Chapter 10 : Yellow Tulip

Disclaimer : Hiro Mashima

Warning : AU, OOC, and typo(s)

Pair : Gray Fullbuster and Juvia Locksar

Genre : Romance/Drama

Rate : T

.

.

Yellow Tulip

-Setitik cahaya di matamu.

.

.

"Bagaimana Kemoterapi terakhirnya?" Suara manis seorang gadis menggema di dalam ruangan itu memecah keheningan. Tetes-tetes air hujan mengalir di kaca jendela, memecah lamunan seorang lelaki berambut hitam yang sedari tadi hanya terpaku menatap taman di luar.

"Lancar..." Balas lelaki itu sambil menghembuskan nafas pelan.

Kieett-

Lelaki itu berbalik dari kursinya, menatap gadis yang sejak lima menit lalu masuk ke dalam ruangan miliknya. Permata coklat gadis itu berkilat, seakan menunggu lanjutan kalimat yang gadis itu harap keluar dari bibirnya.

Namun nihil, karna pada dasarnya ia sudah tak tahu harus berkata apa lagi.

"Apa maksud-"

"Kami akan segera melanjutkan proses Radioterapi." Ia memutus pertanyaan gadis itu cepat. "Tapi aku harus tetap mengontrol kondisi and memutuskan kapan baiknya kami melakukan itu."

"Gajeel-san..."

"Lucy..." Gajeel memanggil nama gadis itu pelan, ia biarkan kepalanya berpangku pada kedua tangan kekar miliknya, menyembunyikan wajah di antara telapak tangannya. "Aku tahu ini akan sangat berat, melihat bagaimana keadaanya... Maafkan aku..." Suara Gajeel bergetar. "Hanya ini yang dapat kulakukan."

Lucy terdiam, hanya dapat menatap Gajeel dalam. Kemudian ia menarik nafas dalam, mencoba menarik sudut bibirnya hingga seulas senyuman tipis terlukis di bibir ranumnya.

"Aku tahu, aku takkan menyerah." Ucapnya kemudian sambil berbalik dan melangkah keluar. Meninggalkan Gajeel yang masih merunduk terdian di meja kerjanya.

.

.

.

"Selamat Pagi." Suara Lucy terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu putih yang ada di ruangan itu, menarik perhatian seorang wanita paruh baya berambut biru yang sedari tadi terdiam di sisi ranjang. "Pagi, Oba-san." Sapanya lagi melanjutkan langkah

"Pagi, Lucy." Wanita itu tersenyum tipis, garis kelelahan tergambar jelas di wajah cantiknya. "Sudah sarapan?" Tanyanya lembut.

"Sudah, Oba-san." Lucy menjawab selagi tangannya sibuk menggenggam seikat bunga Tulip bewarna kuning. "Kalau Oba-san?" Balasnya sambil menaruh bunga-bunga itu di atas meja.

Wanita itu hanya tersenyum dan menggeleng.

"Kalau begitu Oba-san, pulanglah dulu. Biar aku yang jaga Juvia selagi Oba-san beristirahat." Saran Lucy kemudian, kaki jenjangnya melangkah mendekati wanita itu. "Istirahatlah sebentar." Senyumnya lembut.

"Maaf merepotkanmu." Wanita itu _Julia_ bangkit dari kursinya, meraih tas hitam yang tergeletak di sofa dekat jendela. "Aku takkan lama."

"Ambilah waktumu, Oba-san." Lucy membalas cepat. "Aku tak ada acara hari ini." Ucapnya tertawa pelan, membuat Julia balik tersenyum.

"Mika dan Gray akan segera kemari." Julia berucap selagi melangkah keluar ruangan. "Mintalah tolong pada mereka bila ada apa-apa."

"Baik." Lucy mengangguk. Julia terdiam sebentar menatap Juvia yang sedaritadi tertidur di atas ranjang. Dengan senyuman tipis, akhirnya ia melangkah keluar.

Keheningan seketika menyelimuti ruangan tempat Juvia di rawat. Dengan segera, Lucy menaruh tasnya di atas sofa dan duduk di sana. Mengeluarkan beberapa kotak makanan dan menaruhnya di meja samping. Sejujurnya ia belum menyentuh makanan sama sekali sejak semalam, dan sebenarnya dia tidak merasa lapar sedikitpun. Sejak beberapa hari yang lalu, pikirannya hanya dipenuhi oleh Juvia dan hasil kemoterapi gadis itu. Perlahan ia menatap Juvia yang masih terlelap, entah karna efek obat yang gadis itu konsum atau dikarenakan tubuh lemah gadis itu, Lucy tak tahu. Yang ia tahu kini sahabatnya takkan bangun untuk beberapa jam ke depan.

Segera Lucy bangkit, berniat membuka sedikit jendela berhubung hujan sudah reda di luar.

"Ugh-" baru saja ia bangkit, suara erangan itu menarik perhatiannya, dengan segera ia menengok ke arah Juvia yang tengah mengerutkan kedua alis.

"Juvia-chan?" Lucy memanggil gadis itu pelan selagi kakinya melangkah menghampiri Juvia. "Juvia?" Jemari lentik Lucy bergerak menyentuh lengan Juvia pelan, ditatapnya Juvia yang bergetar pelan selagi keringat dingin mengalir di pelipis gadis itu. "Hey-"

"Nggh..." Juvia meneguk ludahnya, membukan kedua kelopat mata pucatnya perlahan hingga munculnya kedua manik biru miliknya. Menatap kosong pada tembok yang ada di ruangan tempatnya berada.

"Juvia?" Senyum Lucy melebar mendapati kedua mata Juvia yang terbuka. "Hey.." Ia memanggil Juvia lembut selagi ia tarik kursi untuk dia duduki tepat di samping ranjang Juvia. "Apa kabar?" Tanyanya kemudian.

Kepala Juvia mengengok, manik biru gadis itu mencoba menatap Lucy yang masih tersenyum lebar menanti jawaban. "Lu..cy?" Panggil Juvia kemudian.

"Iya, ini aku Lucy. Kau butuh sesuatu?" Ucapnya lembut. Namun Juvia kembali terdiam. Ia dapati bola mata gadis itu yang bergetar seakan mencari objek yang bersembunyi di hadapannya. "Kau tak apa?" Tanya Lucy khawatir, mengelus kepala Juvia lembut. "Mau kuambilkan minum?"

Juvia hanya tersenyum tipis kemudian. Menggeleng. "Lucy..." Suara parau gadis itu terdengar berucap. "Boleh minta tolong nyalakan lampu-nya saja?"

Lucy terdiam. Menatap Juvia yang kini sedang berusaha bangkit untuk duduk. Ia meneguk ludahnya, membantu Juvia kemudian. "A-apa maksudmu, Juvia-chan?" Tanyanya ragu.

Juvia tersenyum tipis. "Di sini sedikit gelap." Ucapnya kemudian. "Apa masih malam?"

Lucy menahan nafasnya sebentar, senyum yang sedari tadi terukir di bibirnya hilang. Ucapan Gajeel kembali terlintas di pikirannya.

'Sel-nya sudah menyebar ke indra penglihatannya, ada kemungkinan besar ia akan terbangun dan tak dapat melihat dengan jelas.'

"Juvia-chan, sebenarnya... Ini sudah pagi." Lucy terbata, tangannya bergerak menggenggam tangan Juvia erat. "Tenang ini hanya-"

"Oh." Juvia memutusnya cepat, mengulum senyuman tipis di bibir pucatnya. "Efeknya, ya?" Tanyanya kemudian. Ia menghembuskan nafas pelan, menundukkan kepalanya. "Kalau begitu aku akan menunggu sampai kembali. Lu-chan, pukul berapa ini?"

"Pukul.. Sembilan." Jawab Lucy pelan.

"Boleh aku minta tolong nyalakan televisi-nya?" Pintanya kemudian, Lucy mengangguk meraih remote yang ada di meja sampingnya. "Kau ingin aku tekan tombol berapa?"

"Lima." Ucap Juvia singkat. "Terimakasih."

Suara televisi terdengar kemudian, mengisi keheningan yang sedari tadi menyelimuti keduanya. Lucy terdiam menatap Juvia yang kini sibuk menonton acara yang ada di televisi. Ia tahu, gadis itu tak berniat menontonnya, ia pun yakin Juvia tak tahu sama sekali siapa pembawa acara yang ada di sana. Lucy tahu tujuan Juvia menyalakan televisi hanya agar keheningan tak merambat masuk memenuhi pikirannya selagi matanya tak dapat memandang dengan jelas apa yang ada di hadapannya.

"Kau mau makan sesuatu?" Tanya Lucy kemudian, Juvia dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku membuat sushi yang kau suka, kau tak lapar?"

Juvia tersenyum menoleh ke arah Lucy, "Tak apa?" Tanyanya kemudian.

"Aku yakin sushi yang kubuat ini sehat bahkan untuk orang sakit sekalipun, kok." Jawab Lucy jengkel membuat Juvia tertawa kemudian.

"Baiklah, boleh berikan Juvia sumpitnya, Lucy-sama." Ucap Juvia sambil mengadahkan kedua tangannya di hadapan Lucy.

"Uhm- uhm-" Lucy menggelenggkan kepalanya, sebelah tangannya sibuk menggenggam sumpit dan mengambil sepotong sushi yang sudah ia tata di kotak makan. "Biar aku yang menyuapimu. Buka mulutmu, Juvia-hime." Lanjutnya kemudian.

Hingga akhirnya tawa kedua gadis itu menggema di ruangan dingin tempat mereka berada.

.

.

.

"Tidurlah sebentar kalau kau mengantuk." Suara Mika terdengan bersamaan dengan pintu mobil yang terbuka.

"Aku tak apa." Balas pemuda yang sedari tadi duduk di kursi penumpang tepat di sampingnya.

"Kau baru tidur jam 4 pagi, Gray." Lanjut wanita itu lagi.

"Aku tak apa, Okaa-chan." Jawab pemuda bersurai hitam itu selagi bangkit dan ikut keluar dari mobil. Membuat Mika hanya dapat menghebuskan nafas panjang. Ia buka pintu bagasi mobilnya kemudian, mengambil tas kecil berisikan pakaian dan beberapa kotak makan.

"Masuklah dulu." Perinta Mika selagi memberikan tas-tas itu pada Gray. " Aku mau pergi menghampiri Julia." Lanjutnya berucap, Gray hanya mengangguk mengiyakan.

Pemuda itu berbalik dan segera melangkah masuk ke rumah sakit. "Gray!" Panggil Mika lagi membuat Gray berbalik menoleh ke arah ibunya. "Jangan lupa makan." Ucapnya lagi lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi.

.

Gray melangkah pelan, melirik jam tangannya yang kini menunjukkan pukul sepuluh pagi. Suara langkah kakinya menggema di lorong sepi rumah sakit itu, ia baca satu demi satu nomor kamar yang tertera di samping pintu, berharap segera menemukan di mana ruang Juvia berada. Walaupun pada dasarnya pemuda itu sudah hapal betul di mana ruangan milik gadis itu.

Manik biru tua-nya menatap kosong pada jalan lorong di depannya. Pikirannya entah kenapa kembali ke saat di mana ia menemukan gadis itu menangis di halte bus, kalau dihitung-hitung sudah lebih dari dua minggu berlalu. Dan sejak saat itulah hal yang ia lakukan hampir setiap hari adalah datang dan mengisi lebih dari setengah hari-nya menemani Juvia.

Walau notabene ia-pun jarang berbicara dengan gadis itu, lebih sering memperhatikan Lucy yang sibuk berkicau tentang hari-nya, apalagi bila Natsu ikut dalam obrolan mereka. Atau ia hanya dapat memperhatikan ibu Juvia dan ibunya berkumpul memastikan gadis itu baik-baik saja hampir setiap menitnya. Atau malah ia terdiam melihat Gajeel memeriksa Juvia setidaknya dua kali setiap harinya. Hari-hari ia lalui hanya dengan memperhatikan, mendengar, dan melihat tanpa dapat berkomukasi secara langsung dengan gadis itu.

Gray menghembuskan nafas pelan, ia tahu tak seharusnya ia bersikap demikian, setidaknya ia harus berbicara pada gadis itu, apapun itu dan meminta maaf. Tapi tenggorokannya selalu terasa tersendat kala menatap gadis bersurai biru yang semakin hari semakin pucat dipandangnya. Lidahnya terasa kelu kala mendengar suara parau gadis itu berucap setiap kata. Matanya terasa kaku kala ia mencoba melirik kedua manik biru Juvia yang tak lagi memancarkan cahayanya seperti dulu.

Dan Gray-pun merasa takut.

Takut bila ia tak lagi dapat memandang sosok gadis itu.

Takut bila ia tak lagi dapat mendengar suara lembut gadis itu.

Takut bila ia tak dapat lagi melihat cahaya hangat yang terpantul di kedua mata gadis itu.

"Hahaha..." Lamunan Gray buyar begitu kedua telinganya menangkap suara tawa yang bergema di lorong rumah sakit. Menghentikan langkahnya yang hampir saja melewati ruang 413 tujuannya. "...hahaha.. Lu-chan!" Gray terdiam, menguping dari balik pintu. Entah sudah berapa lama ia tak mendengar suara tawa lepas mirip Juvia. Seketika bibir pemuda itu mengulas sebuah senyum selagi telingannya kembali menangkap tawa Juvia. Kepalanya terangkat, mencoba mengintip dari balik kaca yang terpasang di pintu. Didapatinya Lucy yang tengah terduduk dan berucap sesuatu entah apa, berharap menangkap sosok Juvia. Namun sayang, tirai putih justru menghalangi pandangnya.

Gray masih terdiam di depan pintu, tak mau merusak suasana dengan kehadirannya yang mungkin saja masih terasa asing bagi Juvia. Hingga setengah menit kemudian tawa gadis itu tak terdengar lagi, sebelah tangan Gray segera terangkat memutar kenop pintu ruangan milik Juvia.

Kriet-

Suara decitan pintu menarik perhatian kedua gadis itu. Lucy dengan cepat melirik ke arah pintu dan mendapati Gray yang perlahan masuk sambil membawa dua buah tas yang kemudian ia letakkan di atas meja tepat di samping pintu.

"Hey." Sapa Lucy kemudian, Gray balas tersenyum terdiam di tempatnya. "Kemarilah." Pinta Lucy kemudian.

Gray melangkah ragu, masih mencoba menatap bayang Juvia dari balik tirai. Tak ia dengar lagi suara manis milik gadis itu.

"Kau kemari dengan siapa?" Lucy bertanya lagi tepat setelah ia berhenti tak jauh dari ranjang tempat Juvia berada. Gray masih ragu untuk menengok menatap gadis berambut biru itu.

"Okaa-chan." Jawab Gray singkat. Senyuman tipis terukir di bibir pemuda itu, ia tengokkan kepalanya menatap Juvia yang balik tersenyum tipis memandanginya. "Ada yang belum makan? Okaa-chan membawakan beberapa kotak makan." Lanjut Gray ragu.

"Kami baru saja sarapan, iyakan Juvia-chan?" Lucy tertawa pelan. "Duduklah, kita bisa simpan makannya untung nanti siang." Lucy bangkit menuju jendela dan membuka kedua kedua kacanya. Membiarkan angin di akhir musim dingin berhembus pelan masuk ke dalam ruangan. Gray memandang Lucy sebentar sebelum akhirnya melangkah duduk tepat di samping ranjang Juvia.

Gadis itu sedari tadi hanya terdiam menatapnya, seakan ingin berucap sesuatu. Membuat Gray gugup dan menggaruk kepalanya pelan.

"Hey," Seulas senyum terbingkai di bibir Gray. "Bagaimana kabarmu?" Tanyanya lembut kemudian. Lucy yang sedari tadi menatap keluar jendela melirik pelan ke arah kedua sahabatnya itu. Mencoba memberi ruang untuk keduanya bicara. Lucy tahu, sudah sejak dua minggu lalu Gray selalu mencari kesempatan untuk dapat berbicara dengan Juvia, tapi pemuda itu selalu terlihat ragu seakan-akan ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.

"Baik." Suara pelan Juvia memecah keheningan. Gadis itu balas tersenyum menatap Gray. Kedua manik biru mudanya bergerak, seakan mencoba memproses sosok yang ada tepat di hadapannya.

"Apa ada sesuatu yang kau inginkan." Tanya Gray kemudian, melipat kedua tangannya di atas ranjang begitu mendapat respon baik dari gadis itu.

Juvia menggeleng masih tersenyum. "Tidak ada. Aku baik-baik saja." Jawab Juvia lagi membuat Gray tersenyum semakin lebar. Seharusnya, ia memberanikan diri sejak awal untuk bicara pada gadis itu, kalau-kan ia tahu akan mendapat respon sebaik ini, seharusnya dari awal ia melakukannya.

"Aku senang mendengarnya." Gray membalas Juvia cepat. "Apa kau-"

"Maaf." Juvia memotong Gray cepat, senyuman masih belum luntur di kedua sudut bibirnya. "Kalau boleh aku tahu di mana Gajeel-kun?" Tanyanya kemudian. Membuat senyum Gray hampir luntur dan menarik perhatian Lucy.

"Gajeel?" Gray bertanya balik dan Juvia mengagguk. "Dia.. Dia sepertinya ada di ruangannya. Ada apa? Ada yang sakit?" Tanya Gray khawatir.

Sekali lagi, Juvia menggelengkan kepalanya. "Tidak."

"Lalu?" Gray kembali tersenyum, kedua tangannya meraih sebelah tangan Juvia dan menggenggamnya. "Ada apa?"

"Hanya saja..." Juvia terdiam sejenak, menatap bunga tulip yang ia tak tau bewarna apa ada di hadapannya. "Tumben sekali."

"Tumben?" Kini gantian Lucy yang bertanya.

Juvia kembali mengalihkan pandangannya pada Gray, menatap manik gelap milik pemuda itu selagi senyum terus terbingkai di bibirnya.

"Tumben ada dokter lain yang memeriksa Juvia." Ucapan Juvia menggema di ruangan itu, menaruh tanya pada kedua orang yang kini menatapnya penuh bingung. "Kalau boleh Juvia tahu..."

"Siapa nama-mu?"

Seketika sebuah petir bagai menyambar dada Gray dalam.

.

.

.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu menggema dari arah ruang tamu, menarik perhatian Julia yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Dengan cepat kakinya melangkah menuju pintu masuk rumahnya. Dari balik jendela ia intip siapa tamu yang datang, memastikan bahwa orang yang datang berkunjung adalah wanita yang sudah ia tunggu sejak beberapa menit lalu. Seketika, seulas senyum terbingkai begitu manik birunya mendapati Mika telah berdiri tepat di depan pintu.

"Sebentar." Kata Julia cepat selagi membuka pintu rumahnya yang terkunci. "Selamat datang." Ucapnya kemudian membiarkan Mika masuk.

"Selamat Pagi." Balas Mika tersenyum. "Sedang bersiap?" Tanya Mika mengikuti Julia yang kembali melangkah menuju dapur.

"Aku sedang menyiapkan makanan, kau tak keberatan menunggu dulu?" Jawab Julia selagi ia kembali menggunakan celemek yang ia gantung.

"Tak masalah, Gray sudah kusuruh menunggu duluan." Ucap Mika sambil memposisikan dirinya untuk duduk di meja makan.

"Lucy juga sudah datang tepat sebelum aku pergi." Balas Julia.

"Kalau begitu tak usah terburu-buru. Aku khawatir makanan yang kau buat rasanya jadi tak karuan." Mika tertawa pelan, membuat seulas senyum terlukis di bibir Juvia.

"Pada dasarnya aku memang tak pandai memasak." Julia berucap selagi tangannya sibuk memotong sayuran yang ada di hadapannya. "Tapi kemampuanku membaik sejak menikah. Ternyata benar ya, menikah bukan berati kau berhenti belajar dan menutup diri dari dunia luar."

"Justru sebaliknya," sambung Mika. Bangkit dari kursi dan melangkah mendekati Julia. "Setelah menikah, justru banyak hal yang harus kau pelajari. Banyak sekali." Lanjutnya. Julia melirik Mika dari ujung mata dan tertawa.

"Benar sekali." Jawabnya.

"Kau ingat dulu hampir membakar dapurku karna menyalakan kompor terlalu besar dan menuang sake tanpa kira-kira?" Mika berucap lagi.

"Aku hampir membakar wajahku sendiri." Jawab Julia kembali tertawa.

"Aku sempat berfikir untuk menghadiahkanmu kompor listrik." Mika mengulum senyumnya.

"Kenapa?"

"Aku khawatir saat kau masak sendirian di rumah, kau akan membakar seisi dapurmu." Lanjutnya tertawa.

"Tak mungkin itu terjadi." Julia balas tertawa. "Lagipula dibanding diriku, Eta-kun lebih sering menghabiskan waktunya memasak untuk kami." Ucapnya tersenyum kemudian.

Keheningan kembali menyelimuti keduanya, menyadarkan Julia akan nama yang sudah lama sekali tak ia sebut keluar dari bibirnya.

Mika terdiam, menatap Julia sebentar lalu permatanya bergerak menuju sebuah bingkai foto yang terletak di atas lemari es. Bingkai yang berisikan foto yang sama persis seperti miliknya.

"Kapan terkahir kali kau menghubunginya, Julia?" Tanyanya kemudian mengisi keheningan.

Julia menarik nafas dalam, mengelap kedua tangannya dengan kain serbet yang ada di atas meja. "Sudah lebih dari setahun." Jawabnya pelan.

"Kau tahu kalian tak bisa selamanya begini 'kan?" Tanya Mika lagi.

"Aku tahu... "Julia terdiam, kedua matanya seketika memancarkan sebuah penyesalan. "Maafkan aku, Mika." Ia menutup kedua kelopak matanya erat. "Aku sudah merusaknya."

Mika melangkah memutari meja mendekati Julia, berdiri tepat di hadapan wanita yang ia sudah kenal lebih dari 25 tahun. Kedua lengannya terangkat menyentuh bahu Julia. Meremasnya pelan. "Bukan salah siapa-siapa." Ucapnya kemudian, tersenyum tipis.

"Tapi andai saja aku tak berbuat di luar batas, persahabatan kita takkan rusak." Suara Juvia tersendat. "Andai saja aku tak terpengaruh saat itu, andai saja aku tak bertemu Gio lagi-"

"Maka takkan ada Juvia." Mika memotongnya cepat. "Kalau ini semua tak terjadi, maka takkan ada seorang gadis kecil yang selalu datang ke rumahku mengetuk pintu dan mengajak Gray bermain. Takkan ada gadis manis yang selalu bertanya banyak hal pada kakak perempuannya. Takkan ada gadis lucu yang membuat kedua orang tuanya tertawa karna tingkahnya. Takkan ada." Lanjut Mika. Ia dapati kedua kelopak mata Julia yang meneteskan air mata, jatuh melewati pipinya. "Julia, semua sudah ditakdirkan Tuhan."

"Aku tahu, hanya saja, aku begitu menyesali semuanya." Julia terisak pelan. "Andai di pemakaman Levy saat itu kami tidak bertengkar dan menyalahkan satu sama lain. Andai kita berdua tak saling mengungkit masa lalu. Ini semua takkan terjadi." Jelasnya kemudian. "Aku bahkan tak punya keberanian untuk menelpon menanyakan kabarnya."

"Kalau begitu lakukan sekarang." Saran Mika cepat. "Telpon dia, perbaiki kesalahannya kalian."

"Aku tak yakin dia mau mengangkat panggilanku." Julia menghembuskan nafas selagi menghapus air matanya.

"Kau juga berfikir Juvia takkan mau bicara lagi padamu saat itu." Mika berkata lagi, menarik perhatian Julia. "Kau belum mencobanya, Julia. Kau selalu menaruh rasa takut pada segala hal yang ingin kau perbuat." Kini gantian Mika yang menarik nafas dalam. "Aku sudah memaafkanmu, kini gilirannya untuk memberikan maaf kepadamu."

.

.

.

"Gajeel-san sudah memperingatkannya 'kan. Dan Gray, ini hanya sementara." Suara Lucy mengisi lorong rumah sakit yang hanya terisi olehnya dan gadis itu. Samar, dapat ia dengar suara tawa ibunya dari dalam ruangan, disusul oleh Juvia. Harusnya ia merasa senang, sama seperti apa yang ia rasakan sesaat sebelum memasuki ruangan Juvia pagi tadi. Sekali lagi ia lirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Seharusnya-pun ia sudah merasa lapar. Tapi perasaan sedih justru yang mendekapnya erat. Manik biru gelapnya memandang lurus pada taman kecil yang ada di hadapannya. Hujan kembali mengguyur sejam yang lalu hingga kini tetes-tetes air kembali jatuh dari atap.

"Gray..." Tangan Lucy terangkat menyentuh bahunya.

"Aku tahu." Gray berucap cepat memejamkan matanya. "Aku tahu ini hanya sebentar." Ia meneguk ludahnya. "Tapi di antara sekian banyak orang yang ia kenal, kenapa harus diriku?"

Lucy terdiam, tak tahu harus berucap apa.

"Kenapa hanya aku?" Kalimat Gray tertahan, kembali ia buka kedua matanya. Menatap lucy yang kini tengah menekuk kedua alisnya. "Hanya saja, Lucy...

"Aku tak mau harus membayangkan setiap saat, setiap kali aku berkunjung, Juvia akan lupa siapa diriku," Gray mendengus, "Ia akan bertanya siapa, lalu, dari awal, aku harus menjelaskan semuanya... Siapa diriku, dan.." Nafas Gray tersendat. "Dan aku bahkan tak tahu apa dia benar-benar mengingatku." Lanjutnya tertawa hambar.

"Kau tahu itu takkan terjadi." Lucy mencoba menyangkal. "Ini takkan selalu terjadi Gray, mungkin memang sialnya saat ini ia tak dapat mengingat siapa dirimu."

"Bagaimana kalau kesialan itu berlanjut, Lucy?" Suara Gray naik satu oktaf, mengejutkan Lucy.

"Kalau begitu terima dan jalani saja." Lucy balas hampir berteriak. "Ini resiko yang harus kita terima. Gajeel-san sudah memberitahu kita bahwa sesaat setelah kemoterapi selesai hal-hal seperti ini akan terus terjadi! Dan juga kita, tugas kita memastikan bahwa Juvia dapat melewatinya." Suara Lucy memelan, tangannya bergerak menggenggam kedua telapak tangan Gray erat. "Masih banyak proses yang harus ia lewati. Kalau bukan kita, lalu siapa yang akan memastikan bahwa akan selalu ada orang yang menuntun Juvia?"

Gray terdiam, menatap dalam manik coklat Lucy yang mulai tergenang oleh air mata.

"Kalau Juvia tak dapat melihat, aku akan jadi matanya." Lucy menarik nafas dalam. "Kalau ia tak dapat berjalan, biar aku jadi kakinya. Kalau ia tak dapat bicara, biar aku yang mengucapkannya." Kedua bibir Lucy bergetar. "Dan bila ia tak dapat mengingatnya, biar aku yang jadi ingatannya.

"Selama masih ada waktu untukku bersama Juvia, aku akan lakukan apapun semampuku. Gray, lakukanlah, selama kau masih bisa melakukannya." Lucy menggenggam tangan Gray semakin erat. "Kumohon teruslah bersamanya."

.

Gray terdiam menatap kenop pintu di hadapannya. Kedua kakinya terasa berat untuk melanjutkan langkah masuk ke dalam. Ia ragu, sejujurnya. Walau ia tahu semua ucapan Lucy ada benarnya, rasa khawatir tetap menghantui perasaannya.

Apakah semua yang mereka lakukan ini akan membuahkan hasil yang baik?

Kriett-

Suara pintu yang terbuka hampir mengagetkan Gray, kini didapati ibunya dan Julia tengah berdiri di hadapannya, memandanginya.

"Aku baru saja mau mencarimu." Ucap Mika kemudian, tersenyum lembut. "Sudah makan siangnya?" Tanyanya kemudian.

Gray hanya mengangguk.

"Di mana Lucy?" Kini gantian Julia yang bertanya.

"Dia.. Barusan pulang, ada urusan mendadak." Jawab Gray jujur.

Mika menganggukkan kepala. "Kalau begitu kau tak keberatan 'kan menjaga Juvia sebentar selagi kami keluar untuk makan?" Gray menggelengkan kepala, sekalipun otaknya berkata lain. "Kami akan pergi ke kafetaria, paling lama sejam." Lanjut Mika.

Sekali lagi, Gray mengangguk. Menatap kedua wanita paruh baya itu yang melangkah keluar. Meninggalkan dirinya di ambang pintu kamar milik Juvia.

'Bodoh.' Batinnya dalam hati. Ia bahkan benar-benar kehabisan kata-kata dengan apa yang terjadi barusan, bagaimana bisa mereka meninggalkan dirinya hanya berdua dengan Juvia tanpa tahu harus berkata apa dengan gadis itu.

Perlahan ia meneguk ludahnya. Melangkah masuk ke dalam. Ia dapati televisi yang masih menyala, dan bayang Juvia yang tengah bersandar pada tempat tidurnya dari balik tirai.

Gray memijat kedua pelipisnya sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkah. Ia tak peduli, dirinya hanya akan melangkah cepat menuju sofa dan segera mengalihkan pandangannya pada televisi, persis seperti yang tengah ia lakukan saat ini tanpa perlu memandang Juvia sedikitpun.

"Baru.. Datang?" Seketika suara pelan Juvia menarik perhatiannya. Dengan cepat ia menengok menatap Juvia dalam diam. "Baru datang?" Tanya Juvia lagi.

Gray mencoba tersenyum. "Iya." Mencoba sebaik mungkin bersikap agar tak menakuti Juvia, yang mungkin saja masih menganggapnya sebagai orang asing.

Juvia mengulum senyum tipis kemudian, senyum yang sama seperti yang ia lemparkan beberapa saat yang lalu. Namun entah kenapa setitik chaya terpantul dari kedua manik biru gadis itu.

"Kau butuh sesuatu, Juvia?" Gray bertanya, Juvia menggeleng. Gray memiringkan kepalanya bingung. Ia langkahkan kakinya mendekati gadis itu.

"Apa tak apa?" Juvia bertanya lagi, menatap Gray yang kini tengah duduk tepat di sampingnya.

"Apanya?" Tanya Gray balik. Ia tatap lurus kedua mata Juvia.

"Untuk tiap hari datang kemari, apa tak apa?" Tanyanya lagi, menarik penuh perhatian Gray.

"Aku.. Tak apa." Gray terdiam sesaat, mencoba memproses apa yang telah terjadi. Beberapa jam yang lalu gadis itu bertanya siapa dirinya, kini, di ruangan yang berisikan hanya dirinya dan Juvia seorang, gadis itu bertanya hal lain seakan Juvia sudah sering melihatnya datang setiap hari kemari. "Kau..." Gray menghembuskan nafas, meraih sebelah tangan Juvia dan mengejutkan gadis itu.

"Gray...-sama?" Gadis itu bingung, mengucap namanya yang rasanya sudah lama sekali tak Gray dengar keluar dari bibir gadis itu.

"Kau... Kau tahu siapa aku?" Tanya Gray ragu.

Juvia mengangkat kedua alisnya semakin bingung. "Kau.. Gray-sama?" Ucapnya lagi. "Kau baik-baik saja, Gray-sama?" Tanya Juvia kemudian begitu mendapati Gray hanya terdiam menatapnya. "Kau sakit?"

Gray menggelengkan kepalanya cepat.

"Aku baik-baik saja." Ucapnya kemudian. Kembali ia tatap kedua manik biru milik Juvia, tangannya menggenggam erat milik Juvia. "Hanya saja... Beberapa jam yang lalu... Kau... Kau lupa siapa diriku."

Kedua mulut Juvia terbuka, "Ma-maaf."

"Tak apa." Gray tertawa pelan, lalu kedua alisnya tertekuk. "Hanya saja sesaat, kupikir kau takkan mengingatku lagi. Sesaat aku berfikir kalau ini terus terjadi, kau mulai melupakan siapa diriku, aku.. Aku takut kau takkan pernah mengingatnya lagi." Nafas Gray tersendat, air mata mulai menembus, mencoba keluar dari kedua kelopak matanya. "Aku takut kau akan melupakanku sepenuhnya." Lanjutnya menundukkan kepala bersamaan dengan air mata yang menetes.

"Gray-sa..." Ucapan Juvia terhenti. Seketika keheningan kembali menyelimuti keduanya. Juvia biarkan Gray menangis di sampingnya selagi pemuda itu menggenggam sebelah tangannya erat. Di sisi lain sebelah tangan Juvia terangkat mengelus pelan kepala pemuda itu.

Untuk pertama kalinya, ia lihat pemuda itu menangis.

"Maafkan aku." Suara Gray terdengar di antara tangisannya. "Maafkan aku, Juvia."

"Aku, semua yang sudah kuperbuat..."

"Tak apa." Juvia memotong Gray cepat. Membuat Gray mengangkat kepalanya dan kini Juvia dapati air mata yang mengalir deras di kedua pipi pemuda itu. "Juvia mengerti."

"Juvia sudah dengar semuanya dari Natsu-kun." Juvia tersenyum tipis. "Gray-sama, kau tak perlu meminta maaf." Lanjutnya.

"Tidak, dengarkan aku..." Sanggah Gray. "Aku, aku tak bermaksud menyakitimu. Semua yang kulakukan, aku berharap agar kau membenciku. Aku tau aku salah." Gray menarik nafas dalam. "Aku ingin kau berhenti bukan karna aku membencimu, Juvia, aku tak ingin kau terus menyukaiku saat aku tak yakin apakah aku dapat membalasnya atau tidak."

"Gray-sama..."

"Aku tak pernah ingin menyakitimu." Gray menghembuskan nafasnya, "Tapi yang kulakukan justru sebaliknya." Tawa hambar terdengar mengikuti kalimatnya.

"Dan setelah apa yang terjadi aku tersadar... Aku, aku ingin terus berada di sampingmu." Genggaman tangan Gray mengerat hingga sedikit sakit yang Juvia rasakan. "Aku ingin kau terus bersamaku."

Juvia tersenyum kecil, melepaskan genggaman tangan Gray. Kedua tangan Juvia bergerak menyentuh pipi pemuda itu. Segenang air mata terlihat membanjiri kelopak mata pucat miliknya.

"Ini berat bagiku, dan kau tahu itu." Juvia menarik nafasnya dalam. Menatap kedua mata Gray. Membiarkan pandangannya tenggelam dalam gelapnya manik samudra milik pemuda itu. "Aku tak tau apa yang akan terjadi, berapa kemungkinan berhasil, dan bagaimana aku dapat menghadapinya." Setetes air mata jatuh melewati pipi pucat gadis itu. "...Apakah aku akan bertahan..."

"Apa kau sanggup bersama denganku melewati ini?" Tanyanya bergetar.

"Aku mungkin takkan bisa melihat warna matamu lagi... " Juvia terisak. "Aku mungkin takkan bisa berjalan sendiri lagi, aku bahkan mungkin tak dapat mengucapkan namamu lagi." Isakan tangisnya terdengar semakin keras mengiris hati Gray.

"Lebih parahnya, aku memang mungkin takkan mengingatmu lagi." Kedua tangan Juvia yang sedari tadi menyentuh pipi Gray bergetar. "Dan aku takut sekali membayangkan itu terjadi."

"Setiap pagi aku terbangun, berfikir apakah hari ini akan jadi hari terakhirku? Dan setiap kali aku memejamkan mata pertanyaan yang sama-pun selalu muncul... Apakah ini akan jadi yang terakhir?" Tubuh Juvia bergetar hebat.

Gray melepaskan kedua tangan Juvia dari pipinya. Menggenggam tangan Juvia erat selagi maniknya menatap dalam gadis yang tengah menangis di hadapannya sekarang.

"Juvia," Sebelah tangan Gray bergerak, bergantian menyentuh sebelah pipi Juvia, mengangkat kepala gadis itu dan menatap permata biru Juvia dalam. "Aku sanggup bertahan." Sebuah senyum terpahat di sudut bibirnya.

"Kalau kau tak dapat melihat, aku akan jadi matamu. Kalau kau tak dapat berjalan, biar aku jadi kakinya. Kalau kau tak dapat bicara, biar aku yang mengucapkannya." Perlahan Gray mendekatkan wajah mereka, memastikan Juvia menatap lurus ke dalam bola matanya sehingga gadis itu dapat menagkap kalimat yang ia sampaikan saat ini. "Dan bila kau tak dapat mengingatnya, biar aku yang jadi ingatanmu.

"Selama masih ada waktu untukku bersama-mu, aku akan lakukan apapun semampuku." Lanjutnya kemudian.

Dan entah dirinya lah yang bergerak terlebih dahulu, atau Juvia yang memulainya. Atau malah keduanya yang memikirkannya... Kini Gray rasakan bibir lembut milik Juvia yang menyentuh miliknya.

Sebuah ciuman hangat, tanpa rasa khawatir ataupun sedih, yang ia tahu kini sebelah lengannya yang sedari tadi menggenggam tangan Juvia terlepas, bergerak meraih punggung gadis itu untuk menghapus jarak di antara mereka. Membiarkan kedua bibir mereka berpagu, seakan menyampaikan segala perasaan yang selama ini menyelimuti keduanya.

Dan entah berapa lama, detik _mungkin menit_ berlalu sebelum akhirnya Juvia melepaskan ciuman mereka. Titik-titik air mata masih tergambar di pipi pualam gadis itu. Manik biru mudanya sekali lagi, menatap dalam permata gelap milik Gray.

"Aku takkan kemana-mana." Ucap Gray kemudian. Tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut Juvia ke telinga gadis itu. Kemudian wajahnya bergerak maju, mencium pipi gadis itu. Lalu menyandarkan dagunya pada bahu Juvia dan memeluk tubuh kecil Juvia erat. "Sebentar saja, aku ingin memelukmu." Ucap Gray tersenyum.

Juvia balas tersenyum, memejamkan matanya. "Selamanya-pun tak masalah."

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

.

Yellow Tulip; Ada matahari di senyummu.

Heyyyy... Saya kembali.

Sebelum pada mukulin saya nanya kenapa lama banget. Dimohon berikan waktu utk sekedar saya kasih sepatah dua kata.

Jadi kemarin kalu ada yang ngerasa fic ini di update tapi tetep nge-stuck di ch 9, maap itu sebenernya ada chapter (yg isinya cuma basa basi bakal update) saya hapus. Enggak tau kenap sistemnya malah berkesan kyk saya abis update story. But here I am, how long has it been? More than a year right?

Instead of saying I was so busy, its more like I am on my way adapting with my new life (eventho it's been 4years already), believe me, adulthood never stop to surprise you, by any way possible.

Berhubung aku lagi membara-membaranya, semoga aja within 2days aku udah bisa update next chapter because, alurnya udah berputar-putar di otak.

Dan sekali lagi maaf banget for the lack update, aku gatau apa kalian masih niat baca cerita ini apa enggak T_T

But here I am, bertahan utk enggak discontinue cerita ini :')

And believe, review-review dari kalian lah yang bikin aku bertahan *mewek*

Makasih banget yang masih mau ninggalin jejak review, kalian bikin hidup aku berharga :')

Sampe ketemu di chapter berikutnya!