You're Not Alone

Pairing: The REAL couple in thisworld, YunJae! Slight Yuntoria (-_-'')

Other cast: Park Yoochun, Mrs Jung,and Mrs Song

Genre: Drama, Hurt, Little bit Angst

Rated: T

Part: 9 of ?

Disclaimer: Jaejoong belongs to Yunhoand Yunho belongs to Jaejoong!

Warning: It's YAOI, Gay, MalexMale,BoyxBoy, Shoneun-ai story. So, if you don't like YAOI story, just go back anddon't read this story. Arraseo?!

.

.

You're Not Alone

.

.

''Pertemuan kedua?''

.

.

You're Not Alone

.

.

Victoria berjalan di jalanan kota Seoul yang tampak ramai. Musim dingin akan segera tiba dan orang-orang berbondong-bondong untuk membelipakaian musim dingin mereka. Entah karena pakaian musim dingin mereka sudah rusak ataupun memang ingin membeli yang baru.

Victoria berjalan dengan pandangan kosongnya. Sesekali wanita itu menabrak orang-orang yang dilaluinya, namun nampaknya wanita cantik tak peduli dengan umpatan-umpatan orang yang ditabraknya dan masih tetap meneruskan langkah kakinya.

Victoria menghembuskan napas pelan. Dia berjalan menunduk memasuki sebuah supermarket, mengambil sebuah trolly dan berjalan menuju section yang menjual susu untuk membeli susu ibu hamilnya yang sudah habis. Mata sipitnya menjelajah untuk mencari susu yang kira-kira bagus kualitasnya dan cocok untuknya. Victoria mengambil tiga kotak susu ibu hamil dan berjalan menuju section daging. Dia mulai memilih daging yang masih segar. Setelah itu dia mendorong trolly-nya dan tanpa sadar-karena dia berjalan menunduk-dia menabrak seseorang.

Victoria langsung membungkukkan badannya pada orang yang sudah tabraknya. Sebelah tangannya dia gunakan untuk menahan perutnya yang sudah tampak besar. Maklum saja, usia kandungannya sudah tujuh bulan lebih.

''Mianhae, Agasshi, saya tidak sengaja. Anda baik-baik saja?'' Tanya Victoria dengan nada penyesalannya.

Orang yang ditabrak Victoria itu tersenyum dan mengangguk,walaupun Victoria tak dapat melihatnya karena masih terus menunduk.

''Aku baik-baik saja, Agasshi. Jangan membungkuk terus, kasihan kandunganmu.''

Dalam hati Victoria mengagumi suara merdu yang keluar dari bibir seseorang yang sudah tabraknya.

Suaranya saja sudah semerdu itu, apalagi orangnya?

Victoria mengangkat tubuhnya dan betapa kagetnya dia saat melihat seseorang yang sudah ditabraknya. Pelipis wanita itu berkeringat dingin. Tubuh Victoria seakan membeku, lidahnya kelu, dan sendi-sendinya seakan tak dapat digerakkan lagi. Victoria menelan ludahnya.

Seorang namja yang ditabrak oleh Victoria tengah tersenyum tulus pada Victoria. Namja itu terilhat cantik dengan mengenakan sweater agak tebal berwarna hitam dengan aksen garis-garis putih. Victoria tersenyum terpaksa pada namja cantik itu. Jantungnya terasa berdebar-debar, aliran darahnya mengarus dengan cepat.

Entah mengapa tiba-tiba saja perutnya terasa sakit, sedikit kontraksi. Victoria memegang perutnya. Wajahnya menyiratkan kesakitan, membuat namja cantik di depannya itu memandang takut padanya.

''Auh (?)…'' Keluh Victoria memegang perut buncitnya sembari meringis kesakitan.

''Kau tidak apa-apa, Nona? Perutmu sakit? Apa kita perlu kerumah sakit?'' Tawar namja cantik itu ramah, memegang pundak Victoria, menahan agar tubuh wanita itu tidak ambruk.

Victoria menggeleng pelan. Dalam hati dia sedikit merutuk. Ya Tuhan, kenapa namja cantik itu terlalu baik padanya?

Padahal, dialah yang membuat namja cantik itu keguguran. Ya, dia tak akan pernah melupakan kejadian itu. Kejadian di mana saat itu dia yang sedang terburu-buru untuk menjenguk Ibu-nya yang tiba-tiba dikabarkan masuk rumah sakit. Saat di pelataran rumah sakit, dia menabrak seorang yang tengah hamil. Dia ingin minta maaf, namun saat teringat Ibunya, dia melupakan segalanya. Membiarkan namja cantik itu merintih kesakitan dengan darah yang mengalir deras sampai di kedua kakinya.

Dia terus berlari, walaupun dalam hati dia sangat merasa bersalah. Walaupun saat itu ada seorang namja yang berlari menolong namja cantik itu. Sekarang dia tahu siapa namja itu, Jung Yunho.

Dan setelah Yunho mengontrak rahimnya, dia menjadi tahu bahwa ternyata namja yang ditabraknya dulu adalah istri dari Yunho. Fakta yang membuatnya semakin merasa bersalah adalah saat Yunho memberitahu bahwa dia menyewa rahimnya karena istrinya tak dapat mengandung lagi setelah keguguran. Dan berarti, itu semua salahnya bukan?

Oh well.

Dan sekarang, dia dipertemukan dengan orang yang sama sekalitak pernah diduganya.

''Ania, a-aku baik-baik saja. Terima kasih,'' Ujar Victoria tanpa memandang Jaejoong. Wanita itu lalu mendorong trolly-nya dengan tergesa-gesa untuk menghindari namja cantik itu.

Dahi namja cantik –Jaejoong- itu hanya bisa mengernyit heranmelihat tingkah aneh Victoria. Laki-laki itu mengendikkan bahunya danmelanjutkan acara berbelanjanya.

.

.

You're Not Alone

.

.

Park Yoochun, lelaki itu menghembuskan napasnya pelan. Sorot matanya terlihat amat menyakitkan. Tangan sebelah kirinya memegang sebuah foto dan matanya memandang sendu pada foto itu.

Dia tersenyum miris melihat foto pernikahan itu. Pernikahan Yunho dan Jaejoong.

Laki-laki itu menggeram marah dan merobek foto itu menjadi serpihan-serpihan kecil dan tersenyum puas.

Well, dia bermaksud merebut lelaki cantik itu dan menjadikan lelaki cantik itu menjadi miliknya. Selamanya.

Dia tak menyangka rencananya bisa semulus ini.

Pulang dari Virginia, menemui Yunho dan menghasut agar namjatampan itu mengontrak rahim seorang pelacur. Jangan bilang dia tidak tahu apa-apa. Dia bahkan tahu saat Jaejoong keguguran, tentu saja dia selalu melacak keberadaan namja cantik itu dengan menyewa seorang mata-mata. Anggap saja dia psychopath atau kelainan jiwa lainnya.

Dia hanya ingin menjadikan namja cantik itu miliknya, bagaimana pun caranya. Dia terlalu mencintai namja cantik itu. Dan setelah Jaejoong –namja cantik itu- memberitahunya bahwa dia akan menikah dengan seorang pria yang bernama Jung Yunho, dia mulai memikirkan bagaimana caranya agar rumah tangga mereka berantakan dan mereka berpisah.

Dan akhirnya dia menemukan cara itu, membuat rumah tangga yang sudah dibina hampir enam tahun itu berantakan. Semoga rencana yang mulus itu semakin mulus, pikir namja cassanovaitu.

Park Yoochun menyeringai dan bangkit berdiri dari sofa yang sedari tadi didudukinya dan berjalan mengambil ponselnya di atas meja nakas disamping televisi, dia mengaktifkan ponselnya dan mengirim text pada Victoria.

[''Sudah berapa bulan kandunganmu?'']

Send

Tak lama, pesannya pun terbalas.

[''Sudah tujuh bulan lebih, waeyo?'']

Yoochun pun semakin menyeringai jahat,

[''Anio, hanya ingin tahu saja. Berarti kontrakmu akan segeraberakhir bukan?'']

Dan pesan Yoochun pun tak dibalas lagi oleh Victoria. Yoochun hanya mengedikkan bahunya.

Laki-laki berjidat lebar itu pun hanya melangkahkan kakinya menuju ranjangnya, membaringkan dirinya, dan berpikir untuk rencanaselanjutnya.

.

.

You're Not Alone

.

.

Jaejoong, laki-laki cantik itu tampak serius menekuni pekerjaan memasaknya. Tangannya dengan lincah memotong bahan-bahan yang akan dia gunakan. Namja cantik itu mengambil sebuah panci kecil dan mulai merebus sayuran, lalu memasukkan bumbu-bumbu ke dalam panci itu.

Jaejoong menghela napas pelan dan menyenderkan tubuhnya pada tembok sembari menunggu sup-nya matang.

Mata doe-nya terpejam dan bibir kissable-nya menggumam, seperti mengucapkan sebuah permohonan.

Entah mengapa akhir-akhir ini dia merasa semakin gelisah. Perasaan curiganya pada Yunho semakin menjadi, apalagi semalam namja tampan itu tak pulang ke rumah. Dia mencoba menghubungi suaminya namun ponsel namja bermata musang itu tak aktif, dia pun mencoba menghubungi bawahan Yunho dikantor, namun katanya namja itu sudah pulang sedari sore.

Lalu, ke mana perginya Yunho? Dia hanya bisa berharap semoga saja tak ada hal buruk yang menimpa suaminya.

Derap langkah kaki seseorang yang berlari terdengar. Jaejoong tersenyum kecil saat melihat Moonbin yang tersenyum lebar berlari ke arahnya. Bocah kecil itu tampak bahagia sekali.

Bocah itu menubrukkan badannya pada Jaejoong dan Jaejoong pun hanya bisa tertawa melihat aksi bocah itu.

Jaejoong berjongkok, mengeratkan pelukannya pada Moonbin dan memejamkan matanya sejenak. Dia sudah menganggap Moonbin anaknya, anak kandungnya. Dia tak siap kehilangan Moonbin jika Soo Man dan Yoona mengambil kembali Moonbin darinya.

Moonbin mendongakkan wajahnya dan terkejut saat melihatJaejoong meneteskan air mata.

Tangan mungil Moonbin mengusap air mata Jaejoong lembut. Jaejoong tersentak dan tersenyum kecil pada Moonbin. Hell, dia bahkan tak tahu kalau dia menangis.

''Mommy, kenapa Mommy menangis?'' Tanya Moonbin, mata musang bocah berumur empat tahun itu mengerjab lucu. Jaejoong tersenyum dan menggeleng.

''Ah, ania Binnie, Mommy tidak menangis kok. Kka, Moonbin duduk saja di kursi meja makan, Mommy sudah menyiapkan makan malam kita. Memang sudah sangat telat, hehe'' Ujar Jaejoong lembut, sedang Moonbin hanya mengangguk menurut.

Jaejoong berdiri dan mematikan kompor, memindahkan sup kedalam mangkok sedang dan meletakkan mangkok ke meja makan, lalu beralih mengambil Bulgogi, nasi, dan kimchi dan meletakkannya juga di meja makan.

''Kka, Binnie, kita makan.'' Ajak Jaejoong, dia mengambilkan makan Moonbin dan menyuapi bocah kecil itu.

Baru saja menyelesaikan makannya, telepon rumah berdering. Jaejoong langsung melepaskan apron-nya dan berjalan, lalu mengangkat teleponitu.

''Ne, Yoboseyo?''

''…''

''Mwo?! Seoul Hospital? Ne, aku akan segera ke sana, gomawo,''

PIK

Telepon tertutup, Jaejoong segera merapikan meja makan, tak memperdulikan Moonbin yang menatap bingung padanya.

Jaejoong buru-buru menyambar kunci mobilnya dan juga jaket rajutnya. Dia kemudian mengelap mulut Moonbin yang belepotan dan menggendong bocah itu.

Jaejoong mengetuk pintu rumah tetangganya agak gusar.

CKLEK

Pintu pun akhirnya terbuka, Jaejoong tersenyum lega.

''Lee Ahjumma, bisakah aku menitipkan Moonbin lagi di sini?'' Pinta Jaejoong tanpa basa-basi, dia harus segera ke rumah sakit sekarang.

Wanita paruh baya –Lee Ahjumma- hanya mengernyit heran dan menatap Jaejoong dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun tak lama, akhirnya wanita setengah abad itu pun mengangguk menyetujui.

Jaejoong tersenyum senang dan menyerahkan Moonbin pada Lee Ahjumma.

''Memangnya kau mau ke mana, Jae?" Tanya Lee Ahjumma mengambil alih Moonbin dan menggendong bocah bermata musang yang hanya menguap.

''Aku mau ke rumah sakit, Ahjumma. Yunho di rumah sakit sekarang, aku harus ke sana,'' Ujar Jaejoong.

Lee Ahjumma membulatkan matanya shock. Ia selama ini memang dekat dengan pasangan suami istri bahkan sudah menganggap mereka sebagai putranya sendiri.

Lee Ahjumma mengangguk, ia menepuk pelan bahu Jaejoong dantersenyum hangat,

''Semoga suami-mu baik-baik saja, Jae,''

Jaejoong tersenyum manis dan mengangguk,

''Gomawo, Ahjumma..'' Kata Jaejoong ramah, ''Binnie, jangan nakal, arra? Mommy akan menjemput Binnie nanti,'' Lanjut Jaejoong mengacak rambut Moonbin, dan bocah itu hanya mengangguk lesu, mengantuk sepertinya. Jaejoong tersenyum dan mencium bibir Moonbin sekilas.

Jaejoong lalu membungkuk sebentar dan tergesa-gesa memasuki mobilnya, mengemudikan mobil Lamborghini murcielago itu dengan cepat. Yang dia pikirkan hanya sampai di rumah sakit dan menemukan Yunho dalam keadaan baik-baik saja.

.

.

You're Not Alone

.

.

Jaejoong memakirkan mobilnya di pelataran rumah sakit. Dia berjalan tergesa-gesa menuju meja resepsionis.

Ini sudah larut malam, dan tak banyak orang yang berkunjung ke rumah sakit pada waktu malam hari.

Lelaki cantik itu tak habis pikir, bagaimana bisa Yunho masuk rumah sakit? Apa suaminya itu kecelakaan? Ataukah yang lainnya?

Jaejoong menggelengkan kepalanya, dia tak boleh berpikiranmacam-macam, yang harus ia pikirkan saat ini hanya keselamatan Yunho saja.

Jaejoong merapatkan syal-nya, musim dingin segera datang dan dia benci itu, dia tak suka musim dingin. Lelaki cantik itu lebih suka musim semi.

BRUKK

Jaejoong meringis, dalam hati dia merutuki kebodohannya sendiri. Dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri sehingga tak memperhatikanjalannya. Dan well, sepertinya dia menabrak seseorang.

Jaejoong membungkuk dalam, ''Mianhae..'' Ujar namja cantik itu.

''Ania, gwaenchana Jae-ah,'' Ujar namja yang ditabrak oleh Jaejoong. Park Yoochun, namja itu tersenyum manis.

''Ah, Yo-Yoochun-ah, kenapa kau ada di sini malam-malam begini?'' Jaejoong sedikit kaget juga saat mengetahui orang yang ditabraknya adalah Yoochun.

''Aku hanya menjenguk temanku yang sakit,'' Ujar Yoochun dan Jaejoong hanya mengangguk tanpa curiga sama sekali pada namja cassanova itu.

''Mian Yoochun-ah, aku buru-buru. Kita bertemu lain kali, annyeong.'' Kata Jaejoong dan namja cantik itu langsung berlari begitu saja meninggalkan Yoochun.

Namja berjidat lebar itu hanya menatap sendu punggung Jaejoong yang mulai menjauh. Betapa sulitnya mendapatkan Jaejoong, pikirnya. Lelaki cantik itu tak pernah menanggapi perasaannya, dia terlalu dibutakan oleh Yunho, suaminya. Dan jika laki-laki itu tahu bahwa Yunho mengkhianatinya, akankah dia masih akan tetap setia?

Bahkan laki-laki itu tak bertanya siapa temannya, jika dia tahu bahwa temannya adalah Yunho, bagaimana reaksi namja itu nantinya?

Yoochun berbalik arah menuju mobilnya saat punggung Jaejoong sudah menghilang dari pandangannya.

^^YunJae^^

Seorang namja cantik berlari di koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jelas. Dalam hati, dia berharap agar tidak ada hal buruk yang terjadi pada sang suami.

Mata doe-nya terhenti di ruangan VVIP no 26. Diurungkan niatnya mengetuk pintu saat melihat seorang wanita berambut blonde tertunduk disamping ranjang suaminya sembari tangannya menggenggam hangat tangan sang suami.

Jujur saja, Jaejoong merasa kaget dan cemburu. Tetapi... Bukankah wanita itu yangmenabraknya di supermarket tadi?

Dengan langkah ragu, Jaejoong membuka knop pintu dan melangkah sepelan mungkin memasuki ruangan.

Wanita berambut blonde itu mendongakkan wajahnya saat mendengar derap langkah kaki seseorang. Mata wanita itu membulat shock dan jantungnya berdebar kencang.

''A-ah, Mi-mian..''

Buru-buru wanita itu berdiri dan membungkukkan badannya sebentar lalu melangkah dengan tergesa-gesa, keluar dari ruang itu.

Jaejoong hanya dapat menatap bingung pada wanita yang sedang hamil itu.

Jaejoong melihat punggung wanita itu bergetar, seakan menangis. Lalu wanita itu pun menghilang dari pandangannya.

Tanpa pikir panjang, Jaejoong berlari mengejar wanita berambut blonde itu. Dia melihat wanita hamil itu sedang berjalan di koridor rumah sakit. Jaejoong berlari mengejar wanita itu.

Setelah dekat, Jaejoong menahan pergelangan tangan wanita itu. Dapat dirasakannya gerak refleks wanita itu, kaget tentu saja.

Wanita hamil itu pun berbalik, menoleh ke arahnya, dan raut wajahnya seperti orang yang cemas dan ketakutan. Jaejoong melihat bekas airmata di pipi yeoja itu. Namun namja rupawan itu bingung, kenapa wanita di depannya itu menangis?

''Eum mian, aku tidak sopan menarikmu begitu saja,'' Ujar Jaejoong kikuk, ''Tapi.. Dapatkah kita bicara sebentar saja?" Lanjut Jaejoong. Dalam hati Jaejoong begitu kaget, kenapa dirinya bisa berbicara seperti itu? Dia memandang wanita itu, dan wanita itu pun mengangguk.

Jaejoong melepaskan tangannya dari lengan yeoja itu dan berjalan menuju ruang tunggu, di depan kamar Yunho, dan diikuti oleh wanita yang cukup cantik itu.

Jaejoong mendudukkan dirinya di kursi, wanita itu pun duduk di sebelahnya.

Mereka terdiam, Jaejoong tak tahu harus bertanya apa. Jujur saja, dalam benaknya terdapat banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada wanita itu. Namun, kurang sopan jika dia langsung bertanya dengan banyak pertanyaan, padahal nyatanya dia tak mengenal yeoja itu. Mereka hanya pernah bertemu sekali, dan itu pun secara tak sengaja saat wanita itu menabraknya.

''Nona, bolehkah aku bertanya padamu?" Tanya Jaejoong memecahkan keheningan malam. Wanita itu menoleh dan mengangguk ragu.

Jaejoong menghela napas pelan, ''Pertama aku ingin mengenalkan namaku dulu, Kim Jaejoong imnida,''

Wanita berambut blonde itu mengangguk. Tanpa Jaejoong mengenalkan dirinya pun dia sudah tahu nama namja itu.

''Victoria Song imnida,'' Akhirnya wanita itu pun mengenalkan namanya pada Jaejoong.

Jaejoong terdiam.

Victoria?

Bukankah Victoria adalah orang yang sering mengirim text pada suaminya? Orang yang pernah mengajak bertemu suaminya?

Benarkah wanita ini atau namanya saja yang kebetulan sama?

Begitu banyak pertanyaan dibenaknya setelah wanita itu mengenalkan namanya.

Jaejoong menjadi semakin takut, jika benar ini Victoria sang 'client', maka Jaejoong akan semakin waspada. Wanita di sampingnya cukup cantik, dia bisa merebut Yunho kapan saja. Apalagi wanita itu dapat mengandung.

Jaejoong baru sadar bahwa wanita di sampingnya memang tengah hamil. Jantung Jaejoong berdebar semakin kencang, ya Tuhan, bagaimana jika wanita itu hamil anak suaminya?

Jaejoong bahkan tak tahu mengapa dia bisa berpikiran seperti itu. Namun dia harus berpikir positif, tidak mungkin Yunho mengkhianatinya. Lagi pula kelihatannya wanita itu wanita yang baik.

Dan Jaejoong yakin Yunho pasti terus mengingat kata-katapernikahan mereka.

['' Aku akan mendampingimu dalam segala duka dan bahagia. Aku akanmenjadi bagian dari segenap sakit dan sehatmu.'']

Ya, kata-kata itu yang membuat Jaejoong sedikit tenang. Dia percaya bahwa Yunho pasti akan mendampinginya dalam duka dan bahagia. Dan Yunho adalah tipe orang yang setia, jadi tidak mungkin jika Yunho mengkhianatinya, orang yang sudah menemaninya hampir enam tahun ini.

''Kau sudah lama mengenal Yunho, Victoria-sshi?" Tanya Jaejoong, menatap Victoria yang duduk di sebelahnya. Wanita itu mendongak dengan pandangan seolah terkejut.

''Uh? Eh, belum terlalu lama Jaejoong-sshi, mungkin hanya sekitar delapan bulan belakangan ini.'' Jawab Victoria. Jaejoong hanya mengangguk mengerti.

''Kurasa kalian cukup dekat,'' Kata Jaejoong. Tiba-tiba saja Victoria tersenyum dan menerawang, membuat laki-laki rupawan di sebelahnya agak mengernyit dan menatapnya curiga.

''Ya, kami memang dekat Jaejoong-sshi. Bahkan boleh dibilang sangat dekat,'' Ujar Victoria tersenyum. Jaejoong menatap tak suka pada wanita itu, ''Yunho tipe orang yang ramah, dia mudah bergaul dengan orang lain. Dan yang terpenting, dia sangat perhatian denganku dan bayi kami.'' Kata Victoria tersenyum dengan pandangan menerawang. Tetapi sedetik kemudian wanita itu lalu tersadar dengan ucapannya. Wanita itu menatap Jaejoong cemas. Dan Jaejoong,laki-laki itu mengernyit bingung. Apa tadi katanya? Bayi kami? Apa mungkin dia salah dengar?

''Oh, maksudku bayiku Jaejoong-sshi. Suamiku pergi bekerja di Jepang, dia adalah sahabat Yunho. Dan saat suamiku pergi ke Jepang, dia berpesan pada Yunho agar menjagaku dan bayiku dengan baik. Ya, itu,'' Ralat Victoria cepat. Keringat dingin mengalir di pelipis wanita cantik itu,memandang Jaejoong cemas.

Jaejoong, dia hanya bisa terdiam. Menjaga wanita itu dan bayinya? Apakah Yunho selama ini menginap di rumah perempuan itu jika dia tidak pulang? Terselip rasa curiga yang besar pada perempuan di sebelahnya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dia menuduh yang bukan-bukan pada wanita itu, berarti sama saja menuduh Yunho melakukan hal yang tidak baik.

Jaejoong akhirnya tersenyum. Agaknya laki-laki itu percaya dengan cerita Victoria. Oh, Jaejoong, betapa murninya hatimu.

''Sudah berapa bulan kandunganmu, Victoria-sshi?" Tanya Jaejoong menatap lembut perut Victoria yang besar. Dalam hati, laki-laki cantik itu iri dengan Victoria yang dapat mengandung. Andai saja dia masih bisamengandung.

''Ah, sudah tujuh bulan lebih, hampir delapan bulan.'' Jawab wanita itu. Jaejoong menatap ragu pada Victoria.

''Bolehkah aku mengelus perutmu?'' Pinta Jaejoong lirih. Victoria terkejut, dia mendengar yang Jaejoong katakan. Dia sudah pasti tahu bagaimana perasaan Jaejoong saat ini. Rasa keinginan namja itu untuk hamil juga. Dan yang membuat namja itu tak dapat mengandung adalah dirinya. Anggap saja ini permintaan maaf darinya, mungkin dengan menyerahkan bayinya sesudahlahir.

''Tentu saja,''

Senyum Jaejoong merekah. Tangan putih nan halusnya bergerakmengelus perut Victoria yang besar itu. Dapat di rasakannya gerakan halus dari perut itu. Mungkin sang calon bayi bergerak.

Sungguh bahagianya Victoria yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. Melahirkan bayi mungil yang lucu, merawatnya hingga kelak mereka dewasa. Mendidik dan mengajar serta menyayangi dengan segenap jiwa. Andai saja dia tak keguguran, sudah sebesar apakah bayinya? Mungkin saja sudah bisamerangkak.

Jaejoong tersenyum kecut, dia hanya bisa berandai-andai seharusnya dia seperti itu. Mengharapkan sesuatu yang mustahil malah akan membuatnya semakin sakit. Dia seharusnya bisa lebih menerima keadaannya yang sekarang. Dia sudah tak dapat mengandung lagi.

''Kau sendirian ke sini larut malam begini?'' Ujar Jaejoong agak heran. Victoria, wanita itu memangnya tak takut malam-malam sendirian ke rumah sakit?

''Eh, ania Jaejoong-sshi, aku sudah biasa keluar malam,'' Ujar Victoria menanggapi pertanyaan Jaejoong. Terbiasa malah, pikirnya dalam hati.

Jaejoong hanya mengangguk dan berdiri,

''Yunho, bagaimana dia bisa seperti itu?'' Tanya Jaejoong. Dia sedari tadi tak bisa tenang memikirkan keadaan suaminya.

''Lambung Yunho-sshi bermasalah, dia terlalu banyak meminum alkohol. Kurasa dia juga tidak makan dengan teratur.'' Gumam Victoria yang masih bisa didengar oleh Jaejoong.

Jaejoong membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.

Apa? Lambung Yunho bermasalah? Dia memang tahu jika Yunho tak akan pernah tahan jika terlalu banyak meminum alcohol. Yunho hanya akan minum alcohol jika namja tampan itu stress saja. Berarti Yunho tengah stress sekarang?

Sekarang Jaejoong merasa bahwa dia bukan istri yang baik untuk Yunho. Dia bahkan tak tahu kalau Yunho jadi sering mabuk-mabukkan.

Apa ini masalah anak? Ia memang selalu menolak jika Yunho mengajaknya untuk mengadopsi seorang anak di panti asuhan. Bukannya apa, dia hanya merasa jika mengadopsi seorang anak dari panti itu sama saja percuma. Anak itu bukan anak kandung mereka. Dan dia juga sebenarnya takut untuk itu, dia merasa gagal sebagai seorang istri. Dia tak bisa memberi Yunho seorang keturunan penerus keluarga Jung.

Jaejoong tertunduk. Matanya mengerjab dengan berat. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Well, selalu. Dia selalu lemah jika dihadapkan dengan masalah Yunho. Dia terlalu mencintai namja bermata musang itu dan berusaha sebaik mungkin untuk membuat namja tampan itu tak kecewa kepadanya. Dan satu hal yang dia yakin sangat membuat Yunho kecewa adalah dia tidak bisa memberikan seorang anak pada Yunho.

Victoria, perempuan itu menatap sendu pada Jaejoong yang tertunduk. Dia jadi sangat merasa bersalah sekarang. Dialah yang membuat harapan Jaejoong hancur. Harapan untuk mempunyai seorang anak. Jika saja dia bisa mengulang waktu, dia pasti akan membenahi kesalahannya. Dia tak akan berlari tanpa berhati-hati sehingga menabrak Jaejoong. Dia tak akan pernah muncul dalam kehidupan Yunho. Namun, dia tak menyesali jika dia mengenal Yunho dan menyukai namja tampan itu. Yang ia sesali, kenapa namja itu sudah beristri? Seharusnya sejak awal dia mengenal Yunho, sebelum Jaejoong jahat memang, tetapi cinta itu buta, kan? Cinta tak mengenal gender, status, waktu. Cinta bisa datang kapan saja.

''Ja-jaejoong-sshi..'' Panggil Victoria dengan suara paraunya. Jaejoong mendongak. Terlihat jika Jaejoong habis menangis. Raut wajah namja rupawan itu terlihat penuh kesakitan yang berhasil dia sembunyikan, ''Pergilah ke ruang Yunho-sshi, dia pasti sangat membutuhkanmu. Dia akan mencarimu setelah dia sadar. Dan.. Mian untuk sikapku tadi,'' Lanjut Victoria.

''Lalu kau?''

''Aku akan menunggu di sini saja. Aku tak ingin menganggu kalian.'' Kata Victoria dengan memaksakan senyum manisnya.

''Aku pergi dulu,'' Ujar Jaejoong dan segera dia melangkah pergi.

Victoria hanya menatap sendu pada punggung Jaejoong yang terlihat mulai menjauh.

Sedetik kemudian, air mata membasahi pipi perempuan itu.

Kenapa kau bisa sangat beruntung mendapatkan Yunho, Jaejoong-sshi? Aku iri padamu yang bisa mendapatkan cinta dari orang sebaik Yunho. Akankah anak ini nantinya bisa menyatukanku dengan Yunho? Semoga saja.

Lalu, bagaimana denganmu?

.

.

Tendang Bang Chun

.

.

Hola! Ara balik bawa lanjutan Fanfiction abal ini ^_^
Maafkan Ara karena update-nya terlalu lama :(
Ara gak punya banyak waktu soalnya.. Ara terlalu sibuk dengan urusan sekolah Ara, jadi, maafkan Ara yaa..
Maaf juga Ara gak bisa bales review kalian satu-satu, Ara gak ada waktu buat bales, tapi reviewnya Ara baca kok. Terima kasih banyak :)