Sekarang author tau kalau author sangat menyukai fic... tau dari mana? Nih buktinya. Padahal masih UAS, tapi udah bikin fic... gak tau diri apa ya? Okelah, untuk readers tercinta, author persembahkan! A Week! Chapter 10!
WARNING! Fic ini mengandung unsur kekeluargaan yang berat, mengandung sedikit perselingkuhan dan masalah-masalah dalam keluarga.
Selamat membaca!
Pairing : Gray F. & Lucy H.
Genre : Romance (Maybe)/Family
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning : OOC nomor 1, GaJe, Typo(s), gak romantis, mengandung sedikit perselingkuhan (?), ada OC sebagai anak, bahasa nyampur, masalah keluarga.
Hari masih siang. Itu berarti ini masih hari sabtu. Lucy tak menyangka ia akan kembali ke rumah Gray. Hal pertama yang ia pikirkan adalah, Gray pasti akan merasa risih, aneh, dan bingung dengan wanita berambut blonde itu.
Bayangkan saja, sebelum Lucy keluar dari rumah itu, dia memberikan nasihat dan kalimat-kalimat bijak pada Gray! Dia sungguh malu berhadapan dengan Gray sekarang. Rasanya canggung.
"Silahkan masuk." Gray menggeser tubuhnya agar wanita blonde itu bisa masuk.
Untuk melepas rasa canggungnya, Lucy masuk ke dalam rumah itu sambil melihat ke seluruh penjuru, layaknya baru pertama kali memasuki rumah Gray. Gray yang berada di belakang Lucy terlihat cukup heran. Ia menutup pintu sambil menarik koper Lucy.
"Rumahmu belum dibersihkan ya?" Ujar Lucy masih memandangi sudut-sudut ruang tengah Gray.
Gray menggaruk kepalanya. "Biasanya yang membersihkan rumah adalah Juvia... kalau tidak, ya kau... "
Lucy duduk di sofa. Ia menghela nafas ringan. "Kenapa kau kembali?" Tanya Gray seraya meletakkan koper Lucy di samping sofa dan beranjak duduk di sebelah Lucy.
"Heh... " Lucy terkekeh. "Kau pasti tidak akan percaya dengan alasanku kembali ke sini... ". Alis Gray terangkat sebelah. "Di rumah orang tuaku, tidak ada lagi kamar yang tersisa untukku. Mama menyuruhku untuk kembali ke rumahmu... bahkan menyuruh kita untuk menika—" Lucy spontan menutup mulutnya yang sudah bicara kelewatan.
Ia melihat Gray dengan mata membulat. Pipi merahnya pun tidak dapat disembunyikan. Begitu pula dengan Gray. Wajah kagetnya itu sungguh terlihat jelas. Bahkan mulutnya terbuka sedikit.
"Apa yang dipikirkan dua Heartfilia itu sih!?" Batin Gray gemas.
Tak lama, seorang anak perempuan datang sambil membawa sepiring telur mata sapi. Topi kokinya yang kebesaran itu menutupi sebelah matanya. Apalagi celmek yang kebesaran itu, talinya yang terlalu panjang diikat sana sini, belum lagi bagian depan celmek ia pakai di belakang. Jadi terlihat seperti gaun panjang di belakang.
"Y-Yuki!?" Lucy langsung bangun dari posisinya.
Perlu beberapa detik untuk mengirimkan pesan visual dari matanya menuju otak. Dan perlu beberapa detik juga untuk otak Yuki memberikan respon berupa senyuman ke arah Lucy.
Ya, sekitar 3 detik, cepat bukan?
"MAMA LUCYYY!" Teriak Yuki sambil berlari ke arah Lucy. Piring berisi telur mata sapi itu juga dibawa-bawa olehnya.
"Mama sudah kembali!? Aku pikir mama tidak akan kembali!" Seru Yuki sambil tersenyum lebar. Lucy hanya tersenyum sambil membenarkan posisi topi koki Yuki. Tapi berapa kali pun di benarkan, topi itu tetap kebesaran untuk kepala anak itu. Lucy pun melepas topi itu.
"Ma! Lihat! Aku memasak telur ini lho!" Kata Yuki sambil menyodorkan piring yang tadi ia bawa.
"HAAH?!" Teriak Lucy dan Gray bersamaan. "Kau memasak?!" Tanya Gray tidak percaya. Yuki mengangguk. "Papa tidak tau ya? Hah... papa ini terlalu galau... sampai tidak memperhatikan anaknya... " Yuki geleng-geleng kepala.
Lucy yang masih menganga pun akhirnya berbicara. "Wah, pasti dapurnya berantakan! Ayo bantu aku membereskannya!" Lucy pun menarik tangan Yuki menuju dapur.
Sementara Gray menonton TV di ruang tengah, Fuyu diam-diam membuka pintu kamarnya sedikit.
Senyum merekah di wajah anak ajaib itu.
"Aku tau... kau pasti akan kembali... makanya... aku mengunci diriku di sini... " Fuyu menyeringai.
"Aku ingin melihat matamu yang menyimpan jawaban dari pertanyaanku..."
Yuki hanya memperhatikan Lucy yang dari tadi mondar-mandir sambil mengoceh sesekali.
"Kau ini bagaimana...! Kalau sampai kena minyak panas bagaimana? Untungnya kau tidak apa-apa... lain kali, aku harus ada di sisi mu saat kau mau memasak!"
Yuki hanya tersenyum melihat Lucy. Inilah yang dia cari. Marahnya seorang mama, tapi berbeda dari mamanya yang dulu.
Flashback
"Ma! Lihat! Aku bisa memasak telur!" Kata Yuki sambil menyodorkan sepiring telur mata sapi yang bentuknya hancur. Belum lagi sisa minyak yang ada di atas piring.
Mata Juvia membulat. Ia melihat ke arah penggorengan yang tadi dipakai Yuki.
Berantakan.
Juvia langsung berjalan ke arah penggorengan yang ada di atas tungku dengan langkah besar. Ia melihat Yuki dengan wajah marah.
"YUKI!" Teriaknya. "Kau itu masih kecil! Belum bisa memasak! Jangan pernah memegang penggorengan, ataupun kompor! Lihat?! Kau hanya merepotkan mama saja! Sekarang mama harus membersihkan ini semua! Lihat minyak yang berceceran itu!"
Mata Yuki berkaca-kaca. "Ma... lihat dulu telur buatanku... " Katanya dengan suara bergetar.
"BUANG TELUR ITU! bentuknya saja tidak karuan! Mana bisa dimakan?! Kau mau memakannya!? Minyaknya saja belum ditiriskan! Hancur pula! Kau memang tidak ada bakat untuk memasak!" Kata Juvia dengan mulut pedasnya.
Yuki tersentak kaget sambil menggengam erat piringnya. Ia pun berjalan sambil terisak ke arah tong sampah. Lalu membuang telur mata sapi pertamanya.
End Flashback
Telur kali ini pun juga tidak kalah hancurnya dari yang dulu. Hanya saja, Lucy tidak memarahinya karena hasil kerja Yuki yang berantakan. Justru ia memarahinya karena takut cipratan minyak panas akan melukai Yuki.
Belum selesai Lucy membersihkan semuanya, Yuki berjalan mendekatinya.
"Ma... lihat telurku... " Ujarnya sambil menyodorkan telur buatannya pada Lucy. Lucy terdiam sebentar melihat telur yang hancur itu.
Lucy pun mengambil telur itu. Sontak Yuki berpikir kalau telur itu akan dibuang untuk yang kedua kalinya. Tapi tidak setelah Lucy mengambil sendok dan menekan telur itu. minyak yang ada di telur itu pun keluar dan mengalir jatuh ke wastafel.
"Nah," Lucy pun mengembalikan telur itu pada Yuki. "Kalau minyaknya sudah dibuang, telur ini bisa dimakan." Yuki menerima telur itu dengan wajah heran. Ia cukup kaget karena Lucy tidak membuang telur yang tidak layak makan itu. Apa benar telur yang bentuknya hancur seperti ini bisa dimakan? Yuki pun mencubit pinggiran telur itu dan merobeknya.
"Pueh! R-rasanya tawar... dan... dan... tidak enak!" Kata Yuki.
Lucy pun langsung mencicipi telur itu. Dan benar. Wajahnya mengeluarkan ekspresi aneh. "Tawar... " Gumam Lucy.
"Baiklah, kita buang telur ini... " Lucy pun mengambil penggorengan yang tadi Yuki pakai dan mencucinya.
DEG!
Apa kejadian ini akan terulang lagi? Telurnya akan dibuang untuk yang kedua kalinya? Lucy pasti kecewa dan kesal karenanya. Sudah membuat dapur berantakan, hasilnya tidak enak pula. Yuki terdiam melihat telurnya.
"Ada apa? Cepat buang telur itu, lalu pakai celmekmu dengan benar. Kita masak lagi yang baru! Yang berbentuk, dan yang lebih enak!" Ujar Lucy sambil tersenyum.
Yuki langsung mengadah ke arah Lucy sambil tersenyum lebar. Tidak apa-apa jika telurnya dibuang, toh, Lucy dan dia akan menggantinya dengan telur yang lebih enak dan sempurna.
"Lho, Yuki, dari tadi aku tidak melihat Fuyu... kemana dia?" Tanya Lucy yang sedang membersihkan meja dengan kemoceng. Yuki yang sedang mengelap meja berhenti sejenak.
"Nee-chan di kamar. Dia mengunci dirinya karena habis dimarahi papa tadi pagi... " Lucy menengok ke arah Yuki.
"Dimarahi?" Alis Lucy bertautan. Yuki mengangguk dengan wajah orang berpikir. "Seingatku, tadi pagi nee-chan bilang, dia mau mama Lucy menjadi mamanya. Dan menyuruh papa untuk menikah dengan mama... dan yang aku ingat, setelah papa menamparnya, nee-chan mengatakan sesuatu lalu pergi... "
"Baiklah, setelah kita selesai membersihkan rumah, aku akan coba berbicara padanya." Ujar Lucy sambil menggerakkan tangannya kembali. "Tidak perlu! Biar aku yang mengerjakan semuanya!" Yuki langsung mengambil kemoceng yang dipegang Lucy dan mendorongnya.
Lucy pun mempercayakan urusan bersih-bersih itu pada Yuki.
Perlahan Lucy mengetuk pintu kamar Fuyu. Beberapa detik tidak mendapat jawaban, Lucy masuk tanpa izin dari pemilik kamar.
Di dalam kamar, Lucy melihat Fuyu yang sedang duduk di samping kasur sambil menatapnya. Seakan telah menunggunya.
"Masuklah... " Ujar Fuyu.
"Fuyu, kau kenapa? Habis dimarahi ya?" Tanya Lucy sambil mengusap puncak kepala anak itu.
Fuyu tersenyum. "Tidak papa... " Jawabnya sambil mengayun-ayunkan kakinya.
"Hey, aku sudah kembali... apa kau senang?" Lucy mencondongkan kepalanya untuk melihat wajah anak itu. Dilihatnya mata anak itu bengkak, jelas karena habis menangis.
"Sangat senang... aku tau mama akan kembali... makanya aku mengunci diriku di sini... " Ujar Fuyu.
"Kau tau aku akan kembali? Dari mana?" Tanya Lucy heran. Fuyu meraba bawah matanya. "Mata ini..."
"Aah... kau pasti melihatku kembali kan... hehehe... " Lucy tertawa garing.
"Mata ini bisa melihat isi hati orang dari wajahnya, dan bisa melihat masa depan seseorang dari matanya."
"Eh?"
Fuyu tersenyum ke arah Lucy. "Aku senang... karena kau akan menjadi mamaku... "
"M-mama?!" Lucy tersentak ke belakang.
"Kau akan menikah dengan papaku... aku melihatnya dari matamu... " Fuyu meraba pipi Lucy. Anak itu menatap mata Lucy dalam-dalam. "Akhirnya, pertanyaanku terjawab... "
Di dalam mata anak ini, Lucy sama sekali tidak melihat pantulan dirinya. Apa karena mata anak ini hitam pekat? Mata Gray juga hitam. Tapi ia masih bisa melihat pantulan dirinya di dalamnya. Anak ini aneh.
"K-kalau itu maumu, aku bisa mempertimbangkannya nanti... " Lucy tersenyum miris. Sungguh, ia merasa canggung bersama dengan anak ini. Padahal ia pikir hubungannya dengan Fuyu akan sama seperti Yuki.
"A-ayo kita keluar... "
Gray yang sedang asik menonton TV akhirnya harus mengistirahatkan matanya sejenak karena acara yang ia tonton berganti menjadi iklan. Tapi pandangannya tertuju pada 2 orang perempuan yang baru saja keluar dari kamar.
Baru saja suaranya keluar untuk memanggil Fuyu, mulutnya tertutup kembali. Mungkin ini belum waktu yang tepat untuk menyapanya sekarang. Gray pun memilih untuk menonton iklan di TV.
Tak disangka, anak itu datang sendiri ke arahnya. Gray yang sedang tiduran di sofa, sontak langsung terbangun. "Ada apa?" Tanya Gray.
Fuyu menggenggam tangan Gray.
"Terima kasih... untuk masa yang akan datang... "
"Hah?" Belum sempat Gray bertanya maksud perkataan anak itu, Fuyu sudah berlari ke arah Lucy dan Yuki yang sedang menyapu.
Gray pun merebahkan tubuhnya kembali di atas sofa. "Apa sih anak itu... "
Sore hari.
Gray menghampiri Lucy yang sedang memasak di dapur. Lucy tampak kebingungan melihat bahan makanan yang sudah ia letakkan di atas meja.
"Ada apa?" Gray melihat Lucy yang sedang menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Lucy menengok ke arah Gray, "Apa kau tidak punya bahan makanan yang lain? Tidak ada daging ataupun ikan... " Kalau seperti ini, niat Lucy memasak jadi hilang.
"Kalau begitu masak sayuran saja... kenapa bingung.. " Ujar Gray santai sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi meja makan.
"Hanya sayuran... kau pikir anak-anak mau memakan sayuran dengan nasi?" Tak lama, Yuki dan Fuyu keluar dari kamar mandi.
"Mama! Malam ini kita makan apa?!" Tanya Yuki sambil menghambur ke pelukan Lucy.
"S-sayuran... dan nasi... " Jawab Lucy gugup. Iya yakin kedua anak ini akan berteriak menuntut daging atau semacamnya.
Yuki dan Fuyu terdiam dengan ekspresi masing-masing.
"Sa..."
"—yur?"
"Gray sudah kubilang, anak-anak ini tidak akan menerimanya!" Sekarang Lucy merasa salah tingkah dan kecewa sekali pada kulkas Gray yang tidak menyisakan daging sedikit pun.
"Tidak papa! Masakan mama pasti enak! Walaupun itu sayur sekali pun... " Ujar Yuki sedikit tidak yakin di bagian akhir.
"Lagi pula sayur baik untuk kulit... " Fuyu berjalan menuju kursinya.
"Ma! Aku mau membantumu memasak!"
"Tentu saja boleh!" Lucy tertawa kecil.
Dan pada sore menjelang malam itu, keluarga kecil itu memasak berkumpul di dapur dan memasak bersama.
Dua orang anak sedang bersandar di pojok dapur yang gelap. Lampu di rumah sengaja tidak dinyalakan karena mereka masih trauma untuk melakukan apapun karena kelakuan seorang pria yang belum kunjung pulang.
Anak perempuan itu menggenggam lengan baju anak laki-laki di sebelahnya.
"Nii...-chan... kita makan apa malam ini...?" Tanya anak perempuan itu dengan suara bergetar.
Anak laki-laki di sebelahnya tidak menjawab. Ia bangun dan berjalan menuju kulkas. Cahaya dari dalam kulkas langsung memancar begitu si Anak laki-laki itu membuka pintunya.
Tak lama, anak laki-laki itu kembali dengan cemilan dan coklat di tangannya.
"Makanlah..." Ujar anak laki-laki itu sambil menyodorkan semua makanan yang ia dapat dari kulkas.
Anak perempuan itu tidak bergeming.
"Yuna...?" Tegur anak laki-laki itu. anak perempuan itu masih saja diam. Tidak mendapat respon, anak laki-laki itu mengguncang-gucangkan bahu anak perempuan itu dengan pelan.
"Yuna?" Panggilnya sekali lagi.
"Aku mau... mama..." Gumam anak perempuan itu.
"Yuna..."
Sampai pria itu kembali, mereka akan terus bertahan di sudut dapur, dan tidak akan melakukan apa-apa. Mereka takut pria itu akan memukul dan memarahi mereka lagi. Meski pun pria itu benar-benar tidak ada di rumah.
Meski pun pria itu adalah ayah mereka yang dulunya baik dan ceria.
"Ng?" Kedua mata putra tunggal pasangan Dragneel itu akhirnya terbuka. Ia bangun dari sofa dan memijit pelipisnya dengan posisi duduk.
"Kau sudah bangun? Tidurmu lama sekali... " Ucap Tuan Dragneel yang sedang membaca koran di depan Natsu.
"Makanlah dulu... " Ujar Nyonya Dragneel dengan nada ketus.
Natsu berdiri sambil memegangi belakang kepalanya. "Mama, papa, aku sudah memutuskannya... "
Tuan dan Nyonya Dragneel langsung menghentikan aktivitas mereka begitu anak mereka akan memberikan keputusannya.
"Aku akan... menandatangani surat cerai itu... "
Kedua pasangan Dragneel itu saling menghela nafas berat.
"Jadi itukah keputusanmu?" Tanya Tuan Dragneel.
Natsu terdiam sebentar sebelum ia mengangguk yakin. "Aku akan mengambil surat cerainya di rumah... lalu aku akan menyerahkan suratnya pada Lucy besok... "
"Kalau begitu, sebelum pulang, makanlah dulu... kau pasti belum makan saat datang ke sini... " Kata Nyonya Dragneel sambil meletakkan 2 buah piring ke atas meja makan.
"Makan... ?" Mata Natsu tiba-tiba membulat. Ia langsung berdiri dengan wajah terkejut.
"Ada apa?" Tanya Tuan Dragneel.
"Yuna! Utsuka!" Natsu langsung berlari keluar tanpa mempedulikan kedua orang tua yang sedang melihatnya dengan wajah bingung.
"Aku akan membawa mereka ke sini!" Setidaknya suara itu terdengar samar-samar di telinga Nyonya Dragneel.
"Membawa, apa?" Ulang Nyonya Drganeel.
"Uuukh! Apa yang aku katakan tadi!? Mempertimbangkan!? Mempertimbangkan apa!? Pernikahan!? Huwaaa! Lucy! Lain kali kalau bicara dipikir dulu!" Lucy menjambak rambutnya frustasi.
Dia sedang berbaring di kasurnya dengan wajah berantakan. Rambut yang tidak disisir, baju yang kusut, terlebih lagi wajahnya yang jelek itu.
"Hyiiii!" Teriak Lucy kesal.
Di kamar Gray.
"Besok... mereka akan datang... kira-kira kalimat apa yang cocok untuk menjelaskan kehadiran Lucy ya? Terlebih lagi... apa yang akan mereka katakan kalau tau aku sudah cerai?" Gumam Gray.
Di kamar Fuyu dan Yuki.
"Nee-chan! Mama Lucy kembali lagi ke sini! Aku sungguh senang!" Ujar Yuki.
"Hn... aku juga... " Ujar Fuyu sambil memeluk gulingnya.
"Aku berharap Mama Lucy jadi mama kita!" Ujar Yuki sambil mencondongkan wajahnya ke arah Fuyu.
"Hn... aku juga..." Fuyu tersenyum kecil.
To Be Continued
Aduh... ini chapter sempet ditunda seminggu gara gara UAS... untungnya author udah selesai UAS... lega deh..
Readers pasti ngira ini chapter terakhir kan? Ohoho... kaget gak? Sebenernya tadi maunya dibikin 10 aja. Tapi baru inget kalo chapter 9 masih pagi! Jadi harus ada Day 6 part 2 deh :D hontou ni gomenasai! Intinya, di chapter ini Natsu sudah setuju untuk bercerai!
Jadi, bagaimana kesan kalian di chapter ini? Tinggalkan komentar kalian! Karena di chapter terakhir nanti, akan ada Special Thanks untuk kalian yang sudah setia mengikuti fic ini dan juga mereview :D
Akhir kata,
Jangan lupa review! :D
