You know? I know you love me.
By Dragonjun
Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Chapter 10.
Draco menunggu dengan gugup sampai tangga berputar itu berhenti. Menghadapkannya pada pintu kayu besar hitam. Dia mengetuk pintunya, dan jawaban dari dalam ruangan, memberinya izin untuk masuk ke dalam. Dia menarik nafas dalam menghadapi kegugupannya, Malfoy tidak pernah gugup.
"Kepala sekolah!" Draco menyapa kepala Sekolah yang sedang duduk di belakang meja panjang besar di ruangan bundar itu.
"Masuk, Professor Malfoy. Aku rasa kau punya urusan mendesak, mengingat ini agak terlalu pagi dan ah.. hari libur," jawab Professor McGonagall tanpa menaikkan pandangannya dari perkamen yang ada di depannya. Walaupun dia bilang itu masih terlalu pagi untuk bertamu dan hari libur, nyatanya dia juga masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Draco?" tanya lukisan Professor Snape terbangun dari tidurnya, curiga dengan kedatangan Draco, dia sepenuhnya terbangun untuk ikut mendengarkan pembicaraan yang akan dilakukan.
"Severus!" sapa Draco singkat pada lukisan ayah baptisnya, tidak diragukan mereka berkomunikasi dalam diam, Draco yakin Severus akan memberi tahu kabar ini di manor dan juga lukisan ayahnya. "Minerva, aku ingin berdiskusi sedikit denganmu. Tapi kalau kau agak terganggu sekarang, mungkin kita bisa mengatur lain kali. Tapi ini agak mendesak," lanjut Draco, Slytherin menarik ulur penuh kelicikan.
"Tak masalah. Kita bisa melakukannya sekarang. Lagi pula kau sudah mengirim burung hantu sebagai peringatan. Dan aku juga tidak ingin tidur lagi, walaupun ini hari minggu. Duduklah!" jawab Minerva McGonagall. Draco mengambil tempat duduk di depan meja Kepala Sekolah, sedangkan Kepala Sekolah membereskan perkamennya dalam satu gulungan dan merapihkannya di ujung meja, akhirnya dia mengangkat wajahnya untuk menatap Draco.
"Aku mendiskusikan sedikit mengenai posisiku dan juga Hermione," kata Draco memulai. "Kami memutuskan untuk menikah sebelum tahun ajaran selesai. Aku tau ini tidak seperti perjanjian kita, bahwa aku akan mengajar selama satu tahun untuk tahun ajaran ini. aku ingin tau pendapatmu." Draco mencoba sesopan mungkin, ini adalah sikap yang sering dia lakukan, dia tidak pernah membiarkan orang-orang membaca emosinya.
"Pendapatku tidak berguna, Draco, tapi saran, aku cukup bisa berikan. Tapi kapan tepatnya kalian berencana menikah?" tanya Professor McGonagall ada senyum tipis, sangat tipis terpeta di bibirnya.
"Kami mempertimbangkan sekitar bulan maret atau april. Tapi jujur saja, aku belum meminta langsung dengan Potter," jawab Draco. "Potter wali Hermione," lanjut Draco enggan, bahunya bergerak tak nyaman, dan Professor McGonagall entah kenapa merasa sedikit terhibur melihatnya.
"Hem, aku takut aku menambah bebanmu. Tapi aku tidak bisa melepaskan kalian berdua, aku tidak bisa mendapatkan guru sampai tahun ajaran baru. Aku berharap, melihat hubungan kalian, kalian akan menikah setelah tahun ajaran selesai," kata Professor McGonagall berterus terang, dia agak sedikit sedih dengan kenyataan bahwa dia akan ditinggalkan langsung oleh dua guru terbaiknya. "Saranku adalah, kau harus mencari penganti kalian berdua," kata Professor McGonagall. "Dan yang aku maksudkan benar-benar berkualifikasi. Satu Lockhart cukup untuk sepanjang sejarah Hogwarts berdiri!"
"Hem, aku akan mengusahakannya," jawab Draco sedikit berpikir. "Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa menemukkannya?" tanya Draco.
"Aku takut, kau harus menunda pernikahanmu, Draco. Kementrian tidak akan mengizinkan kalian menikah jika kalian masih bekerja pada instansi yang sama. Dan aku tidak bisa mengganti kalian jika tidak menemukan penggantinya lebih dulu. Aku akan berusaha mencarinya, tapi aku tidak bisa janji. Kau tau, sulit untuk mencari seseorang yang benar-benar hebat dalam ramuan, dan juga pertahanan ilmu hitam. Terlebih di tengah-tengah tahun ajaran seperti ini," kata Professor Mconagall menjelaskan. "Aku akan mencoba mengusahakan untuk kembali menghubungi Horace, tapi dia sudah menghilang sejak perang selesai. Lalu Hermione juga adalah kepala asrama Gryffindor. Mungkin Neville mau menggantikan. Tapi aku belum melihat ada solusi. Aku akan mengabarimu lagi nanti."
Draco kecewa mendengarnya, namun dia melihat tatapan penuh arti dari ayah baptisnya, dia tau akan ada rapat alot di bansalnya nanti. Menarik nafas sekali lagi, Draco berdiri dari tempat duduknya.
"Aku mengerti, Professor. Aku permisi."
...
Hermione menyerahkan secankir kopi ke tangan Draco, dan mengikuti duduk di sebelah Draco, memandang perapian yang sedang melahap kayu bakar. "Jadi bagaimana tadi? Apa yang kau bicarakan dengan McGonagall?" tanya Hermione, mengelungkan selimut di sekeliling tubuhnya, udara januari masih sangat jauh dari bersahabat.
"Rencana pernikahan kita," jawab Draco pendek menghirup kopinya.
"benarkah? Lalu apa katanya?" tanya Hermione menyenderkan kepalanya di bahu Draco. Draco menaruh cangkir kopinya di meja di depannya dan mengelungkan tangannya ke sekeliling Hermione, menarik pinggangnya semakin merapat.
"Not good. Intinya, Professor McGonagall bilang kita harus mencari penganti kita, baru Kementrian akan mengizinkan kita menikah," jawab Draco datar, namun Hermione sudah cukup kenal dengan nada suara itu, ada kesedihan di dalamnya. Hermione mengangguk mengerti dia sudah memprediksi hal itu. akan sulit menganti guru di tengah tahun ajaran seperti ini, dan dia cukup mengerti mencari guru yang berkualifikasi sangatlah sulit, kalau tidak mana mungkin mereka pernah memperkejakan Lockhart
"Draco, kita akan menghadapinya bersama. Sebelum kau terlalu pusing dengan semua pemikiran yang ada di kepalamu itu, perlu aku koreksi kita hanya perlu mencari satu penganti, antara kau atau aku," kata Hermione, menggarukkan hidungnya ke leher Draco.
"Ya, kau benar," jawab Draco mengambang berpikir, matanya menatap jauh. "Tapi tetap saja sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Sejujurnya aku lebih suka kalau bisa mendapatkan penganti untuk kita berdua, aku tidak ingin kita tinggal terpisah," jawab Draco semakin mengeratkan pelukkannya.
"Draco, bagaimana kalau kita tidak bisa menikah sebelum kau dua puluh lima tahun?" tanya Hermione enggan, dia tidak suka membayangkan hal ini. dia masih teringat pembicaraan Draco dengan Narcissa, bagaimana kalau Narcissa bersikeras untuk menikahkan Draco dengan gadis pilihannya? Dan kalaupun Draco tetap memilihnya, apakah dia bisa hidup tanpa warisannya?
"Aku akan kehilangan Malfoy Corp," jawab Draco masih dengan nada datar.
"Kau tidak bisa mengatakannya dengan mudah seperti itu. aku mendengar pembicaraanmu dengan ibumu," ucap Hermione agak kesal karena Draco mengentengkan masalah yang menurutnya berat.
"Aku tidak akan menikah dengan siapapun selain denganmu. Aku bahkan sudah mempersiapkan diri untuk kehilangan perusahaan itu, sebelum kau melamarku," jawab Draco dengan senyum nakal, Hermione mencubit bagian lengan atas Draco "Aw.."
"Aku serius," jawab Hermione kesal.
"Aku juga serius. Bohong kalau aku tidak menginginkan perusahan itu. tapi aku sudah membuat rencana B, kalau hal itu terjadi. Dan sekarang aku pikir aku akan tetap menjalankan rencana B-ku itu, walaupun aku mendapat ataupun tidak warisan itu," jawab Draco mantap, rapat besarnya dengan lukisan ayah dan juga ayah baptisnya yang alot, membulatkan tekadnya yang lama tersimpan.
"Oh ya? Katakan padaku," pinta Hermione. Draco memanyunkan bibirnya pura-pura berpikir.
"Hem itu, aku berencana untuk membuka usaha yang berhubungan dengan hobbi-ku. Ramuan," jawab Draco agak malu. Hermione tidak tau kenapa Draco perlu malu. Bukankah membuat usaha baru itu bagus, setidaknya dia berusaha, Fucking Gryffindor, jelas Draco tidak berpikiran sama dengannya.
"Kau mau membuat perusahan penyedia ramuan? Atau toko bahan-bahan ramuan?" tanya Hermione, membuat suasana menjadi ringan kembali.
"Penyedia ramuan, aku berpikir bisa marger dengan Theo, aku yakin dia tidak akan menolakku," jawab Draco berpikir, tapi tampak yakin.
"Ada perbedaan antara teman dan bisnis, Draco," Hermione memperingatkan.
"Tetap aku tau dia akan menerima penawaranku," kata Draco amat yakin kali ini.
"Aku hanya berharap itu tidak akan mengganggu persahabatan kalian," kata Hermione. Dia benar-benar berharap hal itu. banyak sahabat yang menjadi musuh karena uang, dan bisnis penuh dengan uang. Hermione menyukai persahabatan Draco, Theo dan Blaise. Dia tidak ingin Draco kehilangan sahabat-sahabatnya itu, apalagi karena harta.
"Hermione..." panggil Draco lirih.
Draco mendudukkan dirinya lebih tegak, Hermione ikut duduk dengan tegak. Draco menarik sesuatu dari kantung celananya, sebuah kotak cincin beludru hijau gelap. Draco membuka penutupnya dan memperlihatkan cincin platinum berhiaskan batu safir, biru, warna kesukaannya.
"Draco," panggil Hermione gugup.
"Hermione, mau kau menikah denganku?" tanya Draco lirih. Hermione terkesiap, bagaimana mungkin sekarang Draco melamarnya dengan cincin?
"Draco, bukannya kau bilang ingin melamarku secara resmi?" tanya Hermione ragu.
"Apa kau akan menolakku kalau Potter menolak lamaranku untukmu?" tanya Draco retoris.
"Tidak. aku sudah bilang. Aku tidak memerlukan persetujuannya, tapi kehadirannya sangat penting untukku," kata Hermione mendesah. "Tapi kau sendiri yang bilang akan melamarku di depannya?" lanjut Hermione agak kesal, dia sudah akan menangis karena bahagia. Dia jelas akan menerima Draco walaupun Harry menolak. Atau bahkan kalau Harry tidak mau datang ke pernikahannya.
"Aku tau. Hermione, hanya saja..." kata-kata Draco terputus. Hermione tersenyum mengerti. Ini adalah saat yang sulit untuk kekasihnya itu, dia hanya ingin memastikan bahwa Hermione tidak akan mencampakkannya "Mau kah kau menerima cincin ini..?"
"Tentu, Draco. Ini sangat cantik," kata Hermione tersenyum, Draco memakaikan cincin ke jari manis Hermione, dan menciumnya lembut.
"Terima kasih," bisik Draco lirih.
...
"Hermione.." kata Draco menarik tangan Hermione, menghentikan langkah mereka menuju rumah yang ada di depan mereka, rumah dengan tambahan-tambahan aneh di sekelilingnya yang membuatnya miring.
"Ayo, Draco. Kita sudah hampir terlambat," kata Hermione menarik tangan Draco, memawa mereka ke rumah miring tersebut.
"Hermione, kau bilang aku harus mendatangi Potter. Tapi ini Weasley," kata Draco bersikeras belum mau melangkahkan kakinya.
"Draco. Mr Weasley menggundangku untuk makan malam dan Harry akan ada di sini. jadi sudah ayo kita cepat selesaikan ini," kata Hermione juga bersikeras, yang akhirnya membuat Draco luluh dan mengikuti langkah Hermione.
"Aku akan langsung ber-apparate kalau tidak mengingat aku terlalu mencintaimu," kata Draco bergumam. Hermione tersenyum senang.
"Aku juga mencintaimu, Draco. Ayo cepat jalannya," kata Hermione tegas.
Mereka menyebrangi halaman berumput melewati kandang babi, terdengar kasak-kusuk aneh dari pohon rimbun yang ada disebelahnya, kemungkinan itu adalah para jembalang yang sedang berpesta menikmati indahnya bulan purnama.
Hermione mengetuk pintu.
Mrs Weasley membuka pintu dan menyapa dengan pelukkan hangat, "Selamat datang, dear!" sapa Mrs Weasley, tidak menyadari keberadaan Draco di belakangnya. "Masuk."
Mrs Weasley memimpin Hermione untuk masuk ke dalam rumah ke arah dapur yang bersatu dengan ruang keluarga. Sudah banyak yang datang, semua weasley kecuali charlie yang ada di Rumania dan Percy. Tapi kebisingan di rumah itu masih terasa karena tambahan Fleur dan si kecil Teddy Lupin dan Victorie. Draco mengikuti di belakang Hermione memasuki rumah.
"Bloody Hell, kau membawanya," kata Ron dengan mulut penuh kudapan, pacarnya disebelahnya tidak setuju dengan tingkahnya yang bicara dengan mulut penuh makanan.
"Georgie, kedatangan musang," kata Fred menyenggol perut kembarannya yang ada di sebelahnya, air yang ada di gelasnya tumpah.
"Musang albino," jawab George kesal, melempar pandangan kesal pada Draco.
"Fred! George! Jaga sikap kalian. Hai, Hermione, dear," Mrs Weasley memperingatkan putra kembarnya. Dia memberikan senyuman permintaan maaf pada Hermione namun seperti segirai, dia juga tidak menyangka akan kedatangan tamu tambahan. "Aku merindukanmu. Kau membawa Draco."
"Iya, Mrs Weasley. Maaf aku tidak memberitahumu lebih dulu, hanya saja kami ingin bertemu dengan Harry, jadi aku sekalian membawa Draco," kata Hermione beralasan.
Harry yang baru turun dari lantai atas, menyadari tamu yang baru datang dan langsung memanggil sahabat baiknya itu! "Hermione."
"Harry," jawab Hermione, memeluk sahabatnya.
"Kau membawa dia?" tanya Harry tidak percaya, menyadari keberadaan Draco yang ada dari belakang pundak Hermione. Dia masih merasa canggung dengan keberadaan Draco di sekitarnya, terlebih sebagai kekasih Hermione, namun dia tidak mau menyakiti hati sahabanya itu, jadi mencoba untuk tidak terlalu keras.
"Ya, Harry," kata Hermione tersenyum senang menarik kepalanya dari bahu Harry. Namun Harry belum melepaskan pelukkannya, dan Hermione menempatkan tangannya di pundak Harry. "Ada kabar yang ingin Draco sampaikan pada kalian," kata Hermione antusias.
Dan Harry menyadari cincin yang ada di jari manis Hermione.
"Hermione, apa ini? ini bukan... kau tidak akan menikah dengannya kan?" tanya Harry tidak percaya, semua orang di sana terkejut kecuali Draco dan bocah-bocah yang belum mengerti. Hermione membalas dengan senyum.
"Sejujurnya, itulah kabar yang ingin kami sampaikan," kata Hermione datar.
"APA?" kata Harry dan Ron bersamaan, Ron yang sudah berdiri di belakang Harry ikut berteriak.
"Kau bercanda, kan?" tanya Harry. Hermione menggeleng. Draco membersihkan tenggorokkannya.
"Hem, semuanya!" kata Draco menarik perhatian semua orang. "Aku, seperti yang kalian tau, Draco Malfoy, sudah melamar Hermione Granger untuk menjadi istriku. Potter, sebagai orang yang paling dekat dengan Hermione, aku meminta padamu untuk menikahinya," kata Draco pelan namun tegas. Hermione tidak bisa lebih senang, Draco menunjukkan sikap tenang namun percaya diri dan tidak terintimidasi oleh semua orang di the Burrow.
"Apa kalian memerlukan izinku?" tanya Harry mengejek.
"Harry!" Hermione memperingatkan! Alisnya berkerut kecewa.
"Wow, kau akan menikah dengan musang? Apa dia hebat ditempat tidur?" tanya Fred menyerigai, namun hal itu membuat suasana tegang menjadi sedikit mencair, Bill mendengus namun memberikan senyum nakal pada Hermione. Wajah Hermione terasa menjadi merah padam.
"Sejujurnya Fred, mungkin setelah ini kau bisa membawa Draco ke belakang untuk mengajarimu satu dua teknik!" kata Hermione membela Draco, Draco hampir tak bisa menahan tawanya mendengar itu, dan ekspresi Harry dan Ron adalah yang paling menghibur. Hanya George dan Bill yang tertawa lepas, sedangkan Ginny, Fluer dan Sabina, pacar Ron saling bertukar senyum nakal.
"Thank you Ferret," kata Fred mendengus.
"Hermione!" bentak Harry, tidak nyaman dengan apa yang diucapkan Hermione, namun Hermione tidak mau kalah balas membentak.
"Harry!"
"Hermione," kata Harry hati-hati. "Apa yang kau pikirkan? Baru kemarin kau membuatku syok karena mengumumkan hubunganmu dengan Malfoy, sekarang kau datang kemari bilang kau akan menikah dengannya? Apa yang kau harapkan untuk aku katakan?" tuntut Harry putus asa.
"Harry!" kata Hermione memelas. Draco menarik Hermione menenangkan, gadisnya sudah hampir menangis.
"Potter! Aku tau ini mungkin membuatmu syok dan sulit untuk menerimanya! Tapi aku berjanji padamu bahwa aku akan membahagiakannya, dan kalian yang ada di sini sebagai saksinya," kata Draco bersungguh-sungguh. Dia menatap langsung pada Harry Potter, musuh bebuyutannya. Dia ingin menyakinkan Harry bahwa dia tidak salah mempercayakan Hermione kepadanya.
Harry memalingkan wajahnya dan mengaruk-garuk rambutnya, dia melihat pasangan di depannya dan jujur saja dia tidak bisa bilang tidak. dia bisa melihat kesungguh dua orang itu, dan merasa bersalah kalau dia akan membuat mata penuh bahagia Hermione menjadi redup seperti tahun-tahun belakangan ini.
"Aku pegang kata-katamu, Malfoy!" kata Harry akhirnya.
"Harry?" tanya Hermione lagi memastikan.
"If you Happy!" jawab Harry enggan. Hermione berlari memeluk sahabatnya itu.
"I love you, Harry!"
...
Sorak-sorai mengema, banyak yang bergerombol membentuk grup-grup menuju lapangan Quidditch. Final Quidditch akan segera berlangsung. Juara bertahan Slytherin melawan musuh terbesar mereka Gryffindor.
"Hermione?" panggil Harry, dia dan Ron seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu menyempatkan diri untuk menonton pertadingan final piala Quidditch di Hogwarts, kali ini dilengkapi dengan Charlie yang belum kembali ke Rumania, dia hadir dalam pernikahan Hermione dan Draco.
"Harry, Ron! Charlie! Kalian datang?" tanya Hermione senang melihat sahabat-sahabanya datang.
"Harus diakui aku perlu hiburan. Dan kami menemani Charlie, dia sudah lama tidak menonton piala Quidditch di Hogwarts!" kata Harry, memberikan pelukkan singkat kepada sahabanya itu.
"Tentu, ini pertandingan besar. Kami selalu datang setiap final Quidditch. Lagi pula kali ini Gryffindor masuk final. Oh, aku merindukan mendapatkan piala Quidditch lagi," kata Ron mengenang. Charlie terlalu sibuk melihat sekeliling.
"Terlalu berharap Weasley!" ejek Blaise yang baru saja tiba dia ditemani oleh Daphne.
"Zabini!" sapa Harry.
"Hello, Mrs Malfoy! Mana Theo dan Draco?" tanya Blaise memberikan pelukkan singkat juga pada Hermione, Daphne hanya mengangguk dan tersenyum menyapa yang lain.
"Blaise, mereka sedang di aula tadi. Kita ke lapangan Quiddich duluan saja. Mereka pesan untuk mencarikan tempat duduk untuk mereka, juga," kata Hermione. Mereka berjalan ke arah lapangan Quidditch bersama-sama, tapi Harry mendekatkan diri pada Hermione untuk bicara dengan sahabanya
"Bagaimana kabarmu, Hermione?" tanya Harry pada Hermione.
"Seperti yang kau lihat aku baik," jawab Hermione ceria, dia memberikan senyuman terbaiknya untuk menyakinkan Harry.
"Kau tau apa yang aku tanyakan!"
"Aku benar-benar baik, Harry. Memang agak sulit dengan Draco dan aku tinggal di tempat berbeda, tapi selama tiga bulan ini kami tidak mengalami kendala, Professor McGonagall mengatur jaringan floo di kantor Draco sehingga dia bisa pulang ke Manor setiap malam. Lagi pula aku juga sibuk, sejujurnya aku merasa sangat beruntung karena sudah menikah dengan Draco. Perpustakan di Manor sangat membantuku untuk persiapan training untuk Penyembuh bulan oktober nanti," kata Hermione menjelaskan, dia memberikan usapan penuh kasih sayang pada sahabatnya itu. Harry mengangguk mengerti. Dalam Hati Harry harus mengakui bahwa Hermione benar-benar tampak baik, bahagia. Dia senang temannya sudah menemukan kebahagiaanya.
"Bagaimana dengan Narcissa?" tanya Harry
"Dia baik. Dia sudah mengharapkan cucu sebenarnya, tapi aku dan Draco ingin menundanya dulu," kata Hermione merona, pikiran untuk memiliki momongan sangat menyenangkan, tapi ada yang perlu dia selesaikan dulu, dia tidak ingin dia menyesal nantinya. Dia yakin waktunya akan tiba ketika dia dan Draco siap memiliki anak. "Aku perlu menyelesaikan trainingku dulu. Mungkin setelah aku selesai baru kami akan membicarakan momongan. Kau? Bagaimana dengan Ginny, kenapa dia tidak ikut?" tanya Hermione lagi.
"What? Oh, Ginny? Dia hamil," jawab Harry tersenyum senang. Mata Hermione melebar senang, "Tiga bulan," kata Harry.
"Oh, Harry! Aku bahagia," respon Hermione. Mereka menaiki tangga menuju box yang ditengah yang sudah hampir penuh dengan para guru dan alumni-alumni Hogwarts yang ikut menonton. Professor McGonagall menggunakan jubah hitam untuk memberitahu bahwa dia netral, tidak mendukung salah satu asrama, tapi pita yang ada di kantung di dadanya berwarna merah dan ada embel singa di ujungnya.
"Lalu bagaimana dengan Malfoy? Apa dia masih bertahan di Hogwarts?" tanya Harry penasaran. Mereka meminta Theo untuk mengantikan posisi Draco menjadi guru PTIH, dan dengan susah payah akhirnya Theo setuju, setidaknya sampai akhir tahun ajaran sedangkan Draco mengantikan posisi Hermione untuk menjadi guru Ramuan. Sebenarnya Hermione belum mau berhenti, tapi Draco menyakinkannya untuk memulai persiapan untuk training penyembuhnya di bulan oktober. Lagipula, ini agar mempermudah Theo dan Draco untuk membangun rencana usaha mereka.
"Kami sudah cukup sulit membujuk Theo untuk mengantikan posisi Draco untuk tiga bulan terakhir ini, tapi Theo tidak mungkin meninggalkan perusahaannya lebih lama lagi, dan Professor McGonagall hanya menemukan satu guru yang bisa mengantikan posisi Draco, karena memang kontrak kerjanya hanya satu tahun ini. tapi Dia belum menemukan pengantikku, jadi kemungkinan Draco masih akan menjadi guru Ramuan," kata Hermione menjelaskan, dia cukup sedih dengan hal itu, tapi apabila dia melakukan training bulan oktober, maka frekuensi pertemuan mereka akan semakin sulit.
"Jadi Malfoy akan bertahan sampai tahun depan?" tanya Harry
"Kemungkinan besar kalau kami tidak bisa menemukan pengganti, mencari pembuat ramuan yang benar-benar ahli sangat sulit, Harry. Kalau tidak, mana mungkin Draco akan mengantikan aku. Theo jelas tidak terlalu suka menjadi guru ramuan," kata Hermione mendengus, alasan sebenarnya adalah karena Theo sama berkualifikasinya untuk menjadi guru ramuan namun dia tidak mau menjadi guru ramuan, menurutnya itu kurang menarik dan tidak sexy. Hermione ingat Blaise sampai memukul kepalanya karena hal itu, tapi Theo bersikeras tidak mau menjadi guru ramuan, dia tidak mau bau asap dan berpenampilan kucal seperti mendiang Professor Snape. Sampai dia memberi ultimatum terima atau dia menolak menolong mereka, Akhirnya Draco mengalah mengambil posisi Hermione menjadi guru ramuan.
"Bisa dimengerti," kata Harry duduk di deretan ketiga dari atas.
"Bloody Hell, apa yang terjadi?" tanya Ron terkejut. Harry dan Hermione mendengok mengarah pada dua orang pria yang sedang berjalan ke arah mereka. Keduanya sama-sama tinggi, tampan dan memakai jubah hitam, yang satu berambut hitam dan mengenakan syal hijau perak Slytherin, sedangkan yang satunya berambut perak platina memakai syal merah emas Gryffindor.
"Apa yang dilakukan, Malfoy!" tanya Harry terkejut.
"Harry, apa aku belum bilang, Draco mengantikanku menjadi Kepala asrama Gryffindor," kata Hermione enteng, seakan itu bukan masalah serius.
"Aku harap ini bukan taktik untuk menjatuhkan tim Gryffindor," kata Ron mengelengkan kepala tidak percaya.
"Gezz, Weasley aku malah berharap hal itu," balas Blaise yang ada di depannya, dia cukup tau kenapa bicara seperti itu, karena dia tau Draco sangat berambisi membuat tim Gryffindor yang dalam tiga tahun belakang tidak pernah mengambil tempat di final, untuk menjadi juara. Tentu saja, perlu diingat berkat iming-iming indah, malam terbaik dari istrinya. "Kau harus berterima kasih padanya kalau Gryffindor sampai menang. Kau ingat mereka di posisi ke tiga tahun lalu, dan terakhir di tahun sebelumnya."
Draco dan Nott mencapai tempat mereka, Theo mengambil tempat duduk di sebelah Blaise dan Daphne, sedangkan Draco menuju sebelah istrinya, dia memberikan ciuman singkat sebelum duduk di sebelah Hermione
Tidak berapa lama pertandingan di mulai. Suara sorai-sorai mengema menambah ketegangan. Kedua kubu saling mencuri angka. Tapi jelas chaser Slytherin tampak lebih unggul, Sebastian Rosier, sepupu Draco sampai memberikan serigai menyebalkan ke Draco menunjukkan bahwa dia tak akan memberi ampun pada Gryffindor, dan memang dialah pencetak angka terbanyak. Ketegangan berlanjut sampai pada kedua seeker menukik tajam. Mereka sepertinya sudah menemukan snitch. Mereka saling adu manuver untuk menangkap snitch. Draco mengalungkan kedua tangannya berdoa, dan kemudian keduanya berongsot ke tanah, dan dengan bangga Derren Spinet menunjukkan snitch ke udara, membuat gerombolan merah berkoar-koar bergembira memenangkan piala. Gryffindor menang hanya dengan selisih tiga puluh angka, benar-benar kemenangan tipis, tapi tetap sebuah kemenangan.
Professor McGonagall memberikan piala kepada kapten Gryffindor, dan mereka terbang melakukan gerakan akrobatik di udara dan kemudian meluncur secara berbaris memberikan tos pada Draco, sebagai ucapan terima kasih karena telah mengembalikan kejayaan mereka. Bahkan Charlie ikut memberi pelukkan pada Draco juga. kedua sahabatnya hanya memandang kesal dari tempat duduk mereka
Draco mengalihkan pandangannya pada Hermione dan dia langsung memberikan ciuman panas dan menggairahkan, tidak perlu disebut di depan umum.
"Gezz, bisakah kalian tidak melakukannya di depan publik?" tanya Ron jijik
"For the Winner!" bisik Hermione, setelah melepaskan ciuman mereka.
"You, the best prize that i get!" bisik Draco, dan kembali menciumnya.
"Gezz, Malfoy. Aku berharap anak baptisku masih ular-ular Slytherin dibandingkan singa-singa Gryffindor," kata Theo menyerigai.
"Thanks, Nott!"
...
Sampai di dalam aula, Hermione agak terkejut karena menemukan aula sudah di hiasi tidak hanya dengan dekorasi Gryffindor yang baru saja memenangkan piala Quidditch tapi juga dengan Slytherin. Mereka berpesta seakan itu bukan kemenangan tim Gryffindor saja.
"Aku baru tau ini adalah pesta perpisahan untuk kita. Kau tidak bilang kalian sudah menemukan penganti guru ramuan?" tanya Hermione bingung, melihat para murid menari-nari di bawah panggung, dengan band yang bernyanyi lagu beraliran Rock.
"Sejujurnya tidak," jawab Draco singkat. Hermione menaikkan alis curiga. "Jadi, kami hanya mendapatkan guru pertahanan yang akan mengantikan posisiku," jawab Draco.
"Lalu? Yang mengajar guru ramuan?" tanya Hermione bingung.
"Theo!"
"Theo? Bukankah kau bilang dia tidak bisa meninggalkan perusahaanya lebih lama lagi?" tanya Hermione lagi.
"Kita sungguh menginspirasi, Darling. Lihat!" kata Draco menunjuk arah jam 12 di sana ada Theo sedang bercakap-cakap dengan seorang penyihir wanita cantik, berambut pirang, dan tinggi bagai model. Hermione memperhatikan dengan seksama, wanita itu tersenyum dan Hermione merasa familiar dengan wajah itu.
"Apa aku mengenalnya?" tanya Hermione.
"Dia adik Delacour," jawab Draco.
"Gabrielle!"
"Yep, dia akan mengantikan posisiku sebagai guru Pertahana. Dan Theo berharap bernasip sama denganku, dia akan tinggal di sini untuk satu tahun, sampai Slughorn kembali tahun depan dari perjalanannya!" kata Draco menjelaskan. "Dan dia berharap seperti kita, mendapatkan romansa menjadi guru," kata Draco melanjutkan.
Hermione mengelengkan kepala geli.
"Kau mungkin menganggap ini hanya lelucon. Tapi aku benar-benar bersyukur karena memutuskan menjadi guru, Hermione," kata Draco mengambil tangan Hermione ke tangannya.
"Dan aku senang kau menjadi guru, Draco," jawab Hermione pelan, menempatkan kecupan singkat. "Jadi kita akan pulang ke rumah, sekarang?"
Draco mengangguk
"Hermione?" panggil Draco menarik tanggan Hermione, ketika Hermione akan berdiri.
Hmm..
"Sebentar, ini!" kata Draco menaruh jurnalnya dulu. Jurnal yang ditemukan oleh Hermione di kamar kebutuhan. Jurnal yang dia kembalikan saat mereka menikah.
"Jurnalmu?" tanya Hermione tak mengerti.
"Aku menuliskan penutup di jurnal itu, kau bersedia membacanya?"
Hermione sedikit ragu, namun akhirnya dia membuka halaman paling akhir. Tulisan Draco masih sama, miring, tegas, dan anggun. Menarik nafas dalam, Hermione mulai membaca catatan akhir di dalam jurnal itu.
15 Juni 2005
Pertama kali aku menginjakkan kaki disini, waktu aku berumur sebelas tahun. Aku hanyalah anak orang kaya manja, sombong, arogan, keji dan congkak. Aku berjalan bagaikan semua orang adalah rendah dan akulah yang terhebat. Hogwarts menawarkanku ilmu, sahabat, harapan, hidup.
Untuk kedua kalinya aku melangkahkan kakiku, Namun kali ini aku bukan lagi anak kaya yang manja dan sombong. Walaupun aku masih arogan! Hehe namun aku datang dengan kegamanngan, kehancuran dan rasa putus asa, namun Hogwarts masih menawarkan hal yang sama. Dan aku beruntung dan juga bersyukur aku datang ke Hogwarts.
Satu tahun ini sungguh berharga untukku, aku menemukan murid-murid yang membuat hidupku yang membosankan menjadi menyenangkan, pengalaman-pengalaman yang tidak mungkin aku lupakan, aku tidak pernah membayangkan untuk bisa berbicara pada para Hufflepuff dan mengajari mereka berdansa, atau bahkan menjadi kepala Asrama Gryffindor, memberi mereka latihan Quidditch untuk memenangkan piala. Namun yang paling aku syukuri adalah bertemu dengan kekasih hatiku, wanita cantik, cerdas, dan baik hati yang bersedia menjadi pendamping hidupku, Hermione.
Aku bersyukur karena aku memilih Hogwarts untuk memulai hidupku yang hancur berantakan tak berarah. Aku bersyukur untuk kembali pulang ke Hogwarts, karena Hogwarts adalah rumah dimana dia akan menerimamu untuk kembali. Sekarang, aku siap untuk menghadapi hidupku, bersama istriku, aku akan membuat sejarah baru untuk hidupku dan juga dirinya, dan mungkin anak-anak kami mungkin, tapi PASTI!
Hermione menutup jurnal Draco setelah dan air mata menetes di matanya, dan langsung memeluk suaminya.
"Itu adalah akhir dari jurnal itu, Hermione. Apa kau siap untuk menghadapi dunia di luar sana yang menunggu kita?" tanya Draco.
Hermione mengangguk.
"I love you," kata Draco pelan mengencangkan tautan di jari-jarinya dan jari-jari Hermione.
"I love you, too," jawab Hermione.
Dengan lembut Draco mengecup Hermione singkat namun manis. Mereka berdua beriringan berjalan melintasi halaman sekolah. Menempatkan setiap harapan dalam langkah-langkah mereka. Setelah mereka melintasi gerbang sekolah, untuk terakhir kalinya mereka menatap balik pada kastil yang megah, yang sinar-sinar lampu obor menerangi dari dalam keluar melalui jendela-jendelannya. Menempu harapan, mereka saling menatap dan tersenyum. Mereka tau, bahwa mereka akan selalu bisa kembali ke sana. Namun sekarang saatnya mereka berpetualang, mengukir sejarah mereka, sehingga mungkin suatu saat nanti para murid yang belajar di Hogwarts akan mengenang nama mereka selamanya...
YE YE YE END
AN/ Terima kasih untuk kristinenuuna1212, aquadewi, Staecia, scorpryena, viviendasarii, mrs. delacour, VeeQueenAir dan 9farteluf. Untuk semua yang selalu ngasih semangat dari review, nge-follow dan nge-favourite dan kalian yang juga hanya diam-diam membaca, hehe, terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai selesai. Sorry saya ngk buat waktu mereka menikah, karena saya kekurangan ide, haha.
Sekarang waktunya saya jadi pembaca, kemarin liat-liat banyak fanfict baru yang sepertinya menarik tapi tidak sempat untuk di baca. Oke semua, sampai jumpa di cerita berikutnya.. da da da
*I love FRED, so dia tidak mati.
Dragonjun always with LOVE
