[DISCLAIMER]
The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.
.
HEART CONTRACT
심장 계약
[ChanBaek GS]
.
Remake story by Santhy Agatha
.
"Dan seperti inilah semuanya berakhir. Entah berakhir seperti apa, aku siap!"
.
.
FINAL CHAPTER
Ketika keadaanya membaik dan sudah diperbolehkan masuk kerja, Baekhyun langsung mengunjungi Garden Cafe itu sepulangnya kerja di sore hari, dia sangat merindukan milkshake yang bisa menenangkan hatinya.
Seperti biasa, Taehyun pula lah yang mengantarkan minumannya. Lelaki itu hampir selalu ada di cafe ini. Cafe ini adalah rumahnya, katanya. Dia tinggal di lantai dua cafe ini seorang diri karena kehilangan isteri dan anaknya dalam sebuah kecelakaan. Sejak itu dia menjadi pengurus cafe ini karena kebetulan pemilik cafe ini mengenalnya sejak dulu, dan menyibukkan diri menjadi pelayan cafe ini.
"Lama sekali kau tidak muncul Baekhyun, aku sampai berpikir kalau kau mulai bosan dengan milkshake kami."
Baekhyun tertawa, menerima gelas yang berisi milkshake itu dengan tangannya, "Aku tidak pernah bosan kemari. Milkshake di sini paling enak di dunia." jawabnya, membuat Taehyun terkekeh.
"Bagaimana dengan pernikahanmu? Aku harap kau sudah menyelesaikan segala permasalahan di sana."
Ekspresi Baekhyun langsung berubah sedih, "Semua tidak berjalan seperti yang semestinya, Taehyun... Mungkin keputusan akhirnya adalah kami akan berpisah."
"Apa?" Taehyun setengah berseru, menatap Baekhyun dengan serius, "Kau akan berpisah dengan Chanyeol? Apakah kau serius? Kalian sepertinya pasangan yang sangat cocok."
Mereka memang beberapa kali makan malam di cafe ini kalau Chanyeol kebetulan ada waktu dan menjemputnya sepulang kerja. Dan tentu saja di depan umum, mereka berpura-pura seperti pasangan bahagia yang mesra. Mungkin hal itu juga yang ditangkap Taehyun selama ini.
Baekhyun tersenyum sedih, "Hubungan kami sangat rumit Taehyun, saking rumitnya sampai kami tidak bisa menemukan jalan keluar untuk saling bertemu."
Taehyun menatap Baekhyun menyelidik, "Apakah ada orang ketiga di antara kalian?"
Bayangan Rose langsung terlintas di benak Baekhyun. Membuat rasa nyeri itu kembali menyerang dadanya. Rose yang begitu cantik dan menggoda. Baekhyun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Rose. Dan meskipun Chanyeol mengatakan tidak ada apa-apa antara dirinya dengan Rose, bahwa hubungan mereka sudah berakhir sejak lama, tetap saja Baekhyun merasa ragu.
"Ada seorang perempuan dari masa lalu. Dia sangat cantik," Baekhyun tercenung.
"Apakah Chanyeol berselingkuh darimu?"
"Tidak." Baekhyun membantah cepat, "Chanyeol tidak berselingkuh, tetapi perempuan itu tidak berhenti mengejarnya dan aku takut... Aku takut..." Baekhyun menelan ludahnya, "Aku takut pada akhirnya Chanyeol akan tergoda."
Taehyun terkekeh, "Itu berarti kau cemburu dan jika kau cemburu berarti ada cinta di dalamnya." suara Taehyun berubah serius, "Apakah kau mencintai suamimu, Baekhyun?"
Baekhyun tertegun lama mendengar pertanyaan Taehyun. Apakah dia mencintai Chanyeol? Chanyeol yang begitu kuat sekaligus rapuh? Chanyeol yang penuh kasih sayang dan siap menopangnya ketika dia membutuhkan?
Baekhyun memejamkan matanya, "Ya Taehyun. Aku mencintai suamiku. Sangat."
Taehyun tersenyum, "Kalau begitu perjuangkanlah pernikahanmu. Kau tahu kata-kataku tentang Milkshake dan pernikahan? Bahwa asamnya strawberry bisa menjadi nikmat dengan takaran susu yang pas? Dalam pernikahan, cintalah bumbu penyedap itu. Selama kau masih punya cinta, kau masih punya kesempatan untuk memaniskan pernikahanmu." Taehyun menepuk pundak Baekhyun lembut sebelum melangkah pergi,
"Berjuanglah, jangan menyerah begitu saja." gumamnya.
.
.
.
Ketika Baekhyun pulang malam itu, Suasana rumah sunyi senyap, dengan pelan dia menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Jas Chanyeol tampak tersampir di kursi di kamar itu, menunjukkan kalau lelaki itu sudah pulang dan berada di suatu tempat di rumah ini. Baekhyun teringat perkataan Taehyun tentang mempertahankan pernikahan.
Dia memang punya cinta untuk pernikahan ini. Tetapi apakah Chanyeol juga mempunyainya?
Baekhyun menghela napas panjang, dia tidak akan tahu kalau dia tidak menanyakannya. Setidaknya kalau ternyata cinta Baekhyun bertepuk sebelah tangan, dia tidak meninggalkan pernikahan ini dengan perasaan bertanya-tanya.
Rumah tampak lengang, tidak ada siapapun di sana. Para pelayan mungkin sedang sibuk di dapur. Dan Chanyeol... mungkin ada di ruangan kerjanya.
Baekhyun melangkah menuruni tangga dengan pelan, kemudian tertegun ketika berada di ruang tamu dan menatap ke luar jendela. Ada mobil warna kuning cerah yang diparkir di halaman. Apakah Chanyeol sedang menerima tamu?
Baekhyun melangkah penuh ingin tahu ke ruang kerja Chanyeol, terdengar suara percakapan samar-samar di sana. Pintu ruang kerja tidak tertutup sepenuhnya sehingga suara di dalam masih bisa keluar. Itu suara perempuan... Suara Rose!
0h Ya ampun! Bahkan perempuan itu masih mengejar kemari, di rumah Chanyeol. Bertamu pada malam hari pula, dengan kemungkinan Baekhyun sudah ada di rumah. Sungguh keterlaluan!
Tetapi kemudian, percakapan yang terdengar olehnya membuatnya tertegun.
.
.
.
"Apakah tujuanmu pada akhirnya tercapai?" itu suara Rose dengan ciri khas genit dan bercampur logat kebarat-baratannya.
"Tidak. Belum. Dan aku masih membutuhkan bantuanmu." itu suara Chanyeol, terdengar tegas dan dingin.
"Ah, Chanyeol yang keras hati ternyata masih membutuhkan bantuanku." Rose terdengar terkekeh geli, lalu suaranya merendah sensual, "Seperti malam itu, ketika kau menyuruhku menyusul ke cottage tempatmu berada, tepat setelah kau bertengkar dengan Baekhyun... Ternyata aku masih berguna juga untuk menyenangkanmu."
Chanyeol yang menyuruh Rose menyusul ke cottage itu? Jadi bukan Rose yang menyusul dengan inisiatifnya sendiri karena obsesinya terhadap Chanyeol?
Wajah Baekhyun memucat. Astaga, betapa keterlaluannya Chanyeol. Pada satu titik dia merayu Baekhyun karena terdorong nafsu di atas ranjang dan ketika Baekhyun menolaknya, dengan mudahnya Chanyeol memanggil perempuan lain untuk memuaskan nafsunya!
Baekhyun mungkin telah salah menilai Chanyeol, lelaki ini bermoral bejat, dia tidak seharusnya mencintai Chanyeol!
"Baekhyun?" suara Chanyeol membuat Baekhyun yang berdiri terpaku di pintu terlonjak dari lamunannya, "Sudah sejak kapan kau ada di situ?"
Suara Baekhyun bergetar karena emosi, "Sudah sejak aku mendengar betapa tidak bermoralnya dirimu!" Ditatapnya Chanyeol yang terpaku dengan tatapan cemas dan Rose yang memandangnya dengan senyuman aneh berganti-ganti, "Aku menginginkan perceraian. Segera." air mata mulai membuat matanya terasa panas. Tidak! Chanyeol tidak boleh melihatnya menangis!
Dengan segera, dia membalikkan badan, hendak meninggalkan tempat itu. Tetapi Chanyeol bergerak cepat dan meraih tangannya, menahannya dengan keras.
"Tunggu dulu!" serunya marah, "Kau salah paham! Biar aku jelaskan."
"Menjelaskan apa?" Kali ini Baekhyun tidak bisa menahan air matanya, "Aku mendengar sendiri, ternyata kau yang menyuruh Rose menyusulmu ke pantai itu. Bukan Rose yang mengejarmu! Aku jijik kepadamu Chanyeol! Aku tidak menyangka kau tidak bisa menahan nafsumu, padahal status kita masih suami isteri. Setidaknya kau harus menghormatiku, meskipun pernikahan ini hanya sandiwara!"
Baekhyun berteriak tidak peduli ada Rose di sana, mendengar semuanya. Toh pernikahan ini akan berakhir bukan?
"Kau salah paham! Aku tidak menyuruh Rose menyusul untuk menidurinya!" Chanyeol berseru setengah emosi, "Aku menyuruhnya untuk membantuku! Untuk membuatmu cemburu!"
Apa? Baekhyun tertegun. Pernyataan terakhir Chanyeol... Apakah dia tidak salah dengar? Chanyeol meminta Rose membantu membuatnya cemburu? Kenapa Chanyeol melakukannya? Ditatapnya Rose yang melihat pertengkaran mereka sambil mengangkat alis dan senyum menghiasi bibirnya yang berlipstick merah menyala itu.
"Wah... Wah, sepertinya ini pertengkaran pribadi suami isteri, dan aku tidak berhak ikut campur." Rose meraih tasnya yang tergeletak di meja, "Seharusnya kau berbangga hati Baekhyun, seorang Chanyeol, yang tidak pernah peduli pada seorang perempuan, sampai memohon bantuanku, hanya untuk membuatmu cemburu." Rose mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah pergi, "Dulu aku dan Chanyeol memang kekasih, tetapi sekarang tidak lagi. Kami hanya bersahabat, aku sudah menikah secara rahasia dengan kekasih sejatiku, bahkan Chanyeol yang menjadi saksi pernikahan kami. Aku berutang kepada Chanyeol, karena itulah aku setuju untuk membantunya."
Rose lalu melempar senyum kepada Chanyeol, "Sepertinya sampai di sini aku bisa membantumu, Chanyeol sayang. Semoga kau bisa membereskan masalah rumah tanggamu dengan baik dan berujung bahagia." lalu perempuan itu melangkah pergi meninggalkan ruangan.
.
.
.
Baekhyun tertegun, menatap kepergian Rose, lalu berbalik menatap Chanyeol dengan marah, dihempaskannya tangan Chanyeol yang masih menahan tangannya, kali ini Chanyeol menyerah dan melepaskannya. Mereka berdiri berhadap-hadapan di depan ruang kerja Chanyeol.
"Apa maksud semua ini?"
Chanyeol mengacak rambutnya frustrasi, lalu melangkah memasuki ruangan kerjanya, "Duduklah, dan aku akan menjelaskan semuanya."
Tanpa suara Baekhyun mengikuti Chanyeol dan duduk di sofa ruang kerja itu, di depan Chanyeol.
"Jelaskan padaku." gumam Baekhyun dengan suara bergetar ketika Chanyeol tetap tidak bersuara.
Lelaki itu memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafasnya.
"Seperti yang kau bilang tadi, aku meminta bantuan Rose untuk membuatmu cemburu."
"Kenapa?" sela Baekhyun cepat.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tajam, "Karena aku ingin kau cemburu kepadaku."
"Lalu apa tujuanmu? Apakah untuk memuaskan ego lelakimu ketika isterimu cemburu kepadamu?" gumam Baekhyun jengkel. Sialan! Semua ini direncanakan dan dia terpancing dengan mudahnya. Mungkin Chanyeol dan Rose menertawakan sikapnya diam-diam di belakangnya. Pemikiran itu membuat hatinya terasa sakit.
"Bukan, astaga Baekhyun, kenapa kau selalu berpikiran buruk kepadaku?" gumam Chanyeol marah, "Aku ingin kau cemburu kepadaku karena aku mencintaimu."
Kali ini Baekhyun benar-benar ternganga, itu tadi... Apakah itu pengakuan cinta Chanyeol kepadanya?
Chanyeol melirik Baekhyun yang terpaku, lalu tersenyum kecut.
"Yah, semua karena aku mencintaimu, mau dibilang bagaimana lagi. Kau mungkin tidak percaya. Tetapi aku sudah menyimpan perasaan kepadamu sejak di pesta itu, ketika aku melihatmu pertama kali, berdiri dengan cantiknya di sana sendirian. Lalu dengan angkuhnya menolak rayuanku. Aku menyelidiki masa lalumu lebih karena aku ingin tahu tentangmu, bukan karena kau adalah kakak Hyunmin. Dan aku semakin mencintaimu ketika tahu kisahmu, masa lalumu bersama Minhyun, segalanya..." Chanyeol mendesah frustrasi, "Kau mungkin tidak akan percaya, tetapi bahkan aku menawarkan perjanjian sandiwara gila itu lebih karena aku terdorong oleh perasaanku, daripada akal sehatku. "
Ketika Baekhyun tetap tidak berkata-kata, Chanyeol melanjutkan.
"Seiring berjalannya waktu perasaanku semakin dalam. Pernikahan ini adalah saat paling membahagiakan dalam hidupku. Ketika aku bangun di pagi hari dan menyadari kau sedang bergelung mencari kehangatan di tubuhku, ketika aku bergegas pulang dari kantor karena tidak sabar bertemu denganmu. Ketika aku menatapmu dan bergumam dalam hati, memanggilmu sebagai isteriku. Aku merasa terlalu bahagia, sehingga menyimpan harapan konyol bahwa pernikahan ini akan berlangsung selamanya."
Chanyeol menatap Baekhyun lekat-lekat, matanya tampak sedih, "Tetapi aku tidak bisa membacamu. Aku tidak bisa menebak perasaanmu, karena itulah aku meminta Rose membantuku, untuk melihat apakah kau cemburu kepadaku." Chanyeol mendesah, "Cara kau memarahi Rose di makam itu membuatku bahagia luar biasa, kau dengan gigih mempertahankanku. Karena itulah malam itu aku berharap lebih, terlalu percaya diri, aku memutuskan untuk merayumu..." Chanyeol mengerjapkan matanya, "Tetapi kau tahu hasilnya seperti apa bukan? Bukannya merayumu, aku malah menunjukkan kepadamu bahwa aku hanyalah bajingan yang menyimpan nafsu tak bermoral kepadamu."
Baekhyun menggelengkan kepalanya, tetapi tak bisa berkata-kata.
"Malam itu aku begitu marah," gumam Chanyeol, "Aku ingin membuatmu menunjukkan kalau kau juga menyimpan perasaan yang sama kepadaku. Dalam kemarahanku aku menelepon Rose, untuk menyusul ke pantai, untuk memancing cemburumu lagi. Mungkin dengan kehadiran Rose kau bisa menyadari bahwa kau sebenarnya juga tertarik kepadaku." Chanyeol tertawa pahit, menertawakan dirinya sendiri, "Pada akhirnya kau malahan mengatakan kepadaku bahwa pernikahan kita bagaikan di neraka untukmu. Dan kemudian aku malahan membuatmu celaka... Oh astaga padahal yang kuinginkan hanyalah mengetahui perasanmu kepadaku. Aku akan sangat senang kalau kau juga mencintaiku, tetapi kalau kau belum mencintaiku pun aku bertekad akan membuatmu mencintaiku."
"Bukan salahmu kalau aku tenggelam..." desah Baekhyun cepat.
Chanyeol mengangkat bahu, "Jangan membelaku, semua salahku. Aku yang memaksamu mencoba berenang di laut, aku berjanji untuk menjagamu tetapi pada akhirnya kau malah tenggelam. Aku tidak ingin membuatmu menderita, karena itulah aku menyerah. Kau akan kuberikan perpisahan yang sangat kau inginkan itu. Tetapi... Aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu Baekhyun, dan aku tidak peduli kau membalas cintaku atau tidak. Aku ingin kau tahu, cintaku ini milikmu, bahkan nanti ketika kita sudah bercerai. Tetapi seandainya kau memberiku kesempatan, aku ingin menunjukkan bahwa aku mencintaimu, lebih dari yang pernah kau tahu."
Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca. Semua informasi ini terlalu mendadak, sekaligus terlalu membahagiakan. Baekhyun tidak pernah menyangka kalau Chanyeol menyimpan perasaan kepadanya. Bahwa lelaki itu memupuk perasaannya pelan-pelan, diam-diam dan semakin dalam selama pernikahan mereka.
"Tetapi aku tidak ingin bercerai," gumam Baekhyun pelan.
Chanyeol mengerutkan keningnya mendengar jawaban Baekhyun, "Tetapi kau bilang kau tidak bahagia, karena pernikahan ini seperti di neraka?"
Baekhyun berdehem, jantungnya berdegup liar, "Itu semua luapan perasaan kekanak-kanakanku, karena aku cemburu."
"Apa?" suara Chanyeol menjadi dalam, dan was-was, "Apa Baekhyun?"
"Aku mengatakan itu karena aku cemburu." kali ini suaranya lebih mantap.
"Dan itu karena...?" suara Chanyeol semakin tegang. Baekhyun bisa merasakan jantung Chanyeol berdegup liar, sama sepertinya.
"Karena aku sepertinya juga menyimpan perasaan kepadamu."
"Baekhyun!" Chanyeol berseru, lalu melangkah cepat ke arah Baekhyun dan menariknya berdiri menghadapnya, "Katakan sekali lagi! Apa maksudnya itu?"
"Karena aku juga mencintaimu." kali ini Baekhyun tersenyum lebar, "Dan terima kasih kepada Rose, dia memang membantumu, karena kalau tidak ada dia, aku tidak akan menyadari perasaanku."
Chanyeol berseru pelan, lalu memeluk Baekhyun erat-erat. "Ah. Ya Tuhan Baekhyun." suara lelaki itu bergetar, "Kau tidak menyadari betapa seringnya aku mencoba membaca hatimu, menebak-nebak apa yang ada di dalam kepala cantikmu itu. Aku tidak pernah merasa begini kepada wanita lain sebelumnya. Tidak pernah!"
Dengan lembut, Baekhyun membalas pelukan Chanyeol, lelaki itu kini terasa lebih dekat, tanpa penghalang saat mereka sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
"Jadi kita harus bagaimana?" gumam Baekhyun dalam senyuman.
Chanyeol menatapnya serius. "Tidak ada perceraian. sudah pasti tidak akan ada!" Chanyeol menjauhkan tubuhnya sedikit dari Baekhyun, lalu mengecup dahi Baekhyun, mengecup pipi Baekhyun, mengecup bibir Baekhyun dengan kecupan ringan yang lembut. "Suka atau tidak suka kau akan menjadi isteriku selamanya."
Baekhyun terkekeh, "Kau sangat arogan, Chanyeol."
Lelaki itu balas tersenyum, "Aku sudah memilikimu sebagai isteriku, dan akan kupertahankan." mata Chanyeol bersinar sensual dan suaranya menjadi parau, "Mungkin sekarang kita bisa membahas masalah malam pertama."
Baekhyun memukul lengan Chanyeol sambil tertawa, "Apakah hal itu tidak jauh-jauh dari otak kotormu selama ini?"
Chanyeol tertawa, tawanya lepas, tampak bahagia. "Kau tidak tahu betapa susahnya untukku menahan diri tidak menyentuhmu di ranjang itu. Setiap pagi aku bangun dengan nyeri yang menyiksa. Tetapi saat itu kupikir semua sepadan, karena pada akhirnya aku akan memilikimu."
"Tetapi kau menyerah untuk melepaskanku tadi."
"Karena aku mencintaimu, karena aku ingin kau bahagia." Chanyeol menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir
Baekhyun dengan lembut, "Sekarang setelah aku mengetahui perasaanmu kepadaku, jangan harap kau akan kulepaskan."
Baekhyun membalas kecupan Chanyeol, sejenak mereka hanyut dalam ciuman yang panas, sampai Chanyeol mengangkat kepalanya dengan napas terengah, "Aku merencanakan bulan madu di Paris dengan suasana romantis, tetapi sepertinya aku tidak mau menunggu." matanya bersinar penuh pertanyaan, membuat Baekhyun terharu sekaligus merasa sangat dihargai.
Ketika Baekhyun menganggukkan kepalanya dengan lembut, Chanyeol meraih Baekhyun dan menggendongnya, seolah Baekhyun begitu ringan di tangannya, "Kalau begitu sekarang." gumamnya penuh hasrat, lalu mengangkat isteri yang belum pernah disentuhnya, dan membawanya menaiki tangga menuju kamar.
Baekhyun mengalungkan lengannya di leher Chanyeol dengan bahagia, tak pernah disangkanya pernikahan sandiwara karena perjanjian ini akan berakhir seperti ini. Berakhir menjadi penyatuan hati, menjadi perjanjian hati.
Baekhyun memejamkan matanya, tidak ini bukan akhir. Ini adalah awal segalanya, bisa dibayangkannya dia dan Chanyeol bergandengan di usia senja, menatap wajah anak cucu mereka dengan bahagia.
Tuhan memang selalu memberikan skenario misterius bagi umatnya. Dulu dia pernah begitu mencintai Minhyun hingga merasa tidak mampu mencintai lelaki lain. Tetapi kemudian Tuhan memberikan Chanyeol untuknya, yang dicintainya dengan begitu saja. Yang juga mencintainya dengan begitu saja.
Dan dia yakin bahwa mereka akan bahagia sampai akhir. Karena mereka saling mencintai, dan hati mereka sudah saling berjanji.
.
.
.
[ Bersambung ke EPILOG ]
.
.
.
Pojok Curhat Halu Author :
Annyeong.. fast update nih :)
Oya.. aku numpang curhat boleh ya. sebenarnya malam ini aku sedih banget. Aku ngerasa jadi isteri durhaka karena gak bisa nemenin suami-suami aku hajatan di Jekardah :(
Awalnya uri husbands sempet maksa mau kirimin tiket pesawat dan tiket Mubank nya karena aku bilang gak punya duta (baca: do it), tapi kemudian aku tolak dengan bilang "Mianhe uri nampyon, aku gak bisa soalnya cucian numpuk ㅠㅠ".
Untungnya mereka gak sampai minta cerai *elus dada* Tapi gitulah resikonya bersuami idol. Habis ijab kabul, belum sempat disentuh udah main terbang ke korea aja.. serasa jadi janda kitee ㅡ_ㅡ
Udah gitu aja deh, terima kasih banyak sudah nyempetin baca tulisan halu ini. Daripada merana-merana gaje, ngayal dikit gapapa kan? ㅅwㅅ
Chapter epilog nya ditunggu ya! See you *ketjup*
-ByunYeol-
