Tittle: GET DOWN (Meanie)

Cast: Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Others

Genre: Yaoi, bdsm/?

Rated: M

Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.

Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.

DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE

.

.

.

.

Suara desahan dan kecipak halus samar-samar terdengar dari ruangan itu. sebuah apartemen mewah dengan cat putih yang didominasi biru tua. Ruangan itu berada di lantai tiga, membuatnya tersinari matahari cukup banyak ditambah jendela-jendelanya yang lebar dibiarkan terbuka sehingga angina berhembus menerbangkan erangan nyaring dari ruangan itu.

Sesosok pria tampan bersurai hitam, tampak menikmati tubuh ramping dibawahnya. Pria bermata bulat itu mengecupi dan menjilat bahkan sesekali menghisap kuat leher jenjang yang disuguhkan di hadapannya. Sementara sosok satu lagi, seseorang berambut sepundak yang cantik, tampak mendesah kenikmatan disertai peluhnya yang mengucur dari pelipisnya, memberikan kesan seksi dalam permainan panas mereka.

Seungcheol menarik kaus yang dipakai Jeonghan sampai tubuh ramping itu topless. Lidahnya bergerak turun dari leher jenjangnya menuju kedada rata Jeonghan. Mulutnya menjilati nipple pink kecoklatan Jeonghan yang membuat pria cantik itu menggelinjang. Jilatannya mulai didominasi hisapan dan akhirnya Seungcheol meraupnya tak sabar, mengulumnya posesif.

"Anghhh .. .. eungh h h. . . Seunghhhh cheollieehhh. . .. " Desarh Jeonghan erotis.

Drtt. . . Drt. . .

Ck, ponsel sialan. Getarnya begitu nyaring merusak irama erotis yang diciiptakan dua insan yang tengah bergumul itu.

Seungcheol mengabaikannya, meski yang bergetar ribut ada ponselnya sendiri.

"Eungh. . . Seungh. . cheoliee.. ." Jeonghan mendorong pelan dada Seungcheol, menjauhkannya. Membuat si tampan menggeram rendah dan mengumpat kecil.

"Fuck. Menganggu saja."

"Angkat dulu, mungkin penting." Ujar Jeonghan lembut. Seungcheol mengulurkan tangannya, meraih ponselnya yang bergetar di nakas samping ranjang. Menatapnya sekilas, kemudian mengangkatnya.

"Halo? Ada apa Mingyu-ya?" Tanya Seungcheol. Jeonghan ikut meminda di loudspeaker, dan Seungcheol menurutinya.

Hening. Hanya terdengar desahan napas berat dari Mingyu.

"Ya! Kim! Ada apa?! Bicaralah!" Seungcheol tak sabar.

Mingyu masih belum menjawab. Dari helaan napasnya, terdengar dia sedang gelisah.

"Kim Mingyu! Kau sudah menganggu acaraku dengan panggilanmu dan sekarang kau tak berkata apapun?! Demi Tuhan, Kim Mingyu!" Sungut Seungcheol, jengkel bukan main. Pasalnya, ia jadi harus menahan hasratnya sendiri.

MIngyu kembali menghela napas berat. "Huft. . . begini. . ." Lirih Mingyu.

"Begini kenapa?" Seungcheol semakin tak sabar.

". . . Wonwoo diculik, Hyung." Sahut Mingyu pelan.

"APA?!" Itu teriakan Jeonghan dan Seungcheol berbarengan.

"Heh? Suara siapa itu, hyung?" Tanya Mingyu yang ikut mendengar teriakan nyaring Jeonghan.

"Won-woo diculik?!" Ulang Seungcheol.

"Kim Mingyu-ssi, ini aku Jeonghan. Aku temannya Wonwoo saat di Changwon. Katakan, siapa yang menculik Wonwoo?" Tanya Jeonghan lembut, meski ia panic setengah mati.

"Dia. . . kau pasti sudah tahu. . . orang yang selalu meneror Wonwoo dnegan kata get down. . ."

"Apa?! Si brengsek itu?!" Maki Jeonghan, wajahnya memerah karena kesal.

"Maksudmu, orang yang waktu itu, gyu?" Tanya Seungcheol.

"Iya hyung. Aku minta bantuanmu untuk mendatanginya, dia ingin aku sendiri yang datang." Ujar Mingyu terdengar putus asa.

.

.

.

.

Sementara itu, di sebuah Apartemen yang ada di pinggiran kota Seoul, tempat yang gelap dan hanya sedikit tersinari matahari. Ruangan itu remang-remang dan tidak begitu luas.

Sesosok pria manis berkemeja putih kebesaran, terduduk dengan kepala menunduk. Kedua tangannya terikat pada panggiran ranjang. Samar-samar isakan terdengar dari sosok itu. kemejanya tampak koyak dibeberapa bagian. Bahkan bercak darah terlihat jelas di bagian punggungnya. Pria itu tak mengenakan bawahan, hanya celana dalam hitam yang membalut kakinya. Sementara ruangan itu cukup dingin dan kemejanya benar-benar tipis.

Keadaannya begitu mengenaskan. Apalagi saat ia mengangkat kepalanya, tampak luka lebam di wajahnya. Matanya sembab, lehernya penuh bercak keunguan, di tangannya tampak banyak luka sayatan kecil, bibirnya membengkak, tatapannya sayu, rambutnya lepek, dan jangan lupakan mulutnya yang terus terisak pelan.

Ruangan itu hening, hanya terdengar detik jarum jam selain suara isakan lirih pemuda itu. isakan pelan yang begitu menyayat hati.

Angina berhembus semilir lewat celah jendela. Ruangan itu bercatkan warna putih pucat yang tampak tua. Sedangkan prebotannya terkesan biasa bahkan kumuh.

Selang beberapa menit, pintu kayu tua itu berderit. Seorang pria tampan bertubuh tinggi dengan bahu lebar yang memakai jeans hitam longgar dan kaus hitam tanpa lengan, masuk. Tangannya membawa nampan makanan.

"Waktunya makan, Wonie. . ." Sapa orang itu dengan senyum manis yang kontras dengan wajahnya yang sangar.

Pria manis yang dipanggil Wonie itu mengangkat kepalanya, menatap sayu orang itu.

"Hyung. . . lepaskan aku. .. tanganku sakit. . ." Lirih pemuda itu, Jeon Wonwoo.

Sosok yang dipanggil Hyung itu menghapus senyumnya. "Melepasmu? Lalu membiarkanmu menyelinap kabur dariku lagi, begitu?" Sinisnya.

"Jangan harap."

"Aku janji takkan lari. Tapi lepaskan talinya. Tanganku sakit." Mohon Wonwoo lagi. Melempar tatapan memelas pada orang itu.

"Janjimu hanya omong kosong sayang, kalau dulu kau menepati semua janjimu padaku, maka kita takkan seperti ini." Lagi, orang itu tersenyum manis.

Tali yang mengikat pergelangan tangan Wonwoo memang kencang. Sampai tali kasar itu menggores kulit putih pucat Wonwoo, membuatnya terkelupas.

"Hyung. . . aku mohon. . . kali ini saja. . ."

Terdengar dengusan pelan. Tapi detik berikutnya, sosok itu melepas ikatan tangan Wonwoo. "Baiklah, hanya saat aku bersamamu. Selebihnya, aku akan mengikatmu lagi."

Wonwoo terdiam. Menundukkan kepalanya. Air matanya merembes membasahi wajahnya lagi. Ia ingin pulang. Ini lebih buruk dari kurungan Mingyu. Ia ingin pulang, ingin Jihoon yang menemaninya makan, ia ingin bermain dengan Michi, ingin menelpon Eommanya, dan ia ingin bertemu Mingyu. Satu yang baru Wonwoo sadari, ia merindukan pria tampan bergingsul lucu itu.

.

.

.

.

Jihoon membatu setelah menerima telepon dari Mingyu. Matanya menatap nanar ranjang di hadapannya. Seharusnya, Wonwoo tertidur di sana. Ia jadi menyesal meninggalkannya sendirian di kamar. Padahal ia hanya pergi selama dua puluh menit untuk memandikan dan memberi makan Michi. Tapi hasilnya fatal sekali.

Jihoon merasa ini salahnya. Ia benar-benar terpukul, Wonwoo satu-satunya orang yang sudah dianggapnya saudara sendiri di rumah ini. Saat bersama Wonwoo, Jihoon tak merasa dirinya adalah pelayan, karena Wonwoo memperlakukannya seperti teman. Perlahan, bahu pemuda mungil itu mulai bergetar. Air matanya mengalir.

"Kau dimana, Wonu-ya? Pulanglah. . ." Lirihnya dengan tangis.

.

.

.

.

BRAK!

Pintu terbuka lebar. Dan menampakkan sosok yang membukanya dengan kencang itu. seorang pria cantik berambut pirang sepundak dengan print t-shirt biru muda dan jeans putih panjang. Jeonghan terlihat tengah-engah. Sepertinya dia habis berlari.

Sementara sosok satunya yang berada di ruangan itu tertegun. Terkejut dengan kedatangan Jeonghan yang begitu sarkatis baginya. Dokter muda itu melepas kaca matanya. Mengangkat wajahnya dari berkas-berkas hasil pemeriksaan penyakit di tangannya. Mengangkat sebelah alisnya,

"Ada apa, Yoon Jeonghan?" Tanya Jisoo bingung.

Jeonghan menghampirinya dengan langkah cepat sambil mengigit bibirnya, wajahnya terlihat panic dan gelisah.

"Celaka! Ini benar-benar buruk!" Seru Jeonghan, dengan suara serak. Mungkin sebentar lagi ia akan menangis.

"Hm? Apa? Tenanglah sedikit. Apa yang buruk?" Tanya Jisoo lagi. Bingung dengan Jeonghan yang datang tiba-tiba dan sekarang sosok itu malah menangis dihadapannya.

"Wonwoo, Jisoo-ya, Wonwoo!" Isak Jeonghan lagi.

Jisoo mengkerutkan keningnya. Tambah bingung. "Ada apa dengan Wonwoo, hm?" Tanya Jisoo, measih mempertahankan wajah kalemnya.

"Wonwoo. . . diculik. . oleh bajingan itu!" Seru Jeonghan dengan tangis yang mengalir deras.

"APA?!" Jisoo terkejut bukan main mendengarnya. "Ini benar-benar darurat! Astaga!" Jisoo mengacak surainya frustasi. Sekarang ia sama paniknya dengan Jeonghan.

Jeonghan masih terisak dengan dada yang bergemuruh. Tadi setelah ia ikut mendengar kabar buruk yang disampaikan Mingyu pada Seungcheol lewat telepon, ia langsung panic dan bergegas menemui Jisoo yang sedang bertugas di salah satu Rumah sakit Seoul.

"Lalu. . . dimana Wonwoo sekarang?" Tanya Jisoo kemudian. Setelah sekian lama hening.

"Masalahnya. . . taka da yang tahu Wonwoo dimana. . ." Lirih Jeonghan.

Dan detik berikutnya Jisoo mengutuk orang yang sudah menculik Wonwoo.

.

.

.

.

.

Mingyu menghempaskan kasar tubuhnya ke sofa. Ia baru pulang dari kantor polisi melaporkan kejadian penculikkan Wonwoo. Tapi dengan tololnya para polisi itu justru menyuruhnya menunggu sampai dua puluh empat jam. Gila, bisa-bisa ia keburu gila menunggu selama itu. dan lebih dari itu, ia khawatir bajingan brengsek itu berbuat macam-macam pada diri Wonwoo.

Mingyu meraih ponselnya. Menatap sendu layar walpapernya. Itu selca yang diambilnya sesaat setelah upacara pernikahannya dengan Wonwoo. Mingyu mengusapnya lembut.

"Kau dimana, Wonu-ya? Tunggu aku. Aku akan menjemputmu. Pastikan dirimu baik-baik saja. Karena kalau sampai kau terluka sedikit saja, kupastikan kepala bajingan itu akan tergeletak dekat kakimu." Desis Mingyu disertai geraman rendah.

Mingyu memainkan ponselnya asal. Sampai kemudian, dia menyadari satu hal. Dia pernah menginstal aplikasi pelacak di ponselnya, dan dia memasang chip pelacaknya di gelang yang Wonwoo pakai. Seketika Mingyu merasa ada bohlam lampu yang menyala di kepalanya.

Mingyu mulai menekan-nekan layar ponselnya dengan semangat. Wajahnya serius, pandangannya fokus pada ponsel di tangannya. Menyalakan aplikasi alat pelacak itu dan mulai melacak keberadaan Wonwoo.

Tak sampai dua menit, sebuah titik merah menyala di peta digital ponselnya. Menunjukkan keberadaan chip yang ada di gelang Wonwoo.

Mingyu mengkerut, menyadari posisi titik merah itu sangat jauh dari rumahnya.

.

.

.

.

Mingy uterus melajukan mobilnya dengan cepat. Matanya mengawasi layar ponselnya yang ada di dashboard mobilnya. Mengikuti titik merah yang ada di peta digital itu. ia sudah sejauh tiga puluh kilometer dari rumahnya. Dan jarak di peta itu masih sangat jauh.

Mingyu mengumpat merutuki bajingan yang sudah membawa lari Wonwoo sebegitu jauhnya.

.

.

.

.

Jisoo memarkir mobil putihnya di depan sebuah rumah mungil sederhana yang terdapat tak jauh darinya itu. dia menatap rumah itu. bangunan sederhana yang cantik dengan bunga-bunga yang tertata rapih dalam pot-pot yang berbaris dan juga rumput halus yang menghampar di pekarangan kecilnya.

Jisoo menghela napasnya berat. Ia ingat dulu saat sekolah menengah, ia dan Wonwoo sering bermain di pekarangan sempit itu. membuat laying-layang, lalu menerbangkannya bersama. Ia juga ingat pernah berkemah bersama Jeonghan dan Wonwoo di situ, membuat tenda mungil dan membakar api unggun kecil. Begadang, pada tengah malam mereka bertiga berangkulan sambil menatap langit berbintang menggunakan teleskop miliknya secara bergilir. Lalu saat merayakan ulang tahun Wonwoo, mereka menggelar pesta kecil dan membuat kejutan pada tengah malam di pekarangan itu. Jisoo tersenyum miris mengingatnya.

Ada begitu banyak kenangan di rumah itu. terlalu banyak malah. Mengingat ia, Jeonghan dan Wonwoo sudah belasan tahun bersahabat. Wonwoo yang sangat suka bunga sampai membuka toko bunga kecil yang kemudian diberikannya pada Jeonghan setelah ia menikah, Wonwoo yang suka bermain bola tapi tak pernah bisa mencetak gol di gawang Jisoo. Wonwoo yang suka berkebun tapi teriak-teriak melihat ulat bulu. Wonwoo yang ingin jadi dokter tapi phobia darah, sampai ia meminta Jisoo yang menggantikan mimpinya. Dan Jisoo dengan senang hati melakukannya.

Jisoo rindu semua itu. rumah di hadapannya ini adalah rumah keluarga Jeon. Ia harus memberitahu Eomma Wonwoo bahwa puternya diculik oleh mantan kekasihnya sendiri. Meski berat, ia tahu Nyonya Jeon adalah wanita yang kuat. Wanita itu sudah melewati masa-masa sulit setelah pernikahan Wonwoo.

Jisoo menghela napas sekali lagi. Membulatkan tekad dan memantapkan langkah. Ia berjalan menyebrangi pekarangan mungil yang masih tetap asri itu. mengetuk pintunya pelan.

Tok tok tok

Selang berapa lama, seorang pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah menengah, membuka pintu. Jeon Bohyuk, adik kandung Wonwoo.

"Jisoo hyung, ada apa?" Sapa Bohyuk dengan senyumnya.

"Eomma mu ada, Bohyukkie?" Tanya Jisoo lembut.

"Hu'um. Ada. Eomma di dalam, masuklah dulu biar aku panggilkan." Ujar Bohyuk, mempersilahkan Jisoo masuk.

Jisoo mendudukan dirinya di sofa cokelat itu, sementara Bohyuk pergi kebelakang memangil EOmmanya.

Sekitar dua menit kemudian, Nyonya Jeon datang dengan senyum hangatnya. Wanita itu mendudukan dirinya di seberang Jisoo. Ia meletakkan secangkir teh hangat dan kue kering di hadapannya, menyuguhi Jisoo.

"Ada apa, Jisoo-ya? Tak biasanya kau mampir saat taka da Wonwoo." Kata Nyonya Jeon, memulai percakapan.

Jisoo tersenyum kalem. "sebenarnya ada hal yang harus kusampaikan." Ucap Jisoo serius.

"Eh? Sepertinya kabar penting. Ada apa?" Tanya Nyonya Jeon kemudian.

Jisoo menghela napas. Sebenarnya ia berat harus mengatakannya.

"Begini . . . aku harap Nyonya tidak erlalu kaget mendengarnya, tolong persiapkan diri anda. . ." Jisoo menarik napas lagi. Sementara Nyonya Jeon menyimak dengan snagat serius.

"Wonwoo diculik, oleh orang itu. . ." Desis Jisoo rendah. Namun desisan rendahnya mendapat respon nyaring dari wanita di depannya.

"APA?! DICULIK?!"

.

.

.

Setelah satu jam lebih Mingyu menepikan mobilnya. Posisinya sudah sesuai dengan yang ditunjukkan peta digital itu. tapi ia tak menemukan tempat yang sekiranya dipakai orang itu untuk menahan Wonwoo. Pasalnya, ia ada di jembatan sekarang.

Matanya menyapukan pandangannya keseluruh sudut tempat itu. sepi, ini benar-benar asing. Dimana dia sekarang? Bukankah ini ada di tepi hutan?

Mingy uterus mencari kesana kemari di sekitar tempat itu. berharap menemukan petunjuk.

Setelah lima belas menit, Mingyu buntu. Ia memegangi pegangan jembatan itu. menatap kebawah, dimana sungai besar beraliran deras mengalir kencang. Matanya menatap sayu seluruh sudut sungai itu. sampai sesuatu yang tergeletak di tepi sungai menarik perhatiannya.

Mingyu dengan cepat berjalan menuruni jalan terjal menuju tepi sungai itu. melewati semak belukar berduri yang cukup banyak. Tapi Mingyu mengabaikan nyeri di kakinya karena duri-duri itu. baginya, ia harus cepat menemukan Wonwoo. Ini sudah hampir gelap.

Mingyu membatu di tepi sungai. Menatap nanar sebuah sweater berwarna baby blue yang teronggok tak jauh darinya. Kakinya serasa lemas. Matanya mulai berair. Wajahnya memanas. Ia bisa gila.

Detik berikutnya, kakinya ambruk tak sanggup menahan bobot tubuhnya, tangannya meraih sweater itu dan sebuah gelang perak yang tergeletak di dekatnya. Mencengkeramnya erat. Mendekapnya sekuat tenaga. Ia mulai menangis histeris.

"Jeon Wonwoo. . . hiks. . ." Isaknya pilu. Hatinya serasa remuk.

Sweater itu adalah pakaian yang terakhir Wonwoo pakai sebelum ia menghilang, dan sekarang sweater itu sudah dipenuhi oleh bercak darah dan juga terkoyak di beberapa bagiannya. Mingyu yakin itu milik Wonwoo, karena terdapat nama Wonwoo di bagian dada kirinya yang dibordir dengan benar emas olehnya.

Dan gelang perak itu, itu adalah gelang yang dipakaikan Mingyu pada Wonwoo dengan alat pelacak di bagian dalamnya. Bahkan alat pelacak itu masih menyala dan berfungsi dengan baik.

Mingyu menangis histeris. Mungkinkah, Wonwoo sudah tewas dibunuh oleh bajingan itu? kemudian mayatnya dihanyutkan disungai? Mengingat aliran sungai yang luar biasa deras.

Mingyu semakin histeris memikirkannya. Hancur sudah keluarganya.

"JEON WONWOO!" Jeritnya memecah keheningan.

.

.

.

To be Continued or END/?

Review Please

Note: ya ampun udah chap 10 ajin. Bentar lagi tamat nih. Sabar ya, endingnya pasti happy ending kok. Dan makasih banget reviewnya. Gak nyangka tembus 200+ review *prok prok* dan jujur ya, aku begadang ngerjain ini. Aku ampe punya mata panda. Tapi gapapa, aku semngat ngetiknya karena kalian juga reviewnya banyak. Menurut kalian, mending dibikin sequel nggak? Kalo mau nanti aku bikinin. Tapi ga janji chaptered kaya ini :')

KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW.