The Guardian's

Main Cast : All EXO members ( Xiumin, Kris, Luhan, Suho, Lay, Baekhyun, Chen, Chanyeol, Kyungsoo, Tao, Kai, Sehun ) #OfficialCouple

Cast : Other

Gendre : Fantasy, Romance, Friendship, Family, Genderswitch

Rating : M

Warning : Cerita sedikit ngawur dan berbelit-belit.

No Flame, No Bashing, No Plagiat.

Don't Like Don't Read

Summary : 12 orang dengan kemampuan luar biasa yang terpilih sebagai Guardian's untuk menyelamatkan EXO Planet yang kini di ambang kehancuran. Masing-masing dari mereka telah terikat benang takdir antara satu dan yang lainnya sebagai belahan jiwa. Namun, akankah mereka menemukan belahan jiwa sejatinya bahkan ketika mereka dibuat kebingungan dengan kemampuan luar biasa mereka yang tiba-tiba bangkit ?

Chapter 9: Rencana Selanjutnya

Stockholm, o6:09 AM

Matahari pagi sudah bersinar cukup terang, sinarnya yang membias melalui kaca jendela memperlihatkan sosok Kris yang sedang berdiri melihat suasana pagi kota Stockholm dari apartemennya. Di bawah Kris ada sosok Zoisite yang sedang duduk tegak memperhatikan tuannya itu.

" Aku ingin kau menemui Gilleo, katakan padanya untuk mengirim beberapa kucing maid untuk Suho dan kirim juga Rick dan Oniel untuk mengawal mereka. " Ujar Kris pada Zoisite.

" Aku tidak menyangka jika Suho sudah bertemu dengan Lay dan Luhan. " Zoisite buka suara.

" Aku pun begitu. Segeralah temui Gilleo, aku ingin sebelum tengah hari mereka sudah ada disini. "

Zoisite menatap Kris tak suka. " Setidaknya kau bisa mengatakan 'tolong'. "

Kris menatap Zoisite tajam, kucing kecil itu tak mempedulikan Kris dan mulai beranjak dari tempatnya. Setelah kepergian Zoisite Kris masih tetap memandang keluar jendela, dia bahkan tak menyadari Chanyeol yang keluar dari kamarnya.

" Apa yang kau lihat ? " Tegur Chanyeol.

Kris berbalik dan menatap Chanyeol. " Sudah bangun ? " Tanyanya balik.

" Yeah.. Apa kau baru bicara dengan Zoisite ? " Chanyeol duduk di sofa.

Kris menyilangkan tangannya. " Aku memintanya menemui Gilleo. "

Chanyeol menatap Kris tertarik. " Ah, maid untuk Suho ? "

" Ya, aku meminta Gilleo untuk mengirimkan maid untuk mereka. "

Chanyeol menganggukan kepalanya pelan. " Itu bagus, kita tak tahu apa yang akan terjadi saat perjalanan nanti. "

Kris dan Chanyeol saling bertatapan dengan pandangan yang hanya mereka sendiri yang tahu.

- The Guardian's -

Roma, 07:02 AM

Bulu mata lentik itu mulai bergerak pelan, dengan perlahan kelopak mata yang tertutup itu terbuka dan memperlihatkan manik coklat dari pemiliknya. Lay masih mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya di tempat itu.

" Kau sudah bangun ? " Tanya seseorang.

Lay melihat samping kirinya dan melihat Suho yang tengah duduk memperhatikannya. " Suho ? "

Suho tersenyum melihat Lay yang sudah membuka matanya. " Ya, ini aku. "

Suho membelai lembut kepala Lay seraya menatap sedih kekasihnya itu.

" Kenapa ? " Tanya Lay.

" Maafkan aku, aku telah menyakitimu. " Suho terlihat sangat menyesal.

Lay menatap Suho dengan lembut. " Aku tidak apa-apa, itu memang hal yang seharusnya kau lakukan. "

" Lay.. " Panggil Suho.

" Hmm.. "

" Aku mencintaimu. "

Lay tersenyum. " Aku juga mencintaimu. "

Suho menatap Lay penuh cinta sambil mengusap lembut pipinya.

" Ah, Luhan ? " Seru Lay.

" Dia belum bangun. " Sahut Suho. " Aku mengembalikan ingatannya. "

Lay menatap Suho sedih. " Itu pasti sangat menyakitkan untuknya, dia harus mengingat kembali kenangan pahitnya dulu. "

" Dia bahkan menangis. " Ujar Suho.

Lay meneggenggam tangan Suho. " Jangan menyalahkan dirimu. "

Suho melihat tangannya yang digenggam Lay. " Aku beruntung memilikimu Lay. "

Lay memperhatikan Suho dengan wajah sedih. " Dan aku pun beruntung memilikimu. "

Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.

" Ah, aku belum mengatakan jika Kai dan Kyungsoo ada disini. " Ujar Suho kemudian.

Lay terlihat sangat terkejut. " Kai dan Kyungsoo ? " Tanyanya tak percaya.

" Mereka tiba tadi malam. " Sahut Suho.

Lay duduk dari baringan dan menyingkapkan selimutnya. " Aku ingin melihat mereka. "

Suho tak bisa menghentikan kekasihnya itu, dia hanya menganggukan kepalanya pelan. Lay langsung beranjak menuju pintu kamar diikuti oleh Suho.

- The Guardian's -

Kai juga baru saja keluar dari kamar yang di tempatinya, sambil menguap pelan Kai berjalan menuju ruang tengah. Begitu sampai di ruang tengah Kai menatap Luhan yang terlihat masih belum bangun.

" Bagaimana reaksimu saat melihat Sehun nanti ? " Gumam Kai nyaris tanpa suara.

Kai menundukan kepalanya dan menghela nafas pelan.

" Kai. "

Kai yang mendengar seseorang memanggilnya menoleh dan mendapati Lay serta Suho yang berjalan ke arahnya.

" Lay. " Sahut Kai dengan senang.

Lay berdiri di hadapan Kai dan langsung menarik kedua tangannya. " Aku senang bisa melihatmu. " Ujarnya dengan gembira.

" Stttt.. " Suho menempelkan telujuknya di depan bibir dan menunjuk Luhan yang masih tertidur.

" Maaf, aku terlalu senang. " Lay tersenyum dengan canggung.

" Bagaimana keadaanmu ? Dimana kau selama ini ? " Tanya Lay pada Kai.

Kai tersenyum. " Aku baik-baik saja, selama ini aku ada di Seoul. "

" Seoul ? " Lay mengerutkan dahinya. " Ah Seoul, lalu mana Kyungsoo ? "

" Dia masih beristirahat di kamar, dia terluka cukup parah. "

" Terluka ? " Seru Lay tak percaya.

" Kai dan Kyungsoo di serang anak buah Lord Cyprine. " Suho buka suara.

" Aku akan melihat Kyungsoo. " Ujar Lay.

" Lay. " Panggil Suho khawatir.

" Aku tidak apa-apa Suho, Kyungsoo perlu bantuanku. " Sahut Lay seraya menatap kekasihnya itu.

Lay meninggalkan Suho dan Kai menuju kamar Kyungsoo lebih dulu.

Suho melihat Kai. " Kita harus melihatnya. " Ujarnya.

Kai dan Suho pun mengikuti Lay menuju kamar Kyungsoo. Setelah kepergian mereka, Luhan yang tertidur membuka matanya dan menatap kosong langit-langit di atasnya.

- The Guardian's -

Madrid, 07:07 AM

Sinar matahari dengan kuat menerobos tirai tipis di jendela, cahayanya membuat Xiumin yang masih terlelap di tempat tidur terusik. Dengan pelan Xiumin membuka matanya dan menatap sekelilingnya, dengan wajah sehabis bangun tidurnya Xiumin pun bangkit.

Xiumin berjalan menuju jendela dan menarik tirai yang masih tertutup, pemandangan kota Berlin seketika langsung tersaji di hadapannya begitu tirai terbuka. Xiumin menghembuskan nafasnya pelan dan menutup matanya.

KLEK

Pintu kamar terbuka dan menampakan Chen yang dengan sedikit kesulitan membawa nampan dengan sarapan yang terhidang diatasnya.

Chen melihat Xiumin yang berdiri di depan jendela. " Oh, kau sudah bangun ? "

Xiumin melihat Chen dan tersenyum padanya. " Apa yang kau bawa ? " Tanya Xiumin.

Chen meletakan nampan yang dibawanya di atas nakas, lalu melangkah mendekati Xiumin.

" Aku pikir kau ingin sarapan di tempat tidur, karena itu aku membawanya kesini. " Sahut Chen.

Xiumin menyelipkan rambut panjangnya di belakang telinga. " Kau tak perlu repot. "

Chen berdiri tepat di depan Xiumin dengan jarak yang sangat dekat, dan menatap kekasihnya itu.

" Apa kau sudah tidak apa-apa ? " Tanya Chen dengan suara pelan.

Xiumin menatap Chen dan menyunggingkan senyum samar. " Ya. "

Chen mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Xiumin lembut. " Aku tak pernah menyangka jika takdir kita akan berjalan seperti ini, bukankah ini sangat membingungkan. "

Xiumin menikmati usapan tangan Chen di pipinya. " Kau benar, bukankah itu berarti jika kita memang ditakdirkan untuk bersama. "

Chen tersenyum. " Bagaimana pun aku merindukan Xiumin yang sesungguhnya, seperti sekarang. "

" Sejak kapan ? " Xiumin menatap Chen. " Sejak kapan kau mengingat semuanya ? "

Chen menghentikan usapannya dan kembali menarik tangannya. " Cukup lama, mungkin saat pertama kita bertemu. "

Pandangan mata Xiumin berubah sedih, senyum sendu tersungging dari bibirnya.

" Pasti sangat sulit untukmu, kau harus bertahan denganku yang tak mengingat apapun tentangmu. Harusnya kau berusaha membuatku untuk mengingat semuanya. "

Chen menatap lantai di bawahnya. " Jika pun aku punya kemampuan seperti Kris atau Suho aku tak mungkin akan membiarkanmu mengingat semuanya, aku tak mau menyakitimu. Karena aku tahu seberapa sakitnya itu, saat ingatanmu kembali. "

Chen lalu menarik Xiumin dalam pelukannya. " Lagipula aku sangat senang saat mengetahui sisi lain dari dirimu yang tak pernah kau tunjukan ketika kita berada di EXO planet. "

Xiumin tersenyum dan membalas pelukan Chen. " Chen.. "

Chen mengecup pelipis Xiumin berulang kali. " Aku mencintaimu Xiu, sangat mencintaimu. "

" Aku juga mencintaimu, sangat.. " Xiumin semakin erat memeluk kekasihnya itu.

- The Guardian's -

Roma, 10:11 AM

Mereka semua tengah berkumpul di ruang tengah. Kyungsoo terlihat lebih baik setelah Lay menggunakan kekuatan penyembuhnya, meskipun tadi Lay sempat nyaris pingsan setelah membantu Kyungsoo. Lay sendiri terlihat menyandarkan kepalanya di bahu Suho dengan kondisi setengah terlelap.

Suasana terlihat sangat serius, tak ada yang mengeluarkan suara satu pun. Mereka memperhatikan dua orang yang berdiri di hadapan mereka. Keduanya adalah Rick dan Oniel yang telah tiba dengan 3 maid.

" Rick dan Oniel. " Suho buka suara.

Rick dan Oniel diam memperhatikan sang leader.

" Selama ini kalian bersembunyi dengan aman ? " Tanya Suho.

" Ya Tuan, kami bisa bersembunyi dengan aman. " Sahut Rick sopan. " Senang bisa melihat kalian kembali, aku bahkan tidak menyangka jika tuan Kai dan nona Kyungsoo ada disini. "

Rick dan Oniel mengangguk pelan pada Kai dan Kyungsoo yang tersenyum melihat mereka.

" Apa semuanya baik-baik saja ? Para maid yang lain ? " Tanya Suho lagi.

" Kami semua baik-baik saja, tapi kami kehilangan Soa. " Kali ini Oniel yang menyahut.

" Soa ? "

Kai dan Luhan bahkan terlihat kaget mendengar hal itu, kecuali Kyungsoo yang menyerngitkan dahinya.

" Soa.. " Gumam Kyungsoo.

" Kenapa ? " Tanya Kai.

Kyungsoo membelalakan matanya. " Aku ingat, Soa sempat menemuiku. " Seru Kyungsoo.

Perhatian kini semuanya teralih pada Kyungsoo, bahkan Lay yang terlihat tak mendengarkan apapun membuka matanya dan melihat Kyungsoo.

" Soo. " Panggil Kai.

" Soa pernah menemui anda ? " Tanya Oniel.

Kyungsoo menganggukan kepalanya. " Ya, saat itu aku belum mengingat semuanya. Soa menemuiku saat aku akan pulang ke apartemen dia memperingatkanku, dan tiba-tiba dia menghilang ditelan kegelapan. "

Semuanya kembali diam, Suho menutup kedua matanya dan menghembuskan nafasnya pelan.

" Soa pasti sudah tertangkap. " Ujar Suho.

Rick dan Oniel menundukan kepalanya.

" Apa dia akan baik-baik saja ? " Luhan akhirnya membuka suaranya.

" Ini sangat buruk. " Ucap Kai.

Suho membuka matanya dan menatap semuanya. " Kita hanya bisa berharap Soa dalam keadaan baik-baik saja. "

Lay yang terlihat sangat pucat menatap Suho. " Apa kita tidak bisa menolongnya ? "

" Jangan berpikir seperti itu nona Lay, keselematan anda sangat penting. Kita pasti bisa menolong Soa, tapi tidak sekarang. " Sahut Rick.

" Benar Lay, jangan berpikir seperti itu. Kita akan menyelamatkannya, tapi untuk sekarang kita harus berkumpul dulu dengan semuanya sebelum gerhana dan menyelamatkan EXO Planet. " Timpal Suho.

" Aku hanya mengkhawatirkannya. " Lay kembali menyandarkan kepalanya di bahu Suho.

" Kita semua mengkhawatirkannya Lay. " Sahut Luhan.

" Seharusnya aku menolongnya saat itu. " Ucap Kyungsoo.

" Kau bahkan belum mengingat semuanya Soo. " Suho menatap gadis berambut pirang itu.

Kai yang duduk di sebelah kekasihnya itu menarik Kyungsoo mendekat seraya menyusap bahunya.

" Untuk saat ini kita akan memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan Soa, tapi tetap yang terpenting adalah mencari keberadaan guardian's yang lain. " Ujar Suho.

Semuanya kembali serius ke pokok permasalahan yang akan mereka bahas.

" Kami tidak tahu jika tuan Kai dan nona Kyungsoo ada disini, jika saja kami tahu kami akan membawa maid yang lain. " Rick terlihat sangat menyesal.

" Tidak masalah Rick, dengan adanya kalian saja sudah cukup. " Sahut Kai.

" Baiklah, Tuan Suho. " Panggil Oniel pada Suho.

Suho menatap Oniel. " Ya. "

" Ini adalah Aquamarine, dia yang akan menjadi maidmu. " Oniel menunjuk anjing putih berbulu panjang dengan matanya yang berwarna biru. (Sejenis White Shepherd)

" Senang akhirnya bisa bertemu denganmu. " Sapa Aquamarine.

Suho terlihat senang melihat anjing itu. " Aku juga senang melihatmu, Aquamarine. "

" Dan itu nama yang bagus. " Sambung Suho kemudian.

" Nona Lay, ini adalah Turqouise. " Oniel menunjuk kucing bejenis birman dengan bulu putih dengan bagian wajah, kuping, ekor serta kaki-kakinya yang berwarna cokelat.

Lay melihat maidnya, langsung saja senyuman manis terlihat di wajah pucatnya. " Kau manis sekali, aku sangat menyukaimu."

" Aku juga menyukaimu nona Lay. " Sahut Turquoise senang, kucing itu mengibaskan ekornya dengan semangat.

" Dan ini Ivory, dia akan menjadi maid anda nona Luhan. " Oniel menunjuk kucing berjenis siberian cat dengan bulu lebat berwarna putih dengan garis abu-abu serta matanya yang berwarna hijau.

Luhan menyunggingkan senyumannya. " Ivory. " Panggilnya.

Kucing itu menatap Luhan dengan mata hijaunya. " Anda terlihat sedang memendam sesuatu. "

Luhan menatap Ivory dengan mata rusanya. " Aku tak memendam apapun. " sahutnya.

Semuanya memperhatikan Luhan, ya mereka semua tahu apa yang Luhan pendam dalam hatinya.

" Baiklah, kita tak bisa membuang waktu lagi. Kita harus segera tiba di tempat Kris. " Ujar Suho kemudian.

" Kita bisa melakukannya dengan teleportasiku. " Sahut Kai.

" Tidak, itu akan sangat menguras staminamu karena harus membawa semuanya. " Tolak Suho.

" Kita bisa membawanya satu persatu. " Kai kembali menyahut.

" Itu sama saja. " Suho menatap Kai yang langsung terdiam.

" Kita bisa menggunakan portal yang biasa para maid gunakan. " Kini Rick yang bicara.

" Portal maid ? Bisakah ? " Tanya Kai.

" Meskipun hampir sama dengan teleportasi tapi ini sedikit berbeda, maid yang ada di tempat berbeda harus membuka portalnya bersama-sama. Maid yang ada disini harus membuka pintu masuk portalnya dan maid yang ada di tempat Tuan Kris harus membuka pintu keluar portalnya jika kita ingin sampai disana. " Rick memberikan penjelasannya.

" Itu mungkin bisa kita pakai. " Suho menganggukan kepalanya.

" Jika seperti itu aku akan menghubungi Zoisite. " Aquamarine bersuara.

Suho menatap maidnya itu dan menggangguk.

- The Guardian's -

Stockholm, 10:35 AM

Kris memperhatikan cahaya kecil berwarna biru di hadapannya yang semakin lama semakin besar, Chanyeol pun kini melakukan hal sama namun dia memilih duduk di sofa bersama dengan Zoisite yang tengah membaringkan tubuh kecilnya. Cahaya kebiruan itu lalu membentuk sebuah lingkaran besar yang tembus pandang, tiba-tiba saja dari tengah lingkaran itu muncul Rick dan Oniel, lalu berturut-turut Luhan dan maidnya Ivory, Kai dan Kyungsoo, Aquamarine dan Turquoise, dan terakhir tentu saja Suho dan juga dengan Lay yang dipapahnya.

Lingkaran yang berupa portal itu lalu hilang setelah Suho dan Lay keluar. Kris dan Chanyeol menatap tak percaya pada semuanya.

" Kai. " Seru Chanyeol tak percaya.

Kai tersenyum pada Chanyeol. " Chanyeol. "

Suho dan Kris berdiri saling berhadapan, mereka saling menatap satu sama lain berusaha menyampaikan apa yang ada dalam pikiran keduanya. Semuanya memperhatikan kedua leader yang saling berhadapan itu.

" Senang melihatmu baik-baik saja, Suho. " Ucap Kris.

" Aku lebih senang melihatmu, aku pikir aku akan melihatmu dengan perubahan. Ternyata kau tetap sama saja. " Sahut Suho.

" Bisakah kalian jangan membuat suasana dengan atmosfer seperti ini. " Tegur Luhan. " Lagi pula aku rasa Lay perlu duduk. " Lanjutnya.

Suho memutuskan kontak matanya dengan Kris dan memapah Lay menuju sofa.

" Aku tak tahu jika Kai dan Kyungsoo bersama denganmu, Suho. " Kris kembali buka suara.

Suho yang sudah duduk di sofa tersenyum pada Chanyeol lalu kembali melihat Kris. " Mereka tiba tadi malam, Kai membawa Kyungsoo yang terluka. Musuh menyerang Kyungsoo. "

" Menyerang Kyungsoo ? Mereka benar-benar sangat berani. " Kris berujar dengan sinis.

Chanyeol mengusir Zoisite dari tempatnya berbaring, meski enggan kucing itu tetap pergi sambil menatap Chanyeol tak suka. Kai dan Kyungsoo lalu duduk di tempat Zoisite tadi terbaring.

" Kau tak apa-apa Soo ? " Tanya Chanyeol.

Kyungsoo menyunggingkan senyumannya. " Sudah lebih baik, berkat Lay. " Kyungsoo manatap Lay yang duduk di sebelah Suho.

" Bagaimana kabarmu Yeol ? " Kali ini Kai yang bertanya.

" Seperti yang kau lihat. " Chanyeol tersenyum pada Kai.

Chanyeol lalu melihat Luhan yang berdiri di samping Rick. " Senang melihatmu nona Lu, aku lihat kau tidak baik-baik saja. " Sapa Chanyeol.

Kris pun menatap Luhan dan memperhatikan raut wajahnya.

Luhan menyipitkan matanya dan menatap sinis Chanyeol. " Aku baik-baik saja. " Sahut Luhan.

Kris tak melepaskan tatapannya untuk Luhan, namun Luhan yang merasa Kris terus memperhatikannya balik menatap Kris. Dengan cukup canggung Kris berpura-pura mengalihkan pandangannya.

" Kami berpikir kalian perlu membicarakan sesuatu, jika begitu kami akan kembali ke tempat persembunyian. " Rick berpamitan pada semuanya.

" Jika kalian membutuhkan bantuan kalian bisa menghubungi kami kembali. " lanjut Oniel.

Kris menatap keduanya dan mengangguk. " Kembalilah. "

" Terima kasih Rick, Oniel. " Ujar Suho.

Rick dan Oniel tersenyum dan membungkuk pada semuanya, mereka pun lalu pergi.

Setelah kepergian Rick dan Oniel para Guardian's yang ada tak ada yang bersuara, mereka diam menunggu kedua leader yang masih bungkam. Kris berjalan menuju jendela dia bersandar disana dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu menatap teman-temannya satu persatu.

" Ini hal yang tak aku sangka, aku pikir Kai dan Kyungsoo tidak bersama Suho. " Ujar Kris.

" Dalam benakku aku berpikir kita bahkan belum berkumpul setengahnya, dan akan sulit untuk mencari yang lainnya. Untungnya Kai sudah ada disini, aku jadi sedikit tenang. " Lanjutnya.

" Emm.. Sebenarnya aku bersama Sehun. " Kata Kai.

Kris dan Chanyeol menatap Kai, lalu mereka menatap Luhan yang terlihat acuh.

" Sehun ? " Gumam Kris.

" Jadi apa yang akan menjadi rencana kita selanjutnya ? " Tanya Suho.

Kris menatap Suho. " Tentu saja mencari Guardian's yang lain. Sehun, Chen, Xiumin, Baekhyun, dan.. "

Kris terdiam sesaat. " Tao.." lanjutnya dengan pandangannya pada Suho yang sedikit goyah.

" Kita belum menemukan mereka. " Kris kembali menatap Suho.

Suho menaikan satu alisnya seraya menatap Kris. " Baiklah, jadi siapa yang akan kita cari terlebih dahulu ? Karena ada Kai kita langsung ke tempat mereka berada saat ini."

" Sehun, kita akan mencari Sehun. Bagaimanapun saat ini hanya tempatnya yang kita ketahui. " Kris kali ini menatap Luhan.

Luhan terlihat menggigit bibir bawahnya dan menundukan kepalanya.

" Ya, kau benar. " Suho menganggukan kepalanya.

" Kita tidak bisa membuang waktu lagi, Kai dan Chanyeol akan mencari Sehun. Aku dan Suho pun akan mencari Guardian's yang tersisa. Untuk Lay, Kyungsoo dan Luhan kalian bisa menunggu disini, Kondisi Lay dan Kyungsoo masih terlalu lemah untuk ikut dalam pencarian. " Instruksi Kris.

" Aku setuju, untuk saat ini lebih baik seperti ini. " Sahut Suho.

Kai mengelus kepala Kyungsoo dan menatapnya seraya terseenyum. " Istirahatlah, kau belum dalam keadaan yang baik. "

" Berhati-hatilah, aku takut jika musuh menyerang kalian saat kalian melakukan pencarian. " Ujar Suho.

" Bukankah akan lebih baik jika para maid ikut ? " Aquamarine buka suara, anjing itu sejak tadi duduk tenang di samping sofa.

" Aku pikir juga seperti itu. " Sahut Zoisite seraya kembali menatap tak suka pada Chanyeol.

Chanyeol tidak mau menatap kucing hitam itu, dia berpura-pura menatap Suho yang sedang mengelus pundak Lay.

" Itu akan lebih baik, berarti kita harus memanggil maid Kai juga. " Timpal Kris.

" Biar aku yang memanggil. " Turquoise mengajukan diri.

" Tentu saja, jika bisa sebaiknya kau segera memanggilnya karena kita benar-benar dikejar waktu. " Sahut Kris.

" Kita akan memulai rencana kita setelah maid Kai disini, jadi aku harap kalian mempersiapkan diri. " Kris menatap seluruh teman-temannya.

- The Guardian's -

Arizona, 03:58 AM

Baekhyun tetap terjaga, dia duduk menyandar di atas tempat tidurnya seraya bersenandung pelan. Kamarnya begitu gelap, bahkan sulit sekali melihat keadaan sekelilingnya. Cahaya pudar terlihat hanya dari jendela yang tertutupi tirai, namun itu tak cukup untuk menerangi kamar itu.

Everytime I try to fly, I fall without my wings
I feel so small, I guess I need you baby

Lagu dari Britney Spears terdengar mengalun pelan dari bibir Baekhyun, meskipun dengan suara yang serak Baekhyun berusaha menghibur dirinya sendiri.

And everytime I see you in my dreams, I see your face, it's haunting me
I guess I need you baby..

Baekhyun lalu menatap kedua telapak tangannya, cahaya cukup terang muncul dari telapak tangan kirinya. Baekhyun diam memperhatikan cahaya yang mulai menerangi kamarnya yang gelap, dengan pandangan kosong Baekhyun menatap seluruh sisi kamarnya yang sangat berantakan.

" Hahaha.. " Baekhyun tertawa dengan miris.

Baekhyun lalu kembali menatap tangannya, namun kali ini sebuah tanda berbentuk light di lengan kirinya menarik perhatiannya. Tanda itu berkilau dengan cahaya kebiruan, dan dengan pelan Baekhyun mengusap tanda itu.

" Apa ini ? " Tanyanya.

Cahaya dari telapak tangan Baekhyun meredup dan tiba-tiba hilang, kamar kembali gelap. Tapi Baekhyun masih menatap tanda dilengannya yang berkilau cukup terang dan jelas dalam kondisi gelap seperti itu. Baekhyun menggosok tanda di lengannya cukup kasar.

" Sejak kapan ? Sejak kapan tanda ini muncul ? "

Merasa tak ada artinya dia melakukan hal itu Baekhyun menghentikannya.

" Apa ini ada hubungannya dengan cahaya yang muncul dari tangannyaku ? " Pikirnya.

- The Guardian's -

Madrid, 11:07 AM

" Sekarang apa yang akan kita lakukan ? " Tanya Xiumin.

" Entahlah, sedang aku pikirkan. " Sahut Chen.

Sepasang kekasih itu sedang duduk berdua di ruang tengah, mereka masih bingung akan langkah yang akan mereka ambil untuk mencari keberadaan Guardian's yang lain.

Chen menyandarkan punggungnya dan mengacak rambutnya pelan. " Aku tak tahu harus melakukan apa. " Ujarnya.

Xiumin ikut menyandarkan punggungnya dan menatap kekasihnya itu. " Kita tak tahu keberadaan Guardian's yang lainnya, bahkan kita tak tahu apakah mereka sudah saling bertemu atau belum. "

Chen lalu menatap Xiumin. " Bagaimana jika kita melakukan hal itu ? " Tanya Chen.

Xiumin mengernyitkan dahinya tak mengerti. " Hal itu ? Apa maksudmu ? "

" Kita kirimkan sinyal keberadaan kita. "

Xiumin membelalakan matanya, dia menatap Chen tak setuju. " Itu terlalu beresiko, musuh juga mungkin akan mengetahui keberadaan kita. "

" Tapi tak ada cara lain, ah.. Andai saja aku punya kemampuan telepati seperti dua leader itu. " Chen kembali mengacak rambutnya.

Xiumin tak menyahut, dia memilih diam.

" Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan sekarang ? Apakah mungkin mereka mencari kita ? " Tanya Xiumin tiba-tiba setelah terdiam cukup lama.

" Tentu saja, mereka pasti mencari kita. " Chen menyahut pelan.

" Apakah mereka bisa menemukan kita jika kita mengirimkan sinyal keberadaan kita saat ini ? "

Chen menghembuskan nafasnya pelan. " Jika tak kita coba kita tak akan tahu. "

" Tapi kau benar, itu terlalu beresiko. Musuh pun akan tahu keberadaan kita. " Chen menatap kekasihnya.

" Kita bisa mencobanya, untuk resikonya kita akan menanggungnya bersama-sama bukan ? "

Chen melihat raut kesungguhan dari wajah kekasihnya itu.

" Terlalu berbahaya Xiu, benar katamu ini terlalu beresiko. Aku tak akan membiarkanmu dalam bahaya. "

" Tapi Chen, kita tak punya banyak waktu. Kau lihat berita-berita itu, gerhana semakin dekat dan kita bahkan belum bersama dengan yang lainnya. "

Chen memikirkan kata-kata Xiumin.

" Kita tak mungkin bisa melakukannya, tapi.. " Chen menarik tangan Xiumin dan menggenggamnya. " Kita bisa mengirimkan sinyal kita dengan cepat dan menariknya kembali. "

Xiumin melebarkan matanya.

" Jika mereka sedang mencari kita, mereka pasti bisa menerima sinyalnya. "

- The Guardian's -

Stockholm, 12:40 PM

Kris, Suho, Chanyeol dan Kai duduk bersama di ruang tengah. Kris duduk menyandar seraya menyilangkan tangannya, sedangkan Suho duduk menyandar seraya menutup kedua matanya. Lain halnya dengan Kai dan Chanyeol yang memilih memperhatikan kedua leader itu.

Chanyeol menepuk pundak Kai pelan. " Hei, menurutmu apa yang mereka berdua pikirkan ? "

Kai menatap lelaki bertelinga lebar itu. " Entahlah. "

" Aku tak pernah bisa mengerti, sebenarnya apa yang kedua leader itu coba rencanakan. " Chanyeol kembali berbicara.

" Kau pikir aku berbeda, aku pun tak pernah tahu apa yang mereka rencanakan. " Sahut Kai.

Tiba-tiba saja, secara bersamaan kedua leader itu tersentak. Chanyeol dan Kai yang melihatnya menatap keduanya heran.

" Apa yang terjadi ? " Tanya Kai.

Kris maupun Suho tak ada yang menjawab, mereka justru kini berpandangan dengan pikiran yang saling terkoneksi.

" Sebenarnya ada apa ? " Kali ini Chanyeol yang bertanya.

Suho akhirnya menatap Chanyeol. " Kami mendapatkan sinyal keberadaan Guardian's yang lain. "

" Benarkah ? " Chanyeol dan Kai tersentak kaget.

" Meskipun mereka hanya mengirimkannya sekilas dan menariknya kembali, kami tahu keberadaannya saat ini. " Kris kali ini yang menyahut.

" Dia mengambil resiko yang sangat berbahaya, musuh pun akan tahu keberadaanya. " Suho menatap Kris.

" Tidak, jika kita lebih dulu ke tempatnya. " Ujar Kris.

" Siapa ? Siapa yang mengirimkan sinyal itu ? " Kai terlihat sangat penasaran.

" Chen. " Sahut Suho dan Kris bersamaan.

Chanyeol dan Kai saling pandang.

" Em, maaf jika mengganggu kalian. Tapi maid Kai kini ada disini. " Zoisite tiba-tiba ada di antara mereka.

Semuanya menatap Zoisite, kucing itu lalu menatap kearah Aquamarine dan Peridot yang berjalan dengan pelan menuju mereka.

Tiba-tiba ada sesuatu yang terbang dengan cepat menuju arah Kai, Kai yang kaget bahkan sampai hampir tersungkur.

" Apa itu ? " Tanya Kai dengan panik.

Chanyeol yang duduk di sebelah Kai pun ikut tersentak kaget. " Aku tak yakin apa itu. "

Lalu pandangan keduanya tertuju pada seekor burung hantu kecil yang melompat-lompat di atas meja.

" Itu Lazurite, dia adalah maid tuan Kai. " Aquamarine berbicara.

Kai memperhatikan burung hantu kecil itu, ukurannya mungkin hanya sebesar kaki orang dewasa dengan bulu berwarna coklat dan bintik-bintik putih.

" Senang bertemu denganmu tuan Kai. " Lazurite berseru dengan riang.

Kai terkekeh pelan, dia melihat mata besar burung hantu itu. " Lazurite, kau terlalu bersemangat. "

Lazurite lalu mengepakan sayapnya dan hinggap di bahu Kai. " Aku terlalu lama menantikan hal ini, oleh karena itu aku sangat senang. "

Suho tersenyum samar melihat interaksi Kai dan maidnya.

" Kita harus segera pergi, kita tak mungkin menunggu lagi. " Ujar Kris.

Semuanya mengangguk setuju.

" Kai dan Chanyeol serta maid kalian, kalian akan menjemput Sehun. Sedangkan aku dan Suho akan ke tempat Chen dengan Zoisite dan Aquamarine. Jika ada sesuatu segera hubungi kami. "

" Baiklah, kami akan pergi sekarang. " Kris bangkit dan menatap Suho.

Suho pun ikut bangkit. " Hati-hatilah, kita tak tahu apa yang akan terjadi. " Pesannya.

Kris dan Suho diikuti Zoisite dan Aquamarine pergi meninggalkan ruang tengah, dan tinggalah Chanyeol dan Kai serta maid mereka.

" Kita juga harus pergi sekarang. " Ujar Chanyeol.

" Baiklah. " Sahut Kai.

Keduanya bangkit dan berdiri berdekatan.

" Peridot, kemarilah. " Chanyeol memanggil maidnya mendekat.

Peridot mendekati Chanyeol, dan Chanyeol langsung menggendong kucing berbulu abu-abu itu.

" Kau siap ? " Tanya Kai.

Chanyeol menganggukan kepalanya. " Tentu. " Sahutnya.

Lalu Kai meletakan tangannya pada bahu Chanyeol. Dan tentu saja, dalam sekejap mereka sudah tak ada di tempatnya. Mereka sudah berteleportasi menuju tempat Sehun.

- The Guardian's -

Madrid, 12:45 PM

Xiumin memperhatikan Chen berjalan kesana-kemari, sesekali Xiumin menaikan alisnya heran melihat tingkah kekasihnya itu.

" Bisakah kau duduk saja, kau membuatku bingung. " Ujar Xiumin.

Chen berhenti melangkah dan menatap Xiumin. " Aku hanya cemas, apakah mereka bisa menerima sinyal yang aku kirimkan ? "

" Kita tak tahu, jika mereka menerimanya mungkin saja mereka dalam perjalanan kemari. "

" Bagaimana jika musuh yang mengetahui keberadaan kita ? " Chen berujar dengan cemas.

" Duduklah dulu, kau perlu mendinginkan kepalamu. " Xiumin menepuk tempat di sampingnya.

Chen hendak mengikuti perkataan Xiumin sebelum bel apartemennya berbunyi.

Ding.. Ding..

Chen dan Xiumin saling pandang dengan waspada.

" Kau tunggu disini, aku yang akan melihatnya. " Kata Chen.

Xiumin bangkit dari duduknya dan menatap cemas Chen. " Tapi.. "

" Tak apa, aku yang akan melihatnya. Kita tak tahu siapa yang datang. " Chen mmeberikan Xiumin senyum menenangkan.

" Chen.. "

Chen berjalan menuju pintu, dengan hati-hati dia melihat melalui layar interkom yang ada di samping pintu. Chen membelalakan matanya saat melihat layar interkom dan meneguk ludahnya dengan susah payah.

" Chen.. " Panggil Xiumin pelan.

Chem melihat kekasihnya itu dengan cemas, dan dengan perlahan membuka kunci dan menarik handel pintu.

Dua orang berdiri di depan Chen saat ini, Chen sendiri kini menatap tak percaya dua orang itu.

" Chen. " Seru salah satunya yang ternyata Suho.

" Syukurlah kau baik-baik saja, kami sempat khawatir. Kau benar-benar melakukan hal yang nekat. "

" Suho.. Kris.. " Ujar Chen.

Kris tersenyum samar, dia kini melihat Xiumin yang berdiri di dalam apartemen.

" Ternyata kau bersama Xiumin. " Kata Kris.

Suho pun kini melihat Xiumin dan tersenyum padanya.

" Masuklah, kita bicara di dalam. " Persilahkan Chen.

Kris, Suho serta Zoisite dan Aquamarine masuk ke dalam apartemen.

" Kalian membuat kami sangat takut, kami pikir kalian musuh. " Kata Xiumin setelah Suho dan Kris duduk.

" Justru kalian yang membuat kami sangat khawatir, kau tahu jika itu hal yang sangat berbahaya. " Sahut Suho.

" Kami tak punya pilihan, kami tak tahu harus mencari kalian kemana. " Chen ikut bicara.

" Ingatan kalian sudah kembali ? " Kali ini Kris yang bertanya.

Xiumin dan Chen menganggukan kepalanya.

" Dimana dan kapan kalian bertemu ? " Tanya Kris lagi.

" Kami berhubungan melalui media sosial dan menjadi kekasih cukup lama. " Sahut Chen.

" Oh. " Kris menaikan salah satu alisnya kemudian menatap Suho. " Sepertinya kalian mempunyai takdir yang hampir sama dengan orang ini. "

" Apa maksudmu ? " Tanya Xiumin tak mengerti.

Kris terkekeh pelan. " Suho pun menjadi sepasang kekasih dengan Lay saat ingatan keduanya belum kembali. "

Xiumin menutup mulutnya dengan telapak tangannya. " Suho dan Lay juga ? "

Suho tersenyum canggung.

" Jadi Lay juga sudah bersama kalian ? " Tanya Chen.

Suho mengangguk. " Selain itu ada Luhan, Kyungsoo, Kai dan Chanyeol juga. "

" Aku tak meyangka jika sudah lebih dari setengahnya yang berkumpul. " Chen menatap Suho.

" Kita sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. " Kris kini yang menatap Chen.

- The Guardian's -

Stockholm, 01:47 PM

Luhan berdiri di ambang jendela dan melihat suasana di luar gedung apartemen Kris, wajahnya yang terlihat sedih terpantul pada kaca jendela.

" Apa kau memikirkannya ? " Tanya Kyungsoo yang duduk di sofa.

" Siapa yang kau maksud ? " Luhan balik bertanya tanpa memandang Kyungsoo.

" Kau tahu siapa yang aku maksud. " Sahut Kyungsoo.

Luhan melihat pantulan dirinya pada kaca jendela dan tersenyum miris. " Jika aku bisa memilih, aku lebih memilih ingatanku hilang untuk selamanya. Aku tak ingin mengingat masa laluku terutama tentang dirinya. "

Kyungsoo melihat punggung sempit Luhan. " Kalian saling menyiksa diri sendiri, bukankah itu terlalu menyakitkan. "

" Karenanya aku lebih memilih ingatanku tidak kembali, agar aku tak perlu mengingat kenangan menyakitkan itu lagi. " Luhan berbalik dan menatap Kyungsoo.

Kyungsoo berusaha menilai raut wajah Luhan. " Kau terlalu egois Luhan, kau menyakiti dirimu sendiri. "

Luhan menyunggingkan senyuman tipisnya. " Setidaknya hanya aku yang merasakan hal itu. "

Kyungsoo menyerah, dia tak akan mampu merubah pikiran Luhan. Gadis itu sangat keras kepala dan Kyungsoo tahu hal itu dengan baik.

Tiba-tiba saja di tengah ruangan muncul Kai dan Chanyeol yang sudah kembali.

" Kai. " Seru Kyungsoo begitu melihat kekasihnya itu.

Kyungsoo berdiri dan menghampiri Kai. " Ada apa ? kenapa dengan raut wajahmu itu ? " Kyungsoo heran melihat ekspresi yang Kai tunjukan.

Luhan pun melihat Chanyeol yang juga menunjukan ekspresi yang sama. " Apa yang terjadi ? " tanyanya.

" Kami tak menemukannya. " Sahut Kai.

Kyungsoo menyerngitkan dahinya. " Siapa maksudmu ? Sehun ? "

" Kami tak menemukannya dimana pun, dia tak ada di rumahnya dan tempat yang lainnya. "

Kyungsoo menatap cemas kekasihnya. " Apakah sudah kau cari ke semua tempat ? "

" Kami sudah berkeliling kesana-kemari dan tidak menemukan keberadaan Sehun. " Sahut Chanyeol.

" Sehun tak ada dimana pun, aku tak bisa menemukannya. " Ujar Kai.

Kyungsoo melihat Luhan yang terdiam tanpa sepatah kata pun.

" Sehun pasti ada di suatu tempat. " Kata Kyungsoo mencoba menenangkan kekasihnya itu.

" Ya, tapi aku tak bisa menemukan tempat itu. Aku bahkan tak bisa merasakan keberadaan Sehun. " Kai mengacak rambutnya.

Lazurite terbang dengan pelan dan hinggap di sandaran sofa. " Apa mungkin tuan Sehun di tangkap musuh ? "

Semuanya membelalakan mata tak percaya menatap burung hantu kecil itu.

" Itu tak.. " Kai tak melanjutkan kata-katanya dan berbalik melihat Chanyeol.

" Apa ? " Chanyeol seakan tahu jika Kai akan mengatakan yang hal buruk.

" Aku pernah diserang musuh sebelum ingatanku kembali, saat aku sendiri dan ketika aku bersama dengan Sehun. " Sahut Kai.

Chanyeol merasakan jika pelipisnya berkedut menyakitkan. " Mungkin saja ingatan Sehun sudah kembali dan dia bersembunyi, kita harus berpikiran positif. "

Kyungsoo menatap kekasihnya lalu menatap Luhan yang kini menundukan kepalanya. " Chanyeol benar, kita harus berpikiran positif. Kita kini hanya bisa menunggu Kris dan Suho kembali. "

" Apa yang harus aku katakan pada mereka nanti ?, ini kesalahanku jika sampai Sehun benar ditangkap musuh. "

- The Guardian's -

" Sangat bagus Eirin, kau memang sangat bisa aku andalkan. " Pria misterius yang duduk di singgasananya itu memuji anak buahnya.

" Terima kasih tuanku. " Eirin tersenyum manis pada tuannya.

" Sayang sekali kalian berdua gagal. " Pria misterius itu beralih menatap Tellu dan Nash yang duduk bersimpuh di sampingnya.

Keadaan Tellu dan Nash sangat memprihatinkan, mereka sepertinya baru saja mendapatkan hukuman dari tuannya.

" Maafkan kami tuan, kami tak menyangka jika teleporter itu akan muncul dan menyelamatkan gadis itu. " Ujar Tellu dengan memelas.

Pria misterius itu menatap Nier yang berdiri di belakang Eirin. " Tentu saja, satu kesalahan bodoh seseorang untuk melenyapkan teleporter itu menjadi masalah untuk semuanya. " Sindirnya pada Nier.

Nier meneguk ludahnya dengan susah payah. " Maafkan aku tuanku. "

Eirin tersenyum meremehkan saat mendengar Nier bicara.

" Untuk saat ini aku masih membutuhkan kalian, jadi aku akan mengampuni kegagalan bodoh kalian. " Ujar pria misterius itu.

" Terima kasih tuanku. " Sahut Nash, Nier dan Tellu bersamaan.

" Aku sangat mengapresiasi pekerjaanmu Eirin, sekarang kau bisa kembali. " Pria misterius itu tersenyum lebar pada Eirin.

" Terima kasih tuan, aku mohon undur diri. " Eirin menundukan kepalanya dan menghilang saat kegelapan menelannya.

Pria misterius itu melihat peti kaca di sisi sebelah kanannya sambil tersenyum senang, dalam peti itu ada Sehun yang terbaring dengan wajah pucatnya.

" Satu guardian's kini milikku. " Gumamnya.

" Aku kembali tuanku. " Sapa seseorang dengan suara beratnya.

Pria itu melihat anak buahnya yang baru kembali dan tersenyum begitu melihat apa yang dibawanya.

" Kerja bagus, kau mendapatkan gadis itu. "

Pria misterius itu tertawa dengan keras saat anak buahnya menurunkan gadis manis bermata panda yang tak sadarkan diri tepat di hadapannya.

" Kita lihat apa yang akan terjadi nanti.. Hahaha.. "

- The Guardian's -

Hallo.. Maaf untuk keterlambatan update ini.

Aku baru bisa menyelesaikan ff ini hari ini, karena itu jika ceritanya terlalu membosankan aku mohon maaf. Aku merasa jika chapter ini sangat mengecewakan, aku benar-benar kehilangan feel untuk mengetik ff ini karena kesibukan yang cukup padat.

Terima kasih untuk kalian semua yang telah memberikan review, aku tak bisa mengucapkan satu-persatu pada kalian yang terus mengikuti ff ini.

Berikan review kalian jika kalian menyukai cerita ini.