Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M+ (Mature Content!)

Genre : Romance, Drama

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

I'm Sorry, I Love You

Chapter 10 : Uchiha Brengsek!

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto tidak tahu dengan pasti bagaimana caranya dia bisa kembali masuk ke dalam kamar bersama Sasuke yang kini menatapnya penuh arti. Bukankah di taman tadi mereka hanya saling memeluk dan mengutarakan rasa cinta mereka untuk satu sama lain? Kenapa momennya langsung berubah ke hal yang lebih sensual? Naruto sama sekali tidak ingat jika dirinya memberi kode pada Sasuke untuk melakukan seks.

"Tidak!" tegas Naruto untuk kesekian kalinya saat Sasuke mengumandangkan keinginannya lewat bahasa tubuh. "Kita tidak akan melakukannya di sini," tambahnya penuh penekanan. "Tidak ada seks! Demi Tuhan, Sasuke, ini sudah pagi. Keluargamu bisa bangun kapan saja dan akan sangat memalukan jika mereka memergoki kita sedang, sedang-"

"Bercinta?!" potong Sasuke dengan seringai menyebalkan. Dia berdiri dengan santai di depan pintu kamarnya, dan tanpa banyak bicara dia mengunci pintu di belakangnya lalu berjalan ke arah Naruto layaknya seorang pemangsa yang mengintai mangsanya.

Merasa terancam, Naruto mulai berjalan mundur, mencoba menjaga jarak dari Sasuke yang terus berjalan mendekat. Wanita itu lalu menghentakkan kaki, ekspresinya terlihat kesal, marah dan putus asa saat sosok Sasuke berjalan semakin dekat. "Jangan mendekat!" desis Naruto dengan telunjuk teracung ke arah Sasuke.

"Kenapa? Takut tidak bisa menolak pesonaku?" ujar Sasuke santai sembari membuka pakaian atasnya.

"Kau?!" bentak Naruto kesal saat Sasuke melempar pakaian itu ke arahnya. "Jangan gila Sasuke! Apa yang keluargamu pikirkan jika mereka tidak melihat kita? Mereka bisa berpikir macam-macam!"

"Aku tidak peduli," sahut Sasuke datar.

"Tapi kau sudah berjanji untuk tidak bercinta denganku selama kita berada di sini!" kata Naruto cepat tanpa menarik napas. Ucapan Naruto berhasil membuat langkah Sasuke terhenti, walau untuk sejenak. Pria itu mendecih, melirik tajam ke arah Naruto yang kini menyunggingkan senyum penuh kemenangan. "Apa kau akan berubah menjadi pria yang suka ingkar janji?" kata Naruto dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

"Terima kasih karena kau sudah mengingatkanku akan janji yang kubuat," balas Sasuke tenang, membuat ekspresi gembira Naruto lenyap, digantikan dengan ekspresi bingung yang terlihat nyata. "Namun ada hal lain yang bisa kulakukan tanpa melanggar janjiku," tambah Sasuke dengan seringai licik.

Mata Naruto melebar saat Sasuke menyergapnya. Gerakannya untuk menghindar sudah terlalu terlambat karena pria itu begerak lebih cepat. Sasuke menangkap pinggang Naruto dan mengangkat tubuh wanita itu ke atas tempat tidur.

"Aku akan teriak!" ancam Naruto marah, napasnya memburu sementara kedua tangannya diletakkan di dada telanjang Sasuke, berusaha mendorong pria itu untuk menjauh, walau hasilnya sia-sia.

Lagi-lagi Sasuke mengangkat sebelah bahunya dan membalas dengan cuek, "terserah jika kau mau membangunkan seluruh isi rumah."

"Kau. Kau menyebalkan, Uchiha Sasuke!" sembur Naruto kesal. Wanita itu semakin kesal saat Sasuke mulai melancarkan aksinya dengan santai, tidak terburu-buru, bahkan sama sekali tidak terganggu oleh omelan Naruto. "Argh!" jerit Naruto saat Sasuke menggigit cuping telinga kanannya. "Apa kau sudah gila?!"

"Apa kau tidak bisa berhenti bicara?" tanya Sasuke tenang. "Omelanmu membuatku semakin bergairah," tambahnya yang sukses membuat kedua bola mata Naruto membulat sempurna.

Sasuke menatap wanita di bawahnya yang menatapnya nyalang. Bagaimana bisa seorang wanita marah membuatnya semakin bergairah? Sasuke bahkan mengumpat di dalam hati saat kemaluannya mulai mengeras di balik celananya. Sial! Andai saja dia tidak memiliki janji sialan itu dengan Naruto, dia pasti sudah melahap kekasihnya detik ini juga tanpa ampun.

"Lepaskan aku!" ujar Naruto dengan nada perintah tegas.

Sebelah alis Sasuke naik mendengarnya, seringai tipis kembali terpatri di wajah tampannya, dan dengan suara berat dia menjawab, "melepaskan wanita panas yang kini meliuk-liuk di bawah tubuhku? Apa aku tidak salah dengar?" ujarnya santai dan sebelum Naruto sempat menjawab, pria itu merangkul kepala Naruto dengan tangannya dan mencium wanita itu keras.

Dengan kesadaran penuh Naruto merapatkan mulutnya, menunjukkan kepada Sasuke atas keberatannya, namun hasil yang didapatnya tidak sesuai dengan keinginannya, Sasuke menggeser tubuhnya hingga memerangkap tubuh Naruto sepenuhnya di bawah tubuh pria itu.

Naruto mendelik, menyipitkan mata saat untuk sejenak Sasuke melepaskan ciumannya untuk menatap wanita itu. "Kau menolakku karena takut keluargaku tahu, bukan?" katanya dengan suara merdu yang entah kenapa malah membuat bulu kuduk Naruto meremang, takut. "Kalau begitu, kau harus bisa menahan dirimu sebisa mungkin," tambahnya dengan senyum penuh misteri.

"Kau menantangku?" kata Naruto dengan kedua pupil membesar karena marah. "Berani sekali kau menantangku disaat seperti ini!" desisnya, merasa gerah dan jengah saat Sasuke mendengus ke arahnya. "Akan kubuktikan siapa bosnya di sini! Akan kubuktikan siapa yang berteriak lebih keras di sini!" tambahnya sebelum menarik kepala Sasuke untuk mendekat dan mencium bibirnya sama kuat seperti saat Sasuke menciumnya tadi.

Sasuke bersorak di dalam hati, mudah sekali untuk memprovokasi kekasihnya yang keras kepala ini. Dengan sukarela dia membuka mulutnya untuk Naruto, memberi kesempatan pada wanita itu untuk memegang kendali sebelum nanti dia akan membaliknya tanpa belas kasihan.

Geraman yang lolos dari tenggorokan Sasuke merupakan respon yang sama sekali tidak diduga oleh Naruto. Api yang menjadi hasrat Sasuke seolah menular dengan cepat, membakar tubuh Naruto tanpa terkendali. Wanita itu seolah meleleh, otaknya terasa kosong saat puncak payudaranya mulai mengencang akibat pergumulan panas mereka.

Naruto menancapkan kuku-kuku jarinya pada punggung Sasuke, cukup kuat, tapi tidak cukup untuk melukai kulit punggung pria itu. Sasuke menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Naruto hingga berkali-kali, sementara tubuh wanita itu merespon sama panasnya. Naruto menautkan kedua lidah mereka, menghisap, mengecap rasa milik Sasuke. Naruto sama sekali tidak mau kalah, Sasuke harus takluk olehnya.

Rasa nyeri menyerang puncak payudaranya yang keras karena bergesekan dengan bahan pakaiannya yang terbuat dari katun. Tubuhnya menginginkan pelepasan dan menyerah pada rayuan Sasuke, namun akal sehatnya terus berteriak jika saat ini bukan saat yang tepat bagi mereka untuk melakukannya. Brengsek! Maki Naruto di dalam hati.

Napas wanita itu putus-putus saat Sasuke menyudahi ciuman panjang mereka. Pandangan matanya tidak fokus, dia hanya bisa menatap nanar pada Sasuke yang mulai melepas kancing kemejanya satu per satu, lalu tanpa kesulitan yang berarti pria itu melepas seluruh pakaian yang dikenakan oleh Naruto tanpa tersisa.

Hentikan dia sekarang juga! Teriak otak Naruto saat Sasuke mulai mencumbu tubuhnya. Namun mulut Naruto sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara, pikirannya melayang merasakan kenikmatan yang diberikan oleh setiap sentuhan tangan dan mulut Sasuke di tubuhnya.

Sasuke kembali mencium bibir wanita itu, menggigit mesra bibir bawah Naruto agar terbuka kemudian memperdalam ciuman mereka. Naruto melenguh, dadanya membusung saat Sasuke mulai menyentuh paha bagian dalamnya dengan gerakan lambat-lambat.

Naruto benci mengakuinya, tetapi Sasuke tahu betul akan apa yang dilakukannya. Mengetahui titik-titik sensitif yang membuatnya tidak berdaya. Wanita itu memejamkan mata saat kelopak matanya mulai terasa berat, sementara jari-jari tangan Sasuke mulai naik dan bermain-main di payudaranya yang telanjang.

Sasuke merendahkan kepalanya, kemudian mendaratkan ciuman di tempat yang sudah disentuhnya. Dalam keheningan, Naruto bisa mendengar deru napasnya yang memburu. "Hentikan, Sasuke!" tegas Naruto dengan mata terbuka. Namun Sasuke malah balas menatapnya dengan malas. "Kau tidak bisa melakukan ini!" kata Naruto lagi sementara Sasuke hanya menguap membalasnya. "Aku akan menjerit!" ancam Naruto.

"Silahkan!" sahut Sasuke tenang dan malah terlihat senang.

Keduanya saling bertatapan, dengan keras kepala wanita itu menolak kontak fisik yang menurut Sasuke sudah sangat terlambat. Jantung wanita itu seolah meloncat saat jari-jari terampil Sasuke membelai rambut-rambut halus di atas belahan tubuhnya. Bergerak semakin turun, gerakannya samar, membuat Naruto merengek di dalam hati karena Sasuke mempermainkannya.

Naruto merintih karena gairah saat Sasuke mulai menyelipkan jari tangannya ke dalam selangkangannya dan membuat gerakan-gerakan halus disepanjang kulit dalam Naruto yang lembut.

Sasuke menyeringai saat rintihan kembali terdengar dari mulut Naruto. Sementara Naruto mulai membekap mulutnya, mencegah rintihan dan erangan lain untuk lolos. Sasuke tidak boleh tahu jika dirinya menikmati hal ini. Tidak boleh. Sayangnya ekspresi wanita itu jelas menunjukkan hal yang sebenarnya, Sasuke tahu dengan pasti jika Naruto sangat menyukai sentuhannya di tubuh wanita itu.

Jari-jari Sasuke terus bergerak dengan luwes, melingkari jalan masuk menuju tubuh Naruto. Dengan menekan kebutuhannya sendiri dia terus menggoda Naruto, menginginkan wanita itu untuk menyerukan kekalahannya. Dan saat satu jarinya masuk, mata Naruto terbelalak, tubuhnya menggeliat panas karena hasrat.

Wanita itu meremas seprai di bawahnya, saat Sasuke memasukkan satu jari lainnya ke dalam tubuhnya. Sasuke tidak lagi mengurung tubuh Naruto dengan kekuatannya, dia mengijinkan Naruto untuk bergerak di bawah sentuhannya. Naruto merengkuh tangan Sasuke, menginginkan sesuatu yang lebih, wanita itu sudah kehilangan kendali. Dia menginginkan kepuasan saat ini juga.

Sinar kemenangan menari-nari di kedua mata milik Sasuke. Melihat Naruto menggeliat, menyerukan kebutuhan atas dirinya membuatnya sangat senang. Sasuke menyeringai, menikmati kemenangan kecilnya ini. Pria itu mempertahankan ritmenya, membuat Naruto semakin putus asa karenanya. Dan saat Naruto akan mencapai orgasme pertamanya, tanpa aba-aba Sasuke mengeluarkan jari-jarinya dari tubuh Naruto. Wanita itu hanya bisa mengerjapkan matanya saat Sasuke bangkit untuk berdiri dan memungut kaos yang tadi dilemparnya ke arah Naruto.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto yang belum pulih sepenuhnya.

"Bukankah kau yang mengatakan jika kau tidak mau bercinta?" jawab Sasuke cuek sembari memakai kembali kaosnya. "Kau yang mengatakan tidak ada seks selama kita di rumah ini," tambahnya datar. "Cepat pergi mandi, kita akan pulang setelah makan siang," ujarnya yang berlalu tanpa merasa bersalah.

Naruto yang diperlakukan seperti itu kini menatap kepergian Sasuke dengan mulut terbuka lebar. Sasuke jelas sedang memberinya pelajaran. Brengsek! Sasuke sangat tahu bagaimana caranya menyiksa dirinya. Sial! Teriak Naruto di dalam hati.

Dengan wajah ditekuk, Naruto memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai, dan dengan bersungut-sungut dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Hal memalukan ini pasti akan dibalasnya berkali-kali lipat, janjinya di dalam hati.

.

.

.

"Apa yang membuatmu begitu senang?" tanya Itachi saat Sasuke berjalan menuju bak cuci piring di dapur untuk mencuci tangan dengan sebuah senyum tipis. Senyum yang walau tipis namun sangat jarang terlihat. Pasti ada sesuatu yang membuatnya sangat senang, pikir Itachi. "Kenapa kau mencuci tanganmu di sana? Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Itachi lagi dengan kening ditekuk dalam. "Kau pasti sudah-"

"Bukan urusanmu!" potong Sasuke dingin, kemudian mendudukkan diri di samping Itachi yang menyeruput teh herbalnya pelan. "Tidak biasanya kau mabuk seperti tadi malam," kata Sasuke setelah terdiam beberapa saat. "Apa kau sedang ada masalah?"

Itachi terkekeh dan meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Dengan nada bergurau dia balik bertanya, "sejak kapan kau begitu peduli pada orang-orang di sekitarmu? Apa mungkin matahari terbit di barat pagi ini? Pasti ada sesuatu yang salah hingga membuatmu bersikap aneh," katanya mencoba untuk bergurau. Itachi pun kembali menyesap teh herbalnya, lambat dengan tatapan menerawang. Tidak mungkin dia menanyakan perihal luka di tubuh Sasuke, kan? Walau sebenarnya dia ingin tahu sejak kapan ayah mereka menyiksa Sasuke. Dia ingin tahu kenapa ayah mereka melakukannya? Dan kenapa Sasuke terus bungkam hingga detik ini. Kenapa Sasuke menyembunyikan hal sepenting ini darinya? Sebagai seorang kakak, Itachi sangat kesal pada dirinya sendiri yang tidak mampu melindungi orang-orang yang disayanginya. Pertama Mei, lalu Sasuke. Itachi merasa dirinya sangat tidak berguna.

"Lupakan," ujar Sasuke dingin. Dia menuangkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri dan kembali melamun lama.

"Kalian akan pulang hari ini?" tanya Itachi memutus keheningan berat diantara keduanya.

"Hn," jawab Sasuke tidak jelas. "Jadi, kenapa kau mabuk tadi malam?" tanya Sasuke lagi.

Itachi menunduk, mengamati cangkir tehnya lurus sementara jarinya melingkari bibir cangkir. "Sesekali mabuk tidak buruk juga," jawabnya asal. "Kenapa kalian tidak menginap beberapa hari di sini?" tawar Itachi untuk mengalihkan pembicaraan.

"Aku datang hanya untuk pesta tadi malam, bukan berlibur."

"Kalau begitu aku yang akan datang ke Tokyo untuk berlibur," kata Itachi dengan senyum mengembang. "Aku memerlukan waktu untuk menyantaikan otakku dari kepenatan."

"Jangan berpikir untuk-"

"Tentu saja aku akan menginap di tempatmu," seru Itachi mengabaikan tatapan tajam Sasuke yang terarah lurus padanya. "Untuk apa aku mengeluarkan banyak uang untuk menginap di hotel jika aku memiliki seorang adik yang memiliki kediaman nyaman untuk ditumpangi menginap selama beberapa hari."

"Kau tidak boleh menginap di tempatku!" ujar Sasuke mutlak.

"Kenapa Naruto boleh menginap di tempatmu?" tanya Itachi cepat dengan kedua tangan terlipat di depan dada, meminta penjelasan.

"Dia kekasihku."

"Dan aku kakakmu!" seru Itachi lantang. "Kenapa seorang kakak tidak boleh menginap di rumah adiknya?" sungutnya sebal.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Naruto yang masuk tiba-tiba. Wanita itu sudah berganti pakaian dengan pakaian yang dipinjamkan oleh Sasuke dan masih terlihat sangat marah pada pria itu.

Itachi bergegas menghampiri wanita itu, dengan ekspresi terluka dia mulai mengadu, "Sasuke melarangku menginap di rumahnya." Pria itu bisa menangkap tatapan tidak suka Sasuke saat dirinya mengadu pada Naruto. Itachi ingin sekali tertawa keras mendapati fakta jika adiknya sudah ditaklukkan oleh seorang wanita bernama Namikaze Naruto.

"Kenapa kau melarangnya?" tanya Naruto, wanita itu melotot ke arah Sasuke yang balas menatap tajam Itachi yang kini bersembunyi di balik punggung Naruto dengan senyum lebar. "Bagaimana bisa kau melarang kakakmu untuk menginap dan tinggal di rumahmu? Kau sangat keterlaluan, Sasuke!"

Hening. Dan akhirnya Sasuke hanya bisa mendengus dan menjawab ketus, "terserah!"

"Woah... aku boleh menginap di rumahnya. Kau benar-benar hebat, Adik ipar!" seru Itachi senang seraya memeluk Naruto erat.

"Lepaskan dia!" ancam Sasuke dengan nada suara yang terdengar berbahaya.

"Kenapa?" tanya Itachi pura-pura polos. Dengan keras kepala dia masih merangkul bahu Naruto. "Apa seorang kakak tidak boleh memeluk adik iparnya sendiri?" ujarnya dengan kening ditekuk. "Apa dia selalu seperti itu, Naruto?" Itachi melirik ke arah Naruto yang hanya menjawabnya dengan menghela napas panjang. "Maaf, aku tidak menyangka jika adikku sangat pencemburu. Kau pasti kewalahan menghadapinya."

"Aku sudah mulai terbiasa," sahut Naruto datar, namun matanya masih menatap lurus ke arah Sasuke yang kini menyempitkan mata ke arahnya. "Kenapa kau marah? Itu kenyataannya," ujar Naruto dengan sikap menantang.

"Kalian berkomplot untuk menjatuhkanku," desis Sasuke dingin. Dia menatap wajah Naruto kemudian melirik ke arah Itachi yang mengembangkan senyum penuh kemenangan. Oh, bolehkah Sasuke memukul wajah menyebalkan Itachi sekarang? Kenapa kakaknya itu bersikap lebih mengesalkan dan menyebalkan daripada yang diingatnya?

"Ngomong-ngomong, apa Tuan dan Nyonya Uchiha masih belum bangun?" tanya Naruto merobek ketegangan di dalam ruangan itu.

"Mereka sudah bangun," jawab Itachi datar, namun ekspresinya berubah serius. Pria itu melepaskan tangannya dari bahu Naruto dan kembali mendudukkan diri di samping Sasuke. Dia menyesap air tehnya yang sudah dingin dan kembali bicara, "mereka di ruang kerja Ayah saat ini."

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sasuke dengan nada datar. Pria itu menuangkan kopi untuk Naruto dan meminta wanita itu untuk duduk di kursi kosong di sebelah kanannya.

Itachi mengangkat bahu dan menjawab tanpa antusias, "aku tidak peduli," katanya membuat Sasuke menaikkan sebelah alisnya sementara Naruto berekspresi bingung.

Keheningan kembali tercipta setelahnya. Naruto menyesap kopinya dengan gerakan gugup, teringat kejadian yang tidak sengaja dilihatnya tadi malam antara Mei dan Itachi. Itachi pasti sedang patah hati saat ini, pikir Naruto. Apa mungkin Itachi masih memiliki perasaan khusus pada Mei?

"Ada yang kalian sembunyikan dariku," ujar Sasuke tiba-tiba, membuat Naruto dan Itachi melirik ke arahnya secara bersamaan.

"Apa maksudmu?" tanya Itachi dan Naruto kembali kompak.

"Kalian berekspresi sama," kata Sasuke datar. "Jadi, apa yang kalian pikirkan?"

"Tidak ada," jawab Itachi tanpa ekspresi. Pria itu kemudian berdiri, berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Sasuke yang kini menatap Naruto dengan tatapan menusuk.

"Terjadi sesuatu, kan?!" serunya penuh penekanan.

Naruto meletakkan cangkirnya pelan ke atas meja, pikirannya bimbang, haruskah dia menceritakan kejadian tadi malam pada Sasuke? Bagaimana jika hal itu malah membuat hubungan Sasuke dengan keluarganya bertambah buruk?

"Katakan padaku apa yang terjadi!" tukas Sasuke tidak sabar. Dia sangat tidak suka jika Naruto menyembunyikan sesuatu darinya. "Cepat katakan!" katanya lagi dengan kesabaran yang sudah menipis.

"Kau tahu mengenai hubungan ibu tiri dan kakakmu, kan?" kata Naruto, terlihat sangat gugup menunggu reaksi Sasuke. "Sepertinya mereka berdua belum bisa melupakan satu sama lain," tambahnya saat Sasuke mengangguk menjawab pertanyaannya. "Kurasa mereka masih saling mencintai."

"Tidak mungkin," jawab Sasuke dengan nada serius. Pria itu mengisi kembali cangkir kopinya dan menyesapnya nikmat sebelum kembali bicara. "Tadi malam aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, Itachi sangat membenci Mei."

"Tapi ibu tirimu-"

"Dia masih mencintai Itachi," potong Sasuke cepat, ada nada jijik yang terselip di dalam nada suaranya saat ini. "Jika dia mencintai kakakku, seharusnya dia mau berjuang untuk cinta mereka, bukan menyerah dan menyakiti hati semua orang."

"Aku yakin dia pun terluka, Sasuke," kata Naruto lembut. Wanita itu menggenggam tangan Sasuke, memberinya kenyamanan sekaligus kekuatan pada pria itu.

"Itu konsekuensi dari pilihannya," sahut Sasuke dingin. "Nasi sudah menjadi bubur, Naruto. Sebanyak apapun air mata yang dikeluarkan oleh Mei, tidak akan mampu mengembalikan waktu dan memperbaiki keadaan yang seharusnya bisa dicegah olehnya."

"Maaf, aku ikut campur urusan keluargamu," kata Naruto menyesal.

Sasuke tersenyum tipis, dengan lembut dia menyentuh pipi kanan Naruto dengan ibu jarinya. "Jangan membahas hal ini lagi. Mereka sudah dewasa untuk mencari jalan keluarnya sendiri. Sebaiknya kita bersiap untuk pulang."

Naruto hanya mengangguk, tersenyum kaku dan mengikuti langkah Sasuke ke dalam kamar untuk berkemas.

.

.

.

"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya Fugaku pada Mei yang sedari tadi hanya diam, menunduk mengamati jari-jarinya yang berkeringat dan saling bertaut di atas pangkuannya. Ruang kerja Fugaku yang berwarna gelap itu membuat suasana hati Mei semakin tidak karuan. Saat ini wanita itu ingin sekali berada di tempat lain untuk melarikan diri, mengasingkan diri ke tempat dimana tidak ada satu orang pun yang mengenalinya.

"Kau ingin perhiasan baru? Tas baru? Atau ingin koleksi pakaian dengan mode terbaru?" tanya Fugaku beruntun.

Hening.

"Jadi?" tanya Fugaku lagi seraya mengetukkan tongkatnya ke atas lantai dengan suara keras. "Apa yang ingin kau bicarakan? Kau tahu masih banyak hal penting yang harus aku kerjakan sekarang."

"Aku ingin bercerai," jawab Mei cepat tanpa bernapas. Wanita itu berusaha untuk menatap wajah kaku suaminya yang kini tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataannya.

"Akhirnya kau mengatakannya juga," ujar Fugaku yang terlihat sama sekali tidak kaget mendengar keinginan dari istrinya itu.

"Kau tidak terkejut?" tanya Mei yang justru sangat terkejut melihat sikap Fugaku yang seolah tidak memiliki beban. "Kau sama sekali tidak terkejut?"

Fugaku berhenti tertawa dan kembali memasang ekspresi dingin. "Kau mau bercerai lalu berlari ke pelukan Itachi?"

Jantung Mei seolah berhenti saat mendengar ucapan tajam Fugaku. Tubuhnya seolah beku, napasnya tercekat dan dadanya naik turun. Kaget, dia benar-benar sangat kaget.

Fugaku menyandarkan punggungnya pada punggung kursi kerjanya yang nyaman dan menatap Mei dengan tatapan merendahkan. "Kau pikir aku tidak tahu jika kau mencintai putra sulungku?"

Mei membeku.

"Awalnya aku heran, kenapa Sasuke yang biasanya tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya tiba-tiba saja menolak keras saat aku mengatakan akan menikahimu, dulu. Sayangnya aku baru tahu alasannya setelah kau resmi menjadi istriku," Fugaku berdecak, tangannya mengambil sebatang cerutu dari dalam kotak di laci lalu menyalakannya dengan korek api. Dia menyesapnya lama, menikmati rasa di mulutnya sebelum menghebuskan asap cerutu itu ke udara.

"Wanita haus harta sepertimu tidak layak untuk dicintai," ejek Fugaku jahat. "Kau menerima pinanganku padahal saat itu kau masih menjadi kekasih Itachi? Memuakkan!"

"Aku menerimamu karena terpaksa!" jerit Mei kesal, merasa diisalahkan karena ketidakberdayaannya.

"Kau bisa menolakku dengan tegas saat itu."

"Dan apakah Anda mau menerima penolakan, Tuan Uchiha Fugaku yang terhormat?" Mei balik bertanya dengan suara bergetar menahan tangis. "Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku ingin bercerai. Aku ingin memulai hidup baru."

"Bersama Itachi?"

"Itachi membenciku," cicit Mei dengan air mata menganak sungai. "Dia sangat jijik padaku. Tolong kasihani aku. Aku bisa mati berdiri jika terus berada di dalam rumah ini."

"Aku tidak akan memberimu sepeser pun jika kau keluar dari rumah ini," balas Fugaku tenang. "Apa kau mampu bertahan tanpa kemewahan, Mei?"

"Setidaknya batinku akan tenang, aku sudah tidak peduli akan kekayaan maupun ketenaran," jawab Mei dengan tekad bulat. "Aku hanya ingin hidup tenang, tanpa beban batin seperti yang kurasakan selama hidup denganmu."

Hening.

Fugaku menghela napas panjang dan akhirnya memberikan keputusannya dengan tegas. "Pengacaraku akan segera mengurusnya. Kita akan segera bercerai, sesuai dengan keinginanmu."

"Benarkah?" tanya Mei nyaris tak percaya. "Kau tidak berbohong, kan?"

"Tidak. Sekarang pergilah! Banyak yang harus aku kerjakan," ujar Fugaku tenang, sementara Mei hanya bisa mengangguk bahagia. Mei tidak pernah menyangka jika Fugaku sama sekali tidak keberatan untuk bercerai. Ah, mungkin ada campur Tangan Tuhan hingga membuat hal ini menjadi lebih mudah, pikir Mei bahagia.

.

.

.

Tepat pukul empat sore, Naruto tiba di apartemen miliknya dengan diantar Sasuke. "Kau mau masuk dulu?" tawar Naruto yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya.

"Tidak," jawab Sasuke membuat kedua alis Naruto bertaut mendengarnya. Tumben, pikirnya. Biasanya tanpa ditawari pun, Sasuke akan merangsak masuk ke dalam apartemennya tanpa bisa dicegah. "Beberapa hari ke depan aku akan sangat sibuk dan sulit dihubungi," jelas Sasuke di depan pintu apartemen Naruto. "Berita mengenai hubungan kita pasti menyebar dengan cepat setelah ini, mengingat banyaknya kolega ayahku yang datang di pesta kemarin. Selama aku tidak ada, aku ingin kau lebih berhati-hati. Mengerti?"

"Tumben kau bicara panjang lebar," ujar Naruto dengan kernyitan dalam.

"Naruto, aku serius." Kata Sasuke gemas karena Naruto tidak bisa diajak bicara serius.

"Kau pikir aku tidak serius?" ujar Naruto tersinggung. "Kenapa juga aku harus berhati-hati? Apa kau memiliki musuh?" tanyanya dengam senyum jail, namun senyum itu sirna saat melihat keseriusan pada ekspresi Sasuke saat ini. "Aku akan lebih berhati-hati, aku akan menjaga diri. Jangan khawatir," ujarnya menenangkan.

"Tinggallah di apartemenku jika kau merasakan ada sesuatu yang tidak beres, mengerti?"

Naruto mengangguk, pura-pura mengerti, padahal tidak.

"Oh, Tuhan. Aku tidak tahu apa aku bisa meninggalkanmu disaat seperti ini," kata Sasuke setengah berbisik. Pria itu memeluk Naruto kemudian mengecup kening wanita itu dan tanpa mengatakan apapun dia segera berbalik pergi meninggalkan Naruto yang hanya menatap kepergiannya bingung.

Sebenarnya Naruto tidak mengerti, dia harus berhati-hati terhadap apa? Atau siapa? Dan kenapa? Seharusnya Sasuke menjelaskannya secara detail. Namun pada akhirnya dia memberikan janjinya hanya untuk membuat Sasuke tenang. "Dan dia pergi begitu saja," keluh Naruto sebelum menutup pintu apartemennya dan menguncinya.

.

.

.

Benar saja, Sasuke sangat sulit dihubungi setelahnya. "Apa mungkin dia pergi ke luar negeri?" gumamnya pelan.

"Apa yang kau lamunkan?" tanya Ino memutus lamunan panjang Naruto pagi ini. "Ngomong-ngomong, kau belum menceritakan pengalamanmu di pesta kemarin. Apa pestanya sangat mewah?" tanya Ino terlihat sangat antusias.

"Sangat mewah, Ino," jawab Naruto tidak semangat. Dia memilih untuk meletakkan kepalanya di atas meja lalu memejamkan mata. Kepergian Sasuke dari kemarin membuatnya sangat cemas. Terlebih pria itu sama sekali belum menghubunginya, bahkan belum membalas pesannya. Menyebalkan! Makinya di dalam hati.

"Lalu kenapa kau terlihat tidak bertenaga? Apa terjadi sesuatu?"

Seketika Naruto membuka matanya, kedua pipinya merona saat teringat kejadian di kamar Sasuke kemarin siang. Aish... rasa malunya berubah menjadi kesal saat ingat jika Sasuke meninggalkannya saat dia hampir, dia hampir- tidak. Berhenti membayangkannya! Naruto menggelengkan kepalanya keras untuk menghilangkan bayangan erotis di dalam pikirannya.

"Kau kenapa?" tanya Ino yang semakin penasaran karena sikap Naruto yang menjadi aneh. "Apa hubunganmu dan Sasuke baik-baik saja? Apa keluarganya baik terhadapmu? Atau mereka menentang hubungan kalian? Apa kalian akan kawin lari?"

"Bisakah kau berhenti bertanya?" ujar Naruto dengan mata menyipit.

Ino tertawa canggung dan menjawab polos, "maaf, kebiasaan. Jadi?" katanya lagi, pantang menyerah.

Naruto memutar kedua bola matanya, dengam enggan dia pun menjawab, "hubunganku dan Sasuke baik-baik saja. Keluarganya pun baik," ujarnya. Walau sedikit aneh dan misterius, tambahnya di dalam hati. "Aku tidak tahu apa keluarganya menerimaku atau tidak, kami tidak sempat membahasnya karena pestanya berlangsung hingga larut malam, dan keesokan harinya aku tidak sempat bertemu dengan Tuan Fugaku."

"Kenapa kau tidak memanggilnya dengan panggilan lebih akrab? Bukankah dia akan menjadi ayah mertuamu?"

"Masih jauh untuk hal itu, Ino," jawab Naruto dengan melepas napas lelah.

"Apa Sasuke tidak serius denganmu?" tanya Ino dengan kedua tangan terkepal erat. Dia tidak suka jika Naruto hanya dipermainkan oleh Sasuke. Naruto berhak untuk bahagia. Awas saja jika Sasuke berani menyakitinya!

"Kami memang saling mencintai, Ino. Tapi Sasuke belum mengatakan apapun mengenai pernikahan," ujar Naruto dengan senyum dipaksakan.

"Kau tidak bertanya padanya?"

"Kau memintaku bertanya padanya sementara hubunganmu dan Sai juga sama sekali tidak ada perkembangannya," balas Naruto cepat. Ino merengut, lalu berdecak, kesal karena apa yang dikatakan oleh Naruto memang benar adanya. Hubungannya dengan Sai sudah berjalan lebih dari lima tahun, dan hingga detik ini Sai belum menunjukkan tanda-tanda untuk melamarnya. Sangat menyedihkan, keluh Ino di dalam hati.

"Mungkin kau harus memberi isyarat agar Sai melamarmu, Ino," usul Naruto memberi semangat. "Atau bisa saja dia tengah mempersiapkan sesuatu untuk memberimu kejutan."

"Sai bukan tipe pria romantis seperti Sasuke," keluh Ino. "Aku tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padanya?"

"Takdir," jawab Naruto seraya menepuk-nepuk pelan punggung Ino.

"Mungkin sebaiknya aku menanyakan hal ini pada Sai. Kemana dia akan membawa hubungan ini. Jika niatnya hanya untuk main-main, untuk apa diteruskan. Bukan begitu?"

"Kau yakin, Ino?"

"Kita sudah dewasa, Naruto. Hubungan yang kita jalani harus memiliki kepastian. Bukan saatnya untuk bersenang-senang, kita harus memikirkan masa depan," jawab Ino tenang. "Apa yang kau lakukan?" tanya Ino saat Naruto meletakkan telapak tangan di dahinya.

"Aku tidak percaya kau bisa berkata sebijak ini," seru Naruto takjub. "Kau tidak demam, kan?"

Ino tertawa renyah dan menjawab dengan suara tenang, "usia bisa merubah sifat seseorang, Naruto. Kau akan memahaminya nanti."

.

.

.

Hari pun berlalu dengan cepat setelahnya.

Dunia Naruto seolah runtuh saat Kushina meneleponnya dan memberinya kabar jika Minato terkena serangan jantung ringan, siang ini. Dengan panik wanita itu merangsak masuk ke dalam kantor atasannya untuk meminta ijin tidak masuk kerja selama beberapa hari karena keadaan darurat.

Naruto bersyukur karena bisa mendapatkan libur selama satu minggu karenanya, sungguh hal yang sangat diluar dugaan, pikirnya. Namun hal itu tidak dipikirkannya lebih jauh, yang penting dia bisa pulang untuk melihat kondisi ayahnya.

Dengan mata bengkak karena menangis dia keluar dari gedung perkantorannya, lalu menghentikan sebuah taksi untuk mengantarnya ke bandara. Dia kembali beruntung karena mendapatkan sebuah kursi kosong di penerbangan berikutnya menuju ke Iwa.

Naruto mengumpat karena telepon genggam Sasuke sama sekali tidak bisa dihubunginya, begitu juga dengan nomor telepon genggam Yamato yang juga tidak aktif selama beberapa hari ini. Atasan dan anak buah sama saja, pikir Naruto kesal. Sudah tiga hari mereka tidak bertemu sejak mereka pulang dari Otto, dan Sasuke hanya menanyakan kabarnya lewat email? Pria itu mengatakan jika dia sedang di luar kota karena urusan yang sangat penting. Benarkah seperti itu? Atau sebenarnya Sasuke masih marah karena kejadian tempo hari di kediaman Uchiha? Ayolah, seharusnya Naruto yang marah pada pria itu, bukan sebaliknya.

Kenapa kau tidak ada saat aku membutuhkan dukungan moril darimu? Keluh Naruto di dalam hati.

Naruto menulis pesan singkat dan segera mengirimnya ke alamat email pribadi milik pria itu. Berharap jika Sasuke segera membalas pesannya, namun setelah perjalanan selama satu jam dari Tokyo menuju Iwa pun, jawaban emailnya tidak kunjung datang.

Suasana Kota Iwa yang dirindukannya sama sekali tidak menarik perhatiannya saat ini. Yang ada di otaknya sekarang hanya kondisi ayahnya. Dan kenapa tidak ada satu orang rumah pun yang menjawab panggilan teleponnya saat ini? Hal itu membuat Naruto semakin panik dan menangis keras.

"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya supir taksi yang terlihat cemas melihat Naruto yang menangis semakin keras di dalam kendaraannya.

"Bisakah Anda mengemudi lebih cepat, Pak?" tanya Naruto ditengah isakan tangisnya yang semakin menjadi. "Ayah saya sakit di rumah," tambahnya sembari mengelap ingus yang meleleh dari hidungnya dengan sapu tangan.

"Tentu. Tentu," jawab supir itu sembari menekan pedal gasnya, mempercepat laju kendaraannya sesuai dengan permintaan penumpangnya.

Naruto segera berlari keluar dari dalam taksi setelah membayar ongkos. Dengan perasaan was-was dia membuka pintu rumahnya dan merangsak masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam. "Ayah?! Ibu?! Kak Kyuubi?!" teriaknya kencang membelah kesunyian di dalam rumah itu.

Kushina dan Kyuubi yang mendengar teriakan keras Naruto dari dalam dapur segera berjalan untuk menyambut kedatangannya. "Kau sudah pulang?" seru Kushina yang terlihat sangat gembira melihat kedatangan putri semata wayangnya.

"Kenapa kau tidak menghubungiku untuk minta dijemput?" timpal Kyuubi dari belakang Kushina. Kyuubi merupakan kakak sepupu dari pihak Kushina, juga kakak angkat Naruto yang mulai tinggal bersama dan menjadi putri angkat Minato dan Kushina sejak kedua orangtuanya meninggal, hampir dua puluh tahun yang lalu.

"Kalian sama sekali tidak menjawab teleponku," sahut Naruto dengan air mata berderai. Matanya bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis. Sapu tangan ditangannya sudah kusut dan basah karena air mata. Penampilannya pun sama menyedihkannya dengan wajahnya saat ini.

"Ah, maaf, teleponku di dalam kamar," ujar Kyuubi meminta maaf.

"Telepon ibu sedang dicharge, maaf kau pasti kesal karenanya," kata Kushina yang kini merengkuh tubuh Naruto yang bergetar ke dalam pelukannya.

"Mana Ayah?" tanya Naruto yang teringat mengenai kondisi ayahnya. "Kenapa Ayah tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Naruto, menuntut kejelasan. Namun pertanyaannya itu segera terjawab saat Minato dan Sasuke berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah berseri-seri.

"Ah, kau sudah datang," seru Minato tanpa bisa menutupi kegembiraannya melihat Naruto pulang. "Lihat, ayah dan Sasuke berhasil menangkap banyak sekali ikan hari ini, kita akan membakarnya untuk makan malam," tambahnya riang.

"Kenapa Ayah pergi memancing?" ujar Naruto tidak mengerti. "Bukankah Ayah terkena serangan jantung ringan?" ujarnya lagi dengan air mata berderai.

"Tenang, Sayang, ayah baik-baik saja," ujar Minato mencoba menenangkan putrinya yang terguncang hebat.

"Dan apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naruto dengan telunjuk teracung ke arah Sasuke. Naruto melepaskan pelukan ayahnya, lalu menatap satu per satu wajah keluarganya kemudian menatap Sasuke dengan ekspresi terluka. "Kalian membohongiku?" pekiknya sakit hati.

"Sayang, dengar-"

"Tidak!" jerit Naruto memotong ucapan Kushina yang berusaha memberikan penjelasan. Bagaimana bisa keluarganya membohonginya hingga sejauh ini? Dan bagaimana bisa Sasuke berada dalam komplotan untuk mengerjainya? Naruto bahkan menarik kesimpulan jika karena pengaruh Sasuke-lah hingga dia diberi ijin satu minggu untuk tidak bekerja. Hal ini pasti bukan hanya kebetulan, pikirnya marah.

"Aku hampir mati ketakutan saat mendengar Ayah terkena serangan jantung ringan. Aku menangis sepanjang jalan karenanya. Aku kesal karena tidak ada satu pun dari kalian yang menjawab pesan dan mengangkat teleponku. Apa kalian tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya aku? Kenapa kalian sangat tega melakukan hal ini padaku?" raung Naruto meluapkan kekesalan dan sakit hatinya.

"Kalian tidak bisa menggunakan alasan sejahat itu untuk membohongiku!" jeritnya frustasi sebelum berbalik menaiki tangga menuju kamarnya dan mengurung diri.

"Bagaimana ini?" kata Kushina setelah Naruto tidak ada.

"Ijinkan saya untuk menjelaskan hal ini padanya," tawar Sasuke dengan ekspresi serius.

"Naruto akan sangat sulit dibujuk jika sudah seperti ini," Kyuubi memperingatkan.

"Tidak ada salahnya dicoba," balas Sasuke tenang.

"Kamarnya ada di lantai dua, pintu kedua sebelah kanan," ujar Minato. "Semoga berhasil," tambahnya seraya menepuk-nepuk bahu Sasuke beberapa kali. Dan Sasuke pun melangkahkan kakinya menuju kamar Naruto, berharap Tuhan meringankan tugasnya untuk memberi Naruto pengertian.

.

.

.

TBC

Hai...

Niat awalnya mau ngetik kelanjutan fic TBWY, eh pas lagi ngetik- si ilham malah bisik-bisik ide buat chap ke-10 ISIL, jadilah fic ini yang saya publish lebih dulu. Btw, lemonnya kepanjangan yah, dan berakhir tragis. #Uhuk

Masalah mengenai Fugaku apakah mengetahui siapa Mei, sudah saya jawab dichapter ini yah. Terus, apa Itachi bakal ada jodohnya? Ada dong, tuh si doi udah nongol dichap ini, tinggal nunggu momen pas untuk ketemunya aja. :D

Terima kasih untuk dukungan pembaca semua, maaf jika saya tidak membalas satu per satu review yang masuk. Perihal update kilat, tidak bisa saya kabulkan, alasan mengenai hal ini sudah sering saya bahas dific2 saya yang lainnya. Jadi harap maklum! (:

Untuk pembaca baru, selamat bergabung, teman-teman! Untuk pembaca lama, semoga tidak bosan membaca karya2 saya, walau kadang harus nunggu lama updatetannya, ada yang ngeluh sampai lumutan, sampe jamuran, sampe kutilan? #MulaiLebay #Abaikan :D

Terus ada yang ingin mengenal saya lebih jauh? Da sayah mah apah atuh, hanya wanita ketjeh berjiwa abegeh. ^◇^ Jangan kenal deket2, bisa2 kalian jatuh cinta sama dirikuh 'loh! #Ngekkkkk #AbaikanLagi #KegeeranAkut

Kebanyakan ah cuap-cuapnya, makin banyak cuap-cuap, makin ngelantur isinya. Jadi, sampai jumpa dichap selanjutnya aja, yah! #KetjupMesra :D

#WeDoCareAboutSFN