Title : Song For Unbroken Soul

Main Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Other cast...

Author : Oh Hani

Rate : M

Warning : Genderswitch, DLDR, NO BASH ! REVIEW juseyooo !

Disclaimer : REMAKE Novel karya Nureesh Vhalega yang judulnya 'Song For Unbroken Soul'. Hanya mengganti cast sesuai couple favorit. Dan ini bukan FFN milik saya pribadi. Hanya numpang dan ngehidupin FFN ini karena pemilik aslinya sedang HIATUS.

.

.

.

*Happy Reading*

.

.

.

BE FANS GOOD


Dendam

New York City, Februari 2015

"Aku tidak percaya kau benar-benar melakukan tiga puluh jam perjalanan udara hanya untuk sebuah makan malam bersama keluargaku." ucap Kyungsoo ketika mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan rumahnya.

Jongin hanya tersenyum, lalu berbicara pada sopirnya, "Kau bisa pulang. Aku akan menghubungimu besok." Kyungsoo dan Jongin melangkah keluar dari mobil, kemudian melangkah menuju pintu di mana orangtua Kyungsoo telah menunggu.

Jongin memperkenalkan dirinya dengan sopan dan Kyungsoo berani bersumpah kedua orangtuanya membelalakkan mata bersamaan ketika mendengar marga Jongin. Lalu mereka dipersilakan untuk beristirahat dan akan dipanggil untuk makan malam pukul tujuh nanti.

Kyungsoo melangkah memasuki kamarnya. Tak ada yang berubah sejak saat terakhir ia tinggal di sini. Kyungsoo tidak percaya sudah hampir tujuh tahun waktu berlalu. Suara pintu yang terbuka lalu tertutup menyentak Kyungsoo. Ketika berbalik dan menemukan Jongin yang berada di belakangnya, Kyungsoo tersenyum.

"Aku rasa ini saatnya untuk mengintip rahasia yang kau simpan di kamarmu." goda Jongin seraya memeluk pinggang Kyungsoo.

"Aku tidak memiliki rahasia di kamar ini." sahut Kyungsoo. Karena aku menyimpannya di dalam diriku, lanjut Kyungsoo dalam hati. Jongin menunduk untuk mencium bibir Kyungsoo, lalu menarik diri ketika ciuman mereka dengan cepat berubah menjadi menuntut.

"Kita harus bersiap sekarang, Sayang. Aku harus tampil rapi untuk keluargamu." ucap Jongin.

"Kau sudah sempurna. Lagi pula kita bisa melakukan beberapa selingan dalam kegiatan bersiap yang membosankan itu." Balas Kyungsoo. Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo ke dalam gendongannya, lalu beranjak memasuki kamar mandi. Kyungsoo membekap mulutnya yang mengeluarkan derai tawa.

"Baiklah, Tuan Kim. Kau memiliki shower dan bak mandi yang besar di sini. Aku memberimu satu kesempatan, kau harus memilih salah satunya." ucap Kyungsoo dengan ekspresi tegas di wajahnya.

Jongin berpura-pura berpikir selama sesaat. Lalu ia menghampiri bak mandi dan menyalakan keran airnya. Setelah itu Jongin menarik Kyungsoo ke bawah shower, menyalakan airnya masih dengan pakaian lengkap.

"Jonginnie!" protes Kyungsoo. Jongin menelan sisa protes Kyungsoo dalam mulutnya. Bibirnya tak memberi Kyungsoo kesempatan untuk berpikir lagi, sementara tangannya bergerak cepat membuka pakaian Kyungsoo. Dalam waktu singkat mereka berdua berdiri berpelukan tanpa penghalang apa pun. Kyungsoo melingkarkan kakinya di pinggang Jongin dan melarikan tangannya untuk meremas rambut Jongin. Meningkatkan tempo gerakan demi kenikmatan yang kini terpusat pada tubuh mereka yang menyatu. Tak lama kemudian erangan Kyungsoo terdengar disusul puncak kepuasan untuk mereka berdua. Jongin menurunkan Kyungsoo perlahan, lalu mencium lembut bibirnya.

"Kau siap untuk babak selanjutnya?" goda Jongin serak. Kyungsoo tertawa, lalu menarik Jongin masuk bersamanya ke dalam bak mandi.

"Aku siap kapan pun jagoanmu siap." balas Kyungsoo.

"Itu berarti selalu." sahut Jongin seraya mengedipkan sebelah matanya. Pukul tujuh Kyungsoo dan Jongin turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Orangtua Kyungsoo datang tak lama kemudian dan mereka mulai makan dengan keheningan. Setelah beberapa saat, ayah Kyungsoo—Wu Joonmyeon—menyuarakan pertanyaan tentang pekerjaan Jongin.

Obrolan itu terus mengalir dan perlahan rasa khawatir Kyungsoo sirna. Jongin dapat menyesuaikan diri, membuat orangtua Kyungsoo merasa nyaman dengannya, hingga percakapan itu semakin lama terasa semakin akrab. Hampir seperti orang yang telah saling mengenal selama bertahun-tahun.

Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah. Kyungsoo duduk meringkuk di sisi ayahnya, sementara Jongin duduk di seberangnya. Mereka sedang menertawakan wajah Kyungsoo yang mudah memerah ketika Im Yixing masuk dengan tangan membawa setumpuk album foto. Serta merta Kyungsoo menegakkan tubuhnya. Ia berpindah ke sisi Jongin sementara Yixing duduk di tempat Kyungsoo sebelumnya.

"Ini adalah foto-foto Kyungsoo sejak kecil. Karena kau adalah pria pertama yang berhasil mencuri hati Kyungsoo, aku rasa kau berhak melihatnya." ucap Yixing. Jongin menerima album foto yang diulurkan Yixing. Sebesar keinginan Jongin untuk melihatnya, sebesar itu pula Jongin menyadari ketegangan yang berasal dari gadis di sisinya. Jongin melayangkan pandangan bertanya pada Kyungsoo. Ketika akhirnya Kyungsoo mengangguk, barulah Jongin membukanya. Halaman demi halaman itu mampu membuat senyum Jongin mengembang. Berbagai pose sederhana Kyungsoo terlihat manis dan semakin memancarkan kecantikannya. Satu hal yang menarik perhatian Jongin adalah hadirnya sosok anak laki-laki yang menjelma menjadi pria dewasa beriringan dengan pertumbuhan Kyungsoo. Mereka berdua ada hampir di setiap foto. Menampilkan wajah penuh senyum juga mata berbinar bahagia. Jongin tahu tanpa ragu, pria itu adalah saudara laki-laki Kyungsoo.

Namun mengapa Kyungsoo tidak pernah mengatakannya? Yixing mendesah dengan tangan terpaut, "Kyungsoo pasti pernah memberi tahu tentang almarhum kakaknya, bukan? Hampir tujuh tahun sejak kepergiannya. Hal itu masih terasa berat untuk kami. Bahkan hingga hari ini." Jongin hanya mampu menampilkan senyum prihatin. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Kyungsoo sama sekali tidak pernah menyebut soal kakak laki-laki.

Ketika malam semakin larut, akhirnya Kyungsoo dan Jongin kembali naik ke lantai atas. Jongin mengantar Kyungsoo hingga pintu kamarnya, lalu mulai melangkah menuju kamar tamu.

Kyungsoo menahan tangan Jongin, membisikkan satu kata. "Maaf." Jongin menyentuh kedua sisi wajah Kyungsoo, kemudian mengecup keningnya.

"Aku tidak akan memaksamu. Kau bisa mengatakannya nanti setelah kau siap. Sekarang pergilah tidur. Jangan lupa mimpikan aku." balas Jongin lembut.

Kyungsoo mengangguk, lalu masuk ke dalam kamarnya. Begitu menutup pintu, Kyungsoo menekan tangannya tepat ke tempat di mana jantungnya berdetak cepat.

###

"Aku pikir kita akan ke Central Park." ucap Kyungsoo seraya menatap Jongin yang duduk di belakang kemudi. Jongin tersenyum seraya melirik Kyungsoo. Sekali lagi mengagumi rambut hitamnya yang tergerai sempurna, juga gaun musim seminya yang berwarna peach. Jongin memutuskan untuk membiarkan Kyungsoo bertanya-tanya sedikit lebih lama.

Dua puluh menit kemudian, Kyungsoo tahu ke mana Jongin membawanya. Rumah keluarga Kim. Rumah itu sangat besar, dengan pilar-pilar yang menjulang juga halaman dengan air mancur. Garasi mobilnya pun terisi oleh setidaknya enam mobil dan semuanya tergolong mobil mewah. Bahkan Adrienne melihat sebuah Porche berwarna putih yang ia tahu hanya dibuat sebanyak duapuluh unit di dunia.

Jongin menggenggam tangan Kyungsoo, melirik sekilas arah pandangan Kyungsoo, lalu melanjutkan langkah untuk membawanya menuju halaman belakang. Halaman itu memiliki satu pohon besar di sudut kanannya, sementara sekelilingnya dipenuhi bunga beraneka warna.

Jongin sudah mengatur perlengkapan piknik mereka dan hari ini, ia akan menghabiskan harinya hanya dengan memandangi Kyungsoo di bawah cahaya mentari. Setelah mereka duduk di atas selimut yang nyaman, Jongin mengeluarkan jus jeruk dari keranjang piknik dan memberikannya pada Kyungsoo.

"Baiklah, Tuan Sempurna. Kencan ini benar-benar menyenangkan. Seperti biasa, kau berhasil membuatku bahagia." ucap Kyungsoo dengan senyum manis. Jongin mencondongkan tubuhnya, lalu mencium Kyungsoo. Mereka melewatkan siang dengan saling menyuapkan makanan, bahkan berlomba untuk makan roti isi sebanyak-banyaknya. Tentu saja pemenangnya adalah Jongin. Setelah itu Kyungsoo membaringkan kepalanya di atas perut Jongin sementara Jongin memainkan rambut Kyungsoo.

"Porche itu hadiah ulang tahunku tahun lalu. Appa bersikeras aku harus memilikinya. Jika kau mau, kita bisa menggunakan mobil itu untuk perjalanan menuju bandara nanti." ujar Jongin ringan.

"Tidak. Aku ingin sopirmu yang menyetir sementara kau duduk di kursi penumpang bersamaku dan aku memiliki akses untuk menyentuhmu kapan pun aku mau. Aku hanya kagum. Kau tahu, aku belum pernah bertemu pria sepertimu. Apa yang sebenarnya membuatmu begitu membumi? Terkadang aku bahkan lupa bahwa kau adalah anggota keluarga Kim." sahut Kyungsoo.

"Aku lebih suka kau melupakannya. Aku hanya ingin menjadi Jongin bagimu." Balas Jongin.

Kyungsoo tersenyum, kemudian bertanya, "Apakah kau tumbuh besar di rumah ini?"

"Ya. Bahkan setelah menjadi pianis aku masih sering pulang ke rumah ini. Yeri juga. Namun setelah kepergian Appa, kami memutuskan untuk meninggalkan rumah. Terlalu banyak kenangan. Meskipun tidak memiliki Eomma, kami memiliki masa kecil yang sangat indah di rumah ini. Appa memastikan bahwa kami memilikinya." jawab Jongin dengan nada menerawang.

Kyungsoo terdiam. Pikirannya berlari pada keluarganya. Kyungsoo juga memiliki kenangan. Terlalu banyak. Namun setidaknya ia masih bisa menemui kedua orangtuanya. Kini Kyungsoo benar-benar mengerti mengapa Jongin begitu bahagia ketika Kyungsoo mengatakan bahwa Jongin diundang makan malam bersama keluarganya. Jongin merindukan keluarga yang utuh.

Kyungsoo beringsut memeluk Jongin. Ia meletakkan kepalanya di atas jantung Jongin dan menghela napas. Kyungsoo kini tahu tanpa ragu, Jongin adalah bagian terpenting darinya. Jongin menarik jiwa Kyungsoo menuju cahaya. Merekatkan setiap serpihan hatinya hingga mengukirkan nama Jongin. Kyungsoo mencintai Jongin dan Kyungsoo akan mengakuinya. Berikut rahasia kelam yang disimpannya.


.

.

*Oh Hani*

.

.


Seoul, Februari 2015

Kyungsoo melangkah memasuki kantornya dengan senyum ceria. Meski masih merasa sedikit lelah karena perjalanan yang panjang, Kyungsoo tidak bisa meredakan rasa semangatnya. Kyungsoo menyapa Minseok yang pagi ini terlihat gusar, lalu masuk ke ruangannya. Begitu melihat kotak kado cantik dengan pita hitam yang berada di atas meja kerjanya, senyum Kyungsoo musnah.

"Aku ingin membuangnya, namun kaulah yang berhak melakukannya. Apa yang ingin kau lakukan, Kyungie?" Tanya Minseok cemas. Kyungsoo menghampiri kotak itu, lalu menarik pitanya. Kyungsoo tidak yakin mengapa ia melakukannya, hanya saja Kyungsoo merasa ia harus melihat isinya. Perlahan, dengan jantung yang berdebar keras hingga terasa mematahkan rusuknya, Kyungsoo membuka penutup kotaknya.

Bukan jeritan yang Kyungsoo dengar, namun napas tercekat yang menyakitkan. Suara yang dihasilkan oleh dirinya sendiri. Kyungsoo berusaha mencari pegangan, namun tubuhnya tak lagi mampu berdiri. Kyungsoo jatuh terduduk dengan napas memburu. Karena isi dari kotak itu adalah sebuah boneka bayi yang bermandikan darah. Entah berapa lama Kyungsoo terkurung dalam rasa syoknya.

Ketika sadar, Kyungsoo segera meraih ponsel dan menghubungi Jongin. Siapa pun orang yang menerornya, pasti mengetahui rahasia kelamnya. Kyungsoo harus segera mengatakan rahasia itu pada Jongin, sebelum orang lain mendahuluinya.

Ketika tak juga mendapat jawaban, Kyungsoo bangkit berdiri dan bergegas keluar dari ruangannya. "Eonni, aku harus menemui Jongin." Ucap Kyungsoo. Minseok hanya mengangguk, lalu mulai membereskan meja Kyungsoo dan menyingkirkan kotak itu.

Kyungsoo membawa mobilnya membelah jalan ibukota yang padat. Satu jam kemudian Kyungsoo sampai di kantor Jongin. Ini adalah pertama kalinya Kyungsoo datang ke kantor Jongin. Ia menghampiri resepsionis, lalu berkata, "Aku ingin bertemu dengan Kim Jongin."

Resepsionis itu menatapnya dengan ekspresi meremehkan, membuat Kyungsoo dengan tidak sabar mengatakan, "Katakan padanya Do Kyungsoo datang."

Resepsionis itu terbelalak, lalu segera menampilkan senyum terbaik dan memandu Kyungsoo menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat ruangan Jongin berada.

Begitu pintu lift terbuka, Kyungsoo segera melangkah menuju pintu ganda di hadapannya. Meja yang seharusnya diisi oleh sekertaris Jongin kosong. Sejujurnya Kyungsoo pun belum pernah bertemu dengannya, hanya pernah mendengar bahwa namanya adalah Jessica melalui percakapan telepon Jongin.

Kyungsoo mendorong salah satu pintu itu, kemudian melangkah masuk dan menemukan pemandangan yang membuatnya membeku dalam rasa tidak percaya. Seorang wanita berambut pirang tanpa busana sedang mempraktikan sesuatu yang mungkin terlihat seperti tarian erotis, sementara Jongin berdiri di hadapannya. Kyungsoo tidak tahu bagaimana seharusnya ia bereaksi, namun rasa sesak yang menekan dadanya tidak tertahankan. Kyungsoo melihat mulut Jongin membentuk namanya, membuat si rambut pirang menoleh kepadanya.

Saat itu juga Kyungsoo terserang rasa sakit yang berkali lipat. Karena wanita itu adalah Jessica Jung. Wanita yang menghancurkan hidupnya. Kyungsoo langsung membalikkan tubuh dan berlari memasuki lift. Tangannya meninju tombol lift sementara isakannya semakin tak terkendali. Jongin meneriakkan namanya, namun terlambat karena pintu lift sudah tertutup dan membawa Kyungsoo pergi.

Jongin meremas rambutnya dengan kesal. Suara langkah kaki di belakangnya mengembalikan kesadaran Jongin bahwa orang yang telah merusak hubungannya dengan Kyungsoo masih berada di dekatnya. Jongin berbalik, lalu dengan nada tak terbantahkan ia berkata, "Kau dipecat, Jessica Jung-ssi. Cepat kemasi barangmu hari ini juga. Aku tidak sudi melihatmu lagi." Setelah itu Jongin berbalik dan pergi dengan menggunakan tangga darurat. Ia harus mengejar Kyungsoo. Meski itu artinya ia akan menuruni dua puluh lantai dengan ratusan anak tangga.

###

Jessica mengenakan pakaiannya kembali dengan wajah menahan amarah. Ia membereskan barang-barangnya secara asal, lalu meninggalkan kantor dengan diiringi tatapan penuh tanya pegawai lainnya. Begitu masuk ke dalam mobilnya, Jessica berteriak. Rencananya berantakan. Benar-benar berantakan. Kim Jongin tetap tidak tertarik padanya. Bahkan setelah ia melepas seluruh pakaiannya di hadapan pria itu! Dengan geram Jessica mengontak sebuah nama di panggilan terakhir ponselnya.

"Rencanaku berantakan! Kyungsoo datang dan kini Jongin memecatku!" jerit Jessica geram. Suara di ujung teleponnya justru menyenandungkan tawa.

"Tenang saja, Jess. Kita baru mulai. Sekarang adalah saatnya untuk mempersiapkan rencana selanjutnya. Kau hanya harus bersabar dan mengikuti instruksiku. Setelah mengetahui semuanya, Jongin akan datang padamu dan aku akan mendapatkan Kyungsoo. Kau paham?" ucapnya tenang.

Jessica mencengkram ponselnya erat-erat, lalu membalas, "Rencana itu harus berhasil, Ravi-ssi. Atau aku akan membunuh Do Kyungsoo dengan tanganku sendiri dan kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi."


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Rahasia

Kyungsoo menghapus air matanya yang masih saja bisa mengalir setelah dua hari berlalu. Tubuhnya meringkuk bagai janin di atas tempat tidur, sementara Minseok yang menemaninya hanya bisa mendesah.

"Setidaknya kau harus mendengarkan penjelasannya, Kyungie. Aku yakin Jongin tidak bersalah. Yang kau lihat itu tidak seperti yang kau bayangkan. Kau tahu seperti apa Jessica? Murahan. Kau juga tahu Jongin terlalu memujamu hingga mustahil mampu melirik wanita lain." Ucap Minseok entah untuk berapa ratus kali dalam dua hari terakhir.

Namun Kyungsoo tetap tidak menggubrisnya. Suara bel yang berbunyi kembali membuat Minseok mendesah. Pasalnya, ia sudah hampir lelah melihat wajah tersiksa Jongin yang pastinya berdiri di balik pintu untuk meminta maaf pada Kyungsoo. Namun begitu membuka pintu, Minseok tidak melihat siapa pun. Hanya ada sebuah amplop. Minseok mengambil amplop itu, lalu menutup pintu dan kembali ke kamar Kyungsoo. "Seseorang memberimu surat. Namun tidak tertulis apa pun di bagian depannya." ucap Minseok.

Kyungsoo segera bangkit untuk duduk dan mengambil surat itu dari Minseok. Surat ini pasti datang dari orang yang menerornya. Melihat tipisnya amplop itu, Kyungsoo yakin isinya tidak akan berhubungan dengan darah. Maka Kyungsoo membukanya. Dan teror ini adalah puncaknya. Karena isi amplop itu merupakan salinan dari jurnal milik Kris. Jurnal terakhir yang ditulisnya sebelum membunuh dirinya. Jurnal yang berisikan penyesalan Kris atas segala hal yang terjadi. Jurnal yang menjadi saksi bisu seluruh rahasia kelam Kyungsoo.

"Kyungie, ada sesuatu di bagian belakangnya." ucap Minseok. Kyungsoo membalik kertasnya, menemukan sebuah tulisan tangan yang menuliskan: Kekasihmu mendapatkan salinan yang sama. Semoga beruntung. "Jongin, Jonginnie mendapatkan salinanannya, eonni. Jongin sudah mengetahuinya. Apa yang harus kulakukan?" bisik Kyungsoo dengan suara bergetar.

"Kyungie, kau harus menenangkan dirimu." sahut Minseok lembut. Namun Kyungsoo tidak sempat melakukannya karena bel apartemennya kembali berbunyi. Kali ini Kyungsoo ikut melangkah menuju pintu bersama Minseok. Ketika melihat bahwa orang yang berada di baliknya adalah Jongin, dengan sebuah kertas serupa dengan yang ada di tangan Kyungsoo, Kyungsoo berdiri mematung seutuhnya.

###

Jongin menatap Kyungsoo yang duduk di hadapannya. Membeku bak patung sungguhan. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Suara terakhir yang terdengar di apartemen itu adalah permintaan Kyungsoo pada Minseok untuk meninggalkannya. Meski berat, akhirnya Minseok pun pergi. Menyisakan Kyungsoo dan Jongin yang terbalut dalam keheningan selama kurang-lebih setengah jam lamanya. Jongin tidak akan memaksa. Ia akan menunggu hingga Kyungsoo bersuara. Berapa lama pun waktu yang dibutuhkan.

Sepuluh menit kemudian, akhirnya Kyungsoo membuka suara. "Aku tidak akan pernah siap, Jonginnie. Namun aku akan mengatakannya sekarang. Karena aku tahu kau berhak mengetahuinya. Kau berhak mengetahui rahasiaku." Kyungsoo menghela napas. Ini dia. Inilah saatnya. Kyungsoo harus mengakuinya, juga menghadapi risikonya. Kyungsoo harus melakukannya.

"Namanya Wu Kris." ucap Kyungsoo lirih. Rasa sakit menyebar cepat dari dadanya menuju setiap bagian dari dirinya.

Namun Kyungsoo tetap melanjutkan, "Ia adalah kakak tiriku. Aku bertemu dengannya sejak awal Appa berkencan dengan Eomma. Saat itu umurku tiga tahun. Dengan cepat ia menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku selalu ingin memiliki seorang kakak laki-laki, sehingga ketika akhirnya Eomma menikah dengan Appa, kami menjadi tak terpisahkan. Ia menjadi apa pun yang kubutuhkan. Ia menyayangiku lebih dari hidupnya." Jongin menatap wajah Kyungsoo lekat, memutuskan untuk tetap diam.

"Kala itu hidupku begitu sempurna. Aku memiliki Appa yang sangat menyayangiku, Eomma yang sangat memanjakanku, juga seorang kakak yang bisa menjadi apa pun untukku. Aku tak pernah takut pada apa pun, karena hidupku begitu utuh. Begitu bahagia. Aku tidak bisa membayangkan hidup lain yang mampu menandingi hidupku. Setiap hari, aku bernapas dengan keyakinan penuh bahwa semua itu abadi. Aku bahkan tidak pernah memiliki cita-cita pasti, karena segala yang kuinginkan telah kumiliki." Ujar Kyungsoo dengan senyum sendu.

"Kejadian itu terjadi tujuh tahun yang lalu. Appa dan Eomma sedang berlibur. Aku sibuk mengurus segala keperluanku untuk kuliah. Sementara Kris oppa seperti biasa, sibuk mengurus proyek filmnya. Aku tahu kondisinya sedang tidak baik karena wanita yang dicintainya berselingkuh. Kau mengenal wanita itu sebagai Jessica. Suatu malam Kris oppa pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ia salah mengenaliku sebagai Jessica karena secara fisik, aku mirip dengannya." lanjut Kyungsoo dengan nada bergetar. Selama sesaat Kyungsoo memejamkan mata. Kedua tangannya di pangkuan saling meremas kuat. Kenangan itu berkelebat cepat dalam benaknya, menggoreskan kembali sayatan demi sayatan yang tetap terasa menyakitkan. Ini adalah bagian terburuk.

"Kris oppa menodaiku. Aku tidak bisa memandang dunia dengan cara yang sama. Segalanya berubah. Setelah itu aku mengalami stress berat hingga depresi. Seakan semua itu belum cukup buruk, aku hamil."

Kyungsoo membiarkan setetes air mata menuruni wajahnya, lalu berkata, "Aku tahu ia melakukan itu di luar kesadarannya, namun aku tetap tak bisa memaafkannya. Suatu siang kami bertengkar hebat dan aku mengatakan hal-hal buruk. Aku berkata bahwa aku ingin ia pergi dari hidupku. Aku melupakan kenyataan bahwa Kris oppa selalu mengabulkan keinginanku. Karena tak lama setelahnya, Kris oppa meninggal. Ia membunuh dirinya sendiri. Di atas semua itu, yang paling menyakitiku adalah pilihannya untuk mengakhiri hidup. Karena ia, orang yang paling kupercayai, orang yang selalu melindungiku, orang yang mengajarkanku segalanya tentang hidup, memilih untuk meninggalkanku setelah menyakitiku dengan cara paling kejam yang mungkin bisa dilakukannya."

"Dan aku memutuskan untuk menggugurkan kandunganku. Aku tidak bisa membiarkan diriku melahirkan bayi itu. Bayi yang menjadi pengingat segala hal buruk. Namun aku menyesal. Akulah yang menjadi begitu buruk. Aku membunuh darah dagingku sendiri. Sejak awal, aku yang menghancurkan hidupku, bukan Kris oppa. Kenyataan itu datang begitu terlambat. Amat terlambat karena semuanya sudah terjadi dan waktu tidak bisa terulang kembali. Karena itu aku memutuskan untuk menjauh dari segala hal yang membuatku bahagia; aku tidak berhak merasakannya lagi." lanjut dengan bisikan yang sarat akan luka.

Tanpa berpikir dua kali, Jongin melangkah mendekat dan memeluk Kyungsoo erat-erat. Membiarkan gadis itu tersedu-sedu begitu hebat dalam pelukannya. Merasakan isak tangis Kyungsoo menjadi perekat untuk luka yang menganga. Seandainya saja Jongin bisa mengambil alih rasa sakit itu, biarlah Jongin yang menanggungnya. Jongin tidak sanggup bahkan untuk sekadar membayangkan bahwa selama ini Kyungsoo telah hidup dalam bayang gelap yang selalu menghantuinya. Lama mereka terdiam sementara tangis Kyungsoo mulai mereda.

Setelah menghapus jejak-jejak air mata dari wajah cantik Kyungsoo, Jongin berkata, "Apa yang kau lihat di kantorku waktu itu adalah sebuah kesalahan. Aku baru saja sampai di sana ketika melihat wanita itu, yah…, melakukan apa yang ia lakukan. Aku baru akan mengusirnya ketika kau datang dan melihat semuanya. Maafkan aku karena terlambat untuk melakukannya. Maafkan aku." Jongin menarik napas, menatap Kyungsoo tepat di kedua mata cokelat terangnya.

Bersiap untuk pengakuannya. "Aku mencintaimu, Do Kyungsoo." ucap Jongin sungguh-sungguh. Kyungsoo kembali larut dalam tangisnya. Tak menyangka pengakuan manis itu justru datang setelah pengakuan kelamnya.

"Kau berhak untuk bahagia, Do Kyungsoo. Dan aku akan memastikannya. Kau akan bahagia kembali." janji Jongin. Kyungsoo memeluk Jongin dengan sepenuh hatinya. Membiarkan rasa lega menggantikan beban yang selama ini memberati dirinya.

Perlahan, dengan bisikan selirih angin, Kyungsoo membalas, "Aku juga mencintaimu, Kim Jongin. Aku mencintaimu."

###

Hari belum menyentuh pagi ketika lagi-lagi bel apartemen Kyungsoo berbunyi. Kyungsoo terbangun, tersenyum geli ketika menyadari bahwa ia dan Jongin tertidur di atas sofa sambil berpelukan. Kyungsoo mengecup pipi Jongin, lalu melangkah untuk membuka pintu.

Betapa terkejut Kyungsoo ketika menemukan ibunya berdiri di hadapannya. "Kyungie, aku harus berbicara denganmu." ucap Yixing. Kyungsoo tidak sempat menyadari keanehan ibunya karena Jongin sudah berada di sisinya dan menyapa ibunya.

Lalu ibunya berkata, "Jika kau tidak keberatan, aku harus berbicara dengan Kyungsoo. Kami akan pergi sarapan bersama."

"Tentu. Aku akan menunggu kalian di sini." balas Jongin. Kyungsoo segera masuk ke kamarnya untuk mencuci muka dan berganti baju. Setelah itu ia kembali menghampiri ibunya yang masih berdiri di depan apartemennya. Kyungsoo menyentuh tangan Jongin, lalu mengikuti langkah ibunya.

Ketika melihat sedan berwarna hitam di tempat parkir, Kyungsoo mengerutkan kening. Namun ia tidak membantah ketika ibunya memintanya untuk masuk. Hari ini ibunya nampak berbeda. Sedikit aneh, mungkin. Terlihat pucat, tidak fokus, dan sangat diam. "Aku menginap di rumah Jessica sejak dua hari yang lalu." ucap Yixing memecah keheningan. Kyungsoo merasa petir menyambarnya. Apa? Mengapa? Bagaimana? Pertanyaan datang silih berganti di benaknya, namun tak ada satu pun penjelasan logis yang bisa menjelaskan seluruh pertanyaan itu. Kecuali seseorang merencakan semuanya. Kini rasa khawatir Kyungsoo semakin menjadi.

Kyungsoo meminta ibunya untuk menepi, lalu bertanya, "Apakah terjadi sesuatu?" Yixing menurunkan tangannya dari kemudi. Ia menatap anak gadisnya yang merupakan replika dirinya dalam versi lebih muda dengan tatapan nanar.

Ketika akhirnya mampu membuka suara, Yixing berkata, "Jessica memintaku datang ke Seoul dengan membawa jurnal Kris. Pada awalnya aku bingung, namun Jessica meyakinkanku bahwa ia akan mengatakan kebenaran di balik kematian Kris. Dan akhirnya, tadi malam ia menunjukkan halaman terakhir jurnal Kris." Kyungsoo mematung. Jantungnya berdebar keras. Ketika melihat air mata mulai mengalir menuruni wajah ibunya, Kyungsoo tahu harapannya sia-sia. Ibunya sudah mengetahui semuanya.

"Apakah itu benar, Kyungie? Kris menodaimu dan membuatmu hamil? Itukah alasannya bunuh diri? Karena kalian bertengkar dan kau memintanya untuk pergi?" tanya Yixing lirih. Ketika melihat wajah pucat Kyungsoo juga tangannya yang bergetar, Yixing tahu jawabannya. Yixing terlampau mengenal Kyungsoo. Yixing tahu semua yang dikatakannya benar. Tangisan Yixing semakin keras dan Kyungsoo berusaha menenangkannya.

"Kau menyembunyikannya selama tujuh tahun, Do Kyungsoo. Tujuh tahun! Kau membiarkan aku dan Joonmyeon berpikir bahwa kematian Kris karena patah hati hingga kami menyalahkan Jessica! Namun ternyata kau menyimpan masalah sesungguhnya. Kris bunuh diri karena kau yang memintanya! Oh Tuhan, bagaimana kau bisa berdiam diri selama ini? Kau tidak hanya menghancurkan hidupmu, kau menghancurkan keluargamu!" jerit Yixing.

"Eomma, kau harus mendengarkanku…"

"Tidak. Aku sudah menunggumu selama tujuh tahun. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa kau berubah? Mengapa keluarga kita yang penuh cinta bisa hancur sampai titik ini? Dan kau tidak pernah menjawabnya! Kau tidak pernah bersedia menjawabnya! Kau hanya terus berlari, menghindari semua orang yang peduli padamu! Aku tidak percaya ini. Aku hidup dalam kebohongan selama bertahun-tahun dan anakku mengetahuinya." Kyungsoo menangis. Semua yang dikatakan ibunya benar dan melihat luka yang begitu dalam di mata ibunya terasa amat menyakitkan untuk Kyungsoo.

"Mianhae Eomma. Jeongmal Mianhae." bisik Kyungsoo menyesal.

"Kita harus memberitahu Joonmyeon. Ia berhak mengetahui alasan sesungguhnya Kris bunuh diri. Ia harus mengetahui segalanya." balas Yixing seraya kembali menjalankan mobilnya.

"Eomma, aku mohon tenangkan dirimu. Jangan menyetir dengan kondisi seperti ini." pinta Kyungsoo. Namun rasa sakit yang melingkupi Yixing terlalu pekat. Ia tidak bisa berpikir jernih. Seluruh perkataannya berhamburan keluar dengan nada histeris. Jeritannya menggema jelas dalam mobil yang diiringi isak tangis itu. Pegangannya di kemudi semakin tak terarah. Pandangan matanya mengabur dan sebelum ia sempat berpikir, mobilnya melaju cepat menuju pohon besar di sisi jalan. Tabrakan itu tak terelakkan. Segalanya berjalan begitu cepat.

Dan hal terakhir yang Kyungsoo ingat hanyalah kegelapan tanpa dasar.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Lanjut / Delete

#Oh Hani#

.

.

Big Thanks For :

VENUSXIU6199 | sushimakipark | Lovesoo | humaira9394 | keydee | Kim YeHyun | dodyoleu | jeje | tarry24792 | dwifit | Lee SooKyung | MissJongin | guestop | WuKrisoo | Fishy | ohkiki94 | kyung1225 | sehunsdeer | Uchiha Annie | intanchristine4 | YoonAra1261

Review juseyooo ^^

.

Dichapter ini misteri masa lalu Kyungsoo mulai terkuak loh. Jadi jangan malas untuk baca dan REVIEW ya...

.

Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk baca dan review ff REMAKE ini. Maaf tidak bisa balas satu-satu review oenni, saeng, oppa, chingu, ahjumma, ahjussi sekalian. Tapi Hani baca semua kok review kalian. Terima kasih banyak sudah mau ngedukung Hani buat lanjutin FF REMAKE ini. FF ini sebentar lagi akan tamat. Mohon dukungannya ya untuk Hani, update chapter-chapter terakhir. Para SIDERS tolong tunjukan dukungan kalian juga dengan —jangan jadi SIDERS lagi. #BOWBarengGembul

Review juseyooo ne ^^

.

.

.

CONTINUES UNTIL COMPLETED OR DISCONTINUED UP HERE ?