali ke mejanya, Junmyeon berpikir. "Mungkin ini saatnya aku mengundurkan diri..."
.
?
.
"Apa ini, Suho-ssi?" tanya Presdir Wu.
Junmyeon terdiam. Lalu menjawabnya dengan singkat. "Surat pengunduran diri saya, Presdir,"
"Mengundurkan diri?"
Junmyeon menarik nafasnya dalam. "Maafkan saya. Saya tidak bisa berlama-lama bekerja disini..."
"Apa fasilitas disini kurang memuaskan untukmu, Suho-ssi? Atau ada karyawan yang mengganggumu?" tanya Presdir Wu.
Junmyeon tersenyum tipis. "Bukan itu. Saya senang dengan fasilitas kantor ini. Tapi... Saya sudah membohongi diri saya sendiri. Saya lebih baik meninggalkan pekerjaan saya di kantor ini dan saya bisa keluar dari kantor ini secara terhormat..."
"Tunggu. Aku tidak mengerti maksudmu, Suho-ssi.." Presdir Wu kebingungan.
"Apa.. Presdir masih punya daftar pelamar saya saat pertama kali melamar kerja?" tanya Junmyeon.
"Akan kuambilkan di ruang data. Tapi Suho-ssi..."
"Maafkan saya, Presdir," Junmyeon bangkit dari duduknya. Matanya sudah berkaca-kaca. "Anda adalah Presdir terbaik yang pernah saya temui. Saya sangat berterima kasih dengan kebaikan hati Anda. Alasan saya keluar dari Lotte Fashion adalah... Anda bisa bandingkan isi map merah itu dengan daftar pelamar saya..."
Junmyeon pergi dari ruangan Presdir. Presdir Wu masih bingung dengan semua pernyataan keluar Junmyeon. Segera ia memanggil suruhannya untuk mengambil data pelamar kerja atas nama Kim Suho. Dengan cekatan, suruhan itu telah mendapatkan apa yang diminta Presdir Wu. Ia membuka map merah dari Junmyeon. Surat pernyataan pengunduran diri. Dan dibaliknya ada ijazah dan beberapa data asli milik Junmyeon. Ada yang menarik perhatiannya. Correction tape tempel di bagian jenis kelamin. Ia membuka correction tape yang bertuliskan 'perempuan' itu dengan hati-hati. Ia terkejut dengan tulisan yang tertutup correction tape itu.
.
Laki-laki
.
Ia membandingkan ijazah itu dengan ijazah yang selama ini disimpan di kantor. Presdir Wu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Dia berbohong pada semua orang bahwa dia sebenarnya laki-laki..."
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
Junmyeon turun dari tangga penghubung lobby dan lantai 1. Semua karyawan Lotte Fashion berkumpul di sana dan menatap Junmyeon dengan tatapan menghina. Junmyeon hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Melewati kerumunan karyawan itu. Kata-kata hina keluar dari karyawan Lotte Fashion.
"Dasar pembohong,"
"Kau pikir kau cantik dengan penampilan seperti itu?"
"Laki-laki macam apa dia? Apa dia sudah gila?"
"Menjijikkan. Aku pikir dia orang yang baik. Ternyata derajatnya sama dengan pelacur.."
Junmyeon berjalan cepat menghindari kerumunan karyawan yang menghinanya. Perkiraannya salah. Ia terlambat. Semua orang tahu akan jati dirinya yang sebenarnya. Tapi saat ia akan hampir sampai pintu keluar, ia terhalang oleh seseorang.
"Eh? Bos?"
Suara itu. Sulli.
"Su-sulli..."
"Bos kenapa? Kenapa acak-acakan begitu?"
"Jangan panggil aku Bos lagi, Sulli-ssi. Aku bukan atasanmu lagi," jelas Junmyeon.
Sulli menyeringai tipis. Tapi ia tetap berakting. "B-bos ... Kenapa?"
"Maaf, Sulli-ssi. Aku harus segera pergi dari sini," Junmyeon ingin pergi dari Sulli.
Namun ada satu karyawan kantor Lotte Fashion yang berseru. "Hey, Sulli-ssi? Bukankah semua ini idemu? Lihat! Si transgender itusudah pergi..."
Junmyeon berhenti berjalan tepat setelah karyawan laki-laki itu selesai bicara. Ia menoleh ke belakang, ke arah Sulli yang membelakanginya. Jadi... Poster orang hilang itu...
"Sulli.. Kau.."
"Bagaimana? Kau suka dengan ini semua?"
Junmyeon hanya membulatkan matanya tak percaya. "Kenapa..."
"Ini adalah balas dendamku. Kau sudah mengambil jabatanku sebagai captain desainer Lotte Fashion! Ini adalah balasan yang sesuai dengan semua yang telah kau lakukan..." Sulli melipat kedua tangannya di dada.
Junmyeon hanya diam. Hanya mengatakan satu kalimat. "Terima kasih..."
"Apa? Terima kasih?" Sulli terkekeh.
"Terima kasih sudah berusaha menyingkirkanku," Kemudian Junmyeon pergi dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Sulli tersenyum. "Sama-sama..."
Junmyeon keluar gedung itu. Di luar sudah ada Kris yang menunggunya. "Myeon... Kenapa kau pulang cepat?"
Saat Kris berusaha merangkul Junmyeon, Junmyeon sudah menepis tangan Kris. "Jangan dekati aku..."
"Myeon? Ada apa denganmu?"
"Kenapa kau mencintai manusia hina sepertiku?"
"Myeon.. K-kau..."
"AKU MANUSIA HINA, KRIS! APA KAU SUDI DENGAN PEREMPUAN HINA SEPERTIKU? AKU TAK PANTAS DENGAN SEMUANYA... SILAHKAN MENJAUH DARIKU KARENA AKU LAKI-LAKI..."
Setelah Junmyeon membentak pada Kris, ia langsung pergi begitu saja dari Kris. Kris membatu di tempat. Masalah besar telah menimpa Junmyeon. Rahasia besar Junmyeon telah terbongkar di kantor. Kris menatap salah satu karyawan di lobby kantor.
.
Sulli
.
"Dia pasti dalang dari semua ini.."
.
?
.
Junmyeon berjalan menuju rumahnya sambil menangis keras. Tepat di depan pagar rumahnya, Luhan dan Xiumin menunggunya. Xiumin yang pertama menyadari kedatangan Junmyeon. Xiumin merasa ada yang janggal dari penampilan Junmyeon. Acak-acakan. Rambut blondenya terurai bebas menutupi wajahnya.
Saat Junmyeon mendekat ke arah mereka, Xiumin yang pertama menyambutnya. "Myeon? Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?"
Junmyeon kembali menangis keras. Ia memeluk Xiumin dengan erat. Menangis di sana. "Min unnie... Min unnie..."
"Hey.. Hey. Ada apa denganmu? Apa pria China itu menyakitimu?"
Junmyeon menggeleng. "Hancur sudah semua jalan impianku, Unnie..."
"Myeon.." Luhan mendekati dua perempuan itu. "Tenangkan dirimu. Lalu kau bisa cerita pada kami. Ayo, mampir ke rumah kami dulu..."
"Hiks hiks hiks... Aku mau pulang saja.. Aku pusing, aku tertekan, Lu.."
"Iya tapi tidak bisa cerita disini, Myeon. Kau tahu? Kau perempuan yang kuat, Myeon.."
Junmyeon berhenti menangis. Melepas pelukannya dari Xiumin dan menatap tajam ke arah Luhan. "Lu... Kau masih menganggapku perempuan? Sementara mereka semua telah menghinaku! Semuanya hancur, Lu.. Hancur..."
"Mereka?" Xiumin mencerna kata-kata Junmyeon. "Oh tidak. Identitas asli Junmyeon terungkap..."
Junmyeon melangkah menjauh dari kakak-beradik itu dan masuk ke rumahnya. Pagar dan pintu utama rumahnya dikunci rapat setelah ia memasukinya. Xiumin dan Luhan berusaha masuk ke rumah Junmyeon. Bahkan Luhan sempat berpikir untuk memanjat pagar. Namun percuma karena ujung atas pagar rumah Junmyeon sangat tajam.
"Myeon.. Myeon buka pintunya.. Kita bisa menceritakannya secara baik-baik..." Xiumin berteriak.
"Pergi!" Junmyeon membalas teriakan Xiumin.
Luhan menenangkan Xiumin. Mengelus punggung adiknya itu. "Dia sedang tertekan. Biarkan dia menenangkan diri dulu..."
Xiumin mengangguk mengerti. Tak lama, dua orang laki-laki dan perempuan berjalan menuju rumah Junmyeon. Mereka berpapasan dengan Xiumin dan Luhan. Xiumin dan Luhan terkejut akan kedatangan dua orang ini. Mereka berdua memakai baju bebas. Sehun dan Tao.
"Xiumin unnie.. Lama tak jumpa," sapa Sehun.
Xiumin menatap tajam ke arah Sehun. "Jangan basa-basi kau Sehun.."
Sehun membulatkan matanya. "A-apa maksudmu, Unnie?"
"Jangan pura-pura baik padaku. Kau sudah menyakiti Junmyeon!"
"Pura-pura? Menyakiti Junmyeon?" Sehun menatap Tao, memberi isyarat apakah Tao tahu masalah yang dibicarakan Xiumin. Tao menaikkan bahunya.
"Jangan pura-pura tidak tahu kalian! Kalian sengaja membuat Junmyeon, atau yang kalian sebut Suho itu keluar dari Lotte Fashion, kan?" Kemarahan Xiumin meledak.
"Lho... Suho nuna kenapa? Bukankah hari ini kantor libur?" Tao bertanya dengan polosnya. "Sehun bilang satu hari ini kantor libur. Semua karyawan libur sehari. Tapi... Kenapa Suho nuna bisa keluar dari Lotte Fashion?"
Luhan sudah merasa bahwa Sehun dan Tao memang tidak tahu apa-apa. Luhan kembali menenangkan Xiumin. "Min.. Sudahlah. Mereka memang tidak tahu apa-apa soal ini. Mereka juga tidak memakai seragam kantor..."
"A-ada apa ini sebenarnya?" tanya Sehun penasaran.
Luhan menatap Sehun. "Kita bisa bicara ini semua di rumahku..."
.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
Tinggal dua chapter lagi~! Atau sekalian bikin satu chapter ya? Kalian boleh milih. Sad ending atau happy ending.
Sebelumnya Ira minta maaf atas keterlambatan update FF ini yang sudah berminggu-minggu lebih. Jadwal sekolah Ira padat banget! Kadang sabtu minggu aja dibuat ngerjain PR, waktu istirahat hampir gak ada. Nulis ini aja nyuri-nyuri waktu. Jadi maafkan Ira yang terlambat update FF ini.
Untuk chapter depan, juga telat ya. Ira mau selesain project FF oneshoot Ira. Rencananya mau post di blog pribadi Ira, terus kalau ada waktu mau Ira kirim ke salah satu majalah. Bukan FF yaoi kok, kalo FF yaoi mah Ira bakalan diprotes sama orang banyak wkwkwkwk..
Maaf Ira gak sempet balesin review kalian karena Ira sedang ngejar waktu deadline. Terima kasih selalu menunggu perkembangan FF Eyes, Nose, Lips..
.
.
Salam xoxo
